
Satu lagi hari yang cerah namun sudah sedikit berawan. Seperti biasa, aku bersama dengan teman-teman yang lainnya berkumpul di bawah pohon untuk menghabiskan bekal makan siang.
Hari ini ada yang berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya, karena saat ini yang berkumpul di sini bertambah lagi satu orang. Ya, orang itu adalah Natasha.
“Tumben sekali kau membawa bekal.”
Aku menyapa Natasha yang bergabung dengan kita.
“Aku tidak membuat bekal ini, Kichida yang membuatkannya kepadaku. Apa aku boleh bergabung dengan kalian?”
“Tentu saja boleh Natasha, tidak ada yang melarangmu.”
Miyuki langsung sedikit menggeserkan badannya untuk memberikan ruang untuk tempat duduk kepada Natasha.
Natasha pun langsung duduk di antara Miyuki dan juga Kichida. Kemudian Maul pun datang dengan wajah berseri-seri. Aku tidak tau apa yang baru saja dia dapatkan, tapi yang jelas itu adalah sesuatu yang menyenangkan.
“Kenapa kau?”
Amar pun menunjukkan layar ponselnya kepadaku dan di sana aku dapat melihat kalau jumlah pengunduh Comic Universe sudah mencapai lima ratus ribu pengunduh.
Woah! Kalau begitu uang kami kemungkinan sebentar lagi akan turun. Aaahh!!! Aku bersyukur sekali sebentar lagi akan mendapatkan uang.
“Aku sudah yakin kalau yang mengunduh aplikasi ini pasti banyak.”
Maul pun membanggakan dirinya di hadapan kami semua.
“Iya.. Iya... Kali ini apa yang kau katakan kali ini benar.”
Sekali-kali aku juga harus memuji Maul dengan apa yang dia lakukan.
“Selamat ya Maul! Mar!”
Miyuki dan yang lainnya mengucapkan selamat kepada kami secara bergantian.
Ponselku yang berada di saku celanaku pun bergetar seperti ada panggilan masuk.”
“Maaf, aku mau mengangkat telpon dulu.”
Ternyata panggilan itu berasal dari Pak Hari, pasti dia ingin membicarakan tentang hal ini juga. Apa dia mau langsung mengadakan rapat nanti sore ketika mengetahui kalau jumlah pengunduh aplikasi sudah banyak.
“Hallo... Mar! Apa aku mengganggumu?”
“Tidak Pak, aku sedang istirahat. Ada apa memangnya menelponku di jam segini?”
“Apa itu dari kakakku Mar?”
Tanya Natasha kepadaku dan aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Apa kau sudah tau tentang perkembangan aplikasi saat ini?”
Seperti yang aku duga, dia pasti akan membicarakan tentang hal ini. Semoga saja dia tidak berkata kalau nanti sore ada rapat dan menyuruhku untuk datang.
“Aku baru saja mengetahui hal itu dari Maul barusan.”
“Itu bagus, aku jadi tidak perlu menjelaskan kepadamu lebih lama lagi. Nanti sepulang sekolah..”
Ini dia, panggilan rapat.
“..Datanglah ke kantor bersama Maul untuk berpesta dengan karyawan lainnya. Jangan lupa untuk mengajak teman-temanmu juga Mar untuk ikut berpesta.”
Yeay! Aku kira Pak Hari ingin memintaku dan Maul datang ke kantor untuk rapat di sana, ternyata dia ingin mengadakan pesta.
“Berapa jumlah teman yang boleh aku ajak ke pesta itu?”
“Terserah, semakin banyak semakin bagus. Sudah dulu ya Mar, aku ingin menyiapkan untuk pesta nanti. Aku tunggu kedatangan kalian.”
Dan Pak Hari pun menutup panggilannya.
“Dari siapa Mar?”
Maul bertanya kepadaku.
“Dari Pak Hari.”
“Apa yang dia katakan?”
“Pak Hari menyuruh kita untuk datang ke kantor sepulang sekolah nanti, katanya di sana akan mengadakan pesta.”
“Benarkah itu! Hebat sekali!”
Maul senang sekali ketika mendengar itu.
“Enak sekali kalian berdua bisa berpesta.”
Riki merasa iri denganku dan juga Maul.
“Tenang saja Rik, Pak Hari menyuruh kita untuk mengajak teman-teman kita dan tidak ada batasannya berapa yang harus kita bawa, jadi jika kalian semua ingin ikut bisa.”
Riki langsung merasa senang ketika mendengar hal itu.
“Apa tidak masalah jika kita semuanya ikut ke pesta itu Ar?”
Rina bertanya kepadaku.
“Pak Hari mengatakan kepadaku kalau semakin banyak orang semakin bagus.”
“Memangnya dimana kantormu Mar?”
Kichida yang merasa senang langsung bertanya kepadaku.
“Kantorku berada di SCBD.”
“Aku juga baru saja mendapatkan pesan dari kakakku untuk datang ke kantor.”
