
Bulan ramadan adalah bulan ke sembilan dalam kalender hijriah. Pada bulan ini seluru umat Islam diwajibkan melaksanakan ibadah puasa dari matahari terbit hingga matahari terbenam. Bulan ini adalah bulan yang paling aku sukai dari pada semua bulan. Karena di bulan ini banyak sekali hal menyenangkan yang dapat kalian lakukan.
Seperti melakukan perang sarung setelah selesai salat tarawih, bermain petasan, ngabuburit, dan banyak hal yang dapat dilakukan lainnya. Selain itu, biasanya di bulan ramadan ini, jam masuk sekolah dimundurkan dan jam pulangnya dimajukan, sekolah juga akan diadakan setengah hari saja, ditambah kita mendapatkan libur lebaran di satu minggu sebelum lebaran dan satu minggu setelahnya.
Saat ini, aku sedang menunggu bis untuk menuju ke sekolah bersama dengan Maul dan Riki. Walaupun jam masuk di sekolahku dimundurkan yang tadinya jam setengah tujuh menjadi jam tujuh, tapi karena jarak rumahku dengan sekolah sangatlah jauh, aku tetap harus berangkat pagi untuk sampai ke sekolah tepat waktu.
“Kau terlihat mengantuk sekali Mar?”
Riki yang sedang berdiri tepat di sampingku bertanya kepadaku.
“Dari sahur sampai sekarang aku belum tidur lagi, jadinya itulah kenapa sekarang aku sangat mengantuk.”
Aku pun menguap dan ditutup dengan tangan tanganku.
“Aku juga belum tidur lagi setelah sahur, tapi aku tidak merasa mengantuk sama sekali.”
Riki menunjukan kepadaku keadaannya dia yang biasa-biasa saja.
“Itu karena kau monster.”
“Mungkin semalam kau tidur terlalu malam Mar, jadinya sekarang kau masih mengantuk.”
Ucap Maul yang masih sibuk memainkan ponselnya.
“Bisa saja, kemarin aku keasikan bermain gimku karena sedang ada event ramadan. Lalu pas aku melihat jam yang ada di kamarku, ternyata sudah jam satu malam.”
“Kau harus mengurangi kebiasaan itu Mar. Kalau bukan bulan ramadan mungkin tidak masalah kau bermain gim hingga larut. Tapi karena saat ini ada sahur, jadinya kita harus bangun lebih cepat dari biasanya... Kalau seperti ini terus, nanti kau bisa kehilangan konsentrasi saat belajar di kelas.”
Riki pun menasihatiku.
“Iya iya... Tidak akan aku ulangi lagi... Mungkin.”
Kemudian saat kami masih menunggu bis kami, Rina pun datang menghampiri kami.
“Selamat pagi semuanya.”
Rina menyapa kepada kami semua.
“Pagi!”
“Pagi Rina, tumben sekali kamu berada di sini? Memangnya bapakmu sudah tidak mengantarmu lagi?”
Riki bertanya kepada Rina karena biasanya Rina selalu pergi ke sekolah dengan diantar oleh bapaknya. Baru saat pulang sekolah, dia baru pergi bersama dengan kami.
“Aku mau mencoba untuk pergi ke sekolah dengan menggunakan bis, aku tidak mau merepotkan ayahku terus karena harus mengantarku. Lagi pula akhir-akhir ini toko sedang ramai-ramainya... Aku yakin dia juga sibuk mengurus urusan toko.”
Keluarga Rina menjalankan usaha rumah makan soto ayam lamongan di samping rumahnya. Soto ayam lamongan yang dijual keluarganya Rina sudah terkenal enak di daerah sekitar rumahku. Bahkan ibuku sering menyuruhku untuk membelinya jika dia sedang malas memasak.
“Apa kalian juga sering berangkat bersama seperti ini?”
Rina pun bertanya balik kepada kami.
“Kalau aku dengan Amar sudah dari hari pertama masuk ke sekolah sudah berangkat bersama, sedangkan Maul baru akhir-akhir ini.”
Riki menjawab pertanyaan dari Rina.
“Sepertinya aku juga akan berangkat bersama kalian juga.”
“Woah itu bagus sekali, semakin banyak orang akan semakin menyenangkan.”
Riki terlihat senang sekali karena bertambah lagi orangnya.
“Apakah aku perlu mengajak Miyuki juga?”
Saat Rina mengucapkan hal itu, semuanya pun terdiam dan melihat ke arahku. Aku pun langsung melihat balik ke arah mereka dengan heran.
“Ada apa dengan kalian semua?”
“...Tidak apa-apa, biasanya kalau ada sesuatu yang menyangkut soal Miyuki, kau yang langsung cepat untuk menjawabnya.”
Riki heran dengan sikapku yang tidak bereaksi dengan pertanyaan dari Rina.
