Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 55 : Pulangnya Sang Pengganggu.


__ADS_3

Saat ini aku sedang berada di depan rumahku dan memandang ke arah rumahku dengan perasaan berat untuk memasuki rumah itu. Seperti yang kalian tau, hari ini adikku sudah pulang ke rumah dan mungkin saat ini dia sudah berada di dalam rumah bersama keluargaku. Aku dapat memastikannya dari mobil milik bapakku yang sudah terparkir di garasi.


Setelah menarik nafas yang cukup panjang dan membuat diriku menjadi tenang, aku pun mulai memasuki rumah secara perlahan.


“Assalamualaikum.”


Aku membuka pintu rumah secara perlahan agar tidak menimbulkan suara yang dapat menarik perhatian. Sebisa mungkin aku mau langsung pergi ke kamar untuk bersiap-siap pergi ke masjid untuk salat tarawih.


Apakah aku melakukan hal ini karena adikku sudah pulang ke rumah? Tentu saja salah satu alasannya karena itu.


Mungkin kalian berpikir kalau aku terlalu berlebihan dalam melakukan ini. Biar kuberitahu sesuatu kepada kalian, adikku ini sunggu merepotkan dibandingkan dengan Miyuki. Ketika dia berada di rumah, dia selalu datang ke kamarku untuk bermain di sana, padahal dia memiliki kamar sendiri. Selain itu dia selalu meminjam barang barangku dan tidak tau kapan dikembalikannya. Sebenarnya aku tidak masalah dengan hal itu, hanya saja aku tidak bisa meladeninya ketika dia mulai bertanya sesuatu kepadaku.


Adikku ini memang pintar di sekolahnya. Berbeda denganku, dia selalu mendapatkan peringkat di sekolah. Walaupun tidak selamanya berada di peringkat satu, tapi dia selalu berada dalam tiga besar. Dulu ibuku sering membanding-bandingkanku dengannya ketika aku malas untuk belajar, tapi itu tidak pernah mempan kepadaku. Karena dari sekolah dasar aku memiliki sebuah prinsip kalau nilai bukan segalanya.


Sebenarnya itu hanya alasanku agar terlihat keren, hahaha...


“Waalaikummussalam.”


Ah, aku sepertinya harus pergi ke ruang tamu.


Jawab kedua orang tuaku yang berasal dari arah ruang tamu. Aku pun pergi ke ruang tamu untuk menemui mereka, karena tidak sopan jika aku langsung pergi ke kamar tanpa menyapa mereka di saat mereka sudah mengetahui kalau aku sudah berada di rumah.


Ketika aku berada di ruang tamu, aku melihat adikku sedang duduk di antara kedua orang tuaku.


“Kamu sudah pulang Kak, bagaimana kabarmu?”


Dia menyapaku dengan senyum menghiasi wajahnya.


“Aku baik-baik saja, kau sendiri?”


“Seperti yang kamu lihat, aku baik.”


Nama adikku adalah Nadira Humairah, usianya hanya berbeda satu tahun dibawahku. Memang dia terlihat seperti malaikat dan sikapnya lucu seperti anak kecil, namun dibalik semua itu, dia memiliki pemikiran yang licik sama sepertiku.


Mungkin ada beberapa orang yang berkata kalau adik akan cenderung mengikuti kakaknya. Ya, mungkin salahku juga karena dulu pernah mengajari dia bagaimana caranya mengusili teman-temannya.


“Habis dari mana kamu Mar?”


Ibuku yang melihatku datang langsung berdiri dan memberikan teh kepadaku.


“Aku habis berbuka di rumah temanku.”


“Dari rumah Riki?”


“Begitulah.”


Tidak mungkin aku mengatakan kepada ibuku kalau aku baru saja dari rumah Miyuki. Pertama, ibuku tidak tau siapa itu Miyuki. Dan kedua, ibuku suka heboh sendiri jika aku pergi ke rumah seorang perempuan. Dulu ibuku pernah heboh ketika aku pulang sekolah pergi ke rumahnya Rina terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah, padahal saat itu aku hanya memberikan tugas hari itu kepada Rina, karena aku di suruh oleh wali kelasku.


“Aku mau ke kamar dulu ya, aku mau bersiap-siap untuk salat tarawih.”


