
Akhirnya aku bisa lagi menikmati kehidupanku yang damai. Karena sekarang di kantor sudah ada beberapa karyawan magang yang menggantikan kami di sana, jadinya Aku dan Maul bisa bersantai. Saat ini aku sedang berada di tempat biasa ketika istirahat untuk menghabiskan bekalku.
Sudah lama sekali aku tidak merasakan kedamaian seperti ini.
“Tumben sekali kamu ada di sini Mar? Biasanya kamu ketika istirahat sedang tidur di UKS ataupun di kelas.”
Miyuki yang baru datang langsung menegurku yang saat itu sedang menikmati ketenangan duduk di bawah pohon yang rindang.
“Pekerjaanku sudah selesai, jadi aku bisa bersantai sekarang.”
“Kalau begitu kita makan-makan dan Amar yang traktir.”
Miyuki langsung terlihat senang mendengar itu.
“Enak saja, aku ingin menyimpan uangku untuk dibelikan sesuatu. Ngomong-ngomong kemana Rina?”
“Rina masih di kelas untuk mengerjakan seusatu, sepertinya sebentar lagi dia akan tiba di sini.”
Mengerjakan sesuatu kah? Apa akhir-akhir ini dia merasa kesulitan dengan tugas-tugasnya? Aku rasa itu tidak mungkin, karena Rina jauh lebih pintar dibandingkan denganku. Aku rasa tugas yang diberikan oleh sekolah ini tidak akan merepotkannya.
Tidak lama dari Miyuki mengatakan itu, Rina pun datang dengan membawa bekal di tangannya dan langsung bergabung dengan kami.
“Kamu ada di sini Ar?!”
Apakah keberadaanku sudah tertolak di sini selama aku tidak berkumpul dengan mereka. Aku merasa sedih sekali saat Rina mengucapkan hal itu.
“Memangnya pekerjaannya sudah selesai?”
“Sudah, kau sendiri habis dari mana?”
“Um.. ah.. Aku habis dari kelas mengerjakan sesuatu.”
Aku tau kalau dia sedang berbohong. Rina selalu memalingkan matanya dari tatapanku ketika sedang berbohong. Tapi aku rasa setiap aku menatapnya dengan serius, Rina selalu memalingkan pandangannya. Apa itu hanya perasaanku saja ya?
“Oh iya teman-teman, aku baru saja mendengar dari teman-temanku kalau ada aplikasi komik baru yang berisi komik-komik dari dalam negeri.”
Rian pun menunjukkan ponselnya kepadaku dan dia sedang membuka Comic Universe.
“Teman-teman di kelasku juga ada yang mengetahui tentang aplikasi ini. Katanya ada beberapa komik yang seru di sana.”
Sahut Riki.
“Kenapa kamu terlihat tenang sekali Mar? Apakah kamu tidak memiliki tanggapan tentang aplikasi itu?”
Yoshida sedang memperhatikanku yang sama sekali tidak berkomentar apa-apa tentang hal itu.
“Aku tidak memiliki tanggapan, lagian bukankah hal biasa aku dim seperti ini. Tapi menurutku aplikasi itu sangat bagus karena mendukung komikus di dalam negeri untuk berkarya.”
“Dan lagi aku sudah mencari tahu tentang aplikasi ini, ternyata pembuatnya adalah penerbit dari Semesta Komik. Majalah yang pernah terkenal saat aku kecil dulu, dulu banyak komik-komik bagus yang terdapat di dalamnya.”
Aku baru pertama kali melihat Rian bersemangat seperti ini. Kalau melihat sifatnya yang seperti ini, sepertinya dia tidak jauh berbeda dengan Maul.
“Kau tau tentang majalah itu Yan?”
“Majalah itu sangat terkenal dulu, sangat aneh jika ada orang yang tidak mengenal majalah itu.”
“Hahahahahahahahahaha....”
Maul tertawa dengan sangat puas sekali mendengar ucapan dari Rian. Karena hanya Maul saja yang tau kalau aku sama sekali tidak tau tentang Semesta Komik sebelum bekerja di sana.
Sepertinya aku memang aneh karena tidak pernah membaca majalah itu. Aku jadi penasaran apa saja yang aku lakukan ketika kecil dulu sampai-sampai aku tidak mengetahui sama sekali tentang majalah ini. Aku rasa masa kecilku, aku habiskan untuk bermain dengan teman-temanku dan aku tidak pernah mengingat sama sekali mereka membahas tentang komik. Kalau film kartun di televisi, mereka sering membicarakannya ketika kami sedang main.
