
Hari ini adalah hari jumat pertama ketika aku bersekolah di SMK Sawah Besar. Seharusnya hari ini adalah hari yang menyenangkan karena besok adalah hari libur. Tapi karena sabtu dan minggu ini kita akan mengadakan LDKS di Buperta Cibubur, jadi aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada hari liburku itu.
Aku dan teman-teman sekelasku beserta seluruh murid kelas sepuluh saat ini sedang berkumpul di aula untuk dibagikan kelompok. Satu kelompok dibagi menjadi sebelas orang.
“Kelompok sepuluh... Untuk perempuannya dari kelas sepuluh Akuntasi A, Iriana Camilla Fiza. Kelas sepuluh Administrasi Perkantoran B, Yoshida Akane. Kelas sepuluh Multimedia D, Natasha Adelia. Kelas sepuluh Farmasi A, Kotobuki Miyuki, dan Rina Purnama Putri... Untuk laki-laki dari kelas sepuluh Rekayasa Perangkat Lunak A, Rian
Dzulfikar, dan Maulana Adiputra. Kelas sepuluh Multimedia D, Muhammad Akbar Dhiaurrahman, Riki Ryandi, dan Amarul Ihsan... Mentor untuk kelompok sepuluh adalah Alvin Guinandra... Anak-anak yang namanya dipanggil tadi segera membentuk barisan dua banjar kebelakang bersama dengan mentornya.”
Oke... Nama-nama dalam kelompok ini sangatlah tidak asing untukku. Hanya Iriana dari jurusan Akuntasi yang aku belum kenal, selebihnya aku sudah kenal semua. Terlebih lagi kenapa ketua OSIS bisa menjadi mentor kami. Apa mereka kekurangan anggota OSIS untuk mengisi posisi ini.
Kami pun langsung membuat barisan sesuai arahan dari pengurus OSIS tadi.
“Kenapa Mar? Kau terlihat lesu sekali.”
Riki menegurku yang sedang terdiam melihat ke depan dengan tatapan kosong.
“Tidak ada, aku hanya tidak percaya kalau hal seperti ini dapat terjadi.”
“Hahahahaha... Aku juga sempat terkejut kalau mereka semua bisa berada di dalam satu tim yang sama.”
Aku curiga akan hal ini, seperti semuanya sudah direncanakan oleh seseorang.
“Mohon bantuannya untuk dua hari ke depan Mar.”
Miyuki sedikit tersenyum yang melihatku lesu seperti ini.
Sebenarnya aku lesu bukan karena berada satu kelompok yang sama dengan Miyuki. Aku hanya lesu karena hari liburku yang berharga harus dihabiskan oleh kegiatan sekolah. Walaupun sekolah memberikan keringanan kepada para muridnya dengan mengizinkan mereka libur di hari senin, tapi masalahnya hari senin aku ada urusan dengan Pak Febri untuk membahas pekerjaanku selanjutnya.
Hah... Aku pun hanya menghela nafas yang begitu panjang.
Setelah semua murid sudah mendapatkan kelomponya masing-masing. Kak Alvin mengumpulkan kami
di salah satu sisi aula.
“Siapa di kelompok ini yang mau menjadi ketua dan wakil?”
“Riki!”
“Ya, Riki adalah yang terbaik.”
“Aku juga setuju akan hal itu.”
Dan semua orang di kelompokku pun memilih Riki sebagai ketua. Untung saja mereka tidak memilihku, sepertinya hari ini aku selamat.
“Aku merasa keberatan dengan hal ini. Aku tidak mau menjadi ketua.”
Riki menolak tawaran itu. Aku sedikit terkejut ketika Riki menolaknya, karena jarang sekali Riki menolak tawaran seperti ini.
“Apa ada dari kalian yang mau menjadi ketua dan wakil?”
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Kak Alvin, semuanya terdiam. Aku sempat melirik ke arah Miyuki yang ada tidak jauh di depanku. Aku kira dia akan mengusulkanku untuk menjadi ketua.
“Ayolah Riki, hanya kau saja yang dipercaya untuk menjadi ketua di sini.”
Kak Alvin memuji untuk membujuk Riki agar menjadi ketua.
“Baiklah aku akan menjadi ketua... Tapi dengan syarat kalau Amar menjadi wakilnya.”
“Tidak seperti itu Rik, kau bisa memilih yang lainnya untuk menjadi wakil, mengapa harus aku.”
Tentu saja aku menolak hal seperti itu.
Kemudian Riki pun membisikan sesuatu kepadaku yang membuatku tidak bisa menolak permintaan
dari Riki.
