
Teng... Teng... Teng... Teng......
Bel istirahat pun telah berbunyi dan seperti biasa aku sedang merapihkan mejaku sebelum aku pergi ke tempat biasa untuk menghabiskan bekalku. Kemudian saat aku hendak ingin pergi dari kelas, aku pun melihat sekelompok murid laki-laki kelasku yang sedang berkumpul di belakang kelas sambil saling menunjukkan layar ponsel mereka masing-masing. Hal itu membuatku penasaran dan aku pun menghampiri mereka untuk melihat apa yang mereka lakukan.
“Apa yang sedang kalian lakukan?”
“Eh Amar! Ini Mar, kita sedang membicarakan tentang komik yang ada di Comic Universe. Apa kau mau bertemu dengan Miyuki dan yang lainnya?”
“Begitulah... Apa aplikasi itu seterkenal itu?”
“Kau memangnya tidak tau Mar? Ini aplikasi yang cukup terkenal di kalangan anak-anak sekolah. Kau harus membacanya juga agar bisa bergabung dengan pembicaraan mereka Mar.”
“Mungkin aku akan mengunduh aplikasinya nanti, terima kasih atas infonya. Dah dulu ya!”
“Sampaikan salamku kepada Miyuki!”
“Aku kepada Rina!”
“Iya, nanti akan aku sampaikan.”
Dengan perasaan gembira aku pun pergi ke tempat biasa untuk memakan bekalku. Aku tidak tau aplikasi ini sudah cukup dikenal di anak-anak sekolahku. Apa di sekolah lain juga sama terkenalnya seperti di sini atau tidak ya? Aku harap di semua tempat aplikasi ini juga cukup terkenal juga.
***
“Kenapa dia?”
Saat ini aku sedang melihat ke arah Maul yang sedang dibangga-banggakan oleh Miyuki dan juga Yoshida.
“Di kelasku banyak sekali temanku yang membaca Comic Universe.”
“Di kelasku juga sama, hampir semua anak perempuan ada aplikasi Comic Universe di ponsenya.”
“Bagaimana Mar kehebatanku?”
Maul masih bersikap sombong dan dia ingin sekali untuk dipuji juga olehku.
“Memangnya apa yang habis kau lakukan?”
“Apa kau bermain Outstagram Mar?”
Ah, aplikasi sosial media yang membuat kita bisa melihat foto-foto dan video di sana.
“Aku tidak memainkannya.”
“Huh! Susah menjelaskannya jika kau sendiri tidak memainkan aplikasi itu. Kau harus mengunduh aplikasi itu terlebih dahulu Mar, baru nanti akan aku jelaskan.”
Aku tidak ada waktu untuk melakukan hal itu, lagi pula kalau tidak salah penyimpanan di ponselku sudah hampir penuh. Kalau aku ingin mengunduh aplikasi itu, aku harus menghapus beberapa gim yang ada di ponselku terlebih dahulu.
“Sudahlah jelaskan saja apa yang kau lakukan dengan aplikasi itu?”
“Kau pasti sudah tau kalau di aplikasi Outstagram ada fitur pencarian yang membuat kita dapat melihat foto-foto sesuai dengan apa yang kita sukai. Namun...”
Miyuki menunjukkan aplikasi itu kepadaku, dan dia pun menggulirkan layar ponselnya itu. Kemudian aku sering sekali melihat postingan yang berkaitan dengan Comic Universe.
“Lalu?”
Tapi walaupun aku sudah melihat hal itu, aku tidak tau apa yang sudah Maul lakukan.
“Aku kira dari melihat itu kau sudah paham.”
Maul terlihat kecewa sekali mendengarnya.
“Aku membuat algoritma dari pencarian di Outstagram sedikit bedubah dari biasanya. Aku membuat aplikasi itu selalu memunculkan postingan yang terkait tentang Comic Universe. Kemarin malam juga Pak Hari memberitahu akun Outstagram yang selama ini dia pegang, dan... Ta-ra-, akun ini sudah memiliki banyak sekali pengikut.”
Maul pun menunjukkan akun Outstagram dari Comic Universe kepadaku dan sudah ada lima puluh ribu orang mengikuti akun tersebut.
“Apa tidak masalah melakukan hal itu?”
Aku sedikit khawatir setelah diberitahu cara yang Maul lakukan.
“Itu tidak masalah, aku tidak menggunakannya secara berlebihan. Hanya saja seperti orang yang sedang menggunakan iklan tapi ini versi gratisnya.”
“Bukankah itu kejahatan?”
“Selama tidak ketahuan itu tidak masalah.”
“Dari mana kau tau kalau itu tidak akan ketauan.”
“Karena aku membuat seolah-olah postingan itu muncul secara alami.”
Apanya yang alami jika tiba-tiba postingan yang tidak pernah kita sukai muncul di kolom pencarian kita.
