
Hari berhari telah berlalu, sama seperti biasa aku mengikuti kegiatan pembelajaran yang menurutku sedikit membosankan karena aku hanya melakukan hal-hal seperti itu saja.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, setiap kali aku masuk ke dalam kelas. Aku selalu melihat Kichida yang sedang menggambar dengan buku gambarnya. Hal itu dia lakukan terus menerus dan setiap hari.
Aku tidak tau apa yang terjadi dengannya, tapi ketika semester satu dia tidak melakukan hal seperti ini. Bahkan aku baru saja melihat gambarnya saat semester dua ini.
“Ternyata kau begitu suka menggambar juga ya.”
Sapaku kepadanya pada pagi itu.
“Tentu saja, aku kan memiliki cita-cita sebagai komikus.”
Tumben sekali dia menggunakan istilah komikus untuk memberitahukannya kepadaku. Biasanya dia mengatakan dengan sebutan mangga apalah itu untuk memberitahu tentang komikus.
“Kalau begitu semangatlah.”
Seperti biasa, karena masih ada waktu sebelum kelas di mulai. Aku berniat untuk tidur sejenak karena kemarin malam aku merasa kurang tidur.
“Mar, apa aku boleh meminta waktumu sebentar?”
Dan di saat aku ingin menikmati kehidupanku, pasti ada saja seseorang yang mengacaukannya.
“Ada apa?”
Aku tidak mungkin menolak hal ini dan mengabaikannya. Aku memang tidak suka ketika ada orang menggangguku, tapi aku juga bukan orang yang menolak tawaran seseorang ketika dia ingin membicarakan sesuatu kepadaku.
“Bagaimana tanggapanmu tentang seorang komikus?”
“Apa yang ingin kau tanyakan?”
Aku masih tidak paham dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Kichida.
“Apa kau memandang buruk pekerjaan komikus?”
“Buat apa aku memandang buruk pekerjaan itu. Selama pekerjaan itu halal, itu tidak menjadi masalah menurutku.”
Lagi pula kantorku saat ini sangat bergantung dengan komikus yang ada di sana. Jika saja mereka tidak ada, kantorku juga tidak akan berjalan.
“Oh begitu.”
Aku melihat Kichida tidak puas dengan jawaban yang aku berikan.
“Apa ada masalah?”
“Sebenarnya ada sesuatu yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini.”
Jadi selama ini dia punya masalah, tapi aku sama sekali tidak menyadarinya. Apa Miyuki juga menyadarinya tentang hal ini?
“Apa itu?”
“Sebenarnya orang tuaku tidak menyetujui agar aku menjadi seorang komikus.”
Berat sekali kalau sudah membawa masalah orang tua.
“Alasannya?”
“Menurut orang tuaku, menjadi komikus tidak memiliki penghasilan yang tidak menentu dan selalu bekerja di bawah tekanan.”
“Emang iya?”
Aku pun mengingat-ingat kembali dengan semua komikus yang bekerja di Comic Universe. Tapi aku memang merasakan hal itu juga, apalagi ketika aku harus menghubungi para komikus yang belum mengupload komiknya di aplikasi. Karena aku bekerja di bagian editor, aku sangat sering sekali berinteraksi dengan komikus.
Tapi itu dulu, ketika karyawan belum sebanyak sekarang. Kalau sekarang, aku hanya memeriksa laporan yang diberikan oleh kepala divisi saja.
“Bagaimana pendapatan para komikus yang bekerja di Comic Universe?”
Kichida bertanya kepadaku.
“Kalau seandainya kau pernah membuka web dari Comic Universe, di sana dijelaskan tentang pendapatan yang didapatkan oleh komikus.”
Aku malas sekali untuk menjelaskan hal ini, tapi pasti dia membutuhkan jawabanku di sini untuk masalahnya itu.
“Setiap komikus akan mendapatkan pendapatan dari jumlah pembaca yang membaca komiknya, dan juga jumlah orang yang menyukai komiknya. Selain itu, mereka juga bisa mendapatkan tambahan uang dari penghargaan yang bisa mereka dapatkan setiap bulannya.”
Aku sangat mengetahui hal itu karena aku yang mengurus masalah itu. Setiap ada kebijakan baru soal komikus, pasti aku harus menandatanganinya sebelum diberikan kepada Pak Hari.
“Itulah kenapa orang tuaku mengatakan kalau penghasilannya tidak tetap.”
“Benar juga sih.”
Jika karyawan kantoran mungkin kita bisa tau berapa jumlah yang kita dapatkan setiap bulannya. Tapi kalau bekerja sebagai komikus, jumlah pembaca dan popularitas dari komik kita yang akan menentukan penghasilan kita. Memang jumlah pendapatannya bisa melebihi gaji karyawan kantoran, tapi itu tidak selamanya.