“Aku juga tidak tau tentang majalah itu.”
Ucap Miyuki yang memperhatikan Maul yang masih tertawa.
“Wajar saja jika Miyuki tidak tau tentang majalah itu, karena majalah itu bangkrut saat kita masih SD.”
“Sayang sekali aku tidak dapat membacanya, tapi aku tau majalah serupa yang dijual di Jepang. Kalau aku mendengar dari penjelasan Rian, sepertinya majalah yang ada di Jepang juga hampir sama dengan itu, hanya saja komik yang ditampilkan di sana adalah komik dari komikus-komikus yang ada di Jepang.”
Aku juga sudah mendengarkan hal itu dari Pak Hari saat aku sedang menanyakan kepadanya asal ide Pak Hari membuat Semesta Komik. Ternyata dia terinspirasi dari majalah yang ada di Jepang yang banyak mengangkat komikus-komikus dalam negeri hingga karyanya terkenal hingga manca negara. Dia pun memiliki tujuan yang sama dengan perusahaan itu, tapi sayang saja nasib mereka jauh berbeda.
“Aku juga mendengar rumor di internet kalau aplikasi ini hanya dikerjakan empat orang dan dua orang diantaranya adalah seorang pelajar.”
Aku pun sedikit terkejut dengan rumor yang dikatakan dengan Rian. Memang Pak Hari tidak pernah menyembunyikan hal ini, tapi kalau hal ini sudah sampai diketahui oleh internet bukankah ini sangat gawat. Bisa saja perusahaannya Pak Hari dituntut karena mengeksploitasi anak dibawah umur untuk bekerja. Kalau itu sampai terjadi, aku harus berbuat sesuatu.
Saat aku sedang memikirkan hal itu, aku pun baru menyadari kalau Yoshida selama ini memperhatikanku. Pandangannya tidak lepas melihat gerak-gerikku selama pembicaraan ini berlangsung.
“Kenapa tatapanmu sama seperti tatapan Miyuki yang sedang ingin mengetahui sesuatu?”
“Apakah komik ini ada kaitannya dengan pekerjaanmu yang baru saja selesai itu?”
Mendengar ucapan dari Yoshida membuat semua orang yang ada di sana langsung menatap ke arah Amar. Maul pun mencoba untuk bersikap biasa agar dia tidak terseret dalam masalah ini.
“Mana mungin.”
“Oi Mul! Tolong bantu aku.”
Aku pun berbisik kepada Maul yang ada di sampingku untuk meminta bantuan, tapi dia tetap berusaha tenang dan diam tidak berkata apapun.
“Berkat perkataan dari Yoshida aku baru menyadari sesuatu, kalau waktu perilisan aplikasi itu dan waktu Amar selesai sangatlah bertepatan.”
Bahkan Rina pun ikut mencurigai Amar sekarang.
“Memangnya kau tau tentang aplikasi ini Rina?”
Tanyaku kepadanya.
__ADS_1
“Karena pembicaraan kakakku saat di ulang tahunku, aku pun menjadi penasaran dan mengikuti perkembangan aplikasi itu. Karena aku melihat iklannya di internet, kalau ada komik menarik di aplikasi itu yang akan terbit.”
AH gawat! Bahkan Rina sudah mencurigaiku.
“Sepertinya aku tidak bisa menyembunyikannya lagi... Memang aku yang membuat aplikasi itu bersama dengan Maul, Pak Febri, dan juga pemilik dari perusahaan Semesta Komik yang ingin membangun perusahaannya kembali.”
“Aku sudah menduganya.”
“Aku juga.”
Rina dan Yoshida tidak terlihat terkejut sama sekali, namun Rian dan Takeshi terlihat sangat terkejut sekali.
“Kenapa kalian berdua terkejut? Bukankah itu hal yang biasa.”
“Mungkin itu biasa menurutmu, tapi tidak untuk orang normal.”
Ucap Takeshi kepadaku.
Berarti perkataannya itu sudah mewakilkan kalau aku ini tidak normal.
“Aku masih normal seperti remaja pada umumnya.”
“Pantas saja aku sering melihat Maul pergi ke UKS ketika istirahat akhir-akhir ini.”
Rian sudah mulai menerima hal itu.
“Aku ke UKS untuk tidur di sana, karena tidurku saat malam hari sangat kurang karena mengerjakan aplikasi itu.”
“Apakah nilaimu baik-baik saja Ar?”
“Nilaiku sama sekali tidak menurun sedikitpun.”
