
Seperti biasa, ketika istirahat aku pergi ke tempat biasa untuk makan bersama yang lainnya. Tapi kali ini ada sesosok orang yang ikut bergabung dengan kami.
Ya... Dia adalah Takeshi.
Saat ini Takeshi sedang duduk tempat di samping Miyuki dan mencoba berbicara dengan Miyuki, walaupun Miyuki menjawabnya dengan setengah niat pertanyaannya itu dan mulai terasa terganggu. Dia beberapa kali mengisyaratkan kepadaku agar aku membantunya keluar dari kondisi itu, tapi aku memutuskan untuk diam dan menikmati bekal yang aku bawa.
“Amar, apa kamu tau sesuatu tentang Natasha?”
Kichida yang berada tidak jauh dariku bertanya tentang Natasha.
Bagi kalian yang mungkin lupa tentang siapa itu Natasha. Natasha adalah teman sekelasku dan juga wakil ketua kelas di kelasku. Dia teman sebangkunya Kichida dan juga ketika LDKS dia berada satu kelompok denganku. Dia anak yang ceria namun kadang-kadang dia terlihat menjadi orang yang pendiam. Dia hampir dikenal semua murid yang ada di kelasku. Itu tentu saja karena dia wakil ketua kelas.
Dan jarang sekali Kichida bertanya tentang Natasha kepadaku, biasanya dia hanya membicarakan tentang pelajaran atau sesuatu menarik yang sedang aku lakukan.
“Memangnya ada apa?”
“Aku jarang sekali melihat Natasha pergi untuk makan ketika istirahat. Dia juga tidak terlihat membawa bekal, dan setiap istirahat dia selalu berada di dalam kelas.”
“Aku juga sudah menyadari itu dari jauh-jauh hari. Aku tidak pernah melihat Natasha berkumpul dengan teman-teman sekelas untuk makan ketika istirahat.”
Bahkan Riki pun ikut-ikutan bertanya seperti itu.
“Mungkin dia hanya menghemat uangnya saja, aku dulu juga pernah ketika SMP tidak pernah keluar kelas karena ingin menghemat uang bulananku.”
“Tapi bukankah itu aneh Mar, kalau waktu kita SMP mungkin karena ketika jam dua belas kita sudah pulang jadi aku tidak terlalu mempermasalahkan itu. Tapi kalau di SMK saat ini, kita baru pulang nanti ketika jam setengah tiga. Aku rasa siapapun akan kelaparan jika tidak makan dari masuk sekolah hingga pulang.”
Maul pun yang mendengar pembicaraan kami ikut mengutarakan pendapatnya.
“Apa kamu mengetahui sesuatu Mar?”
“Aku bukanlah orang yang dapat mengetahui segala hal di dunia ini Kichida. Ada sesuatu yang tidak dapat aku ketahui juga. Mungkin kau saja yang tidak pernah melihatnya makan.”
Kalau aku dapat mengetahui semuanya yang ada di dunia ini, hidupku pasti sudah mudah sekali.
“Jadi begitu.”
Kichida pun menyantap kembali bekalnya, tapi aku melihat kalau dia mencemaskan sesuatu.
“Kalau kau secemas itu, kenapa kau tidak bertanya saja kepada orangnya. Kalian kan teman sebangku, pasti dia akan memberitahu kepadamu.”
“Entah kenapa aku memiliki perasaan kalau tidak sopan bertanya akan hal itu.”
Lagi-lagi perasaan... Apa memang perempuan selalu melakukan sesuatu dengan mengandalkan perasaan?
Ketika selesai istirahat saat aku hendak pergi ke kelas, aku tidak sengaja bertemu dengan Kak Alvin saat menaiki tangga.
“Amar, apa kau ada waktu?”
“Iya, sepertinya sebelum guru masuk ke kelas aku masih ada waktu.”
Aku pun duduk bersama Kak Alvin ditangga.
“Apa ada sesuatu yang ingin kau tanyakan kepadaku Kak?”
“Apa kau sudah melihat berita akhir-akhir ini?”
Hmmm... Pasti dia ingin membicarakan soal penculikan itu denganku.”
“Apa yang kau maksud adalah kasus penculikan yang saat ini sedang marak-maraknya? Kalau itu yang ingin kau tanyakan, aku sama sekali tidak mengetahui sesuatu tentang hal itu.”
