
“Kenapa aku harus bermain di sini!”
Aku pun menghela nafas yang cukup panjang ketika tau biaya dari penyewaan lapangan selama sejam.
Saat ini aku sedang berada di gelanggang olahraga yang berada di dekat rumahku untuk bermain bulu tangkis di sana. Sebenarnya aku sudah merekomendasikan beberapa lapangan bulu tangkis yang bisa disewa dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan lapangan ini, tapi karena Riki memaksa untuk menggunakan lapangan yang ada di gor ini, jadi mau tidak mau aku harus menurutinya, lagipula dia juga yang memesan lapangan.
“Memangnya kenapa Mar? Bukankah lapangan ini bagus.”
Riki yang baru saja melakukan pemanasan langsung menghampiriku yang masih duduk di pinggir lapangan.
“Kau tidak salah, lapangan ini memang bagus. Tapi harga sewa lapangan di sini terlalu mahal, dua kali lipat harga lapangan biasanya.”
“Aku rasa itu tidak masalah, fasilitas di sini juga lumayan bagus.”
Maul pun menggunakan sepatunya untuk bersiap-siap masuk ke lapangan.
“Memangnya kau mau mengajak orang-orang seperti mereka main di lapangan biasa?”
Ucap Riki sambil melihat ke arah Miyuki, Kichida, Yoshida, dan Takeshi.
“Apa salahnya dengan mengajak mereka ke lapangan biasa?”
“Mereka tidak mungkin mau main di lapangan biasa yang panas dan pengap seperti itu Mar.”
Padahal ketika kita bermain juga rasa panas dan pengap itu tidak terlalu terasa.
“Mungkin kau benar Rik, apalagi saat ini kita sedang mengajak tuan putri. Pasti dia akan terus mengeluh kepadaku kalau aku mengajaknya ke tempat seperti itu.”
Ah.. Aku punya ide. Bagaimana kalau aku memanfaatkan orang-orang itu untuk membayar lapangan ini? Aku yakin saat ini mereka membawa uang banyak dan aku bisa menggunakan itu untuk menghemat pengeluaranku. Hehehehehe....
“Ayo Mar! Kamu lama sekali, nanti jamnya keburu habis.”
Miyuki memanggilku dengan lambaian tangannya dari tengah lapangan.
“Anak perempuan main saja duluan, jangan lupa untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu.”
Suruhku kepada mereka. Sebenarnya saat ini aku ingin beristirahat terlebih dahulu karena aku masih lelah setelah mengerjakan pekerjaan rumah.
“Ayo kita bertanding Mar!”
Apa yang ada dipikiran anak ini hanya bertanding saja?
“Tidak mau.”
Saat ini aku sedang tidak mau meladeni Takeshi.
“Apa kau takut?”
“Aku sedang tidak niat untuk melakukan hal seperti itu.”
Kami pun menunggu giliran sambil memperhatikan para perempuan bermain di lapangan. Saat ini yang sedang bermain ada Miyuki yang satu tim dengan Rina dan Kichida yang satu tim dengan Yoshida. Aku pun melihat banyak sekali orang yang berada di sana juga memperhatikan mereka bermain.
“Aku tidak begitu jago dalam bermain badminton.”
Ucap Maul sambil mengayunkan raketnya ke atas dan ke bawah.
“Kita di sini hanya untuk bermain bukannya bertanding, jadi tenang saja.”
Ketika di tengah pertandingan, aku pun melihat Kichida yang tiba-tiba melepaskan raket dari tangannya. Sepertinya dia sedang terkena kram di daerah pergelangan tangan kanannya, aku dapat tau itu karena dari tadi Kichida selalu memegang pergelangan tangan kananya setelah memukul bola.
“Sepertinya kau kurang pemanasan tadi.”
Aku pun menghampiri Kichida dan menyuruhnya untuk pergi ke pinggir lapangan dulu.
“Apa Kichida tidak apa-apa Ar?”
Daripada mengkhawatirkan Kichida, lebih baik kau memperhatikan dirimu saat ini Rina. Kau terlihat kelelahan sekali, padahal aku rasa kalian baru bermain setengah set. Aku sudah menduganya dari awal kalau Rina tidak memiliki stamina yang bagus.
“Kau beristirahat dulu saja Rina, tidak usah dipaksakan.”
Rina pun akhirnya istirahat bersama dengan Kichida.
Hmm... Aku sepertinya dapat menggunakan kesempatan ini.
