
“Kau duluan saja Mul.”
“Mau kemana kau Mar?”
“Aku mau pergi ke toko buku untuk membeli komik dan mouse baru. Mouse lamaku sudah rusak, jadinya aku mau membeli yang baru.”
“Makanya kalau bermain gim jangan terlalu kasar. Apa aku perlu menemani?”
“Tidak usah.”
“Ok, kalau begitu aku duluan.”
Maul pun pergi meninggalkanku di halte bis.
Kemudian aku pun melangkahkan kakiku menuju ke mal yang berada tidak jauh dari halte bis Cibubur. Saat aku sampai di mal itu, keadaan di sana tidak ramai dengan pengunjung. Itu sudah jelas terjadi mengingat kalau sekarang sudah malam dan hari ini bukanlah hari libur. Tanpa basa-basi, aku langsung menuju ke toko buku yang berada di lantai paling atas.
Niatnya hari ini aku ingin mengunjungi toko buku dan toko komputer, tapi karena toko buku berada di lantai yang berbeda, jadi aku ingin menuju ke tempat yang paling jauh terlebih dahulu dan mengakhirkan toko komputer karena tokonya terletak di dekat pintu keluar. Itu memudahkanku saat aku ingin pulang.
Ketika berada di toko buku, aku langsung mencari komik yang sedang direkomendasikan di sana. Aku tidak mau menghabiskan banyak waktu di sini karena ini sudah malam dan aku rasa sebentar lagi toko-toko yang ada di mal ini akan tutup.
“Ternyata komik ini sudah rilis di Indonesia.”
Aku mengambil komik Yamaha dan Tujuh Montir yang berada di rak rekomendasi.
Mumpung komik ini sudah rilis, lebih baik aku membelinya untuk melihat bagian mana yang menarik dari komik ini. Mungkin ketika di sekolah besok Kichida akan menyuruhku untuk membeli komik ini, jadi lebih baik aku beli saja sekarang.
Saat aku hendak mengambil komik itu, ternyata ada juga seorang perempuan yang ingin mengambil komik yang sama denganku. Karena dia ingin mengambil komik itu aku pun menarik tanganku kembali dan membiarkan dia mengambilnya, aku tidak mau kejadian yang sering terjadi di film-film terjadi kepadaku, lagipula komiknya masih banyak.
“Amar!”
Perempuan ini pun menoleh dan menatapku dengan sangat dalam.
Ya.. Dia Miyuki!
Sudah lama sekali aku tidak merasakan kejadian ini.
“Sedang apa kamu di sini? Apa kamu baru pulang kerja?”
“Iya, aku baru saja pulang dan berniat untuk mencari komik baru untukku baca.”
Aku pun mengambil komik Yamaha dan Tujuh Montir yang berada di sana.
“Apa kamu mau membaca komik itu juga? Bukannya dulu kamu pernah berkata kalau komik itu aneh, kenapa kamu mau membacanya?”
Miyuki mencoba untuk meledekku. Karena saat ini kepalaku masih pusing berkat rapat tadi dan aku masih lelah karena baru saja pulang dari kantor, aku pun tidak menanggapinya.
“Kenapa?... Kenapa?... Kenapa?”
Perempuan ini sangat menyebalkan jika didiamkan.”
“Aku hanya ingin memastikan dimana bagian menariknya. Sekarang kau sudah puas?”
“Hmm.. Begitu.”
Aku pun mulai pergi ke meja kasir untuk membayar komik yang aku beli dan Miyuki mengikutiku ke sana.
“Kenapa kau mengikutiku?”
“Tentu saja aku ingin membayar buku ini juga.”
Sudahlah, lebih baik aku segera menuju ke toko komputer. Tetapi saat aku selesai membayar buku itu dan menuju ke toko komputer, Miyuki masih mengikutiku.
“Bagaimana pekerjaanmu hari ini Mar?”
“Hari ini aku ada rapat untuk menentukan karyawan baru dan pengembangan aplikasi lagi.”
“Sepertinya berat.”
Kalau kau tau itu berat, berhentilah untuk berbicara sejenak.
“Begitulah.”
