Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 138 : Misi Merepotkan Bagian Ketiga.


__ADS_3

Ini dia, hotel yang kami cari.


Aku menatap ke arah sebuah hotel besar yang berada di hadapan kami. Kalau dilihat dari luar, hotel ini terlihat seperti hotel yang sangat mewah dan cukup megah. Ya, mungkin bisa dibilang hotel ini memiliki nilai bintang lima.


“Inilah dia Rik, akhir dari tujuan kita dan awal dari semuanya.”


“Apa kita harus masuk ke sana Mar?”


“Tentu saja.”


Aku pun menarik nafas cukup panjang untuk membuat diriku sedikit tenang, karena aku yakin kalau di dalam sana terdapat sesuatu yang bisa saja membuat emosiku terguncang dengan cukup hebat.


Kami mulai berjalan memasuki hotel itu dan ketika kami sampai di pintu masuk, kami langsung dijegat oleh dua orang lelaki berbadan besar dan berpakaian serba hitam.


“Maaf Dek, kalian berdua tidak boleh masuk. Hotel ini telah disewa untuk pribadi.”


Ucap salah satu penjaga itu kepada kami.


Badan penjaga itu lumayan besar dan mereka juga terlihat menyeramkan.


Aku pun melihat ke arah Riki dan dia terlihat biasa saja. Aku kira dia akan takut setelah melihat para penjaga itu.


“Benarkah! Ada acara yang ingin aku datangi di hotel ini soalnya. Katanya acara itu diadakan pada malam hari.”


Saatnya memainkan peranku menjadi orang bodoh di sini.


“Acara apa yang ingin kalian datangi?”


Salah satu penjaga itu mendekat kepada kami.


“Aku juga tidak tau, tapi ayahku memberikan ini.”


Aku menunjukkan tiket yang berada di ponselku kepada penjaga itu.


“Apa aku boleh meminjam ponselmu sebentar untuk dipindai barcodenya?”


“Silahkan saja Pak.”


Aku memberikan ponselku itu, dan dia pun memindai barcode itu dengan menggunakan ponselnya.


“Dari mana kau mendapatkan barcode ini?”


Penjaga itu sedikit curiga dan melihat penampilan kami berdua dari atas sampai ke bawah.


“Bukannya aku sudah mengatakan kepadamu tadi kalau aku mendapatkannya dari ayahku. Dia memberikanku itu sebagai hadiah ulang tahunku kemarin. Dia mengatakan kalau aku bisa mendapatkan sesuatu yang menyenangkan dari tiket itu jika aku datang ke alamat yang tertera di sana.”


Aku menjelaskan kepada mereka tentang hal itu.


“Barcode ini asli, maaf meragukanmu Tuan Rizki.”


Penjaga itu memberikan ponselku kembali.


Rizki? Oh iya aku lupa kalau Maul memalsukan namaku dengan nama Rizki.


Kenapa harus Rizki? Seharusnya dia menamaiku lebih bagus dibandingkan hal ini.


“Apa aku boleh mengajak kakakku juga ke dalam acara itu?”


“Tidak masalah jika hanya satu orang, karena orang yang datang ke acara ini juga dibolehkan membawa satu orang untuk menjaga mereka.”


Ucap penjaga itu.


“Penjaga? Memang apa yang ada di acara ini hingga aku membutuhkan penjaga?”


Aku berpura-pura seperti anak sekolah yang polos dan tidak mengetahui apa-apa.


“Memangnya kau tidak tau kau ingin mengikuti acara apa?”


Penjaga itu malah bertanya balik kepadaku. Dia terlihat heran melihat sikapku yang sangat polos tidak mengetahui hal itu.


“Tidak tau, ayahku tidak pernah memberitahukannya kepadaku.”


“Nanti kalian juga tau ketika mengikuti acara itu, sebelumnya kalian harus melewati pemeriksaan terlebih dahulu.”


Kedua penjaga itu pun mendekatiku dan Riki untuk memeriksa kami berdua.


“Angkat tanganmu.”


Aku pun mengangkat kedua tanganku dan penjaga itu mulai memeriksa semua bagian tubuhku dan memeriksa kantung pakaianku mulai dari baju dan juga celana. Bahkan mereka juga menggunakan metal detector untuk memeriksa badan kami.


Aku tidak tau kalau seketat ini pemeriksaan mereka.


Penjaga itu pun memegang kedua ponselku, namun mereka tidak mengambil kedua ponselku itu. Dia mengabaikannya dan memeriksa bagian lain.