“Apa kamu baik-baik saja Ar?”
Rina malah khawatir dengan keadaanku.
“Saat ini aku sedang tidak ingin berbicara sama sekali. Aku ingin menghemat energiku. Walaupun sekarang sekolah hanya setengah hari, tetap saja perjalanan pulang dari sekolah ke rumah sangat melelahkan. Belum kalau di sekolah nanti ada sesuatu yang merepotkan terjadi.”
“Jadi begitu, aku kira kamu sedang tidak enak badan... Oh iya Ar, kenapa sekarang kamu sering sekali pergi ke lab multimedia? Apa kamu sedang ada urusan di sana?”
Rina pun bertanya kepadaku tentang hal itu. Memang setelah aku mendapatkan pekerjaan dari Pak Febri, setelah pulang sekolah jika tidak ada ekskul, aku selalu pergi ke lab untuk bertemu dengan Pak Febri. Entah itu hanya untuk mengerjakan tugas, mendapatkan pekerjaan, ataupun bermain gim.
“Kadang-kadang wali kelasku sering memberikanku pekerjaan, dan aku mendapatkan uang dari pekerjaan yang aku kerjakan itu. Makanya karena itu aku jadi sering pergi ke lab untuk mengerjakan semua pekerjaannya. Karena aku tidak punya laptop ataupun komputer di rumahku, jadi aku hanya bisa mengerjakan tugasnya di sekolah saja.”
“Mengapa kau tidak meminta orang tuamu untuk membelikan laptop saja Mar? Bukankah sekarang kau sangat membutuhkannya untuk mengerjakan pekerjaanmu.”
“Tidak seperti itu Mul, sudah ku bilangkan kalau aku tidak mau meminta uang lebih kepada orang tuaku. Lagi pula aku sudah mengumpulkan uang untuk membeli laptop nantinya.”
“Memangnya berapa banyak uang yang sudah terkumpul?”
Maul bertanya lagi kepadaku.
“Mungkin sekitar empat juta.”
Riki dan Rina pun terkejut mendengar jumlah uang yang aku punya. Kalau Maul terlihat biasa saja, sepertinya dia sudah sering mendapatkan pekerjaan yang bayarannya lebih tinggi dibandingkan dengan bayaranku.
“Kenapa duitmu bisa sebanyak itu Mar?! Apakah bayaran dari pekerjaan yang diberikan oleh Pak Febri memang sebesar itu?”
__ADS_1
Riki terlihat terkejut sekali dengan uang yang aku punya.
“Semua uang itu bukan hanya uang hasil dariku bekerja saja. Namun uang jajanku bulan kemarin dan sekarang juga ada di sana. Semenjak masuk SMK, aku sama sekali tidak menggunakan uang jajanku karena selalu membawa bekal dan uang yang aku gunakan untuk biaya perjalananku ke sekolah diberikan lagi oleh orang tuaku... Selain itu biasanya yang yang aku punya, aku habiskan untuk bermain di warnet. Tapi karena sekarang aku sudah dapat bermain gim secara gratis di lab, jadi aku sudah tidak pernah bermain di warnet lagi.”
Aku pun menjelaskannya secara panjang lebar kepada mereka semua.
“Enak sekali kau Mar bisa memiliki uang sebanyak itu.”
Riki merasa iri dengan apa yang aku miliki.
“Lebih baik sekarang kau fokus saja dengan ekskulmu. Nanti kalau jadwal ekskulmu sudah tidak padat seperti sekarang ini, aku akan membagikan pekerjaannya kepadamu.”
“Benarkah itu Mar?!”
“Tentu saja, lagi pula pekerjaan yang diberikan Pak Febri sangatlah banyak. Aku saja sering menolak beberapa darinya.”
“Terima kasih Mar, kau memang sahabat terbaikku.”
RIki terlihat senang sekali setelah aku janjikan hal itu.
“Andai saja guru produktifku ada yang seperti itu juga.”
Ternyata bukan hanya Riki yang iri dengan pekerjaanku, Maul pun juga.
“Memangnya uang yang kau dapatkan dari pekerjaanmu sekarang ini masih kurang?”
“Begitulah, karena aku sedang mau membuat drone yang pernah aku katakan itu. Aku jadi membutuhkan uang lebih sekarang... Asal kau tau, harga drone itu tidaklah murah Mar.”
“Drone seperti apa yang ingin dibuat oleh Maul?”
Rina yang tidak mengetahui apa-apa langsung bertanya kepada kami.
“Jadi drone yang ingin dibuat oleh Maul itu...”
Dan Riki pun menjelaskan kepada Rina tentang hal itu.
“Mungkin kau kurang akrab dengan guru produktifmu Mul. Kalau seandainya kau akrab, mungkin ada satu atau dua orang yang menawarkan pekerjaan kepadamu. Aku dengar dari Pak Febri kalau banyak guru produktif RPL yang memiliki pekerjaan sampingan juga, bahkan pekerjaan yang aku kerjakan beberapa di antaranya ada yang berasal dari mereka.”