__ADS_1
Ucap Natasha.
“Tenang saja Rik, Aku akan memperkenalkan Kak Friska kepadamu nanti. Aku jamin kau tidak akan menyesal setelah melihatnya.”
Maul memang menceritakan Kak Friska kepada Riki, bahkan hal itu membuat Riki penasaran secantik apa Kak Friska hingga membuat Maul bercerita tentangnya selalu.
“Woah! Kau memang temanku yang terbaik Mul.”
Riki sangat senang sekali karena tau akan diberitahu oleh Maul tentang Kak Friska.
“No.. No.. No... Kak Friska itu milikku, kau sudah memilikki Kirana. Kalau kau berani mendekati Kak Friska, aku akan memberitahu hal ini kepada Kirana.”
Maul pun mulai mengancam Riki dengan itu.
Riki pun terdiam tidak bisa membalas perkataan dari Maul.
“Kak Friska bukan milik siapapun asal kau tau.”
Aku memperingati hal itu kepada Maul.
“Apa masalahmu Mar? Apa kau juga suka dengan Kak Friska hingga kau berkata seperti ini.”
Orang ini menjengkelkan sekali di saat seperti ini, aku ingin sekali memukulnya agar dia diam.
“Apaan itu, aku tidak mau masuk ke dalam pertandingan bodoh yang kau lakukan itu.”
Ya, tidak bisa aku pungkiri kalau aku memang sedikit mengagumi Kak Friska. Menurutku dia seperti sosok kakak yang ideal menurutku. Aku mengatakan ini bukan karena aku senang memiliki kakak yang cantik, hanya saja setiap kali aku ke kantor Kak Friska selalu berbicara kepadaku dengan sangat ramah, bahkan dia sering memberikanku beberapa masukan. Itulah yang membuatku melihat dia seperti sesosok kakak.
“Bilang saja kalau kau suka Mar, aku yakin setiap orang yang melihatnya akan menyukainya.”
Maul berkata itu dengan sangat percaya diri sekali.
“Amar suka dengan perempuan? Itu terdengar tidak mungkin sekali Mul.”
Aku tidak tau apa yang dikatakan oleh Miyuki itu adalah sebuah dukungan atau penghinaan, tapi aku akan menganggap itu sebagai dukungan.
“Kalau begitu, aku akan memberitahu kalian satu hal yang akan memperkuat perkataanku barusan.”
Semua orang yang ada di sana pun langsung melihat ke arah Maul dengan seksama, mereka pun ingin mendengar apa yang akan Maul katakan.
“Ketika rapat, Amar selalu duduk berhadapan dengan Kak Friska..”
“Bukannya ketika rapat memang aku selalu duduk di tempat itu, kebetulan saja Kak Friska duduk di depanku.”
“Tenang dulu Mar, aku belum selesai mengatakannya.”
Sial! Dia pasti mengetahui tentang hal itu.
“Saat rapat, mata Amar selalu melirik ke Kak Friska ketika Kak Friska sedang tidak memperhatikannya dan Amar membuang pandangannya ketika Kak Friska menyadarinya.”
Ah... Aku malu sekali karena Maul mengetahui itu dan mengatakan hal itu di depan semuanya. Apalagi saat ini sedang ada Miyuki dan Rina, aku ingin sekali pergi dari sini secepat mungkin.
“Heee... Jadi tipe perempuan yang disukai Amar seperti itu.”
“Bisakah kalian menghentikan pembicaraan ini? Aku sangat terganggu sekali.”
Aku mohon siapapun yang ada di sini! Tolong rubah pembicaraan ini ke arah yang berbeda dengan topik yang dapat menarik perhatian semuanya. Aku akan sangat berterima kasih sekali kepada orang itu.
“Apa kamu suka dengan Kak Friska Ar?”
Gawat! Rina sudah mulai bertanya tentang hal ini. Pasti dia juga tertarik makanya dia bertanya langsung kepadaku.
“Apa yang Maul katakan tidak benar, pandanganku saat itu tidak mengarah kepada Kak Friska melainkan kepada Pak Hari yang duduk di samping Kak Friska. Maul juga tidak dapat melihat dengan jelas ke mana aku memandang karena dia duduk di sampingku.”
“Heee... Benarkah itu?”
Yoshida terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.
“Ada apa dengan kalian semua? Kalian tidak terlihat seperti biasanya.”
“Sebelum Amar mengatakan yang sebenarnya, kita akan terus memperhatikan Amar.”
Ah tolonglah Rina! Kalau seandainya Miyuki yang bersikap seperti itu aku dapat mengatasinya, tapi jika kau sudah melakukan hal yang sama dengannya, rasanya sulit sekali untuk menghindarinya.
“Aku tidak ada perasaan suka kepada Kak Friska, aku hanya kagum saja dengannya. Lagi pula usianya Kak Friska sangat jauh denganku, tidak mungkin dia berpacaran dengan laki-laki yang usianya jauh dengannya.”
