Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 11 : Perkelahian Antar Sahabat.


__ADS_3

“Apa?!”


“Aku mencurigai Kirana sebagai dalang di balik semua ini.”


Aku melihat Riki yang terdiam setelah mendengar ucapan dariku. Aku tau kalau Riki sedikit kesal dengan ucapanku, karena aku telah mencurigai Kirana yang saat ini menjadi pacarnya.


“Aku kecewa denganmu Mar. Aku kira kau akan menerima Kirana yang telah menjadi pacarku.”


“Maaf saja, sejak awal aku sudah mencurigai kalau dia memiliki maksud lain.”


“Dari dulu sifatmu memang tidak pernah berubah.”


“Kau sudah mengenalku sejak sekolah dasar, seharusnya kau sudah tau itu.”


Riki melepaskan jaketnya dan menaruh tasnya tepat di sampingnya.


“Mau kita menyelesaikan masalah ini seperti saat itu?”


Riki mengepalkan tangannya dan menghantamkan kedua tangannya.


“Boleh saja. Aku sudah lama tidak berkelahi, sepertinya tubuhku muali terasa kaku.”


Aku juga meletakan tasku di sebelah kananku. Aku sedikit memutarkan pergelangan tanganku untuk melenturkannya.


“Sebenarnya saat ini, aku sedang tidak mau berkelahi, tapi mau bagaimana lagi.”


“Majulah Rik, aku mau melihat sejauh mana perkembanganmu.”


Riki pun mulai melompat untuk mendekatiku dengan kecepatan yang sangat cepat seperti biasanya.


Seperti yang aku duga dari orang terkuat di sekolah ini.


Perutku pun berhasil dipukulnya dengan sangat kencang yang membuatku berlutut karena kesakitan. Aku hampir saja memuntahkan semua makananku.


“Mengapa kau tidak menghindar?”


Riki menatapku dengan sangat kesal, seakan aku sedang meremehkannya.


“Mana mungkin aku bisa menghindari serangan cepatmu itu.”


Aku masih memegang perutku yang masih sakit terkena serangan dari Riki.


“Jangan bercanda, seharusnya kau bisa menghidari serangan seperti itu. Apa kau meremehkanku Mar?”


“Mana mungkin aku meremehkanmu, memang kau saja yang sudah jauh lebih kuat.”


“Aku muak dengan sikapmu itu Mar.”


Riki mengambil jaket dan tasnya yang tergeletak di tanah, kemudian dia pergi meninggalkanku.


“Baiklah, langkah pertama sudah berjalan. Kau bisa keluar Mul.”


Maul pun keluar dari balik tembok yang berada di belakangku. Dia sudah berada di situ sebelum Riki datang menemuiku. Memang aku menyuruhnya untuk berada di sana.


“Padahal baru saja aku bilang jangan mencari ribut dengan Riki, tapi kau malah tidak mendengarkannya... Mau aku bantu?”


Maul menghela nafasnya dengan sangat panjang dan dia pun membantuku untuk berdiri.


“Terima kasih... A-aduh, pelan-pelan Mul. Perutku masih sakit.”


“Hebat juga kau tidak pingsan setelah di pukul seperti itu.”


“Sebenarnya aku sempat menahan tangannya dengan menggunakan tangan kananku, tetapi hal itu tidak berpengaruh banyak untuk menahan serangannya Riki.”


“Pantas saja Riki sangat menghormatimu, ternyata kau bukanlah orang yang lemah.”


“Aku tidaklah sekuat itu.”


“Tapi aku tau kalau kau tadi sengaja mengalah kan?”


Aku hanya tersenyum kecil setelah mendengar hal itu, ternyata penglihatannya Maul cukup tajam untuk melihat hal secepat itu.


“Begitulah.”


“Lalu apa rencanamu sekarang? Aku sama sekali belum diberitahu olehmu tentang hal itu.”


“Sebenarnya saat ini aku sudah tidak mencurigai Kirana.”


“Lalu kenapa kau berkata seperti itu kepada Riki?”


