
“Apa kau siap Rik?”
Aku bertanya kepada Riki yang berada di sampingku.
“Entah kenapa setelah sampai di sini, aku menjadi ragu Mar.”
“Aku juga begitu.”
Saat ini, kami sudah sampai di Kawasan pusat hiburan malam yang berada di Jakarta Barat. Sebenarnya tempatnya tidak jauh dari sekolahku, tapi aku tidak menyangka kalau tempat ini kalau malam aku menjadi seperti ini.
Ketika sampai di sana, aku sampai pukul sepuluh malam. Butuh waktu tiga jam untuk kami sampai di sini.
Aku kira dengan menggunakan taksi akan membuat perjalanannya jauh lebih cepat, ternyata sama saja. Memang ketika kami berada di jalan tol, jalanan lancar dan hanya yang ke arah luar Jakarta yang macet. Tapi ketika kami keluar dari jalan tol, jalan masih saja ramai dipenuhi oleh kendaraan yang membuat kami harus berada di arus kemacetan itu.
“Sekarang jam berapa Mar?”
“Jam sepuluh malam, memang kenapa?”
Aku menunjukkan jam tanganku kepada Riki.
“Syukurlah kita sampai di sini sebelum acaranya dimulai.”
“Aku tidak tau kenapa Jakarta bisa semacet itu.”
“Bukannya itu sudah biasa?”
“Benarkah!”
Mungkin karena aku jarang keluar rumah, jadinya aku tidak tau kalau Jakarta memang semacet itu.
“Bukannya kawasan ini adalah kawasan malam yang terkenal di Jakarta itu.”
Oh! Ternyata kau tau tentang tempat ini. Aku saja baru tau hari ini.
“Sepertinya begitu, aku sendiri tidak tau tempat ini.”
“Dari pada berdiri lama-lama di sini, lebih baik kita masuk agar tidak dicurigai Mar.”
Saran Riki kepadaku.
“Kau benar juga Rik, ayo kita mulai masuk!”
Ketika kami berjalan masuk di sana, kami pun merasakan hawa yang sangat berbeda sekali. Hawa ingin seperti mengatakan kalau tempat ini sama sekali bukanlah tempat yang cocok untuk kami datangi.
Melihat gedung-gedung dan toko yang ada di sana. Di sini ternyata terdapat banyak sekali bar, tempat karaoke, dan tempat-tempat hiburan malam lainnya.
Dan juga banyak sekali penginapan di sini. Seharusnya aku sudah mengetahui tentang hal itu sih.
“Apa anak SMK seperti kita tidak masalah datang ke tempat seperti ini Mar?”
Riki ternyata juga ragu untuk masuk ke tempat seperti ini.
“Aku rasa tidak ada larangan yang mengatakan anak SMK dilarang datang ke tempat seperti ini. Hanya saja, di masyarakat sudah menganggap tempat ini terlalu tabu untuk anak SMK seperti kita.”
“Benar juga.”
Sebenarnya aku tau kenapa yang membuat Riki risih ketika memasuki kawasan ini.
Karena saat ini banyak sekali mata yang menyorot ke arah kami. Mau itu laki-laki atau perempuan, dan juga tidak jarang ada wanita-wanita yang menggoda kami ketika kami sedang melewati beberapa bar.
Tapi aku baru sekali ini memasuki dunia yang berbeda dari dunia yang selama ini aku tinggali.
“Ternyata tempati ini ramai sekali ya, padahal sudah malam.”
Riki mengatakan sesuatu yang sangat bodoh saat melihat orang-orang yang melintas di sekitar kami.
“Namanya juga tempat hiburan malam.”
Kami pun terus melangkah menuju ke tempat tujuan kami, yaitu salah satu hotel yang berada di sini.
Dengan menggunakan peta yang berada di ponselku, kami pun berjalan ke sana.
“Mar!”
Riki pun menutup mataku dengan kedua tangannya.
“Ada apa? Aku tidak bisa melihat.”
Aku berusaha melepaskan tangannya Riki dari mataku.
“Ada sesuatu yang seharusnya tidak boleh kita lihat.”
“Kau sendiri melihatnya.”
Aku pun menyingkirkan tangan Riki dari mataku dan membuang pandanganku ke arah lain.