“Oi Takeshi! apa kau masih ingin bertanding denganku?”
“Tentu saja.”
Takeshi langsung bersemangat ketika mendengar itu.
“Ayo kita bertanding dua babak, kau berpasanganlah dengan Miyuki, aku akan berpasangan dengan Yoshida. Siapa yang kalah harus membayar lapangan ini selama satu jam. Bagaimana?”
Karena Riki memesan lapangannya selama dua jam, kalau seandainya Takeshi membayar lapangannya untuk satu jam pertama setidaknya uangku akan tersisa banyak, soalnya aku hanya perlu patungan lapangan untuk satu jam saja.
“Kau curang Mar memilik Yoshida yang bergabung ke dalam ekskul badminton sebagai rekan satu timmu, sudah pasti kau akan menang.”
Takeshi tidak terima dengan persyaratan yang diberikan oleh Amar.
Ini aneh, aku kira Takeshi akan merasa baik-baik saja jika aku pasangkan dengan Miyuki. Apa rasa bencinya dia terhadapku masih lebih besar dibandingkan rasa cintanya terhadap Miyuki?
“Baiklah kalau itu maumu aku akan berpasangan dengan Miyuki dan kau berpasangan dengan Yoshida.”
“OK!”
Sip akhirnya dia setuju juga, sekarang yang harus aku pikirkan bagaimana caranya aku mengalahkan mereka berdua. Aku tidak bisa menganggap remeh kemampuan Takeshi dalam olahraga selain itu juga aku yakin Yoshida memiliki kemampuan yang hebat karena dia bergabung di dalam ekskul badminton, pasti dia sudah sering berlatih di ekskulnya, dan ditambah lagi saat ini aku berpasangan dengan Miyuki. Hmmmm....
“Apa itu tidak masalah buatmu Mar? Aku tidak begitu bagus dalam bermain badminton.”
Ucap Miyuki kepadaku.
“Tenang saja, kalau aku melakukan ini sudah pasti aku yakin kalau kita bisa menang. Aku tidak akan melakukan pertaruhan yang aku akan kalah di dalamnya.”
__ADS_1
“Kalau begitu aku akan berusaha semampunya.”
Bagus, dia sepertinya menjadi semangat. Kalau begitu tinggal mencari cara supaya Yoshida dan Takeshi selalu mengembalikan koknya kepadaku.
“Nanti selama pertandingan kau selalu berada di depan saja, biar bagian belakang aku yang menjaganya.”
Aku pun memerintahkan sesuatu kepada Miyuki. Karena aku sudah mengetahui bagaimana caranya memenangkan pertandingan ini.
“Baiklah.”
“OI! Katanya tadi ini permainan bukan pertandingan, tapi kenapa kau malah menganggap ini sebagai pertandingan Mar! Kau terlalu bersemangat dalam hal ini.”
Ucap Maul dari pinggir lapangan.
“Selama ada uang, aku pasti akan bersemangat.”
Pertandingan pun dimulai dan kami mulai bertanding dengan sangat sengit, tetapi aku dapat memenangkan pertandingan itu dengan mudahnya.
“Aku menang Takeshi! Jangan lupa membayar lapangan ini untuk sejam.”
Aku pun senang sekali mengingat uangku yang tidak kurang terlalu banyak.
“Sial! Aku kalah lagi dari Amar.”
“Masih perlu belajar sepuluh tahun hingga dapat mengalahkanku hahahahaha...”
Aku pun meledeknya habis-habisan.
“Hebat sekali kamu Miyuki dapat mengalahkan Takeshi dan juga Yoshida.”
“Aku merasakan bahwa aku tidak banyak bermain di sini, Amar selalu mengembalikan koknya walaupun aku melakukan sebuah kesalahan.”
Miyuki merasa tidak puas karena hanya menjadi pelengkap saja di lapangan tadi.
“Benarkah itu? Aku melihat dari pinggir lapangan kalau kamu juga bermain dengan sangat sengit tadi.”
“Apa yang baru saja kamu lakukan Mar?”
Miyuki yang masih merasa tidak puas langsung bertanya kepadaku ynag sedang menikmati kemenangan.
“Aku tidak melakukan apapun.”
“Kita harus segera main sebelum waktunya habis, ayo Mul!”
“Ayo!”
Riki dan Maul pun pergi ke lapangan untuk melakukan pemanasan.
“Sepertinya tanganku juga sudah tidak masalah. Ayo Rina kita bermain juga!”
“Hum!”
