Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 94 : Semua Perempuan Itu Merepotkan.


__ADS_3

“Kalau begitu aku duluanMar.”


Kichida dan Natasha pergi ke tempat biasa untuk memakan bekalnya.


Sebelum ke sana, aku berniat untuk membereskan mejaku terlebih dahulu baru pergi ke sana. Saat aku sedang memasukan barang-barangku ke dalam laci meja, aku melihat Akbar yang sedang berbicara dengan teman-temannya di belakang kelas.


Ini kesempatanku untuk berbicara dengannya untuk membicarakan hal kemarin. Aku rasa sekarang aku akan berbicara dengannya.


Setelah membereskan barang-barangku, aku pergi ke belakang kelas untuk berbicara dengan Akbar.


“Amar, tumben sekali kau ke sini saat istirahat. Memangnya kau tidak makan bersama yang lainnya?”


Akbar menyapaku dengan ramah.


Kalau melihatnya yang seperti ini, dia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang menggalami masalah sedikitpun.


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, apa kau bisa ikut denganku sebentar?”


“Tentang apa itu?”


Akbar menjadi penasaran.


“Ikut saja denganku.”


“Baiklah.”


Kami pergi ke luar kelas dan menuju ke dekat toilet guru, karena tempat itu adalah tempat tersepi yang tidak pernah dikunjungi oleh murid-murid ketika istirahat karena letaknya yang jauh dari kelas.


“Apa yang ingin kau bicarakan Mar?”


Akbar masih saja tersenyum di hadapanku.


Bagaimana cara memulai pembicaraan ini ya. Kalau aku salah berbicara, mungkin dia akan pergi meninggalkanku.


“Aku dengar kalau kau sudah tidak mengikuti ekskul hampir satu semester.”


Wajah Akbar yang sebelumnya masih terdapat senyuman sekarang berubah menjadi serius.


“Dari mana kau tau itu Mar?”


“Aku tau itu dari seseorang.”


“Apa kau mengetahuinya dari Pak Febri.”


Aku pun tidak menjawabnya dan hanya melihat ke arahnya saja.


“Aku sedang tidak ingin membicarakan hal itu sekarang.”


Akbar pun bergegas untuk kembali ke kelas.


“Apa kau sedang mengalami sebuah masalah?”


“Itu bukan urusanmu.”


Akbar pun pergi meninggalkanku.


Aku sudah mengira kalau dia sedang mengalami sebuah masalah. Apa aku harus meminta bantuan Maul sekarang atau tidak ya? Aku rasa nanti saja, aku ingin mencobanya lagi. Ini baru percobaanku yang pertama berbicara dengannya, masih ada percobaan-percobaan lainnya.


***


“Ar... Ar... AR!!!”


Rina melambaikan tangannya tepat di depan wajahku yang saat itu sedang terdiam memikirkan sesuatu.


“Ada apa?”


“Apa kamu sedang memikirkan sesuatu Ar?”


“Tidak ada.”


“Kamu jangan berbohong, sudah pasti kalau kau seperti itu sedang ada sesuatu yang sedang kau pikirkan.”


“Rina benar Mar, kamu pasti sedang memikirkan sesuatu.”


Miyuki juga sekarang memperhatikan ke arahku.


Ingat... Aku harus menjaga jarak dengan Miyuki agar tidak terlalu menimbulkan kesalahpahaman.


“Tidak, ini bukan masalah yang serius. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu untuk pekerjaanku saja.”


“Oh iya Ar, apa belum lama ini kamu bertanding dengan Kak Irfan?”


Rina bertanya kepadaku.


“Iya, memang kenapa?”


“Hari ini kami menjadi pembicaraan di kelasku karena bisa bertanding dengan Kak Irfan secara seri, bahkan ada beberapa orang yang bertanya tentangmu kepadaku Ar.”


Hal itu saja bisa menjadi pembicaraan seperti ini. Apa semua yang aku lakukan selalu menjadi pembicaraan.


“Kenapa hal itu menjadi heboh sekali? Aku rasa tidak ada yang spesial dari hal itu.”


“Tentu saja itu adalah sesuatu hal yang besar Mar. Kak Irfan itu adalah kapten basket dari sekolah kita dan kehebatannya sudah terkenal dikalangan anak basket. Kemudian tiba-tiba dia dapat bertanding seri dengan seorang anak baru, itu pasti akan menjadi pembicaraan di kalangan murid-murid.”


Rian menjelaskannya kepadaku.


