
“Aku ingin berbicara dengan kalian.”
Aku dan Maul pun diajak oleh Natasha pergi ke sebuah kafe yang berada di dekat rumahnya. Kami merasakan kalau Natasha ingin membicarakan sesuatu yang serius dengan kami berdua, karena kalau tidak serius buat apa pergi ke kafe, mendingan di rumahnya saja.
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan dengan kami?”
“Sebelumnya aku ingin berterima kasih kepada kalian berdua karena telah membantu kakakku membangun usahanya. Dia sering bercerita kalau kalian berdua banyak membantunya dalam bekerja. Sekali lagi aku berterima kasih kepada kalian.”
Natasha sedikit menundukkan kepalanya kepada kami.
“Angkatlah kepalamu Natasha, itu bukan masalah bagi kami. Bukan begitu Mul?”
“Iya, kami juga membantunya karena kemauan kami sendiri.”
“Tetap saja, walaupun kalian berdua berkata seperti itu tapi aku merasa tidak enak dengan kalian kalau tidak berterima kasih.”
Mungkin aku tanyakan di sini saja soal masalah itu.
“Apakah kebangkrutan perusahaannya Pak Hari ada hubungannya dengan kau yang selalu berada di kelas ketika beristirahat?”
“Maukah kalian mendengarkan ceritaku sebentar?”
Natasha menatap kami dengan sangat dalam, aku pun tau kalau mata itu adalah mata ketika kau ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting dalam hidupmu. Apa tidak masalah dia membicarakannya kepada kami?
Aku dan Maul pun saling melirik setelah mendengar itu dan mengangguk kecil untuk menjawab pertanyaan Natasha.
“Saat ini, aku hanya tinggal dengan kakakku saja karena kedua orang tuaku sudah tiada sejak aku masih berada di bangku sekolah dasar karena kecelakaan yang mereka alami...”
Sudah aku duga kalau pembicaraan ini akan sangat serius sekali, tapi aku menjadi merasa simpati dengan kondisi Pak Hari dan Natasha sekarang.
“Kakakku pun selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanku semenjak saat itu. Saat aku tau kalau perusahaannya bangkrut, aku mau membantuk kakak sebisaku tapi yang bisa aku lakukan hanya menghemat pengeluaran yang kita gunakan sehari-hari.”
Hmmm... Sampai sini aku sudah mendapatkan tentang garis besarnya bagaimana.
“Kemudian aku mendengar kalau kakak sedang membangun usahanya lagi bersama dengan temannya dan dua murid dari temannya yang hebat-hebat. Saat kakak mengatakan kalau murid temannya itu bernama Amar dan Maul yang terbayangkan dikepalaku hanya Amar dan Maul yang aku kenal saja, karena aku tau hanya ada satu Maul dan Amar yang hebat di SMK Sawah Besar.”
“Aku jadi malu dipuji seperti itu.”
Maul pun menutupi hal itu dengan meminum minuman yang baru saja dia pesan.
“Aku tidaklah sehebat itu.”
“Setelah apa yang aku lewati apakah aku akan percaya? Tentu saja tidak. Aku selalu melihatmu ketika di dalam kelas dan aku tau kalau kau itu bukan seperti murid pada umumnya, pemikiranmu cenderung berbeda dan tidak pernah terganggu dengan keadaan sekitar.”
Dia saja yang tidak tau kalau aku selalu terganggu dengan tingkah laku murid-murid di kelas, tapi aku tidak pernah mengekspresikan itu dalam bentuk tingkah atau ekspresi. Biasanya aku hanya mengeluhkan hal itu di dalam hati.
“Aku hanya makan ketika berangkat dan pulang sekolah untuk mengurangi pengeluaran. Apalagi ketika kakakku berkata ingin membuka usaha, aku sebisa mungkin berusaha untuk membantu kakakku agar usaha barunya bisa terwujud. Lalu setelah aku mendengar kalau kalian berdua membantu kakakku, aku semakin yakin kalau hal itu akan terwujud.”
“Penilaianmu terhadap kami terlalu tinggi.”
“Untuk ke depannya aku mohon kepada kalian untuk mengawasi kakakku.”
“Mengawasi untuk apa?”
Aku dan Maul tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Natasha, karena selama ini yang selalu mengawasi mereka adalah Pak Hari sendiri.