“Bisa jadi Mar, mungkin aku akan mencoba untuk mengakrabkan diri sepertimu juga.”
“Itu baru bagus.”
“Semangatlah Ar... Tapi jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku mendengar dari ibumu kalau kau akhir-akhir ini sering bergadang kan. Itu tidak baik untuk kesehatanmu Ar.”
Rina pun menyemangati dan memberikan nasihat kepadaku.
“IBUKU?!”
Aku terkejut ketika mendengar kalau ibuku mengatakan sesuatu kepada Rina.
Tunggu tunggu tunggu... Sejak kapan ibuku bisa akrab dengan ibunya Rina. Aku memang tau kalau rumahku dan rumahnya Rina masih berada di RT yang sama. Tapi aku tidak menyangka kalau ibuku bisa akrab dengan ibunya. Karena setauku selama sabtu dan minggu ibuku selalu berada di rumah untuk beristirahat setelah bekerja seminggu penuh.
“Orang tua kalian saja sudah akrab seperti itu, kenapa kalian tidak jadian saja sana. Aku yakin kalian berdua sudah mendapat restu dari orang tua masing-masing.”
Maul pun meledek kami setelah mendengar hal itu.
Wajah Rina pun memerah setelah diledek oleh Maul seperti itu.
“Kau ini Mul! Berhentilah berbicara yang tidak-tidak.”
“Aku lupa menanyakan hal ini Ar... Apakah ada sesuatu diantara kamu dengan Nakashima?”
Rina pun kembali seperti semua dan bertanya kepadaku.
“Nakashima?”
Hmmm... Sepertinya aku pernah mendengar itu.
“Maksudmu Takeshi?”
Ucap Riki dengan cepat setelah mendengar nama itu.
“Ohh, jadi Takeshi... Aku rasa tidak ada, memangnya kenapa?”
“Setelah acara LDKS, Takeshi masih saja menganggap kalau kamulah orang yang melakukan pencurian itu. Tapi karena kamu tidak diskors sama sekali, jadi dia mengira kalau kamu melakukan sesuatu dengan para OSIS. Karena Takeshi tau kalau kau adalah orang yang licik.”
Huh! Aku tidak percaya harus berurusan dengan orang itu lagi. Padahal aku sudah menjalani kehidupan yang damai di sini.
“Sepertinya dia masih belum bisa memaafkanmu tentang kejadian waktu itu Mar. Hmmm... Kalau diingat-ingat sudah lama sekali kejadian itu.”
Riki pun memejamkan matanya dan kepalanya sedikit mengarah ke langit. Sepertinya ada kenangan tersendiri untuk Riki dari kejadian itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian berdua? Aku tau kalau hubungan kalian tidak begitu baik ketika berada di Kepulauan Seribu, tapi aku tidak mengira kalau sampai separah ini.”
Rina masih bertanya tentang hal itu.
“Aku malas untuk menceritakannya kepadamu, lebih baik kau tanya Miyuki nanti.”
Karena aku mau melupakan kejadian itu secepatnya.
Bis yang kami tunggu pun akhirnya tiba dan kami langsung berangkat menuju ke sekolah.
***
“Mar, kau mau ikut aku ke DPR?”
Riki yang sudah membereskan mejanya bersiap-siap untuk pergi. DPR yang baru saja Riki sebutkan adalah singkatan dari Dibawah Pohon Rindang. Kami menamai tempat yang biasa kami tempati ketika istirahat dengan nama itu. Karena letaknya ada di dekat pohon dan pohonnya rindang, jadi nama itu sangat cocok. Ngomong-ngomong yang memberikan nama itu adalah Riki.
__ADS_1
“Tidak, aku ingin tidur saja.”
“Memangnya kau tidak membawa bekal Mar?”
Kichida juga bersiap-siap ingin pergi ke DPR.
“Kan sekarang sudah bulan ramadan Kichida, jadi kami berdua sedang berpuasa.”
Riki memberitahu Kichida tentang hal itu.
“Maaf, aku lupa soal itu.”
“Kau tidak perlu meminta maaf.”
Aku pun mulai melipat jaketku untuk aku jadikan bantal.
“Kau ingin makan dimana Kichida?”
“Aku ingin makan bersama dengan Yoshida di tempat biasa. Katanya Miyuki dan Rina juga mau datang ke sana walaupun tidak membawa bekal.”
“Kalau begitu aku ikut denganmu, sepertinya Maul dan Rian juga akan pergi ke sana ketika istirahat.”
