
Kami pun sampai di kantor. Karena sekarang adalah jam makan siang, banyak sekali karyawan yang pergi ke luar kantor untuk mencari makan. Ada juga beberapa karyawan yang makan di taman yang berada di depan kantor.
Saat tiba di dalam, aku melihat Pak Hari yang sedang berbicara dengan Kak Friska di meja sekertaris. Kalau dilihat-lihat dari pakaian yang digunakan oleh Pak Hari, sepertinya dia mau pergi ke suatu tempat.
“Tumben sekali kalian datang jam segini.”
Ucap Pak Hari saat melihat kedatangan kami.
“Biasa Pak, sekarang sedang UTS dan kami belum ingin pulang ke rumah.”
Kemudian seorang karyawan pun datang menghampiri Maul.
“Maul, kebetulan kau datang ke kantor.”
“Ada apa?”
“Bisa kau ikut denganku sebentar, ada sedikit masalah di bagian server.”
“Baiklah... Kalian semua, aku pergi dulu.”
Maul pun pergi bersama dengan karyawan itu.
“Rik, kita juga pergi ke bagian kita yuk!”
“Ayo!”
Akbar dan Riki juga pergi meninggalkanku seorang diri.
Aku seorang diri, apa aku juga datang ke bagianku untuk melihat apa yang sedang dia lakukan saat ini.
Hmmmm...
Sepertinya tidak perlu, aku tidak ingin mengganggu mereka. Lagi pula kalau mereka memang ingin meminta bantuanku, mereka akan menghubungiku secara langsung seperti Maul tadi.
“Kau sendirian lagi sepertinya Mar.”
Aku melihat wajah Pak Hari yang sepertinya ingin mengejekku.
“Begitulah.”
“Hei Amar! Sedang apa kau di sini?”
Kak Malik pun datang dan dari penampilannya, sepertinya dia juga ingin pergi bersama dengan Pak Hari. Aku juga melihat Kak Malik yang membawa sebuah tas ditangannya.
“Biasa Kak, sedang mengganti suasana.”
“Apa semuanya sudah siap Pak?”
Tegur Kak Malik kepada Pak Hari.
“Sudah, Friska.. Aku titipkan kantor ini kepadamu ya.”
“Baik Pak!”
“Mau kemana kalian berdua?”
Tanyaku kepada mereka.
“Aku mau pergi untuk mengurus sebuah kerjasama dengan perusahaan lain terlebih dahulu.”
Perusahaan apa?
“Kalau begitu kami pergi dulu ya.”
“Hati-hati di jalan.”
Pak Hari dan Kak Malik pun pergi meninggalkan kami berdua.
Saat ini hanya menyisakan aku dan juga Kak Friska yang sedang bersiap-siap untuk makan siang sepertinya.
Kemana sekarang aku pergi? Menghampiri Maul apa Riki dan Akbar ya?
Lebih baik aku pergi ke atap untuk bersantai saja, lalu tidur di mushola sebentar sampai mereka selesai dengan urusannya masing-masing.
“Mar, apa kau ada waktu?”
Perkataan Kak Friska menghentikan langkah kakiku.
Aku pun langsung menoleh ke arahnya.
“Iya, memangnya kenapa Kak?”
“Bisakah kau menemaniku sebentar?”
“Kemana?”
***
Aku tidak tau apa yang terjadi saat ini dan mengapa aku bisa berada di sini. Wuah!! Aku takut sekali kalau ada karyawan kantor yang melihatku sedang berada di sini bersama dengan Kak Friska, pasti ini akan menjadi berita heboh di perusahaan.
Pak Hari pasti akan meminta penjelasan tentang hal ini, Riki dan Maul akan meledekku tiada habisnya karena aku pernah berkata kalau aku tidak menyukai Kak Friska.
Kalian pasti bertanya-tanya apa yang membuatku panik seperti ini.
Karena saat ini, aku bersama dengan Kak Friska sedang pergi ke sebuah tempat makan yang berada di dekat kantor untuk makan siang.
Mungkin kalian akan menganggapku berlebihan tentang hal ini, tapi menurutku hal ini adalah masalah yang serius.
Coba saja jika kalian pikirkan, seandainya ada karyawan laki-laki yang berkompetisi dalam mendapatkan Kak Friska melihatku sedang makan siang berdua saja dengannya. Pasti mereka akan menganggapku ikut serta dalam kompetisi itu.
