Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 49 : Menikmati Hasil Kemenangan.


__ADS_3

Pagi harinya, saat acara kerja bakti sedang dilakukan. Rina melakukan tugasnya dengan baik dan Kak Alvin pun mengatakan seperti apa yang aku suruh saat acara jurit malam. Seperti dugaanku waktu itu, semua murid pun mulai mengira-ngira siapa orang yang melakukan pencurian itu, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang mencurigaiku sama sekali.


Hal itu dikarenakan selama acara kerja bakti, aku selalu berada di dekat Miyuki. Seperti yang kalian tau, Miyuki adalah pusat perhatian dari kelompokku. Dari kemarin banyak sekali murid laki-laki maupun perempuan yang melihat ke arahnya, bahkan pengurus OSIS banyak yang menggunakan berbagai macam alasan untuk mendekati


Miyuki saat LDKS.


“Dengan ini acara LDKS pun ditutup.”


Kak Alvin memimpin upacara penutupan ini. Semua murid yang ada di sana bertepuk tangan dengan sangat meriah sekali diikuti oleh pengurus OSIS dan juga guru.


“Oh iya, satu lagi yang ingin saya informasikan kepada kalian. Besok sekolah mengizinkan kalian untuk tidak masuk, jika kalian seandainya masih kelelahan karena acara ini.”


Sayang sekali aku tidak dapat menggunakan kesempatan berharga itu. Besok aku ada urusan dengan Pak Febri tentang pekerjaanku selanjutnya.


“Besok kau masuk Mar?”


Riki bertanya kepadaku.


“Masuk.”


“Tumben, aku kira kau akan mengambil jatah libur itu.”


“Besok Pak Febri mau memberikanku pekerjaan baru, jadi aku harus masuk besok.”


Sebentar... kalau seandainya banyak murid yang tidak masuk besok, mungkin para guru yang mengajar di hari itu akan memberikan free class kepada kami. Hehehehehe.... Sepertinya besok aku bisa tidur di sekolah.


“Begitu... aku juga masuk besok. Karena aku dengar setelah puasa nanti seleksi untuk O2SN sudah dimulai, jadinya aku harus giat berlatih.”


Aku baru ingat, seminggu lagi sudah mulai memasuki bulan ramadan. Mungkin ramadan untuk tiga tahun ke depan, aku akan sering buka di jalan.


“Kawan-kawan, bagaimana kalau setelah ini kita makan siang dulu di tempat makan cepat saji yang ada di depan Jambore?”


Miyuki mengajak semua orang di kelompokku untuk makan bersama.


“Boleh saja, bukan ide yang buruk.”


“Iya, aku juga sudah lapar lagi.”


Riki dan Maul menyetujui usulan dari Miyuki.


“Kamu ikut Ar?”


Rina bertanya kepadaku.


“Sepertinya aku akan ikut. Biar ketika sampai rumah setelah salat, aku bisa langsung tidur.”


Karena tubuhku sudah lelah sekali. Aku rasa ketika badanku bersentuhan dengan kasur, seketika aku pun langsung tertidur dengan lelapnya.


“Aku lewat.”


“Aku juga sama.”


Akbar dan Rian menolak ajakan dari Miyuki.


“Maaf Miyuki, Aku harus pulang cepat juga.”


Natasha meminta maaf kepada Miyuki karena tidak bisa ikut dengannya.


“Aku juga.”


Begitu juga Iriana.


“Tidak apa, tapi aku berharap setelah ini kita masih tetap sering berkomunikasi ya.”


Ucap Miyuki kepada mereka berempat.


Akhirnya setelah membereskan barang-barang di tenda kami, kami langsung pergi ke salah satu tempat makan cepat saji yang berada di dekat gerbang utama Jambore. Setelah memesan makanan, kami pun langsung mencari tempat duduk kosong.


“Jadi... Bisakah kamu menjelaskan apa yang terjadi saat jurit malam Mar?”