Ketika aku membuang pandanganku ke arah lain, mataku pun tertuju ke sebuah lorong-lorong yang berada di sana. Walaupun keadaan di sana cukup gelap, tapi aku dapat mengetahui kalau di sana ada dua orang sedang melakukan sesuatu yang sama sekali aku tidak mau tau tentang hal itu.
“Abang-abang ganteng mau kemana?”
Ada dua orang perempuan yang menghampiri kami dan mencoba untuk menggoda kami.
Aku dan Riki tidak menjawab pertanyaan dari perempuan itu dan terus berjalan.
“Apa kalian mau bersenang-senang?”
“Maaf, saat ini kami sedang buru-buru untuk datang ke suatu tempat.”
Aku menjawab pertanyaan mereka itu karena aku merasa tidak enak jika mengabaikannya.
“Tidak ada salahnya bersenang-senang terlebih dahulu dengan kami sebelum pergi ke sana.”
Salah satu perempuan itu ada yang mendekat denganku dan berusaha untuk memepetku.
“Aku akan memuaskanmu.”
Dia pun membisikkan hal itu di telingaku yang membuat tubuhku sedikit merinding dibuatnya.
Ternyata bukan hanya aku saja yang mendapatkan hal seperti itu, Riki juga mendapatkan hal yang sama.
Kami pun mempercepat langkah kami agar bisa lepas dari mereka.
“Kalian berdua tidak asik!”
Ujar kedua perempuan itu setelah kami meninggalkan mereka.
Tempat ini benar-benar menyeramkan untuk dimasuki oleh orang-orang seperti kami. Kalau bukan karena Kichida, aku tidak mungkin memasuki tempat ini kapanpun itu.
Aku tidak tau sampai berapa lama lagi kita sampai di tempat tujuan. Aku tidak mau bertemu orang-orang seperti itu lagi. Untung saja mereka tidak memaksaku untuk ikut dengan mereka, kalau mereka memaksa aku tidak tau lagi harus melakukan apa.
Aku harus memperkuat keimananku di sini, ingat tujuanku hanya satu yaitu menyelamatkan Kichida bukan yang lain.
“Tempat ini terlalu menyeramkan... Kenapa tempat menyeramkan seperti ini disebut sebagai tempat hiburan?”
Bahkan orang sekelas Riki juga ketakutan ketika berhadapan dengan wanita-wanita tadi.
“Mungkin kita saja yang tidak bisa merasakan kesan menyenangkan dari tempat ini Rik.”
“Kau benar Mar.”
Kami pun terus berjalan menyusuri kawasan itu.
Semakin dalam kami memasuki kawasan itu, semakin ramai juga orang yang berada di sana. Dan semakin banyak juga perempuan-perempuan yang berada di depan penginapan menawarkan sesuatu kepada orang yang melewati mereka.
Kemudian, Riki pun berhenti di sebuah tempat makan cepat saji yang berada di sana.
“Kau tidak mau makan dulu Mar?”
“Benar juga, kita sama sekali belum makan malam.”
Karena setelah pulang sekolah, kami hanya mengganti baju dan langsung pergi ke rumahnya Miyuki.
“Bagaimana? Apa kau mau makan terlebih dahulu?”
“Sepertinya lebih baik kita menaha rasa lapar terlebih dahulu sampai kita benar-benar selesai dengan masalah Kichida.”
Karena aku telah melihat sesuatu yang membuatku tidak mau makan di sana.
“Kenapa Mar?”
__ADS_1
“Aku tidak mau ketika sedang makan nanti diganggu oleh wanita-wanita seperti tadi.”
Aku pun menyuruh Riki untuk melihat apa yang terjadi di dalam tempat makan itu.
Karena tempat makan itu memiliki jendela kaca yang sangat besar, jadi kami dapat melihat dengan jelas apa yang ada di dalamnya. Ternyata di sana juga ada beberapa wanita yang menggoda pelanggan yang sedang makan di sana.
Bahkan ada beberapa wanita yang menemani pelanggan tersebut makan dan sedikit memberikan pelayannya.
“Kau benar Mar, lebih baik kita menahan rasa lapar kita dari pada digoda oleh mereka.”
Riki kembali merinding setelah mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
Kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju hotel.
