
“Kalau begitu, saya pamit dulu ya semuanya.”
Pak Galuh langsung ingin pergi lagi untuk mengurusi soal kasus penculikan yang belum selesai itu.
“Iya Pak, terima kasih telah mengantarkan kami hingga sampai rumah.”
“Tidak masalah, seharusnya kami yang berterima kasih kepada kalian karena telah membantu dalam menyelesaikan kasus ini.”
Kemudian Pak Galuh langsung melaju mobilnya meninggalkan kami di depan rumahnya Miyuki.
“Apa kau sudah siap Kichida?”
Ucap Riki yang berdiri di sampingnya.
“Iya, aku sudah siap.”
Kami pun langsung memasuki rumah Miyuki. Dan ketika kami tiba di sana, ternyata kami sudah ditunggu oleh semua orang yang berada di rumah itu. Aku juga melihat ada orang tua Kichida yang berada di sana.
Sebenarnya aku hanya mengenal ibunya Kichida saja karena waktu mengambil rapot pernah bertemu denganku.
Kichida langsung berlari ke ibunya begitu juga dengan ibunya Kichida. Mereka berdua pun akhirnya berpelukan satu sama lain. Kichida pun kembali menangis dipelukan ibunya, sama halnya juga dengan ibunya.
“Lebih baik, kita melepas rindunya di dalam rumah saja. Sekarang cuaca di luar sedang dingin.”
Ucap bapaknya Miyuki kepada kami semua.
Saat tiba di ruang tau, aku langsung berjalan ke sofa dan duduk di sana sambil menyandarkan badanku di sofa.
Ah! Rasanya lebih nikmat dibandingkan bersandar di bangku mobil.
Aku juga melihat Riki yang duduk di sampingku dan melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan.
“Aku lelah sekali.”
“Aku juga Mar, padahal kali ini aku tidak banyak melakukan apapun.”
Ya mungkin karena misi kali ini lebih lama dibandingkan ketika kami menyelamatkan adiknya Akbar, jadi lebih terasa lelah saja.
“Apa kau tidak apa-apa Mar?”
“Apa kau tidak apa-apa Ar?”
Miyuki dan Rina bertanya kepadaku secara bersamaan.
“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.”
“Syukurlah.”
Rina merasa lega sekali setelah melihat keadaanku baik-baik saja.
Kenapa dia harus khawatir juga, bukannya dia melihat keadaanku ketika berada di sana melalui kamera pengawas.
“Terima kasih Mar, lagi-lagi kau membantuku.”
Miyuki berterima kasih kepadaku.
“Iya, sama-sama.”
“Tumben sekali kau berkata seperti itu, biasanya kau akan mengatakan ‘Itu bukan masalah besar’.”
Ucap Riki sambil mempergakan gaya pengucapanku ketika aku mengucapkan kalimat itu.
“Berisik kau Rik!”
Di pagi-pagi seperti ini, dia masih saja bisa bercanda. Aku saja sudah mengantuk dan ingin sekali pergi untuk tidur, tapi sebelum itu aku mau makan terlebih dahulu. Semoga saja ibunya Miyuki menyediakan makanan untukku.
“Seperti biasa kau melakukan ini dengan mudah Mar.”
Maul pun menghampiriku dan duduk di sampingku.
“Itu berkat bantuanmu juga Mul, terima kasih atas hal itu. Kau sangat membantu sekali ketika di sana.”
Kemudian bapaknya Kichida pun menghampiri kami dan dia membungkuk kepada kami bertiga.
“Saya berterima kasih kepada kalian semua karena kalian telah menyelamatkan anakku.”
Bapaknya Kichida mengucapkan itu dengan bahasa Indonesianya yang tidak terlalu fasih.
Kami bertiga sedikit terkejut dan sekaligus bingung apa yang harus kami lakukan. Karena tidak pernah ada orang yang berterima kasih kepada kami sampai membungkuk seperti itu.
“Tolong angkat kepalamu Om, aku merasa tidak enak.”
Suruhku kepadanya.
“Apa kalian memiliki permintaan yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kalian. Selama hal itu bisa dilakukan olehku, aku akan memberikannya kepada kalian.”
Bapaknya Kichida masih saja membungkuk di hadapan kami.
“Kami tidak memerlukan itu Om, kita melakukan ini karena Kichida adalah teman kami dan sebagai seorang teman sudah sepatutnya kami menolongnya ketika Kichida sedang dalam kesulitan.”