“Kakakku sering sekali pergi ke club malam ketika pulang kerja, padahal aku sudah berulang kali mengingatkannya kalau tempat seperti itu tidak baik untuk didatangi, tapi tetap saja dia masih mendatangi tempat itu.”
“Hmmm... Pantas saja.”
Maul pun sedikit tersenyum seakan dia tahu apa yang terjadi sebenarnya.
“Apa kau mengetahui sesuatu Mul?”
“Begitulah.”
Kemudian pun aku mengingat kejadian Pak Hari yang salah tingkah ketika ditegur oleh Maul. Mungkin saat itu Maul tau kalau Pak Hari mau pergi ke klub malam. Kalau benar seperti itu hebat sekali Maul berani menegur Pak Hari yang dia adalah atasannya.
“Aku juga ingin kau menjelaskan semua masalahmu kepada Kichida. Selama istirahat, dia selalu membicarakanmu dengan kami, dia sangat khawatir sekali dengan keadaanmu. Setidaknya jelaskan saja kepadanya tentang hal ini.”
“Aku juga sebenarnya tidak enak dengan Kichida. Ketika istirahat, Kichida selalu mengajakku untuk makan bersana, tapi karena aku tidak mau merepotkannya jadi aku selalu berpura-pura mengerjakan sesuatu ketika di kelas.”
“Itu cara yang bagus untuk menolak seseorang dengan cara lembut.”
Ucap Maul kepada Kichida.
Ya, aku juga tidak tau apakah cara yang dilakukan oleh Natasha itu benar atau tidak, tapi caranya itu telah membuat Kichida khawatir tentang hal itu.
__ADS_1
“Bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini? Aku mendengar dari kakakku kalau aplikasinya sedang meningkat.”
“Begitulah, itu semua berkat sesuatu yang dilakukan oleh Maul.”
Maul pun langsung merasa bangga karena aku puji dia. Jarang sekali aku memuji Maul karena aku tau sifatnya Maul yang gampang besar kepala jika dipuji oleh seseorang, apalagi seorang perempuan yang memujinya.
“Benarkah!?”
“Aku malas untuk mengakuinya tapi karena Maul aplikasi itu bisa terkenal.”
“Puji aku terus Mar! Hahahahah...”
Lihat, dia sudah mulai besar kepala.
“Ngomong-ngomong dari mana kalian berdua mengenal kakakku?”
“Pak Febri adalah teman lamanya dari Pak Hari, itulah kenapa kita bisa mengenalnya.”
Aku pun melihat wajah Natasha yang sedikit terkejut ketika mendengar itu.
“Memangnya kau tidak pernah bercerita tentang sekolah kepada kakakmu?”
Tanyaku balik.
“Kakakku selalu pulang larut malam, jadi aku jarang mendapatkan waktu untuk berbicara dengannya. Saat hari libur dia juga selalu keluar untuk mengurus pekerjaannya itu.”
Dasar Pak Hari, nanti kalau dia sudah masuk ke kantor akan aku ceramahi dia. Ternyata dia memang orang yang gila akan bekerja, seharusnya dia juga meluangkan waktu untuk keluarganya, apalagi hanya Natasha saja yang dia punya saat ini.
“Pak Hari memang penggila kerja.”
Celetuk Maul saat mendengar itu.
“Aku juga sering memarahinya jika dia terlalu memaksakan diri seperti hari ini. Walaupun dia sudah merasa sehat dan dapat melakukan sedikit pekerjaannya, tetapi tetap saja dia masih dalam kondisi sakit.”
“Kau ternyata perhatian juga dengan kakakmu ya? Aku sedikit terkejut melihat sifatmu yang seperti ini. Kalau di sekolah biasanya kau terkesan diam dan tidak terlalu banyak dalam berbicara.”
“Kakakku anya satu-satunya keluarga yang aku miliki, jadi aku mau menjaganya.”
Aku tidak tau kalau masalah keluarganya Pak Hari serumit ini, pantas saja Pak Febri menegurku ketika aku menanyakan tentang keluarga Pak Hari.
Sudah tidak memiliki orang tua dari kecil ya? Aku rasa itu lebih berat dibandingkan kehilangan teman terbaik, tapi hanya karena itu saja sudah membuat sebagian besar dari kehidupanku. Menurutku apa yang aku alami tidaklah separah yang dialami oleh Natasha.
