Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 92 : Masalah Baru Dan Serius, Aku Datang!


__ADS_3

Teng... Teng... Teng... Teng.......


Bel pulang sekolah sudah mulai berbunyi, sudah banyak para murid yang pergi untuk mengikuti ekskulnya masing-masing. Ada juga beberapa murid yang berada di kelas untuk menjalankan tugas piketnya terlebih dahulu.


Saat ini aku sedang berjalan menuju ke lab multimedia karena tadi saat istirahat kedua, Pak Febri menghampiriku di masjid dan dia berkata kalau ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Aku juga tidak tau apa sesuatu yang ingin dia bicarakan itu, tapi kalau dia menyuruhku datang setelah pulang sekolah seperti ini, sepertinya hal ini adalah hal yang sangat penting.


Dan ditambah hari ini aku harus pergi ke kantor karena ada rapat dadakan yang ingin Pak Hari lakukan. Semoga saja urusanku dengan Pak Febri tidak terlalu lama.


“Permisi...”


Aku membuka pintu lab dan berjalan masuk menghampiri Pak Febri. Aku sedang melihat Pak Febri yang sudah menungguku. Kali ini dia tidak bermain gim seperti biasanya, seperti yang aku duga kalau masalah yang ingin dia bicarakan kali ini sepertinya cukup serius.


“Jadi apa yang ingin bapak bicarakan denganku? Tidak biasanya, memanggilku setelah pulang sekolah seperti ini.”


Aku duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Pak Febri.


“Bagaimana kabarmu?”


Dia mau basa-basi terlebih dahulu sebelum masuk kepembicaraan inti.


“Baik.”


“Apa kau dekat dengan Akbar Mar?”


Jadi dia mau membicarakan Akbar.


“Kalau dibilang dekat sepertinya tidak, aku hanya berbicara dengannya beberapa kali saja dengannya saat di kelas dan ditambah aku penah satu kelompok dengannya saat LDKS. Apa Akbar ada kaitannya dengan pembicaraan yang ingin bapak bicarakan denganku?”


“Begitulah, aku baru saja mendapatkan laporan dari kesiswaan kalau Akbar sudah tidak mengikuti ekskul hampir satu semester ini.”


Aku baru tau kalau bagian kesiswaan mengurusi bagian itu juga.


“Memangnya apa salahnya dengan hal itu?”


“Seperti yang kau tau, sistem di sekolah ini mengharuskan setiap muridnya wajib memilih satu ekskul dan mengikutinya.”


“Lalu apa yang terjadi jika murid itu tidak mengikuti ekskul yang dia pilih?”


Sebenarnya ini pertanyaanku sudah dari lama, karena aku juga penasaran jika aku tidak mengikuti kegiatan ekskul sama sekali. Untung saja ekskul rohis hanya diadakan seminggu sekali saja dan itu juga tidak lama.


“Tidak masalah jika ada murid yang tidak mengikuti ekskul yang telah dia pilih, hanya saja sekolah menginginkan muridnya memiliki kemampuan lain selain di bidang akademi.”


Heee... Peduli sekali sekolah ini dengan murid-muridnya. Dulu waktu di SMP Cibubur, aku tidak pernah mengikuti satu ekskul sama sekali dan itu tidak masalah. Aku tidak pernah dipanggil guru BP untuk membahas hal itu juga.


“Apa Akbar sama sekali tidak pernah mengikuti ekskul dari awal semester?”


“Akbar hanya mengikuti ekskul saat awal-awal masuk saja, selebihnya dia sudah tidak mengikuti lagi. Itulah kenapa kesiswaan melaporkan hal ini kepadaku, dia bertanya apakah Akbar memberikan laporan kenapa dia tidak mengikuti ekskulnya.”


Hmmm... Menurutku ini sedikit aneh.


“Aku tidak melihat Akbar seperti orang yang memiliki masalah ketika di kelas. Dia terlihat baik-baik saja, dia berbicara dengan teman-temannya, bersenda gurau, dan selalu aktif di dalam pelajaran.”


“Aku juga melihatnya seperti itu. Apa dia memiliki pekerjaan yang sedang ia kerjakan di luar sana karena masalah finansial? Kalau misalnya memang seperti itu, aku ingin membantunya sebisaku.”


Pak Febri pun terlihat kebingungan. Walaupun usianya yang masih terbilang muda, Pak Febri cukup perhatian dengan murid-murid yang dia ajar. Dan aku juga baru melihat Pak Febri yang mengkhawatirkan sesuatu seperti ini.


“Apa yang membuat bapak berpikiran seperti itu?”