“Dan ditambah setiap minggu mereka harus mengeluarkan bab baru untuk komiknya agar pembaca bisa menikmati komik mereka.”
“Seharusnya jika kau ingin bekerja menjadi komikus, kau sudah harus menerima semua resiko itu.”
“Itulah yang membuat orang tuaku melarangnya.”
Aku tidak begitu mengerti bagaimana perasaannya Kichida saat ini karena aku tidak pernah dilarang oleh orang tuaku jika melakukan sesuatu selama sesuatu itu baik. Aku juga tidak bisa berkomentar banyak dan menyalahkan orang tua Kichida dalam masalah ini. Pasti ada alasan tersendiri kenapa orang tua Kichida melakukan hal itu.
“Mungkin orang tuamu hanya ingin kau merasakn yang namanya hidup saja.”
Aku mencoba agar orang tuanya Kichida terlihat baik dimatanya.
“Kenapa seperti itu?”
“Ya, mungkin orang tuamu tidak ingin kau merasa tertekan akan hal itu.”
“Tapi aku sangat menyukai menggambar dan menjadi komikus adalah cita-citaku dari kecil.”
Pihak manakah yang harus aku bela saat ini?
Kalau aku pribadi, aku lebih suka bersikap netral dalam hal ini. Itu jauh lebih baik daripada memihak salah satu.
“Kalau aku menjadimu, aku akan menunjukkan kepada orang tuaku kalau mereka salah dengan apa yang mereka yakini selama ini.”
“Itu menarik, lalu bagaimana caranya?”
“Mungkin aku akan menjadi komikus secara diam-diam dan menunjukkan kepada orang tuaku ketika aku sudah sukses.”
Dengan begitu mereka tidak mungkin akan keberatan dengan pekerjaan yang aku punya. Tidak mungkin ada orang tua yang keberatan ketika melihat anaknya memiliki sebuah pekerjaan yang sukses apapun itu.
Sebenarnya hal ini sangat simpel sih.
“Usulanmu boleh juga, mungkin akan aku coba.”
“Untuk saat ini, kau jangan sampai mengedepankan egomu. Pasti dibalik sesuatu yang diaktakan oleh orang tuamu itu ada kebaikan untuk Kichida sendiri.”
Aku bisa mengatakan hal ini karena Ustadz Adi yang mengajarkannya kepadaku. Seandainya pemikiranku saat ini masih sama dengan pemikiranku ketika berada di SMP. Mungkin aku tidak begitu memperdulikan perasaan orang tua Kichida dan menyalahkan orang tua Kichida karena menghalangi anaknya untuk melakukan sesuatu.
__ADS_1
“Sejak kapan kau mengatakan sesuatu yang baik seperti itu?”
Ternyata ada yang keberatan soal masalah itu. Ya aku bisa memaklumkan itu.. Awal-awal aku ketemu Kichida, sifatku juga bisa dibilang sedikit apatis terhadap sesuatu apapun dan tidak mau terlibat lebih jauh dengan urusan orang lain. Karena menurutku hal itu sangatlah merepotkan.
“Jadi selama ini yang aku katakan buruk semua?”
“Hahaha.. Tidak kok. Terima kasih ya atas masukannya.”
“Sama-sama, aku senang jika hal itu bisa membantumu.”
“Mar, apa kau mau membaca komikku terlebih dahulu saat sudah jadi nanti? Aku ingin kau menilainya sebelum aku mendaftarkannya di Comic Universe.”
Apa itu menyalahi aturan? Sepertinya tidak. Aku hanya memberikannya masukan dan tidak membantunya agar bisa lulus seleksi dengan mudah.
“Ok, kau bisa mengirim komikmu ke emailku agar bisa aku baca.”
“Terima kasih Mar!”
Kichida pun terlihat senang sekali.
“Apa Comic Universe tidak berniat untuk membuat aplikasinya ke berbagai macam bahasa?”
Kichida bertanya hal itu kepadaku.
“Kemarin kami baru saja membicarakan tentang hal itu.”
“Lalu hasilnya?”
“Kita membuat angket terlebih dahulu untuk melihat tanggapan dari orang-orang yang berada di luar Indonesia.”
“Hmm... Begitu.”
Kichida pun memikirkan sesuatu tentang hal itu dan aku merasa kalau dia akan bertanya kepadaku tentang sesuatu yang lain setelah ini.
Aku pun melihat ke arah jam dinding yang ada di depan kelas dan menunjukkan kalau waktu masuk tersisa tinggal sepuluh menit lagi.
“Bagaimana untuk sistem kontrak dan penerimaan untuk serialisasi jika aku sudah mengikuti seleksi itu jika kalian sudah membuka aplikasinya ke seluruh dunia Mar?”
“Kami belum membicarakan hal itu, karena kami menunggu hasil angketnya terlebih dahulu.”
