
“Lepaskan aku!”
Pembeli itu memaksa untuk melepaskan diri dariku, tapi dia tidak begitu berani untuk mengeluarkan tenaganya karena saat ini sudah ada pisau yang berada di lehernya.
“Coba saja kau berusaha sendiri.”
Aku makin mendekatkan pisau yang aku pegang ke leher orang itu.
Orang itu pun akhirnya menyerah, aku sudah merasakan kalau orang itu tidak berusaha untuk melawanku.
“Hari ini kau sangat tidak beruntung sekali karena harus melawan kami berdua.”
“Bagaimana kau bisa berada di belakangku? Aku sama sekali tidak merasakan kehadiran seseorang di sana, bahkan aku tidak mendengarkan langkah kakimu.”
“Kalau itu, aku sudah melepaskan sendalku sebelum pergi ke belakangmu. Itulah kenapa saat aku mengendap-endap ke belakangmu, suara langkah kakiku tidak terdengar.”
Aku pun menunjukkan kakiku yang sudah tidak menggunakan apa-apa kepadanya.
“Aku tidak takut dengan ancaman yang kau berikan kepadaku. Aku yakin kalau kau tidak akan berani melakukan itu.”
“Benarkah itu?”
Aku pun sedikit menggoreskan ujung pisau yang aku pegang ke leher orang itu yang membuat lehernya sedikit berdarah akibat goresannya.
Aku tidak tau kenapa aku bisa seberani itu, saat ini yang ada dipikiranku adalah keselamatan dari Riki dan adiknya Akbar. Aku harus bisa menyelamatkan mereka berdua, bagaimanapun caranya.
Orang itu menjadi ketakutan karena merasakan perih yang terdapat pada lehernya. Walaupun goresan yang aku berikan tidak terlalu dalam, setidaknya itu sudah dapat membuatnya merasakan sakit.
“Apa yang ingin kau lakukan? Apa kau ingin membunuhku!?”
Orang itu terlihat sangat gugup bercampur takut. Sekujur tubuhnya mulai gemetar karena takut yang dia rasakan.
“Aku sudah memanggil polisi dan aku tinggal menunggu sampai mereka datang ke sini untuk menangkap kalian berdua.”
“Tu-tunggu... Ba-bagimana kalau kita membuat kesepakatan?”
Orang itu mengajukan penawaran kepadaku.
Mari kita lihat apa yang dia tawarkan untuk merubah keputusanku. Tapi penawaran apapun yang dia tawarkan, aku tidak akan melepaskannya dengan begitu mudah.
“Apa penawarannya? Mungkin saja aku akan berubah pikiran dan melepaskanmu tergantung penawaran yang kau tawarkan kepadaku.”
Mendengar itu membuat orang itu senang sekali.
“Jika kau melepaskanku, kau bisa memiliki koper yang ada di sana. Uang yang ada di dalamnya berjumlah dua ratus juta rupiah dan itu bisa menjadi milikmu.”
“Penawaranmu tidak buruk.”
Orang itu sangat senang sekali seperti mendapatkan sebuah keajaiban untuk pertama kalinya. Tapi itu percuman, aku tidak akan berubah pikiran hanya karena uang dua ratus juta rupiah. Lagi pula aku tidak begitu tau mau aku apakan jika aku mendapatkan uang sebanyak itu.
“Tentu saja, bayangkan jika seorang remaja memiliki uang sebanyak itu. Kau bisa pergi kemana saja dengan pacarmu bahkan ke luar negeri sekalipun. Kalian bisa bersenang-senang di sana.”
Orang itu tidak menyerah untuk membujukku melepaskannya.
Kenapa dia harus menghubungkannya dengan pacar. Memangnya aku terlihat seperti orang yang memiliki pacar.
“Sepertinya uang itu masih kurang.”
“Tidak mungkin uang segitu masih kurang untukmu. Memang kau ingin uang seberapa banyak? Aku akan memberikannya kepadamu asalkan kau melepaskanku sekarang juga.”
Hmmm... Entah kenapa aku sedikit tergoda dengan tawaran darinya.
“Aku sudah memiliki uang yang cukup banyak dan aku sudah bingung untuk menggunakan uang tersebut untuk apa. Aku tidak mau menambah uang lebih banyak lagi, menawarkan uang kepadaku adalah hal yang sangat tidak berguna karena aku tidak begitu memerlukan hal itu.”
Lagi pula aku bisa mengambil uang yang berada di dalam koper itu dan juga menyerahkannya kepada kepolisian. Buat apa aku harus menlepaskannya untuk sesuatu yang nantinya akan aku dapatkan juga.