“Hahahaha... Kau benar, aku ingin mendiskusikannya terlebih dahulu dengan kau.”
Mendiskusikan?
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
“Aku baru saja membicarakan hal ini dengan kesiswaan, dan pihak sekolah sudah mendiskusikan hal ini juga. Mereka akan mengeluarkan kebijakan pulang cepat kepada para muridnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan jika kasusnya sudah semakin parah.”
Pulang cepat! Wah, sepertinya istirahatku akan lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Aku harus meminta pekerjaan yang banyak kepada Pak Febri untuk aku kerjakan di rumah nantinya.
“Aku tidak tau apakah keputusan yang dibuat oleh sekolah adalah keputusan yang terbaik atau tidak.”
Kak Alvin terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Bagaimana pendapatmu tentang hal itu?”
“Kalau menurutku pribadi hal itu masih terlalu berlebihan untuk saat ini, tapi aku tidak bisa membantahnya karena ini demi keselamatan para siswa.”
“Sebenarnya ketika mendengar pulang cepat juga aku berpikir kalau ini terlalu berlebihan, karena jam pulang di SMK Sawah besar sudah terbilang cepat, kita sudah pulang pada jam setengah tiga. Jika pulangnya dipercepat mungkin sekitar jam dua atau jam dua kurang. Padahal kalau pulang seperti biasa saja, aku rasa tidak ada penculik yang mau menculik di jam seperti itu, waktu dan tempat sangat tidak ideal untuk melakukan tindakan penculikan.”
Tuturku kepada Kak Alvin.
“Kau sudah seperti pencuri saja sampai-sampai memiliki peikiran seperti itu.”
“Untuk mengetahui apa yang akan musuk lakukan, tentu kita harus bertindak dan berpikir layaknya musuh.”
“Hahahahaha... Aku juga berpikiran seperti itu sebelumnya.”
“Tapi kau tenang saja Kak, aku rasa kasus ini tidak akan lebih parah lagi dari yang sekarang.”
__ADS_1
“Kenapa?”
“Aku tidak tau, hanya insting saja.”
Ya... Karena aku rasa bapaknya Maul sudah melakukan sesuatu untuk mengurangi jumlah kasus yang terjadi. Dan kalau kasus ini sudah mencapai perbincangan di tengah-tengah masyarakat, pasti pemerintah juga turun tangan untuk menyelesaikan kasus ini.
Tunggu... Apa insting itu sama dengan perasaan yang dimiliki perempuan?
Setelah berbicara dengan Kak Alvin, aku pun langsung pergi ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Saat aku tiba di kelas, aku melihat Kichida sedang bermain ponselnya. Aku pun sedikit mengintip layar ponsel milik Kichida, dan aku pun melihat kalau dia sedang membaca komik di ponselnya.
“Apa yang sedang kau baca Kichida?”
Aku bertanya kepadanya yang sedang fokus membaca komik. Dia pun langsung menoleh ke arahku.
“Aku sedang membaca komik.”
“Iya, aku tau kau sedang membaca komik. Maksudku komik apa yang sedang kau baca?”
“Aku sedang membaca komik yang berjudul Yamaha dan Tujuh Montir.”
Yamaha dan Tujuh Montir? Judul yang cukup aneh untuk sebuah komik.
“Komik apa itu? aku tidak pernah mendengarnya.”
“Wajar saja jika kamu belum tau tentang komik ini, karena komik ini belum rilis di Indonesia. Komik ini masih terbit di majalah mingguan yang ada di Jepang. Karena majalah itu tidak dijual di Indonesia, jadinya aku hanya bisa membelinya secara online dan melihatnya dari layar ponsel saja seperti ini.”
“Tentang apa cerita komik itu?”
“Jadi komik ini bercerita tentang...”
Menurut Kichida, komik Yamaha dan Tujuh Montir bercerita tentang seorang anak yang bernama Yamaha, dia adalah seorang anak sekolah yang bercita-cita untuk menjadi seorang pembalap, dia juga memiliki sebuah motor kesayangannya yang selalu dia rawat dengan baik. Tiba-tiba suatu hari, dia bertemu dengan seseorang motir
perempuan yang bekerja di bengkel tempat biasa dia menyervis motornya itu. Karena suatu insiden, tanpa disengaja Yamaha mencium montir tersebut dan karena canggung dia pun langsung pergi dengan motornya. Ketika sedang di jalan, Yamaha merasakan sesuatu yang aneh dengan motornya. Tiba-tiba Yamaha bisa melakukan manuver-manuver yang dilakukan oleh pembalap profesional...