Woah! Lagi-lagi Riki mengatakan sesuatu yang keren. Dari mana dia mempelajari kata-kata seperti itu.
“Iya, Riki benar Om, kami tidak membutuhkannya.”
“Apa kalian bertiga tidak membutuhkan uang? Akan saya berikan kepada kalian sebanyak yang kalian mau.”
Lagi-lagi uang... Kalau saja uang di tabungan kami tidak sebanyak sekarang, mungkin kami akan menerimanya dengan mudah.
Daripada itu, bisakah kau tidak membungkuk di hadapan kami?
“Itu terlalu berlebihan Om.”
“Kami juga tidak terlalu membutuhkan uang.”
Akhirnya Maul bersuara juga akan hal itu.
“Tolonglah! Sebisa mungkin, aku mau membalas jasa yang sudah kalian lakukan kepada putri kami.”
Keras kepala sekali dia.
Kami bertiga saling pandang setelah mendengar hal itu, dan serasa kami melakukan telepati tentang keputusan itu.
“Kau urus hal ini Mar, aku tidak terbiasa dengan hal seperti ini.”
Itulah yang sekiranya diucapkan oleh Maul dari gerakan alis matanya.
“Aku serahkan kepadamu Mar, aku sudah lelah sekali.”
Begitulah ucap Riki dari gestur tubuhnya.
__ADS_1
“Kalau begitu, biarkan Kichida mengejar cita-citanya untuk menjadi komikus.”
“Apa hanya itu saja yang kalian inginkan?”
Bapaknya Kichida memastikannya lagi kepada kami bertiga.
“Iya.”
“Tanpa kalian minta pun, kami memang berniat untuk membiarkannya melakukan apa yang dia inginkan, apalagi setelah mengalami kejadian seperti ini.”
Syukurlah kalau begitu, aku kira dia akan keras kepala seperti sikapnya tadi.
“Amar!”
Ibunya Miyuki pun datang dengan wajah marah.
Aaah.. Sepertinya aku akan dimarahi di sini.
“Kenapa kau melakukan hal seberbahaya itu Mar! Kamu mengang.. Bla.. bla.. bla.”
Ibunya Miyuki benar-benar memarahiku tidak ada habisnya dan aku hanya bisa diam mendengarkan omelan dari ibunya Miyuki.
Aku serasa sedang dimarahi oleh ibuku di rumah.
Kemudian ibunya Miyuki pun berhenti memarahiku dan menghela nafas cukup panjang.
“Walaupun seperti itu, tante bangga sama kalian semua. Tante tidak menyangka kalau kalian bisa melakukan hal seperti ini.”
Aku hanya tersenyum menerima pujian dari ibunya Miyuki.
Ibunya Kichida juga datang menghampiri kami untuk mengucapkan terima kasih kepada kami.
Lalu setelah itu, bapaknya Miyuki pun datang dan melihat ke arahku.
Aku rasa kalau aku akan dimarahi kembali.
“Kau berbeda sekali dengan bapakmu Mar.”
Itulah yang keluar dari mulut bapaknya Miyuki. Aku kira, dia akan memarahiku seperti istrinya tadi.
“Banyak orang berkata seperti itu.”
“Banyak sekali yang ingin aku tanyakan kepadamu saat ini.”
“Tenang saja Om, aku sudah siap menjawab pertanyaan dari kalian semua.”
Lebih baik aku melakukannya sekarang daripada mereka menanyakannya di lain hari. Itu pasti akan sangat merepotkan bagiku, apalagi jika mereka menanyakannya di sekitar orang yang tidak tau permasalahannya. Pasti akan menjadi hal yang sangat menghebohkan sekali.
“Mah.. buatkan dulu makanan dan minuman kepada Amar dan Riki. Pasti mereka berdua belum makan dari semalam.”
Bapaknya Miyuki menyuruh istinya untuk menyiapkan makanan kepada kami
“Baik Pah.”
Ibunya Miyuki pun pergi ke dapur bersama dengan Rina dan Miyuki yang ingin membantunya.
Saat itu, Misaki yang sepertinya sudah tertidur terbangun dan pergi ke ruang tamu dengan keadaan setengah sadar.
Dengan menggunakan piyamanya, dia pun berjalan menghampiriku.
“Kenapa kau ada di rumahku sepagi ini Bang Amar?”
“Apa kami membangunkanmu Misaki?”