“Bagaimana kamu mengimbangi antara belajar dan bekerja Mar? Aku butuh belajar hal itu darimu.”
Yoshida bertanya kepadaku.
“Belajar? Aku tidak pernah belajar selama bersekolah di sini.”
“Itu tidak mungkin.”
“Nilaiku tidak pernah tinggi dan aku hanya mengincar nilai rata-rata saja, jadi aku tidak terlalu terbebani dengan belajar. Selain itu menurutku, mendengarkan guru di kelas dengan serius itu sudah menggantikan waktu belajar di rumah.”
“Jadi begitu... Awalnya aku kira kau selalu tertidur di kelas ketika guru sedang menjelaskan karena mukamu yang selalu terlihat mengantuk. Tapi ketika aku menengok ke arahmu, kau selalu mendengarkan guru dengan serius.”
Ucap Kichida kepadaku.
“Bagaimana dengan PR?”
Tanya Kichida yang masih tidak percaya kalau aku tidak pernah belajar.
“Kalau PR selain pelajaran produktif, aku selalu mengerjakannya ketika berada di sekolah. Sedangkan kalau untuk pelajaran produktif, aku sudah bersekongkol dengan Pak Febri untuk hal itu.”
“Bukankah itu curang!”
Yoshida tidak terima dengan hal itu.
“Itu tidak curang, aku menyebutnya dengan kekuatan orang dalam.”
“Tetap saja itu curang Ar.”
Aku tidak bisa membantah jika Rina sudah berkata seperti itu.
“Apa kamu sudah mengetahui tentang hal ini Miyuki?”
Rina bertanya kepada Miyuki yang dari tadi diam tidak bersuara sedikitpun. Biasanya jika ada hal seperti ini, dialah orang yang paling semangat mencari tahu tentang kebenarannya. Apalagi jika hal ini menyangku tentang diriku, dia tidak akan ada habisnya untuk bertanya.
“Begitulah.”
“Kapan kamu mengetahuinya?”
“Aku rasa saat pergi ke toko buku dengan Amar dan ketika dia meminta saran tentang komik-komik yang aku baca.”
Mi-yu-ki! Seharusnya kau jangan mengatakan hal itu.
“Jadi kamu pernah pergi berdua ke toko buku dengan Amar?”
Rina terlihat cemburu mendengar itu.
“Bukan begitu Rin! Saat itu aku meminta Amar untuk membantuku mencarikan hadiah untuk ulang tahunmu.”
Miyuki kebingungan harus menjelaskan apa kepada Rina, dan juga dia sangat telat sekali menyadari hal itu.
“Kalau Kichida?”
“Aku sudah tau ketika Amar tiba-tiba meminta saran dariku tentang komik-komik yang menarik menurutku, padahal beberapa hari sebelumnya dia berkata kalau komik yang aku baca itu sangat aneh.”
“Memang komik Yamaha dan Tujuh Montir itu sangat aneh menurutku.”
“Itu bagus, kau saja yang tidak tau dimana bagusnya.”
Aku pun sempat berdebat dengan Kichida masalah Yamaha dan Tujuh Montir. Aku belum tau bagaimana cerita keseluruhan dari komik itu karena komik itu belum keluar di Indonesia, jadinya aku tidak tau dimana letak bagusnya dari komik itu.
“Kenapa kau dari tadi diam saja Nishimura?”
Kichida bertanya kepada Takeshi yang belum berkata apa-apa..
“Aku tidak tau harus berkata apalagi, sepertinya aku memang tidak bisa mengalahkan Amar dari segi apapun.”
__ADS_1
“Apa kau masih memikirkan tentang hal itu?”
Padahal aku sendiri sama sekali tidak pernah memikirkan itu.
“Tentu saja, sebelum aku mengalahkanmu sekalipun, aku tidak akan pernah puas.”
Sepertinya keputusanku untuk memberikan Takeshi sebuah kemenangan bukanlah ide yang buruk untuk mengakhiri hal ini.
“Aku tidak akan memaafkanmu jika kau sengaja mengalah.”
Wow! Hebat sekali dia bisa mengetahui apa yang sedang aku pikirkan.
“Lebih baik kau tidak usah memikirkan itu lagi, bukankah itu terlalu merepotkan. Lebih baik kau fokus dengan apa yang kau bisa saat ini.”
Teng... Teng... Teng... Teng......
Bel masuk pun berbunyi dan aku bersama dengan yang lainnya pergi ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
“Hari ini kau ulang tahunkan Mar, Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
Riki bertanya kepadaku selama perjalanan menuju ke kelas.
