
Huh! Kenapa aku harus melakukan hal ini juga...
“Mar tolong bawakan kotak itu ke sini.”
Aku benci pekerjaan ini.
Namaku adalah Amarul Ihsan, usiaku baru lima belas tahun dan aku baru saja berulang tahun tidak lama ini. Ada satu hal yang ingin aku katakan kepada kalian semua, selain membenci tentang sesuatu yang tidak logis seperti cinta, aku juga tidak begitu menyukai pekerjaan fisik seperti ini.
Hari ini adalah H-1 sebelum acara pensi di mulai. Saat ini aku bersama dengan Maul, Riki, dan Rian sedang berbondong-bondong untuk mendirikan stan yang akan digunakan untuk acara besok. Selain mereka, Pak Hari juga mengirimkan beberapa karyawannya dari kantor untuk membantuku dalam mendirikan stan. Kak Malik juga berada di sini untuk membantu mendekorasi stannya.
“Kak Malik!”
Aku pun mendekati Kak Malik yang sedang memberikan dekorasi di bagian belakang stan.
“Ada apa Mar?”
“Jangan beritahu orang-orang yang ada di sekolah ini tentang aku dan juga Maul jika ada seseorang yang menanyakan tentang kami ya!”
“Memangnya kenapa?”
“Di sekolah ini tidak ada orang yang tau kalau aku bekerja di Comic Universe dan mereka juga tidak tau jabatanku di sana, hanya ada beberapa orang saja. Jadi kumohon jangan sampai ada orang tau dan hal ini menyebar ke semuanya.”
Aku pun merapatkan tanganku untuk memohon kepada Kak Malik.
“Buat apa disembunyikan? Bukankah itu adalah hal yang membanggakan. Walaupun masih sekolah tapi memiliki posisi yang bagus di sebuah perusahaan.”
“Memang benar sih, tapi akau tidak mau kerepotan dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang yang mengetahui kalau aku bekerja di sana.”
“Hahahaha... Ok, aku akan melakukan apa yang kau katakan.”
Kak Malik tertawa kecil mendengarkan ucapanku.
“Oi Mar! Jangan hanya berbicara, gerakan juga tanganmu.”
Aku dimarahi oleh Maul yang saat ini juga sedang sibuk memasang atap dari stan yang kami dirikan.
“Aku memeriksa stan ini dulu.”
Aku pun pergi menjauh dari stan dan melihat stan itu dari kejauhan apakah ada yang kurang atau tidak, sebisa mungkin aku mau membuat stan yang bisa menarik pengunjung di sana.
Aku rasa lebih baik jika aku memperhatikannya sambil jongkok.
“Apa yang kau lakukan di sini Mar? Kau tidak bekerja?”
Pak Febri pun tiba-tiba saja muncul di sampingku sambil membawa botol air minum di tangannya.
“Ini aku sedang bekerja.”
“Kerja apa?”
“Aku sedang memperhatikan apa ada yang kurang di stannya atau tidak.”
“Bilang saja kau tidak ingin bekerja.”
“Sepertinya aku ketahuan.”
Aku pun bangun dan merapihkan pakaianku.
“Stannya bagus juga, siapa yang mendekorasi stan itu?”
Tanya Pak Febri sambil memperhatikan stan yang saat ini posisinya sebentar lagi jadi.
“Kak Malik dan beberapa karyawan dari kantor yang mendekorasi stan itu.”
“Kerja bagus.”
“Apa Pak Febri baru saja selesai rapat?”
Aku melihat ke arah map yang dia apitkan di lengan kirinya.
“Iya, aku habis rapat untuk membicarakan pensi besok dengan para guru.”
“Kira-kira seberapa banyak orang yang akan datang besok?”
“Kalau melihat dari tiket pre order yang sudah habis terjual, mungkin sekitar lima ribu orang yang akan datang ke acara ini.”
Lima ribu?! Apa aku bisa menganggap jumlah itu banyak, tapi aku rasa kalau jumlah segitu dibandingkan dengan lapangan utama dari SMK Sawah Besar, masih terlihat sedikit.
“Apa segitu sudah termasuk banyak?”
“Tentu saja, untuk ukuran pensi sekolah jumlah segitu sudah banyak.”
“Bukannya lapangan sekolah ini masih bisa menampung orang lebih banyak.”
