Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 105 : Aku Dan Misaki Sepertinya Sangat Cocok.


__ADS_3

“Yeay, Aku menang lagi! Ayo main sekali lagi sebelum ibuku datang.”


Misaki terlihat senang sekali karena selalu memenangkan pertandingan ketika bermain bersama denganku.


“Memangnya ibumu sudah selesai mengambil rapot milik kakakmu?”


“Sepertinya sudah, dia sudah memberikan pesan kepadaku.”


“Oh begitu.”


“Cepatlah Bang Amar, cepat tekat tombol mulainya.”


Aku pun memencet tombol mulai yang ada di ponselku.


Saat ini aku masih bermain dengan Misaki di kantin, sambil menunggu orang tua kami menyelesaikan urusan mereka di kelas. Aku juga sangat bersyukur karena sampai saat ini Misaki belum memintaku untuk membelikan jajanan lagi, padahal jajanan sebelumnya sudah lama habis. Dia hanya fokus saja dengan gim yang saat ini sedang kami mainkan.


“Bang Amar!”


“Hmmm...”


“Apa hubungan Bang Amar dengan kakakku tidak terlalu baik?”


Hee... Kenapa dia membicarakan hal ini sekarang? Lagi pula dari mana dia bisa dapat kesimpulan seperti itu.


“Memangnya kenapa Misaki?”


“Soalnya, setiap aku menyuruh kakak untuk memintamu datang ke rumah dia menyuruhku sendiri yang memintanya. Ketika aku menanyakan kenapa, dia bilang kalau kau tidak mau datang jika kakakku yang menyuruh.”


Uwa... Aku memang pernah diajak Miyuki untuk datang ke rumahnya waktu itu, tapi sampai saat ini aku belum ke sana. Lagian apa yang harus aku lakukan ketika tiba di sana selain bermain dengan Misaki. Kalau hanya bermain dengan Misaki bukannya aku bisa melakukannya dari rumah, dan kalau Misaki ingin berbicara denganku, kita bisa menggunakan aplikasi telpon untuk hal itu.


Dan sekarang apa yang harus aku jawab kepadanya.


“...”


“Kenapa kau hanya diam saja Bang? Apa memang benar kalau hubungan kalian berdua tidak begitu baik.”


“Aaa... Hubungan kami berdua baik-baik saja, mungkin lain kali aku akan main ke rumahmu.”


Lebih baik aku menjawabnya seperti itu saja, aku tidak mau pembicaraan ini melebar hingga sesuatu yang tidak ingin aku bahas.


“Benarkah itu!?”


“Iya, lagi pula nanti ketika tahun baru aku akan ke rumahmu bersama dengan yang lain.”


“Apa lelaki itu juga akan datang?”


Wajah Misaki yang tadinya terlihat senang langsung berubah menjadi sinis sekali.


Saat mendengar ucapan dari Misaki, saat itu hanya satu nama saja yang terlintas dipikiranku yaitu Takeshi. Tapi kenapa dia terlihat kesal sekali saat membahas tentangnya.


Apa dia menyimpan sebuah dendam tersendiri dengan Takeshi?


“Apa maksudmu Takeshi? Kalau yang kau maksud dia, dia akan datang juga.”


“Aku benci dengan lelaki itu.”


Bahkan dia saja tidak ingin menyebut dengan namanya.


Misaki kembali bermain gimnya dengan wajah tidak senang.


“Memangnya ada apa dengan kalian berdua?”


“Lelaki itu selalu saja mengikuti kakakku kemanapun dia pergi, padahal seharusnya dia tau kalau kakakku itu tidak suka dengannya.”


Hmmm... Apa Misaki juga tau apa yang terjadi dengan Miyuki ketika di SMP?


“Sudahlah jangan membahas orang itu, aku selalu kesal ketika membahas tentangnya.”


Dan dia benar-benar tidak mau menyebutkan namanya.


“Baiklah.”


Tidak lama kemudian, aku dapat melihat ibu-ibu kami datang menghampiri kami beserta dengan Miyuki yang mengikutinya di belakang.


“Hai Nak Amar! Bagaimana kabarnya?”


Ibunya Miyuki langsung menyapaku.


“Alhamdulillah, baik tante.”


“Apa mainnya sudah selesai mainnya?”


Tanya Ibunya Miyuki dengan ramah kepadaku.


“Baru saja selesai tante.”


“Oh begitu... Ayo Misaki, kita pulang ke rumah.”


“Baiklah, aku pulang dulu ya Bang Amar. Terima kasih atas makanannya tadi.”


Misaki berpamintan kepadaku dan pergi menghampiri ibunya.


“Rikinya kemana tante?”


Aku bertanya kepada ibunya Riki yang saat itu berada di sana juga.