Misaki pun hanya mengangguk saja menjawab pertanyaan dariku sambil mengusap matanya dan sesekali dia juga menguap.
“Aku minta maaf karena sudah membangunkanmu Misaki.”
Misaki pun langsung duduk di sampingku dan meletakan kepalanya di pangkuanku untuk tertidur kembali.
“Misaki.. Kembalilah ke kamarmu untuk tidur.”
Suruh bapaknya Miyuki.
“Aku mau tidur di sini saja.”
“Sepertinya dia sudah tidak bisa lepas darimu Mar!”
Bapaknya Miyuki hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah dari Misaki.
“Sepertinya begitu, aku juga sudah menganggap Misaki sebagai adikku sendiri.”
“Hmmm... Jadi begitu.”
“Sepertinya kau sudah mengucapkan sesuatu yang tidak perlu kau ucapkan Mar.”
Ucap Riki yang menyadari sesuatu dari perkataan bapaknya Miyuki barusan.
Karena saat itu aku sudah mengantuk dan kepalaku sedikit pusing karena belum tidur, aku tidak tau apa yang salah dari ucapanku barusan dan aku tidak mau memikirkannya terlebih dahulu.
“Bagaimana dengan bapakmu sekarang Mul?”
“Bapakku sudah kembali ke kantor polisi untuk mengintrogasi semua orang yang ada di sana. Terutama Mr S yang menjadi pembawa acara tadi.”
“Apa acara pelelangan itu memiliki cabang lain ya?”
“Tidak, acara pelelangan itu hanya ada di Jakarta saja.”
Lagi-lagi dia sudah mengetahui hal itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh Pak Galuh ketika di mobil tadi, dia selalu cepat dalam mencari informasi.
“Dari mana kau tau itu Mul?”
Tanya Riki yang penasaran.
“Aku sudah mencari halaman web serupa yang memiliki algoritma yang sama dengan halaman web dari acara pelelangan itu. Tapi aku tidak menemukan yang lainnya dan hanya itu saja.”
Syukurlah kalau memang seperti itu, berarti kasus ini sudah bisa aku katakan selesai sampai di sini.
Kemudian ibunya Miyuki pun kembali dengan menghidangkan nasi goreng kepadaku, Riki, dan juga Kichida bersama dengan teh hangat.
“Silahkan kalian semua makan terlebih dahulu.”
Aku pun langsung menyantap makanannya karena sangat lapar sekali, Riki pun begitu. Padahal saat di sana, dia sudah memakan roti bakar satu porsi sendiri.
“Setelah kalian makan, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian bertiga.”
Ucap bapaknya Miyuki.
“Saya juga ingin berbicara dengan kalian bertiga.”
__ADS_1
Bapaknya Kichida ternyata juga ingin bertanya kepada kami.
“Baiklah!”
Kira-kira apa yang ingin mereka tanyakan ya?
Ya paling seputar pelelangan tadi sih...
“Kenapa Misaki berada di sini?”
Miyuki pun menghampiri Misaki yang masih tertidur dipangkuanku.
“Misaki... Ayo kembali ke kamarmu, kalau di sini kau hanya mengganggu Bang Amar saja.”
Miyuki berusaha mengangkat Misaki.
“Tidak! Aku mau berada di sini.”
“Mi-Sa-Ki!”
Seketika Misaki pun menuruti apa yang dikatakan oleh kakaknya dan kembali ke kamarnya diantar oleh Miyuki.
Pasti Miyuki sangat menakutkan ketika marah hingga Misaki sampai takut seperti itu.
“Yo Mar.”
Sekarang giliran Takeshi yang menghampiriku.
“Aku iri melihatmu beraksi tadi, tapi aku juga kagum dengan apa yang kau lakukan. Setelah melihat apa yang kalian berdua lakukan, aku yakin kalau aku tidak bisa melakukan apa-apa ketika berada di sana.”
Heee... Tumben sekali dia mengakui kelemahannya itu di depanku. Bukannya biasanya dia orang yang benci akan kekalahan, apalagi jika hal itu berkaitan denganku.
“Apa yang aku lakukan tidaklah sehebat itu Takeshi, aku hanya datang ke acara itu dan mengikuti acara pelelangannya seperti orang lain.”
Merendah untuk meroket.
“Itu adalah sesuatu yang hebat Mar! Mengelabui petugas agar mereka percaya kalau kau adalah peserta dari acara itu, berbicara dengan Maul secara diam-diam, dan mengikuti acara pelelangan tanpa hambatan apapun.. Itu sangat hebat jika dilakukan oleh anak seumuran kita.”