“Huh! Hebat sekali caramu untuk memaksaku Rik... Ok, aku akan menjadi wakilnya Riki.”
“Kamu tidak kenapa-napa Ar?”
“Apa kamu tidak enak badan Mar?”
Rina dan Miyuki terlihat terkejut dan tidak percaya kalau aku menerima tawaran dari Riki.
“Tidak, karena aku merasa ada sesautu yang harus aku lakukan ketika di sana... Kak Alvin, untuk acara hari sabtu dan minggu, kegiatan yang dilaksanakan apa saja ya? ”
Kak Alvin pun memberitahu hal itu kepadaku.
Setelah rapat yang begitu singkat, akhirnya semua murid dipersilahkan untuk pulang ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan kebutuhan selama kegiatan LDKS.
Hari sabtu pun tiba, semua murid disuruh berkumpul di Buperta Cibubur pada pukul sembilan pagi. Karena rumahku dengan Buperta Cibubur bisa dikatakan dekat, aku pun sampai di sana lebih cepat dibandingkan yang lainnya.
Aku berangkat ke Buperta Cibubur bersama dengan Riki, Maul, Rina, Miyuki, Kichida, dan juga Yoshida. Sebelum menuju ke Buperta Cibubur, kami janjian untuk berkumpul di taman yang berada di depan SMP Cibubur.
“Mengapa Kichida dan Yoshida bisa ada bersamamu?”
Aku bertanya kepada Miyuki yang tadi pagi berangkat bersama dengan Kichida dan Yoshida. Karena seingatku, rumah Kichida dan Yoshida berada jauh dari rumah Miyuki.
“Oh soal itu, kemarin mereka menginap di rumahku.”
“Oi Mar, apa kau membawa barang yang aku suruh kemarin?”
Maul menghampiriku dan bertanya tentang barang titipannya.
“Tentu saja, aku sudah memasukannya ke dalam tas...”
Aku pun menepuk-nepuk tas yang aku gendong.
“... Rik, kau membawa kompor portabel dan nesting?”
“Tentu.”
Riki mengacungkan ibu jarinya kepadaku.
__ADS_1
“Untuk apa kalian membawa hal itu?”
Yoshida bertanya kepada kami dengan penasaran.
“Untuk membuat teh hangat dan juga kopi ketika malam hari, dan juga aku memiliki firasat kalau kita akan memerlukannya untuk memasak makanan nantinya.”
“Bukankah seharusnya kalau makanan kita dapat dari sekolah? Aku mendengar dari teman sekelasku kalau kita mendapatkan makanan dari sekolah.”
“Acara LDKS kali ini tidak seenak itu Yoshida. Apa kau ingat jadwal yang Kak Alvin beritahu kepada kita kemarin?”
Aku bertanya balik kepada Yoshida.
“Tentu aku masih mengingatnya.”
“Kalau kau perhatikan lebih jelas lagi, jadwal ishoma dan istirahat terlalu lama kalau hanya digunakan untuk salat dan makan saja. Selain itu barang-barang yang kita bawa bukan hanya bahan-bahan untuk membawa sesuatu yang instan.”
“Kamu benar Mar, aku juga sedikit penasaran waktu Kak Alvin menyuruh kita membawa beras dan sayur-sayuran.”
Yoshida sedikit berfikir dan akhirnya menyadari hal itu.
“Hebat sekali persiapan yang kamu lakukan Mar, aku yakin setiap kelompok di sini tidak ada yang menyadarinya.”
“Karena kami sudah terbiasa mendaki gunung, jadi persiapan seperti ini tidak ada apa-apanya. Lagi pula, kalau ada kelompok yang tidak membawa kompor portabel dan nesting. Mereka bisa meminjamnya kepada panitia.”
Riki pun menjelaskannya sedikit kepada Yoshida.
Satu per satu murid pun mulai datang dan berkumpul di salah satu lapangan yang berada di sana. Rian dan Natasha pun datang bersamaan, kemudian disusul oleh Akbar dan Iriana.
“Karena semuanya sudah datang, bagaimana kalau kita perkenalan terlebih dahulu. Biar kita makin akrab.”
Riki pun mengusulkan hal tersebut dan semuanya setuju dengan usulan dari Riki.
“Mungkin dari aku dulu... Namaku Riki Ryandi dari kelas sepuluh Multimedia D, kalian bisa memanggilku Riki. Salam kenal!”
Kalau begini, berarti selanjutnya adalah giliranku.
“Namaku Amarul Ihsan dari kelas sepuluh Multimedia D, kalian bisa memanggilku Amar, Salam kenal!”
Dan perkenalan pun terus berlangsung dan diakhiri oleh Iriana.
