
Sebentar lagi di sekolahku akan diadakan pentas seni atau sering disingkat dengan sebutan pensi, semua murid yang ada di sekolah sangat menunggu-nunggu pensi tersebut karena banyak sekali keseruan yang akan terjadi di sana. Tapi itu adalah masa muda, aku tidak tau apakah aku bisa menerima itu dengan mudah atau tidak. Karena aku tidak begitu terbiasa dengan sesuatu yang berkaitan dengan masa muda, padahal aku sendiri masih muda.
Memang aneh!
Saat ini aku sedang menuju ke lab untuk bertemu dengan Pak Febri, katanya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Sepertinya aku sudah tau kalau apa yang ingin dia bicarakan denganku, tentu saja tentang pensi. Karena pensi ini adalah salah satu kesempatan kita untuk mempromosikan aplikasi kita kepada orang-orang. Di saat banyak sekali orang yang datang untuk melihat pertunjukkan yang ditampilkan, mereka juga akan mengunjungi stan-stan yang ada di pensi tersebut.
“Permisi.”
Aku pun membuka pintu lab dan menemukan Pak Febri sedang berada di komputer tempat biasa dia bermain gim. Aku juga tau kalau saat ini dia sedang bermain gim dari gerakan tanggannya.
“Woah! Hebat juga.”
Aku pun melihat permainan Pak Febri.
“Kau sudah datang Mar.”
Pak Febri terus melanjutkan permainannya, karena di gim yang dia mainkan tidak bisa dihentikan secara sepihak saja.
“Apa yang ingin bapak bicarakan?”
“Sebentar lagi akan ada acara pensi di SMK Sawah Besar dan aku ingin menyarankan kepadamu untuk membuka stan di acara tersebut untuk memasarkan aplikasi Comic Universe.”
Sesuai dugaanku sebelumnya.
“Lalu bagaimana caranya agar aku dapat mendirikan stan di sana? Setahuku kalau mendaftarkan stan atas nama perusahaan seperti ini masuknya ke dalam sponsor.”
“Hehe.. Aku sudah menelpon Hari untuk mendaftarkan aplikasinya sebagai sponsor di pensi SMK Sawah Besar tadi, dan Hari juga sudah menyetujui hal itu. Kau tinggal buat saja proposalnya untuk acara itu dan menyerahkannya kepada OSIS, aku rasa mereka akan menerimanya.”
Membuat proposal ya.... Aku belum pernah membuat sesuatu yang bersifat administratif seperti itu.
“Baiklah.”
Mungkin aku akan menyuruh Maul saja melakukannya, aku yakin dia mau melakukannya tanpa perlu aku suruh.
Kemudian aku pun langsung mendatangi Maul yang saat ini berada di kelasnya. Aku pun melambaikan tangan dari luar kelas agar dia menghampiriku. Aku tidak mau masuk ke kelas orang lain karena menurutku saat aku masuk ke sana semua pandangan akan tertuju kepadaku, dan aku tidak begitu menyukainya.
Maul pun melihatku dan dia langsung menghampiriku.
“Ada apa Mar?”
“Tadi aku baru saja berbicara dengan Pak Febri masalah pensi, dia pun meminta kita untuk mendirikan stan di sana.”
“Itu ide bagus, aku juga sudah tau kalau Pak Febri pasti akan menyarankanmu tentang hal ini.”
“Tapi aku tidak tau bagaimana caranya membuat proposal untuk mengajukan sponsor. Apa kau bisa membuatkannya?”
“Serahkan saja itu kepadaku.”
Bagus, dia mau mengerjakannya.
“Aku berterima kasih atas hal itu.”
“Kapan kau menyerahkan proposal itu ke OSIS?”
“Aku rasa besok.”
“Ok, nanti sepulang sekolah aku akan memberikan proposalnya kepadamu agar bisa langsung ditandatangani oleh Pak Hari.”
Seperti yang aku harapkan dari Maul, dia bekerja sangat cepat sekali.
“OK, aku mengandalkanmu sobat.”
Setelah membicarakan itu pun aku kembali ke kelasku untuk beristirahat. Namun ketika aku sampai di sana, aku melihat Miyuki yang sedang duduk di kursiku dan berbicara dengan Kichida di sana.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Aku pun menghampiri Miyuki yang sedang asik berbicara di sana.
“Aku ingin berbicara sebentar dengan Kichida, memangnya kenapa Mar?”