“Akhir-akhir ini aku sedang mengumpulkan data-data murid di kelas dari tata usaha untuk dimasukkan ke dalam rapot karena sebentar lagi akan dilaksanakan UAS.”


Sudah UAS saja, waktu berjalan begitu cepat sekali.


“Dan ketika aku melihat data yang diisi oleh Akbar, ternyata semua data yang dia serahkan kepada sekolah ditandatangani oleh walinya. Tidak ada berkas yang ditanda tangani oleh kedua orang tuanya.”


Seperti yang aku duga, kalau ada sesuatu yang tidak berse di sini.


“Selama di kelas, aku tidak pernah mendengar Akbar menceritakan tentang hal itu.”


Tentu saja dia tidak akan menceritakannya sama halnya seperti masalah yang dialami oleh Natasha.


“Aku juga sudah membicarakan hal ini kepada Akbar kemarin, tapi dia seperti tidak ingin membicarakan lebih jauh lagi.”


“Apa orang tuanya sudah meninggal sama seperti Natasha?”


“Tidak, Akbar pernah mengatakan kalau kedua orang tuanya masih hidup tapi mereka tidak tinggal bersama.”


Oh tidak, aku memiliki firasat kalau aku akan berhadapat dengan sesuatu yang sangat berat lagi. Aku harap saat aku harus berhadapan langsung, Riki sudah kembali ke Jakarta agar aku bisa melakukan hal ini bersama dengannya. Karena tanpa Riki, aku tidak ada penjaga sama sekali.


“Aku tidak mau ikut campur lebih dalam lagi kalau masalahnya sudah seserius itu.”


“Aku hanya ingin kau mencari tau kebenaran dari masalah ini, tidak perlu terlalu ikut campur ke dalam masalahnya. Biar aku saja yang akan mengatasinya nanti.”


“Apa yang kau harapkan dari seorang murid sepertiku.”


“Aku tau kalau kau dapat mengetahui hal ini dengan mudah, bahkan nanti malam aku rasa kau sudah mengetahui apa yang terjadi.”


Tidak secepat itu juga, aku harus memberitahu kepada Maul dan menceritakan tentang ini terlebih dahulu sebelum menyuruh Maul untuk membantuku menyelidikinya.


“Baiklah, aku akan melakukannya jika tidak ada kesibukan dari kantor. Karena hari ini Pak Hari ingin mengadakan rapat lagi, jadi aku rasa sebentar lagi aku akan sedikit sibuk.”


Walaupun tidak sesibuk seperti saat membuat aplikasi.


“Aku tau itu, kau lakukan saja hal ini dengan santai dan perlahan. Tidak perlu terburu-buru, lagi pula pihak sekolah tidak terlalu memaksakan hal ini juga. Mereka hanya ingin tau hal apa yang membuat Akbar tidak bisa mengikuti ekskul.”


“Ok, akan aku lakukan semampunya.”

__ADS_1


Setelah berbicara hal itu dengan Pak Febri, aku langsung keluar dari lab untuk segera pergi ke kantor.


Ketika aku baru saja menutup pintu lab, dari lab RPL tiba-tiba Maul keluar dari sana.


“Apa kau baru saja bertemu dengan Pak Febri?”


Maul langsung menghampiriku dan kami berjalan bersama.


“Begitulah, kau sendiri sedang apa? Tumben sekali kau pergi ke lab.”


“Ada tugas yang aku berikan kepada guruku. Apa ada masalah?”


Tunggu! Aku rasa aku tidak sedang memikirkan masalah Akbar saat ini, kenapa Maul bisa mengetahui hal itu.


“Dari mana kau tau?”


“Aku hanya menebaknya saja, karena tidak biasa Pak Febri memanggilmu ke lab saat pulang sekolah setelah kita sudah bekerja di Comic Universe. Jadi aku rasa kalau ada sesuatu yang sangat penting yang perlu dia bicarakan denganmu.”


Ternyata Maul juga sudah mengetahui tentang hal itu.


“Aku baru saja diberitahu oleh Pak Febri mengenai masalah yang sedang dialami oleh Akbar saat ini, dan aku disuruh olehnya untuk mencari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi.”


“Oh! Akbar yang waktu itu pernah satu kelompok dengan kita saat LDKS. Memangnya masalah apa yang sedang dia alami?”


Kebetulan Maul bertanya, tidak ada salahnya memberitahunya saat ini karena nantinya aku juga akan menceritakan kepadanya untuk meminta bantuan.


“Sudah hampir satu semester ini dia tidak mengikuti kegiatan ekskul.”


“Memangnya itu sebuah masalah jika murid tidak mengikuti kegiatan ekskul?”


