Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 66 : Miyuki Fan Club.


__ADS_3

“Ayo! Ayo!... Semangatlah!”


Seluruh orang yang berada di sini sedang menyemangati sekolahnya yang sedang bertanding. Atmosfer yang menyelimuti tempat ini pun dikelilingi oleh semangat juang dari orang yang sedang bertanding.


Saat ini aku sedang berada di gelanggang olahraga yang berada di kawasan Lokasari untuk menonton pertandingan Riki dibabak penyisihan OS2N untuk daerah DKI Jakarta. Aku pun melihat Riki yang sedang pemanasan di pinggir lapangan.


“Seberapa jauh perkembangan aplikasinya?”


Aku bertanya kepada Maul yang sedang duduk di sampingku, saat ini dia sedang melihat murid perempuan dari kelas lain yang ikut menonton pertandingan itu.


“Hmmm... Tidak buruk juga.”


“Oi Mul, apakah kau mendengarkanku?”


“Maaf.. Maaf, aplikasinya sebentar lagi selesai, aku hanya tinggal mengecek bug yang ada di dalamnya. Yaa.. Aku rasa aplikasinya akan selesai versi beta-nya dua atau tiga hari lagi.”


“Cepat juga kau kerjanya.”


“Tentu saja, membuat aplikasi seperti ini tidak ada susahnya bagiku. Aku sudah pernah beberapa kali membuat aplikasi yang lebih rumit dibandingkan yang ini. Contohnya aplikasi peretas yang aku buat di ponselku.”


Ya, aku rasa aplikasi peretas yang kau buat sepuluh kali lebih sulit dibandingkan yang ini.


“Apa kau pernah membuat sebuah gim Mul? Sebuah gim sederhana gitu.”


“Kalau yang sederhana aku pernah membuatnya, tapi itu terlalu rumit dan susah dibandingkan aplikasi. Aku butuh waktu berbulan-bulan untuk mencari bug-bug yang ada di dalam gim tersebut.”


“Hmmm... Begitu.”


“Sedang apa yang kalian bicarakan? Aku melihatnya sepertinya kalian sangat serius sekali membicarakan itu.”


Miyuki yang baru saja kembali entah dari mana, langsung menghampiri kami berdua.


“Kami sedang membicarakan tentang pekerjaan saja.”


Ucap Maul kepada Miyuki.


“Apakah ini ada hubungannya dengan seringnya kalian pergi berdua ketika pulang sekolah?”


Rina bertanya kepada kami dan dia pun duduk tepat di samping Miyuki.


“Begitulah.”


“Memangnya pekerjaan apa yang sedang kalian kerjakan Ar?”


“Ini adalah sebuah pekerjaan besar dan kita tidak bisa memberitahukannya sekarang karena ini adalah rahasia perusahaan. Nanti kalian juga akan tau sendiri jika pekerjaan ini selesai.”


Maul menjelaskannya kepada mereka berdua.


Ternyata Maul memiliki sifat yang seperti itu juga. Aku kira dia akan menyombongkan pekerjaannya itu kepada mereka berdua sekarang.


“Apa-apaan itu!? Kalian jadinya main rahasia-rahasiaan?”


Miyuki merasa penasaran dan tidak puas dengan jawaban dari Maul.


“Begitulah, karena ini masih harus dirahasiakan.”


“Kalian berdua, kalian menonton pertandingan ini juga?”


Rian pun datang menghampiri kami untuk menonton pertandingannya bersama-sama.


“Tentu saja, karena saat ini Riki sedang bertanding. Pasti kami akan menonton dan mendukungnya.”


Maul pun mengeluarkan dua buah balon yang baru saja dia dapatkan ketika memasuki GOR ini dan mulai memukulnya sembari menyerukan nama SMK Sawah Besar.


“Kamu terlihat mengantuk sekali Ar?”


“Apa itu keliatan?”


Aku berusaha membuat wajah dan ekspresiku seperti biasa di hadapan Rina.


“Matamu terlihat seperti ikan mati dan tatapanmu terlihat hampa. Kantung matamu juga lebih keliatan dibandingkan


yang biasanya.”


Ternyata Rina sampai memerhatikan sedetail itu.


“Akhir-akhir ini aku masih sering bergadang karena mengerjakan sesuatu, dan tidur di kelas ketika istirahat tidak bisa mengembalikan waktu tidur malamku yang terbuang.”


“Jaga kesehatanmu Ar, kalau kamu sampai sakit itu bisa mempengaruhi sekolah dan pekerjaanmu. Lagian kamu tidak perlu memaksakan dirimu untuk bekerja sekarang ini, memangnya uang dari orang tuamu masih kurang?”