“Apa kau perlu duduk di kursiku juga?”
“Aku hanya melihat kursimu saja yang kosong saat ini.”
Sepertinya lebih baik aku pergi ke kantin saja, setauku Riki masih berada di sana bersama anak kelas lainnya.
“Mau kemana kau Mar?”
“Aku mau ke kantin.”
***
Baru kali ini aku pergi ke kantin untuk pertama kalinya.
Aku pun melihat masih banyak murid-murid yang makan di sana, padahal ini sudah siang tapi masih saja ada yang makan di sini.
Sedikit informasi, di sekolahku terdapat dua kali jam istirahat. Pertama adalah jam istirahat yang biasa aku gunakan untuk menghabiskan bekal, jam istirahat pertama itu terjadi saat jam setengah sembilan sampai jam sembilan. Dan yang kedua adalah jam istirahat yang digunakan untuk para murid dan guru melaksanakan salat zuhur, dan itu terjadi saat jam dua belas kurang lima belas sampai jam setengah satu.
“Yo Amar!”
Aku pun melihat Irfan yang menyapaku dan dia sedang berkumpul bersama dengan teman-temannya.
“Siapa dia Fan?”
“Dia Amar, teman satu timku waktu di klub basket dulu.”
“Oh aku tau dia, dia anak baru yang kemampuan basketnya sanagt hebat sekali sewaktu MOS.”
Aku pun melihat dengan teliti orang yang mengatakan hal itu, dan ternyata dia adalah wasit pertandingan ketika pertandingan basket saat MOS.
Kemudian teman-temannya Irfan pun menghujaniku pertanyaan yang sangat banyak hingga aku bingung harus yang mana dulu yang aku jawab, tapi rata-rata dari mereka banyak yang membicarakan tentang Miyuki dan Rina. Mereka ternyata cukup terkenal juga dikalangan kakak kelas.
“Apa kau sedang bertengkar dengan pacarmu Mar?”
“Pacar? Aku tidak memiliki hal semacam itu.”
“Kau jangan berbohong, semua orang di sekolah ini tau kalau murid Jepang dari jurusan farmasi yang cantik itu adalah pacarmu.”
“Hah!?”
Siapa orang yang menyebarkan hal semacam itu?
“Hubunganku dengannya hanya sebatas teman saja tidak lebih.”
__ADS_1
“Kau jangan menutup-nutupi hal itu Mar, katakan saja sejujurnya.”
“Buat apa juga aku menutup-nutupi hal yang tidak benar sama sekali.”
“Ngomong-ngomong bagaimana kabar mereka semua? Apa kalian masih bermain basket bersama?”
Irfan pun mengalihkan pembicaraanya. Aku bersyukur karena Irfan bukanlah orang yang suka membahas tentang hal itu.
“Mereka baik-baik saja, kami masih sering bermain basket bersama setiap akhir pekan.”
“Aku ingin sekali bermain bersama kalian lagi.”
“Lalu bagaimana seleksi untuk O2SNnya?”
“Kau tidak perlu khawatir masalah itu, sekolah ini memiliki banyak pemain yang hebat-hebat. Bahkan kami sudah memenangkan semua pertandingannya dan tinggal menunggu berangkat ke Makassar.”
“Aku turut senang mendengar itu.”
Riki juga sebentar lagi mau pergi ke Makassar untuk mengikuti pertandingan O2SN itu.
“Padahal aku berharap kalau kau ikut dalam ekskul basket.”
“Tidak ada aku saja tim basket ini sudah kuat, apalagi jika aku ikut bergabung.”
“Tentu saja kita akan menjadi tim basket yang tidak terkalahkan.”
Dia terlalu berlebih-lebihan. Kalau kita membicarakan tentang O2SN, pasti teman-temanku yang dulu bergabung di klub basket lamaku juga ikut dalam pertandingan itu karena usia kami yang tidak jauh berbeda dan juga mereka semua pada mengikuti klub basket di sekolahnya masing-masing.
“Kau terlalu berlebihan dalam memujiku Fan.”
“Kau masih menjadi shooting guard terhebat yang pernah aku temui, belum ada lagi.”
“Apa dia sehebat itu Fan?”
Tanya salah seorang temannya.
“Sebenarnya kemampuan dia dalam basket hampir sama dengan kebanyakan orang, dan mungkin ada yang kemampuannya mengalahkannya, tapi caranya dia mengambil keputusan dan strategi yang dia miliki sangatlah unik. Itulah yang membuat dia kuat.”
