Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 74 :Sekolah Adalah Rumah


__ADS_3

Kedua Bagiku.Sudah seminggu ketika istirahat, aku tidak pernah pergi ke tempat biasa karena aku ingin tidur di kelas. Akhir-akhir ini aku sedang dikebut kerjaan karena aplikasi Comic Universe yang hari ini akan rilis.


Seperti biasa, aku pergi ke UKS untuk tidur di sana karena di UKS tempatnya lebih enak untuk tidur dibandingkan dengan di kelas. Kalau di kelas juga kadang-kadang Miyuki dan Rina suka datang untuk menggangguku tidur.


Ketika aku sampai di sana, ternayta Maul sudah berada di sana dan tertidur di salah satu kasur yang berada di UKS.


Ternyata dia sudah ada di sini, lebih baik aku juga segera tidur sebelum waktu istirahat habis. Masih ada tiga puluh menit sebelum bel masuk berbunyi, sepertinya itu sudah cukup untuk membayar waktu tidurku yang hilang kemarin malam.


Aku pun mulai berbaring di kasur yang kosong dan memejamkan mataku.


***


Teng... Teng... Teng... Teng....


Aku pun mendengar bel berbunyi dan langsung terbangun dari tidurku. Aku mencoba untuk mengumpulkan kesadaranku dan melihat ke sekitarku. Aku melihat Maul yang sudah terbangun dan mengumpulkan kesadarannya juga, selain itu aku juga melihat guru yang bertugas di UKS sudah berada di sana. Memang kita tidak akan dimarahi untuk menggunakan UKS untuk tidur saat istirahat.


“Kenapa kau ada di sini juga?”


Maul melihatku dengan mata yang masih mengantuk.


“Tentu saja untuk tidur, memangnya apa lagi.”


“Kenapa kau tidak tidur di kelas?”


“Kalau aku tidur di kelas, banyak sekali gangguan yang membuatku tidak bisa tidur dengan tenang.”


Entah itu dari Miyuki dan Rina atau dari teman-teman sekelasku yang selalu mengajakku untuk berbicara ketika istirahat. Kalau aku dalam kondisi yang biasa-biasa saja dan tidak mengantuk, aku akan meladeni mereka sampai waktu istirahat berakhir.


“Apa aku perluu datang ke kantor nanti?”


“Apa kau lupa kalau hari ini adalah hari aplikasi Comic Universe dirilis? Tentu kita harus datang ke sana.”


“Akhirnya aku bisa tidur dengan tenang juga malam ini.”


Kami pun mulai berjalan keluar dari UKS dan menuju ke kelas kami.


“Apa pelajaran selanjutnya di kelasmu?”


Tanya Maul kepadaku.


“Olahraga.”


“Buruk sekali.”


“Aku setuju denganmu, di saat aku sedang kurang tidur seperti ini dan aku harus mengikuti pelajaran olahraga.”


Ketika aku sampai di kelas, ternyata semua temanku sedang mengganti pakaiannya di sana.


Tenang saja, di dalam cerita ini tidak akan ditemukan adegan dimana aku tidak sengaja masuk di saat para anak perempuan sedang mengganti bajunya. Karena di sekolahku anak perempuan pada mengganti pakaiannya di kamar mandi, jadi hal itu tidak mungkin terjadi.


“Ayo Mar cepat ganti bajumu! Pelajaran olahraga akan segera di mulai.”


Suruh Riki yang sudah menggunakan bajunya dan bersiap menuju ke gedung olahraga. Aku pun langsung mengganti pakaianku dengan segera dan perg ke gedung olahraga.


Saat di gedung olahraga, aku sangat mengantuk sekali. Padahal aku sudah tidur di UKS tadi, tapi kenapa aku masih mengantuk ya?


“Kenapa hari ini kau mengantuk sekali Mar? Bukankah kau sudah tidur di UKS tadi.”


Riki pun memperhatikanku yang dari tadi menguap terus.


“Kemarin malam adalah hari terakhir tenggang waktu dari pekerjaanku dan masih banyak yang belum aku selesaikan, jadinya malam kemarin aku bergadang sampai pagi untuk menyelesaikan semua itu.”


“Apakah pekerjaan itu masih sama dengan pekerjaan yang kau lakukan dengan Maul?”


“Begitulah.”


“Memangnya apa yang sedang kau kerjakan?”


Aku rasa tidak salahnya memberitahu Riki sekarang, lagipula akhir ini aplikasi itu sudah dirilis juga.