Aku jadi diceramahi oleh Rina.


“Bukan karena uang jajanku kurang atau apa, hanya saja aku lebih menyukai menggunakan uang dari hasil jerih payahku.”


“Kalau begitu jaga kesehatanmu! Kalau kamu sampai sakit, aku akan memberitahukan ini kepada ibumu.”


“Tenang saja, aku akan selalu menjaga kesehatanku.”


“Hei Mar? Menurutmu seberapa besar kemungkinan Riki akan menang?”


Miyuki pun melihat-lihat seluruh peserta yang sedang bertanding di sana.


“Aku rasa dia akan menang terus di pertandingan ini.”


“Darimana rasa percaya diri itu?”


 “Riki selalu berlatih dengan giat di ekskulnya akhir-akhir ini, jadi dia tidak mungkin dapat mudah dikalahkan. Kalau untuk babap penyisihan, aku masih yakin kalau dia bisa menang terus. Tapi kalau untuk di pertandingan utamanya, aku tidak bisa menjamin karena yang mengikuti perlombaan itu dari seluruh daerah yang ada di Indonesia.”


Sepertinya berlama-lama di sini hanya membuatku mengantuk saja. Lagipula Riki juga belum bertanding jadi aku bisa berjalan-jalan terlebih dahulu.


“Mau kemana kamu Ar?”


“Aku ingin mencari minum sebentar.”


Aku pun langsung pergi ke kantin untuk mencari minuman di sana. Ketika aku sedang dalam perjalanan menuju ke kantin, aku melihat Yoshida bersama dengan beberapa laki-laki yang sama sekali aku tidak kenal.


Kalau dilihat dari seragamnya, sepertinya mereka dari sekolah lain. Apa Yoshida sedang diganggu? Kalau itu iya, hal itu sangat merepotkan sekali. Lebih baik aku menghampirinya saja dari pada aku harus melakukan sesuatu yang merepotkan lainnya.


“Oi Yoshida!”

__ADS_1


Mendengar panggilanku, dia pun langsung menengok ke arahku dan kemudian dia berlari menghampiriku.


“Terima kasih Mar.”


“Itu bukan masalah besar. Kalau begitu sudah ya...”


Aku pun melanjutkan perjalananku untuk menuju ke kantin.


“Mau kemana kamu Mar?”


“Kantin.”


“Aku ikut.”


“Baiklah.”


Sepertinya aku tidak mempunyai pilihan lain.


***


“Yup, minumannya sudah dapat. Sekarang waktunya kita kembali.”


“Hum!”


Selama di perjalanan, aku sama sekali tidak berbicara banyak dengan Yoshida, begitu juga dia tidak pernah memancing pembicaraan kepadaku. Saat sedang mendaftar ekskul, Yoshida juga menemaniku berkeliling tanpa berbicara apapun kepadaku. Kami hanya berbicara sesekali ketika ada hal menarik untuk dibicarakan.


Aku rasa kali ini, aku yang harus memancing pembicaraan dengannya. Walaupun awalnya aku merasakan kondisi yang seperti ini, tapi entah kenapa lama-lama canggung juga.


“Yoshida!”


“Iya Mar?”


“Apa Kichida itu benar-benar menyukai Takeshi?”


“Darimana kau tahu itu?!”


Yoshida terkejut ketika mendengar perkataanku.


“Apa Miyuki yang memberitahumu soal itu?”


“Tidak, aku sudah tau ini ketika melihat tingkah Kichida kepada Takeshi. Rina dan Maul juga sudah mengetahui tentang hal ini.”


“Pengamatan kalian ternyata hebat-hebat semua ya, sepertinya aku harus berguru kepada kalian.”


Aku rasa kau sendiri yang kurang peka dengan hal semacam itu.


“Itu bukanlah hal yang sangat rumit hingga kau perlu belajar untuk mengetahuinya. Tapi... Bukankah hal ini sangat rumit?”


“Kenapa?”


“Kichida menyukai Takeshi, Takeshi menyukai Miyuki, dan Kichida adalah sahabat baik dari Miyuki. aku rasa hal ini yang membuat hubungan sosial Miyuki di SMP menjadi tidak baik.”


Karena ini juga yang membuatku menjadi kenal dan mungkin dekat dengan Miyuki. Andai saja dari awal Miyuki memiliki hubungan yang baik dengan teman-temannya, dan dia menjadi pacarnya Takeshi, selain itu Kichida juga tidak membencinya. Aku rasa saat ini, aku akan kenal dengan Miyuki karena ibu kami adalah teman saja.