“Misaki juga membaca komik di Comic Universe loh! Ketika aku menceritakan kalau aplikasi itu kalu yang membuatnya, dia pun langsung senang dan selalu bertanya kapan kamu main ke rumah. Katanya hari ini dia memamerkan aplikasi itu kepada teman-temannya.”
Miyuki pun bercerita banyak tentang Misaki.
“Seharusnya kau tidak perlu mengatakan itu.”
“Kenapa? Bukankah bagus kalau memiliki teman yang sukses. Mama juga terkejut ketika tau kalau kau yang membuat aplikasi itu, pantas mama sudah tidak pernah bertemu denganmu lagi di tukang sayur.”
Semenjak aku bekerja dan memiliki penghasilan, aku lebih sering membeli makanan jadi dibandingkan memasak di rumah. Hal itu dikarenakan aku tidak memiliki waktu untuk memasak mengingat aku selalu sampai di rumah pada malam hari.
Ketika sampai di rumah biasanya aku langsung mengerjakan pekerjaanku dan selesai pada malam hari, dan saat itu aku sudah sangat malas untuk memasak. Itulah kenapa aku sekarang lebih memilih beli makanan jadi, biar setelah bekerja aku bisa langsung memakannya.
“Kau mengatakan itu juga kepada ibumu! Bagaimana jika dia mengatakan hal itu kepada ibuku. Aku belum menceritakannya kepada kedua orang tuaku kalau aku memiliki sebuah pekerjaan.”
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak mengatakan itu orang tuamu Mar?”
“Aku hanya berfirasat kalau menceritakan tentang hal ini kepada mereka, aku akan dimarahi.”
“Kenapa?”
“Entahlah, itu hanya firasatku saja.”
“Kamu tenang saja Mar, aku yakin kalau orang tuamu tidak akan memarahimu.”
Miyuki mencoba untuk memberikanku sebuah dukungan.
“Kenapa kau bisa begitu yakin?”
“Ketika aku bertemu dengan orang tuamu, sepertinya mereka bukanlah orang yang memarahi anaknya jika anaknya melakukan sesuatu yang membanggakan seperti ini.”
“Mungkin begitu, tapi biarlah waktu yang mengungkapkannya. Ngomong-ngomong sedang apa kau di toko buku tadi?”
“Aku baru saja membeli buku pelajaran tentang jurusanku.”
Baru kali ini aku melihat Miyuki yang membeli buku pelajaran. Aku kira awalnya Miyuki adalah murid yang pintar karena masuk peringkat lima besar saat ujian masuk, dan mudah baginya memahami pelajaran hanya dengan buku pelajaran dari sekolah. Tapi aku salah, ternyata dia bukanlah orang seperti itu.
“Sejak awal masuk ke jurusan farmasi, aku sama sekali tidak tau apa-apa tentang jurusanku, jadi setidaknya aku ingin sedikit memahaminya.”
Untuk seseorang yang masuk karena orang lain, sepertinya itu bisa saja terjadi. Kalau kalian ingat bahwa alasan Miyuki masuk ke SMK Sawah Besar karena Rina juga masuk di sana, dan saat aku tanyai tentang jurusannya ketika di Kepulauan Seribu, dia saja masih bingung mau melanjutkan kemana.
“Lagian kau masuk ke jurusan itu hanya karena Rina masuk ke sana, seharusnya kau melihat-lihat semua semua jurusan yang ada di sana sebelum memilih. Kalau aku sarankan seharusnya kau masuk ke administrasi perkantoran yang tidak terlalu merepotkan.”
Sebenarnya aku ingin merekomendasikan multimedia kepadanya karena diantara semua jurusan di SMK Sawah Besar, aku rasa hanya jurusan multimedia saja yang pelajarannya paling mudah.
Tapi kalau aku mengatakan hal itu, pasti dia akan salah paham dan menganggapku ingin bersama dengannya.
“Aku lebih memilih kehidupan sekolah yang menyenangkan dibandingkan prestasi yang gemilang.”
Woah! Apa dia masih tidak bisa melupakan traumanya di masa lalu?
“Apa kau sudah mendapatkan hal itu?”
“Tentu saja, selama ada kamu dan juga yang lainnya di sekolah, aku rasa kehidupan sekolahku tidak akan pernah membosankan.”
