
Libur lebaran telah tiba, setelah bersekolah kurang lebih tiga minggu saat bulan ramadan. Akhirnya kami pun mendapatkan libur lebaran yang sangat aku nantikan. Saat ini aku sedang berada di rumahku seorang diri sambil menunggu waktu berbuka. Hari ini rencananya, Miyuki mengajak kami semua untuk berbuka bersama di rumahnya.
“Amar!”
Aku mendengar suara Riki yang memanggil dari depan rumahku. Aku pun langsung keluar untuk menyambutnya dan dia sudah berada di sana dengan membawa sepeda motornya.
“Ada apa Rik?”
“Ngabuburit yuk!”
Aku rasa tidak ada salahnya ngabuburit sambil menunggu waktu berbuka dari pada hanya menonton tv saja.
“Ayo!... Kita berdua saja? Kita tidak mengajak Maul?”
Tanyaku kepadanya.
“Maul sedang ada kerjaan yang sudah jatuh tempo sekarang. Katanya dia mau menyelesaikan secepatnya agar bisa ikut buka bersama di rumah Miyuki.”
“Oh begitu... Sebentar.”
Aku pun masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil kunci rumahku. Aku langsung mengunci pintu dan gerbang rumahku.
“Jadi mau kemana sekarang?”
“Kita pergi ke rumahnya Rina dulu ya Mar. Tadi sebelum berangkat ibuku menyuruhku untuk membeli soto di sana untuk makan malam nanti.”
“Ok, aku ikut saja.”
Kami pun langsung berangkat menuju ke rumahnya Rina. Karena jarak rumahku dengan rumahnya Rina tidak begitu jauh, bahkan dengan jalan kaki saja kami dapat sampai ke sana dengan cepatnya. Aku dan Riki pun sudah sampai di sana.
Dari luar, aku melihat banyak sekali motor yang terparkir di depan toko. Sepertinya pengunjung yang datang ke tokonya saat ini sangat ramai sekali. Memang tempat makan di saat bulan ramadan akan ramai di saat jam-jam berbuka karena banyak sekali orang yang mengadakan makan bersama entah itu dengan keluarga ataupun dengan teman-teman mereka.
Aku juga melihat Rina yang sedang sibuk membantu orang tuanya melayani pelanggan yang ada. Aku dan Riki pun langsung menghampirinya yang berada di meja kasir.
“Hai kalian berdua!”
Rina langsung menyapa kami ketika kami datang menemuinya.
“Tokomu ramai sekali ya.”
Aku melihat ke para pengunjung yang berada di sana.
“Alhamdulillah, karena puasa jadinya banyak sekali orang yang datang ke sini untuk mengadakan buka bersama.”
“Apa nanti kau ikut buka bersama di rumah Miyuki Rin?”
Riki bertanya kepada Rina.
“Tentu saja aku ikut. Setelah membantu orang tuaku, aku akan pergi ke sana... Jadi apa pesanan kalian?”
“Aku tidak ingin membeli, aku hanya mengantar Riki saja.”
“Aku pesan dua bungkus soto untuk dimakan di rumah, jangan lupa pakai ceker.”
Riki pun memberikan pesanannya kepada Rina.
“Dua bungkus soto dengan ceker... Semuanya jadi dua puluh ribu.”
Rina mencatat pesanan Riki di sebuah kertas yang dia pegang.
“Ini uangnya.”
Riki memberikan Rina sejumlah uang untuk membayar makanan yang dia pesan.
“Uangnya pas ya... Kalian berdua silahkan duduk dulu selagi menunggu penanannya aku siapkan.”
Rina pun menyediakan dua buah kursi kepada kami. Kami langsung duduk di kursi yang sudah Rina sediakan, dan Rina pun pergi untuk mempersiapkan pesanan dari Riki. Ketika kami sedang menunggu pesanannya Riki siap, keluarlah laki-laki dewasa dari rumah Rina, dia adalah bapaknya Rina.