“Kalian berdua aman.”


Loh? Ini mereka tidak mau mengambil ponselku?


Padahal tadi dia memegangnya loh.


“Apa kami tidak perlu menyerahkan ponsel kami?”


Aku bertanya kepada mereka berdua.


Sebenarnya memang lebih baik aku tidak menanyakan hal itu, siapa tau mereka lupa.


“Tidak perlu, nanti kalian akan membutuhkan ponsel saat mengikuti acara itu.”


Ponsel? Aku jadi penasaran bagaimana pelelangan nanti dilaksanakan.


Tapi karena mereka membiarkanku menggunakan ponsel, ada satu hal lain yang ingin aku tanyakan kepada mereka.


“Apa aku juga boleh menggunakan earphone untuk mendengarkan musik di dalam sana? Aku kadang-kadang suka bosan jika melihat sesuatu yang tidak menarik.”


Mudah-mudahan saja mereka tidak curiga dengan pertanyaan itu.


“Silahkan.”


Yosh! Sepertinya mereka terlalu percaya dengan pengganggu sinyal yang ada di dalam sana.


Kemudian salah satu penjaga itu memberikan dua buah topeng kepada kami.


“Topeng ini untuk apa?”


Tanyaku kepada mereka.


“Tentu saja untuk kalian pakai, di acara ini semua pesertanya diwajibkan untuk menggunakan topeng.”

__ADS_1


“Sepertinya menarik.”


Tentu saja mereka harus menggunakannya untuk merahasiakan identitas dari mereka yang datang sendiri. Pastinya dari pihak penyelenggara juga mengantisipasi jika ada penyusup ke acara ini.


Tapi karena dia membiarkanku untuk menggunakan earphone, berarti dia tidak akan menduga kalau ada seseorang yang bisa melakukan panggilan ke luar hotel.


Aku pun ingin menggunakan topeng itu karena topengnya terlihat menarik. Seperti topeng-topeng yang biasa digunakan oleh orang italia untuk berpesta.


“Lebih baik kalian menggunakan topeng itu saat sudah masuk ke aula saja.”


Penjaga itu menghentikan tindakanku.


“Dimana aulanya?”


Tanyaku kepada mereka berdua.


“Setelah meja resepsionis belok ke kanan dan lurus saja, nanti di depan sana ada petugas lagi. Kalian tinggal tunjukkan saja barcode yang kalian punya. Nanti mereka akan mempersilahkan kalian masuk dan menunjukkan meja kalian.”


Salah satu petugas itu menjelaskannya kepada kami.


Kalau sudah melewati petugas ini, berarti aku harus pergi ke toilet terlebih dahulu untuk memasang earphone dan menghubungi Maul.


“Terima kasih.”


Aku dan Riki mulai memasuki hotel.


“Selamat menikmati acaranya.”


Untuk ukuran penjaga yang memiliki badan kekar dan muka sangar, mereka lumayan ramah juga. Sayang sekali mereka menjadi penjaga di tempat seperti ini.


Ketika sudah jauh dari petugas itu, Riki pun memuji aktiku tadi.


“Kau hebat sekali dalam berakting tadi Mar, sepertinya kau menjadi artis saja setelah lulus nanti.”


“Mana mungkin.”


Mana mungkin orang yang tidak mau menarik perhatian orang banyak sepertiku ingin menjadi artis. Itu sangat merepotkan, apalagi aku harus berurusan dengan media yang ingin sekali tau apa yang aku lakukan.


“Apa kita mau langsung pergi ke aula Mar?”


“Kita pergi ke toilet terlebih dahulu, aku mau memasang earphone agar bisa berkomunikasi dengan Maul.


“Baiklah kalau begitu.”


Kami pun pergi ke meja resepsionis dan di sana terdapat dua orang lelaki yang berjaga. Mungkin karena ini malam hari jadi lelaki yang berjaga di sini.


“Permisi, kalau boleh tau dimana letak toilet ya?”


“Toilet berada di samping aula tuan.”


“Terima kasih.”


Karena toilet berada di samping aula, kami pun harus melewati aula yang di depannya sudah dijaga oleh dua orang penjaga yang badannya besar dan kekar juga.


Aku tidak akan melakukan hal macam-macam dengan mereka. Aku yakin Riki juga akan berpikiran yang sama denganku.