“Aku tidak tau apa yang kau lakaukan, tapi setidaknya selama itu tidak ketahuan. OK!”
Aku memberikan tanda jempolan kepada Maul.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu akhir-akhir ini Ar?”
“Aku malah tidak pernah mendapatkan kerjaan apapun akhir-akhir ini.”
Karena semuanya sudah diambil oleh anak magang, jadi aku tidak melakukan apapun.
“Bukannya aplikasi ini sedang ramai dan sudah banyak komikus yang bergabung ke dalam aplikasi itu, seharusnya kamu sedang sibuk-sibuknya kan?”
“Di kantor sekarang sudah ada pekerja magang yang bekerja di sana, dan sepertinya mereka sangat bersemangat hingga mengambil semua pekerjaan di sana. Padahal saat Pak Hari sudah membagikan job desk kepada mereka, tapi mereka sangat bersemangat sekali untuk mengerjakan yang lain.”
Tentu hal itu karena uang... Aku penasaran berapa uang yang diberikan oleh Pak Hari kepada mereka setiap kali mereka melakukan pekerjaan lembur.
“Apa itu tidak masalah menyerahkan hal itu kepada pekerja magang? Bagaimana jika nantinya ada komik yang tidak sesuai dengan ketentuan.”
Yoshida bertanya kepadaku.
“Kalau itu kau tidak usah khawatir, karena rata-rata pekerja magang yang di sana adalah mahasiswa. Aku saja yang seorang siswa dapat melakukan hal itu dengan mudah, apalagi mahasiswa. Tapi sejauh ini aku tidak pernah mendengar laporan dari Pak Hari kalau ada komik yang tidak sesuai dengan ketentuan.”
“Bukankah itu enak Mar, kau tidak perlu bekerja. Biasanya kau sendang dengan hal seperti ini. Woah! Apa ini sosis? Aku minta ya...”
Riki pun mengambil sosis yang ada di bekalku.
__ADS_1
“Awalnya aku senang kalau tidak bekerja tapi ketika tau kalau kita tetap mendapatkan bayaran walaupun tidak bekerja, entah kenapa aku tidak enak saja.”
Ya... Mungkin karena baru pertama kali merasakan seperti ini. Tapi Pak Febri mengatakan kepadaku kalau nantinya aku akan terbiasa dengan hal-hal semacam ini.
“Bukankah itu sudah seperti atasan?”
“Kau benar Yoshida, kemarin Pak Hari berkata kepada kami kalau kami sudah dia anggap sebagai salah satu pendiri perusahaan itu, tapi menurutku gelar atasan masih kurang cocok untuk pelajar sepertiku.”
“Aku sama sekali tidak mengerti pola pikirmu Mar.”
Miyuki terlihat bingung sendiri.
“Itu benar, masih terlalu dini untuk kita mendapatkan gelar itu.”
Heee... Tumben sekali kau berkata seperti itu Mul. Kemarin bukannya kau baru saja membangga-banggakan gelar atasan yang kau milikki itu.
“Seharusnya kalian berdua senang karena mendapatkan gelar itu sekarang, banyak orang yang ingin mendapatkan hal itu secara cepat tapi sangat sulit untuk mendapatkannya.”
Ah! Aku tau kenapa Maul berkata seperti itu. Sepertinya dia mau memancing pendapat dari Takeshi.
“Sepertinya kali ini aku setuju denganmu Takeshi.”
“Apa hari ini kamu akan pergi ke kantor lagi Ar?”
“Iya, hari ini di kantorku akan ada penerimaan karyawan dan aku disuruh Pak Hari untuk datang. Aku juga tidak tau apa yang akan dilakukan di sana.”
“Tentu saja untuk membantu Pak Hari memilih karyawan baru.”
“Bukannya seharusnya itu dilakukan oleh atasan?”
“Kita kan memang atasan.”
“Oh iya.”
Banyak sekali yang terjadi kepadaku akhir-akhir ini, tapi aku belum memberitahukan hal ini kepada orang tuaku. Aku masih menyimpannya dari mereka kalau aku memiliki sebuah pekerjaan tetap. Aku rasa tidak masalah jika memberitahukan kepadanya karena hal itu tidak mengganggu sekolahku. Mungkin suatu saat aku akan memberitahukan mereka tentang hal ini.
“Jangan lupa sisakan satu tempat untukku setelah O2SN nanti.”
“Tenang saja Rik, itu bisa diatur.”
“Bukankah itu curang jika menggunakan orang dalam agar mudah masuk ke sebuah perusahaan.”
Kichida merasa keberatan dengan apa yang kami perbuat.
“Jelaskan Mar!”
Aku tau kalau Riki ingin meledek Kichida saat ini.