“Di sini banyak sekali wanita yang menggunakan pakaian minim.”
Tentu saja, kalau tidak seperti itu mana ada orang yang tertarik dengan mereka. Itu adalah salah satu mereka memasarkan diri mereka.
“Kenapa tempat seperti ini diperbolehkan berada di Jakarta?”
Riki penasaran akan hal itu.
“Boleh saja, kenapa tidak boleh? Karena pajak yang mereka bayar ke pemerintah lumayan besar, jadi tempat seperti ini dibiarkan saja.”
Tidak mungkin pemerintah memberhentikan sesuatu yang menjadi sumber pemasukan mereka. Kecuali pemerintah melihat norma-norma yang ada di Indonesia dalam menilai sesuatu, mungkin tempat seperti ini sudah ditutup.
“Sepertinya tempat seperti ini tidak boleh sampai didatangi oleh anak-anak seusia kita Mar.”
“Kau benar Rik.”
Memang kami tidak begitu tergoda dengan apa yang berada di sini.
Tapi aku tidak bisa memungkiri kalau godaan yang ada di sini sangat dahsyat sekali.
“Apa tempat yang kita tuju masih jauh Mar?”
“Sebentar lagi, karena hotel yang ingin kita datangi berada di tengah-tengah kawasan ini.”
Aku menunjukan ponselku kepada Riki.
“Seberapa besar kawasan ini ya?”
Riki mencoba melihat ke ujung jalan yang berada di hadapan kami.
“Sepertinya sangat besar.”
Karena memiliki gelar pusat hiburan malam di Jakarta, tentunya kawasan ini sangat besar sekali.
“Bagaimana keadaan kawasan ini saat siang hari?”
“Sepertinya ketika siang hari, kawasan ini beroperasi seperti biasanya.”
“Biasanya?”
“Iya, tempat makan menyajikan makanan, tempat karaoke menyajikan pelayanan karaoke dan begitu juga yang lainnya. Namun tidak ada pelayanan khusus yang mereka tawarkan kepada mereka seperti saat malam hari.”
Aku mengetahui hal ini dari cerita-cerita yang pernah aku dengar dari orang lain saja ya. Aku sendiri tidak tau apakah hal itu benar atau tidak. Aku ingin memastikannya tapi aku sangat takut sekali jika harus berurusan dengan wanita-wanita seperti tadi.
“Pelayanan khusus?”
Riki mulai memikirkan sesuatu setelah mendengar hal itu.
“Berhentilah berpikir yang macam-macam Rik!”
“Maafkan aku, aku tidak sadar.”
Yang benar saja!
“Aku tidak akan menyalahkanmu karena memang suasana di sini yang membuat kita ingin berpikir seperti itu.”
Sudah aku bilang kalau godaan di tempat ini sangatlah besar sekali.
“Apa kau masih menghubungi Maul Mar?”
“Aku masih menghubunginya melalui pesan saja.”
Aku menunjukkan juga percakapanku dengan Maul kepada Riki.
“Kan dia sudah berkata kalau dia akan mengawasi kita terus, mungkin saat ini dia juga tau apa yang sedang kita bicarakan.”
Karena kita sedang berbicara tentang Maul di sini. Mengetahui pembicaraanku dan Riki di sini bukanlah hal sulit untuk orang sepertinya.
Ketika kami sampai di sana, kami pun melihat seorang wanita yang masih sepantaran dengan kami. Karena dari semua wanita yang kami temukan di sini rata-rata berusia dewasa dan hanya dia saja yang sepantaran dengan kami.
Sedang apa yang dia lakukan di sini?
Aku tidak mau berpikir macam-macam, mungkin dia sedang mencari bapaknya yang bekerja di sekitar sini.
Kemudian mata kami pun bertemu dengannya, dan dia langsung menghampiri kami berdua.
“Kalian berdua, apa kalian berdua mau bersenang-senang denganku malam ini?”
Sama seperti yang lainnya dia juga menawarkan dirinya kepadaku.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Tanya Riki kepadanya.
“Tentu saja untuk bekerja.”
Jawab perempuan itu kepada Riki sambil sedikit menggodanya.
“Bagaimana kalian berdua? aku jamin akan memuaskan kalian.”