Ketika sampai di toilet, aku langsung masuk ke salah satu bilik toilet itu untuk memasang earphone ke ponsel yang diberikan oleh Maul.


“Tes.. Tes... Tes... Apa kau mendengar suaraku Mul?”


“Akhirnya terhubung juga.”


Apa bapaknya Miyuki dan ibunya sudah tiba di rumah?


“Ada apa Mul?”


“Para perempuan di sini sudah sangat cemas kepada kalian berdua karena tidak menghubunginya dari tadi.”


“Ada sedikit kendala di sini.”


“Di sini juga ada sedikit kendala.”


Maul juga mengeluhkan hal itu kepadaku.


“Apa?”


“Bapak dan ibunya Miyuki sudah pulang dan sekarang dia sedang bergabung dengan kami.”


Sudah aku duga kalau mereka berdua sudah tiba. Pasti Maul sangat kerepotan untuk menjelaskan hal itu kepada mereka berdua. Apalagi Maul bukan orang yang pandai dalam berbicara.


“Apa mereka sudah mengetahui tentang hal ini?”


“Miyuki sudah memberitahukannya kepada mereka, dan mereka juga cemas terlebih lagi dengan keadaanmu. Sepertinya mereka sudah menganggapmu sebagai anak mereka Mar.”


“Tidak ada waktunya bercanda di saat seperti ini Mul.”


“Maaf... Maaf...”


Dasar orang itu, dia memang orang yang tidak tau tempat dan waktu.


“Kenapa suaramu terdengar pelan Mar? Aku harus membesarkan volume laptopku agar dapat mendengarkan suaramu dengan jelas.”


“Aku sedang berada di toilet dan tidak enak jika aku berbicara keras-keras.”


Apalagi kalau ada seseorang yang masuk ke dalam toilet ini juga. Nanti dia bisa tau kalau aku bisa menghubungi seseorang yang berada di luar gedung.


“Apa kau sudah berada di dalam hotelnya Mar?”


“Tentu saja, kalau aku masih di luar tidak mungkin aku menghubungimu. Aku juga sudah melewati petugas pemeriksaan dan tinggal mengikuti acaranya saja.”


“Hati-hati Mar!”


Tiba-tiba suaranya Maul berubah menjadi suaranya Miyuki.


“Aku tau itu, bicaranya nanti lagi ya. Aku mau pergi untuk mengikuti acara tersebut.”


“Oi Mar, sebelum itu. Aku ingin kau menghubungkan ponsel yang aku berikan itu dengan sinyal yang ada di dalam hotel.”


“Bagaimana caranya Mul?”


“Kau tinggal menggeser layar ponselnya dari atas ke bawah dan menyalakan wifi-nya saja. Kemudian kau pilih jaringan yang ada di sana.”


Aku pun mempraktikkan apa yang Maul katakan.


“Aku sudah menemukan jaringannya, tapi semuanya terkunci dan membutuhkan kata kuncinya.”


“Tidak masalah, kau pilih saja jaringan yang ada di sana. Ponsel itu bisa membuka kuncinya secara otomatis.”

__ADS_1


Woah! Benarkah itu? Hebat sekali ponsel ini, mungkin aku akan meminjamnya suatu saat nanti.


Dan seperti apa kata Maul, tidak butuh waktu lama untuk ponsel itu terhubung dengan jaringan yang ada di sana.


“Sudah aku lakukan dan ponselnya saat ini sudah terhubung.”


“Ok, aku akan mencoba untuk masuk ke jaringan hotel itu. Aku juga akan mematikan pengacau sinyalnya agar aku dapat secara leluasa mengendalikan jaringan di hotel itu.”


“Baiklah.”


Terserah apa yang kau katakan Mul, hanya kau saja yang mengerti apa yang kau kerjakan itu. Aku saat ini sedang memikirkan kemungkinan yang terjadi di dalam sana.


Sebelum keluar, aku menyembunyikan earphone itu di balik jaket yang saat ini sedang aku kenakan. Walaupun petugas tadi mengatakan kalau aku boleh menggunakan earphone, tapi bisa saja dia hanya menjebakku.


Aku pun keluar dari bilik toilet dan menghampiri Riki yang menunggu di depan.


“Apa kau sudah tersambung dengan Maul?”


“Sudah, dan sekarang kami sedang berkomunikasi. Apa kau ingin berbicara dengannya?”


Aku menawarkan kepada Riki.


“Berkomunikasi? Kau saja tidak menggunakan earphone yang dia berikan, bagaimana kau bisa mendengar apa yang Maul katakan.”