“Aku sedang bekerja di perusahaan penerbitan yang sedang membuat aplikasi untuk membaca komik secara digital.”


“Pantas saja kau sering meminta rekomendasi komik kepada Kichida, jadi ini alasannya. Lalu apa tugasmu di sana?”


“Aku menjadi editor di sana, aku ditugaskan untuk memeriksa komik-komik yang dibuat oleh para komikus. Apakah sesuai dengan persyaratan dari perusahaan atau tidak.”


“Pekerjaan itu sangat berat sekali kedengarannya.”


“Kalau komik yang aku periksa jumlahnya sedikit, mungkin tidak terlalu berat. Tapi komik yang harus aku periksa sangatlah banyak sekali, itulah kenapa aku selalu mengerjakannya hingga larut malam.”


Walaupun awalnya Pak Hari hanya bisa mendapatkan tiga puluh komikus yang ingin membantu dalam perilisan aplikasi itu. Tapi ketika webnya sudah dirilis, tiba-tiba banyak sekali komik baru yang masuk ke aplikasi itu. Aku tidak tau apa yang Maul lakukan hingga membuat banyak sekali orang baru yang ikut mendaftar untuk menerbitkan komiknya.


“Aku tidak tau bagaimana rasanya itu.”


“Nanti kau akan merasakannya ketika sudah selesai O2SN, jadi bersabarlah.”


Ketika pelajaran olahraga, kelasku dan kelasnya Miyuki digabung untuk menjalankan pelajaran bersama karena guru olahraga yang dimiliki sekolah ini tidak banyak dan pelajaran kali ini adalah olahraga bola voli.


“Kenapa harus ada pelajaran voli di saat seperti ini.”


Aku memandang lemas ketika guru olahraga mulai menjelaskan dan mempraktikkan teknik-teknik dalam voli.


“Memangnya kenapa Mar?”

__ADS_1


“Aku tidak terlalu bisa dalam olahraga bola voli. Saat kondisi biasa saja aku tidak yakin bisa melakukan servis bola dengan benar, apalagi kalau dalam kondisi seperti ini.


Guru olahragaku pun sudah selesai menjelaskan dan mempraktikkannya kepada kami dan memanggil kami satu per satu untuk memperaktikkannya juga.


“Amarul Ihsan.”


Baiklah, sekarang giliranku.


Seperti apa yang aku katakan tadi, aku tidak bisa melakukan servis dengan benar dan aku selalu ditegur oleh guru olahragaku.


Aku payah sekali hari ini.


Aku pun duduk di pinggir lapangan dan memperhatikan murid-murid lain melakukannya setelah giliranku selesai.


“Kenapa kau hari ini Mar? Tidak seperti kau biasanya saja.”


Kichida yang sudah selesai dengan gilirannya langsung menghampiriku.


“Hari ini adalah tenggang waktu dari pekerjaanku dan aku baru menyelesaikan pekerjaanku tadi pagi, itulah kenapa aku tidak cukup tidur hari ini.”


“Apakah hal itu ada kaitannya dengan kau yang pergi ke UKS ketika istirahat tadi.”


“Iya, aku baru saja tidur di sana.”


“Apa yang sedang kau kerjakan itu aplikasi komik yang sebentar lagi akan rilis di Indonesia yang berana Comic Universe?”


Ternyata Kichida juga sudah tau kalau aplikasi itu akan terbit juga.


“Darimana kau tau tentang hal itu?”


“Aku sempat melihat iklannya ketika sedang menonton video di internet. Karena menarik, aku jadi melihat-lihatnya.”


Ternyata iklan yang dibuat oleh Maul benar-benar bekerja.


“Itu aplikasi yang sangat bagus, sudah banyak sekali komik-komik yang terdaftar di sana dan akan tersedia saat perilisan perdana.”


Setidaknya aku juga melakukan sedikit promosi.


“Darimana kau tau itu Mar?”


“Aku bekerja di perusahaan itu.”


“Apa tugasmu di sana?”


“Bagaimana kalau kau tebak.”


Kichida pun mulai berpikir, dia sesekali memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri ketika memikirkan hal itu.


“Tepat sekali.”


“Pantas saja kau selalu meminta saran tentang komik kepadaku.”


“Itu karena aku sangat jarang sekali membaca komik sebelum mendapatkan pekerjaan ini, malahan aku tidak pernah membacanya. Jadi aku tidak tau bagaimana komik yang menurutku menarik bagi pembaca, itulah kenapa aku selalu meminta rekomendasi komik kepada Kichida.”