“Aku merasa kalau ada seseorang yang mengendalikan Kirana dari belakang. Itu dapat terlihat saat percakapan kita di kantin siang tadi... Jadi aku rasa orang itu juga mau mengendalikan Riki melalui Kirana.”


“Oke aku sudah paham.”


“Seperti yang aku harapkan dari Maul.”


“Jadi kau mau membuat orang ini menunjukan diri karena kau dan Riki sudah bertengkar?”


“Benar sekali, selain itu aku mau kau bermain peran licik di sini?”


Aku mengambil tasku dan kemudian kami mulai berjalan menuju ke depan sekolah.


“Licik maksudmu?”


“Aku mau kau berteman dengan Riki seperti biasanya dan mulai menjauhiku mulai besok.”


“Bukankah di saat seperti ini akan sangat buruk jika kau tidak memiliki seorang teman.”


“Aku tidak peduli, tapi yang kubutuhkan saat ini adalah informasi yang dapat kau kumpulkan selama kau bermain sebagai orang licik di sini.”


“Aku paham sekarang, rencanamu tidak buruk juga. Baiklah.. Akan aku ikuti rencanamu.”


“Kalau begitu aku mohon bantuanmu untuk kedepannya.”


“Tenang saja, serahkan padaku.”


Keesokan hari pun telah tiba, rencana yang aku susun untuk membongkar pelaku dari kasus penyebaran rumor tentangku sudah berjalan. Saat ini, aku sedang berjalan menuju kelasku.


Hari ini adalah hari jumat, dan juga hari ini adalah hari terakhir di pekan ini aku menjalani kegiatan belajar mengajar seperti biasanya, karena minggu depan aku sudah menjalani ujian praktik.


Baiklah, biar aku jelaskan kondisiku saat ini.


Saat ini aku sedang berjalan ke kelasku, setiap aku berpapasan dengan seorang murid yang ada di sekolah ini, aku selalu ditatap mereka dengan sinis. Aku tidak tau isu apa yang tersebar lagi di tengah-tengah mereka, tapi aku yakin kalau isu itu makin memperkeruh keadaanku di sini.


Akhirnya aku pun mengabaikan hal itu dan terus melangkah menuju ke kelasku. Seperti biasa aku duduk di belakang kelas dengan sebuah kursi yang sudah disiapkan untuk diriku sendiri.


Nikmat sekali bisa duduk seorang diri tanpa ada yang mengganggu. Jika seandainnya tidak ada isu yang beredar saat ini, aku yakin ini sangat menyenangkan sekali.

__ADS_1


“Lihatlah orang itu... Dia makin tidak tau diri saja.”


“Iya, hanya karena Rina menyukainya dia bisa sombong seperti itu.”


“Bahkan dia juga menuduh Kirana yang bukan-bukan.”


“Buruk sekali.”


Oke, aku mulai terbiasa dengan hal ini. Tapi sepertinya ketika aku berada di sekolah dasar, aku juga pernah mengalami hal yang sama. Apa itu hanya perasaanku saja?


Apa Maul bisa menjalankan rencananya dengan baik? Aku rasa aku tidak perlu mengkhawatirkannya.


Tiba-tiba sebuah kertas yang sudah dibuat menjadi sebuah bola seukuran genggaman tangan mengarah tepat ke kepalaku.


Aduh!


Aku melihat ke arah sekelompok laki-laki yang sedang melihat ke arahku. Aku tau kalau lemparan kertas itu berasal dari mereka. Mereka terlihat senang sekali ketika kertas itu mengenaik kepalaku.


Mereka bertiga adalah Rendi, Izul, dan Zaki. Memang mereka bertiga orang yang paling tidak menyukai jika aku dekat dengan Rina.


Bukankah ini kelewatan? Bisa saja aku membalas mereka, tapi itu akan memperkeruh keadaan saat ini. Lebih baik aku diamkan dulu mereka dan mengamati kondisi sekitar.


Niat awalku sebenarnya mau seperti itu, tapi ada seorang perempuan yang sangat baik hati langsung menghampiriku ketika dia melihat aku dilempari kertas.


