Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 58 : Labaran Idulfitri.


__ADS_3

Pagi hari ini adalah pagi yang cerah, suara takbir bergema tiada hentinya dari kemarin malam di langit Jakarta. Setelah salat subuh, aku dan Riki langsung berjaga di pintu masuk untuk mengarahkan orang-orang yang ingin melaksanakan salat id.


Pagi ini, aku masih mengantuk sekali karena kemarin malam setelah membaca artikel itu, ada seorang temanku yang mengajakku untuk bermain gim terlebih dahulu dan hasilnya hingga pagi ini belum tidur sama sekali. Ibuku sempat curiga kepadaku saat membangunkanku karena aku bangun lebih cepat dibanding biasanya.


Ketika aku sedang berjaga bersama dengan Riki, Nadira dan kedua orang tuaku pun datang ke sana.


“Selamat hari raya idulfitri Kak Riki.”


Nadira langsung menghampiri kami sedangkan kedua orang tua kami langsung pergi masuk ke dalam masjid untuk mencari shaf.


“Selamat hari raya juga untuk Nadira.”


“Wajahmu pagi ini suram sekali Kak, memangnya semalam kamu pulang jam berapa?”


“Aku masih mengantuk sekali, semalam aku pulang jam satu karena membantu Pak Ustadz untuk mempersiapkan semuanya.”


“Kamu harus bersemangat Kak, jangan menunjukkan wajah itu, apalagi saat di hadapan Kak Rina.”


Berisik sekali perempuan yang satu ini. Adik siapa sih?


“Benar kata Nadira Mar, kau harus lebih bersemangat lagi.”


Kenapa kau juga ikut-ikutan Rik!


“Sudahlah lebih baik kau langsung pergi ke shaf wanita.”


“Kalau begitu aku pergi dulu Kak.”


Akhirnya aku bisa tenang lagi.


“Adikmu ceria seperti biasanya ya.”


“Ya, dia selalu ceria setiap saat.”


Saat ini, aku tidak hanya berjaga berdua bersama Riki saja. Namun ada beberapa remaja masjid yang membantu kami mengarahkan para jemaah yang ingin melaksanakan salat id.


“Bang Amar!”


Ketika aku sedang berjaga, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menjagaku. Aku pun melihat dengan jelas anak tersebut dan dia adalah Misaki. Aku langsung melihat ke sekeliling, karena kalau di sini ada Misaki pasti Miyuki tidak jauh ada di sini. Ternyata dugaanku tidak salah. Tepat setelah Misaki menyapaku, aku melihat Miyuki dan keluarganya datang ke masjid dan ini pertama kalinya aku bertemu dengan bapaknya Miyuki.


Tanggapanku tentang bapaknya Miyuki... Ya... Dia terlihat seperti... Orang Jepang.


“Misaki, bagaimana kabarmu?”


Riki langsung menyapa Misaki menggantikanku. Saat ini aku sama sekali tidak mau berbicara sama sekali. Kepalaku pusing dan mataku berat, aku harus segera tidur setelah salat ini kelar.


“Amar, selamat hari raya idulfitri.”


Miyuki dengan menggunakan gamis berwarna putih datang menghampiriku dan ini pertama kalinya juga, aku melihat Miyuki yang menggunakan hijab.


“Selamat hari raya idulfitri untukmu.”


Aku membalas ucapannya dengan tidak bersemangat sekali.


“Apa yang terjadi dengan Amar Rik?”


“Dia kemarin baru saja pulang dari masjid dan satu malam, lalu dia melanjutkannya dengan bermain gim hingga pagi ini. Jadinya dia sama sekali belum tidur.”


Terima kasih Rik telah menjelaskannya, aku sangat terbantu sekali saat ini.


“Sepertinya nanti ketika ceramah aku akan tertidur.”


“Itu tidak baik Mar, kau harus mendengarkannya dengan baik.”