“Namaku Iriana Camilla Fiza dari kelas sepuluh Akuntasi A, kalian bisa memanggilku Iriana. Salam kenal!”
Dia pasti orang pintar, tidak salah lagi. Semua yang masuk ke dalam jurusan Akuntansi pasti orang pintar. Tapi entah kenapa dia seperti orang yang pendiam dan terkesan cuek.
“Oi Mul!”
Aku pun mengisyaratkan kepada Maul dengan tanganku untuk pergi sebentar. Maul yang mengerti maksud dari tanganku langsung pergi menghampiriku.
“Kamu mau kemana Ar?”
“Ada urusan sebentar.”
Aku dan Maul pun pergi ke suatu tempat yang tidak jauh dari sana untuk berbicara empat mata saja.
“Tentu saja... Ketika kau meminta kepadaku untuk mencari tahu tentang hal itu, aku langsung bertanya ke teman-temanku tentang mereka. Kebetulan ada beberapa temanku yang memiliki banyak kenalan kakak kelas.”
“Jadi bagaimana hasilnya?”
“Mereka adalah temannya Kak Deni.”
Seperti yang aku duga sebelumnya. Pasti mereka ada hubungannya dengan Kak Deni, karena respon yang mereka berikan kepadaku setiap aku datang menemui mereka sangatlah tidak wajar.
“Apa kau sudah yakin dengan informasi itu?”
“Aku sudah mengeceknya secara langsung.”
“Bagaimana caranya?”
“Kak Deni adalah mentorku dan aku memiliki nomor ponselnya. Seharusnya kau sudah tau apa yang aku lakukan selanjutnya.”
“Hebat sekali kau Mul... Seperti yang aku duga dari Hacker!”
Aku memuji kehebatan Maul dalam mencari informasi.
“Dan juga aku melihat pesan Kak Deni kepada mereka.”
“Apa isi dari pesan itu?”
“Kak Deni menyuruh mereka untuk memperhatikanmu.”
Sekarang semuanya sudah jelas, semua tindakan mereka ternyata memang dikendalikan oleh Kak Deni. Kalau begini yang menjadi musuhku sekarang berarti hanya satu orang saja. Selama rajanya sudah di singkirkan, maka kemenangan ada di pihakku.
“Sebaiknya kau berhati-hati Mar.”
“Terima kasih atas informasinya, tapi kau tenang saja.”
“Apa kau sudah memiliki sebuah rencana?”
“Untuk saat ini aku sama sekali belum memiliki rencana apapun. Aku mau melihat terlebih dahulu apa yang akan Kak Deni lakukan.”
Sebenarnya aku sudah memiliki satu rencana untuk aku jalankan setelah ishoma nanti. Tapi aku belum tau apakah rencana ini benar-benar akan aku lakukan atau tidak. Tergantung bagaimana pergerakan dari Kak Deni selanjutnya.
“Ayo Mul kita kembali, sepertinya kita sudah terlalu lama di sini.”
Ketika kami kembali kepada kelompok kami, ternyata di sana sudah ada Kak Alvin yang sedang berbincang-bincang dengan Riki dan yang lainnya.
“Dari mana kalian berdua?”
Kak Alvin bertanya kepadaku dan juga Maul yang baru saja tiba di sana.
“Kami baru saja dari kamar mandi.”
Aku pun melihat dua buah tenda yang berada di dekat kaki Kak Alvin.
__ADS_1
“Itu tenda buat apa Kak?”
Maul bertanya kepada Kak Alvin sambil menunjuk tenda tersebut.
“Tentu saja untuk kalian dirikan nanti.”
Aku kira tendanya sudah didirikan oleh anggota OSIS. Ternyata kita juga yang harus memasang tenda-tenda ini.
“Oke, karena semuanya sudah berkumpul. Kegiatan pertama pada hari ini setelah nanti ada upacara pembukaan LDKS, kalian akan mendirikan tenda dan memasak makan siang untuk kalian sendiri.”
Aku pun melihat ke arah Yoshida dan Yoshida tersenyum kepadaku.
“Syukurlah kita berada satu tim dengan Riki dan juga yang lainnya.”
“Memangnya kenapa Miyuki?”
Kichida bertanya kepada Miyuki yang terlihat sangat senang sekali.
“Karena mereka sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Jadi kita tidak perlu khawatir nantinya.”
Waktu pun sudah menunjukan pukul sembilan. Semua siswa langsung berkumpul di sebuah lapangan besar untuk melakukan upacara pembukaan terlebih dahulu. Sambutan-sambutan dan pesan-pesan diberikan oleh guru pembina serta ketua OSIS.
