
Aku bersama dengan Pak hari dan juga Pak Febri pergi ke kantor lamanya Pak Febri yang sekarang sudah tidak terpakai lagi. Kantornya berada di kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Ketika sampai di sana, aku pun langsung ditujukan ke sebuah gedung yang tidak terlalu tinggi, mungkin kalau aku menghitung dari luar melalui jumlah kaca yang ada, gedung ini memiliki sepuluh lantai di dalamnya.
Ya... Kalau dibandingkan dengan gedung-gedung lain yang ada di sini, tinggi gedung ini tidak ada apa-apanya dibandingkan yang lain.
“Kau membeli gedung ini?”
Pak Febri terdiam bersama denganku memperhatikan gedung yang ada di depan kami.
“Iya, aku sudah membeli gedung ini dari zaman perusahaanku sedang jaya-jayanya, dan gedung ini baru luas dua bulan yang lalu.”
Pak Hari mulai berjalan masuk dan membukakan pintu yang ada di sana.
“Berapa banyak uang yang kau keluarkan untuk membeli gedung ini?”
“Berapa ya?... Mungkin ada sekitar lima belas miliar.”
Lima belas miliar?!Apa yang dia berikan itu uang semua? Aku tidak tau sebanyak apa uang yang Pak Hari miliki pada saat itu.
“Tetap saja, lima belas miliar sangatlah banyak.”
Pak Febri masih memperhatikan gedung itu dari atas ke bawah.
“Aku rasa harga itu masih wajar, mengingat gedung ini berada di tempat yang sangat strategis.”
Kami pun masuk ke dalam gedung itu dan di dalamnya gelap sekali. Hal itu tentu saja, karena gedung ini sudah tidak digunakan lagi, tapi aku rasa ada yang aneh.
Pak Hari pun menyalakan semua lampu yang ada di lantai satu.
“Walaupun gedung ini sudah lama ditinggalkan, kenapa gedung ini masih terlihat bersih?”
Aku pun melihat tidak ada sama sekali debu yang ada di meja resepsionis yang ada di hadapanku.
“Ketika perusahaanku bangkrut, aku menyewakan gedung ini kepada sebuah perusahaan dan karena kebetulan bulan kemarin masa kontrak mereka sudah habis. Tadinya mereka ingin memperpanjang kontraknya, tapi aku belum menyetujuinya karena aku berniat untuk menggunakan kantor ini lagi.”
Ucap Pak Hari kepadaku.
“Bukankankan itu terlalu berlebihan, gedung sepuluh lantai hanya untuk empat orang.”
Pak Febri melihat ke setiap ruangan yang ada di sana.
“Ketika aplikasinya sudah mendapatkan penghasilan, aku pasti akan membuka lowongan pekerjaan untuk pegawai baru. Aku yakin aplikasinya pasti akan terkenal.”
“Aku suka sikap optimis seperti itu, seperti yang aku harapkan dari orang yang pernah memimpin sebuah perusahaan.”
“Ngomong-ngomong dimana mesin cetaknya?”
Aku penasaran dengan mesin yang digunakan Pak Hari ketika menerbitkan majalah Semesta Komik. Karena aku tidak dapat menemukannya di lantai satu ini.
“Kalau mesin cetak berada di lantai delapan.”
Kami bertiga pun mulai berjalan menuju lift.
“Memangnya kau tidak menyewakan gedung ini semua?”
“Tidak, karena mereka juga perusahaan yang tidak terlalu besar jadinya mereka hanya menyewa dari lantai satu sampai lantai lima saja. Sedangkan lantai enam sampai lantai sepuluh tidak mereka sewa.”
Kami pun mulai memasuki lift dan menuju ke lantai delapan.
Ketika sampai di lantai delapan, keadaan lantai itu sangat jauh berbeda sekali dengan lantai satu tadi. Keadaan di lantai delapan sangat kotor sekali, debu berada dimana-mana, sarang laba-laba yang berada di dinding-dinding kantor, dan jendela yang sudah tertutup oleh debu. Aku ragu kalau mesin cetaknya masih berfungsi dengan baik.
“Sepertinya sebelum menggunakan kantor ini, kita harus bersih-bersih terlebih dahulu.”
“Hahahahahaha... Untuk itu kau tenang saja Mar, aku akan menyewa petugas kebersihan untuk membersikan seluruh gedung ini.”