Pertanyaan Maul sama dengan apa yang aku tanyakan kepada Pak Hari barusan.


“Tidak masalah, hanya saja Pak Febri merasa khawatir kepadanya. Dia merasa kalau Akbar sedang mengalami masalah yang dia coba pikul seorang diri.”


“Apa kau ingin aku bantu untuk mencaritahunya?”


Itulah yang aku inginkan Maul! Kau memang temanku yang terbaik.


“Aku memang akan meminta bantuanmu, tapi tidak untuk saat ini. Ada sesuatu yang ingin aku lakukan terlebih dahulu.”


“Apa?”


“Aku ingin berbicara dengan Akbar terlebih dahulu, siapa tau hanya dengan berbicara dengannya saja, aku sudah tau masalah apa yang sedang dia alami.”


“Apakah itu berhasil?”


Maul sedikit ragu dengan apa yang akan aku lakukan.


“Sepertinya tidak.”


Kepada Pak Febri saja dia tidak berbicara banyak tentang hal itu, bagaimana denganku.


“Tapi aku ingin mencobanya terlebih dahulu.”


“Baiklah, kalau kau memang membutuhkan bantuanku, kau bisa memberitahuku kapan saja.”


“Terima kasih, aku sangat terbantu akan hal itu.”


Kami terus berjalan ke luar sekolah dan bertemu Natasha yang sudah menunggu kami di sana.


“Apa yang sedang kau lakukan di sini?”


Tanyaku kepadanya.


“Tentu saja untuk menunggu kalian berdua.”


“Dari mana kau tau aku dan Maul belum pergi ke kantor?”


“Tadi aku sempat melihatmu pergi ke gedung pertama, aku yakin kau pasti pergi ke lab untuk bertemu dengan Pak Ferbi. Kemudian tidak lama setelahnya, aku juga melihat Maul yang pergi ke sana juga. Jadi karena itu aku menunggu kalian ke sini agar kita bisa pergi ke kantor bersama-sama.”


 “Baiklah.”


Kami mulai pergi ke halte bis dan menaiki bis ke jurusan Blok M. Karena saat ini belum jamnya orang pulang kerja, jadi kondisi bis saat ini tidak terlalu ramai orang.


“Ngomong-ngomong apa yang kau sedang kerjakan saat ini Mul?”


“Aku sedang belajar untuk memasarkan aplikasi ini ke seluruh dunia, karena itu akan lebih rumit lagi dibandingkan sebelumnya.”


“Sepertinya itu sulit.”


Aku sudah memikirkan hal-hal rumit yang dilakukan oleh Maul.


“Begitulah, ditambah lagi kita harus berhadapan dengan aplikasi-aplikasi serupa dari berbagai negara yang membuat itu jauh lebih rumit lagi.”


“Aku menyerahkan hal itu kepadamu karena aku sendiri saja sudah pusing dengan yang aku kerjakan.”


“Kau sendiri apa yang saat ini sedang kau kerjakan Mar?”


Natasha bertanya kepadaku.


“Aku saat ini sedang membuat tampilan baru untuk aplikasinya.”


“Kenapa kau tidak meminta bantuan kepada karyawan lain?”


Ucap Maul.

__ADS_1


“Kita sudah mendapatkan tugas masing-masing dan hal yang mereka kerjakan juga tidak kalah sulitnya dengan yang aku kerjakan, jadi aku tidak enak jika meminta bantuan kepada mereka.”


“Sepertinya memang benar jika kita harus menerima karyawan tambahan jika ingin memasarkan aplikasinya hingga ke seluruh dunia. Karena tidak mungkin kita hanya menggunakan karyawan yang tersedia saat ini. Itu terlalu menyiksa.


Benar apa yang dikatakan oleh Maul, lagi pula kantor kita sekarang juga masih terlihat luas dan lega, masih bisa menampung karyawan yang cukup banyak.


“Kira-kira berapa lama lagi hingga hal itu bisa dilakukan?”


Tanya Natasha kepada Maul.


“Aku sendiri juga tidak tau, tapi yang jelas itu akan sangat lama karena kita perlu melakukan riset terlebih dahulu agar kita tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang fatal.”


“Apa kau sudah mendapatkan gambaran besarnya Mul?”


“Hmmm...”


Maul pun mulai berpikir.


“Kalau menurut perhitunganku dari perkembangan aplikasi ini dan pemasukan dari perusahaan kita, aku kira saat kita kelas dua itu sudah dapat terjadi.”


“Katamu tadi hal ini memerlukan waktu yang lama dan riset yang banyak.”


Ucapku kepadanya.