Setelah upacara pembukaan selesai, kami pun langsung menuju ke sebuah tempat yang sudah ditandai dengan tali tambang dan juga kertas dengan nama kelompok kami. Tempat itu nantinya akan kami gunakan untuk mendirikan tenda.
“Aku akan mulai membagikan tugasnya... Para laki-laki mendirikan tenda, sedangkan para perempuan mulai memasak. Ayo kita mulai!”
Riki mulai memerintah layaknya ketua. Memang dia ketua di sini, hehehehehe...
“OOOOOO!!!”
Semuanya mengangkat tangannya di atas dan berteriak dengan penuh semangat.
Kami pun langsung bergerak sesuai dengan arahan Riki. Aku, Maul, dan Rian membuat tenda untuk para laki-laki sedangkan Riki dan Akbar membuat tenda untuk para perempuan. Para perempuan juga mulai memasak makanan untuk makan siang. Tentunya kalau para perempuan diketuai oleh Rina.
“Kau terlihat ahli sekali Mar?”
Rian memperhatikanku dengan sangat serius ketika sedang merakit kerangka tenda.
“Aku sudah sering melakukan hal ini ketika diajak oleh Riki untuk mendaki gunung.”
“Benarkah! Lain kali kalau kau ingin mendaki ajaklah aku Mar. Aku ingin sekali mendaki gunung, tapi tidak pernah ada teman yang mau.”
“OI RIK! KALAU NANTI MAU MENDAKI GUNUNG JANGAN LUPA AJAK RIAN!”
“OK!”
Riki pun memberikan tanda dengan tangannya.
“Tuh... Kau dengar.”
“Terima kasih Mar!”
Rian terlihat sangat senang sekali.
“Ngomong-ngomong Mar, kau terlihat dekat sekali dengan Rina.”
Rian bertanya itu dengan malu-malu, aku dapat melihat wajahnya sedikit memerah.
Heeeee... Apa ini?! Apa dia memiliki perasaan kepada Rina. Sepertinya Rian sudah cinta pada pandangan pertama dengan Rina.
“Kenapa? Kau mau aku bantu untuk dekat dengannya?”
Aku menawarkan bantuan kepadanya.
“Tidak Mar terima kasih, aku tidak mau pacaran karena itu dilarang dalam agama. Kau seharusnya tahu itu Mar.”
Masya Allah, berbeda sekali denganku. Ternyata Rian memang orang baik yang belum pernah aku temui sampai
saat ini. Aku harap, aku dapat berteman baik dengannya.
“Oi kalian berdua, kalian terlihat akrab sekali?”
Maul yang sudah menyelesaikan bagiannya langsung menghampiri kami.
“Aku belum memberitahumu ya, Amar ini temanku di rohis.”
“Syukurlah kalau kau menemukan teman yang cocok.”
Kami pun segera menyelesaikan tenda kami.
Kemudian setelah tendanya sudah selesai dan berdiri dengan tegap. Kami langsung menyantap makanan yang sudah dimasak oleh para perempuan. Ketika sedang makan, aku melihat Iriana yang duduk sendirian tidak berbicara dengan siapapun. Mungkin karena tidak ada yang dia kenal di sini membuatnya menjadi canggung untuk
memancing pembicaraan.
“Oi Rina, kau lihat Iriana.”
Aku membisikan sesuatu kepada Rina yang kebetulan berada di sampingku. Rina yang menyadari hal itu langsung berpindah duduk di samping Iriana dan mengajaknya berbicara. Melihat Rina yang berbicara dengan Iriana membuat Miyuki dan yang lainnya juga ikut-ikutan berbicara dengannya.
“Tumben sekali kau melakukan hal baik seperti itu? Apa sekarang kau sudah mulai peduli dengan seseorang?”
Riki yang mengetahui hal itu langsung meledekku.
“Bukan seperti itu Rik. Karena akan sangat merepotkan jika dia merasa terasingkan dari kelompok, bisa jadi nantinya dia tidak bisa kita kontrol dengan leluasa.”
“Kau ini tidak bisa jujur ya Mar... Ngomong-ngomong bagaimana persiapanmu?”
“Aku tinggal memasang umpannya dan menunggu ikannya memakan umpan yang telah ku pasang saja.”
“Aku menunggu tangkapan besarmu!”
“Serahkan saja padaku.”
Tinggal sebentar lagi sebelum menjalankan rencana pertamaku. Karena rencana pertamaku ini akan menentukan hasil dari rencana yang lainnya. Kalau rencana ini gagal, maka yang lainnya juga akan gagal.
__ADS_1
-End Chapter 42-