
“Mar, bisa ikut denganku sebentar?”
“Ok.”
Setelah istirahat, Akbar mengajakku untuk pergi dengannya. Aku tidak tau apa yang ingin dia lakukan, tapi bisa aku pastikan kalau dia ingin membicarakan sesuatu denganku. Semoga saja yang ingin dikatakan olehnya itu bukan sesuatu seperti ibunya ingin berterima kasih denganku, atau apapun seputar itu.
Kami pun pergi ke masjid sebentar untuk membicarakan hal itu.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku?”
“Apa kau memiliki semacam hubungan dengan Yoshida Mar?”
Ternyata itu yang mau dia bicarakan, tapi tumben sekali ada yang menanyakan hubunganku dengan Yoshida. Biasanya kebanyakan orang menanyakan hubunganku dengan Miyuki.
“Memangnya ada apa?”
“Akumalu untuk mengatakannya.”
Sepertinya aku tau apa yang ingin dia katakan selanjutnya.
“Katakan saja!”
“Sebenarnya aku menyukai Yoshida.”
Akhirnya aku menemukan orang kedua tidak menyukai Miyuki di sekolah ini. Pantas saja Akbar tidak pernah bertanya banyak soal Miyuki kepadaku, tidak seperti teman-temanku sekelas yang lainnya.
“Lalu kenapa kau harus memanggilku untuk mengatakan hal itu?”
“Bagaimana bilangnya ya?... Karena aku melihat kalian berdua sepertinya sangat dekat. Kalau seandainya kalian berdua memang memiliki sebuah hubungan, aku akan mundur.”
Oi-oi-oi... Secepat itukah kau menyerah terhadap perjalanan cintamu? Ini sama sekali berbeda dengan orang-orang yang sering aku temui. Biasanya mereka akan mencobanya terlebih dahulu, lalu ketika gagal baru mereka mengurungkan niatnya.
“Dulu Yoshida memang pernah memberikanku surat.”
“Benarkah!? Surat apa yang dia berikan kepadamu?”
Apa aku harus mengatakannya kepadanya? Aku takut kalau aku mengatakannya nanti dia makin pesimis dengan cintanya itu. Tapi kalau aku tidak mengatakannya, takutnya ada seseorang yang mengatakan hal ini kepada Akbar.
Lebih baik aku mengatakannya saja kepadanya.
“Dia memberikanku surat cinta dan sampai sekarang suratnya itu masih aku simpan di rumahku.”
Sebenarnya aku juga tidak enak untuk membuang surat itu.
“Apa jawaban yang kau berikan kepadanya waktu itu Mar?”
“Saat itu aku tidak menjawab surat darinya karena saat aku ingin menjawabnya dia langsung pergi begitu saja. Ketika aku ingin menjawabnya saat di SMK, dia berkata kalau dia tidak memerlukan jawaban itu.”
Tapi aku setuju dengan keputusan yang diambil oleh Yoshida. Kalau seandainya waktu itu aku membalasnya, aku tidak tau apakah hubungan kami bisa seperti sekarang.
“Kau tidak masalah akan hal itu?”
“Tidak, lagi pula saat ini aku tidak berniat untuk berpacaran dengan siapapun.”
“Walaupun kau sedang dikelilingi oleh perempuan cantik?”
“Iya.”
Kalau seandainya aku memang ingin berpacaran, aku tidak mungkin menolak pernyataan cinta dari Rina. Pasti saat itu aku sudah menerimanya dan sampai sekarang kami sudah menjadi sepasang kekasih, tapi entah kenapa aku tidak begitu tertarik akan hal itu.
“Kau tidak masalah kan jika aku berniat untuk mendekati Yoshida?”
Akbar meminta izin kepadaku.
“Buat apa aku mempermasalahkan hal itu? Malahan aku senang jika ada orang yang mau mendekati Yoshida, aku akan membantumu agar kalian bisa dekat.”
“Kenapa begitu Mar?”
“Aku merasa kasihan jika dia terus-terusan seperti ini.”
Walaupun Yoshida tidak mau mendengarkan jawaban atas pernyataannya saat itu, tapi aku yakin kalau dia masih menantikannya hingga saat ini. Mungkin juga dia masih berharap kalau aku akan menerimanya.
Ya sebenarnya itu bisa saja sih, tapi aku tidak tau kapan waktunya ingin berpacaran dengan seseorang.
“Kalau begitu aku tidak akan sungkan lagi untuk mendekati Yoshida.”
Kenapa juga dia harus sungkan kepadaku?
“Berjuanglah.”
Aku memberikan sedikit dorongan kepada Akbar.