Sekarang Miyuki sedang melihatku dengan sangat serius sekali.


“Apa kau sudah memberitahu semuanya tentang masalah itu?”


Aku bertanya kepada Riki yang sedang menikmati makanannya.


“Tentu saja, aku mengikuti seperti apa katamu. Aku sudah memberitahu mereka ketika kita kembali ke tenda.”


“Jadi?”


Miyuki masih melihatku dengan tatapan seriusnya.


“Tidak ada lagi yang perlu aku jelaskan. Masalah ini sudah selesai dan berakhir dengan damai.”


“Kenapa kamu tidak melibatkanku dalam hal ini? Kamu saja meminta Rina untuk menolongmu!”


Miyuki pun mengajukan protesnya kepadaku, aku pun mengabaikan hal itu.


“Yoshida... Aku yang menang taruhannya kalau begitu ya.”


“Aku kalah!!!... padahal aku mengharapkan sekali hadiah yang akan kamu berikan jika aku menang.”


Yoshida terlihat kecewa sekali.


“Heee... Jadi begitu Ar?”


Sekarang Rina pun melihatku dengan tatapan sinisnya setelah mengetahui kalau aku membuat sebuah taruhan kepada Yoshida.


“Lihat! Yoshida saja kau libatkan dalam hal ini.”


Miyuki pun semakin kesal karena merasa kalau dia saja yang tidak aku ajak.


“Oi Rik, bagaimana tanggapan Akbar setelah kau menceritakan tentang masalah ini? Aku yakin kalau dia sangat kesal dengan keputusan yang aku buat saat di pos empat tadi.”


“Setelah aku beritahu tentang itu, dia tidak kesal lagi dengan keputusan yang kau ambil. Tapi dia kesal karena tidak dilibatkan dalam hal ini.”


“Hmmm... Aku sudah menduga kalau dia akan kesal pastinya.”


Karena Akbar memiliki sifat yang sama dengan Riki.


“BERHENTILAH MENGABAIKANKU MAR!!”


Miyuki pun berteriak dihadapanku, aku hanya tersenyum saja melihat tingkahnya itu.


“Jadi apa yang kamu lakukan di pos empat itu Ar?”


“Aku juga peasaran dengan pelakunya.”


Rina dan Yoshida terlihat penasaran akan hal itu.


“Apa jangan-jangan pelakunya itu Kak Deni?”


Kichida menebak tentang pelakunya dan tebakannya pun benar.

__ADS_1


“Apa yang kau katakan itu tidak sepenuhnya salah, tapi bukan Kak Deni-lah pelaku yang sebenarnya.”


Aku pun melihat ke sekelilingku dan aku tidak melihat ada murid dari sekolahku yang berada di sana.


“Apakah kalian bisa berjanji kepadaku untuk tidak membocorkan masalah ini kepada orang-orang?”


Aku bertanya kepada mereka semua.


“Tenang saja, kami akan merahasiakannya.”


Mereka semua pun berjanji kepadaku.


“Apa kau yakin membicarakan masalah ini kepada mereka?”


Riki bertanya kepadaku dan mencoba untuk memperingatkanku.


“Aku rasa tidak masalah, lagi pula mereka tidak bisa melakukan apapun dengan informasi yang akan aku berikan.”


“Kau benar juga.”


Baiklah... Aku harus memulai ini dari mana.


“Pelaku dari kejadian ini ada tiga orang, yaitu Kak Alvin, Kak Ayu, dan juga Kak Deni... Kak Ayu yang mengambil semua barang-barang milik murid perempuan dari kelompok delapan hingga tiga belas, Kak Deni yang menaruhnya ke dalam tasku, dan Kak Alvin yang mengalihkan perhatian para guru ketika Kak Ayu sedang melakukan tugasnya.”