Aku pun pergi ke kamarku untuk mengganti bajuku dengan baju koko dan menggunakan sarung. Karena sebentar


lagi azan Isya akan berkumandang, aku pun segera untuk pergi ke sana, karena jeda waktu di masjidku antara azan dan ikamah tidaklah terlalu lama, apalagi saat bulan ramadan seperti ini.


“Kak tunggu!”


Ketika aku hendak meninggalkan rumah, Nadira menyuruhku untuk menunggunya. Sepertinya dia juga mau salat tarawih di masjid juga. Padahal menurutku tidak masalah jika dia salatnya dirumah, apalagi dia baru saja tiba di Jakarta.


“Maaf menunggu lama.”


“Ayo berangkat.”


“Hum!”


Akhirnya aku pun berangkat bersama Nadira ke masjid. Selama di perjalanan, aku berusaha mempercepat langkahku karena aku tau kalau ketika aku berdua bersama dengannya seperti ini, dia pasti akan bertanya kepadaku pertanyaan yang macam-macam.


“Bagaimana sekolahmu Kak?”


Tuh kan.


“Tidak ada hal menarik yang dapat aku ceritakan kepadamu.”


“Tidak mungkin, pasti kamu ada satu atau dua hal yang bisa kamu ceritakan kan Kak.”


“Memang tidak ada hal lain yang dapat aku ceritakan.”


“Kalau begitu ekskul apa yang kamu masuki Kak?”


Ini dia, pertanyaan kedua.


“Aku masuk ke ekskul rohis.”


“Rohis!?”


Nadira terkejut sekali setelah mendengar hal itu dariku.


Apa orang sepertiku ini tidak pantas untuk masuk ke ekskul yang berbau agama seperti itu? Mengapa semua orang terkejut saat aku mengatakan kalau aku masuk ke dalam ekskul rohis? Aku rasa itu bukanlah hal yang mengejutkan dan terbilang biasa.


“Aku kira kamu akan masuk ke ekskul sastra.”


“Kenapa sastra?”


“Tentu saja, orang yang malas sepertimu tidak mungkin masuk ke ekskul yang banyak mengeluarkan tenaga.”


Lihat, dia cukup menyebalkan kan.


“Apa kau lupa siapa yang dulu memasakan makanan saat kau berada di rumah?”


“Hehehe... Tapi kenapa kamu memilih masuk ke rohis Kak?”


“Aku hanya sedikit tertarik saja.”


“Baguslah seperti itu, aku cukup senang mendengarnya. Lalu bagaimana dengan Kak Rina? Dimana dia sekolah sekarang?”


Mengapa dari sekian banyak pertanyaan yang bisa kau tanyakan kepadaku, kau malah memilih yang itu.


“Rina masuk di sekolah yang sama sepertiku, tapi dia berada di jurusan yang berbeda.”


“Bagaimana hubunganmu dengan Kak Rina? Apa sudah ada perubahan?”


“Peduli apa kau bertanya seperti itu?”


“Bukannya Kak Rina suka denganmu.”


Heh!? Dari mana dia tau hal itu, aku rasa aku tidak pernah menceritakan apa-apa soal Rina kepadanya. Apa ibuku yang menceritakannya? Tapi sepertinya tidak mungkin.


“Sejak kapan kau tau hal itu?”


“Aku sudah mengetahui hal ini saat pertama kali bertemu dengan Kak Rina. Kakak tau sendiri kalau dulu aku sering bermain bersamanya di masjid. Ketika kami sedang berbicara tentangmu, wajahnya selalu memerah dan dia menjadi gugup, bahkan dia sering salah tingkah saat itu.”

__ADS_1


“Heee... Jadi kau sudah tau ya.”


Ketika kami sedang berada di pertengahan jalan, kami bertemu dengan Riki yang sepertinya dia sedang menuju ke masjid juga. Dengan menggunakan baju koko dan sarung yang dia selempangkan di bahunya, dia berjalan menghampiri kami.


“Hai Nadira, bagaimana kabarnya?”


“Alhamdulillah baik Kak, Kak Riki sendiri bagaimana?”


“Alhamdulillah aku baik juga.”


Hei, kenapa kau senyam-senyum seperti itu Rik? Apa kau mau aku laporkan hal ini kepada Kirana?


Kami pun langsung bergegas ke masjid dan melaksanakan salat isya dilanjutkan dengan salat tarawih.