“Aku hanya beruntung saja saat melawan Kak Irfan kemarin. Aku juga terkejut kalau bisa bertanding seri melawannya.”


“Apa sebelumnya kau memang tidak pernah menang?”


Yoshida bertanya kepadaku.


“Tidak pernah sekalipun aku menang melawan Kak Irfan, seri saja menurutku itu sangat mustahil.”


“Walaupun kemampuanmu sehebat itu?”

__ADS_1


Yoshida merasa tidak percaya.


“Kemampuan fisik dan berbasketku masih jauh dibawah Kak Irfan dan yang membuat dia kuat adalah ketika dia sedang memerintah timnya ketika bertanding. Karisma yang dia keluarkan membuat teman setimnya jadi merasa yakin dengan kemampuan berbasketnya.”


“Hmmm... Begitu.”


“Apa sepulang sekolah nanti kamu akan ke kantor lagi Ar?”


Rina mengubah topik pembicaraannya ke arah lain.


“Iya.”


“Kenapa kau pergi ke kantor hari ini? Bukannya hari ini tidak ada rapat. Aku saja tidak mendapatkan pesan dari Pak Hari untuk datang ke kantor.”


Ucap Maul kepadaku.


“Hari ini Kak Malik memintaku untuk menemaninya bertemu dengan komikus untuk membahas tentang pembukuan serialnya.”


“Kalau begitu kita bisa berangkat bersama Mar, kebetulan hari ini aku sedang tidak ada ekskul?”


Ucap Natasha.


“Bagaimana dengan ekskulmu Ar? Apa kamu masih mengikutinya.”


Rina menutup bekalnya karena sudah habis.


“Tentu saja, aku tidak mungkin bolos dari ekskul yang hanya berjalan tiga puluh menit.”


“Lalu anggotanya? Apa sudah ada penambahan anggota.”


“Aku masih berdua saja dengan Rian.”


“Tenang saja, aku sudah membuat rencana-rencana untuk mengajak orang agar tertarik bergabung dalam ekskul rohis.”


Rian mengatakan itu dengan sangat percaya diri dan mengepalkan tangannya dan dadanya.


“Huu... Lalu bagaimana caranya?”


Maul dengan senyuman meledeknya bertanya kepada Rian.


“Aku akan mengubah sudut pandang orang-orang kalau rohis itu bukan hanya mendengarkan ceramah saja, namun ada banyak hal-hal menyenangkan yang dapat kita lakukan di sana.”


“Seperti?”


“Seperti pergi mendaki gunung, berkemah, berolahraga bersama, dan masih banyak yang lainnya.”


Ternyata Rian sudah memikirkan hal sampai sejauh itu, aku hanya bisa mendukungnya dengan melakukan sesuatu yang bisa aku lakukan saja.


“Menyenangkan sekali kalau itu benar terjadi.”


Maul melanjutkan memakan bekalnya.


“Aku akan membicarakan hal ini kepada Riki jika dia sudah kembali ke Jakarta, karena hanya dia yang bisa aku mintai tolong saat ini.”


“Berapa lama Riki berada di Makassar?”


“Riki berada di Makassar selama satu bulan untuk bertanding di sana.”


Maul menjawab pertanyaan dari Miyuki sambil menghabiskan makanannya.


“Lama sekali.”


“Aku rasa dia hanya melakukan pertandingan selama dua minggu saja, hanya saja dia harus menunggu orlahraga yang lain selesai dipertandingkan. Makanya dia harus menetap di sana selama satu bulan.”


“Apa Riki bisa juara atau tidak ya?”


Ucap Miyuki sambil memikirkan sesuatu.


“Entahlah.”


“Ar, Apa kamu memikirkan sesuatu lagi?”


Rina menegurku kembali karena dari tadi aku hanya terdiam mendengarkan pembicaraan dari mereka.


“Kenapa kau selalu menegurku saat aku terdiam seperti ini Rina? Bukannya dari dulu memang aku biasa lebih banyak diam dan mendengarkan yang lainnya bercerita.”


“Aku hanya penasaran saja dengan apa yang kamu pikirkan Ar.”


Apa memang wajahku sangat kelihatan ketika sedang berpikir? Tapi aku rasa kali ini aku tidak begitu memikirkan Akbar karena aku sudah memiliki beberapa rencana untuk menyelesaikan masalahnya. Hanya saja saat ini aku sedang berpikir tentang pekerjaanku saat bertemu dengan komikus nanti. Karena Kak Malik tidak menyebutkan apa saja yang harus aku lakukan nanti, dia hanya menyuruhku datang untuk menemaninya. Hal itulah yang membuatku penasaran dan berpikir hal apa saja yang akan aku lakukan nanti.