“Memang lapangan sekolah ini dapat menampung orang dua kali lipat dari tiket pre order yang dijual, tapi tidak mungkin kita menjual tiket hingga memenuhi lapangan ini. Nanti terlalu ramai pengunjung dan yang ada malah berdesak-desakkan.”
“Benar juga.”
Tapi aku rasa tidak masalah, ketika mengikuti festifal budaya di sekolahnya Miyuki, jumlah pengunjung yang datang ke sana juga terbilang banyak dan dilapangan utamanya kita harus berdesak-desakkan untuk menonton pertunjukkan yang ditampilkan di sana.
“Kepala sekolah ingin membuat para pengunjung dapat menikmati konsernya secara leluasa, selain itu lapangan utama juga digunakan untuk mendirikan stan. Jadi jumlah sebanyak itu sudah cukup belum lagi jika ada orang yang membeli tiketnya di tempat.”
“Memangnya berapa tiket on the spot yang dijual?”
“Setauku kita hanya menjual dua ribu tiket saja, karena biasanya orang yang membeli tiket on the spot sangat jarang.”
Saat ini, dilapangan sudah berdiri panggung yang sangat besar. Aku pun melihat poster yang dipasang dibelakang panggung itu, di sana terdapat foto dari bintang tamu yang akan mengisi acara pensi besok.
“Seberapa terkenalnya bintang tamu yang akan diundang besok?”
“Sepertinya cukup terkenal, aku sendiri juga tidak pernah mendengar satu pun lagu dari rapper itu, bahkan aku baru tau tentang rapper itu saat guru-guru sibuk membicarakannya untuk pensi.”
Aku tidak menyangka kalau Pak Febri sama denganku. Aku kira hanya aku saja yang tidak mengetahui tentang orang itu, karena pas istirahat semuanya sibuk membicarakannya. Hanya aku saja yang tidak dapat bergabung dalam pembicaraan itu karena aku sama sekali tidak tau tentangnya, untung saja ada orang yang sama sepertiku.
Ketika kami berdua sedang berbicara, Kak Malik pun yang telah selesai mendekorasi stan menghampiri kami.
“Selamat sore Pak!”
Kak Malik menyapa Pak Febri dengan ramah.
“Selamat sore, bagaimana kabarnya?”
“Alhamdulillah baik, pakaian itu... Apa bapak mengajar di sini?”
__ADS_1
Kak Malik memperhatikan pakaian yang digunakan Pak Febri.
“Iya, aku mengajar di sekolah ini sebagai guru multimedia.”
“Aku baru tau itu, Pak Hari sama sekali tidak pernah mengatakannya. Dia hanya berkata kalau Pak Febri sedang melakukan pekerjaannya yang lain saja.
“Malik! Dimana aku harus menaruh kardus-kardus ini?”
Tanya seorang karyawan yang saat itu sedang membantu kami.
“Oh untuk itu kalian bisa menaruhnya di kelas yang sudah aku persiapkan tadi. Mari ikuti aku.”
Kalau begitu sepertinya aku harus pergi dari sini agar aku tidak disuruh mengangkat barang-barang itu, karena aku rasa barang itu sangat berat sekali. Aku dapat mengetahuinya hanya dari melihatnya.
“Amar! Kau juga bantu kami.”
Ucap Pak Febri sambil tersenyum sedikit.
Aku yakin kalau dia sudah mengetahui apa yang aku rencanakan. Sial! Kalau sudah seperti ini aku tidak bisa pergi dari sini. Aku rasa aku akan mengangkat satu kardus saja dan langsung pergi ke suatu tempat agar tidak disuruh lagi, ya itu adalah ide yang tepat.
***
Huh... Huh... Huh... Berat sekali barang-barang yang ada di dalam kardus ini.
“Kau terlihat keberatan sekali Mar!”
Ucap Riki yang sedang mengangkat kardus yang sama dengan apa yang aku angkat, tapi aku sama sekali tidak melihat dia kelelahan sedikitpun. Dasar Riki! Dia memang monster, tidak ada yang dapat mengalahkan kekuatannya.
Saat itu yang mengangkat kardus bukan hanya aku dan Riki saja, tapi Rian dan Maul juga membantu kami membawakannya agar pekerjaannya cepat selesai. Kebetulan juga stan sudah siap untuk digunakan, jadi mereka bisa mengerjakan pekerjaan yang lain.
“Tentu saja, kardus ini berat sekali.”