Walaupun aku sebelumnya menyebut kalau komik Jepang itu terkesan aneh dari segi cerita, tapi ada beberapa komik yang menurutku sangat keren dan aku sangat senang untuk mengikuti komik tersebut.


“Hebat sekali kau Mar dapat bekerja sebagai editor di perusahaan itu.”


“Perusahaan yang mengelola aplikasi itu tidak sebesar apa yang kau bayangkan. Perusahaan itu bukanlah perusahaan besar, bahkan karyawannya saja hanya empat orang.”


“Empat orang!?”


Kichida sangat terkejut ketika mendengar itu.


“Karyawannya hanya pemilik perusahaan, Pak Febri, Maul, dan aku. Aku dan Pak Febri bekerja sebagai editor, Maul yang mengurus aplikasi dan web, sedangkan pemilik perusahaan mengurusi hubungan antara para komikus dan keuangan.”


“Pantas saja kau terlihat lelah sekali.”


“Ini terakhir kalinya aku bekerja seperti ini, untuk ke depannya aku akan bekerja lebih santai.”


Karena menurut Pak Hari, sebentar lagi dia akan membuka lowongan pekerjaan untuk karyawan baru.


“Apa berarti kau termasuk ke dalam salah satu orang yang mendirikan perusahaan itu?”


“Aku tidak tau, tapi yang jelas aku bekerja di sana.”


“Kalau seandainya aplikasi itu terkenal, bisa saja kau menjadi petinggi perusahaan itu dalam usia yang terbilang muda.”


Setelah semua hal yang telah aku lakukan, sepertinya itu tidak buruk juga. Tapi aku tidak mau besar kepala terlebih dahulu, tetap saja semuanya kembali lagi kepada Pak Hari. Keputusannya bagimana ada di tangannya.


“Seberapa mungkin aplikasi itu terkenal?”


Tanyaku kepada Kichida.


“Kalau aku melihat dari iklannya, sepertinya tidak butuh waktu lama untuk aplikasinya menjadi terkenal.”


“Kenapa?”


“Sebelum aplikasinya rilis saja antusian dari orang-orang mau itu pembaca atau komikus sangatlah ramai di internet, bahkan banyak yang bertanggapan positif tentang aplikasi ini.”


Di internet ya... Akhir-akhir ini aku sudah jarang membuka internet ataupun bermain gim karena sibuknya tugas yang aku kerjakan. Bahkan aku saja sudah lama tidak mengikuti berita tentang  penculikan yang waktu itu.


“Dimana kau melihat itu?”

__ADS_1


“Aku melihatnya di salah satu forum. Karena aku penasaran dengan aplikasi itu, jadinya aku mencari tahu lebih jelasnya di internet.”


“Jadi begitu.”


Kalau memang aplikasi ini banyak mendapatkan tanggapan positif dari orang-orang, sepertinya ini menjadi berita baik untuk semuanya. Usaha yang kami keluarkan selama ini tidaklah sia-sia. Tapi aku merasa kalau ramainya pembicaraan aplikasi ini di internet adalah ulah dari Maul juga.


“Apalagi saat ini aplikasi seperti itu baru ada satu saja di Indonesia, jadinya itu bisa menarik para komikus yang ada di Indonesia untuk bergabung ke dalam aplikasi itu. Selagi aplikasi dari Korea dan Jepang masuk ke pasar Indonesia nanti, karena aplikasi yang kau buat sudah ada terlebih dahulu dibandingkan yang lain, itu tidak akan berpengaruh banyak...”


Itu seperti apa yang dikatakan Pak Hari dan Maul di hari pertama kita rapat.


“Paling yang akan berpengaruh tentang pengembangan di dalam aplikasi dan kontrak antara perusahaan dan para komikus.”


Tidak salahnya aku memberitahu hal ini kepada Kichida, sepertinya dia tau banyak masalah seperti ini. Seperti yang aku duga dari orang yang nantinya akan menjadi komikus.


“Terima kasih atas masukan yang kau berikan kepadaku Kichida. Aku jadi sedikit tau banyak tentang itu.”


“Mungkin aku akan mencoba menjadi komikus juga di sana.”


“Kalau begitu aku akan membantumu dalam memberikan saran.”


“Heee.. Sepertinya aku jauh lebih mengerti mana cerita yang menarik mana yang tidak.”


Ek.. Kichida tidak salah, aku saja masih meminta beberapa saran dan rekomendasi kepadanya.