“Begitulah, karena banyak laki-laki di sekolah lamaku yang ingin mendekati Miyuki, jadi hubungan dia dengan teman-teman perempuannya juga semakin tidak baik.”


“Sebarapa banyak laki-laki yang menyukainya?”


Fan club? Aku tidak pernah tau ada ekskul seperti itu di sekolah. Selain itu memangnya fan club itu aktivitasnya.


“Untuk apa fan club itu dibuat?”


“Tentu saja, fan club itu buat untuk mengatur perdamaian antar laki-laki di sekolah?”


“Mengatur perdamaian?”


Sudah terdengar seperti perang!


“Dulu sebelum fun club itu dibuat, seluruh murid laki-laki mulai bersaing untuk mendapatkan Miyuki. Awalnya persaingan itu berjalan seperti persaingan pada umumnya, tapi lama ke lamaan semua murid mulai bermain kotor dan terdapat penindasan antara sesama murid untuk memperebutkan Miyuki. Di tambah dengan provokasi dari para perempuan membuat mereka pun makin bringas. Itulah kenapa dibentuk Miyuki Fan Club, untuk melindungi perdamaian di sekolah.”


Woaw... Aku tidak tau kalau hal itu akan sedrama itu. Tapi bukankah itu terlalu berlebihan? Aku rasa kasusnya Miyuki memang tidak jauh berbeda dengan Rina, tetapi murid-murid di sekolah Miyuki entah kenapa lebih anarkis dibandingkan yang ku kira.


“Cinta itu memang merepotkan.”


“Kenapa kamu selalu mengatakan kalau cinta itu merepotkan Mar? Apakah kamu mau semasa hidupmu tidak merasakan cinta sama sekali?”


“Ya karena hal itu memang merepotkan, aku berkata seperti ini bukan berarti aku tidak mau merasakannya, suatu saat nanti aku pasti juga akan merasakan hal ini tapi aku tidak tau siapa yang dapat membuatku merasakan hal itu.”


“Hmmm.... Jadi begitu.”


Aku rasa tidak ada salahnya menanyakan dia tentang hal itu.


“Oi Yoshida, apa kau tau tentang komik Yamaha dan Tujuh Montir?”


“Hee... Kenapa kamu bisa tau komik itu Mar? Komik itu sangat terkenal di Jepang, tapi aku belum bisa membacanya karena belum keluar di Indonesia. Aku tidak begitu suka membaca di ponsel.”


Hmmm... Mungkin ini yang Pak Hari maksudkan kemarin, kalau ada beberapa orang yang masih senang membaca sesuatu itu dalam bentuk buku.


“Aku sering melihat Kichida membaca komik itu, menurutku cerita di komik itu sangat aneh.”


“Aku sarankan kepadamu untuk membacanya Mar, itu sangat aku rekomendasikan kepadamu. Mungkin karena sekarang belum ada di Indonesia jadinya kamu harus menunggunya terlebih dahulu hingga terbit.”


Yoshida bersemangat ketika mengatakan itu kepadaku.


“Aku tidak begitu tau, aku tidak begitu suka dengan yang namanya komik. Dari dulu aku tidak begitu suka membaca itu.”


“Kamu harus mencobanya dulu Mar, banyak hal yang bisa didapatkan dari sana.”


Hal yang bisa didapatkan? Sepertinya aku hanya melihat adegan adegan ciuman dan balap motor saja dalam komik itu.


“Apa kau juga sudah membaca komik?”


“Aku hanya membaca beberapa. Aku tidak seperti Kichida yang hampir membaca semua komik yang ada dari berbagai macam aliran.”


“Tentu saja, Kichida kan memiliki cita-cita untuk menjadi mangaka. Apa mangaka itu adalah sesuatu pekerjaan yang hebat di Jepang?”


“Begitulah.”


“Heee....”

__ADS_1


“Lalu apa bacaan yang kau sukai Mar?”


Tanya Yoshida kepadaku.


“Apa ya? Sepertinya aku menyukai cerita yang berkaitan tentang sejarah dan peperangan zaman dulu yang lebih mementingkan strategi dibandingkan kekuatan.”


“Kalau begitu, mungkin kapan-kapan aku akan merekomendasikanmu beberapa anime yang memiliki cerita dan teman yang sama seperti itu.”


Anime ya? Sepertinya tidak buruk juga, lagi pula kadang-kadang aku butuh sesuatu untuk menghilangkan penatku setelah bekerja.


“Baiklah, aku akan menunggu rekomendasi darimu.”


“Hum!”


***


“RIKI!!!!... RIKI!!!!... RIKI!!!!