“Tunggu.. Tunggu.. Tunggu. Kenapa ceritanya aneh seperti itu? Dan juga kenapa montirnya harus seorang perempuan? Bukankah biasanya montir itu laki-laki.”
Aku masih tidak mengerti dengan komik yang Kichida baca.
“Tentu kalau montirnya itu laki-laki maka genrenya akan berubah menjadi bukan lagi romantis. Pokoknya kamu dengarkan dahulu sinopsisnya sampai habis.”
Ucap Kichida kepadaku dan melanjutkan sinopsis dari Yamaha dan Tujuh Montir.
“Dan juga kenapa setiap kali dia mau balapan, dia harus mencium montirnya untuk mendapatkan kekuatannya? Memangnya dia tidak bisa melakukannya sendiri dengan keahliannya?”
Aku masih tidak terima dengan cerita dari komik itu.
“Apa komik ini laris di Jepang sana?”
“Tentu saja, kalau tidak laris mana mungkin aku membacanya.”
“Aku tidak tau kenapa komik ini bisa laris.”
Kemudian aku pun melihat Natasha dan Riki yang datang ke kelas bersama guru yang mengajar untuk pelajaran selanjutnya.
***
Nikmatnya.
Saat ini, aku sedang berada di beranda masjid dan tiduran di sana setelah melaksanakan salat zuhur. Karena waktu masuk masih lama, aku berniat untuk tidur dulu di sana sampai bel berbunyi.
“Mar!”
Ketika aku membuka mataku, tepat di atas wajahku sudah ada Miyuki yang sedang menatapku.
“Ada apa?”
“Apa yang sedang kamu lakukan.”
“Tentu saja aku mau mencoba untuk tertidur.”
Aku pun mencoba untuk memejamkan mataku kembali.
“Apa aku boleh bergabung?”
“Tentu saja, lagi pula masjid ini milik umat.”
Miyuki pun duduk tepat disampingku, karena ada Miyuki di sampingku tentu saja aku tidak bisa tidur dengan tenang. Aku pun terpaksa terbangun dan kemudian aku pun duduk di sampingnya.
“Kenapa kau tidak kembali ke kelasmu?”
“Hanya di sini saja aku dapat lepas dari Takeshi.”
Aku pun membayangkan Takeshi yang sedang mengganggu Miyuki terus-menerus dan entah kenapa, aku menjadi sedikit prihatin kepadanya.
“Dimana Rina?”
“Dia masih salat, aku juga sebenarnya mau menunggunya juga di sini.”
“Oh begitu.”
__ADS_1
Aku pun melihat ke sekelilingku dan ada beberapa anak laki-laki yang memperhatikanku ketika mereka baru saja keluar dari masjid.
Aku sungguh benci suasana seperti ini, sepertinya aku akan kembali ke kelas saja dan tidur di sana.
“Apa kamu masih sering bermain bersama Misaki?”
“Tentu saja, hampir setiap malam aku bermain bersamanya.”
Karena Misaki selalu mengirimku pesan yang sangat banyak ketika malam hari untuk mengajakku bermain. Kalau aku mengabaikan pesan itu, dia langsung menelponku dan itu sangat mengganggu. Aku baru tau kalau memberikan nomor ponsel ke Misaki adalah sebuah kesalahan yang fatal.
“Kalau seandainya dia mengganggumu dalam bekerja, kamu bisa menolak permintaannya untuk bermain Mar.”
Tentu saja, dia sangat mengganggu sekali... Tidak mungkin aku berbicara seperti itu di depan kakaknya.
“Itu tidak masalah, tidak ada yang mengganggunya jika untuk bermain gim.”
Mendengar itu membuat Miyuki menjadi cemberut kepadaku.
“Kenapa kau cemberut seperti itu?”
“Kenapa giliran Misaki yang mengajakmu, kamu selalu terlihat luang waktunya. Sedangkan giliranku yang mengajak, kamu selalu terlihat terburu-buru.”