“Eh ada Amar sama Riki!”
Bapaknya Rina langsung menyapa kami dengan ramahnya.
“Selamat sore om!”
Kami pun membalas sapaannya dengan senyuman.
Aku sebenarnya sudah mengenal bapaknya Rina saat duduk di bangku sekolah dasar karena aku sering membeli soto di sini, namun hubungan kami semakin dekat semenjak bapaknya Rina tau kalau aku adalah teman sekelas anaknya ketika SMP.
“Kalian berdua juga sekolah di SMK Sawah Besar juga ya? Satu sekolah lagi berarti sama Rina ya?”
“Iya om!”
Jawab kami dengan kompaknya.
“Waktu itu om juga kaget ketika Rina bilang mau mencoba ujian masuk di SMK Sawah Besar, padahal dia sudah mendapatkan rekomendasi di SMA Cibubur. Karena om liat dia sepertinya memang mau masuk ke sekolah itu. Ya sudah om biarkan saja.”
Bapaknya Rina langsung bercerita tentang hal itu.
“Bagaimana tanggapan om waktu Rina memutuskan untuk masuk ke SMK Sawah Besar? Apa om tidak marah karena Rina melepaskan rekomendasinya seperti itu?”
Karena aku merasa tidak enak dengan kedua orang tuanya Rina ketika mengetahui kalau anaknya mau masuk ke SMK Sawah Besar hanya untuk meruntuhkan idealismeku saja.
“Om tidak marah kepada Rina, begitu juga tante... Selama Rina menikmati kehidupan sekolahnya dan belajar dengan sungguh-sungguh, mau sekolah dimanapun itu tidak menjadi masalah. Hanya saja kami sangat menyayangkan karena dia menolak rekomendasinya, padahal banyak sekali orang-orang di sekitar rumah sini yang ingin masuk ke SMA Cibubur tapi tidak diterima.”
Aku hanya mengangguk kecil mendengarkan hal itu.
“Ngomong-ngomong... Bagaimana Rina ketika di sekolah? Apakah dia sudah mempunyai pacar?”
Bapaknya Rina sedikit mendekatkan dirinya dengan kami berdua.
Aku tidak bisa menjawab hal itu... Aku menyerahkan hal itu kepadamu Rik.
Riki pun menampar punggung belakangku dengan sangat keras.
__ADS_1
“AW! Apa yang kau lakukan Rik?”
“Kenapa om bertanya itu?”
Riki bertanya balik kepada bapaknya Rina.
“Awalnya om dan tante mengira kalau Rina masuk ke SMK Sawah Besar karena pacarnya berada di sana. Soalnya om pernah tidak sengaja melihat layar ponsel milik Rina secara sekilas. Di sana om melihat di tampilan layarnya ada foto dia bersama dengan seorang lelaki. Tapi karena om hanya melihatnya sekilas saja, jadi om tidak begitu tau siapa lelaki itu.”
Setelah mendengar penjelasan dari bapaknya Rina, Riki hanya melihat ke arahku dan tersenyum meledekku. Hal itu sungguh membuatku sangat penasaran. Kalau Rina memang masih suka denganku, seharusnya lelaki yang ada foto itu adalah fotoku. Tapi kapan aku berfoto bersama dengannya berdua saja.
“Rina memang memiliki seseorang yang dia sukai om, tapi cintanya itu tidak terbalas.”
Ucap Riki kepada bapaknya Rina.
“Apa!? Ada lelaki yang berani mendekati anak om!... Dan lagi dia mengabaikan perasaannya! Sepertinya dia belum pernah merasakan panasnya kuah soto saat sedang mendidih.”
Aku pun sedikit merinding ketika mendengar itu. Apa yang akan terjadi padaku kalau dia mengetahui aku pernah menolak anaknya, aku akan disiram dengan menggunakan kuah soto yang sedang mendidih?