“Baiklah, aku memiliki beberapa pelayan perempuan di rumahku yang sangat cantik. Aku bisa memberikanmu salah satu dari mereka atau bahkan semuanya asalkan kau melepaskanku.”
Setelah menawarkan uang kepadaku tidak berhasil dan sekarang dia menawarkanku wanita. Apa sebenarnya di dunia ini laki-laki akan tergoda dengan kedua hal itu? Kalau memang iya, berarti aku adalah orang yang aneh karena tidak begitu tertarik dengan kedua hal itu.
“Secantik apa pelayan yang kau miliki? Mungkin aku akan melepaskanmu tergantung kecantikan dari pelayanmu.”
Mendengar itu membuat Riki sedikit tertawa kecil karena dia mengetahui kalau aku hanya membercandai orang itu.
“Kau bisa memilihnya jika kau mengizinkanku untuk membuka ponselku. Aku memiliki gambar-gambar mereka di dalam ponselku. Kau bisa melihat-lihatnya dengan puas, bahkan aku bisa mengantarkannya sekarang jika kau mau.”
“Tidak mungkin aku melakukan itu, bisa jadi kau melakukan hal lain saat kau membuka ponselmu.”
“Aku tidak akan melakukan hal itu.”
“Baiklah, kalau sampai kau melakukan sesuatu yang lain dengan ponselmu, aku tidak akan segan-segan untuk menebas lehermu dengan pisau yang ada di tanganku.”
Ancamku kepadanya.
“Baiklah.”
Orang itu mulai mengeluarkan ponsel yang berada di saku celananya dan mulai menunjukkan satu per satu foto dari para pelayan yang dia janjikan kepadaku waktu itu.
Aku melihat banyak sekali pelayan wanita yang ada di foto tersebut, namun aku melihat ada beberapa muka pelayan wanita itu yang tidak merasa senang. Dia merasa seperti tertekan akan sesuatu.
“Pelayan yang kau punya memang cantik-cantik.”
“Bagaimana? Apa kau mau satu dan melepaskanku sekarang juga?”
“Tidak, aku sudah memiliki seseorang yang lebih cantik dibandingkan mereka semua.”
Perempuan yang aku maksud di sini adalah Miyuki.
“Aku menyesal telah melakukan teransaksi di sini, apalagi di siang hari seperti ini.”
Orang itu memarahi bapak Akbar yang tidak berdaya namun masih berusaha untuk melepaskan kuncian dari Riki.
“Siapa suruh kau melakukannya di siang hari seperti ini, seharusnya kau melakukannya malam hari.”
__ADS_1
“Kalau malam hari gudang ini digunakan warga untuk kegiatan lainnya, jadi aku hanya bisa menggunakannya sekarang.”
Hmmm.. Jadi dia memiliki akses untuk menggunakan gudang ini. Apa dia salah satu dari warga yang ada di sini?
“Tidak usah banyak bicara... Aku hanya ingin bertanya kepadamu, dimana kau akan menjual anak perempuan itu?”
Aku mulai mengintograsinya.
Orang itu terdiam tidak mau menjawab pertanyaan dariku.
“Apa kau yakin tidak mau berkata apa-apa? Perkataanmu itu bisa saja membuatku melepaskanku saat ini juga.”
“Aku tidak akan percaya dengan perkataanmu itu setelah apa yang kau lakukan tadi.”
“Aku memang tidak membutuhkan uang dan wanita, tapi berbeda dengan informasi. Aku sangat membutuhkan hal itu saat ini.”
Sekarang gantian aku yang membujuknya untuk membuka mulut.
Namun orang itu masih terdiam.
“Sepertinya kau sudah siap untuk kehilangan nyawamu ya?”
Aku mulai mendekatkan pisau itu ke leher orang itu.
“Tunggu dulu!”
Ini yang aku tunggu.
“Aku akan mengatakan semuanya kepadamu, jadi tolong jangan lakukan itu.”
Orang itu mengemis belas kasih kepadaku.
“Baik, kau bisa bicara sekarang.”
“Aku hanyalah seorang kurir yang mengambil barang pelelangan saja, aku tidak tau dimana tempat transaksinya.”
Apa yang baru saja dia ucapkan itu kebohongan? Ya sudahlah, lagi pula aku hanya ingin menahannya saja sampai bapaknya Maul datang.
“Apa seorang kurir bisa memiliki uang sebanyak itu dan pelayan wanita yang banyak?”
“Aku diberikan uang dan pelayan wanita itu dari bosku karena telah menjadi kurirnya.”
Hebat sekali bosnya tidak mau langsung terjun ke lapangan secara langsung.
“Lalu siapa bosmu?”
“Aku tidak tau.”
Hah!? Apa kau bercanda?