“Oh iya Mar, ada satu lagi yang ingin aku tanyakan kepadamu.”
“Apa itu?”
“Kenapa kau menyembunyikan jabatanmu dariku?”
Aku sudah tau kalau dia akan mengetahuinya dengan cepat. Lebih baik aku berpura-pura seperti tidak mengerti saja.
“Maksudnya?”
“Aku diberitahukan oleh senior di bagianku kalau kau adalah salah satu atasan di sana.”
“Sebenarnya aku tidak ada niatan untuk menyembunyikannya juga, tapi aku juga tidak berniat untuk memberitahukan hal itu kepada orang-orang.”
Karena itu sangatlah merepotkan.
“Apa kau sudah lama bekerja di sana Mar?”
“Aku sudah bekerja sejak perusahaan itu berdiri.”
“Hebat sekali kau di umurmu yang masih muda ini sudah menjadi seorang atasan di kantor yang besar seperti itu.”
“Sudahlah, daripada kau memujiku lebih baik kita segera pergi ke kelas. Sebentar lagi jam pelajaran selanjutnya akan dimulai.”
Untungnya aku memiliki alasan kuat untuk melepaskan diri dari pembicaraan ini.
__ADS_1
Aku bukanlah orang yang senang dipuji terlalu berlebihan. Jangankan berlebihan, aku dipuji biasa saja sudah membuatku sedikit risih. Mungkin karena waktu kecil aku senang sekali mendapatkan pujian setelah melakukan sesuatu, jadinya ketika dewasa aku sedikit bosan akan hal itu.
Aku dan Akbar pun langsung pergi menuju ke kelas.
“Apa hari ini kau akan pergi ke kantor Mar?”
“Iya, hari ini Pak Hari ingin mengadakan rapat jadinya aku harus datang ke sana.”
Sudah lama sekali Pak Hari tidak mengadakan rapat. Terakhir kali dia mengadakan rapat saat aku sedang liburan.
“Kalau hari ini aku tidak pergi ke kantor.”
“Kau sudah mendapatkan laptop dari kantor?”
“Sudah, aku mendapatkannya tiga hari setelah aku bekerja di sana.”
Ternyata dia benar-benar mendapatkannya tiga hari.
Dulu aku merasa keberatan dengan keputusan Pak Hari yang memberikan laptop secara gratis kepada anak-anak magang untuk anak magang yang tidak memiliki laptop sebagai hadiah mereka telah bekerja di sana, karena itu membuang-buang uang.
Aku juga mendengar dari Kak Malik kalau bagi anak magang yang sudah memiliki laptop dan tidak menginginkan laptopnya, mereka akan mendapatkan uang bonus di akhir mereka bekerja yang jumlahnya hampir sama dengan harga laptop yang diberikan.
Waktu aku mendengarnya, aku ingin merundingkan hal ini kepada Pak Hari agar dia memikirkannya lagi. Tetapi saat aku mendengar tentang pemasukan perusahaan dari bagian keuangan saat aku sedang meminta laporan anggaran untuk kontrak komikus, aku merasa tidak masalah membagikan uang seperti itu sebagai hadiah.
“Ngomong-ngomong bagaimana kabar ibumu sekarang?”
“Alhamdullilah dia baik, sekarang kami tinggal bersama walaupun masih menumpang di rumah paman.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Melakukan kebaikan itu ternyata bagus juga, aku jadi mengingat materi yang diberikan Ustadz Adi saat mengisi materi ketika ekskul.
Dia berkata kalau kita tidak boleh selalu mengharapkan materi saat membantu orang, karena setiap kebaikan yang kita lakukan Insya Allah akan dibalas dengan sebuah pahala. Materi yang kita dapatkan ketika membantu orang, anggap saja itu sebagai fokus. Niatkan hati kita untuk membantu orang tersebut karena Allah, bukan imbalannya.
Sekarang aku sudah memahami maksud dari itu.
“Kalau aku sudah mendapatkan uang dari gajiku dari kantor nanti, aku akan pergi dari rumah pamanku dan menyewa sebuah kontrakan untuk kami tinggal, tidak enak jika kami tinggal bersama terus.”
“Jika kau memang membutuhkan uang tambahan, kau bisa mengatakannya kepadaku Bar.”
Karena aku mendapatkan uang tambahan dari menyelesaikan kasus ini, jadinya uangku pasti bertambah. Walaupun aku ingin membeli kamera dengan uang itu, tapi aku masih ada uang simpanan lainnya untuk membelinya jika uangnya kurang.
Ingat, membantu orang adalah sesuatu yang baik.
“Terima kasih Mar, aku akan meminta bantuanmu jika itu perlu. Tapi untuk saat ini, aku ingin berjuang dengan tenagaku sendiri.”