“Tapi kenapa dia tidak menyuruh adiknya untuk bekerja di sana padahal dia tau kalau adiknya berada di jurusan multimedia ya?”
Saat Maul mengucapkan itu, aku baru menyadarinya. Untuk orang seperti Pak Hari, pasti dia akan menggunakan semua potensi yang dia miliki untuk membangun perusahaan itu, dan menyuruh Natasha untuk membantu sepertinya bukanlah hal yang buruk juga, itu akan mempermudah pekerjaan kami.
“Kakakku pernah menawariku untuk membantunya membangun usaha tapi aku menolaknya karena aku tidak percaya diri dengan kemampuan yang aku miliki sekarang.”
Ternyata masalahnya sama sepertiku saat pertama kali menerima pekerjaan dari Pak Febri.
“Aku dulu juga tidak terlalu percaya diri dengan hasil desain yang aku buat, tetapi seiring berjalannya waktu, lama-lama kepercayaan diriku mulai tumbuh dan aku pun sudah terbiasa dengan hal-hal semacam itu. Karena menurut Pak Febri, desain itu nilai yang sifatnya tidak mutlak. Kadang yang kita lihat bagus belum tentu menurut orang lain itu bagus dan sebaliknya.”
“Kau berlatih saja mulai dari sekarang. Kalau aplikasi ini terus bertambah peminatnya dan jumlah orang yang mengunduhnya sudah semakin banyak, maka jumlah editor yang diperlukan juga akan semakin bertambah. Jadi ketika itu terjadi, kau bisa ikut membantu kami mengembangkan aplikasi itu.”
Benar juga apa yang dikatakan Maul, kalau aplikasi ini terus berkembang maka jumlah editor juga akan semakin banyak. Apakah nanti kalau editornya sudah semakin banyak kantor yang kita gunakan semua akan muat?
Sepertinya muat mengingat saat ini kita baru menggunakan satu lantai saja dari tiga lantai yang kita miliki.
“Benarkah itu? Kalau begitu aku akan mulai berlatih dari sekarang.”
“Kalau begitu, nanti kau akan menjadi bawahannya Amar.”
“Siap Pak Bos!”
Natasha langsung hormat kepadaku.
“Kau ini Mul! Berhentilah berbicara seperti itu.”
“Lalu bagaimana keadaan kantornya sekarang? Dulu waktu kantor ini masih menjadi kantor Semesta Komik, aku sering main ke sana dan di sana banyak sekali karyawannya, semua yang ada di sana juga sangat sibuk bekerja.”
“Kantornya saat ini sudah terlihat seperti kantor pada umumnya. Dengan meja-meja yang menghiasi kantor, kursi-kursi, karyawan...”
“Dan juga ruang rapat.”
Sambung Maul.
Sepertinya dia memang menyukai ruang rapat itu.
__ADS_1
“Memang sebelumnya bagaimana?”
“Sebelumnya sama sekali tidak terlihat seperti kantor. Ruangan yang kosong, hanya ada beberapa lampu yang menyala, bahkan di ruang rapat hanya tersedia tikar yang nantinya kita gunakan ketika rapat.”
Natasha pun sedikit tertawa mendengarkan hal itu dari Maul.
“Sekarang juga sudah ada sekertaris, bagian keuangan, dan semua bagian administrasi sudah ada yang mengisi. Makanya pekerjaan kami saat ini lebih mudah dibandingkan sebelumnya.”
“Sepertinya aku akanbelajar lebih giat lagi.”
“Itu bagus, tapi yang sekarang harus kau lakukan adalah menjelaskan semuanya kepada Kichida. Awalnya aku bisa tau tentang keadaanmu itu juga karena Kichida yang memberitahukannya kepadaku.”
“Apa hubungan antara kalian berdua? Sepertinya kalian terlihat dekat.”
“Kami tidak ada hubungan apa-apa, dia hanya menyampaikan itu karena aku teman sekelasnya saja.”
“Kichida itu memang orang yang baik ya...”
Baik ya... Aku tidak tau apakah sikapnya dia terhadap Miyuki dulu seperti itu juga atau tidak. Kalau memang sikapnya itu berubah hanya karena cinta, aku sangat menyayangkan itu sekali.
Setelah puas berbincang-bincang dengan Natasha, kami pun akhirnya pulang. Dan karena saat ini sudah sore, kami pun terjebak dengan arus kemacetan orang-orang yang baru saja pulang dari kantornya. Ini kenapa aku tidak mau pulang ketika magrib.