“Dulu aku pernah berkata kalau komeksi adalah yang terpenting dalam menjalani kehidupan ini, karena kalau koneksi kita luas dan kita dapat mudah menjalani hidup berkat koneksi yang kita miliki, itu berarti kita sudah berhasil dalam menjalani kehidupan dunia yang baik dan benar. Salah satu contohnya adalah orang dalam seperti ini.”
Tapi yang aku katakan barusan itu benar, kita bisa melihat contoh jelasnya di Pak Hari. Mungkin kita tidak dapat membangun dan mengembangkan perusahaan itu dengan mudah tanpa koneksi-koneksi yang dimiliki oleh Pak Hari. Mulai dari koneksi dengan para komikus, teman-temannya yang berada di perusahaan penerbita, teman-temannya yang memiliki banyak pengikut di sosial media, dan masih banyak lagi.
“Tetap saja itu curang Mar!”
“Aku hanya bercanda Kichida. Tentu saja kalau Riki memiliki kemampuan yang bisa bersaing di perusahaan itu, dia akan diterima untuk bekerja di sana.”
Tentu saja aku akan membantu Riki dalam mengembangkan kemampuannya itu.
“Terima kasih atas tawarannya Mul, tapi saat ini aku masih sibuk berorganisasi di rumahku. Aku takut kalau aku bekerja juga, nanti sekolahku menjadi terbengkalai.”
“Sayang sekali.”
Aku penasaran organisasi apa yang diikuti oleh orang seperti Rian. Tapi sejauh pengamatanku, sepertinya dia bergabung dengan organisasi keagamaan seperti remaja masjid di rumahnya.
“Mungkin kalau aku sudah tidak sibuk, aku akan memikirkannya lagi.”
“Beritahu aku jika hal itu tiba.”
Teng... Teng... Teng... Teng.....
“Oh tidak, makananku belum habis!”
Aku pun mempercepat makanku untuk menghabiskan semua bekalku.
“Lagian dari tadi kamu berbicara terus sih Ar.”
“Sini biar aku bantu Mar.”
Riki pun memberikan tempat bekalnya kepadaku, aku pun membagi makananku kepadanya untuk dia habiskan juga.
Setelah menghabiskan bekalku, kami semua pun langsung pergi ke kelas kami masing-masing. Ketika kami berada di tangga, kami berpapasan dengan Pak Febri yang sepertinya ingin menuju ke lantai tiga.
“Kami duluan Mar.”
Maul dan yang lainnya pun pergi meninggalkanku dan Riki.
“Bagaimana kabarmu Mar?”
“Baik Pak.”
“Jangan lupa untuk datang ke kantor setelah pulang sekolah nanti. Ada tugas penting yang harus kita lakukan di sana.”
“Kau juga bagaimana kabarmu Rik?”
“Aku sangat baik Pak.”
Riki menjawabnya dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya.
“Semangat untuk O2SNnya ya!”
“Tenang saja, aku pasti akan memenangkannya.”
“Bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini Mar? Apa kau masih tidak mendapatkan pekerjaan?”
“Tentu saja, semua pekerjaanku sudah dikerjakan semua oleh anak magang yang ada di sana.”
“Hahaha... Anggap saja ini sebagai liburan sementara kita. Aku yakin Hari melakukan ini karena dia mau kau dan Maul untuk istirahat sejenak. Kalau dia tidak melakukan ini, mungkin kau dan Maul masih bekerja seperti biasanya.”
__ADS_1
Hmm... Aku rasa apa yang baru saja dikatakan Pak Febri itu benar. Aku dan Maul selalu merasa tidak enak jika tidak mengerjakan apa-apa, apalagi ketika Pak Hari berkata kalau kami tetap akan dibayar. Pasti kalau pekerjaan itu tidak dikerjakan oleh anak-anak magang, kami sudah mengambil bagian untuk pekerjaan kami.
“Apakah tidak ada pekerjaan yang bisa aku kerjakan? Aku merasa bingung untuk menghabiskan waktuku ketika di rumah.”
Biasanya aku bermain gim saat jam sembilan ke atas, karena teman-temanku baru saja bermain gim sekitar jam segitu, termasuk dengan Misaki. Aku dengar dia harus belajar terlebih dahulu sebelum bisa bermain gim. Malangnya Misaki!
“Kalau kau memang masih mau bekerja, kau bisa mengambil sebagian pekerjaan yang sedang aku kerjakan. Hitung-hitung mengurangi pekerjaanku juga.”
“Oke kalau begitu, nanti kirimkan detail pekerjaannya kepadaku.”
Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan lagi.
“Tapi jangan memaksakan dirimu Mar!”
“Siap.”
“Kalian berdua juga jangan lupa untuk belajar karena sebentar lagi akan diadakan UTS.”
“Aku baru mengingatnya, nanti aku akan ke rumahmu untuk belajar saat itu Mar.”
