
Ketika aku berada di dalam kafe, aku melihat Akbar dengan menggunakan seragam dari kafe ini dan sekarang dia sedang membawakan pesanan yang sebelumnya aku pesan. Lihat-lihatan pun terjadi antara aku dan juga Akbar. Kami berdua terdiam sejenak dan tidak tau apa yang harus kami lakukan saat itu. Karena memulai sebuah pembicaraan bukanlah kebiasaanku, aku yakin saat ini Akbar juga tidak tau harus berkata apa karena aku memergokinya bekerja di sini.
“Ini kentang gorengnya, maaf menunggu.”
Akbar menaruh makanan itu tepat di hadapan kami.
“Kamu mau kopi apa? Pesan saja.”
Kak Malik menyuruh komikus itu untuk memesan kopi selagi Akbar berada di sana.
“Kapucinonya satu ya.”
“Baik.”
Setelah mencatat pesanan itu, Akbar pun pergi.
Aku mendapatkan rahasian yang sepertinya sangat berguna untukku. Sepertinya setelah pekerjaanku selesai, aku akan menanyakan kepada Akbar secara langsung kenapa dia bisa bekerja di sini. Aku yakin dia tidak bisa menyembunyikannya lagi seperti sebelum-sebelumnya.
“Apa tadi itu temanmu?”
Kak Malik mengetahui sesuatu karena apa yang kami lakukan tadi.
“Iya.”
“Kalau itu temanmu kenapa kau tidak berbicara dengannya. Apa hubungan kalian kurang baik?”
“Tidak, hubungan kami baik-baik saja, hanya saja aku bingung mau mengatakan apa kepadanya di saat seperti ini.”
“Kau aneh sekali.”
“Daripada membahas itu, lebih baik sekarang kita mulai membahas tentang kontraknya.”
Aku tidak enak dengan komikus yang dari tadi mendengarkan pembicaraan kami.
“Siapa dia Pak Malik?”
Komikus itu bertanya tentangku. Mungkin dia merasa aneh melihatku berada di sini bersama dengan Kak Malik, dia pasti sedang berpikir kalau aku adalah adiknya Kak Malik.
“Aku anak magang yang bekerja di perusahaan Comic Universe, dan aku sedang ada tugas untuk menemani Kak Malik dan belajar darinya tentang pengurusan kontrak ini.”
Kak Malik pun melihat ke arahku, dia tidak siap dengan apa yang aku katakan barusan. Aku memberikan tanda kepada Kak Malik dengan tanganku agar dia mengikuti apa yang sedang aku lakukan.
“Kalau begitu, apa bisa kita mulai pembahasannya?”
Ucap Kak Malik kepada komikus itu.
“Baiklah.”
Kak Malik pun mulai membicarakan masalah kontrak dengan komikus itu. Komikus itu ternyata memilih pilihan bagi hasil karena dia sangat yakin kalau komiknya akan laku di pasaran. Kak Malik memberikan dia sebuah formulir untuk ditandatangani dan komikus itu menandatanganinya.
Di tengah-tengah pembahasan, Akbar pun datang kembali untuk memberikan kopi pesanan dari komikus itu dan pergi lagi tanpa mengucapkan sepatah dua kata kepadaku.
Aku yakin saat ini dia sedang panik karena tau aku sedang berada di sini.
Pembahasan masalah kontrak pun selesai dengan sangat cepat, bahkan aku sendiri saja sangat terkejut karena pembahasannya ternyata secepat ini. Aku kira akan ada tawar-menawar diantara kedua pihak tentang harganya, ternyata komikus ini menerima pembagian yang diberikan oleh perusahaan.
“Apa kamu masih sekolah?”
Komikus itu kembali melihat ke arahku dan kali ini dia lebih fokus kepada baju seragam yang sedang aku kenakan saat ini.
“Iya, saya sekarang masih bersekolah.”
“Siapa namamu?”
“Saya Amar.”
Aku menjulurkan tanganku kepadanya.
“Saya Hendri, nama pena saya di Comic Universe adalah Hen.”
Pak Hendri bersalaman denganku.
“Sekarang kau kelas berapa Mar?”
“Aku masih kelas satu SMK Pak, tahun ini aku baru masuk.”
“Tidak usah memanggilku Pak, panggilan itu membuatku terlihat tua. Panggil saja aku Kak Hen.”
“Baik Kak Hen.”
Ternyata dia jauh lebih ramah dibandingkan yang aku kira. Padahal saat dia datang ke sini, aku merasakan aura intimidasi yang kuat darinya saat memperhatikan ke arahku. Bahkan aku sempat mengira kalau dia mencurigaiku sedikit.
“Apa ini tugas dari sekolah atau kau memang sedang bekerja atas kemauanmu?”