“Riki masih berada di kelas, kata wali kelasnya ada yang ingin dibicarakan dengannya.”


Bahkan Riki juga? Hmmm... Aku rasa Pak Febri ingin membicarakan sesuatu yang serius tentang hal ini.


“Kalau begitu aku mau pergi ke kelas dulu Bu.”


Aku menyalami semua yang ada di sana dan bergegas pergi untuk bertemu dengan Pak Febri.


“Ada ada sesuatu Mar?”


Tanya Miyuki saat aku ingin pergi.


“Tidak ada.”


“Mar, jaga sikapmu saat di depan gurumu. Awas saja jika kamu masih bersikap seperti tadi.”


“Baik Bu!”


Padahal Pak Febri sendiri yang menginginkanku bersikap seperti itu.


Ketika aku sampai di kelas, di sana sudah tidak ada orang lagi. Semua orang tua murid dan juga para murid sudah pulang, hanya Pak Febri dan Riki saja yang berada di sana. Aku langsung menghampiri Pak Febri yang masih membereskan mejanya.


“Apa semuanya sudah selesai?”


“Sudah, aku ingin mengajak kalian berdua untuk pergi ke kafe yang ada di dekat sekolah.”


“Jadi apa yang ingin bapak bicarakan dengan kami berdua?”

__ADS_1


“Wih! Kenapa bicaranya menjadi sopan seperti itu?”


Pak Febri tersenyum melihat ke arahku.


“Ini karena ibuku menyuruhku tadi untuk bersikap sopan kepadamu.”


“Tenang saja, aku sudah menjelaskan kepadanya tadi. Bersikap saja seperti biasanya, aku yang tidak enak jika kau bersikap sopan seperti itu kepadaku.”


Aneh sekali, padahal dia sendiri gurunya kenapa dia yang tidak enak.


“Lalu, Apa permasalahannya?”


“Lebih enak kita membicarakan hal ini ketika di kafe saja, sebelum itu kalian berdua bantu aku untuk merapihkan kelas ini terlebih dahulu.”


“Baiklah.”


Sepertinya dia hanya ingin menyuruh kami berdua untuk melakukan pekerjaan ini saja.


Setelah kami berdua membereskan kelas, kami langsung pergi ke kafe yang dimaksudkan oleh Pak Febri. Ternyata kafe itu memang dekat dari sekolah, jaraknya hanya beberapa langkah saja dari gerbang depan. Suasana kafe ini juga cukup nyaman jika dihabiskan untuk bersantai.


“Kalian pesanlah minumannya, biar aku yang membayarnya.”


“Yeay!”


Riki dengan semangat langsung memeriksa daftar minuman yang ada di hadapannya.


“Aku milk shake ya.”


“Tumben sekali kau tidak memesan kopi Mar?”


“Aku sedang ingin meminum hal lain saja.”


Kami pun langsung duduk selepas memesan minuman dan makanan ringan untuk menemani kami berbincang-bincang.


Ketika aku baru saja duduk di atas sofa yang cukup empuk, Pak Febri langsung memberikan secarik kertas di


hadapan kami. Aku mengambil kertas itu dan melihat apa yang ada di dalamnya. Ternyata di dalam sana terdapat alamat seseorang.


Kalau seandainya aku mengingat-ingat pembicaraanku sebelumnya bersama dengan Pak Febri, pasti alamat ini adalah alamat dari Akbar.


“Alamat siapa itu?”


Tanya Riki yang juga melihat alamat itu.


“Itu alamat dari Akbar.”


“Apa Pak Febri ingin menyuruh kami berdua untuk pergi ke rumahnya Akbar?”


“Begitulah.”


Loh?


“Bukannya Akbar tadi datang bersama dengan orang tuanya, kenapa kita harus datang ke rumahnya juga?”


“Dia memang datang untuk mengambil rapot tadi, tapi dia datang bukan bersama orang tuanya. Melainkan dengan walinya."


“Wali?”


Aku kira ketika Pak Febri mengatakan kalau masalahnya sudah selesai, masalah ini memang sudah benar-benar selesai dan aku tidak perlu melakukan hal yang merepotkan lagi.


“Aku sudah memeriksa semua berkas yang Akbar serahkan ke sekolah, dan semuanya ditanda tangani oleh walinya. Tidak ada satupun berkas yang ditanda tangani oleh kedua orang tuanya.”


“Dari mana Pak Febri tau?”


“Akhir-akhir ini aku sering datang ke tata usaha untuk melihat semua itu.”


Niat sekali dia melakukannya.


“Kenapa tidak bapak saja yang pergi ke rumahnya Akbar? Bukannya dulu kau berkata kalau kau yang ingin melakukannya.”