“Benarkah! Aku rasa kardus yang aku bawa tidak terlalu berat, apa kau ingin tukar kardus itu dengan kardusku.”
“Tidak terima kasih.”
Karena aku tau kardus yang dibawa Riki memiliki berat yang sama dengan kardus yang aku bawa, jadi percuma jika kami menukarnya.
“Aku tidak sabar untuk hari besok.”
Riki memperhatikan panggung yang ada tepat di samping kami.
“Aku tidak tau akan seberapa banyak pengunjung yang datang besok.”
“Aku rasa yang datang akan banyak.”
Ucap Rian yang berjalan tepat di samping Riki.
“Semakin banyak orang yang datang semakin bagus, akan banyak juga pengunjung yang datang ke stan kita untuk melihat-lihat.”
“Rian, apa kau besok datang ke sekolah?”
Aku bertanya kepada Rian karena aku ingin meminta bantuannya juga untuk menjaga di stan.
“Sepertinya aku tidak masuk besok.”
“Kenapa?”
“Aku ada acara besok, jadi aku tidak bisa datang.”
“Aku berterima kasih kepadamu karena telah membantu kami hari ini Yan.”
“Sama-sama, aku senang kalau bisa membantu kalian.”
“Apa kau tidak memberikan upah kepada Rian?”
Maul berbisik kepadaku.
“Aku akan memberikannya nanti, tidak mungkin juga aku memberikannya sekarang.”
“Besok siapa saja yang akan bertugas di stan nanti?”
Riki bertanya kepadaku.
“Aku akan menyuruh Miyuki dan Rina melayani pengunjung dan Riki yang bertugas sebagai pengamanan tapi kalau sedang ramai Riki juga bisa membantu mereka melayani pengunjung.”
“Memangnya kita perlu pengamanan juga, bukannya hal itu seharusnya dilakukan oleh OSIS?"
Ucap Maul kepadaku.
“Untuk berjaga-jaga saja, siapa tau ada salah satu pengunjung yang ingin berbuat macam-macam kepada Rina dan Miyuki, apalagi saat sedang ramai.”
“Benar juga.”
“Sejak kapan juga kau memperdulikan Rina dan Miyuki Mar. Apa kau sudah memiliki perasaan suka terhadap mereka berdua?”
Riki menatapku dengan tatapan bodohnya.
“Jangan berkata bodoh, aku hanya tidak mau melakukan sesuatu yang merepotkan saja besok.”
“Walaupun kau mengatakan seperti itu, tapi aku yakin kalau kau pasti memperdulikan mereka.”
Riki masih menunjukkan wajah bodohnya itu.
“Yah mungkin kau benar.”
“Kalau Miyuki mendengar ini pasti dia akan tersenyum dan meledek Amar.”
Kemudian wajah Miyuki saat sedang meledekku pun terlintas di pikiranku yang membuatku sangat jengkel sekali.
“Kenapa kau harus membahas itu saat ini.”
“Ngomong-ngomong kemana mareka?”
Maul bertanya kepadaku karena dia sama sekali belum melihat Rina dan Miyuki setelah pulang sekolah.
“Aku menyuruh mereka untuk mencari makanan untuk orang-orang yang bekerja mendirikan stan.”
“Seperti yang aku harapkan dari seorang atasan.”
Ucap Riki sambil tertawa kecil.
“Aku sudah mendapatkan anggaran dari Pak Hari untuk hal itu, sangat disayangkan jika tidak digunakan.”
__ADS_1
Karena kalau tidak digunakan mau tidak mau aku harus mengembalikannya, tapi Pak Hari berkata kepadaku kalau anggaran yang dia berikan harus habis.
“Seharusnya kau bisa menyimpan uang itu Mar kalau memang ada sisanya.”
“Tidak boleh Mul, itu namanya korupsi.”
Rian langsung menceramahi Maul setelah mendengar itu, sebenarnya Maul mengatakan hal itu hanya untuk meledek Rian saja karena Maul tau kalau Rian pasti akan bereaksi dengan pembicaraan seperti itu.
Sekarang aku hanya perlu mengikuti Maul saja.
“Rian benar Mul, ceramahi saja dia Yan.”
“Aku juga tau itu, tenang saja.”
Kami pun menaruh semua kardus yang berada di mobil kantor ke dalam kelas untuk disimpan di dalam sana sebelum acara besok.