Miyuki pun tersenyum saat mengatakan itu.
“Syukurlah kalau begitu.”
“Apa barusan kamu tersenyum?”
“Setelah ini kamu mau pergi ke mana Mar?”
Aku rasa dia ingin mengikuti sampai ke tempat berikutnya, tapi aku tidak bisa berbohong kepadanya saat ini. Lebih baik mengatakan sebenarnya daripada terjadi hal yang merepotkan.
“Toko komputer.”
“Mau beli apa kamu di sana?”
“Mouse, mouse-ku sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Aku rasa kabel di dalamnya ada yang terputus.”
“Bukannya di laptop sudah ada mouse-nya juga? Kenapa kamu harus membeli mouse lagi?”
Apa selama ini dia tidak pernah menggunakan mouse dengan laptopnya?
“Kalau untuk mengedit sesuatu, lebih enak jika menggunakan mouse karena dapat bergerak lebih cepat dan juga mempermudah dalam bekerja.”
“Hee.. Jadi begitu, sepertinya aku juga ingin melihat-lihat headphone di sana. headphone-ku yang sekarang sering digunakan oleh Misaki dan dia tidak pernah mengembalikannya kepadaku.”
Miyuki yang malang! Nadira juga suka menggunakan barang-barangku, tapi dia selalu menggunakannya di kamarku dan tidak pernah membawanya pergi.
Akhirnya kami pun sampai di toko komputer. Aku langsung berpisah dengan Miyuki di sana karena rak tempat alat yang kami cari berada di tempat yang berbeda.
...
Sip! Mouse-nya sudah aku dapatkan dan tinggal di bayar saja.
Aku memang tidak pernah lama dalam membeli barang apapun. Karena sebelum membeli barang, aku pasti melihatnya terlebih dahulu di internet, jadinya ketika datang ke toko komputer, aku sudah tau apa yang harus aku beli. Kecuali jika saat aku sampai di toko komputer barang yang aku ingin beli tidak ada, di saat itu aku baru memerlukan waktu yang cukup lama untuk memikirkan barang apa yang harus aku beli untuk menggantikan barang sebelumnya.
Karena aku ke sini bersama Miyuki, aku pun berniat untuk menghampirinya dan mengatakan kalau aku sudah mendapatkan barang yang aku inginkan. Tetapi aku menemukan Miyuki bukan di rak yang berisi headphone melainkan di rak yang menjajakan laptop di sana.
“Apa kau ingin membeli laptop?”
Tegurku kepadanya.
“Apa kamu sudah mendapatkan barangmu?”
Aku pun menunjukkan mouse yang ingin aku beli.
“Kalau begitu ayo kita bayar barang yang kamu beli itu dan langsung pulang.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan headphone-mu, Kau tidak jadi beli?”
“Aku bisa membelinya lain kali.”
Setelah membayar mouse yang aku beli, kami pun beranjak untuk pulang. Karena sekarang sudah larut malam dan aku sedang bersama dengan Miyuki lagi, mau tidak mau aku harus mengantarkannya ke rumah.
“Apa kau mau membeli laptop?”
Aku penasaran akan hal itu, karena aku melihat dia sangat fokus ketika melihat laptop-laptop yang ada di sana.
“Aku sudah memiliki sebuah laptop tapi laptopku sering digunakan oleh Misaki. Malahan lebih banyak dia menggunakan laptop itu dibandingkan denganku.”
“Kenapa semua barang-barangmu selalu digunakan oleh Misaki. Memangnya Misaki tidak bisa membeli laptop dan headphone sendiri?”
Karena tidak mungkin seorang adik dari tuan putri tidak memiliki uang yang banyak. Apalagi aku tau kalau Misaki sering menghambur-hamburkan uangnya untuk gim yang dia mainkan bersama denganku, kalau begitu berarti dia juga mendapatkan uang yang sangat banyak dari bapaknya. Seharusnya dia dapat membeli laptop dan headphone sendiri. Apa jangan-jangan Misaki memiliki pemikiran sepertiku, ‘Selama ada yang bisa dipinjam buat apa membeli,’.