“Kamu tidak apa-apa Ar?”


Rina dengan seluruh perhatian yang dia miliki langsung bertanya kepadaku dengan penuh kehangatan.


Pada saat itu aku sempat berpikir kalau seandainya Rina menyatakan perasaannya padaku saat ini, aku mungkin akan menerimanya. Ya, aku bisa jamin itu.


“Aku baik-baik saja.”


“Mereka jahat sekali melemparimu seperti ini.”


Rina memungut kertas itu.


“Aku buang kertas ini ya Ar.”


“Terserah kau saja.”


Rina pun keluar kelas untuk membuang kertas itu. Aku melihat wajah lelaki yang melempariku tadi. Mereka terlihat sangat kesal karena perlakuan mereka membuat Rina menaruh perhatian lebih kepadaku. Aku puas sekali melihat wajah mereka yang seperti itu.


Kemudian saat Rina ingin kembali ke kurisku, teman-temannya menahannya agar tidak bertemu denganku, aku hanya tersenyum kecil melihat kelakukan mereka.


Memangnya mereka anak-anak...


***


“Dia parah sekali.”


“Dasar lelaki pengecut.”


“Dia bukanlah tandinganmu Rik.”


Saat ini aku sedang berada di kantin. Ketika tiba di sana, aku melihat Riki yang sudah duduk bersama dengan kelompok barunya, tentu dengan Kirana yang berada di sampingnya.


Sepertinya laki-laki yang berkumpul dengan Riki adalah kumpulan lelaki terkuat yang ada di sekolah ini. Oh, ada Maul juga di sana.


Aku akan membeli dua buah roti lalu pergi ke halaman belakang sekolah. Aku tidak yakin diriku akan di terima di kantin ini. Lebih baik aku menghindari sesuatu yang tidak diperlukan, karena aku tidak mau repot untuk sekarang.


Aku melihat Kirana yang melirik kepadaku.


Kemudian aku mulai berjalan melalui Riki dan gerombolannya. Aku sudah tau pasti, kalau aku akan dihina saat lewat di hadapannya.


“Lihat dia, seperti pecundang saja.”


“Benar, padahal wajahnya tidak begitu tampan.”


Maaf saja jika wajahku tidak terlalu tampan.


Setelah membeli beberapa roti di kantin aku langsung pergi ke belakang sekolah untuk menyendiri.


“Ternyata begini rasanya tidak memiliki teman, aku harus melakukan apa pun seorang diri.”


Aku membuka salah satu roti yang sudah aku beli dan kemudian aku memakannya.


Saat itu aku melihat langit cerah tidak berawan sama sekali, suara bising dari para siswa yang sedang beristirahat menjadi lagu yang menemani acara makan siangku seorang diri itu, kadang juga terdengar teriakan tukang roti yang lewat di belakang sekolahku.


Kemudian seorang perempuan datang menghampiriku dan dia duduk tepat di sampingku.


“Buat apa kau ke sini? Bukankah tadi kau bersama dengan Riki.”


“Aku merasa tidak enak denganmu.”


Kirana pun membuka bekal yang dia bawa dan memakannya bersama denganku.


“Apa Riki sudah menceritakannya kepadamu?”


“Sudah, dia sudah menceritakan kalau kamu mencurigaiku sebagai dalang di balik isu ini.”


“Lalu kenapa kau datang ke sini?”


“Sebenarnya aku ingin memberitahumu sesuatu tapi...”


Aku melihat Kirana yang sangat tertekan ketika ingin mengatakan itu.


“Kau tidak perlu mengatakan lebih dari itu, aku sudah tau kalau kau bukanlah dalang dibalik semua ini.”


“Benarkah?”


“Tentu, begini juga aku cukup ahli dalam membaca gimik seseorang.”


“Kalau begitu mengapa kamu mengatakan hal itu kepada Kak Riki?”


“Lagi pula dari awal aku tidak membutuhkan bantuanmu, aku yakin bahwa sebentar lagi aku akan menemukan siapa dalang di balik semua ini.”