“Ini atas kemauanku sendiri Kak, lumayan untuk menambah uang jajanku ketika di sekolah.”
Aku sedikit tersenyum kepadanya agar terlihat lebih ramah.
“Apa itu tidak memberatkan sekolahmu?”
“Tidak Kak, aku tidak terlalu banyak mendapatkan tugas dari pekerjaan ini. Jadi hal ini sama sekali tidak memberatkan sekolahku.”
Kalau sampai tau aku sedikit terbebani karena pekerjaan ini, mungkin Pak Hari akan dituntut karena mempekerjakan anak dibawah umur.
“Kamu sekarang sekolah di mana?”
“Aku sekolah di SMK Sawah Besar.”
“SMK Sawah Besar! Anak tetanggaku juga ada yang bersekolah di sana, jurusan apa yang kau masuki?”
“Jurusan multimedia.”
Aku pun melirik ke arah Kak Malik dan berharap dia memancing pembicaraan dengannya, aku merasa tidak kuat jika harus meladeninya hingga akhir pertemuan ini.
“Apa pekerjaanmu di Comic Universe?”
“Aku hanya membantu Kak Malik saja.”
Kak Hendri pun mengangguk-angguk sambil meminum kopi yang sebelumnya sudah dia pesan.
“Apa masih ada yang perlu dibahas lagi?”
Kak Hendri bertanya kepada Kak Malik.
“Sepertinya tidak ada.”
“Kalau begitu aku izin pamit untuk pulang dulu karena masih ada pekerjaan komikku yang belum selesai.”
Kak Hendri berdiri dan menggunakan jaketnya.
“Terima kasih atas kerja samanya dan sudah meluangkan waktu untuk kami.”
__ADS_1
Kak Malik juga berdiri untuk melepas kepergian dari Kak Hendri, hal itu membuatku mau tidak mau juga harus berdiri juga.
“Tidak masalah.”
Kak Hendri pun ingin mengeluarkan dompetnya.
“Untuk kopinya biar saya yang bayar nanti.”
“Oh begitu, terima kasih.”
Kak Hendri pun pergi meninggalkan kami berdua.
“Huh akhirnya selesai juga.”
Kak Malik duduk kembali di kursinya dan membereskan berkas-berkas ke dalam tasnya.
Kalau sudah selesai, berarti aku bisa pulang sekarang.
“Kenapa kau berbicara seperti itu tadi Mar?”
“Apa yang orang itu katakan jika dia tau kalau aku adalah atasannya Kak Malik mengingat saat ini aku sedang menggunakan seragam sekolah.”
Pasti satu kafe ini akan heboh dengan teriakan dia. Aku bercanda, dia mungkin dia akan berteriak ketika mendengar kalau aku atasannya Kak Malik.
“Aku tidak enak dianggap atasan oleh atasanku sendiri.”
“Sudahlah, lagi pula jabatanku di kantor Pak Hari memang anak magang.”
“Tapi kan ada khususnya.”
“...Iya juga sih.”
Kak Malik pun menghabiskan kopinya dan menggunakan jaketnya.
“Ayo kita pulang Mar!”
“Aku ingin berada di sini sebentar, ada urusan yang ingin aku selesaikan.”
“Begitu, kalau begitu aku pulang duluan.”
Kak Malik pun pergi meninggalkanku dan aku langsung berpindah tempat duduk di dekat barista untuk berbicara dengan Akbar. Kebetulan saat ini dia sedang berada di sana sambil membuat kopi pesanan pelanggan yang lain.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Akbar langsung menyapaku saat aku baru saja duduk.
“Harusnya aku yang berkata seperti itu kepadamu.”
“Aku bekerja di sini, apa kau akan melaporkan hal ini kepada Pak Febri?”
Jadi itu yang dia takutkan, makanya dia menyembunyikan hal ini dariku dan juga Pak Febri.
“Aku juga bekerja di suatu tempat jadi aku tidak mungkin melakukan hal itu, kalau aku melakukan itu sangat ironi sekali.”
“Apa kau bekerja di Comic Universe?”
“Darimana kau tau?”
“Aku tau dari teman sekelas, kalau waktu pensi kau menjaga di stan Comic Universe bersama dengan Riki dan yang lainnya. Walaupun temanku berkata kalau kau disuruh oleh OSIS, tapi menurutku itu tidak mungkin.”
Ternyata Akbar sudah mengetahui bagaimana sifatku yang sebenarnya, padahal aku merasa kalau hubungan kita tidak terlalu dekat.
“Lalu apa ada sesuatu yang ingin kau jelaskan kepadaku?”
Akbar menghela nafas dengan sangat panjang sekali.