“Apa yang ingin kau pesan Mar?”
Kak Friska bertanya kepadaku dengan sangat biasa saja, dia tidak merasakan tekanan sedikitpun.
Tentu saja dia tidak merasakannya.
Tenanglah, daripada aku panik seperti itu lebih baik aku mengikuti alurnya saja.
Aku harus cepat-cepat keluar dari kondisi seperti ini.
Aku pun memilih makanan yang ingin aku makan, kebetulan saat itu aku juga belum makan siang.
Apa yang harus aku makan saat ini?
“Kau tidak usah sungkan Mar, karena aku yang mengajakmu ke sini, aku akan membayar makanan yang akan kau pesan.”
“Tidak Kak, aku yang akan membayarnya sendiri.”
Tidak mungkin aku membiarkan Kak Friska membayar makananku. Walaupun dia adalah sekertarisnya Pak Hari, tapi secara susunan dia adalah bawahanku di sini. Harusnya aku yang membayarkan dia makan.
Kak Friska pun terus memperhatikanku yang membuatku sedikit salah tingkah dibuatnya. Aku tidak tau bagaimana jika sedang berhadapan dengan kondisi seperti ini.
Aku mungkin terbiasa jika makan siang berdua saja dengan Rina dan Miyuki, tapi tidak biasa dengan Kak Friska.
__ADS_1
Aku harus mencairkan suasana ini dengan sedikit pembicaraan mungkin.
“Kenapa Kak Friska mengajakku untuk makan siang? Bukannya seharusnya kau makan siang bersama teman-temanmu?”
“Teman-temanku sudah makan siang terlebih dahulu, karena tadi ada tamu dari perusahaan lain yang datang ke kantor. Jadi, aku harus menemani Pak Hari terlebih dahulu dan akhirnya hal itu membuatku terlambat untuk makan siang.”
Jadi begitu.
...
Aku harus mencari bahan pembicaraan lain.
“Apa kau keberatan makan siang bersamaku Mar?”
Kak Friska merasa tidak enak denganku.
Apa dia mengetahui kalau aku sedikit tidak nyaman berada di sini?
Apa wajahku menunjukan hal itu? Tidak mungkin, wajahku pasti masih terlihat biasa saja.
“Aku tidak keberatan Kak, hanya saja aku takut jika ada orang yang salah sangka ketika melihat kita berdua seperti ini.”
Aku sedikit malu mengatakan hal itu, karena menurutku perkataanku barusan sudah terlihat seperti aku yang sangat percaya diri kalau orang lain menganggap kita adalah sepasang kekasih.
“Hahahaha... Aku baru melihatmu yang malu-malu seperti ini.”
Kak Friska tertawa kecil melihat sikapku itu.
Aku tidak bisa menyembunyikan rasa maluku saat ini.
“Ketika aku melihatmu, aku teringat dengan adikku yang berada di rumah.”
Kak Friska melipat kedua tangannya di atas meja dan memulai pembicaraan.
“Adik?”
“Iya, aku memiliki dua orang adik, satu perempuan dan satunya lagi laki-laki.”
Ok, ini informasi yang sangat berharga bagi orang yang menyukai Kak Friska tentunya.
“Adikku yang perempuan seumuran denganmu sedangkan yang laki-laki masih duduk di bangku SMP.”
“Lalu mana adikmu yang mirip denganmu?”
“Adikku yang perempuan.”
Tidak mungkin, apa yang membuatnya mirip denganku.
“Mirip dari mananya?”
Aku makin penasaran akan hal itu.
“Adikku tidak sepenuhnya mirip denganmu, hanya saja ketika dia menyendiri, ketika dia memandang sesuatu, dan ketika berbicara hampir mirip denganku.”
“Hmm.. Begitu.”
Aku tidak tau kalau Kak Friska memperhatikanku sampai sebegitunya.
Memangnya aku pernah menyendiri?
Setahuku selama aku berada di kantor, aku selalu bersama-sama dengan Riki atau Maul dan akhir-akhir ini Akbar. Ya walaupun sekarang aku ditinggal oleh mereka bertiga, tapi aku sama sekali tidak pernah menyendiri.
“Mungkin tidak sopan menganggap atasanku sebagai adik seperti itu.”
Sebenarnya perkataan di atas adalah perkataannya Pak Hari. Aku hanya menirunya saja karena menurutku itu sangat keren.