“Bagaimana tanggapanmu setelah beberapa hari bekerja di Comic Universe?”
“Bagaimana ya?... Bekerja di sana tidak terlalu berat seperti dipekerjaan lamaku. Aku juga lebih banyak menghabiskan waktu di rumah karena pekerjaanku bisa dikerjakan di rumah saat aku sudah memiliki laptop.”
Testimoni yang bagus, aku harap semua karyawan merasakan hal yang sama.
Aku tidak tau apakah karyawan juga boleh mengerjakan pekerjaan dari rumah atau tidak. Tapi sepengetahuanku selama bekerja di sana, banyak karyawan yang lebih memilih kerja di kantor karena mereka mendapatkan uang makan dan uang transpot. Sedangkan kalau mereka bekerja di rumah, mereka tidak mendapatkan semua itu.
“Kalau seandainya ada sesuatu yang ingin kau tanyakan tentang pekerjaanmu, kau bisa bertanya kepada Riki dan yang lainnya.”
“Tentu saja, aku selalu bertanya kepada mereka jika mengalami masalah.”
“Tidak, dia adalah pengajar yang baik.”
Orang tidak sabaran seperti dia bisa mengajari orang juga. Apa itu efek karena setiap hari dia harus membantu adiknya untuk mengerjakan PR? Itu bisa saja.
Ketika kami berdua sampai di kelas, guru yang mengajar pelajaran selanjutnya belum tiba di sana dan aku sudah melihat Riki yang berada di kursinya.
“Apa yang baru saja kalian berdua bicarakan?”
Riki merasa penasaran akan hal itu. Dia langsung menanyakannya saat aku baru saja duduk di kursiku.
“Kami hanya membicarakan tentang pekerjaan saja.”
“Oh begitu, apa hari ini kau pergi ke kantor Mar?”
“Iya, aku ke sana.”
“Hari ini aku juga pergi ke kantor.”
“Untuk apa?”
“Entahlah, seniorku menyuruhku untuk datang ke kantor. Katanya ada pekerjaan tambahan yang ingin dia jelaskan kepadaku.”
Pekerjaan tambahan? Apa ini ada kaitannya dengan rapat yang akan aku bahas dengan Pak Hari nanti?
“Hmmm...”
“Mar, apa yang dibicarakan ketika istirahat tadi itu benar?”
Natasha masih penasaran dengan pembicaraan ketika istirahat.
Istirahat? Oh, mungkin yang dia maksud tentang kasus Akbar itu.
“Yup, itu benar.”
“Apa saja yang kau lakukan ketika itu?”
“Amar hampir saja membunuh orang waktu itu.”
Riki mengatakan hal itu dengan sangat mudahnya dan membuat Natasha dan Kichida terkejut setelah mendengarnya.
“Kenapa kalian terkejut? Bukankah Riki sudah menceritakannya ketika istirahat tadi.”
“Bukan begitu Mar, waktu itu dia tidak menceritakan ketika kau ingin membunuh orang.”
“Kalau senadainya kalian melihat aksi Amar waktu itu, kalian pasti akan mengatakan kalau Amar itu keren sekali. Dia memegang sebuah pisau di tangan kanannya dan dengan tatapan yang tajam dia mengarahkan pisau itu ke leher sang pencuri.”
Riki menceritakan itu dengan sedikit mendramatisir dan sedikit mengingat kejadian waktu itu.
“Memangnya kau tidak ketakutan ketika melakukan itu Mar? Seharusnya untuk orang seumuranmu, hal itu sangatlah menakutkan.”
__ADS_1
“Aku sangat ketakutan sekali, bahkan setelah itu tanganku sampai bergetar dan tidak mau berhenti.”
Saat itu juga kakiku menjadi lemas dan tidak kuat untuk berdiri.
Kemudian guru yang mengajar pelajaran selanjutnya pun masuk dan pelajaran dimulai.
Setelah shalat dzuhur, seperti biasa aku berbaring di pelantaran masjid untuk beristirahat dan di sana ada Maul juga yang sedang beristirahat bersama denganku.
“Apa yang kau lakukan di sini Mul?”
“Tentu saja untuk beristirahat juga.”
Kami berdua sama-sama menatap atap masjid yang berwarna putih.
“Bagaimana dengan surat yang waktu itu kau dapatkan dari ibunya Akbar? Apa kau sudah mengetahui sesuatu yang baru?”
“Dari kemarin aku mencoba untuk mengakses halaman web yang ada di dalam surat itu, namun halaman webnya sudah terhapus. Kemudian aku mencoba untuk mengembalikan web itu, tapi keamanan dari web itu sangat ketat sekali.”
