Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 90 : Hanya Kak Friska Yang Bisa Membuatku Seperti Ini.


__ADS_3

Untuk merayakan lima ratus ribu pengunduh dari Comic Universe, Pak Hari berniat untuk membuat pesta kecil-kecilan di kantor. Aku tidak tau apakah pesta ini bisa dikatakan kecil-kecilan atau tidak, tapi aku menganggapnya begitu karena pesta ini diadakan di kantor.


Setelah pulang sekolah, Aku beserta teman-temanku yang lainnya pergi ke kantor untuk menghadiri pestanya.


“Besar sekali!”


Rian mengatakan hal itu sambil melihat ke arah gedung.


Aku penasaran apa semua orang yang pertama kali aku ajak ke kantor akan mengatakan hal seperti itu atau tidak.


“Ayo kita masuk.”


Aku pun pergi ke resepsionis untuk mengambil tanda pengenal tamu di sana agar mereka semua tidak dicurigai saat masuk nanti. Kalau aku dan Maul sudah memiliki tanda pengenal sendiri karena kami memang bekerja


di sana.


Kami menuju ke lift untuk segera pergi ke atap karena pestanya diadakan di sana.


“Hebat sekali semua orang yang ada di meja resepsionis dan petugas keamanan yang kita lewati mengenalmu Mar.”


Ucap Miyuki kepadaku.


“Itu sudah jelas kalau mereka mengenalku, aku dan Maul sering pergi ke sini untuk bekerja. Aku juga sering berbicara dengan mereka ketika bertemu di atap walaupun hanya sekedar menyapa saja.”


“Banyak sekali karyawan di sini, bukannya perusahaan ini baru saja berdiri Mar.”


Riki melihat orang-orang yang lalu lalang di sekitar lobi tadi.


“Itu karena gedung ini digunakan oleh dua perusahaan, Pak Hari menyewakannya gedung ini untuk menambah pemasukan dari perusahaannya waktu dia baru pertama kali membuatnya, lagi pula kami belum membutuhkan banyak lantai untuk menampung karyawan.”


Sesampainya kami di atap, aku sudah dapat melihat banyak sekali orang yang mengikuti pesta tersebut. Aku dapat melihat hiasan-hiasan yang sudah terpasang di sana, aku rasa yang membuat dekorasi di pesta ini adalah Kak Malik, karena sentuhan dekorasinya hampir mirip dengan yang ada di stan ketika pensi waktu itu.


Aku juga dapat melihat Pak Febri yang sudah sampai di sana dan berbicara dengan Pak Hari.


“Mar! Mul! Sini.”


Pak Hari yang sudah melihatku dan Maul datang langsung memanggil kami untuk menghampirinya.


Kami semua pergi menemuinya.


“Apakah mereka semua teman-temanmu Mar?”


Pak Hari melihat teman-temanku yang berjalan mengikutiku di belakang.


“Iya, karena kau menelponku saat istirahat dan aku sedang bersama mereka semua. Jadi mereka mendengar pembicaraan kita waktu itu.”


“Selamat sore Pak!”


Semuanya pun menyapa Pak Hari.


“Kamu tidak sopan sekali dengan orang yang lebih tua Ar!”


Rina yang berada tepat di belakangku langsung memperingatkan itu.


“Tidak apa, aku memang yang menyuruh Amar untuk tidak terlalu formal kepadaku. Aku juga bukan tidak orang yang senang dianggap terlalu tinggi oleh orang lain.”


Pak Hari menjelaskan hal itu kepada Rina.


“Oh iya Lik, ini Natasha adikku. Mungkin beberapa kali aku sudah menceritakannya kepadamu.”


Pak Hari memperkenalkan Natasha kepada Kak Malik.


“Perkenalkan, nama saya Malik. Saya adalah asistennya Pak Hari, mungkin beberapa dari kalian sudah tidak asing dengan saya karena waktu itu saya pernah datang ke sekolah untuk membantu Amar dan yang lainnya mengurusi keperluan pensi.”


Kak Malik memperkenalkan diri kepada kami semua.


“Mungkin perkenalannya sudah cukup, kalian semua tidak usah sungkan untuk mengambil makanan yang kalian inginkan. Kalau kalian ingin meminum sesuatu, kalian bisa memesannya kepada barista yang ada di sana.”


Pak Hari menunjuk ke arah barista yang sepertinya sedang sibuk mempersiapkan pesanan seorang diri.


“Kalau begitu, aku pergi dulu untuk mengambil sesuatu.”


Riki dan Rian langsung pergi.


“Kita juga.”


“Hump!”


Begitu juga Kichida dan Yoshida.


“Kita juga Rin.”


“Iya...”


“Sepertinya aku akan mengikuti Miyuki saja.”