Riki pun akhirnya pergi bersama Kichida ke tempat biasa. Semenjak acara LDKS, Rian jadi sering berkumpul dengan kami di DPR. Aku tidak tau apa memang dia tujuannya berkumpul dengan kami. Tapi sepertinya mendekati Rina termasuk ke dalam salah satu tujuannya itu.
Aku pun melihat ke sekeliling kelasku dan ternyata seluruh anak laki-laki berada di belakang kelas. karena penasaran apa yang mereka lakukan, aku pun pergi ke sana untuk melihatnya. Ketika sampai di sana, aku melihat kalau mereka sedang tidur beramai-ramai dengan menggunakan spanduk besar sebagai alasnya.
“Siapa yang membawa spanduk ini?”
Aku bertanya kepada Akbar yang masih terbangun di sana.
“Aku membawanya... Karena kemarin aku mendengar kalau yang lainnya ingin tidur ketika istirahat, jadi aku sengaja membawa spanduk ke sekolah. Kebetulan aku ada satu yang besar di rumah.”
“Hebat sekali kau Bar, idemu sangat jenius sekali.”
Aku pun memuji Akbar dengan pemikiran yang dia punya.
“Kalau kau mau, kau bisa tidur di sini juga Mar. Kebetulan masih banyak ruang yang tersisa.”
Akbar pun menawarkannya kepadaku.
“Baiklah kalau begitu, aku sangat berterima kasih sekali.”
Aku pun mengambil jaketku yang berada di meja dan kemudian langsung mencari ruang untukku tidur.
Uch... Nikmat sekali. Inikah yang dinamakan sekolah adalah rumah kedua. Kalau seperti ini, aku rasa bergadang bukan menjadi sebuah masalah lagi.
Tidak lama setelah aku tertidur, tiba-tiba teman-teman sekelasku yang ikut tidur juga terbangun. Tentu hal itu membuatku terbangun juga. Awalnya aku mengira kalau ada guru atau kesiswaan yang masuk ke dalam kelas. Setelah kesadaranku terkumpul, ternyata yang ada di sana hanyalah Miyuki dan juga Rina.
Jadi cuman mereka berdua, lebih baik aku tidur kembali saja. Kebetulan jam masuknya masih lama.
“Mar, Jangan tidur lagi!”
Miyuki mencegahku saat aku ingin meletakkan kepalaku di bantal yang sudah aku siapkan.
“Ada apa kalian berdua ke sini?”
“Riki memanggilmu untuk segera datang ke tempat biasa.”
Ucap Rina kepadaku.
“Hah!? Bukankah aku sudah bilang kepadanya kalau aku mengantuk... Sudahlah, aku ingin tidur kembali.”
“Ar....”
Rina pun tidak berkata apa-apa dan hanya melihatku saja. Dari situ aku tau kalau ada sesautu yang tidak beres sedang terjadi. Akhirnya mau tidak mau aku pun ikut dengan mereka menuju ke DPR. Selama di perjalanan aku bertanya kepada Rina tentang apa yang terjadi, namun dia hanya berkata untuk menunggunya hingga sampai di sana.
Ketika sampai di sana, aku melihat Takeshi dan teman-temannya sedang berdebat dengan Maul dan juga Riki. Aku juga melihat Rian yang sepertinya kewalahan untuk memisahkan mereka berdua.
“Akhirnya kau datang juga Mar!”
Takeshi langsung menyambutku ketika aku baru datang di sana.
“Ada apa? Kau baru saja mengganggu tidur siangku.”
Aku pun merasakan pusing di kepalaku yang mulai timbul. Aku yakin ini karena aku terkejut ketika terbangun tadi.
“Berhentilah basa-basi Mar, aku masih tidak terima dengan yang kau lakukan ketika LDKS. Aku yakin kalau kau yang melakukan pencurian itu kan?”
Oh jadi masih masalah tentang hal itu.
“Apa kau ada buktinya? Kalau tidak ada, aku mau kembali ke kelas untuk tidur lagi. Mumpung waktu istirahat masih lama.”
“Bukti?... Kau pasti bersekongkol dengan para OSIS kan! Aku sudah menyelidikinya dan tidak ada satu muridpun yang diskors sejak acara LDKS itu selesai.”
“Hebat sekali kau sampai menyelidikinya.”
Aku pun bertepuk tangan kepada Takeshi.
“Lalu... Apa yang ingin kau lakukan? Apakah mengungkit masalah ini ke semua murid? Aku yakin tidak ada murid yang mau mendengarkan tentang hal itu. Apa lagi seluruh barang yang dicuri sudah dikembalikan.”
“Aku ingin menantangmu untuk bermain basket. Aku tidak terima atas kekalahanku waktu masa orientasi itu. Aku mau menantangmu main satu lawan satu.”
Takeshi pun mengajukan tantangan kepadaku.
“Benarkah! Kalau kalah jangan menangis ya...”
-End Chapter 50-
__ADS_1