“Mohon maaf, kami datang ke sini bukan untuk melakukan hal seperti itu.”
Aku menjelaskan maksud dari kami kepadanya.
“Lalu untuk apa kalian datang ke sini?”
“Kami sedang mencari teman kami yang berada di sini.”
“Apa teman kalian juga bekerja di sini?”
Ah tentu saja orang akan berpikiran seperti itu.
“Tidak, teman kami hanya tersesat dan berakhir di tempat seperti ini.”
Tidak mungkin aku mengatakan kepada mereka kalau di tempat seperti ini ada acara pelelangan manusia.
Kami pun kembali berjalan dan meninggalkannya. Aku pun melihat jamku dan waktu menunjukkan jam setengah sebelas malam. Masih ada waktu satu jam tiga puluh menit lagi sebelum acara pelelangannya dimulai.
“Apa kalian tidak mau menyewaku? Aku sangat berterima kasih sekali jika kalian ingin menggunakan jasaku.”
Perempuan itu terus mengikuti kami dan memohon kepada kami berdua.
“Mohon maaf sekali lagi, kami sedang buru-buru dan tidak ada waktu untuk melakukan hal seperti itu.”
Aku dan Riki mempercepat langkah kami namun dia masih saja mengikuti kami dan mempercepat langkahnya juga.
Aku baru melihat ada wanita yang segigih ini. Aku kira dia akan menyerah seperti kedua wanita sebelumnya.
“Tolonglah, aku membutuhkan uang untuk membayar utang keluargaku.”
Mendengar itu membuatku dan Riki menghentikan langkah kami.
Aku pun melihat di dekat sana ada sebuah kafe.
Ah! Aku sebenarnya malas untuk masuk ke sana, tapi aku tidak tega juga jika meninggalkan perempuan ini setelah mendengar hal itu.
“Bisa kita berbicara di kafe itu sebentar?”
“Apa kau serius Mar!? Bukannya waktu kita tidak banyak.”
Riki terkejut dengan keputusan yang aku ambil.
“Tenang saja, kita hanya sebentar saja.”
Akhirnya kami pun pergi ke kafe itu untuk berbicara. Awalnya ketika kami masuk, ada beberapa wanita yang melihat ke arah kami, tapi karena dia melihat kalau kami masuk dengan membawa wanita juga. Mereka pun akhirnya tidak jadi untuk mendekati kami.
__ADS_1
Ternyata di sini persaingannya lumayan sehat juga ya.
“Kau pesan saja makanan untuk mengganjal perut Rik.”
“Baiklah Mar!”
Riki pun memesan kentang goreng dan juga roti coklat di sana.
“Apa aku boleh memesan minuman juga Mar?”
“Silahkan.”
“Lemon Tea satu.”
Riki memberikan pesanannya kepadaku.
“Saya milk shake stroberinya satu.”
Aku juga memberikan pesananku.
“Kau pesan saja.”
Aku menawarkan hal itu juga kepadanya.
“Aku tidak membutuhkan makanan, aku hanya membutuhkan uang.”
“Sudahlah, pesan saja makanan atau minuman yang kau inginkan.”
Aku memaksa kepadanya.
“Kalau begitu aku juga pesan milk shake stroberi.”
Setelah memesan, kami pun pergi ke sebuah meja yang kosong di sana.
“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”
Tanya perempuan itu kepadaku.
“Berapa utang yang dimiliki oleh keluargamu?”
Aku bertanya balik kepadanya.
“Apa aku harus mengatakannya di sini?”
Perempuan itu merasa keberatan akan hal itu.
Tentu saja dia akan keberatan.
“Katakan saja, bukannya kau bilang kalau kau ingin uang.”
Ucapku kepadanya.
Tidak lama kemudian, pesanan yang kami pesan pun datang.
“Ini pesanannya Tuan.”
“Terima kasih.”
“Aku makan duluan ya Mar!”
Riki yang sudah lapar, langsung menyantap roti coklat yang tadi ia pesan. Aku pun menaruh kentang goreng di tengah-tengah kami agar kami dapat menikmatinya bersama.
“Jadi, berapa utang keluargamu?”
“Satu juta lima ratus.”
Hanya segitu?
Apa keluargamu tidak memiliki uang sebanyak itu?