Rina dan Miyuki langsung mencoba berbaur di sana dan diikuti oleh Takeshi.


“Apa kau yakin tidak masalah menghamburkan uang seperti ini?”


Aku mendekati Pak Hari dan berbisik kepadanya.


“Hahaha.. Tenang saja, aku melakukan hal ini karena aku sudah menghitung semuanya dan yang aku keluarkan ini hanyalah bagian kecil dari pemasukan yang kita dapatkan.”


“Kalau begitu kapan bayaranku akan turun.”


Karena sudah lama sekali aku tidak mendapatkan pemasukan dari pekerjaan yang aku kerjakan. Pak Febri juga sekarang sudah jarang memberikanku pekerjaan lagi karena dia tau kalau aku sudah memiliki pekerjaan tetap.


“Kau tidak usah khawatir Mar, aku sudah menghitung itu semua dengan bagian keuangan tadi pagi, dan bulan depan semua bayaranmu akan turun mulai dari saat kau membuat aplikasi sampai gaji bulanan yang aku tahan selama ini.”


Woah! Aku tidak sabar sebanyak apa uang yang akan aku terima nanti, tidak sia-sia aku menunggu lama hal ini.


“Sudahlah dari pada membahas pekerjaan, lebih baik kau menikmati pestanya seperti teman-temanmu lainnya.”


“Baiklah.”


Aku menghampiri salah satu meja yang di atasnya terdapat beberapa jenis makanan di sana.


“Mar! Sini sebentar.”

__ADS_1


Pak Hari memanggilku lagi.


Tadi bukannya dia menyuruhku untuk pergi menikmati pestanya, kenapa sekarang dia memanggilku lagi.


Aku pergi menghampiri Pak Hari bergitu juga dengan Maul.


“Apa kau dipanggil Pak Hari juga?”


Aku bertanya kepada Maul yang berjalan tepat di sampingku.


“Iya.”


“Apa yang ingin dia bicarakan?”


“Entahlah.”


Kami pun mengikuti Pak Hari yang kami berdua sendiri tidak tau mau kemana Pak Hari membawa kami.


“Semuanya mohon perhatiannya sebentar!”


Pak Hari pun menarik semua perhatian orang yang berada di sana. Sekarang semua mata mulai tertuju kepada kami bertiga.


Jujur saja aku tidak menyukai kondisi seperti ini.


“Mungkin selama ini kalian sudah mengetahui kalau perusahaan ini memiliki empat orang atasan yang mendirikan perusahaan ini.”


Ah... Aku tau pembicaraan ini arahnya kemana.


“Dan kalian semua sudah mengenal Febri karena kalian bertemu dengannya saat wawancara, tapi kalian sama sekali belum mengenal dua orang lainnya. Dan sekarang tepat berada di sampingku ini adalah dua atasan kalian lainnya.”


Ketika Pak Hari berkata hal itu, semua pandangan yang sebelumnya tertuju kepada Pak Hari langsung menuju ke arah kami berdua. Aku sangat gugup ekspresi apa yang harus aku tunjukkan saat ini kepada mereka, aku tidak biasa menjadi perhatian publik seperti ini.


“Pasti ada banyak dari kalian yang belum mengenal mereka karena mereka hanya datang ke kantor ketika sore hari, tepatnya pada saat jam pulang kerja karena mereka harus bersekolah terlebih dahulu. Untuk itu mari kita berikan tepuk tangan yang meriah kepada mereka berdua atas kerja keras yang telah mereka berdua lakukan.”


Mereka semua pun bertepuk tangan kepada Maul dan Amar.


“Kenapa kau harus melakukan hal ini?”


Aku langsung menyampaikan sebuah protes kepada Pak


Hari.


“Karena beberapa hari yang lalu aku baru tau kalau ada banyak sekali karyawan yang tidak mengetahui tentang kalian berdua. Mungkin yang mengetahui kalian hanya mereka yang sering mengikuti rapat dengan kita, jadinya aku berniat untuk memperkenalkan kalian saat pesta ini.”


“Aku tidak masalah jika banyak diantara mereka yang tidak mengenalku.”


“Kau harus lebih menikmati hal-hal seperti ini Mar. Lihatlah Maul!”


Aku melihat Maul yang sekarang sedang berbicara dengan banyak orang yang ada di sana.


Setelah itu, aku kembali bergabung dengan Riki dan yang lainnya.


“Kenapa kau terdiam?”


Aku melihat Miyuki yang melihatku dan tidak berbicara sama sekali, biasanya di saat seperti ini dia akan berkata.


‘Hebat sekali kamu Mar,’ atau ‘Apaan wajahmu tadi, seharusnya kamu tersenyum seperti Maul,’ seperti itu.