Kemarin saja aku dengan Maul dan Pak Hari mengadakan rapat lagi soal masalah server yang mereka butuhkan jika mereka ingin membuka aplikasi itu hingga ke seluruh dunia. Aku rasa biaya yang mereka keluarkan akan hal itu cukup memakan banyak biaya.
Kemudian Natasha dan Riki pun tiba dari ruang guru setelah mengambil absen kelas.
“Apa yang kalian bicarakan?”
Riki bertanya kepada kami berdua.
“Kami sedang membicarakan komik saja.”
Ucapku kepadanya.
“Gambarmu keren juga Kichida.”
Riki melihat gambar Kichida yang berada di mejanya.
“Terima kasih.”
“Seperti yang aku harapkan dari komikus masa depan.”
Riki terus-terusan memuji Kichida yang membuat Kichida sedikit malu dan menyuruh Riki menghentikannya.
Natasha bertanya hal yang demikian kepadaku.
“Aku baru saja membicarakan hal itu dengan Kichida.”
“Aku mendengar hal itu dari seniorku, katanya kalau hal itu memang terjadi, kerja kami akan bertambah banyak.”
Sudah pasti ada karyawan yang mengkhawatirkan hal itu, Tapi tentu saja Pak Hari akan membuka lowongan kepada karyawan baru jika dibutuhkan.
“Tentu pekerjaan kita akan bertambah, selain mengedit layout cover ke dalam berbagai bahasa, kita juga harus bisa bahasa Inggris agar mudah berkomunikasi dengan komikus dari negara lain.”
Aku tidak membayangkan bagaimana ketika aku disuruh untuk menghubungi salah satu komikus dari luar negeri dalam bahasa Inggris. Bahasa Inggrisku memang tidak terlalu bagus, aku memang mengerti apa yang mereka tulis dan mereka katakan. Tapi aku tidak begitu bisa jika harus membalas ucapan mereka dengan bahasa Inggris.
“Memangnya kau bisa berbahasa Inggris Mar?”
Riki meragukan kemampuanku. Ya, memang kemampuanku tidak sebagus itu sih.
“Sesekali aku sering berbicara dengan orang luar negeri dengan bahasa Inggris di dalam gim yang aku mainkan. Jadi setidaknya aku sedikit bisa berkomunikasi dengan mereka.”
“Berarti aku bisa belajar denganmu tentang bahasa Inggris nanti Mar.”
Ucap Kichida kepadaku.
Aku merasa keberatan sekali akan hal itu karena aku tidak begitu bagus dalam bahasa Inggris.
“Apa kau mengalami kesulitan dalam bahasa Inggris?”
“Aku baru saja belajar bahasa Inggris ketika menginjak SMP dan aku masih sedikit bingung dengan kaliamat yang ada di sana. Lalu aku juga perlu belajar bahasa Indonesia yang menurutku juga sedikit membingungkan.”
Walaupun dia sudah lancar berbahasa Indonesia dia masih bingung akan itu?
Aku tidak bisa menyalahkannya. Aku juga yang sebagai orang Indonesia jika disuruh berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar sedikit tidak mengerti.
“Aku tidak pandai dalam mengajarkan orang apalagi bahasa Inggris.”
Ucapku kepada Kichida.
“Sayang sekali.”
“Lebih baik kau bermain gim saja agar bisa lancar bahasa Inggris. Aku memang awalnya bisa berbahasa Inggris dari gim. Tidak ada salahnya jika kau mencoba cara yang sama sepertiku.”
“Aku tidak suka bermain gim.”
Kasihan sekali jika dia tidak suka bermain gim. Apa Miyuki dan Yoshida juga tidak begitu suka bermain gim? Aku juga tidak pernah mendengarkan mereka berdua berbicara tentang gim kepadaku.
Mungkin yang mereka lakukan sehari-hari hanya untuk belajar saja.
“Ini sulit sekali.”
“Bagaimana dengan menonton film dengan menggunakan terjemahan bahasa Inggris?”
Riki menyarankan saran yang cukup bagus kepada Kichida.
“Aku sudah melakukan hal itu.”
Dan ternyata Kichida sudah melakukannya.
“Berarti kau harus lebih banyak menonton filmnya lagi.”
__ADS_1
Teng... Teng... Teng... Teng....
Bel pun berbunyi dan guru yang mengajar pun masuk. Semua murid langsung duduk di mejanya masing-masing dan bersiap untuk mengikuti pelajaran sebelumnya.
Waktu pun berlalu dan bel istirahat berbunyi. Sebelum istirahat, Rina mengirimku sebuah pesan untuk datang ke kantin terlebih dahulu karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan denganku.
“Ayo Mar!”
Riki mengajakku untuk pergi bersama ke tempat biasa.
“Kau duluan saja, aku mau pergi ke kantin sebentar.”