“Kalau mataku bisa berkompromi dengan baik dengan otakku, mungkin aku akan mendengarkannya dengan baik.”


“Nak Amar, bagaimana kabarnya?”


Ibunya Rina langsung bertanya kepadaku.


“Alhamdulillah baik bu.”


“Kalau begitu, kita duluan ya Nak Amar.”


“Aku duluan Mar..Rik.”


“Dadah Kak Amar.”


Miyuki dan keluarganya pun pergi ke dalam masjid.


“Itu tadi siapa Rik?”


Ketika Miyuki pergi, semua remaja masjid yang melihat Miyuki berbicara dengan kami berdua langsung mulai bertanya tentang Miyuki.


“Itu Miyuki, teman SMKku.”


Riki menjawab pertanyaan dari mereka.


“Dia cantik sekali, dari mana kau dapat berkenalan dengannya?”


“Sepertinya keluarganya dekat denganmu Mar, apa hubunganmu dengan dia?”


Ayolah, kenapa setiap Miyuki berbicara denganku harus hal ini yang terjadi? Tidak bisakah kalian tenang sedikit. Itu hanya Miyuki, banyak perempuan cantik sepertinya di luar sana. Jadi jangan terlalu berlebihan akan hal itu.


“Tenang kawan-kawan semua, biar aku yang akan menjawab pertanyaan kalian satu persatu.”


Huh... Untung saja aku memiliki teman yang dapat diandalkan disini. Lain kali aku akan mentraktir dia sesuatu.


Bilal pun mulai mengumandangkan ikamah tanda bahwa salat akan segera dimulai. Aku dan Riki beserta remaja masjid yang berjaga langsung pergi ke shaf untuk ikut melaksanakan salat. Kali ini imamnya adalah Pak Ustadz sendiri.


Selesai melaksanakan salat dan mendengarkan khutbah, Aku menunggu keluargaku di pintu keluar. Sebenarnya aku hanya menunggu bapakku karena biasanya dia yang membawa kunci rumah.


Kemudian dari kejauhan aku melihat bapakku yang berjalan keluar masjid bersama Nadira yang berjalan di sampingnya, ibuku juga berada di sana. Tapi aku melihat sesosok yang tidak asing berjalan di samping ibuku. Ya orang itu adalah ibunya Miyuki beserta Miyuki dan yang lain.


Saat itu aku tidak mau memikirkan apapun, saat ini yang ada dipikiranku hanya kasurku yang empuk. Aku ingin cepat-cepat tidur.


Melihatku yang sedang menunggu, Nadira langsung berlari kecil menghampiriku.


“Kakak.. Kakak... Dengarkan ini-“


“Shut!”


Aku pun menutup mulut Nadira dengan jari telunjukku agar dia diam.


“Aku tau apa yang ingin kau tanyakan. Kau pasti ingin tau apa hubunganku dengan perempuan yang ada di sana itu kan?”


“Hebat sekali kamu bisa tau hal itu Kak.”


Seperti dugaanku.


“Sebelum itu ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Siapa wanita yang ada di samping ibu?”


“Wanita yang ada di samping ibu itu ternyata emannya ibu ketika waktu SMA.”


Mendengar itu hanya membuatku menggelengkan kepala saja. Aku tidak tau apa lagi yang harus dikatakan mengenai hal ini dan semua yang akan terjadi ke depannya. Semua yang berkaitan dengan Miyuki sama sekali tidak bisa ku tebak.


“Lalu apa hubunganmu dengan perempuan itu Kak Amar?”


“Aku tidak ada hubungan apa-apa, dia hanya teman satu sekolahku saja.”


“Masa? Aku mendengar cerita dari ibunya perempuan itu kalau kalian dekat sekali. Siapa namanya... Oh iya, Miyuki. Sepertinya akhir-akhir ini kamu sangat terkenal hingga perempuan secantik itu mendekatimu.”


Nadira langsung berbicara tiada hentinya. Kepalaku yang pusing karena belum tidur makin dibuat pusing mendengar ocehannya.