Setelah mendirikan stan dan memindahkan barang-barang dari mobil ke kelas, aku beserta yang lainnya pun menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh Miyuki dan Rina.
“Karena semuanya sudah beres aku ingin pamit dulu untuk kembali ke kantor bersama yang lain.”
Kak Malik berpamitan kepadaku.
“Langsung pulang? Tidak mau makan dulu.”
“Kami sudah makan sebelum ke sini, lagi pula kalau terlalu sore takut kena arus macet orang pulang kerja.”
Ucap karyawan lainnya.
“Terima kasih karena telah membantu kami hari ini.”
Amar dan Maul berterima kasih kepada mereka.
“Tidak masalah lagi pula ini pekerjaan mereka juga, semangat untuk hari esok!”
Kak Malik menyemangati kami.
Kak Malik bersama dengan karyawan lainnya pun kembali ke kantor dengan mobil yang mereka bawa.
“Aku baru saja melihat Amar yang bersikap selayaknya atasan.”
Ucap Miyuki sambil memandangiku.
“Bukannya aku sudah mengatakan kepadamu untuk tidak mengatakan itu keras-keras di sini karena tidak semua orang mengetahui hal itu.”
Untung saja saat ini tidak banyak orang yang berada di sekolah karena rata-rata dari mereka sudah ada yang pulang atau sedang mengikuti ekskul mereka masing-masing.
“Aku minta maaf Mar.”
Miyuki pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Dimana Kichida dan Yoshida?”
Riki bertanya kepada Rina.
“Mereka berdua hari ini sedang ada jadwal ekskul, jadi tidak bisa ikut membantu.”
“Oh iya, besok aku ingin meminta bantuan kepada kalian berdua untuk melayani para pengunjung yang datang ke stan kita. Apa kalian berdua mau?”
“Tentu saja aku mau Mar!”
Miyuki langsung menerima tawaran dariku dengan penuh semangat.
“Aku akan mengabarkan kepadamu nanti Ar, karena kemarin aku disuruh oleh kakak kelasku yang ada di ekskul PMR untuk berada di tenda UKS, katanya mereka kekurangan orang.”
“Baiklah, aku akan menunggu jawabannya.”
“Apa aku akan mendapatkan bayaran nanti?”
Miyuki sangat penasaran dengan hal itu.
“Tentu saja.”
“Berapa??”
Matanya makin bersinar-sinar setelah mengetahui mendapatkan bayaran dari pekerjaannya.
“Lihat saja besok.”
“Heee... aku sangat kecewa sekali Mar, kamu telah membuatku penasaran. Setidaknya kasih tau aku sekitar berapa?”
Perempuan ini sangat merepotkan sekali ketika penasaran.
“Baiklah, aku akan memberitahunya kepadamu. Mungkin lebih tinggi dibandingkan harga tiga puluh mangkuk soto yang dapat dibeli di kantin.”
Harga satu mangkuk soto di kantin adalah seratus ribu dan berarti tiga puluh mangkuk berjumlah tiga ratus ribu, memang bayaran yang akan aku berikan kepada Miyuki sebanyak tiga ratus lima puluh ribu rupiah, dan itu bukan hanya ke Miyuki saja. Rian, Rina, dan Riki juga mendapatkan bayaran yang sama. Mungkin aku akan melebihkannya sedikit kepada Riki karena dia bekerja dua hari.
“Memangnya berapa harga satu mangkuk soto?”
Miyuki bertanya kepada Rina, sepertinya dia sendiri tidak tau harga soto di kantin.
“Sepuluh ribu kalau tidak salah.”
“Berarti bayaran yang aku dapatkan lebih banyak dari tiga ratus ribu. Itu banyak sekali, sama seperti jajanku seminggu penuh.”
Oi! Bukannya jajan seminggu tiga ratus ribu itu cukup banyak untuk seorang anak SMK.
“Apa itu tidak kebanyakan Mar?”
Miyuki bertanya kepadaku.
“Aku sudah mendapatkan anggaran dari Pak Hari segitu, itu saja sudah aku bagi lagi untuk tiga orang.”
“Kalau begitu aku akan berjuang keras untuk besok!”
Miyuki sangat semangat sekali.
“Aku juga!”
Begitu juga dengan Riki.
“Aku mengandalkan kalian semua.”
Dan tinggal kurang dari lima belas jam hingga acara pensi dimulai.
__ADS_1
-End Chapter 87-