Setelah melaksanakan ibadah salat, aku langsung pergi ke rumah dan menuju ke kamarku untuk beristirahat


sekaligus bermain dengan ponselku. Aku pun menggantungkan baju koko dan sarungku di hanger yang berada di belakang pintu. Kemudian aku langsung berbaring di atas kasurku dan mulai bermain dengan ponselku.


Ketika aku membuka ponselku, aku mendapatkan sebuah pesan masuk yang berasal dari Misaki. Dia sepertinya ingin mengajakku untuk bermain bersama lagi. Baiklah kalau begitu, lagipula bermain gim dengan teman itu sunggu menyenangkan dibandingkan bermain sendiri.


Tok... Tok... Tok...


Aku mendengar seseorang yang mengetuk pintu kamarku.


“Siapa?”


Aku masih terfokus dengan gim yang sedang aku mainkan.


“Ini aku Kak, apakah aku boleh masuk?”


Sudah aku duga kalau itu Nadira.


“Buat apa aku menjawabnya. Walaupun aku menjawab tidak, kau akan tetap masuk ke dalam kamarku kan?”


“Hehehe... Permisi.”


Nadira pun membuka pintu kamarku dan mulai berjalan menghampiriku. Dia juga sempat melihat beberapa piala dan medali yang berada di kamarku. Memang aku menyimpan medali dan piala di dalam kamarku, karena ibuku suka terlalu berlebihan dalam membanggakanku kepada orang lain. Aku tidak begitu menyukai hal itu. Makanya


aku hanya memberikan satu medaliku kepada ibuku untuk dia pajang di fotoku yang ada di ruang tamu.


“Apa kamu tidak mau melanjutkan karirmu di dunia basket Kak? Bukankah kamu cukup berbakat dalam hal itu. Aku saja sangat suka ketika melihatmu bermain basket, kamu terlihat keren sekali.”


Aku sedikit mengalihkan perhatianku kepada Nadira yang masih fokus memperhatikan piala-pialaku.


“Aku sudah selesai dalam hal itu, kalau untuk sekedar olahraga saja aku masih melakukannya, tapi untuk berkompetisi sepertinya tidak.”


“Apa kamu masih belum melupakan teman masa kecilmu itu?”


Mendengar itu membuatku sedikit terdiam dan karena hal itu juga karakter yang ada di dalam gimku menjadi mati.


“Apa tujuanmu pergi ke sini hanya untuk menanyakan hal itu? Kalau hanya itu saja yang ingin kau bicarakan lebih baik kau keluar saja, aku sedang tidak mau membicarakan tentang itu.”


Aku pun berusaha kembali memfokuskan perhatianku kepada gim yang sedang aku mainkan. Tapi entah kenapa ketika Nadira berkata seperti itu, aku sedikit emosi mendengarnya. Aku juga bingung kenapa aku menjadi emosi seperti itu, padahal aku tidak menemukan alasan yang jelas untuk itu.


Nadira pun langsung duduk di kasurku dan terdiam, sepertinya dia tau kalau aku marah kepadanya.


“Maafkan aku, sepertinya aku terlalu lelah hingga terbawa emosi tadi.”


“Tidak Kak, kamu tidak salah. Aku yang salah karena menanyakan hal itu kepadamu.”


Aku tidak enak jika memarahinya seperti tadi. Walaupun aku menganggap Nadira adalah sesosok yang merepotkan dan menyebalkan seperti Miyuki, tapi aku sama sekali tidak pernah memarahinya atau membentaknya karena sesuatu. Ya memang pada dasarnya aku tidak pernah marah. Tetapi aku merasa tidak tega ketika melihat adikku yang terdiam setelah aku memarahinya.


“Pilih saja sekolah yang kau inginkan. Aku rasa ibu dan bapak juga tidak masalah dengan hal itu.”


“Apa aku ***-“


“Hah?”


Nadira pun terdiam kembali. Aku pun sedikit menghela nafas melihat itu. Aku pun meletakkan ponselku dan duduk tepat di sampingnya.


“Apa ada masalah?”


“Aku bingung ingin melanjutkan ke sekolah mana? Di satu sisi, aku tidak mempunyai sekolah yang ingin aku tuju.”


“Apa bapak dan ibu berkata sesuatu kepadamu?”


“Tidak, mereka memberikan keputusan sepenuhnya kepadaku.”


Seperti yang aku duga dari mereka, mereka tidak pernah mau mengambil repot tentang hal ini. Sebenarnya dari sikap tidak mau repotnya mereka itu membuat kami menjadi mandiri untuk menentukan jalan kami nantinya. Mereka juga tidak pernah memperdebatkan hal ini, selama keputusan yang kami ambil itu baik maka mereka tidak akan mempermasalahkannya.