“Tumben sekali kau pergi ke kantin, memangnya kau tidak membawa bekal?”
“Tidak aku membawanya, tapi aku ingin mencari sesuatu di sana untuk menambah laukku.”
“Kalau begitu aku duluan.”
Riki pun pergi bersama dengan Natasha dan Kichida ke tempat biasa untuk menghabiskan bekalnya.
Ketika aku sampai di kantin, suasana di sana sangat ramai sekali. Aku melihat lautan manusia yang ada di sana sedang memesan makanan di setiap penjual yang ada di sana. Bukan hanya murid saja yang ada di sana, bahkan ada guru-guru yang ikut makan di sana juga.
Aku pun mencari Rina dalam kondisi orang yang sebegitu banyaknya.
Dimana dia?
Aku mencari dan melihat satu per satu setiap siswi yang menggunakan hijab.
“Ar!”
Terdengar suara Rina dari arah belakangku.
Aku pun menoleh dan ternyata dia baru tiba di sana.
“Maaf aku baru sampai di sini Ar, tadi ada yang harus aku lakukan terlebih dahulu di kelas.”
“Tidak masalah, jadi apa yang ingin kau bicarakan?”
“Apa akhir pekan nanti kamu sibuk?”
Akhir pekan ya?
Selain bermalas-malasan di rumah dan bermain gim, sepertinya tidak ada yang akan aku lakukan. Pak Hari juga sepertinya tidak akan mengadakan rapat lagi dalam waktu dekat.
“Tidak ada, memangnya kenapa?”
“Aku berniat untuk memilikan Miyuki hadiah ulang tahun.”
“Memang sebentar lagi Miyuki ulang tahun?”
“Iya, tepat tanggal 23 Januari.”
Kalau sekarang tanggal tanggal 14 Januari berarti masih ada waktu seminggu lagi sebelum hari ulang tahunnya, Kalau ibuku sampai tau hal ini pasti aku disuruh membelikannya hadiah.
“Kenapa dia tidak memberitahukan yang lainnya tentang hal ini ya? Biasanya orang seperti dia akan memberitahukan teman-temannya jika ada acara seperti ini.”
“Mungkin dia akan memberitahukannya saat mendekati harinya.”
“Jadi kau mau aku temani pergi ke mana?”
“Aku ingin pergi ke mal yang ada di dekat rumah saja.”
Apa aku akan membelikan Miyuki hadiah dari internet apa tidak ya?
Lebih baik aku ikut dengan Rina saja, siapa tau saat di mal nanti, aku mendapatkan barang yang cocok untuk dijadikan hadiah, atau Rina dapat memberikanku masukan nantinya.
“Baiklah, aku akan menemanimu.”
“Benarkah itu?”
“Iya, aku juga ingin membelikan hadiah untuk Miyuki.”
Wajah Rina yang sebelumnya terlihat senang menjadi cemberut setelah mendengar hal itu.
“Ada apa?”
“Tidak ada.”
Kau berkata tidak ada tapi wajahmu mengatakan kalau ada sesuatu hal yang sedang mengganggumu.
“Ya sudah.”
Aku tidak begitu peduli akan hal itu. Terlalu merepotkan memahami perasaan wanita.
“Ar!”
“Yo?”
“Apa kamu masih mau menyelesaikan kasus tentang penculikan ini?”
Saat Rina mengatakan hal itu aku melihat ke arah sekitar karena aku takut ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan kami. Tapi karena saat itu kondisinya juga bising, suara Rina tidak begitu terdengar oleh orang lain.
“Aku tidak berminat untuk menyelesaikannya.”
“Kamu bohong Ar?”
“Kenapa kau berbicara seperti itu?”
“Kamu selalu berkata seperti itu agar aku dan yang lainnya tidak khawatir, tapi ujung-ujungnya kau tetap melakukan hal itu.”
Aku tidak bisa memungkirinya.
“Sebenarnya aku tidak mau melakukannya juga. Hanya saja, aku tidak bisa membicarkan jika ada temanku yang terlibat dalam masalah itu.”
“Itulah Amar yang aku kenal.”
Dari wajah yang sedikit marah, kemudian Rina tersenyum kepadaku.
Aku memang tidak bisa menebak apa yang sedang perempuan rasakan saat ini.
“Sudahlah, lebih baik kita bergabung dengan yang lainnya atau mereka akan curiga dengan kita.”
“Hum.”
Saat itu, aku menyuruh Rina untuk pergi terlebih dahulu agar kami tidak sampai secara bersamaan. Kalau kami sampai secara bersamaan, pasti Riki dan Maul akan habis meledek kami berdua.
Apalagi dengan Miyuki, dia pasti akan bertanya kepada kami secara terus menerus. Aku tidak mau berada di dalam kondisi itu.
-End Chapter 124-
__ADS_1