Ketika kami sampai di bangku mereka kembali, ternyata pertandingan Riki sudah dimulai dan Maul beserta yang lain sedang menyemangati Riki. Dan seperti apa yang baru saja aku katakan, Riki pun dapat memenangkan pertandingan itu.


Setelah menonton pertandingan itu, aku dan yang lainnya berniat untuk pulang ke rumah. Karena aku sudah ada mendapatkan pekerjaan jangka panjang dari Pak Hari, jadi aku tidak perlu datang ke kantor hingga pekerjaanku itu selesai.


“Selamat Riki!”


“Kau hebat Rik!”


“Kau memang temanku!”


Semuanya menyelamati Riki yang baru saja bergabung dengan kami untuk pulang ke rumah juga.


“Terima kasih!”


Riki terlihat sangat senang sekali mendapatkan ucapan terima kasih itu.


“Masih berapa pertandingan lagi untuk babak penyisihan?”


Tanyaku kepadanya.


“Masih ada lima kali pertandingan lagi, dan setelah itu aku pun berangkat ke Makassar untuk mengikuti O2SN di sana.”


Jadi O2SN tahun ini diadakan di sana.


“Masih banyak ternyata, berjuanglah! Mungkin aku tidak bisa menonton semua pertandinganmu karena harus mengerjakan beberapa pekerjaan.”


Ucapku kepadanya


“Aku juga.”


Begitu juga dengan Maul.


“Tenang saja, asalkan setelah O2SN ini kau memberikan sebuah pekerjaan kepadaku, aku akan memaafkannya.”


“Saat itu terjadi, aku sudah menjadi seorang bos perusahaan.”


Semua orang yang ada di sana pun terkejut mendengar itu termasuk Riki.


“Aku hanya bercanda.”


Semuanya pun langsung menjadi lemas setelah mendengar hal itu.


“Aku tidak percaya orang yang sering mengatakan apapun dengan serius dapat bercanda seperti itu.”


Ucap Yoshida.


“Bercandamu tidak lucu Mar?”


Ucap Miyuki.


“Aku kira tadi kau mengatakan sebuah kebenaran.”


Ucap Rian.


“Apa yang baru saja kau bicarakan Mar.”


Kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju ke halte Transjakarta yang ada di dekat sana. Ketika di pertengahan jalan, kami melihat kerumunan orang yang sedang melihat sesuatu yang ada di sana.


“Apa yang terjadi?”


Miyuki penasaran akan hal itu.


“Kalau seperti ini hanya ada dua kemungkinan saja, antara kecelakaan atau orang yang berkelahi.”


“Kenapa hanya dengan orang yang berkelahi dapat membuat kerumunan seperti itu?”


Yoshida juga menjadi heran.


“Aku juga tidak tau alasannya, tapi entah kenapa sangat menarik ketika melihat dua orang yang sedang berkelahi karena sesuatu.”


“Hobi mereka aneh juga.”


“Ya memang seperti itulah masyarakat Indonesia.”


Ketika kami melewati kerumunan itu, ternyata di sana ada dua orang yang sedang berkelahi. Dan seperti kebanyakan kerumunan seperti ini, pasti ada dua orang yang berusaha memisahkan mereka, sedangkan yang lainnya hanya melihat itu sebagai sebuah hiburan.


Aku, Maul, dan Riki pun langsung terus melangkah mengabaikan hal itu, melihatku yang terus melangkah tanpa berhenti membuat semuanya pun juga ikut mengabaikannya.


“Apa kau sering melihat hal seperti ini Mar?”


Tanya Miyuki kepadaku.


“Aku cukup sering melihat hal seperti ini di jalan, makanya aku sudah tidak heras dan penasaran sama sekali.”


Kadang juga aku menyempatkan diri untuk melihat terlebih dahulu, karena seperti yang aku katakan sebelumnya.  Sangat menarik melihat dua orang yang sedang berkelahi dan kadang-kadang alasan mereka berkelahi juga karena hal yang sepele.


“Enak sekali jika memiliki kenangan yang banyak seperti itu. Aku juga mulai memiliki banyak kenangan ketika bertemu denganmu dan juga yang lainnya, menurutku setiap harinya tidak terasa membosankan. Dari sekarang aku mau terus menambah kenangan-kenangan menyenangkan itu.”


Ucap Miyuki sambil tersenyum kepadaku.


Memang hari-harimu tidak terasa membosankan, tapi dari kesenanganmu itulah kadang-kadang aku harus melakukan sesuatu yang merepotkan. Aku tidak tau kapan hal ini akan terus-terusan berlangsung.

__ADS_1


- End Chapter 66-


__ADS_2