Syukurlah kalau begitu, aku kira dia akan menyuruhku untuk membersikan seluruh gedung ini sebagai pekerjaan pertamaku.
Kemudian Pak Hari menunjukkan sebuah ruangan yang sangat besar dan didalamnya terdapat mesin cetak dengan jenis yang berbeda-beda.
“Kenapa hanya ruangan ini saja yang bersih?”
Aku terheran-heran saat memasuki ruangan itu. Karena ruangan itu sangat bersih sekali dan terlihat sangat dirawat.
“Hal itu karena setiap pulang kerja, aku selalu datang ke sini untuk membersihkan ruangan ini. Karena di ruangan ini ada mesin cetak, kalau aku membiarkannya kotor tentu saja hal itu akan mempengaruhi mesin cetaknya juga. Dari pada aku harus membeli mesin cetak yang baru, lebih baik aku merawat yang lama saja. Hitung-hitung itu menghemat pengeluaranku.”
“Kalau begitu lakukan juga di semua lantainya!”
Pak Febri mengomeli Pak Hari.
“Itu tidak mungkin, butuh waktu berhari-hari jika aku membersihkan dari lantai enam sampai lantai sepuluh seorang diri. Kalau aku menyewa petugas kebersihan, aku rasa itu belum terlalu perlu karena saat itu aku tidak tau kapan kantor ini akan digunakan lagi.”
Aku pun melihat-lihat mesin cetak tersebut. Karena aku jarang sekali melihat mesin cetak yang besar seperti ini, biasanya mesin cetak yang aku lihat adalah pencetak yang berada di kamarku.
“Apakah kau sudah selesai melihat-lihatnya Mar?”
Tanya Pak Hari kepadaku.
“Iya, aku sudah puas melihat-lihatnya.”
__ADS_1
“Kalau begitu ada satu tempat yang ingin aku tunjukan kepada kalian.”
Kami pun pergi ke lantai paling atas di gedung tersebut dan ternyata gedung itu memiliki atap yang sepertinya dulu tempat ini digunakan para karyawan untuk beristirahat.
“Apakah dulunya di sini ada mini bar?”
Pak Febri pergi ke sebuah meja panjang dan beberapa bangku yang berada di sana.
“Iya, dulu di sini tempat karyawan untuk pergi bersantai atau merokok setelah melakukan pekerjaannya.”
Walaupun gedungnya tidak terlalu tinggi dan pemandangan dari atap tidak terlalu bagus karena tertutup dengan gedung-gedung lainnya. Tapi untuk bersantai, tempat ini lumayan juga. Aku rasa kalau gedung ini sudah aktif seperti biasanya, pasti aku akan sering pergi ke sini untuk beristirahat.
Aku pun melihat ke sebuah ruangan yang ada di atap tersebut.
“Itu ruangan apa Pak Hari?”
Aku menunjuk ke arah ruangan itu.
“Itu adalah tempat salat. Aku sengaja membuat tempat salatnya di atap karena agar memudahkan bagi karyawan yang ingin bersantai setelah menunaikan ibadah salat.”
“Hmm jadi begitu.”
“Kalau begitu, mari kita pergi ke tempat selanjutnya.”
Ini seperti sedang tur saja.
Tempat selanjutnya yang kami datangi adalah gudang yang berada di belakang kantor, tepatnya di dekat tempat parkir. Ketika memasuki gudang, di sana banyak sekali majalah-majalah yang diikat menjadi satu. Sepertinya majalah itu adalah majalah yang diterbitkan oleh perusahaan Pak Hari sebelum bangkrut.
“Apa aku boleh melihat-lihat majalah itu?”
Aku bertanya kepada Pak Hari.
“Tentu saja.”
Aku pun langsung pergi untuk melihat-lihat komik apa yang pernah diterbitkan oleh Semesta Komik. Siapa tau ada komik yang pernah aku baca.
Hmmm... Jadi ini majalah yang pernah diterbitkan oleh Semesta Komik. Tidak buruk juga aku rasa. Setiap edisinya memuat satu bab dari masing-masing judul komik. Aku baru tau kalau di Indonesia pernah ada komik seperti ini, tapi kenapa aku tidak pernah membacanya ya ketika kecil.
“Berapa tahun perusahaan ini sudah berjalan?”
Pak Febri juga melihat-lihat majalah sama sepertiku.
“Aku rasa sampai perusahaan ini bangkrut, sudah sepuluh tahun.”