Aku sudah tau kalau hari ini aku ulang tahun karena ibuku yang membuatkanku nasi kuning saat sarapan tadi. Kalau dia tidak membuatkanku nasi kuning, mungkin aku akan melupakannya juga.
Kenapa aku sering melupakan hari ulang tahunku, karena hanya tiga hal saja yang aku perhatikan ketika melihat kalender. Pertama adalah tanggal merah, dan kedua adalah tenggang waktu, dan yang ketiga adalah hari ulang tahun dari orang tuaku. Tidak mungkin aku melupakan ulang tahun mereka, karena
itu adalah salah satu bentuk berbaktiku kepada mereka berdua.
“Oh iya, ulang tahunku hari ini ya..”
“Bahkan ulang tahunmu sendiri saja sampai lupa Mar.”
Aku tidak melupakan itu, aku hanya berpura-pura saja untuk melihat tanggapan darimu.
“Aku terlalu sibuk bekerja akhir-akhir ini, jadi aku tidak begitu ingat dengan hari ulang tahun dariku. Kalau kau menanyakanku tentang tanggal merah bulan ini, aku sudah mengingat semuanya.”
“Lalu apa kau ada rencana setelah pulang sekolah ini?”
“Apakah kau mau memintaku untuk mentraktirmu? Kalau hanya kau dan Maul boleh saja.”
“Terus yang lainnya?”
Aku sudah tau kalau Riki akan berkata seperti ini. Sepertinya Rina, Miyuki, dan yang lainnya sudah termasuk teman-teman dekatku juga.
“Aku tidak memiliki yang yang banyak. Walaupun aku telah selesai mengerjakan sebuah pekerjaan yang besar, tapi bayaran dari pekerjaan itu baru turun nanti setelah aplikasinya menghasilkan uang. Jadi untuk saat ini uangku tidak banyak.”
“Kalau begitu kita makan di tempat makan yang berada di dekat sekolah saja. Aku mendengar dari anak-anak kelas kalau di sana memiliki harga yang cukup murah.”
Murah! Aku rasa tidak masalah selama harganya murah.
“Boleh saja.”
“Aku akan menyampaikan hal ini kepada Maul sekarang.”
Riki pun langsung berlari meninggalkanku.
“Ingat! Jangan ajak yang lain, hanya kau dan Maul saja.”
“Tenang saja.”
Riki pun mulai menghilang dari pandanganku. Aku yakin kalau sekarang dia sedang menuju ke kelasnya Maul.
Pasti kalian bingung kenapa kami tidak bersama dengan Maul padahal saat istirahat tadi kami bersama dengannya. Karena ketika bel berbunyi, aku dan Riki pergi terlebih dahulu ke meja piket yang ada di gedung pertama untuk bertanya kepada guru yang di sana apakah guru yang mengajar pelajaran selanjutnya di kelasku masuk atau tidak. Itulah kenapa aku berpisah dengan Maul dan yang lainnya.
***
“Pak, aku ingin pergi bersama dengan teman-temanku sebentar sekarang. Bapak pergi duluan saja ke kantor.”
“Bagaimana dengan Maul?”
“Maul juga ingin pergi bersamaku, nanti kami akan menyusul.”
“Ok.”
Setelah memberitahu kepada Pak Febri, aku pun langsung pergi ke gerbang sekolah untuk bertemu dengan Riki.
Saat ini sudah waktu pulang sekolah dan aku bersama dengan Riki dan juga Maul berniat untuk pergi ke tempat makan yang berada di dekat sekolah untuk merayakan ulang tahunku. Namun sebelum pergi ke sana, aku pun harus memberitahu kepada Pak Febri terlebih dahulu kalau aku tidak bisa berangkat ke kantor bersama dengannya agar dia tidak menungguku dan juga Maul.
Ketika aku sampai di gerbang sekolah, aku hanya melihat Riki di sana seorang diri.
“Dimana Maul?”
Aku pun menghampirinya.
“Katanya dia sedang ada urusan sebentar dengan ekskulnya.”
“Dia tau tempat makannya kan?”
“Tau.”
“Kalau begitu kita langsung pergi dan menunggunya di sana saja.”
“Baiklah kalau begitu, karena hari ini kau yang berulang tahun, aku akan mengikutimu saja.”
“Kau ini bisa saja.”
Lalu kami pun pergi menuju ke tempat makan itu.
__ADS_1
-End Chapter 76-