Ketika ibuku sudah sampai di dekatku, aku langsung mengampiri bapakku untuk meminta kunci kepadanya.


“Jadi Amar adalah anakmu?”


“Kamu kenal dengan Amar?!”


Ibuku terlihat terkejut ibunya Miyuki mengenalku.

__ADS_1


“Siapa dia bu?”


“Ini Dian Mar, temen ibu ketika SMA. Dulu ibu akrab sekali dengannya. Kita sudah lama tidak ketemu karena dia yang pergi ke Jepang untuk kuliah. Akhirnya sekarang kita bertemu lagi.”


“Hee...”


Sebuah kebetulan macam apa ini!


“Oh iya bagaimana kalau kalian datang ke rumahku? Kebetulan rumahku tidak jauh dari sini.”


Kumohon ibunya Miyuki, tolong tolak ajakan dari ibuku. Saat ini aku ingin sekali untuk tidur dan kalau ada tamu yang datang ke rumah apalagi tamu itu adalah teman dekat dari ibuku, pasti aku disuruh untuk bangun dan berada di ruang tamu.


“Baiklah, lagi pula kita sudah lama tidak bertemu.”


Ah sial! Selamat tinggal tidurku, sepertinya aku harus berjaga lebih lama lagi.


Ketika berada di rumah, aku ingin mengendap-endap pergi ke kamarku karena ibuku tidak menyadarinya, ini adalah sebuah kesempatanku untuk tidur. Tapi saat aku mencapai kamarku, aku melihat bapakku yang berada di sana. Aku yakin dia menyuruhku untuk menemaninya karena dia tidak tau pembicaraan apa yang bisa dibawakan untuk berbicara dengan bapaknya Miyuki, apalagi bapaknya Miyuki berasal dari Jepang. Aku yakin dia takut salah berbicara di depannya.


“Kenapa Pak? Bapak menyuruhku untuk menemani karena tidak tau harus berbicara apa dengan suami temannya ibu?”


“Seperti yang aku harapkan dari anakku, ternyata kamu dapat mengerti bapakmu ya.”


Keluarga ini mudah sekali terbaca.


“Baiklah, aku akan menemanimu di sana.”


“Terima kasih Mar, nanti uang THRnya akan bapak tambahkan dua kali lipat.”


Apakah aku harus senang dengan hal ini? Mungkin kalau aku dalam keadaan normal, aku pasti sudah senang sekali karena THRku ditambah dua kali lipat. Tapi karena sekarang aku sangat lelah sekali, jadinya aku tidak memiliki semangat.


Aku pun langsung pergi ke ruang tamu bersama dengan bapakku dan langsung duduk di sofa.


“Perkenalkan ini suamiku Kagaya, kami bertemu saat aku kuliah di Jepang. Dulu dia kakak kelasku di komunitas yang ada di kampus.”


Ibunya Miyuki memperkenalkan suaminya kepada kami.


“Saya Kagaya.”


Bapaknya Miyuki langsung menjulurkan tangannya kepada bapakku. Bapakku terlihat gugup sekali saat disodorkan tangan seperti itu.


“Cepat jabat tangannya, jangan membuat suasana di sini menjadi canggung.”


Aku pun sedikit menyenggolnya dengan tanganku.


“Saya Syarif, suaminya Sarah. Senang berkenalan denganmu.”


“Dan ini anak pertama kami Miyuki, mungkin Amar sudah tau. Saat puasa kemarin dia sudah pergi ke rumah kami untuk berbuka di sana, nanti kalau kamu mau datang ke rumahku, kamu bisa meminta Amar mengantarkannya.”


Seketika keringat dinginku keluar dari kepalaku. Aku melihat Nadira yang menatapku dengan sangat tajam dan kalau dari tatapannya dia memintaku menjelaskan apa yang terjadi.


“Saya Miyuki.”


“Wah! Anak perempuanmu cantik sekali seperti ibunya.”