“Itulah hasil yang aku dapatkan dari perhitunganku melalu pertimbangan dari kedua hal itu, dan saat kita kelas dua itu adalah waktu yang cukup ideal, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lama. Selama waktu itu juga kita bisa membuat sistem kontak yang paten untuk para komikus yang ingin bergabung.”


Aku pun melihat Natasha yang hanya diam memperhatikan kami berbicara.


“Aku tidak tau apa yang kalian bicarakan tapi menurutku itu sangat berat sekali dicerna olehku.”


Tentu saja Natasha tidak bisa mengikuti pembicaraan kami, karena dia tidak pernah ikut saat rapat dan mengetahui perkembangan aplikasinya dari dalam.


“Ngomong-ngomong apa kita harus belajar kelima bahasa itu juga untuk menghubungi komikus-komikus dari berbagai negara itu?”


Karena kalau itu memang benar, aku mau tidak mau harus belajar juga karena bagianku adalah bagian yang sangat sering berhubungan dengan para komikus di Comic Universe.


“Aku rasa tidak perlu karena sudah ada penerjemah yang membantuk ita menerjemahkan, jika memang kau diharuskan untuk menghubungi mereka, ajak saja penerjemah untuk menerjemahkan hal itu kepadamu.”


Apa yang dikatakan Maul tidak salah, itu sangat mempermudah pekerjaanku.


“Dan kira-kira berapa penerjemah yang harus kita pekerjakan?”


“Mungkin sangat banyak mengingat target dari Pak Hari adalah kelima bahasa itu. tidak banyak penerjemah yang bisa lima bahasa itu sekaligus, mendapatkan orang yang bisa tiga bahasa saja itu sudah bagus.”


“Aku rasa menghitung riset dan penghasilan dari aplikasi adalah langkah yang bagus sesuai dengan apa yang kau katakan tadi.”


“Dari pada memikirkan hal itu, lebih baik kita fokus memperbaiki sistem dan membuat aplikasinya jauh lebih baik terlebih dahulu agar bisa bersaing dengan aplikasi-aplikasi serupa.”


“Apa kantor kita juga akan membangun kantor di negara-negara lain?”


 Akhirnya Natasha berbicara juga setelah selama ini hanya terdiam saja.


“Bisa saja, tapi sebelum itu kita haru melakukan riset terlebih dahulu.”


“Bagaimana cara menentukannya?”


“Hal itu dilihat tergantung jumlah pengunduh dan komikus dari setiap negaranya, mungkin kalau misalnya di salah satu negara terdapat banyak jumlah komikusnya kita harus membuka kantor cabangnya di sana agar mempermudah komunikasi dan administrasi dengan para komikus di negara tersebut.”


Hmmm... Pembicaraan ini terlalu berat dan menjadi serius, padahal aku belum mengadakan rapat dengan Pak Hari.


“Hebat sekali jika kalian bisa bekerja di luar negeri seperti itu.”


Ucap Natasha kepada kami.


“Daripada memikirkan hal itu, lebih baik kita melakukan apa yang bisa kita lakukan saat ini.”


Aku mencoba untuk merubah arah pembicaraannya.


“Apa hari ini kita ada rapat di kantor nanti?”


Hei Mul, apa kau lupa alasan kita datang ke kantor hari ini atau memang kau belum diberitahu oleh Pak Hari.


“Sudah pasti kalau kita disuruh Pak Hari untuk ke kantor hari ini, pasti dia mau mengadakan rapat dengan kita.”


“Benar juga.”


“Inilah pekerjaan yang dilakukan atasan Mul.”


“Andai saja bayaran kita sudah turun, aku pasti akan sangat bersemangat sekali datang ke rapat ini.”


Ternyata Maul juga memikirkan hal itu, aku rasa aku saja yang memikirkannya terus.


“Setidaknya kita tau kalau bulan depan bayaran kita sudah turun.”


“Aku penasaran sebanyak apa bayaran kita nanti mengingat kita sudah bekerja lama sekali.”


“Aku rasa jumlahnya akan sangat banyak.”


“Kalau bayaran kalian sudah turun jangan lupa untuk mentraktir kami ya.”


Natasha sudah menagih hal itu kepadaku dan juga Maul.


“Harusnya kau mengatakan itu kepada kakakmu.”


Ucapku kepada Natasha dan Natasha hanya tersenyum saja kepada kami.

__ADS_1


Kalau uang bayaranku sudah turun, mungkin aku akan membelikan Nadira laptop agar dia tidak menggangguku ketika bekerja. Karena saat liburan kemarin, dia selalu meminjam laptopku untuk dia gunakan dan itu sangat mengganggu.


-End Chapter 92-


__ADS_2