“Apa ada minat yang sedang kau jalani?”


“Tidak ada.”


Memangnya apa yang kau lakukan selama di pesantren. Jangan bilang kau di sana menjadi orang yang anti sosial.


“Kalau begitu aku juga tidak bisa memberimu masukan.”


“Sekarang aku yang akan bertanya kepada kakak. Kenapa kakak bisa masuk ke jurusan multimedia? Padahal sebelumnya aku tidak pernah melihat kakak melakukan sesuatu yang berkaitan tentang multimedia.


“Rekomendasi dari sekolahku merekomendasikan sekolah dan jurusan itu kepadaku, jadi aku mengambilnya saja agar tidak perlu belajar lagi untuk ujian masuk.”


“Entah kenapa alasan itu tidak membantuku sama sekali.”


Nadira terlihat sedikit kecewa dengan jawaban yang aku berikan. Lagipula memang awalnya aku tidak tau kalau akan masuk ke jurusan multimedia. Memang nilai seni dan komputerku sedikit tinggi, tapi aku tidak mengira kalau hal itu dapat membuatku masuk ke jurusan multimedia.


“Karena sekarang masih ada waktu satu tahun lagi untuk menentukan, lebih baik kau memikirkannya saja terlebih dahulu. Tidak usah terburu-buru.”


“Baiklah.”


Sepertinya dia sudah selesai dengan pertanyaannya, dan sekarang dia mungkin akan balik ke kamarnya.


“Ngomong-ngomong apakah kakak belum berpacaran juga dengan Kak Rina?”


Oh shit! Ternyata dia masih bertanya lagi.


“Anak pesantren berbicara tentang pacaran. Tidak boleh, pacaran itu dilarang dalam agama. Perbuatan zina itu!”


Sepertinya ilmu yang aku dapat dari Ustadz Adi berguna juga di saat seperti itu.


“Aku baru merasakan kalau sangat menyebalkan jika diceramahi olehmu.”


“Itulah yang aku rasakan saat kau mulai berceramah.”


Kalian tau sendiri karena Nadira itu belajar di pesantren yang kebanyakan pelajaran di sana adalah berkaitan tentang agama, dia selalu menceramahiku ketika aku berbuat salah sedikit. Dan saat seperti itu, aku sama sekali tidak bisa membantahnya atau membalikkan ucapannya itu.


“Hanya saja aku berpikir kalau sayang saja jika kakak mencampakan Kak Rina seperti itu. Kak Rina adalah perempuan yang cantik dan juga baik, dia pasti perempuan idaman siapapun.”


Begitulah Rina, dia adalah idaman lelaki siapapun dan karena itu sudah banyak lelaki yang menyukainya mengatakan kalau aku bodoh karena mencampakkan cintanya. Huh, menyebalkan.

__ADS_1


“Rina sudah pernah menyatakan perasaannya kepadaku setelah Ujian Nasional.”


“Benarkah? Dan bagaimana jawaban kakak saat itu.”


Terkejut dan penasaran sekarang bercampur di dalam pikirannya Nadira saat ini. Aku sangat tau hal itu dari matanya yang saat ini sedang menatapku. Saat melihat matanya, entah kenapa aku teringat dengan Miyuki yang sama-sama menyebalkan jika sedang penasaran seperti ini.


“Aku menolaknya.”


“Hah!? Kakak menolaknya. Kenapa kakak menolaknya?”


Nadira sangat tidak percaya dengan jawabanku saat itu.


“Aku tidak mau terikat dengan sesuatu dan tidak mau berurusan dengan hal yang tidak logis setelah itu.


“Kenapa aku bisa memiliki kakak sebodoh ini.”


Nadira mulai menghela nafas yang sangat panjang sekali dan melihatku dengan tatapan lemas tidak bersemangat.


“Apa urusanmu tentang hal ini lagian. Kau sendiri bagaimana? Apa tidak ada di pensatrenmu yang menyatakan perasaannya kepadamu?”


“Apa kakak lupa kalau di pesantrenku gedung dan asrama untuk murid laki-laki dan perempuannya terpisah sangat jauh sekali, bahkan berada di kota yang berbeda.”


“Aku baru mengetahui hal ini.”