“Oo... Kalian berdua terlihat akrab sekali. Apa yang sedang kalian bicarakan?”


Riki yang sudah melakukan gilirannya pun menghampiri kami dan duduk di sampingku.


“Kami hanya sedang berdiskusi tentang aplikasi komik yang ingin rilis saja.”


“Aku kira kalian sedang membicarakan sesuatu yang seru.”


Memangnya apa sesuatu yang seru saat ini? Kalau kau masih membicarakan tentang kasus penculikkan itu, aku sama sekali tidak bisa berpendapat banyak karena kurangnya informasiku akhir-akhir ini.


“Habis ini pelajaran apa Rik?”


“Bahasa inggris.”


Alhamdulillah.. Sepertinya waktu tidurku bertambah lagi nanti. Karena biasanya guru bahasa inggris memiliki peraturan dalam pelajarannya. Kita akan belajar dengan serius selama satu jam pelajaran dan satu jamnya lagi kita bebas melakukan apapun, biasanya kita menyebutnya dengan sebutan free class.


Apakah menurut kalian yang dilakukan guru bahasa inggrisku salah atau tidak, kalau menurutku dia tidak salah. Selama dia sudah menyampaikan materi yang seharusnya dia sampaikan pada hari ini dan tidak ada yang tertinggal sama sekali, selain itu seluruh muridnya memahami pelajaran yang dia ajarkan, aku rasa dia sudah menuntaskan tugasnya sebagai guru.


Aku juga berpikir kalau itulah cara yang terbaik untuk menarik perhatian untuk murid-murid di kelasku agar berminat untuk mendengarkan guru dengan fokus.


“Oh sekarang gilirannya Miyuki.”


Kami bertiga pun melihat Miyuki yang sudah siap melakukan servis dengan bola volinya. Aku melihat ke sekitarku kalau banyak sekali murid laki-laki yang memperhatikannya, entah itu dari kelasku atau dari kelasnya Miyuki. Seorang tuan putri memang beda, dia selalu saja dapat perhatian dari yang lainnya.


Pelajaran olahraga pun berakhir dan masih ada sisa waktu sebelum masuk ke pelajaran selanjutnya. Aku pun berniat untuk tidur di sisa-sisa waktu itu, karena waktu ini sangatlah berharga.


“Rik! Bangunkan aku jika gurunya sudah masuk.”


Suruhku kepada Riki saat ia hendak ingin pergi ke belakang kelas untuk bergabung bersama teman-temanku yang lainnya.


“OK.”


Selamat malam.


“Oi Mar!”


Siapa lagi yang membangunkanku di saat seperti ini? Tidak mungkin kan kalau Miyuki dan Rina datang ke sini hanya untuk berbicara denganku.


Aku pun mengangkat kepalaku untuk melihat siapa orang itu dan ternyata dia adalah Pak Febri.


“Apa keperluanmu Pak? Saat ini aku sedang ingin tidur sebelum masuk jam selanjutnya.”


“Hahahaha... Sepertinya kau kurang tidur semalam.”


Pak Febri pun duduk di bangku kosong yang ada di sampingku.


“Bapak berbicara seperti itu, bapak sendiri juga tidak cukup tidur kan?”


Saat itu aku melihat dibawah Pak Febri kantung mata yang cukup besar di bawah matanya Pak Febri.


“Bagaimana aku tidak bisa tidur saat mengingat kalau hari ini adalah hari perilisan aplikasinya dan masih banyak sekali komik yang harus aku edit.”


“Aku juga tidak menyangka kalau komiknya sebanyak itu. Ketika Pak Hari menyuruhku untuk menjadi seorang editor dan dia berkata hanya ada tiga puluh komikus yang ikut bergabung, aku rasa pekerjaanku tidak begitu berat. Ternyata aku salah!”


“Lihat saja nanti, kalau aplikasinya sudah ada pemasukan aku akan menagih bayarannya kepadanya.”


“Sedang apa bapak di sini, Bukankah seharusnya bapak mengajar di kelas sebelah?”


“Aku memang mengajar di kelas sebelah, tapi masih ada guru yang mengajar di sana. Sekarang juga belum pergantian jam pelajaran.”


“Aku mau menggunakan waktu ini untuk tidur dulu.”


Aku pun mulai meletakkan kepalaku di meja dan mulai menutup mataku.


“Jangan sampai ketiduran Mar.”


“Kalau itu terjadi, Riki akan membangunkanku.”


-End Chapter 74-

__ADS_1


__ADS_2