“Kamu bisa saja Sarah.”


Aku sudah tidak kuat lagi, siapapun tolong keluarkan aku dari sini.


“Ini anak terakhir kami, namanya Misaki. Misaki perkenalkan diri.”


“Mah aku bosan.”


Misaki pun merengek kepada ibunya.


Bagus Misaki, teruskan seperti itu. Kalau kau dapat membuat ibumu mengakhiri pembicaraan ini dan pulang, aku akan membantumu naik peringkat hingga peringkat satu.


“Sabar Misaki, setelah ini nanti kamu bisa bermain bersama Amar.”


“Benarkah itu Kak?”


“Iya.”


"Namaku Misaki, aku masih duduk di bangku sekolah dasar."


Kurang ajar kau Miyuki, kau membuat kesempatan emasku menjadi hilang.


Kemudian giliran ibuku yang memperkenalkan keluarganya kepada keluarga Miyuki. Setelah itu, kami pun hanya mendengarkan ibuku dan ibunya Miyuki bercerita tentang masa mudanya. Tidak ada satupun dari kami yang mencoba untuk bergabung dalam pembicaraan itu karena tidak tau apa yang harus dibicarakan.


“Mar, kamu sudah ada pembicaraan yang bagus untuk dibicarakan tidak?”


Bapakku berbisik kepadaku, sepertinya dia sudah menyerah juga.


“Aku juga tidak tau, aku baru sekali ini bertemu dengan bapaknya Miyuki.”


“Ano... Ini rumah yang bagus ya.”


Bapaknya Miyuki tiba-tiba memancing pembicaraan.


“Terima kasih.”


“Apa kamu senang memancing?”


Bapaknya Miyuki melihat sebuah foto yang ada di ruang tamu. Foto yang dilihat oleh bapaknya Miyuki adalah foto bapakku ketika sedang memancing di laut dan mendapatkan tangkapan ikan yang cukup besar.


“Begitulah, hampir setiap liburan aku pergi bersama teman-temanku ke laut untuk memancing.”


“Benarkah itu! Bisakah kamu mengajakku jika ingin memancing lagi. Kebetulan aku juga suka memancing.”


“Kalau begitu nanti ketika memancing lagi, akan aku kabarkan. Bagaimana kalau kita berbicara di teras belakang?”


“Baiklah.”


Kemudian bapakku dan bapaknya Miyuki pergi ke teras belakang rumah. Aku bersyukur bapaknya Miyuki bukan orang yang susah untuk diajak bicara dan juga untung saja bahasa Indonesianya lancar, kalau tidak mungkin bapakku tidak tau harus berbicara apa lagi.


“Oh iya, waktu itu Amar pernah mengajak Miyuki pergi ke Gunung Prau Loh!”


Aku pun langsung terkejut sekaligus panik ketika ibunya Miyuki berbicara tentang hal itu. Karena tidak ada satupun di keluargaku yang tau kalau aku pergi bersama Miyuki, waktu itu aku hanya izin untuk pergi bersama dengan Riki dan Maul. Memang aku tidak tau kalau Miyuki akan ikut dalam perjalanan itu.


Kemudian Nadira dan ibuku langsung menatapku dengan tajam.


“Bisakah kamu jelaskan tentang hal itu Mar?”


“Iya Kak, kebetulan aku juga ingin mendengarkannya.”


Kalau begitu singkirkan terlebih dahulu tatapan kalian itu.


“Aku memang pergi bersama Riki dan Maul, aku tidak tau kalau Miyuki juga diajak dalam perjalanan itu. Riki yang merencanakan semuanya.”


“Benarkah itu?”


“Benar, aku tidak bohong bu.”


“Siapa saja perempuan yang ikut dalam perjalanan itu?”


“Ada Rina dan Kirana, adik kelasku ketika di SMP.”


Nadira pun menatapku dengan tatapan curiga.