Begitu juga Rina dan Kichida yang pergi ke lapangan.
Aku memperingatkannya dari pinggir lapangan.
“Iya!”
“Ciiiiiiiiiiii.......”
Miyuki masih menatapku dengan curiga, sepertinya dia tau kalau aku sudah berbuat sesuatu dalam pertandingan tadi.
“Aku hanya mencoba untuk membantumu saja tadi.”
“Membantu?”
“Aku tidak memberikan kepada Yoshida dan Takeshi bola yang bagus untuk dikembalikan, makanya kau selalu mendapatkan bola yang mudah untuk dipukul.”
“Pantas saja kamu selalu memukul koknya dekat dengan net.”
“Hebat sekali kamu Mar bisa mengontrol kok hingga seperti itu.”
Sekarang kecurigaan Miyuki sudah hilang dan dia pun menjadi kagum kepadaku.
“Aku sudah lama bermain badminton dan masih sering bermain dengan teman-temanku hingga saat ini, jadi melakukan hal itu adalah hal yang mudah. Kalau kau juga sering latihan setiap minggu, mungkin kau juga bisa melakukannya. Ini bukanlah sesuatu hal spesial yang hanya bisa dilakukan olehku.”
“Apakah kamu masih memiliki hal lain yang disembunyikan lagi Mar?”
“Apa yang harus aku beritahu kepadamu memangnya?”
“Semuanya.”
“Ayolah, kemampuan yang aku punya tidaklah sehebat itu, masih banyak orang yang lebih hebat dibandingkan denganku. Aku terlihat jago karena bermain dengan kalian, jika aku bermain dengan orang yang sudah ahli juga aku terlihat biasa-biasa saja.”
“Heee... Tapi aku masih penasaran dengan piala dan medali yang kamu sembunyikan di kamarmu.”
Miyuki bodoh! Kalau kau mengatakan itu di sini, pasti Yoshida yang sedang di sini akan penasaran juga.
“Piala dan medali!?”
Tuh kan... Kau harus menyelesaikan ini sendiri.
“Jadi waktu itu-“
Kemudian Miyuki pun terdiam ketika melihat Takeshi yang sudah kembali setelah membeli minuman. Aku yakin dia sudah memikirkan hal ini sebelumnya, karena jika Takeshi tau kalau ibunya Miyuki dan ibuku adalah teman dekat pasti dia akan melakukan hal yang sangat merepotkan dan Miyuki sudah menyadari hal itu.
“Kenapa kamu diam Miyuki?”
Yoshida yang melihat Miyuki diam langsung heran.
“Tidak, aku hanya pernah diceritakan oleh temanku yang dekat dengan Kak Alvin kalau Amar memiliki banyak sekali medali dan piala di rumahnya.”
__ADS_1
Ekspresi Miyuki pun tampak aneh, dia terlihat gugup dan tangannya sedikit gemetar. Aku rasa dia tidak pernah membohongi seseorang sama sekali semasa hidupnya. Sebuah percobaan yang hebat untuk menyembunyikan
sesuatu Miyuki.
“Kak Irfan juga sering berkata kalau dia ingin bermain dengan Amar dalam sebuah tim. Apa kemampuanmu memang sehebat itu Mar?”
Ucap Takehsi kepadaku dengan sedikit kesal.
“Mungkin dia hanya rindu untuk bermain bersama dengan teman-teman lamanya saja.”
“Ciiiiiii.....”
Takeshi pun menatapku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan barusan.
“Hentikan itu, ketika ada seseorang yang melihatku seperti itu, ujung-ujungnya hanya akan ada hal merepotkan datang.”
“Kenapa kau tidak masuk ke ekskul basket saja? Dibandingkan ekskul rohis yang anggotanya sedikit bukankah kau masih bisa berkembang di ekskul basket?”
Peduli apa Takeshi denganku.
“Aku memilih ekskul rohis karena aku tidak ingin merasa lelah setelah seharian beraktifitas di sekolah. Ada hal lain yang ingin aku lakukan selain itu.”
“Ngomong-ngomong bagaimana pertandingan untuk O2SN di tim basket?”
Yoshida bertanya kepada Takeshi.
“Untuk O2SN yang bermain adalah kakak-kakak kelas tiga dan kelas dua, sedangkan kelas satu hanya beberapa orang saja yang menjadi cadangan.”
“Bukankah itu deskriminasi?”