“Benar itu om, padahal dulu Rina menjadi incaran semua murid di SMP.”
Riki semakin menjadi-jadi.
“Rina memanglah anak yang baik dan juga cantik. Dia suka sekali menolong orang jika ada yang sedang kesusahan. Aku tidak rela jika ada lelaki yang mendekatinya.”
Aku pun melihat Riki yang kompak sekali dengan bapaknya Rina. Memang Riki adalah tipe orang yang dapat berbaur dengan siapa saja. Hanya satu orang yang tidak bisa dia dekati... Yaitu orang-orang pintar. Menurut Riki, orang-orang pintar itu terlalu membosankan dan pembicaraannya selalu dibawa ke arah yang serius. Jadi dia
tidak suka berbicara dengannya. Namun kenyataannya, Rina dan Miyuki juga termasuk ke dalam orang-orang pintar yang ingin dia hindari untuk berintraksi.
“Ini Rik pesanannya sudah siap.”
Rina pun memberikan Riki satu kantung plastik yang berisi pesanan miliknya.
“Karena Rina sudah datang, om tinggal dulu ya.”
Bapaknya Rina pun kembali ke tempatnya untuk membuatkan pesanan para pelanggan.
“Apa yang kalian bicarakan? Aku melihatnya sepertinya kalian bersenang-senang tadi.”
Rina penasaran dengan apa yang kami bicarakan.
“Hanya pembicaraan ringan saja.”
Ucap Riki kepadanya. Karena jawaban Riki kurang memuaskannya, Rina pun melihat ke arahku.
“Begitulah.”
“Maaf Mba, saya mau pesan!”
Seseorang dari salah satu meja melambaikan tangan dan memanggil Rina.
“Maaf ya Mar, Rik... Aku harus pergi lagi.”
“Tidak apa-apa, lagi pula kita mau pergi juga. Bukan begitu Mar?”
“Iya.”
Setelah mendapatkan pesanan dari ibunya Riki. Kami pun langsung pergi ke rumahnya Riki untuk mengantarkan pesanan itu. Saat sampai di rumahnya, aku pun disuruh Riki untuk menunggu di motor saja. Aku pun menunggu Riki memberikan pesanan ibunya itu di motor yang terparkir tepat di depan rumahnya.
Saat aku sedang menunggu Riki kembali, keluarlah adik laki-laki Riki dari dalam rumah.
“Yo Bang Amar!”
Dia pun langsung menyapaku dengan akrab.
“Yo Ram! Mau kemana sore-sore begini?”
Dia bernama Ramadhani Ishak, aku sering memanggilnya Rama. Dia masih berada di kelas lima SD. Kalau sedang
main ke rumahnya Riki, aku sering bermain gim bersama dengannya.
“Aku mau ke masjid Bang, abang sendiri mau kemana?”
“Aku mau pergi ke rumah temanku untuk berbuka bersama.”
“Aku juga mau berbuka bersama bersama teman-temanku di Masjid. Kata Pak Ustadz hari ini ada nasi kebuli.”
Nasi kebuli!? Sepertinya enak! Ahhh... Aku jadi ingin buka di masjid.
“Oh begitu.”
“Ya udah ya Bang, aku mau pergi dulu. Teman-temanku sudah menunggu.”
Rama pun pergi ke masjid dengan menggunakan sepedanya.
“Ayo Mar!”
Riki pun juga sudah selesai dengan urusannya di dalam rumah dan kami pun langsung pergi untuk ngabuburit sebelum pergi ke rumahnya Miyuki.
Ngabuburit adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang untuk menunggu waktu berbuka. Biasanya mereka melakukan berbagai macam hal, entah itu hanya jalan-jalan saja, mencari takjil gratis, pergi ke taman, bercengkrama dengan teman-teman, mengunjungi bazar makanan yang biasanya diadakan saat bulan ramadan, dan masih banyak lagi. Selain hal itu ada juga yang melakukan ngabuburit dengan kegiataan keagamaan seperti
tadarus atau mendengarkan ceramah di masjid.