“Sudah aku bilang kalau aku tidak sehebat itu.”
“Heee... Jadi kau berkata kalau kemampuanmu sudah tumpul?”
Kak Irfan langsung berdiri dan menghampiriku.
“Kalau itu tentu saja tidak.”
“Bagaimana kalau kita bertanding sebentar? Kebetulan jam masuknya masih lama.”
“Boleh saja, aku juga sudah lama tidak melawanmu.”
Akhirnya kami pun langsung pergi ke gedung olahraga untuk bertanding.
Sekarang aku berani menerima tantangan Irfan karena sekarang sudah lewat bulan ramadan dan aku memiliki tenaga yang cukup untuk melawannya.
“Apa yang akan kita pertaruhkan?”
Kak Irfan mulai mendribel bola basketnya.
“Bagaimana kalau makanan di kantin?”
“Kenapa soto?”
“Hanya itu saja makanan yang terpikirkan olehku.”
“Ok.”
Sepertinya sifat bodohnya itu masih ada di dalam dirinya. Aku kira setelah dia masuk SMK, sifat bodohnya itu sudah menghilang.
Peraturan dari pertandingan ini mudah. Kita menggunakan satu ring saja, dan siapa saja yang dapat memasukan bola ke dalam ring sebanyak tiga kali, dialah pemenangnya.
Aku pun bertanding basket dengan sangat sengit, dia selalu bisa mengimbangi gerakanku kemanapun aku berlari.
Awalnya hanya beberapa orang saja yang menonton pertandingan itu, tapi seiring berjalannya waktu semakin ramai juga orang yang menonton pertandingan tersebut.
Dan akhirnya pertandingan yang sengit itu pun berakhir dengan hasil seri.
“Lemparanmu masih saja hebat seperti biasanya.”
Irfan pun duduk di tengah lapangan untuk memulihkan tenaganya.
“Drive yang kau lakukan juga sangat mengerikan dan tidak terhentikan.”
Aku mencoba untuk mengatur nafasku agar normal kembali.
“Apa kita seri?”
“Begitulah.”
Huh! Padahal saat menerima pertandingan ini akutidak begitu yakin kalau dapat mengalahkan Irfan karena dulu aku selalu kalah darinya, sepertinya kemampuanku juga sudah berkembang.
Aku pun berniat untuk kembali ke kelasku.
“Hebat sekali kau!”
Banyak sekali orang yang memujiku ketika aku berjalan keluar dari gedung olahraga.
“Seperti biasa kau selalu menarik perhatian orang-orang ya.”
Riki menghampiriku dari kerumunan penonton itu.
“Apa kau melihatnya?”
“Tentu saja, aku sudah melihatnya sejak pertandingannya dimulai.”
“Aku tidak tau kalau akan ramai seperti ini.”
Aku pun melihat ke arah kerumunan yang ada di sana, para kerumunan itu pun akhirnya menghampiri Irfan yang masih duduk di tengah lapangan.
Padahal saat kami memasuki gedung olahraga hanya ada beberapa murid saja yang berada di sana.
“Hebat sekali kau bisa menahan Kak Irfan seri seperti itu.”
“Itu hanya kebetulan saja.”
__ADS_1
Baru beberapa langkah aku berjalan, aku bertemu dengan Yoshida dan Takeshi yang sepertinya mereka juga menonton pertandingan itu.
“Kamu hebat sekali Mar, aku tadi melihat kamu dari pinggir lapangan.”
“Terima kasih!”
“Aku benci mengakuinya tapi pemainanmu sangat hebat sekali. Apa ketika melawanku kau sengaja menahan diri?”
“Kenapa?”
“Aku merasa kalau permainanmu ketika melawanku sangat berbeda ketika melawan Kak Irfan tadi.”
Tentu saja karena saat aku melawanku itu hanya pertandingan shooting saja, sedangkan dengan Irfan aku melakukan pertandingan satu lawan satu. Saat melawan Takeshi juga saat aku sedang berpuasan, jadinya aku tidak bisa mengeluarkan semua tenagaku untuk itu.
“Aku hanya lebih fokus saja.”
“Kalau begitu kau meremehkanku Mar!”
Huh! Aku tidak tau apa yang diinginkan oleh orang yang satu ini. Apa saja yang aku katakan kepadanya selalu salah saja.
“Suatu hari nanti aku pasti akan mengalahkanmu!”