“Berhentilah mencurigai kakakmu sendiri, apa kau pernah melihat kakakmu ini berbohong?”


“Ngomong-ngomong itu foto yang ada medalinya, fotonya siapa ya?”


Miyuki pun mencoba untuk mengubah topik pembicaraan.


“Itu fotonya Amar ketika dia menjuarai kejuaraan basket ketika masih SD. Saat itu dia sangat bersemangat sekali.”


“Kamu hebat sekali Nak Amar. Kamu mempunyai anak yang hebat Sarah.”


Ibunya Amar pun memujiku sekaligus memuji ibuku.


“Dulu waktu SD, Amar sering sekali menjuarai kejuaraan seperti itu, kebanyakan medali sama pialanya dia simpan di dalam kamarnya. Padahal aku ingin memajang semuanya di ruang tamu, tapi Amar selalu melarang akan hal itu.”

__ADS_1


Sekarang aku mendapatkan dua tatapan curiga. Sebelumnya berasal dari Nadira yang saat ini masih belum menghilang dan sekarang dari Miyuki.


“Sepertinya menggeledah kamarmu adalah cara terbaik.”


Komohon, sampai kapan ini terus berlanjut.


“Kak Amar, ayo kita bermain gim. Aku sudah tidak sabar bermain denganmu, kemarin malam kau tidak menjawab pesanku.”


“Maafkan aku Misaki, kemarin malam aku sibuk membantu di masjid.”


Aku pun mengajak Misaki untuk duduk di sofa yang berada di depan televisi untuk memisahkan diri dari pembicaraan ibu-ibu yang ada di sana.


Aku melihat Miyuki yang mencoba berbicara dengan Nadira, tapi dari jauh aku melihat kalau Nadira berusaha untuk menjaga jarak terhadap Miyuki. Aku tidak mengetahui apa yang membuatnya bersikap seperti itu.


Ting... Tong...


Bel rumahku pun berbunyi.


“Biar aku yang membukannya... Sebentar ya Misaki.”


“Iya..”


Aku pun pergi ke pintu depan untuk melihat siapa tamu yang datang. Ternyata mereka adalah Riki dan Maul.


“Kalian berdua sudah datang.”


“Tentu saja, masih banyak rumah yang mau aku datangi.”


Ucap Riki yang sudah rapih dengan kemeja batiknya.


“Ya sudah, langsung masuk saja.”


Aku pun menyuruh mereka untuk masuk.


“Kenapa banyak sekali sendal di rumahmu, memangnya kau sudah kedatangan tamu?”


Maul memperhatikan sendal-sendal yang tersusun rapih di depan pintu.


“Begitulah.”


Aku rasa biar mereka melihat sendiri.


Ketika mereka berdua masuk, mereka terkejut karena ada Miyuki dan keluarganya di sana.


“Apa yang terjadi Mar? Apa akhirnya kau menyadari kalau kau suka dengan Miyuki dan mengajaknya beserta keluarganya agar kau bisa cepat menikah dengannya?”


“Pemikiran macam apa itu Rik... Alasan Miyuki ada di sini karena ibuku dan ibunya Miyuki ternyata teman dari SMA. Itulah kenapa dia bisa berada di sini karena ibuku mengajaknya ketika bertemu saat salat id tadi.”


“Sepertinya kau dan Miyuki memang terikat oleh takdir.”


“Hentikan hal itu Rik, itu sangat mengganggu.”


“Hai Miyuki! Kita bertemu lagi.”


Riki langsung menyapa Miyuki yang ada di sana.


“Hai Riki... Maul... Selamat hari raya idulfitri ya, mohon maaf lahir dan batin.”


Setelah Maul dan Riki bersalaman dengan ibuku dan juga ibunya Miyuki, aku pun mengajak mereka untuk pergi ke ruang keluarga yang di sana sudah ada Misaki yang sedang menungguku.


“Kau sedang bermain gim itu juga Misaki, aku akan ikut bermain denganmu.”