Ini pertanyaan sebenarnya bodoh, kalau ada buat apa dia sampai seperti ini. Mungkin aku akan sedikit merubah pertanyaannya.
“Kenapa keluargamu bisa memiliki hutang sebanyak itu?”
“Buat apa aku mengatakan hal itu kepada kalian.”
Perempuan itu masih enggan untuk menceritakannya kepada kami.
“Kau mau uang tidak?”
Ucapku kepadanya sambil menikmati milk shake stroberiku.
“Keluargaku adalah keluarga yang miskin. Ibuku hanya bekerja sebagai tukang cuci keliling, dan bapakku bekerja sebagai kuli bangunan.”
Aduh! Ternyata aku salah bertanya hal ini.
“Kami harus berhutang karena waktu itu ibuku jatuh sakit dan tidak ada biaya untuk berobat.”
“Kenapa kau pergi ke sini untuk mencari uang? Bukannya masih banyak pekerjaan yang bisa kau cari.”
“Aku tau hal ini dari tetanggaku kalau aku bisa mendapatkan uang dengan mudah dan cepat dengan menjual diriku di sini.”
Aku tidak tau apakah niat dari tetanggamu itu baik atau tidak, tapi sepertinya dia kurang tepat jika menyuruhnya untuk datang dan bekerja di sini untuk anak seumurannya.
“Apa kau sudah pernah menjual dirimu kepada seseorang?”
“Belum, karena ini pertama kalinya dan aku juga masih sungkan untuk menawarkan diri. Apalagi kebanyakan yang datang ke sini adalah orang dewasa.”
Benar juga, pantas saja aku dan Riki cukup mencolok ketika masuk ke sini.
“Itulah kenapa ketika aku melihat kalian beruda, aku jadi memiliki sedikit berani untuk berbicara karena kalian sepertinya sepantaran denganku.”
“Berapa umurmu?”
“Tujuh belas tahun.”
Dia beda dua tahun dariku.
Aku pun menghabiskan milk shakeku dan juga Riki sudah selesai menghabiskan makanannya.
Sepertinya dia sangat lapar sekali.
Aku pun mengeluarkan sebuah kertas yang berada di dompetku dan mengambil tisu yang ada di meja.
“Rik apa kau membawa pulpen?”
“Tentu saja.”
Riki pun mengeluarkan pulpen dari saku celananya.
Setelah mengisi kedua kertas itu, aku pun memberikannya kepada perempuan itu.
“Kau bawa cek itu ke bank yang tertera di sana untuk mencarikannya, semoga uang yang aku berikan bisa menolong keluargamu untuk melunasi utang-utangnya.”
Perempuan itu terkejut dan terharu melihat cek yang aku berikan kepadanya.
“Apa kau yakin memberikan ini kepadaku?”
“Iya, dan juga nomor yang tertera di kertas tisu itu adalah nomorku. Kau bisa menghubungiku jika kau membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan uang. Aku berharap kau tidak pergi ke tempat seperti ini lagi.”
“Terima kasih, aku sangat berterima kasih banyak kepada kalian. Apa kau yakin memberikanku ini tanpa menyuruhku melakukan apapun?”
“Hargai sedikitlah dirimu... Ayo Rik, kita pergi.”
Sebelum pergi, aku pun mengambil satu kentang goreng dan kami pergi dari sana meninggalkannya seorang diri.
“Baik sekali kau Mar memberikan dia uang sebanyak itu, dan juga sejak kapan kau membawa cek?”
“Itu cek yang waktu itu diberikan Pak Hari kepadaku dan belum aku gunakan sampai saat ini.”
Sebenarnya dibandingkan uang yang aku miliki, uang yang aku berikan tadi tidaklah banyak.
“Apa kau yakin memberikannya uang Mar, bagaimana jika dia berbohong kepada kita?”
“Jika dia berbohong itu bukan urusanku, aku hanya berniat untuk membantunya saja. Anggap saja aku melakukan ini agar kita dapat dipermudah dalam menyelamatkan Kichida.”
“Aaminn...”
Kami pun terus melanjutkan perjalanan kami menuju hotel yang dituju. Dan kali ini, tidak ada halangan yang menghambat kami sampai kami tiba di depan hotel tersebut.
__ADS_1
-End Chapter 137-