Jam istirahat telah berakhir dan semua kembali ke kelasnya masing-masing. Saat berjalan menuju ke kelas, aku melihat Pak Febri yang sedang berada di depan kelas menunggu seseorang. Aku yakin kalau orang yang dia tunggu adalah aku.


Ya.. Mungkin ini terdengar seperti aku terlalu percaya diri, tapi kalau dilihat-lihat dari jam dia ke kelas, sudah pasti dia ingin membicarakan sesuatu denganku.


“Mar! Kau sudah selesai makannya?”


Pak Febri langsung menyapaku kepada aku berada di dekatnya.


“Tentu saja, sekarang kan bel istirahatnya sudah habis.”


“Benar juga ya, hahahahaha...”


Pak Febri hari ini terlihat kikuk sekali, sepertinya dia terlalu banyak memikirkan masalah tentang Akbar.


“Ada apa?”


“Apa kau sudah bertemu dengan Akbar dan menanyakan sesuatu kepadanya?”


Lihat, aku tidak pernah salah dalam menebak.


“Aku sudah bertanya, tapi Akbar sama sekali tidak mau membicarakannya denganku. Aku rasa kalau setelah ini aku bertanya lagi kepadanya, hasilnya juga pasti sama.”


“Jadi hasilnya sama ya.”


Pak Febri pun mulai memikirkan sesuatu.

__ADS_1


“Apa ada sesuatu yang kau khawatirkan Pak?”


“Dari kemarin aku tidak ada henti-hentinya berpikir tentang masalah yang dihadapi oleh Akbar, dan yang ada di pikiranku saat ini adalah Akbar yang menyembunyikan sesuatu masalah yang cukup besar dan bersifat privasi makanya dia tidak mau membicarakannya kepada orang lain.”


Dia tidak salah, aku juga berpikir demikian.


“Berarti kalau privasi, kita tidak perlu mengetahuinya juga. Mungkin ini masalah yang tidak boleh diketahui oleh orang luar selain keluarganya.”


Kalau aku tidak perlu menyelidikinya lagi berarti pekerjaanku akan sedikit berkurang.


“Sebagai wali kelas yang baik, aku harus menyelesaikan semua masalah yang dimiliki oleh murid-muridku.”


“Sejak kapan bapak bersikap layaknya guru seperti itu?”


“Dari dulu aku sudah seperti ini tau.”


Hee... Memang saat aku pertama kali bertemu dengan Pak Febri, aku sudah tau kalau Pak Febri adalah guru yang cukup peduli dengan murid-muridnya. Itu dapat dilihat dari cara dia berkomunikasi dengan murid-muridnya dan juga semua murid memandang baik Pak Febri.


“Apa kau mau aku mencari tau hal ini melalui bantuan Maul? Kebetulan kemarin dia menawarkan bantuannya untuk menyelesaikan masalah ini jika kita sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.”


“Untuk saat ini aku ingin menyelesaikan masalah ini dengan kekuatanku sendiri terlebih dahulu. Terima kasih sudah membantuku Mar, selebihnya biar aku melakukan ini sendiri saja.”


Akhirnya beban sudah berkurang satu.


“Baiklah, kalau memang bapak mau meminta bantuan lagi, bapak bisa menghubungiku.”


“Tentang saja, aku dapat menyelesaikan masalah ini sendiri.”


Pak Febri mengatakan itu dengan sangat percaya diri sekali. Kemana perginya kepercayaan diri itu kemarin saat dia meminta bantuan kepadaku.


“Bagaimana kalau bapak mendatangi rumahnya saja? Aku rasa itu cara tercepat untuk mengetahui apa yang Akbar sembunyikan, dan juga tidak mungkin Akbar akan menyembunyikannya saat Pak Febri menanyakan hal itu di rumah.”


“Mungkin itu akan aku lakukan saat aku sudah memiliki waktu kosong.”


Waktu kosong? Bukannya kesibukan dia saat ini hanya mengajar di sekolah saja.


“Memang apa kesibukan Pak Febri saat ini?”


“Seperti biasa, mengerjakan beberapa proyek dari pelanggan lama.”


“Kalau begitu kenapa kau harus berhenti sebentar dari perusahaannya Pak Hari.”


Padahal menurutku mengerjakan proyek yang dia lakukan dengan bekerja di perusahaannya Pak Hari sama saja.