“Walaupun aku dan Misaki sering dimanjakan oleh Papa, tapi Mama selalu berkata kepadaku untuk selalu membeli barang-barang yang diperlukan saja, dan juga untuk saat ini aku tidak terlalu memerlukan laptop, jadi itu bukan masalah besar jika laptopku digunakan oleh Misaki.”
“Memangnya apa yang digunakan Misaki dengan leptopmu?”
“Paling untuk bermain gim.”
Seharusnya aku sudah mengetahui hal itu, karena setiap malam dia selalu bermain denganku.
“Papa selalu memanjakanku dengan memberikanku uang yang sangat banyak. Karena uang itu terlalu banyak, aku sampai bingung mau digunakan untuk apa.”
Kasih aku saja!... Tidak mungkin aku mengatakan hal itu kepada Miyuki. Tapi seperti yang aku kira dari tuan putri, dia pasti memiliki uang yang sangat banyak sekali.
“Aku ingin sekali sepertimu Mar.”
“Sepertiku?”
Apa dia ingin menjadi seorang laki-laki?
“Iya, berusaha mengatur keuangan agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mencari pekerjaan agar dapat membeli sesuatu, hingga sekarang kamu sudah mendapatkan pekerjaan yang membuatmu menjadi seorang atasan.”
Aku tidak bisa memungkiri kalau aku seorang atasan sekarang.
“Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan Miyuki. kadang aku juga sering meminta uang kepada orang tuaku ketika
uangku habis di tengah bulan.”
Walaupun itu jarang sekali terjadi karena aku yang hebat dalam mengatur keuangan.
Ya... Ya... Kalian bisa memujiku nanti.
“Benarkah itu?”
“Iya, penilaianmu terhadapku terlalu tinggi. Aku ini sama seperti yang lainnya, aku bukanlah orang yang bisa segalanya, ada beberapa hal yang tidak aku bisa juga.”
Namun aku berhasil menutupi itu agar orang lain tidak mengetahui kelemahanku.
“Aku ingin sekali masuk ke kamarmu!”
Ucap Miyuki sambil memandang langit malam yang berawan saat itu.
“Hah! Apa yang ingin kau lakukan memangnya?”
Miyuki pun langsung melihat ke arahku dan merasa bingung dengan perkataanku. Tidak lama kemudian dia pun menyadari apa yang baru saja dia katakan.
“Bukan seperti itu, aku hanya ingin melihat pencapaianmu saja!”
Wajah Miyuki memerah dan dia langsung salah tingkah di hadapanku, dia pun membuang wajahnya untuk menutupinya dariku.
“Oh masih masalah itu.”
“Aku sempat kagum ketika melihat fotomu di ruang tamu dengan medali yang menggantung di foto tersebut. Rasanya menyenangkan sekali ketika memiliki sebuah prestasi. Kemudian ketika ibumu berkata kalau di kamarmu masih ada piala dan medali, aku jadi penasaran untuk melihat semua itu.”
Aku rasa keputusanku untuk menaruh semua piala dan medali di kamarku bukanlah keputusan yang buruk.
“Medali dan piala itu bukanlah dari kejuaraan nasional, itu semua kebanyakan berasal dari kejuaraan yang diadakan oleh komunitas saja, karena jarang sekali ada kejuaraan yang diadakan untuk tingkat sekolah dasar.”
“Itu tetap saja sebuah prestasi Mar! Berdiri di podium dan mengangkat sebuah piala tinggi-tinggi, itu sangat menyenangkan! Aku berharap dapat melihatmu melakukan itu lagi.”
Aku pun memandang ke jauh ke depan dan memikirkan kata-kata Miyuki barusan, karena hal itu tidak mungkin terjadi lagi. Aku tidak tau prestasi apa yang ingin aku kejar sekarang ini, untuk sekarang aku mau fokus dulu kepada pekerjaanku saat ini.
“Kenapa kau tidak mencoba untuk masuk ekskul olahraga saja?”
“Aku tidak terbiasa dengan olahraga.”
“Apa ada sesuatu yang menghalagimu?”
“Tidak ada, memang dari awal aku bukanlah orang yang pandai dalam hal olahraga.”
“Jadi begitu.”
__ADS_1
Dan kami pun menyusuri jalan malam yang gelap dan sepi.
-End Chapter 81-