“SEPULUH TAHUN!? Berarti sejak lulus dari SMA kau sudah merintis usaha ini?”
Pak Febri terlihat tidak percaya akan hal itu.
“Aku tidak tau kalau kau bisa sehebat ini. Aku kira kau hanya hebat dalam pelajaran saja.”
“Ngomong-ngomong bagaimana nasib para komikus semenjak perusahaannya Pak Hari bangkrut?”
Tanyaku kepadanya.
“Ada beberapa dari mereka yang pergi ke penerbit lain dan ada beberapa dari mereka masih menganggur karena komiknya yang belum diterbitkan. Bahkan ada beberapa juga yang selalu menghubungiku kapan aku memulai lagi penerbiatan, menurut mereka majalahku adalah salah satu tempat untuk menyalurkan karya-karya dari komikus-komikus yang ada di Indonesia ini. Mengapa kau bertanya seperti itu Mar?”
“Awalnya aku mengira kalau akan mustahil membuat aplikasi membaca komik digital seperti itu jika tidak memiliki koneksi yang memadai dengan para komikus, tapi karena perusahaan ini sudah berjalan sepuluh tahun dan sudah banyak memiliki banyak sekali kenalan komikus, aku rasa tidak masalah.”
“Untuk seorang pelajar, pemikiranmu cukup detail juga Mar.”
Aku tidak tau apakah itu sebuah pujian dari Pak Hari atau tidak, tapi aku akan menganggapnya sebagai pujian.
“Aku sering terlibat dalam masalah yang sangat rumit hingga membuatku harus berpikir lebih keras lagi. Itulah kenapa aku bisa mendapatkan pemikiran seperti itu.”
“Aku suka anak muda yang seperti itu. Biasanya mereka memiliki ide-ide kreatif untuk dikembangkan.”
“Apa masih ada yang ingin kau sampaikan Ri?”
“Tidak ada, besok aku ingin mengadakan rapat dengan Kau, Amar, dan juga temannya amar untuk membicarakan tentang aplikasi ini.”
“Baiklah kalau begitu, bagaimana Mar?”
“Aku sih OK aja.”
“Kalau begitu kami pamit dulu ya.”
“Terima kasih untuk hari ini.”
Pak Hari pun berterima kasih kepada kami berdua.
Aku dan Pak Febri pun langsung pergi dari kantor, Pak Febri pun berniat untuk mengantarku terlebih dahulu ke halte Transjakarta terdekat.
“Mar, bagaimana kalau kita makan dulu? Aku yakin kau pasti lapar juga kan.”
“Kalau dibayarin saya mau Pak.”
“Tenang saja, anggap saja ini ucapan terima kasih dariku karena telah ikut dalam membantu temanku.”
__ADS_1
Kami pun langsung mampir terlebih dahulu ke tukang nasi goreng yang berada di pinggir jalan. Pak Febri pun memesankan nasi goreng untuk kami berdua kepada abang penjualnya, dan ketika makanannya jadi, kami
langsung menyantapnya dengan lahap.
“Mar, apa kau tau tentang kasus ketika LDKS?”
Kenapa Pak Febri baru mengatakan itu saat ini? Kalau dipikir-pikir, selama acara LDKS aku tidak pernah melihat Pak Febri berada di sana, apa dia memang tidak mengikuti acara itu ya.
“Kasus yang mana Pak?”
“Aku diberitahu oleh salah satu OSIS, ketika LDKS ada seseorang yang menggambil barang-barang milik murid perempuan dan saat itu kau yang dituduh mengambil barangnya tapi karena tidak ada barang bukti yang kuat,
kau pun dapat bebas dari tuduhan itu.”
Siapa OSIS yang memberitahu Pak Febri? Seingatku OSIS yang kenal denganku hanya Kak Alvin, Kak Deni, Kak Fauzi, dan Kak Ayu. Selebihnya aku tidak mengenal mereka dan juga mereka mungkin tidak mengenalku juga.
“Oh masalah itu.”
“Apa kau tau sesuatu Mar?”
“Memangnya kenapa Pak?”
“Menurutku, apa yang dilakukan oleh OSIS untuk menyelesaikan masalah itu terlalu tidak masuk akan, dan aku juga mendengar dari pihak sekolah kalau hal itu digunakan supaya menjaga kerukunan antar para murid, tapi aku tau sifat murid-murid yang tergabung dalam OSIS. Mereka tidak mungkin bisa membuat rencana seaman dan semulus ini, bahkan murid sekelas Alvin saja aku rasa tidak mungkin membuat rencana ini.”