“Jika Kak Amar mengatakannya seyakin itu, aku sepertinya hanya bisa percaya saja.”


Kemudian aku mendengar langkah kaki dari arah Kirana datang.


Dua? Tidak, sepertinya ada tiga orang yang mengarah ke sini.


“Kirana, kau harus pergi dari sini segera.”


“Kenapa Kak!?”


“Ada beberapa orang yang sedang menuju ke sini, kau harus cepat pergi dari sini atau mereka akan tau kalau kau bersekongkol denganku.”

__ADS_1


“Memangnya kenapa?”


“Itu akan menghancurkan rencana yang telah ku buat. Lebih baik kau pergi saja dari sini.”


“Baiklah kalau begitu Kak. Kakak berhati-hatilah.”


Kirana pun merapikan bekalnya kemudian pergi dari halaman belakang sekolah melewati jalan yang langsung menuju ke gerbang sekolah.


Mari kita lihat, siapa yang datang ke sini.


Ternyata yang datang ke belakang sekolah adalah lelaki yang sebelumnya berkumpul dengan Riki di kantin. Mereka sekarang sedang berjalan ke arahku dengan tatapan tengilnya. Aku sudah tau apa yang ingin mereka lakukan di sini.


Aku pun berdiri untuk menyambut mereka.


“Wah.. Wah... Tuan penyendiri sepertinya sedang makan siang di sini.”


Dan setelah mengatakan itu mereka pun mentertawakanku.


“Apa yang yang ingin kalian lakukan di sini?”


Seseorang yang paling besar maju ke hadapanku.


“Bagaimana rasanya diabaikan? Bukankah tidak enak.”


“Tidak buruk, aku mulai menyukai hal ini.”


“Cih... Aku muak dengan sikap sok tenangmu itu.”


“Sok tenang? Memang seperti ini sikapku. Buat apa aku harus panik dengan hal ini?”


“Jangan banyak bicara kau, sekarang aku akan mengajarkan padamu bagaimana seharusnya pecundang bersikap.”


Lelaki itu pun melancarkan sebuah serangan yang sangat kuat ke arah perutku hingga membuatku.


Apa aku harus meladeni mereka? Untuk saat ini sepertinya aku mengalah saja.


Ketika aku sedang berlutut, kedua temannya yang dibelakang maju dan kemudian mereka menendangiku bersama-sama hingga aku terjatuh.


“Seperti inilah pecundang, tergeletak di tanah dan dihinakan.”


Lelaki besar itu terus menendangiku. Tendangan mereka terasa sangat kuat dan keras.


Sfx : Teng… Teng... Teng… Teng……


“Untuk hari ini sampai di sini saja, Ayo semuanya.”


Mereka pun akhirnya meninggalkanku seorang diri.


“Sa-sakit sekali, mereka tidak punya hati apa ketika melakukan hal ini.”


Aku pun berusaha untuk duduk dan bersandar di dinding yang ada di belakangku.


Sepertinya aku akan pergi ke UKS untuk bolos, setidaknya aku memiliki alasan yang kuat untuk pergi ke UKS.  Ternyata di pukuli orang tidak seburuk itu. Sekarang aku bisa tidur yang lama hingga pulang sekolah nanti.


Tapi yang benar saja, mereka sampai berani bertindak seperti itu. Berarti apa yang dikatakan Maul memanglah benar kalau keberadaan Riki sangat berharga untukku.


Setidaknya dari kejadian ini aku mengetahui siapa orang yang membenciku.


Jujur saja, aku tidak mengenal siapa mereka dan aku tidak pernah memiliki masalah dengan mereka berdua. Tapi mengapa mereka bisa sebenci itu denganku, aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Namun aku yakin kalau mereka bertiga ada katiannya dengan semua ini.


Mungkin aku akan menanyakannya, tentu saja aku akan membalas perbuatan mereka kepadaku saat ini.


Setelah sekiranya aku sudah tidak merasakan sakit akibat tendangan mereka. Aku mulai pergi ke UKS untuk beristirahat di sana. Karena aku tidak mungkin ke kelas dengan keadaan yang berantakan seperti ini, yang ada aku malah mereka mentertawakanku.