Mereka semua pun terkejut termasuk Riki dan Maul. Walaupun Riki dan Maul mengetahui aku membuat rencana tentang hal ini, tapi aku sama sekali tidak pernah memberitahu mereka tentang pelakunya.


"Oi Rik, apa kau ingat ketika Kak Alvin pergi setelah memberikan kertas kuis saat acara mencari jejak?"


"Tentu saja, memangnya kenapa?"


"Waktu itu dia tidak pergi ke parkiran motor untuk langsung menuju ke pos dia berjaga, namun dia pergi ke tenda para guru untuk membicarakan sesuatu untuk para guru yang ada di sana. Sepertinya dia menggunakan hal itu untuk mengalihkan perhatian dari semua guru."


“Kenapa anggota OSIS berani melakukan hal itu?”


Miyuki tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


“Kak Alvin hanya ingin mengujiku saja.”


“Bukankah itu terlalu berlebihan jika hanya ingin memujimu.”


“Aku setuju denganmu Rina, aku juga mengatakan kepada mereka kalau ini terlalu berlebihan.”


“Sebenarnya aku sudah tau kalau Kak Alvin membantu Kak Deni dalam menjalani rencana ini saat sedang meretas ponsel milik Kak Deni. Tapi aku sama sekali tidak tau kalau Kak Ayu juga terlibat dalam hal ini. Itu sangat diluar perkiraanku.”


Maul pun memberitahu hal yang seharusnya dia beritahu kepadaku.


“Kenapa kau tidak memberitahuku Mul! Kalau aku tau dari awal, aku kan tidak perlu menyusun rencana ini dengan bersusah payah seperti ini.”


Aku sedikit kesal dengan apa yang Maul lakukan.


“Percuma, nanti juga kau akan tau sendiri.”


Maul masih merasa tidak bersalah sama sekali.


“Kira-kira kapan mereka menyusun rencana ini?”


Riki pun menghabiskan makanannya dan bergabung dengan pembicaraan kami. Hanya Riki saja yang makannanya sudah habis, sedangkan yang lainnya belum menyentuh makanannya sama sekali.


“Ini hanya dugaanku saja, aku rasa mereka menyusun ini tepat sebelum masa orientasi.”


“Bukankah itu lama sekali?”


Ungkap Miyuki kepada kami.


“Miyuki... Apakah sebelum upacara pembukaan, saat masa orientasi hari pertama. Kau diundang oleh para OSIS untuk hadir di sebuah penjamuan?”


“Semua anak yang mendapatkan peringkat lima besar saat ujian masuk diundang semua.”


“Aku juga diundang. Memangnya kenapa Ar?”


Ternyata dugaanku tidak salah, pasti mereka mengadakan penjamuan sebelum upacara pembukaan.


“Apa saja yang mereka sajikan saat itu?”


Aku masih bertanya kepada mereka.


“Hanya beberapa kue dan juga teh.”


Ah... Dengan ini semuanya sudah jelas.


“Memangnya kenapa Mar?”


Miyuki pun masih penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan yang aku berikan.


“Kalau dugaanku benar, kejadian Miyuki ketika pergi ke toilet lantai dua dan digoda oleh Kak Deni itu termasuk ke dalam salah satu rencana dari mereka.”


Mereka semua pun terkejut sekali mendengar hal itu.


“Kok bisa?”


Maul bertanya kepadaku tentang alasannya.


“Miyuki, ini pertanyaan terakhir. Siapa mentormu saat masa orientasi?”


“Kak Alvin...”


Jawab Miyuki dengan memikirkan sesuatu.


“Ini juga masih dugaanku ya, belum tentu benar.”


“Kenapa dari tadi kamu selalu berkata dugaan-dugaan melulu Mar.”


Miyuki sedikit kesal dengan apa yang aku katakan.


“Karena aku tidak tau kebenarannya, dan aku tidak mau kalian mempercayai kalau apa saja yang aku katakan itu adalah kebenaran. Makanya aku berkata kalau ini masih dugaanku.”