“Itu bukan deskriminasi, memang kemampuan dari anak kelas tiga dan dua lebih hebat dibandingkan anak kelas satu. Belum ada anak kelas satu yang dapat mengalahkan mereka dan menjadi pemain awal dalam pertandingan.”
Takeshi menjelaskan itu kepada Yoshdia.
“Jadi begitu.”
“Kau sendiri bagaimana?”
Tanya balik Takeshi kepada Kichida.
“Kalau di ekskul basket hanya satu orang saja yang berhasil lolos di babak penyisihan dan tinggal menunggu pertandingan terakhir saja.”
“Kurasa kalau Amar masuk ekskul basket, dia akan menjadi anak kelas satu yang akan menjadi pemain inti untuk yang bertama kalinya.”
Aku yang sedang diam memperhatikan pertandingan Riki dan Maul tiba-tiba terpanggil.
“Apa-apaan itu? Sejak kapan kau mulai memujiku.”
“Memang ada salahnya jika aku memujimu.”
Lebih baik tidak usah memancing emosi darinya untuk saat ini.
“Itulah salah satu alasan kenapa aku tidak mau masuk ke ekskul basket.”
Ucapku kepada mereka.
“Memangnya kenapa Mar?”
Miyuki tiba-tiba duduk tepat di sampingku dan meminum minuman yang sudah disediakan di sana.
“Kalau aku masuk ke ekskul basket dan menjadi pemain inti di sana, pasti ada beberapa kakak kelas yang tidak suka dengan hal itu.”
“Bukankah itu tidak masalah kalau kemampuanmu bisa bersaing dengan mereka.”
“Basket bukan hanya sekedar kemampuan saja Miyuki, namun harga diri juga ada dalam hal tersebut. Bayangkan jika aku masuk ke ekskul basket dan menjadi pemain inti, lalu ada beberapa kakak kelas yang tidak suka dengannya. Itu akan mendatangkan hal merepotkan lainnya.”
Karena aku pernah merasakan hal itu ketika di SMP, makanya aku tidak bergabung di ekskul basket saat SMP karena ada beberapa kakak kelas yang tidak suka jika aku menjadi pemain inti, daripada aku mendapatkan sesuatu yang merepotkan jadi aku lebih memilih untuk keluar dari ekskul basket.
“Aku paham apa yang baru saja kamu katakan Mar. Aku bersyukur karena di dalam badminton tidak ada hal seperti itu, karena kita hanya perlu mengasah kemampuan individu kita masing-masing.”
“Ternyata kamu itu orang yang terlalu banyak berpikir sebelum melakukan sesuatu ya Mar.”
Ucap Miyuki kepadaku.
“Aku tidak mau melakukan sesuatu hal yang sia-sia.”
“Apa kamu tidak pernah bertaruh dengan risiko Mar?”
“Hanya ada beberapa situasi saat aku melakukan hal itu.”
Aku hanya akan bertaruh dengan risiko jika aku sudah tidak bisa lagi memikirkan bagaimana kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Biasanya di saat seperti itu aku hanya mengandalkan takdir, dan keberuntungan ketika melakukannya. Tapi aku sangat jarang melakukan hal itu, karena aku tidak pernah berada dalam kondisi tertekan yang membuatku harus melakukan hal tersebut.
“Basket, gim, dan sekarang badminton. Apa kau itu tipikal orang yang dapat melakukan segala sesuatu?”
Takeshi bertanya kepadaku.
“Aku sudah mengatakan hal ini. Aku bukanlah orang yang dapat melakukan segalanya, ada juga beberapa hal yang tidak bisa aku lakukan. Hanya saja kebetulan kau mengajakku bertanding di bidang yang aku jago di sana, jadi kau tidak bisa mengalahkanku.”
Lagipula kalau seandainya Takeshi mengajakku bertanding di sesuatu yang aku rasa tidak dapat menang darinya, aku tidak akan menerima ajakkannya itu. Tapi sepertinya tidak ada salahnya memberikan dia satu kemenangan kapan-kapan.
“Lalu apa yang tidak bisa kamu lakukan Mar?”
Matanya Miyuki pun kembali berbinar-binar ketika bertanya kepadaku.
“Tentu saja itu rahasia.”
“Heee...”
Miyuki merasa kecewa dengan jawaban dariku.
Mana mungkin aku memberitahu kalian dengan sesuatu yang dapat kalian gunakan untuk melawanku. Aku pasti akan menyembunyikannya hingga kalian tidak dapat mengetahui tentang hal itu.
__ADS_1
-End Chapter 72-