“Haha..”
Jadi itu alasannya dia cemberut seperti itu.
“Kamu tidak adil Mar.”
Buat apa aku harus adil kepada seseorang yang bukan siapa-siapaku? Bukankah itu hanya merepotkan saja.
“Tidak boleh berpacaran di lingkungan masjid.”
Rina yang baru saja selesai salat langsung menghampiri kami.
“Apa-apaan itu?”
Aku langsung berkomentar tentang apa yang baru saja Rina katakan.
“Lagian, tingkah kalian terlihat mesra sekali.”
Rina terlihat iri dengan apa yang baru saja aku lakukan dengan Miyuki. Padahal yang aku lakukan dengan Miyuki hanya berbicara saja tidak lebih.
“Sudahlah Rin, lebih baik kita langsung pergi ke kelas. Dah Amar!”
Miyuki langsung mengajak Rina untuk pergi ke kelas dan Rina pun akhirnya pergi bersama dengan Miyuki.
Akhirnya aku bisa berbaring lagi.
Aku pun melihat jam yang ada di tanganku dan melihat kalau waktu masuk masih ada sekitar sepuluh menit lagi. Setidaknya masih ada waktu untukku tidur sebentar.
Kemudian saat aku sedang berbaring dengan santainya, seseorang pun datang dan berbaring tepat disampingku. Aku pun sedikit membuka mataku dan melihat kalau di sampingku itu adalah Maul.
“Nikmatnya.”
“Benar sekali, lantai masjid memiliki kekuatan magis yang dapat membuat orang yang berada di atasnya menjadi cepat mengantuk.”
“Aku setuju denganmu.”
Kami pun kembali memejamkan mata kami sembari merasakan ubin masjid yang dingin dan sejuk. Udara di dalam masjid yang dingin pun sedikit demi sedikit berhembus mengenai kaki kami yang membuat kami makin nikmat berbaring di sana.
“Apa setelah pulang sekolah nanti kau kosong Mar?”
“Aku tidak tau, tapi aku paling pergi ke lab untuk bermain gim bersama Pak Febri.”
“Gim apa yang kalian mainkan?”
“Gim Dito2.”
“Aku juga bermain gim itu bersama dengan kalian.”
Sepertinya itu bukan hal yang buruk. Maul lumayan jago dalam bermain Dito2 untuk mengisi salah satu role yang ada di sana, dan kalau kami main berdua biasanya role itu diisi oleh orang yang tidak jago dan kerenanya kami sering sekali kalah dalam bertempur.
“Di lab, komputer yang terpasang gim itu hanya dua komputer saja. Kalau kau memang mau main bersama, nanti aku bicarakan terlebih dahulu bersama Pak Febri.”
“Benarkah itu! aku akan menunggu kabar baiknya darimu.”
Maul mengatakan itu dengan nada datar karena dia tidak bisa melepaskan sensasi kenyamanan yang sedang kami rasakan saat ini. Rasanya sayang sekali membuang sensasi ini walaupun hanya untuk satu detik.
“Bagaimana dengan bapakmu? Apa dia masih mengurusi kasus penculikan itu?”
“Aku sendiri tidak tau, tapi akhir-akhir ini dia sering sekali pulang larut malam.”
“Hmmm...”
Kalau Maul berkata seperti itu, aku rasa bapaknya Maul sedang melakukan salah satu dari apa yang pernah aku katakan kepada mereka. Jika memang itu yang dilakukan oleh bapaknya Maul, sepertinya aku tidak perlu khawatir tentang kasus ini. Karena kasus ini mungkin tidak akan bertambah parah. Tapi aku sendiri tidak menjamin apakah kasus ini dapat diselesaikan secara tuntas atau tidak. Soalnya kalau bapaknya Maul mau menyelesaikan kasus ini secara tuntas, dia harus mencari tahu dulu siapa saja polisi yang disogok oleh pelaku-pelaku itu. Atau pilihan lainnya, bapaknya Maul menyuruh seseorang yang tidak ada kaitannya dengan kepolisian untuk menyelesaikan hal ini.
Yah.. Tapi itu semua masih perkiraanku sana, aku tidak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana. Aku berharap kalau kasus ini sudah selesai tanpa perlu aku turun tangan.
-End Chapter 61-
__ADS_1