“Aku rasa tidak ada pilihan lain untuk menjelaskannya kepadamu.”
Akhirnya... Mari kita lihat apa yang membuatnya dia melakukan hal ini.
“Aku bekerja di sini untuk membantu keuangan keluargaku, jadi aku harus bekerja di sini.”
Membantu keuangan keluarga ya...
“Kenapa kau tidak ikut ekskul terlebih dahulu? Tidak ada salahnya jika bekerja setelah melaksanakan ekskul.”
“Bekerja di sini dibayar sesuai dengan jam aku bekerja. Kalau aku mengikuti ekskul terlebih dahulu, waktuku bekerja akan semakin sedikit dan karena itu bayaran yang aku terima juga sedikit.”
Jadi itu alasannya, masuk akal dan dia tidak menutup-nutupinya sama sekali. Sepertinya kali ini dia benar-benar mengatakannya kepadaku.
“Kau masuk rohis saja! Kebetulan ekskulnya hanya diadakan seminggu sekali dan biasanya waktu ekskulnya hanya tiga puluh menit saja.”
“Benarkah itu? aku tidak tau mengenai hal itu. Memangnya kita boleh pindah ekskul?”
“Aku rasa tidak masalah.”
Itu lebih baik daripada tidak mengikutinya sama sekali.
“Aku mengikuti ekskul itu dan biasanya mentor kami mengisi materi dari ekskulnya hanya tiga puluh menit saja dan selebihnya kita hanya berdiskusi tentang masalah yang sedang terjadi sekarang. Jika kita ingin pulang lebih cepat juga, kita diperbolehkan jika dia sudah selesai mengisi materi dan sedang berdiskusi.”
“Sepertinya aku akan masuk ke sana agar Pak Febri tidak menanyakan hal itu terus kepadanya, aku juga tidak enak jika terus-terusan ditanya seperti itu.”
“Kenapa kau tidak mau memberitahukan hal ini kepada Pak Febri?”
“Aku takut Pak Febri melarangku bekerja.”
Takut ya? Memangnya Akbar tidak tau kalau Pak Febri sering memberikan pekerjaan kepada murid-muridnya. Seharusnya jika dia tau hal itu dia tidak perlu khawatir untuk mengatakan kalau dia bekerja di suatu tempat.
“Apa kau tidak tau kalau Pak Febri sering memberikan pekerjaan kepada murid-muridnya?”
“Aku baru mengetahuinya darimu saat ini.”
Pantas saja.
“Tidak mungkin orang yang sering memberikan murid-muridnya sebuah pekerjaan akan melarang muridnya jika dia sedang bekerja di suatu tempat. Malahan dia pernah berkata kepadaku kalau dia ingin memberikan pekerjaan kepadamu jika kau memang membutuhkan uang.”
“Kenapa kau tidak memberitahukan ini dari dulu Mar!”
“Kau sendiri yang selalu menutup-nutupinya dari kami.”
Akbar yang tersadar akan hal itu langsung tersenyum kecil kepadaku.
“Mungkin aku akan mengatakan hal ini kepada Pak Febri.”
“Itu bagus.”
Aku juga ingin memberikan pekerjaan kepada Akbar di Comic Universe, siapa tau Pak Hari sedang membutuhkan karyawan magang lagi. Tapi sebelum itu aku akan berbicara dulu kepadanya.
Karena urusanku di sini sudah selesai dan aku sudah tau rahasia yang selama ini disembunyikan oleh Akbar tanpa perlu meminta bantuan dari Maul, sepertinya aku akan pulang saja.
“Apa kau sudah ingin pulang Mar?”
__ADS_1
“Begitulah.”
“Buru-buru sekali, di sini aja sebentar lagi. Masih ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”
Tadi saja ketika di sekolah dia pergi meninggalkanku dan tidak ingin membicarakan apa-apa denganku dan sekarang dia memintaku untuk tinggal sebentar lagi. Yang benar saja.
“Baiklah, kalau sebentar aku mungkin masih ada waktu.”
Aku melihat ke jamku dan ternyata waktu menunjukkan masih jam empat sore.
“Sepertinya sibuk sekali pekerjaamu.”
“Aku ingin cepat-cepat pulang karena sekarang sedang rawan penculikan. Kau juga jangan pulang terlalu larut.”
“Tenang saja, semua jalan yang aku lewati menuju ke rumah adalah jalan besar dan ramai orang. Kecil kemungkinannya jika aku sampai diculik seperti itu.”
Aku pun kembali duduk di sana dan melihat-lihat menu di sana, karena tidak mungkin jika aku harus duduk di sini tanpa meminum apa-apa, setidaknya aku harus membeli sesuatu.
“Kentang gorengnya satu lagi ya.”
“Baik.”