“Aku hanya membutuhkan mic dari earphonenya saja untuk berbicara dengan Maul, nanti dia akan mengirim jawabannya dengan pesan.”


“Repot sekali.”


Riki mengeluh akan hal itu.


“Mau bagaimana lagi, kita melakukan hal ini agar tidak terlalu dicurigai nantinya.”


“Apa kita mau masuk ke aulanya sekarang?”


Tanya Riki.


“Iya.”


Kami pun berjalan menuju ke petugas yang menjaga di sana dan aku langsung menunjukkan barcode seperti yang dibilang petugas di pintu masuk tadi.


Petugas itu pun memindai kodeku lagi.


“Silahkan masuk tuan-tuan, tapi sebelum itu biar kami periksa kembali.”


Mendengar itu membuatku sedikit panik kembali karena aku tidak tau kalau ada pemeriksaan lagi. Bagaimana kalau dia menemukan earphone yang saat ini tersembunyi dibalik jaketku ini.


Kedua petugas itu pun memeriksa kami lagi seperti petugas yang berada di pintu masuk. Dan lagi-lagi petugas yang memeriksaku memegang kedua ponselku, tapi dia tetap mengabaikannya dan memeriksa bagianku yang lain.


Hingga sampai petugas itu melihat kabel earphoneku yang tidak tertutup oleh jaket.


“Itu kabel apa ya?”


Petugas itu mulai curiga.


“Ini earphone, tadi aku bertanya kepada petugas yang berada di depan. Katanya aku boleh menggunakannya untuk mendengarkan musik.”


Saat ini aku panik sekali, namun aku berusaha untuk terlihat tenang di hadapannya. Aku tidak boleh sama sekali terlihat panik sedikitpun.


“Oh begitu... Kalian berdua aman, silahkan masuk. Maaf mengganggu waktunya.”


Aku dan Riki terkejut mendengar hal itu, aku dan Riki saling lirik dan merasa senang karena kami tidak ketahuan.


Ternyata apa yang dikatakan oleh petugas yang berada di depan benar.


Aku dan Riki pun masuk ke dalam aula itu.


“Tunggu!”


Tiba-tiba salah satu penjaga itu memanggil kami dan menyuruh kami untuk berhenti.


Aku pun kembali panik begitu juga dengan Riki, apa penjaganya menyadari sesuatu?


“Ada apa ya?”


Aku menarik nafasku dalam-dalam supaya menjadi tenang.


“Tolong gunakan topeng kalian tuan.”


“Oh begitu, baiklah.”


Kami berdua pun menggunakan topeng kami dan kembali berjalan masuk.


Aku pun lemas sekali saat mengatahui kalau kami aman. Aku kira dia sempat menyadari sesuatu dari earphoneku itu.


“Aku kira tadi kita ketahuan Mar.”


Riki berbisik kepadaku.


“Aku kira juga begitu.”


“Apa ponselmu tidak ketahuan tadi?”


“Seharusnya kedua petugas yang memeriksaku tadi menemukan ponsel yang diberikan oleh Maul, tapi dia tidak menyitanya sama sekali.”


“Kenapa mereka tidak menyitanya ya?”


Riki merasa heran dengan hal itu.


“Mungkin karena di gedung ini terdapat pengganggu sinyal jadi membuat para petugas tidak peduli dengan ponsel yang kita bawa. Mereka berpikir kalau kita juga tidak bisa menggunakan ponsel itu untuk menghubungi orang luar dari dalam hotel ini.”


“Kau benar itu, tapi itu juga yang membuat mereka lengah.”


“Begitulah.”


Tapi aku bersyukur akan hal itu.


Aku suka cara bermain yang digunakan Maul saat ini. Dia mencari sisi lemah dari kekuatan yang musuh miliki.


Saat sampai di sana, aku melihat sebuah ruangan yang sangat besar dengan panggung besar yang ada di hadapan kami. Kemudian kami juga melihat banayk sekali meja yang berada di sana. Dan juga orang-orang sudah ada yang menempati meja-meja yang tersedia.


“Kita mau duduk di mana Mar?”


“Lebih baik kita duduk di sana saja.”


Aku menunjuk ke salah satu meja yang kosong tidak ada orang di sana.


Kami pun berjalan menghampiri meja itu dan duduk di sana.

__ADS_1


It’s Show Time!


-End Chapter 138-


__ADS_2