Aku baru menyadari satu hal... Ternyata Takeshi orangnya banyak berbicara juga ya.
“Hee.. Jadi begitu.”
Aku masih menikmati nasi goreng yang disajikan dan juga menghangatkan diri dengan teh hangat.
“Dengan ini semua jelas, aku tidak akan pernah bisa mengalahkanmu dalam segi apapun Mar.”
Saat itu aku hanya mendiamkan Takeshi dan aku sedikit bersyukur kalau Takeshi berpikir seperti itu. Karena Takeshi tidak akan berkembang jika dia masih terpaku kepadaku saja.
“Mul, dari mana kau mulai mendengarkan pembicaraan saat aku berada di kawasan malam itu?”
“Sejak kau sampai di kawasan itu, aku sudah meretas ponsel milikmu Mar. Walaupun tidak terdengar jelas, tapi aku tau apa yang sedang kalian bicarakan di sana.”
“Berarti kau mendengar pembicaraanku yang sebelum-sebelumnya?”
Maksudku di sini pembicaraanku ketika memberikan uang kepada perempuan yang aku temui di sana.
“Kalau yang kau maksud adalah ketika kau memberikan uang kepada seorang perempuan sebanyak satu juta lima ratus ribu, aku mengetahuinya.”
Ternyata dia memang mendengar hal itu.
Padahal aku ingin menyembunyikannya dan hanya Riki saja yang mengetahui hal itu.
“Siapa saja yang mengetahui itu?”
“Semua orang yang ada di sini mengetahuinya.”
“Kenapa kau tidak menggunakan earphone saja?”
Aku merasa keberatan sekali saat Maul mengatakan hal itu.
“Aku sebenarnya mau melakukan hal itu, tapi semua orang di sini keberatan dan berkata kalau mereka mau mendegarkannya juga.”
Setelah Maul berkata seperti itu, aku tidak bisa mengeluh lagi kepada Maul. Aku tau dengan jelas apa yang maul rasakan pada waktu itu. Kalau aku menjadi Maul, mungkin aku akan melakukan hal yang sama juga.
Apalagi saat itu bukan hanya Miyuki saja yang berada di sini. Ibu dan bapaknya juga berada di sini untuk mendengarkan dan melihat apa saja yang aku dan Riki lakukan.
“Sepertinya sedekah yang kau lakukan berhasil Mar!”
Ucap Riki kepadaku.
“Alhamdulillah...”
Apa yang dikatakan oleh Ustadz Adi benar, tidak ada salahnya memberikan sedikit harta kita kepada orang yang membutuhkan. Pasti hal itu akan kembali lagi ke kita dalam bentuk yang sama ataupun yang berbeda, bahkan jumlahnya bisa jadi lebih besar dengan apa yang aku keluarkan.
Memang bagi sebagian orang uang satu juta lima ratus itu tidak kecil, tapi bagiku yang di tabungan memiliki yang yang sangat banyak dan bingung harus aku apakan, itu terbilang sedikit.
“Apa kau sebenarnya seorang anak muda Mar?”
Yoshida menilik ke araku dengan rasa penasaran yang tinggi.
“Tentu saja, aku masih berumur lima belas tahun saat ini.”
“Berarti kau anak muda yang aneh Mar!”
“Aku tidak tau apa itu sindiran atau pujian.”
Yoshida hanya tersenyum saat aku mengatakan hal itu.
“Mar, jangan pernah terlibat dalam hal seperti ini lagi!”
Ibunya Miyuki yang masih berada di sana memperingatiku akan hal itu.
“Iya tante, aku tidak akan terlibat hal ini lagi.”
Ya, karena kasus ini sudah selesai dan tinggal menyerahkannya kepada kepolisian. Tentu saja aku tidak akan terlibat lagi.
“Apa orang tuamu sudah megetahui tentang hal ini?”
“Tante... Aku mohon jangan mengatakan hal ini kepada kedua orang tuaku!”
Aku memohon dengan sangat kepada ibunya Miyuki.
“Tante akan merahasiakannya selama kamu berjanji tidak melakukannya lagi.”
“Aku berjanji!”
Aku mengatakan hal itu dengan lantang.
Karena kalau sampai ibuku mengetahui tentang hal ini, bisa-bisa aku dimarahi satu minggu penuh.
__ADS_1
-End Chapter 142-