“Dan juga aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun jika mengajakmu.”
Celetuk Kak Friska.
“Apa yang harus dikhawatirkan?”
“Kebanyakan karyawan laki-laki yang lain akan salah paham jika aku mengajak mereka untuk makan siang bersama dan itu sangat merepotkan, padahal aku hanya ingin mengajak mereka makan siang saja tidak lebih.”
Cinta itu buta, siapapun akan salah paham jika seseorang yang dia cintai mengajaknya untuk pergi atau makan bersama, apalagi hanya berdua.
“Tapi aku sudah tau bagaimana sifatmu karena sering diceritakan oleh Pak Hari.”
“Apa yang Pak Hari ceritakan tentangku?”
Aku jadi sedikit penasaran tentang hal ini, semoga saja dia tidak mengatakan yang tidak-tidak tentangku.
“Intinya Pak Hari mengatakan kalau kau itu anak muda yang pikirannya sedikit berbeda dengan yang lainnya.”
Ok, kalau itu saja yang dia katakan aku tidak begitu mempermasalahkannya. Aku kira dia mengatakan yang tidak-tidak tentangku.
“Kapan Pak Hari mengatakan itu?”
“Saat aku baru saja bekerja di sini.”
Dasar Pak Hari, seharusnya dia membuat citraku bagus di depan para karyawan lainnya saat pertama kali masuk.
“Apa kau tidak menyukai orang yang lebih tua dibandingkamu Mar?”
Mendengar itu pun membuatku menjadi terkejut sekaligus gugup.
Aku tau kalau dia hanya meledekku.
Pantas saja banyak orang yang menjadi salah paham jika diajak olehnya jika cara mainnya seperti ini.
“Apa kau hanya meledekku saja Kak?”
“Hahahaha... Aku senang sekali melihat wajahmu yang seperti itu. Karena ketika di kantor, kau terkesan diam dan terlihat tertutup sekali.”
Diam ya?
Dia saja yang tidak pernah melihatku ketika sedang banyak berbicara.
“Apa kau sudah memiliki seorang pacar Mar?”
Perempuan yang satu ini, kenapa selalu menanyakan sesuatu yang sangat sensitif sekali.
“Mengapa harus membicarakan hal ini?”
Aku sudah lelah membicarakan hal ini ketika sedang berada di dalam bis.
“Bukannya hal ini adalah pembicaraan yang normal untuk kita bicarakan?”
Lagi-lagi perkataan itu yang keluar.
“Jadi, apa kau sudah memiliki seorang pacar?”
“Belum.”
__ADS_1
“Walaupun kau sudah memiliki uang sendiri dan pekerjaan yang bagus?”
Kak Friska heran ketika mendengar hal itu.
“Aku belum mau memiliki seorang pacar untuk saat ini.”
“Kenapa?”
“Aku sendiri tidak tau alasannya, tapi untuk saat ini aku tidak mau memikirkan hal itu terlebih dahulu.”
Tidak ada waktu untukku memikirkan hal seperti itu.
“Kau sama saja seperti Pak Hari.”
Kak Friska pun memainkan kertas tisu yang ada di tangannya.
“Ada apa dengan Pak Hari?”
“Pak Hari sepertinya tidak begitu memperdulikan dengan yang namanya pacaran, dia terlalu fokus dalam pekerjaannya.”
Dia tidak tau saja apa yang sebenarnya terjadi dengan Pak Hari.
“Bahkan ketika kita sedang berduaan saja di dalam ruangannya, dia hanya membicarakan tentang pekerjaan saja. Mungkin dia akan bertanya hal lain untuk selingan saja selanjutnya dia akan membahas pekerjaan lagi.”
Seperti itulah Pak Hari, dia orang yang gila akan yang namanya bekerja. Seharusnya orang seperti dia tidak cocok bekerja di Indonesia.
“Pak hari itu memang orang yang sangat gila dalam bekerja.”
“Kau benar itu Mar.”
Akhirnya makanan kami berdua pun tiba dan kami menyantap makanan itu.
“Bagaimana dengan jam makan siangmu Kak?”
Aku bertanya hal itu karena sebentar lagi jam makan siang sudah selesai.
“Tenang saja untuk hal itu, biasanya jika seperti ini, Pak Hari memberikanku waktu tambahan setengah jam untuk makan siang.”
Kalau begitu, aku bisa menghabiskan makanan dengan tidak terburu-buru.