“Bagaimana bisa seorang bawahan tidak tau siapa bosnya?”
“Sumpah, aku tidak pernah bertemu dengannya sekalipun. Kami hanya berkomunikasi dengan telepon saja.”
“Memangnya hal itu bisa terjadi?”
“Tolonglah, aku sudah mengatakan sejujurnya kepadamu dan memang seperti itulah yang terjadi. Percayalah kepadaku untuk yang satu ini.”
Orang itu kembali memohon kepadaku.
“Apa aku bisa percaya kepadamu atau tidak ya?”
“Percayalah kepadaku!”
“Mungkin aku akan percaya kepadamu jika kau menjawab pertanyaanku dengan benar.”
“Aku akan menjawab semuanya sesuai dengan apa yang kau inginkan.”
Orang itu mendapatkan sedikit udara segar lagi.
Baiklah, sekarang aku harus bertanya dari mana.
“Apa perempuan-perempuan yang menjadi pelayanmu adalah perempuan dari hasil lelang?”
“Iya, aku mendapatkan dari bosnya setelah memenangkan pelelangan.”
Berarti dugaanku benar kenapa ada beberapa wanita yang tidak senang saat di foto tadi. Tapi dia bilang bosnya ikut pelelangan juga, berarti bisa aku asumsikan untuk saat ini kalau bosnya ini bukan seseorang yang mengadakan pelelangan itu.
“Apa dari semua perempuan-perempuan itu tidak ada satupun yang mencoba untuk kabur dan kembali ke rumahnya?”
“Awalnya saja mereka ada yang mencoba untuk kabur, tapi karena tidak ada yang pernah berhasil jadi kebanyakan dari mereka menyerah.”
Ok, aku mendapatkan petunjuk lagi. Berarti rumah dari orang ini sangatlah besar hingga bisa menampung pelayan sebanyak itu dan tidak ketahuan oleh warga sekitar. Mungkin dia juga memiliki penjagaan yang ketat di rumahnya hingga tidak ada satupun yang bisa pergi.
Untuk lokasi rumahnya, aku rasa berada di luar kota Jakarta yang jauh dari pemukiman. Sekalinya di Jakarta, seharusnya berada di komplek-komplek besar dan elit yang minim hubungan bertetangga di kawasan mereka.
“Apa yang kau lakukan dengan pelayan-pelayan itu?”
“Tentu saja untuk bersenang-senang.”
“Entah kenapa setelah mendengarnya, aku malah ingin membunuhmu.”
Aku mulai mendekatkan pisauku lagi ke leher orang itu.
“Aku mohon! Berilah aku hidup, apa kau tidak kasihan kepadaku?”
Kau tidak berhak berbicara hal itu kepadaku wahai tuan yang terhormat.
“Apa kau pernah menghadiri acara pelelangan itu?”
“Aku sama sekali tidak pernah menghadirinya, tapi aku pernah mendengar dari bosnya kalau acara pelelangan itu hanya bisa dimasukan oleh orang-orang tertentu saja.”
Pembicaraan ini semakin menarik.
__ADS_1
“Apa kau tau bagaimana cara masuk ke pelelangan tersebut?”
“Aku pernah dengar dari bosku kalau mereka harus memiliki surat undangan untuk bisa masuk ke acara pelelangan itu.”
“Hmmm... Begitu.”
Surat undangan ya? Ini informasi yang sangat berharga, aku harus memberitahukan kepada Maul tentang hal ini. Siapa tau dia bisa mencaritahunya lebih dalam lagi.
“Apa kau mau melepaskanku?”
“Masih banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan, jadi bersabarlah.”
“Selama kau mau membebaskanku setelah ini, aku akan menjawab semua pertanyaan kau sampai kau puas.”
Sampai aku puas ya?
“Aku tidak pernah puas jika bertanya tentang sesuatu loh?”
“Tidak masalah, selama nyawaku masih bisa selamat.”
Memang nyawamu pasti selamat, tidak mungkin aku membunuhmu di sini. Lagi pula mana berani aku melakukan hal seperti itu. Menggoreskan sedikit pisau ke lehermu saja sudah membuatku sedikit gemetar karena takut melakukannya.
“Kau takut sekali dengan kematian?”
“Siapa sih orang yang tidak takut jika keadaannya seperti ini.”
“Mungkin kau benar.”
Kemudian bapaknya Akbar pun berusaha sekuat tenaga melepaskan kuncian dari Riki, bahkan hingga tangannya itu patah karena memaksa lepas dari kuncian Riki.
Dia pun langsung berlari mengambil pistol yang tergeletak di lantai.
“JANGAN BERGERAK!”
Bapaknya Akbar menodongkan pistol itu ke arahku dan juga Riki secara bergantian. Aku dan Riki terpaksa mengikuti apa kemauannya.