“Lanjutkan Mar!”


Maul terlihat tidak sabar ingin mengetahui yang sebenarnya terjadi.


“Aku rasa Kak Alvin sengaja mengunci toilet perempuan di lantai tiga supaya Miyuki harus turun ke lantai dua untuk menggunakannya. Aku yakin kalau teh yang kau minum saat acara penjamuan itu bukanlah teh biasa.”


“Lalu kenapa bisa ada Kak Deni ketika aku keluar dari kamar mandi?”


“Apakah kalian ingat posisi ketiga OSIS itu dalam menjadi mentor ketika masa orientasi?”


Mereka pun mulai berpikir dan mengingat-ingatnya.


“Kak Alvin berada di kelas Farmasi A untuk mengawasi Miyuki, Kak Ayu berada di kelas Multimedia D untuk mengawasiku, sedangkan Kak Deni berada di kelas RPL A karena jarak dari kelas RPL A adalah kelas terdekat dari toilet. Jadi dengan posisi seperti itu, mereka bisa saling memberitahu kapan harus bergerak.”


Aku pun menjelaskan semuanya kepada mereka.


“Untuk apa mereka melakukan ini Ar?”

__ADS_1


“Tentu saja supaya aku percaya dengan akting yang dilakukan oleh Kak Deni. Kesan awalku dengan Kak Deni adalah pada saat dia sedang berakting, jadi aku percaya kalau itulah sifat asli darinya. Karena sebelumnya aku tidak pernah tau bagaimana sifatnya dia.”


Kalau saja aku tidak mengetahui sifat asli Kak Deni dari Kak Fauzi, mungkin aku tidak bisa mendapatkan kesimpulan seperti ini dan menebak siapa saja pelakunya. Itulah mengapa saat Kak Fauzi memberitahunya kepadaku, aku mengatakan kalau itu adalah informasi yang sangat berharga.


“Bagaiman mereka tau kalau kau akan ke toilet? Bukankah rencana itu tidak akan berhasil jika kau tidak pergi ke toilet, dan kau juga tidak ikut penjamuan itu.”


Riki masih penasaran tentang hal itu.


“Mungkin itu kebetulan.”


“Aku tidak mengerti maksudmu.”


Riki tidak terima jawaban yang kurang memuaskan dariku.


“Keadaan dimana aku pergi ke toilet di saat seperti itu mungkin hanya kebetulan. Aku yakin kalau seandainya aku tidak pergi ke toilet, Kak Ayu pasti akan menyuruhku pergi ke ruang OSIS untuk mengambil sesuatu di sana.”


“Kenapa harus ke ruang OSIS?”


“Apa kau tidak mengingat dimana letak ruang OSIS Mul? Ruang OSIS itu berada di lantai tiga, dan kita harus melewati toilet jika ingin pergi ke lantai tiga.”


“Hebat sekali kau bisa berpikir hingga seperti itu Mar.”


Kichida yang baru saja melihatku seperti ini sangat kagum sekali dengan apa yang aku lakukan.


“Kembali lagi, itu semua hanyalah dugaanku saja. Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.”


“Tapi tetap saja aku kagum denganmu walaupun semua itu hanya dugaan saja. Kamu terlihat seperti detektif Mar.”


Yoshida juga memujiku.


“Hal seperti ini terlalu mudah untuk diselesaikan oleh seorang detektif. Lagi pula aku tidak bisa melakukan semua ini berkat bantuan dari taman-temanku.”


“Senang sekali aku bisa membantumu.”


Riki langsung merangkulku yang berada di sampingnya.


“Hum! Kamu masih bisa mengatakan seperti itu setelah kamu tidak mengajakku dalam rencana ini. Aku sangat kecewa kepadamu Mar.”


Miyuki pun membuang mukannya dariku.