“Datang saja Rik.”
“Jangan sampai nilai kalian berdua turun karena kesibukan kalian masing-masing. Bapak tau kalau Riki sedang sibuk untuk mempersiapkan O2SN dan itu bisa dimaklumkan oleh sekolah jika nilainya rendah. Kalau untuk Amar yang nilainya turun karena bekerja, bisa-bisa kau tidak diperbolehkan untuk bekerja lagi oleh Hari Mar!”
Gawat sekali jika itu sampai terjadi.
“Selama guru memberikan kisi-kisi yang sesuai dengan soal yang selalu mereka jelaskan di kelas, aku rasa tidak masalah.”
“Apa di dalam hidupmu kau tidak pernah merasakan kesulitan sama sekali Mar?”
Pak Febri menatap heran kepadaku.
“Mana mungkin, akhir-akhir ini aku merasa kesuliatan karena pekerjaannya sangat banyak sekali. Apalagi aku harus mengimbanginya dengan sekolahku, itu rasanya berat sekali Pak.”
“Sudah, kalian cepatlah ke kelas. Aku rasa guru kalian juga sudah mau masuk.”
Pak Febri pun berjalan ke lantai tiga dan kita pun menuju ke kelas.
***
“Dimana Pak Febri?”
“Dia menyuruh kita untuk duluan, katanya dia ada rapat untuk UTS hari ini.”
“Begitu..”
Saat ini kami sedang berada di dalam bis untuk menuju ke kantor. Aku pun memperhatikan jalanan kota di sore hari yang mulai dipadati oleh kendaraan dari orang yang sudah selesai bekerja.
“Bagaimana aplikasi yang waktu itu kau buat? Apa kau sudah menambahkan fitur aneh lagi di dalamnya?”
Aku masih tidak bisa melupakan kejadian kemarin saat Maul mengintip apa saja yang ada di ponselku.
“Aplikasinya sudah aku kembangkan lagi. Karena akhir-akhir ini aku tidak memiliki pekerjaan yang aku kerjakan saat di rumah, jadinya aku berniat untuk menambahkan beberapa fitur di aplikasi ini.”
Maul menunjukkan ponselnya kepadaku.
“Apa yang sekarang bisa dilakukan?”
“Aku bisa meretas CCTV yang ada di bis ini, mengganti jadwal kereta dan juga Transjakarta.”
Wah... Sepertinya apa yang dia lakukan adalah kejahatan semua. Kalau saja dia salah menggunakan untuk hal lain, aku rasa saat ini dia sudah mendekam di penjara. Itu juga kalau polisi bisa mendeteksi keberadaannya.
“Lihat ke billboard yang ada di sana Mar!”
Saat itu bis kami sedang berhenti di sebuah lampu merah yang tidak jauh di sana terdapat sebuah billboard yang sangat besar.
Maul pun mengubah tampilan layar iklan itu dengan anime dan membuat seluruh penumpang yang ada di dalam bis itu menjadi heboh dengan apa yang dilakukan Maul. Aku pun melihat ke sekeliling bis apakah ada penumpang yang mencurigai kita, dan ternyata tidak.
Itu sangat berbahaya sekali melakukan hal seperti itu di dalam bis yang sedang ramai seperti ini.
“Kau ini! Bagaimana jika ada orang yang mengetahuinya?”
Aku mengecilkan suaraku.
“Tenang saja, aku tidak mungkin ketahuan.”
“Lalu bagaimana perkembangan dari drone yang ingin kau buat itu?”
“Aku masih mencoba versi awalnya, mencari bahan-bahannya untuk membuat drone itu sangat susah sekali Mar.”
“Mengapa kau tidak membeli drone asli lalu dibongkar untuk mendapatkan bahan-bahannya?”
“Kau kira harga drone yang bagus semurah itu hanya untuk diambili bahan-bahannya saja. Itu sangat sayang sekali menurutku.”
Benar juga, malah terkesan seperti buang-buang uang.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
“Aku sedang mencari bahan-bahan itu di internet, dan kebetulan ada beberapa toko yang menjualnya di sana.”
“Ohh! Lalu kapan drone-nya jadi?”
“Mungkin setelah kita lulus?”
LULUS?! Bukankah itu masih tiga tahun lagi.
“Itu lama sekali.”
“Memangnya kau kira membuat hal seperti ini mudah.”
“Bukankah untuk orang sepertimu ini adalah hal yang mudah?”
“Ada beberapa hal yang tidak bisa aku lakukan juga. Bukankah itu kata-kata yang selalu kau katakan kepada yang lainnya.”
Ah! Aku baru mengingatnnya.
“Kalau drone-nya sudah jadi, jangan lupa memberitahuku. Aku sangat menantikannya.”
__ADS_1
“Tunggu saja, aku akan membuatmu terkejut.”
-End Chapter 79-