Kalau ngabuburit yang biasa aku dan Riki lakukan hanyalah berkeliling sekitar rumah sampai waktu berbuka sudah tiba.
“Kau tidak ingin belajar motor Mar?”
Riki bertanya kepadaku.
“Aku bisa mengendarai motor.”
“Benarkah! Aku jarang sekali melihatmu mengendarai motor seorang diri.”
“Mau bagaimana lagi, aku tidak pernah pergi ke tempat yang mengharuskan aku menggunakan motor. Paling kalau ingin pergi ke pasar baru aku menggunakan motor.”
__ADS_1
“Oh... Lebaran nanti kau mudik Mar?”
“Iya, saat hari kedua lebaran.”
“Mau mudik ke mana?”
“Kalau kata bapakku kemarin, aku akan mudik ke Tasikmalaya.”
Tasikmalaya adalah kampung dari bapakku. Di sana aku masih ada kakek dan nenek dari bapak yang masih hidup. Kami sering mengunjungi mereka ketika libur lebaran seperti ini. Karena bapakku adalah anak satu-satunya, jadi mau tidak mau dia harus mengunjungi orang tuanya. Selain itu, biasanya ketika akhir tahun nanti kami baru pergi ke kampung halaman dari ibuku yang berada di daerah Yogyakarta.
“Berarti lebaran kau masih di Jakarta?”
“Iya.”
“Nanti aku mampir ke rumahmu saat lebaran.”
“Ok, nanti aku juga mampir ke rumahmu setelahnya.”
Karena biasanya orang tuanya Riki memberikanku uang THR saat itu. Tapi apakah tahun ini aku akan mendapatkan uang THR yang banyak seperti tahun kemarin. Mengingat aku sudah masuk SMK dan itungannya aku sudah dewasa sekarang. Yaa.. Walaupun secara harfiah aku masih remaja.
“Kau sendiri tidak pulang kampung Rik?”
“Kampungku ada di Jakarta, paling aku hanya akan pergi ke rumah pamanku yang berada di Jakarta Selatan untuk berkumpul dengan anggota keluarga lainnya.”
Oh iya... Aku jadi mengingat sesuatu.
“Oi Rik, kau mau ikut pesantren kilat tidak?”
“Apaan tuh?”
“Kemarin saat ekskul terakhir, mentorku di ekskul rohis mengajak aku dan Rian untuk datang ke pesantren kilat yang diadakan olehnya di masjid dekat rumahnya. Dan rumahnya juga berada di dekat sekolah. Rian sudah pasti ikut acara itu, dan mentorku menyuruhku untuk mengajak temannya jika ada yang mau ikut... Apa kau mau ikut?”
“Kapan acaranya?”
“Hari ke dua puluh delapan sampai dua sembilan ramadan.”
“Hanya satu hari saja?”
“Namanya juga pesantren kilat.”
“Aku ikut Mar kalau begitu, kebetulan aku tidak ada acara apa-apa di rumahku saat itu. Lagi pula acaranya cuman satu hari ini.”
Riki pun menerima ajakan dariku. Berarti tinggal Maul saja yang belum aku ajak.
“Aku juga ingin mengajak Maul ke acara itu, apa dia bisa ya?”
“Kalau itu sebaiknya kau tanyakan langsung kepada Maul, biasanya dia mudik kalau lebaran.”
“Kalau begitu nanti akan aku tanyakan.”
Saat kami sedang berjalan-jalan, kami pun melihat kerumunan orang yang berada di pinggir jalan. Karena sedikit tertarik dengan hal itu, kami pun memutuskan untuk menepi dan melihat apa yang sedang terjadi di sana.