“Aku memang memiliki niat awal seperti itu, tapi sekarang aku ada urusan yang harus aku kerjakan, jadi aku memohon kepada kalian berdua untuk menggantikanku.”


Huh melelahkan sekali! Seharusnya setelah ini, aku ingin pergi makan-makan dengan kedua orang tuaku di mal dekat rumah, mumpung Nadira juga sudah pulang ke rumah. Mungkin orang tuaku juga mengundurnya karena tau kalau aku belum pulang, kalau mereka melakukannya tanpaku aku merasa sedih sekali. Maaf, aku hanya berlebihan tentang hal itu.


Kalau aku tidak ikut makan-makan dengan mereka palingan mereka membawanya pulang untukku, jadi tidak masalah. Aku lebih suka yang seperti itu dibandingkan ikut makan langsung di tempat makannya.


“Apa setelah ini kau kosong Rik?”


Jika Riki tidak bisa, aku juga akan menolak tawaran ini.


“Tentu saja.”


Sepertinya percuma mengharapkan Riki memiliki acara di saat seperti ini. Selaginya dia memiliki acara, pasti dia akan mengatakan kalau hari ini dia kosong.


“Mumpung kita berada di sekolah, dan kalau dari alamat yang diberikan oleh Pak Febri, rumah Akbar juga lebih dekat dari sekolah dibandingkan dari rumah kita. Jadi aku ingin langsung pergi ke rumahnya setelah ini.”


“Oh begitu, baiklah aku juga ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Akbar.”


Kalau begitu, aku tinggal mengirimkan pesan kepada ibuku kalau aku akan pulang telat karena dapat tugas dari wali kelasku.


“Kalau aku sudah menyelesaikan masalah ini, aku akan meminta bayarannya kepadamu Pak.”


“Walaupun kau sudah memiliki banyak uang, masih saja kau meminta bayaran kepadaku Mar!”


“Aku tidak membutuhkan uang, traktir saja aku makanan atau belikan sesuatu.”


“Tumben sekali kau tidak meminta uang.”


Ahh! Guru ini ribet sekali.


“Bukannya kau seharusnya sudah tau kalau uang dari bayarannya Pak Hari itu sangat banyak dan aku bingung untuk menghabiskannya.”


“Kenapa kau tidak menghabiskannya untuk bersenang-senang?”


Bersenang-senang seperti apa yang harus aku lakukan untuk mengurangi uangku itu. Hanya dengan bermain gim di rumah tanpa diganggu oleh orang sudah dapat membuatku senang.


“Kalau kau memang bingung mau menghabiskannya kemana, kau bisa memberikannya kepadaku Mar!”


Riki mengatakan itu dengan senyum lebar berada di wajahnya.


“Enak saja!”


Riki juga seharusnya sebentar lagi mendapatkan gaji pertamanya.


“Kau bisa menghabiskannya dengan pergi jalan-jalan bersama Miyuki.”


“Kenapa harus Miyuki?”


“Aku melihat tadi kau dekat sekali dengan adiknya Miyuki.”


Hanya dekat dengan adiknya bukan berarti aku dekat juga dengan kakaknya, tapi aku memang dekat juga sih dengan Miyuki.


“Aku sering bermain bersamanya, jadi tentu saja aku dekat dengannya.”

__ADS_1


“Aku kira kau adalah tipe-tipe orang yang mendekati adiknya untuk mendapatkan kakaknya.”


“Aku dekat dengan misaki karena untuk bermain gim saja tidak yang lain.”


 Lagi pula buat apa harus mendekati adiknya terlebih dahulu untuk mendapatkan Miyuki. Kalau aku memang ingin mendapatkan Miyuki, lebih baik aku mendekati Miyukinya langsung.


“Padahal kalau kau memang mau dengan kakaknya, aku rasa kau akan diterima baik di keluarganya.”


“Memang keluarganya Amar masih memiliki hubungan dengan keluarganya Miyuki.”


“Kenapa kau harus mengatakan hal itu Rik!”


“Kalau seperti itu lebih mudah lagi kau mendekatinya.”


Akhirnya pesanan kami pun datang.


“Dari pada membicarakan masalahku, bagaimana persiapanmu untuk menikah nanti?”


“Hah!? Pak Febri mau menikah?”


Riki yang tidak tau apa-apa terkejut mendengar hal itu.


“Begitulah, aku berencana akan menikah tahun depan.”


“Selamat ya Pak, semoga lancar sampai hari acaranya.”


“Aamiin..”


“Tapi aku tidak pernah melihat pasanganmu sama sekali Pak?”


Riki terlihat penasaran akan hal itu. Jangankan Riki, aku saja penasaran waktu pertama kali mendengar kalau Pak Febri ingin menikah.


“Aku akan memperlihatkannya kepada kalian saat hari pernikahan nanti. Sudahlah, untuk saat ini kita fokus saja terlebih dahulu dengan masalahnya Akbar.”