***


“Kamu kenapa Amar?”


Guru yang sedang menjaga di UKS terkejut ketika melihatku datang.


“Aku hanya terjatuh saja Bu di lapangan.”


Aku langsung pergi ke salah satu tempat tidur yang ada di sana dan duduk di atasnya.


“Kamu pasti habis berkelahi, ini bukan luka jatuh sama sekali.”


Bu guru membawa kotak P3K dan alkohol untuk membersihkan luka memarku.


“Tidak Bu, saya memang terjatuh tadi.”


“Kalau memang ada yang mengganggumu di sekolah ini, jangan sungkan untuk bilang ke Ibu, pasti Ibu akan membantu.”


“Tenang saja Bu, saya memang terjatuh. Lagi pula mana mungkin anak seperti saya berkelahi, apa lagi dijahili oleh seseorang.”


Walaupun saat ini memang banyak murid yang mulai menjahiliku.


“Baiklah kalau ini hanya terjatuh. Tapi kalau seandainya kamu seperti ini lagi, Ibu pasti akan melaporkan ini ke guru BK.”


Aku tidak mau membawa masalah ini hingga ke ranah sekolah, aku akan menyelesaikannya sebelum ketahuan sekolah.


Setelah membersihkan luka yang kudapat, Bu guru pun kembali ke kelas karena harus mengajar dan sekarang aku sedang berada di ruang UKS seorang diri tanpa ada siapa pun yang mengganggu.


Semoga tidak ada kejadian yang merepotkan seperti tadi, kalau seandainnya memang hal itu terjadi lagi sepertinya aku harus benar-benar bertindak. Aku tidak bisa diam saja seperti tadi.


Aku pun berbaring di salah satu kasur yang ada di sana dan mulai menatap langit-langit UKS.


Apa yang aku lakukan saat ini benar?


Sebenarnya dari dulu aku sangat ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang tertindas.


Dari dulu aku selalu memiliki banyak sekali teman, walaupun sikapku yang sedikit blak-blakan dalam berkata sesuatu, tetapi mereka masih saja mau berteman denganku.


Ketika di sekolah dasar dulu, aku selalu melihat temanku yang selalu diganggu oleh kakak kelas dan aku selalu bertanya kepadanya setelah itu.


Apa yang kau rasakan saat itu?


Tapi ketika aku menanyakan hal itu kepadanya, dia malah marah kepadaku dan dia berhenti berbicara kepadaku. Padahal setelah dia menjawabnya aku akan membantunya lepas dari kakak kelas yang mengganggunya itu. Tapi karena dia yang memutuskan untuk tidak bicara denganku, Ya sudah. Lagi pula bukan aku yang membutuhkan hal itu.


Ternyata rasa yang aku dapatkan tidaklah buruk, aku rasa orang akan cepat berkembang jika masuk ke dalam jurang yang sangat dalam.


Menurutku seseorang yang selalu mendapatkan masalah dalam hidupnya akan jauh lebih bijak dalam memilih pilihan dalam kehidupan dibandingkan orang yang sehari-harinya hanya berada di zona nyaman.


Karena orang yang berada di luar zona nyaman selalu melakukan sesuatu dengan risiko yang mereka bawa. Mereka terpaksa melakukan try and error tanpa harus berpikir terlebih dahulu.


Sebenarnya dulu pernah terbesit dipikiranku kalau itu adalah satu-satunya cara untuk menjadi orang yang berguna. Tapi setelah bertemu dengan Riki dan Maul, sepertinya teoriku hanyalah sebuah hipotesis belaka.


Hentikan itu... Buat apa aku memikirkan hal yang sudah berlalu, lebih baik aku memanfaatkan waktuku untuk tidur di UKS. Waktu pulang sekolah masih dua jam lagi, sepertinya aku masih memiliki banyak waktu untuk tidur.

__ADS_1


Selamat malam, semoga aku segera melewati hari yang melelahkan ini.


-End Chapter 11-


__ADS_2