“Oh iya Mar, apa kau sudah berteman lama dengan Maul dan RIki?”
“Kami sudah berteman sejak SMP.”
“Pantas saja kalian terlihat akrab.”
“Sudah banyak sekali hal bodoh yang kami lakukan selama ini, dan hal itu membuat kami menjadi dekat hingga seperti sekarang ini.”
Tapi kebanyakan hal-hal bodoh itu tidak dilakukan olehku, melainkan Riki dan Maul yang melakukannya.
Walaupun kami terlihat dekat, tapi aku juga pernah bertengkar dengan mereka berdua.
Ya, pertengkaran kami biasanya tidak berlangsung lama.
Aku juga tidak pernah bertengkar dengan orang lama-lama, karena menurutku itu sangat melelahkan. Tenagaku terbuang untuk sesuatu yang sangat sia-sia seperti itu.
“Enak sekali masa muda.”
“Bukannya Kak Friska juga masih muda itungannya?”
“Benar juga sih.”
Ada apa dengan perempuan ini?
Tapi setidaknya aku sudah tidak canggung lagi jika berbicara dengan Kak Friska, dan aku jauh lebih mengenal Kak Friska itu orangnya seperti apa.
Padahal aku dulu sangat segan sekali untuk mendekatinya, bahkan aku tidak pernah mendekatinya saat sedang sendirian.
“Bagaimana dengan kantor akhir-akhir ini? Kapan kira-kira rapat selanjutnya diadakan?”
“Sepertinya rapat selanjutnya akan diadakan lagi setelah menunggu hasil angketnya keluar.”
Hasil angketnya keluar ya... Itu lama sekali, katanya Kak Malik saja hal itu baru saja diambil saat bulan Mei nanti.
“Jadi saat rapat kecil aku dan Maul tidak perlu datang?”
“Biasanya Pak Hari hanya mengadakannya dengan kepala bagian saja.”
“Sebenarnya aku tidak tau apa jabatanku sebenarnya di kantor ini, karena aku menganggap kalau pekerjaan yang aku lakukan terlalu santai sebagai atasan.”
Aku tidak tau apa memang atasan kerjanya seperti ini, tapi aku selalu melihat Pak Hari sibuk dengan pekerjaan yang dia lakukan.
“Mungkin Pak Hari saat ini ingin kau dan juga Maul fokus dengan pendidikanmu terlebih dahulu.”
“Pak Hari juga mengatakan hal yang sama ketika sedang memberikan jabatan Anak Magang Khusus kepadaku.”
Aku kira saat Pak Hari memberikan jabatan itu, dia menyuruhku untuk mengurusi semua anak magang yang ada di kantor ini, ternyata tidak.
“Memang apa saja yang kau kerjakan selama ini Mar?”
“Aku hanya memeriksa laporan yang diberikan kepala bagian editor dan bagian penerbitan saja.”
Sebenarnya baru berapa bulan terakhir kepala bagian percetakan juga memberikan laporannya kepadaku. Tepatnya saat Comic Universe sudah menerbitkan komik dengan jumlah banyak dan mulai banyak juga karyawan yang ditempatkan dibagian penerbitan.
“Bukannya itu adalah pekerjaan seorang atasan, seharusnya kau berbangga diri Mar.”
“Aku sudah terbiasa banyak bekerja ketika awal perusahaan ini dibangun. Jadi ketika aku mendapatkan pekerjaan yang sedikit, aku merasa aneh saja.”
“Kau memang mirip dengan Pak Hari ketika sedang memikirkan pekerjaan.”
Benarkah seperti itu?
“Mungkin karena aku sudah lama berbicara dan bekerja dengan Pak Hari, jadinya pemikriannya sedikit masuk ke dalam diriku.”
“Mungkin saja.”
Kami pun menghabiskan makanan yang kami pesan.
...
“Apa kau sudah selesai makannya Mar? Kalau sudah lebih baik kita kembali ke kantor.”
“Aku sudah selesai Kak.”
“Kalau begitu, aku ingin membayar tagihannya terlebih dahulu.”
Kak Friska pun mengeluarkan dompetnya dan ingin mengambil tagihan yang ada di atas meja.
“Biar aku saja yang membayarnya Kak.”
Aku pun mengambil tagihan itu lebih cepat dibandingkannya dan langsung pergi ke kasir untuk membayarnya.
-End Chapter 131-
__ADS_1