Sebenarnya aku tidak begitu takut dengan gertakannya karena saat ini di depanku ada tubuh si pembeli yang akan menutupiku jika bapaknya Akbar menembakkan pistol itu ke arahku.
“Bagus.. Bagus... Sekarang keadaannya sudah berbalik, cepat lepaskan aku dari genggaman anak ingusan kurang ajar ini.”
“Memangnya kau bisa lepas dengan mudah.”
Tadi saja kau ketakutan karenaku, sekarang kau sudah bersikap kurang ajar seperti itu padahal keadaannya masih sama belum berubah. Selagi bapaknya Akbar mau menyerangku, aku yakin Riki pasti melakukan sesuatu saat hal itu. Aku juga bisa menghindarinya dengan menggunakan tubuh si pembeli untuk menghalau bapaknya Akbar untuk
menembakkan pistolnya.
Bapaknya Akbar pun berjalan ke arah adiknya Akbar yang masih tertidur dan menodongkan pistol ke arahnya.
“Kalian berdua jangan melakukan sesuatu yang aneh atau anak ini akan mati.”
“Apa kau gila!? Itu anakmu sendiri!”
Seketika emosi Riki kembali meningkat lagi.
“Dari saat dia mencoba untuk menjual anaknya saja itu sudah termasuk gila Rik.”
“Kau benar juga Mar!”
Emosi Riki kembali mereda.
Bapaknya Akbar pun mulai membawa koper yang berisi uang itu dan adiknya Akbar ke luar dari gudang. Aku dan Riki tidak dapat menghentikannya karena adiknya Akbar dibawa bersamanya. Kalau aku melakukan gerakan yang salah, bisa-bisa dia menembak adiknya Akbar.
Aku tidak percaya kalau dia merasa tega untuk melakukan itu, mengingat apa yang telah dia lakukan sebelumnya.
“OI! Harusnya kau melepaskanku juga sebelum pergi dari sini.”
Si pembeli merengek kepada bapaknya Akbar. Dia juga tidak berani untuk memberontak karena di lehernya masih terdapat pisau yang siap untuk menebasnya.
Namun bapaknya Akbar diam dan mengabaikannya, bapaknya Akbar terus berjalan untuk keluar dan pergi dari gudang ini. Sepertinya dia sudah tau kalau polisi sedang menuju ke tempat ini dari pembicaraan kami tadi.
Kemudian saat bapaknya Akbar ingin sampai di pintu keluar gudang...
“JANGAN BERGERAK!”
Dari sana masuklah anggota kepolisian bersama dengan beberapa orang lainnya.
Dengan sigap semua anggota kepolisian itu menodongkan pistolnya ke arah bapaknya Akbar.
Aku dapat melihat Maul, Akbar, dan bapaknya Maul berada di antara mereka. Akbar terlihat sangat terkejut sekali melihat adiknya yang tidak berdaya. Aku juga dapat melihat bibi dan pamannya Akbar berada di belakang mereka.
“Kalian jangan berbuat macam-macam atau anak ini akan mati!”
Bapaknya Akbar mengancam semua orang yang ada di sana dan menodongkan pistolnya lagi ke arah adiknya Akbar yang membuat semua anggota kepolisian tidak dapat bergerak.
“Oi Rik!”
Aku mengisyaratkan kepada Riki untuk bertukar posisi, ada sesuatu yang ingin aku lakukan untuk mengembalikan situasi ini.
Dengan cepat, ketika aku melepaskan genggamanku dari pembeli itu, aku langsung memindahkan pisau yang berada di tangan kananku ke tangan sebelahnya dan mengambil sebuah batu yang berukuran sedang yang berada di saku jaketku dan melemparkannya ke tangan bapaknya Akbar yang memegang pistol.
Batu itu melesat dengan sangat cepat dan kena tepat di pergelangannya yang membuat pistolnya terjatuh.
Riki yang melihatku melepaskan pembeli itu langsung menahannya agar dia tidak kabur.
Melihat pistol yang sudah terjatuh ke lantai membuat polisi dengan sigap mengamankan bapaknya Akbar.
Maul yang melihat keadaannya sudah Amar menghampiriku dan juga Riki.
“Lemparanmu hebat sekali, seperti yang aku duga dari *S*hooting Guard terbaik di SMK Sawah Besar.”
“Diam kau!”
Huh! Untung saja lemparan itu tepat sasaran, kalau tidak pasti nyawa adiknya Akbar sudah melayang saat ini. Taruhan yang sangat berbahaya sekali, aku tidak mau melakukan sesuatu yang tidak pasti lagi.
__ADS_1
-End Chapter 113-