“Sikapmu yang tidak tau apa-apa itu sudah lebih dari membantuku dalam rencana ini.”


“Tetap saja aku terima akan hal itu. Menurutku melakukan hal seperti ini bersama dengan teman-teman itu adalah hal yang menyenangkan.”


Miyuki masih mengajukan protesnya kepadaku.


“Apa pengumuman yang diberikan oleh Kak Alvin ketika acara kerja bakti juga rencana darimu Mar?”


Kichida bertanya kepadaku tentang pengumuman itu.


“Begitulah.”


“Yang terpenting sekarang, kau sudah lepas dari masalah yang merepotkan ini.”


Riki pun terlihat sangat senang sekali.


“Sepertinya aku harus berhati-hati kepada Amar.”


Dan Kichida menjadi takut kepadaku sekarang.


“Apakah kamu sering melakukan ini Mar?”


“T-“


“Tentu saja!”


OI!!!


Riki, Maul, dan Rina menjawab pertanyaan dari Yoshida dengan kompak. Aku kesal sekali melihat mereka menyela perkataanku.


“Apa kamu pernah gagal dalam membuat rencana seperti ini Mar?”


Yoshida bertanya lagi.


“Aku tidak pernah melihat Amar gagal sekalipun.”


“Aku juga.”


Begitulah jawaban yang diberikan oleh Riki dan Maul.


“Kalau kamu Rin?”


“Aku juga tidak pernah, semua rencana yang Amar buat selalu berhasil.”


“Rencanaku selalu berhasil sekarang karena ada Maul dan Riki yang selalu membantuku. Waktu aku masih bekerja sendiri, aku sering mendapatkan kegagalan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini kawan.”


“Lalu apa yang kamu lakukan oleh para OSIS itu Mar?”


Miyuki pun bertanya tentang nasib dari Kak Alvin dan kawan-kawan.


“Aku tidak melakukan apa-apa terhadap mereka. Aku hanya meyuruh mereka untuk tutup mulut dengan masalah ini dan menyuruh mereka untuk menjelaskannya kepada pihak sekolah.”


Apa itu termasuk melakukan apa-apa ya?


“Aku tidak percaya itu! Setelah semua hal yang telah mereka lakukan kepadamu dan kamu masih tidak melakukan apa-apa?”


Kichida terlihat tidak percaya dengan apa yang aku katakan.


“Kalau aku melakukan sesuatu yang salah di sini, bisa-bisa mereka berdua akan menjadi musuhku dan itu sangatlah merepotkan. Jadi menurutku keadaan seperti ini adalah keadaan yang sangat baik.”


“Seharusnya kau meminta sedikit imbalan kepada mereka. Aku yakin mereka akan memberikan sesuatu kepadamu untuk uang tutup mulut.”


AAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!! KENAPA AKU TIDAK TERPIKIR SAMA SEKALI TENTANG HAL ITU.


Apa yang Riki katakan itu benar sekali. Aku pasti bisa mendapatkan uang tambahan jika memintanya untuk uang tutup mulut kepada mereka. Ah sial!


“Kau memang jenius Rik.”


Hanya itu yang bisa aku katakan kepada Riki.


“Jadi ini hal baru yang ingin kamu lakukan Ar?”


“Begitulah, demi menuju kehidupan sekolah yang penuh dengan kedamaian.”


Ada hal yang masih menggangguku hingga saat ini.


“Oi Mul, apakah kemarin ada seseorang selain Akbar yang berjalan di sampingmu saat kita ingin pergi ke pos kedua?”


Aku bertanya kepada Maul yang sedang bersiap-siap untuk menyantap makanannya.


“Tidak ada... Hanya aku dan Akbar saja yang ada dibelakang saat itu. Memangnya kenapa?”


Oh sial! Berarti apa yang aku lihat barusan benar-benar...

__ADS_1


“Tidak ada.”


-End Chapter 49-


__ADS_2