Jadi selama ini mereka menganggap itu hanya bualan Maul semata. Aku kira mereka serius saat memujiku atau Maul di sekolah.


“Oi Mar! Siapa perempuan itu?”


Riki berbisik kepadaku dan melihat ke arah Kak Friska.


“Dia itu Kak Friska yang sering dibicarakan Maul di sekolah.”


“Jadi itu Kak Friska, dia memang sangat cantik.”


“Apa aku bilang, penilaianku memang tidak pernah salah.”


Maul pun datang bergabung dengan kami dan mulai membanggakan dirinya di depan Riki.


“Bisakah kau memperkenalkanku kepadanya Mul?”


“Boleh saja, tapi setelah itu aku akan memberitahu hal ini kepada Kirana kalau Riki sudah mulai melihat perempuan lain.”


Maul mengancam Riki.


Riki terdiam dan mengurungkan niatnya.


Persaingan untuk merebutkan Kak Friska ternyata keras sekali.


“Apa bapak berniat untuk mempekerjakan Natasha di sini?”


Aku bertanya kepada Pak Hari yang sedang berbicara dengan Natasha.


“Bagaimana menurutmu Natasha?”


Pak Hari menanyakan hal itu kepada Natasha.


“Aku mau sekali bekerja di sini, tapi aku tidak tau apa saja yang harus aku lakukan.”


“Kalau untuk hal itu, nanti aku bisa menyuruh Amar untuk mengajarimu. Kebetulan kalian satu sekolah dan satu kelas, jadi dia bisa mengajarimu ketika berada di sekolah.”


Itu ide bagus, aku jadi tidak perlu pergi ke kantor setiap hari hanya untuk mengajari Natasha saja.


“Aku tidak keberatan jika harus mengajari Natasha.”


“Kalau begitu mohon bantuannya.”


“Oh iya Mul, apa kau bisa membuat aplikasi itu bisa diunduh oleh orang yang ada di luar Indonesia?”


Pak Hari bertanya kepada Maul yang sedang menikmati makanannya.


“Loh! memang sebelumnya dimana saja aplikasi itu dipasarkan?”


Tanyaku kepada Pak Hari.


“Waktu itu aku hanya menyuruh Maul untuk memasang aplikasi ini hanya bisa diunduh oleh orang yang berada di Indonesia saja karena kita belum memiliki penerjemah untuk menerjemahkan komiknya ke dalam berbagai bahasa.”

__ADS_1


“Benar juga.”


“Aku berniat untuk memasarkan aplikasi ini ke seluruh dunia dan membuat bahasanya menjadi lima bahasa terlebih dahulu, yaitu Indonesia, Inggris, Jepang, China, dan Korea.”


“Bisa saja jika aku membuat seperti itu, tapi apa pendapatan kita sudah cukup untuk menerima karyawan baru untuk bekerja sebagai penerjemah?”


Maul bertanya balik kepada Pak Hari.


“Mungkin di awal aku akan menggunakan pekerja lepas seperti yang sebelum-sebelumnya tapi masalahnya di sini, harga pekerja lepas untuk menjadi penerjemah cukup mahal.”


“Kalau begitu lebih baik kita memikirkan ini lagi jika jumlah pengunduhnya sudah lebih banyak.”


Saranku kepada Pak Hari.


“Aku setuju dengan Amar, aku rasa yang perlu kita pikirkan saat ini adalah mengembangkan aplikasi dan sistem kontrak terlebih dahulu. Karena jika kita sudah siap membuka aplikasi ini hingga seluruh negara dapat mengunduhnya, berarti kita juga harus siap menerima komikus dari luar negeri.”


“Benar juga perkataanmu barusan, aku akan memikirkan hal ini lebih matang lagi.”


Pak Hari pun langsung memikirkan hal itu tepat saat itu juga.


“Apa yang ada dipikiran kalian semua hanya pekerjaan saja? Hari ini kita sedang berpesta, lebih baik kalian menunda terlebih dahulu pembicaraan itu nanti di lain hari.”


Pak Febri menegur kami yang dari tadi mendengarkan pembicaraan kami.


“Hahaha... Benar juga, aku sepertinya terlalu terbawa suasana karena mengetahui kalau sudah ada lima ratus ribu pengunduh aplikasi Comic Universe.”


Kami kembali menikmati pesta.


“Tempat ini indah sekali untuk melihat matahari tenggelam dan lampu-lampu kota saat malam hari.”


Rina menghampiriku yang sedang menikmati salah satu makanan yang ada di sana.


“Kau benar, tempat ini tempat yang biasa aku dan Maul datangi untuk beristirahat setelah bekerja atau rapat.”


“Melihatmu tadi, aku jadi ingin cepat-cepat memiliki sebuah pekerjaan.”