Takeshi menunjukku dan kemudian dia pergi meninggalkanku. Sejujurnya aku ingin sekali mengakhiri hal ini dengan Takeshi, sangat merepotkan jika Takeshi seperti ini terus menerus.
Ketika aku sampai di kelas, ternyata Miyuki masih berada di sana dan dia juga masih berbicara dengan Kichida.
“Sampai kapan kau mau di sini terus?”
Tegurku untuk kedua kalinya di hari ini kepadanya.
“Tentu saja sampai bel berbunyi.”
Padahal aku mengatakan itu supaya dia cepat pergi dari bangkuku dan aku bisa duduk di sana, tapi sepertinya hal itu tidak dapat dimengerti oleh Miyuki.
“Kenapa kamu sangat berkeringat sekali Mar, Memangnya apa yang baru saja kamu lakukan?”
“Aku habis bertanding dengan Irfan di gedung olahraga tadi.”
“Benarkah? Ah kenapa aku tidak menonton pertandingan itu!”
Miyuki merasa kesal sekali telah meninggalkan sesuatu yang sangat berharga menurutnya.
“Lalu hasilnya?”
“Hasilnya seri.”
Ucap Riki yang sudah mempersiapkan buku pelajaran selanjutnya di atas mejanya.
“Hebat sekali kau bisa bertanding seimbang dengan kapten basket dari sekolah ini yang terkenal hebat itu.”
Kichida juga memuji hal itu kepadaku.
“Memang dari awal Amar sama hebatnya dengan Kak Irfan, aku sudah mengetahuinya itu.”
Walaupun aku yang sedang dipuji di sana tapi Riki yang merasa bangga dengan hal itu.
Aku pun melihat Kichida dan Natasha yang berada di sana, aku melihat kalau sepertinya mereka sudah terlihat dekat. Aku rasa Natasha sudah mengatakan semuanya kepada Kichida.
“Kalian terlihat lebih dekat sekarang.”
“Begitulah, terima kasih Amar!”
Kichida berterima kasih kepadaku.
“Aku tidak melakukan apapun.”
“Itulah dia! kata-kata yang sering dikeluarkan Amar ketika membantu orang.”
Miyuki pun menujukku dan membuatku tersipu malu karena sifatku yang sudah tertebak oleh MIyuki. Aku langsung duduk di kursi kosong yang berada di belakangku.
Teng... Teng... Teng... Teng....
“Kalau begitu aku balik dulu ke kelas ya. Sampai bertemu saat pulang sekolah.”
Miyuki pun pergi meninggalkan kelas dan aku duduk di kursiku.
Miyuki kedatangan dan kepergiannya sama sekali seperti badai, dia dapat membuat keributan saat datang dan membuat keheningan ketika pergi.
“Apa pensi nanti kau akan mendirikan stan?”
Riki bertanya kepadaku.
“Iya, apa kau mau membantu?”
“Tentu saja, aku akan membantumu hingga acara pensi itu berlangsung.”
Riki pun melihat ke arahku dan aku mengetahui kalau dia menginginkan sesuatu.
“Aku akan membayarmu.”
“Yeah! Kau selalu tau apa yang sedang aku inginkan Mar, aku senang itu.”
Sepertinya Pak Hari juga akan memberikan kami uang bonus untuk hal itu juga. Tapi kira-kira siapa yang nanti akan menjaga stannya ya? Aku tidak bisa mempromosikan sesuatu di depan orang-orang, apalagi di depan orang banyak. Kalau saja aku bisa menyuruh Miyuki dan Rina berjaga di stan itu, mungkin dapat menarik perhatian dari orang-orang yang mengunjungi stan nantinya.
Sepertinya itu ide yang tidak buruk juga.
“Aku ingin sekali mengisi acara di panggung itu.”
Riki meletakkan kepalanya di permukaan meja.
“Kenapa kau tidak lakukan saja? Bukankah kalau ingin melakukan itu tinggal bilang ke OSIS saja.”
“Anggotanya Mar? Aku tidak memiliki anggota untuk membuat sebuah band.”
“Kau buat saja band-mu sendiri.”
“Itu ide bagus, aku akan mencari anggota-anggotanya.”
Riki pun melihat ke arahku dan aku tau apa yang dia inginkan kali ini.
“Aku tidak akan bergabung di dalam band itu.”
“Sayang sekali!”
__ADS_1
-End Chapter 84-