Karena aku tidak pernah ikut orang tuaku ketika mengantar Nadira ke pondok, jadinya aku tidak tau kalau asrama dan gedung antara murid laki-laki dan perempuan terpisah seperti itu. Kalau terpisahnya aku memang sudah mengetahuinya, tapi yang aku tidak menyangka hingga beda kota seperti itu.


“Kenapa kakakku bisa sebodoh ini sekarang. Padahal aku senang ketika tau orang seperti Kak Rina menyukai kakak.”


“Sepertinya kau sangat suka sekali dengan Rina ya... Apa dia pernah memberikanmu sesuatu hingga kau seperti itu?”


“Menurutku, Kak Rina adalah sesosok kakak yang Nadira banggakan. Dia baik, cantik, dan sangat bisa diandalkan.”


“Maaf saja kalau aku tidak baik dan tidak bisa diandalkan.”


“Lalu bagaimana hubunganmu setelah kamu menolak pernyataannya?”


“Hubungan kami masih biasa saja, bahkan dia masuk ke SMK Sawah Besar karnaku juga.”


“Dari mana rasa percaya dirimu itu muncul.”


Nadira memandangku dengan tatapan jijiknya.


“Memang itulah yang terjadi.”


“Kak Rina ternyata lebih keras kepala dibandingkan yang aku kira, tapi aku suka itu. Aku senang melihat perjuangan cintanya kepada kakakku yang bodoh ini.”


“Hari ini kau senang sekali mengataiku bodoh.”


“Memang kamu bodoh.”


Huh, ternyata sifat menyebalkannya masih belum hilang juga.


“Aku ingin sekali melihatmu seperti dulu lagi Kak.”


Aku pun mengelus kepalanya.


“Kau tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak perlu seperti itu.”


“Kau benar, sepertinya apa yang aku lakukan sangatlah bodoh.”


Nadira pun berdiri dari kasurku dan beranjak ke meja belajarku. Aku juga mulai bermain gimku kembali, ketika aku melihat ponselku sudah banyak sekali pesan masuk dari Misaki yang mengajakku bermain.


“Kakak...”


“Hmm.”


“Apa maksudnya ini?”


Aku pun sedikit mengalihkan perhatianku dari ponselku dan melihat Nadira yang sedang memegang surat cinta yang waktu itu diberikan Yoshida kepadaku. Aku masih menyimpannya karena tidak enak jika membuangnya.


Kenapa dia bisa menemukannya? Padahal aku sendiri saja sudah lupa dimana surat itu aku simpan.


“Dengarkan aku Nadira, itu tidak seperti yang kau kira. Itu hany-.”


“Aku tidak peduli apapun itu yang ingin aku tanyakan sekarang, apakah nama ini asli?”


“Iya, itu nama aslinya.”


“Dari mana kakak dapat berkenalan dengan orang Jepang?”


Sepertinya pertanyaan kali ini akan lebih merepotkan dibandingkan sebelumnya.


“Begini-gini koneksiku juga luas juga.”


“Sepertinya akhir-akhir ini kamu sedikit terkenal juga ya.”


Aku pun mengambil surat itu dari tangan Nadira dan menyimpannya lagi di lemari kamarku. Setidaknya hanya Nadira yang mengetahuinya, aku tidak tau bagaimana jika ibuku yang menemukannya. Itu akan jauh lebih merepotkan untuk menjelaskannya.


“Apa kamu juga menolak perempuan itu?”


“Dia sudah pergi sebelum aku menjawabnya.”


“Aku tidak percaya itu.”


Terserahlah, aku sudah lelah untuk menjelaskannya kepada manusia yang satu ini.


“Aku harap kamu jangan seperti ini terus kak, suatu saat bisa saja hal itu berbalik kepadamu.”


“Tenang saja, jika seandainya itu yang terjadi. Berarti memang itulah takdirku.”


“Tidak ada yang mengetahui bagaimana takdir kita masing-masing.”


“Iya.. Iya...”


“Amar! Nadira ada di dalam! Kalian berdua jangan tidur malam-malam, nanti susah dibangunkan untuk sahur.”


Ibuku pun menegur kami dari luar kamarku. Sepertinya kami berdua terlalu berisik hingga menggangu mereka.


“Terima kasih atas sarannya kak.”


“Yo.”


Aku pun kembali memainkan gimku.


“AMAR TIDUR!”


“Iya!”


- End Chapter 55-

__ADS_1


__ADS_2