“Lebih baik untuk saat ini kau fokus dulu saja dengan pendidikanmu. Kau bisa melakukan hal itu setelah lulus dari sekolah nanti.”


“Kamu benar Ar, sepertinya aku terlalu terburu-buru.”


“Rina! Ke sini sebentar, ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu.”


Miyuki memanggil Rina dari kejauhan.


“Aku pergi dulu ya Ar!”


Aku pun mengangkat gelas yang berada di tangan kananku untuk memberikan isyarat kepadanya.


Ketika Rina pergi, aku dapat melihat teman-temanku membaur dengan karyawan yang ada di sana.


Dan sebuah bencana pun datang menghampiriku.


“Apa aku boleh bergabung denganmu?”


Kak Friska tiba-tiba datang menghampiriku entah dari mana dan saat ini dia berdiri di sampingku sambil menikmati segelas kopi sepertinya.


“Silahkan.”


Wah!! Bagaimana ini, aku yakin kalau Maul atau Riki yang melihatku saat ini mereka akan salah paham. Dan lagi sekarang sedang ada Rina dan Miyuki, apa yang akan aku katakan kepada mereka jika mereka melihatku. Apalagi ketika di sekolah tadi mereka habis-habisan mencurigaiku kalau aku menyukai Kak Friska. Sebaiknya aku pelan-pelan menjauhkan diri dari Kak Friska.


Untuk saat ini yang harus aku lakukan adalah bersikap tenang.


Tenang... Tenang... Tenang...


“Kenapa kamu tidak bergabung dengan yang lainnya?”


Kak Friska bertanya kepadaku.


“Aku tidak begitu suka dengan keramaian, itu membuat kepalaku sedikit pusing.”


“Hahaha... Kalau begitu kita sama, aku juga tidak begitu suka dengan keramaian.”


Apa-apaan ini! Kenapa alur pembicaraannya terlihat seperti kami sering berbicara, dan juga ternyata Kak Friska sangat imut sekali ketika tertawa.


Keheningan pun terjadi di antara kami berdua, tidak ada satu pun dari kami yang bisa melanjutkan pembicaraan. Aku sendiri tidak tau apa yang harus aku katakan kepada Kak Friska saat ini, kalau aku membicarakan pekerjaan mungkin dia akan menganggapku seperti Pak Hari sebagai orang yang gila bekerja. Setidaknya aku harus membuat gambaran diriku di pandangan Kak Friska kalau aku adalah anak sekolah pada umumnya.


“Kamu hebat ya Mar, sudah memiliki jabatan yang bagus di usia muda seperti ini.”


Kak Friska memulai pembicaraan kembali.


“Terima kasih.”


Aku pun sedikit malu karena dipuji oleh Kak Friska.


WHAT!... Apa-apaan ini! Kenapa aku malu-malu seperti ini, ini tidak seperti diriku. Untuk sekarang tarik nafas dan


tenangkan diriku terlebih dahulu, aku harus bersikap biasa. Aku juga harus melanjutkan pembicaraani ini.


“Ngomong-ngomong apa yang membuat Kak Friska masuk ke kantor ini?”


“Pada saat aku lulus dari kuliah, aku melihat lamaran dari kantor ini di sebuah majalah yang sering aku baca. Karena aku baru saja lulus dan masih bingung mau melamar pekerjaan di mana, jadi aku mencoba untuk mendaftarkan diri dan ternyata aku diterima. Awalnya aku tidak percaya kalau akan diterima sebagai sekertaris mengingat aku yang baru saja lulus dan belum memiliki pengalaman.”


Tentu saja dia diterima di sini, siapa juga perusahaan yang mau menolak sekertaris seperti dia. Aku jadi mengingat pembicaraanku dengan Pak Febri di sekolah tadi.


“Apa perempuan tadi pacarmu Mar?”


Ah sial! Aku memang ingin membuat Kak Friska menganggapku sebagai remaja pada umumnya tapi tidak seperti ini juga.


“Tidak, dia hanya teman saja.”


“Memangnya kamu tidak memiliki pacar? Biasanya anak seumuranmu pasti memiliki pacar, apalagi kau sudah memiliki penghasilan sendiri.”


“Untuk saat ini aku masih belum ingin memiliki pacar saja.”


Saat aku sedang berbicara dengan Kak Friska, Maul dan Riki pun datang menghampiri Kak Friska dan berbicara dengannya.


Karena sudah ada Maul dan RIki, sebaiknya aku pergi dari sini sebelum keadaannya makin rumit saja.


Aku secara perlahan mencoba untuk menjauhkan diri dari mereka dan menikmati pemandangan sore yang indah itu seorang diri sambil menikmati secangkir kopi yang sudah aku pesan.

__ADS_1


Huh.. Damainya hidup!


-End Chapter 90-


__ADS_2