Akbar pun mencatat pesananku dan memberikannya kepada teman kerjanya yang bekerja di dapur untuk membuatkannya.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?”
“Apa hubunganmu dengan Miyuki?”
Aku pun langsung mengeluarkan dompetku dan membayar kentang gorengku.
“Kalau hanya itu yang ingin kau bicarakan, aku lebih baik pulang saja.”
“Wow.. Wow... Wow... Tenang Mar, kenapa kau jadi sensi sekali jika menyambung soal Miyuki? Dulu waktu LDKS juga sama seperti itu... Ini kembaliannya.”
Aku duduk kembali.
“Aku sudah lelah dihubung-hubungkan terus dengan Miyuki oleh banyak orang. Teman sekelas, lain kelas, teman kerja, dan masih banyak lagi.”
“Loh bukankah kalian berdua memang pacaran?”
Akbar terlihat bingung.
“Dari mana berita itu menyebar hah!?”
Aku pun memegang kepalaku karena aku tidak kuat dengan berita yang baru saja aku dengar.
“Aku tau karena ada beberapa anak kelas membicarakan hal ini.”
“Hubungan kami hanya teman saja tidak lebih.”
“Sayang sekali.”
“Kenapa? Apa kau ingin aku dekatkan dengan Miyuki?”
“Aku tidak mau.”
Heee... Tumben sekali, biasanya kalau ada temanku yang aku tawari seperti itu akan langsung bersemangat dan memintaku untuk segera mengenalkannya.
“Kenapa?”
“Saingannya terlalu banyak.”
Tepat sekali.
Akhirnya kentang gorengku pun tiba lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
“Pengamatanmu boleh juga.”
“Aku tidak suka mendekati perempuan yang terlalu cantik, selain kesempatannya sangat kecil dan saingannya pun banyak.”
“Kau tidak salah.”
“Sudah lama sekali aku tidak berbicara denganmu seperti ini. Mungkin terakhir kali saat LDKS.”
Oke kembali ke pembahasan biasa yang tidak ada Miyuki di dalamnya.
“Bukannya setiap hari aku selalu berbicara denganmu ketika di kelas.”
“Kalau di kelas pembicaraan kita tidak begitu serius karena ada teman-teman yang lain di sana.”
“Serius bagaimana?”
“Seperti pembicaraan sewaktu ada kasus ketika LDKS.”
Oh kasus itu... Menurutku itu sudah seperti pembicaraan biasa bagiku. Ya, walaupun lebih membuat otak kita berpikir lebih.
“Apa kau sudah diberitahu oleh Riki soal penyelesaian masalah itu?”
“Riki sudah memberitahu semuanya ketika kembali ke tenda.”
“Kalau begitu aku tidak perlu menjelaskannya lagi kepadamu.”
“Darimana kau bisa mengetahui semua itu Mar? Ketika diberitahu oleh Riki aku sangat salut sekali kepadamu.”
“Aku hanya menggabungkan semua petunjuk yang aku dapatkan ketika berada di sana.”
Walaupun selebihnya aku menyuruh Maul untuk mencari tau lebih lanjut. Tanpa informasi darinya, tidak mungkin aku bisa menyusun rencana dengan begitu matang.
“Cara kau menyelesaikan masalah itu sangatlah mulus dan tidak ada satupun murid yang mengetahui kalau kau yang menyelesaikan masalah itu. Dari seseorang yang tertuduh menjadi seorang yang menyelesaikan segalanya.”
Akbar pun memuji.
Memang aku tertuduh karena Kak Alvin ingin melihat bagaimana aku menyelesaikan masalah itu. Jadi tentu saja aku harus menyelesaikan segala masalah itu tanpa diketahui oleh satupun murid.
“Itu semua berkat bantuan kalian.”
“Kenapa kau tidak mau menunjukkan kemampuannya itu kepada orang lain Mar?”
“Untuk apa aku harus menunjukkannya?”
“Aku rasa itu sangat berguna sekali jika digunakan untuk membantu orang lain, dan juga agar aku tidak begitu terkejut dengan apa yang kau lakukan.”
Aku pun tersenyum mendengar itu dan kembali melanjutkan makanku.
“Aku memang berniat untuk menyembunyikannya. Aku senang ketika melihat wajah terkejut dari orang-orang, apalagi orang yang sering meremahkanku.”
Setelah aku menghabiskan kentang gorengku, aku pun berniat untuk pulang ke rumah.
“Terima kasih Mar mau menyisakan waktunya untuk berbicara denganku. Aku sudah merasa baikkan sekarang.”
“Sama-sama kalau begitu aku pulang dulu ya.”
__ADS_1
Dan satu masalahpun akhirnya selesai.
-End Chapter 96-