Kalau kita menggunakan pribadi mungkin tidak masalah karena kita dapat mampir terlebih dahulu ke masjid ketika azan magrib berkumandang, tapi kalau untuk transportasi umum itu lumayan sulit. Apalagi aku tidak pernah melihat tempat salat yang disediakan di halte bis, kalau kereta hampir di setiap stasiun ada tempat untuk salat jadi aku tidak perlu khawatir jika salat magribku terlewat.
“Apa yang akan kau lakukan setelah ini Mul?”
Siapa tau Maul ada rencana bagus untuk menghabiskan waktu sampai malam hari tiba.
“Sepertinya setelah ini, aku akan memperbaiki aplikasi meretasku karena tadi masih banyak sekali bug yang aku temukan.”
Walaupun sudah sehebat itu masih saja banyak bug? Aku tidak tau sesulit apa aplikasi itu ketika dibuat.
“Begitu.”
“Apa kau ingat perkataan Pak Hari waktu itu tentang penculikan Mar?”
“Tentu saja aku ingat.”
“Ternyata yang dia katakan itu benar.”
“Apa maksud benar di sini?”
Maul pun menunjukkan ponselnya kepadaku dan di sana terbuka sebuah halaman web berita yang berisi tentang penculika yang sedang marak terjadi.
Aku pun melihat di isi berita itu dikatakan kalau ada beberapa laki-laki yang menghilang dan tidak ditemukan dimana-mana. Keluarga dari para korban sudah melaporkan hal ini kepada para kepolisisan tapi sampai saat ini kasusnya belum jelas dalam penanganannya.
“Bapakku juga mengatakan kepadaku kalau ada peningkatan dari kasus yang akhir-akhir ini terjadi, kemudian hal itu membuat pihak kepolisian pun meningkatkan pengamanannya untuk meminimalisir peningkatannya yang lebih
banyak lagi.”
“Aku rasa meningkatkan pengamanan tidak menyelesaikan semuanya, itu hanya akan menimbulkan masalah baru saja.”
Berarti apa yang aku pikirkan waktu itu benar. Satu-satunya cara untuk menghilangkan kasus ini adalah dengan menghentikannya sampai ke akar yang berarti kita harus mencari orang-orang yang disogok di dalam kepolisian. Kalau hal ini tidak dilakukan maka hal yang sama akan terus terjadi dan tidak akan ada habisnya.
Dampak terburuk dari hal ini adalah jatuhnya nama baik kepolisian di mata masyarakat. Kalau masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan kepolisian, aku rasa itu akan sangat gawat sekali.
Bagaimana tidak, ketika para masyarakat sudah tidak percaya dengan aparat penegak hukum yang menjaga keamanan masyarakat, maka masyarakat akan selalu dihantui rasa was-was dimanapun itu.
“Sepertinya apa yang kau katakan itu benar.”
“Hmmm... Aku penasaran dengan bagaimana cara mereka menyelesaikan hal ini.”
Karena waktu mereka tidak banyak. Kalau mereka terus-terusan membuat kasus ini meningkat tanpa ada penanganan yang jelas dan efektif, ini sama saja seperti bom waktu bagi mereka.
“Apa kau tertarik dengan hal ini Mar?”
“Aku tidak tertarik untuk melakukannya, hanya saja hal ini sangat meresahkan sekali jika terus-terusan terjadi. Memang kita tidak terlalu mengalami dampaknya karena keluarga terdekat kita belum ada yang menjadi korban, tapi bagimana orang yang salah satu anggota keluarganya sudah menjadi korban. Pasti mereka sangat sedih sekali.”
“Tumben sekali kau memperdulikan orang lain, biasanya kau hanya memperdulikan diri sendiri. Sepertinya kau sudah berubah.”
Aku hanya menggunakan logika terbalik saja. Tentu aku memikirkan itu karena aku takut kalau ada keluarga atau orang terdekatku yang menjadi korban dari kasus itu.
“ Benarkah itu?”
“Yup, sekarang kau lebih memikirkan orang lain dibandingkan dirimu sendiri. Seperti kasus Kichida dan Natasha contohnya.”
“Aku sama sekali tidak menyadarinya.”
__ADS_1
Setidaknya perubahan yang aku alami sebuah perubahan yang baik.
-End Chapter 83-