Baru kali ini aku mendengar Maul mengeluh dengan sesuatu yang berkaitan tentang peretasan.
“Apa kau bisa mengaksesnya?”
“Aku sedang mencoba untuk membukanya.”
“Kau sudah memberitahu hal ini kepada bapakmu?”
“Belum, aku akan memberitahunya ketika aku sudah tau apa isi dari web itu.”
Aku juga penasaran dengan isi web itu, mungkin saja di web itu kita bisa tau dimana saja mereka mengadakan acara pelelangan itu.
“Semoga saja petunjuk yang kuat dari sana.”
Karena jika kasus ini selesai banyak sekali orang yang senang akan hal ini.
Kemarin aku pergi ke angkringan dengan Riki dan aku sedikit mewawancarai penjual angkringan itu tentang pemasukannya saat ini.
Menurutnya, saat ini pemasukan dia sedang tidak bagus karena jarang sekali ada orang yang keluar malam di saat-saat seperti ini.
“Aku penasaran kenapa mereka mengirimkan surat itu kepada ibunya Akbar.”
“Mungkin karena mereka tau kalau ibunya Akbar sedang membutuhkan uang, makanya mereka mengirimkan surat itu.”
“Lalu dari mana mereka tau kalau ibunya Akbar sedang membutuhkan uang?”
Benar juga, dari mana mereka mengetahui itu.
“Kalau menurutmu bagiamana Mul?”
“Hmmm... Mungkin mereka bekerja dengan seorang peretas hebat dan mereka menyadap orang-orang seperti ibunya Akbar dengan kriteria tertentu.”
Aku tidak begitu mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Maul, tapi aku dapat menarik kesimpulan kalau mereka bekerja dengan peretas hebat.
“Bisa jadi seperti itu.”
“Ini berbahaya sekali!”
Maul merasakan sesuatu yang tidak beres.
“Kenapa?”
“Jika memang mereka bekerja sama dengan peretas ahli, pasti aku akan menjadi incaran mereka karena berusaha untuk membobol sistem yang mereka buat.”
“Apa itu masalah?”
“Tidak juga sih, aku dapat menyelesaikan ini tanpa diketahui oleh orang itu. Aku yakin kalau aku lebih hebat dibandingkan mereka.”
Rasa percaya diri dalam diri Maul pun muncul. Kalau dia percaya diri seperti itu, aku tidak perlu mencemaskannya lagi.
“Kau bisa melakukan hal itu?”
“Tentu saja, aku sudah biasa melakukan hal ini. Selama aku fokus dengan apa yang aku kerjakan dan tidak membuat sedikit kesalahan. Tidak akan ada yang bisa melacak keberadaanku.”
Temanku yang satu ini ternyata hebat juga... Untuk rasa percaya dirinya.
“Aku tidak tau tentang Cyber War.”
“Kurang lebih seperti gim yang pernah kau mainkan di rumahku.”
Oh seperti itu, kalau begitu itu hebat sekali! Sesekali aku ingin melihatnya.
“Bagaimana jika di alamat web itu terdapat penjualan tiket untuk masuk ke acara pelelangan itu?”
Tanyaku kepada Maul, aku ingin mendengar respon darinya.
“Itu akan mempermudah pekerjaanku untuk mencari tau lokasi dari pelelangannya. Selain itu... Kita dapat menyusup dengan mudah ke acara itu.”
Maul melirik ke arahku karena dia mengetahui apa yang ingin aku katakan selanjutnya.
“Kau tau saja apa yang ingin aku katakan.”
“Kita sudah berteman lebih dari tiga tahun Mar, setidaknya aku sudah mengetahui bagaimana jalan pikiranmu.”
Inilah teman yang aku suka.
“Tapi idemu itu adalah ide yang sangat bagus dan patut dicoba.”
Maul menyadari akan sesuatu.
“Kenapa?”
“Kita memang tidak bisa mengakses sebuah hotel yang menjadi tempat pelelangan itu karena ada orang yang mencoba untuk mengalanginya, tapi berbeda jika ada seseorang yang masuk ke hotel itu dan terhubung dengan jaringan di dalam sana. Aku bisa meretas jaringan itu dengan mudah dan masuk tanpa diketahui.”
Oke, sederhananya dia dapat mengendalikan hotel itu dengan mudah jika dia bisa terhubung dengan jaringan yang ada di hotel itu.
“Aku tidak sabar untuk menyelesaikan kasus ini.”
Maul terlihat bersemangat.
__ADS_1
“Begitu juga denganku kawan.”
-End Chapter 122-