“Ayo bang Amar cepat.”


“Iya.. Iya.”


Aku pun langsung bermain dengan Misaki dan juga Maul. Sedangkan Riki sedang berbicara dengan Miyuki dan juga Nadira dekat tempatku duduk sekarang.


“Oh iya Mul, nanti kapan-kapan antarkan aku pergi untuk membeli laptop ya.”


“Memang uangmu sudah ada?”


“Sudah.”


“Ok, kalau begitu nanti kita belinya saat pulang sekolah saja. Kebetulan tokonya dekat dengan sekolah.”


“Ok.”


“Dari mana uang yang kamu dapatkan itu Kak?”


Nadira yang mendengar pembicaraanku barusan langsung bertanya kepadaku.


“Sebenarnya Amar itu-“


“Wow!”


Aku pun menutup mulut Riki supaya dia tidak membicarakan hal itu.


“Kau jangan membicarakan pekerjaanku di depan Nadira. Kalau dia tau aku memiliki penghasilan, dia pasti akan meminta uang THR kepadaku, dan setelah itu dia pasti akan selalu minta traktir kepadaku. Jadi jangan sampai kau memberitahunya.”


Aku berbisik kepada Riki.


“Baiklah.”


“Apa yang kalian bisikkan?”


“Tidak ada.”


Riki terlihat gugup ditatap oleh Nadira.


“Aku curiga dengan kalian berdua.”


“Kalian semua, kita makan ketupat dulu yuk. Kebetulan ibu bikin banyak.”


Ibuku pun mengajak semua yang ada di sana untuk makan ketupat. Hal itu pun membuat Riki terbebas dari tatapan Nadira. Tanpa basa-basi, kami pun langsung menuju ke ruang makan untuk memakan ketupat di sana.


“Apa kau di rumah juga membuat ketupat juga Miyuki?”


“Tentu saja Mul, sekarang kan hari raya, sudah pasti ibukku membuat ketupat juga.”


“Benar juga ya.”


“Oh iya Mar, kenapa Rina tidak ke sini?”


“Kak Miyuki mengenal Kak Rina?”


Nadira bertanya kepada Miyuki, aku rasa dia sedikit terkejut karena Miyuki mengenal Rina.


“Tentu saja, Rina adalah teman baikku, dan juga sekarang aku sekelas dengannya.”


“Kalau lebaran di rumahnya Rina sangat ramai dengan keluarga besarnya yang datang ke rumahnya karena bapaknya Rina adalah anak tertua di keluarganya.”


Aku pun menjelaskannya kepada Miyuki. Kenapa aku bisa mengetahui hal itu, tentu saja karena ibuku yang bercerita kepadaku.


“Miyuki, apakah di rumahmu memakan ketupat dengan menggunakan sumpit?”


Pertanyaan apa itu Mul? Aku rasa itu bukanlah pertanyaan yang perlu dijawab.


“Tidak, kami memakan ketupat dengan menggunakan sendok seperti orang pada umumnya.”


“Aku kira kalian akan berbeda sedikit.”


“Mar, setelah ini apakah kau mau pergi berkeliling bersamaku?”


Riki pun mengajakku untuk pergi berkeliling. Memang setiap tahun aku dan Riki selalu berkeliling satu RT untuk bersilaturahmi dengan teman-temanku lainnya.


“Sepertinya untuk kali ini tidak dulu Rik, aku sangat mengantuk sekali dan mau tidur terlebih dahulu.”


“Sayang sekali.”


“Sudah-sudah ayo kita makan terlebih dahulu.”

__ADS_1


Dan kami pun makan ketupat bersama. Pada akhirnya, aku baru bisa tidur ketika Miyuki dan keluarga pulang ke rumah pada saat azan zuhur berkumandang. Setelah salat zuhur, aku pun langsung tidur dikamarku dan kesadaranku hilang begitu saja saat kepalaku baru saja menyentuh bantal.


-End Chapter 58-


__ADS_2