Pak Febri mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain.


“Aku kira masalah ini sudah selesai saat aku mengikuti ekskul kemarin.”


“Sejak aku mengetahui kalau walinya Akbar yang selalu mengisi data dirinya Akbar, itu sangat menganggu pikiranku.”


Hmmm... Aku butuh sedikit petunjuk untuk menyimpulkan hal ini.


“Waktu itu kau bilang kalau orang tuanya tidak meninggal seperti kasusnya Natasha dan mereka tidak tinggal bersama. Lalu apa yang membuat mereka pisah seperti itu?”


“Tunggu! Orang tuanya Natasha sudah meninggal? Dari mana kau mengetahuinya Mar?”


Riki yang lagi-lagi tidak tau hal itu terlihat terkejut sekali.


“Iya, aku mengetahuinya ketika mengunjungi rumahnya Natasha bersama dengan Maul.”


“Jadi kau pernah pergi ke rumahnya Natasha.”


“Waktu itu aku mengunjunginya ketika Pak Hari sakit dan aku berniat pergi untuk menjenguknya.”


“Baru saja sebulan aku pergi ke Makassar dan aku merasa kalau aku sudah ketinggalan sesuatu yang penting.”


Sebenarnya waktu aku pergi ke rumahnya Natasha waktu itu, Riki masih belum pergi ke Makassar. Hanya saja saat itu dia lagi sibuk dengan kegiatan ekskulnya.


“Kenapa bapak tidak bertanya langsung kepada walinya tadi?”


“Tidak mungkin aku melakukannya ketika acara pengambilan rapot yang sedang banyak orang.”


“Benar juga.”


Riki pun langsung berpikir sesuatu tentang hal itu.


“Aku akan pergi ke rumahnya Akbar untuk memastikannya.”


Riki dengan semangat yang membara-bara mengatakan itu.


“Memang itu yang akan kita lakukan setelah ini Rik.”


“Tapi sebelum itu, kita pergi ke tempat makan dulu Mar. Perutku rasanya lapar sekali.”


Riki memegang perutnya.


“Pesan saja makanan yang kau inginkan di sini Rik, anggap saja ini sebagai uang muka untuk kalian.”


“Kalau begitu aku akan memesannya.”


Riki langsung pergi ke tempat pemesanan untuk memesan makanannya.


“Apa kau sedang memikirkan sesuatu Mar?”


“Aku tidak bisa memikirkan apapun saat ini.”


“Tumben sekali, biasanya kau memiliki banyak ide dan cara untuk memecahkannya.”


“Aku sedang tidak ingin memikirkan apapun saja.”


Karena kalau dugaanku benar, seharusnya aku akan memikirkan sesuatu yang lebih berat saat aku berada di rumah Akbar. Lebih baik aku menyimpan tenaga dan pikiranku saat itu saja.


“Ingat, jangan pulang terlalu malam Mar. Setelah urusanmu di rumah Akbar sudah selesai, langsung pulang ke rumah.”


Pak Febri mengingatkanku.


“Aku tau itu, apalagi saat ini penculikkan sedang ramai-ramainya.”


“Apa hal ini ada kaitannya dengan penculikan itu?”


Riki yang sudah memesan makanannya bergabung lagi bersama kami.


“Entahlah, aku tidak memiliki sama sekali pentunjuk jika hal ini ada kaitannya dengan penculikkan yang sedang ramai-ramainya. Lagi pula aku juga tidak tau kalau orang tua menjadi target dari penculikkan.”


“Kalian berdua, jika hal ini memang sudah mendekati sesuatu yang berbahaya. Kalian harus mundur dan tidak melanjutkannya lagi, aku hanya ingin kalian untuk mencaritahunya saja.”


Pak Febri mengingatkannya lagi kepada kami berdua.


“Tenang saja, aku akan mengingat hal itu.”


Aku juga tidak mau terlihat sesuatu yang berbahaya, lebih baik aku menyerahkan hal ini kepada kepolisian agar mereka yang menyelesaikannya.


“Aku membutuhkan sesuatu yang menantang.”


“Jangan melakukan sesuatu yang bodoh Rik.”


“Tenang saja Pak Febri, aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang bodoh jika Amar tidak melakukannya.”


“Kenapa harus aku?”


“Soalnya melakukan sesuatu yang bodoh terasa membosankan jika tidak dilakukan bersama denganmu.”


Aku tidak mengerti apa yang Riki katakan. Mana mungkin melakukan sesuatu yang bodoh akan menarik, apalagi jika dilakukannya denganku. Aku bukanlah orang yang bisa membuat suasana menjadi menarik.

__ADS_1


-End Chapter 105-


__ADS_2