“Aku mau bekerja yang tidak terikat waktu untuk fokus mengajar di sekolah ini. Kau tau sendiri Mar kalau aku sedang menabung untuk biaya menikah.”


Ternyata hal itu benar terjadi. Aku kira itu hanya bualan Pak Hari saja untuk mengejek Pak Febri saat di kantor.


“Memangnya kau sudah memiliki pasangannya Pak? Aku sama sekali tidak pernah melihatmu menunjukannya kepadaku.”


“Apa aku perlu menunjukkan pasanganku kepadamu Mar?”


“Tidak perlu sih.”


“Itu kau tau... Kalau untuk pasangan tentu saja aku sudah memilikinya dan kami berniat untuk melaksanakan pernikahannya tahun depan, karena itu aku mencari pekerjaan tambahan untuk biaya pernikahanku nanti.”


“Tahun depan? Itu cepat sekali.”


Karena sekarang adalah bulan November awal dan berarti dua bulan setelah ini sudah berganti tahun.


“Kau berkata cepat karena baru mendengarnya sekarang, kalau kau mendengarnya beberapa bulan yang lalu juga berkata kalau itu biasa.”


“Semoga semuanya lancar sampai acara pernikahan.”


“Aamiin... Kau juga jangan berpikiran seperti itu terus Mar, kau juga harus mencari pendampingmu mumpung masih SMA.”


Kenapa jadi berbalik kepadaku? Untung saja saat ini hanya aku berdua saja dengan Pak Febri, jika di sini ada Riki atau Maul, dia pasti sudah meledekku habis-habisan.


“Aku sedang tidak mau memikirkan hal itu. Aku pasti akan memikirkannya jika memang benar-benar sudah butuh, kalau sekarang aku sama sekali belum membutuhkan hal itu.”


“Padahal di sekolah ini banyak sekali siswi yang cantik, sangat disayangkan kalau kau tidak mau mendekati salah satu dari mereka.”


“Hal seperti itu dapat aku temukan di teman lain.”


“Dari mana rasa percaya diri itu muncul?”


Pak Febri melihatku dengan terheran-heran.


“Untuk saat ini masih banyak hal yang ingin aku lakukan dan kalau memiliki seorang pacar mungkin akan menghambatku, jadi aku tidak mau melakukan itu.”


“Kenapa kau tidak mencari pacar yang bisa mendukungmu dalam melakukan berbagai macam hal Mar? Bukannya kalau begitu kau juga makin semangat melakukan hal itu.”


“Memangnya ada orang yang seperti itu? bukannya semua perempuan itu merepotkan.”


“Aku penasaran apa yang membuatmu bisa memiliki pandangan seperti itu terhadap semua perempuan.”


Pak Febri pun memandangku dengan sangat bingung dibandingkan sebelumnya.


“Tidak ada apapun yang mempengaruhi pikiranku, mungkin karena aku terlalu mencintai diriku sendiri makanya aku mendapatkan pandangan seperti itu.”


Karena sejak aku bertemu dengan Maul dan Riki, aku merasa kalau aku tidak begitu memerlukan seorang pendamping yang disini berarti pacar.


Dulu aku pernah bertanya kepada temanku di SMP kenapa dia ingin memiliki seorang pacar. Dia menjawab agar dia tidak terlalu kesepian. Lalu aku bertanya bagaimana dengan seorang teman, bukankah memiliki seorang teman juga dapat membuatnya tidak kesepian lagi, apalagi jika teman itu sudah menjadi sahabat yang melakukan segalanya bersama.


Kemudian dia berkata kalau memiliki sahabat dan pacar itu sangat berbeda. Saat aku bertanya apa yang membedakan mereka berdua, dia sama sekali tidak bisa menjelaskannya kepadaku dan dia hanya berkata kalau itu beda saja, tentu hal itu membuatku sangat bingung.


Karena aku sama sekali tidak merasa kesepian saat bertemu dengan Riki dan Maul. Memang aku pernah merasakan hal itu saat kehilangan sahabat masa kecilku, tapi hal itu pun hilang dengan kehadiran Riki dan Maul.


“Kau harus segera mengubah pandanganmu itu Mar atau kau akan kerepotan dengan pemikiranmu sendiri.”


“Ya... Mungkin aku akan melakukannya nanti.”


Kalau aku sudah dapat menemukan seseorang yang bisa mengubah cara berpikirku ini.


-End Chapter 94-

__ADS_1


__ADS_2