Untuk ukuran guru seperti Pak Febri, ternyata pengamatannya terhadap para muridnya tidak buruk juga. Ini menunjukkan kalau Pak Febri memang sangat dekat dengan murid-murid yang ada di SMK Sawah Besar, apalagi
murid-murid yang dia ajar.
“Aku tidak tau tentang hal itu.”
“Apa jangan-jangan kau yang mengusulkan rencana itu kepada mereka?”
Pak Febri langsung menatapku dengan serius.
“Murid sekelas Kak Alvin saja tidak mungkin membuat rencana seperti itu, apalagi aku.”
Pak Febri pun masih menatapku untuk waktu yang cukup lama.
“Sepertinya kau benar.”
Dia pun kembali menyantap makanannya lagi.
“Lalu bagaimana kau bisa lepas dari tuduhan itu?”
“Hal itu karena OSIS tidak bisa membuktikan kalau aku bersalah. Menggunakan posisiku yang berada di campsite saat acara mencari jejak itu tidak bisa dijadikan bukti yang kuat. Selain itu selama di UKS, ada guru juga yang menemaniku saat itu.”
“Sebenarnya dari pertama masuk, aku sedikit mencurigaimu. Aku pernah berpikir kalau kau memiliki kekuatan yang hebat tapi kau sengaja menyembunyikannya.”
Mendengar itu pun membuat aku tersenyum kecil.
“Kalau aku memiliki kekuatan yang hebat, buat apa aku menyembunyikannya. Lebih baik aku tunjukan kepada orang-orang agar aku mendapatkan perhatian dari mereka. Bukankah terlalu sayang jika menyembunyikan sebuah potensi yang dimiliki.”
Yah... Walaupun aku sering menyembunyikan satu atau dua kemampuan yang aku miliki kepada teman-temanku.
“Kau benar, aku setuju denganmu.”
Sepertinya kecurigaan Pak Febri sudah hilang. Untung saja aku dapat menyelesaikannya hari ini juga, kalau tidak bisa repot nantinya.
“Bagaimana dengan ekskulmu?”
“Ekskulku baik-baik saja.”
“Kenapa kau tidak bergabung ke ekskul baske? Aku dengar dari murid-murid yang berada di ekskul basket kalau ada murid yang jago basket di kelasku, kemudian ketika aku bertanya kepada Riki, dia berkata kalau kau orang yang dia maksud, dan semua murid laki-laki pun tidak ada yang menentang hal itu.”
Dasar kau Riki! Kenapa dia harus memberitahu hal itu kepada Pak Febri? Riki tidaklah salah akan hal ini, aku juga tidak menyuruhnya untuk menyembunyikannya. Lagipula aku rasa hal ini tidak bisa disembunyikan lagi.
“Aku hanya mau bermain basket untuk bersenang-senang atau sekedar menggerakan tubuh saja. Aku tidak mau jika harus berkompetisi, itu terlalu melelahkan menurutku.”
“Hahahaha... Aku baru mendengar perkataan orang seperti itu.”
Pak Febri tertawa kecil mendengar jawaban dariku.
“Sepertinya dugaanku tidak salah ketika melihatmu didalam kelas. Walaupun auramu menunjukan kalau kau adalah orang yang malas, tapi aku tau kalau kau adalah orang yang berbeda dari aura yang kau tunjukan.”
Apakah aku memang memancarkan aura seperti itu? Kalau benar, pantas saja Takeshi dan Miyuki selalu mengatakanku kalau aku seperti orang yang malas. Tapi yang perlu aku waspadai saat ini adalah pengamatannya
Pak Febri. Pengamatannya tidak bisa aku pandang remeh, aku melakukan kesalahan sedikit saja mungkin rahasiaku bisa dia ketahui semua.
“Sekali lagi, aku ingin berterima kasih kepadamu karena telah membantu temanku.”
“Itu bukan hal yang besar Pak.”
“Kalau aku memiliki anak perempuan, mungkin sudah aku jodohkan kepadamu Mar.”
“Berhenti meledekku seperti itu Pak.”
“Hahahahahaha...”
__ADS_1
Dan kami pun kembali menyantap nasi goreng sambil ditemani oleh lampu kota yang menyinari jalanan kala itu.
-End Chapter 63-