Aku pun melihat kalau ada satu orang perempuan yang sedang duduk di sebuah kursi dengan kaki kanannya yang penuh dengan darah di bagian sekitar betisnya. Dan juga di dekat perempuan tersebut ada dua orang yang sedang cekcok karena sesuatu. Sepertinya sebentar lagi mereka akan baku hantam.
“Apa yang baru saja terjadi Mas?”
Riki bertanya kepada seseorang yang berada di sampingnya.
“Tadi ada kecelakaan... Ada orang habis keluar dari gang itu, terus tidak sengaja menabrak pengendara lain yang melintas tepat di depannya. Kemudian orang yang ditabrak itu kehilangan keseimbangan dan membuatnya terjatuh dari motornya dengan seseorang yang sedang diboncenginya. Kalau si pengendaranya mah sehat-sehat saja, tapi yang diboncengi itu yang terluka.”
Orang itu pun menjelaskannya kepada kami.
“Oh begitu ya Mas.”
“Kalo naek motor pake mata WOi!”
“Lah gua ga sengaja!!”
//Saya sengaja menggunakan bahasa seperti ini agar lebih meresapi.
Dan kedua orang yang cekcok itu hampir saja saling baku hantam. Untung saja ada orang-orang yang memisahkan mereka berdua.
“Hahahahaha... Menarik sekali.”
“Kenapa kau tertawa Mar?”
“Hal seperti inilah yang membuatku senang tinggal di Indonesia, setiap kelakuan masyarakatnya tidak pernah membuatku bosan... Hal seperti ini adalah masalah yang sepele dan seperti yang dikatakan oleh mas-mas tadi kalau yang menabrak juga tidak sengaja. Di selesaikan dengan kepala dingin seharusnya sudah cukup, apalagi saat ini sedang bulan puasa. Lebih baik kalau kita menahan emosi kita agar puasa kita tidak sia-sia.”
Aku pun memperhatikan dua buah motor yang berada di dekat mereka.
“Dari mana kau tau kalau yang menabrak tidak sengaja? Bukankah yang mengetahui hal itu hanya orang yang melakukannya saja.”
Ucap Riki kepadaku.
“Kalau melihat dari luka yang dimiliki oleh perempuan itu, sepertinya itu berasal karena bergesekan dengan aspal, bukan karena ditabrak. Kalau di tabrak seharusnya perempuan itu terpental atau setidaknya mengalami patah tulang dibagian yang tertabrak. Dari situlah aku mengira kalau orang yang menabrak itu mungkin tidak sengajak... Lagi pula kalau dilihat dari kerusakan yang dimiliki dari kedua motornya, tidak ada yang parah sama sekali, hanya ada bekas baretan saja.”
“Hebat sekali kau Mar, disaat seperti ini kau dapat memiliki asumsi seperti itu.”
Apanya yang hebat... Hal seperti ini bukanlah sesuatu yang sulit hingga perlu dipikirkan dengan pemikiran yang mendalam. Kita hanya perlu mendengarkan informasi dari orang-orang dan melihat fakta yang terjadi dilapangan. Hal itu sudah cukup untuk mendapatkan kesilmpulan seperti itu.
“Memangnya kau tidak mendengar perdebatan kedua orang itu. Orang yang menabraknya juga mengatakan kalau dia tidak sengaja, berarti memang kalau dia tidak sengaja. Lagi pula dia memberanikan diri untuk berhenti dan meminta maaf, itu sudah membuktikan kalau dia memang tidak sengaja melakukan hal itu. Kalau seandainya dia memang sengaja, menurutku luka yang akan diderita oleh perempuan itu akan lebih parah dibandingkan hal ini.”
“Benar juga ya..”
“Sudahlah, lebih baik sekarang kita ke rumahnya Miyuki.”
“Memangnya sekarang sudah jam berapa?”
“Sudah jam lima lewat dikit.”
Aku pun menunjukkan jam tanganku kepada Riki.
Dan kami berdua pun langsung menuju ke rumahnya Miyuki untuk buka bersama.
__ADS_1
-End Chapter 52-