“Kagum?”
Rina, Miyuki, dan Yoshida langsung kebingungan dengan apa yang aku katakan.
“Setiap saat aku bertemu dengan Kak Friska di kantor, aku merasakan aura wanita dewasa keluar darinya dan itulah yang membuatku kagum.”
“Jadi fetish-mu itu Mar.”
Ucap Kichida kepadaku.
“Jangan percaya dengan hal itu teman-teman, itu hanya pembelaan yang dibuat Amar untuk keluar dari masalah ini saja.”
“Hentikan itu Mul, kau hanya membuat semuanya menjadi rumit saja. Kalau kau terus melakukan hal ini, aku akan membalasnya berkali-kali lipat nanti.”
“Jangan marahlah Mar! Aku hanya bercanda saja.”
Maul pun hanya tertawa mendengar perkataanku tadi. Aku yakin dia takut dengan apa yang aku katakan barusan.
“Apa tidak masalah jika aku ikut juga?”
Takeshi tiba-tiba berbicara.
Aku kira dari tadi dia tidak ada di sana karena tidak terdengar suaranya.
“Tentu saja, aku mengundang semuanya yang ada di sini.”
Yah, walaupun aku masih menganggapnya orang yang merepotkan tapi tidak mungkin kan kalau aku tidak mengajaknya ke acara itu. Itu terlihat kalau aku dan Takeshi tidak ada bedanya.
__ADS_1
Bel berbunyi dan kami semua pun pergi ke kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Ketika sampai di kelas, aku sudah melihat Pak Febri yang ada di sana. Dia menghampiriku saat melihat aku sampai di kelas.
“Mar, aku ingi berbicara sebentar.”
Aku sudah tau apa yang ingin Pak Febri bicarakan denganku.
Kami pun pergi ke luar kelas lagi untuk membicarakan sesuatu.
“Nanti sepulang sekolah ajak teman-temanmu pergi ke kantor untuk berpesta.”
“Tenang saja, aku sudah melakukan hal itu ketika istirahat tadi.”
“Baguslah kalau begitu.”
“Oh iya aku ingin bertanya sesuatu tentang hal ini tapi tidak pernah menemukan waktu yang pas.”
“Apa itu?”
Guru ini, seharusnya dia sudah tau apa yang ingin aku katakan.
“Kenapa Pak Febri mengerjakan pekerjaan dari Comic Universe di sekolah dan dilihat oleh salah seorang murid. Karena hal itu, hampir saja aku diketahui oleh OSIS saat menyerahkan proposal kemarin.”
“Hahahaha... Lalu bagaimana kau bisa lepas dari pertanyaan-pertanyaan mereka?”
Dia terlihat menikmati sekali aku kesusahan.
“Aku berhasil mengelabui mereka dan bebas dari semua itu.”
“Aku rasa hanya kau saja yang bisa mengelabui OSIS dan anggota-anggotanya.
“Lalu alasan Pak Febri melakukan itu apa?”
Semoga saja jawaban darinya memuaskan, kalau jawabannya memuaskan mungkin aku akan memaafkannya.
“Waktu itu aku tidak ada waktu jika mengerjakannya di rumah, karena ada pekerjaan dari sekolah yang harus aku kerjakan, jadinya aku harus mengerjakan hal itu di sekolah ketika ada waktu kosong.”
“Kalau begitu setidaknya ketiak ada murid yang melihat Pak Febri mengerjakan itu, Pak Febri harus mengelabuinya agar murid itu tidak membuat rumor seperti ini.”
“Apa kau tidak suka menjadi seorang atasan Mar?”
“Aku suka saja, siapa orang yang tidak suka menjadi seorang atasan. Hanya saja aku sangat tidak menyukai sesuatu yang merepotkan dan jika ada seseorang murid tau kalau aku menjadi atasan di sebuah aplikasi yang sedang terkenal. Hal itu bukan hanya menarik perhatian para murid saja, mungkin para guru juga akan tertarik karena hal itu.”
Dan ketika hal itu terjadi, kehidupan sekolahku yang damai akan benar-benar berakhir dan seluruh murid di sekolah ini akan mengetahui siapa itu aku. Menjadi terkenal adalah sesuatu yang sangat aku takutkan.
“Itu benar, bahkan kemarin ketika pensi kepala sekolah bertanya kepadaku kenapa murid-murid dari sekolahnya yang menjaga stan itu.”
“Lalu apa jawabannya Pak Febri?”
“Aku sudah pernah memberitahu kepada kepala sekolah kalau aku bekerja di Comic Universe dan aku mengatakan kepada kepala sekolah kalau aku yang memberikan kalian pekerjaan itu untuk menambah uang jajan mereka dan kebetulan mereka mau... Begitu.”
“Kenapa kau tidak mengatakan hal seperti itu kepada murid yang bertanya kepadamu waktu itu?”
Aku tidak tau lagi harus mengatakan apa pada guruku yang satu ini.
“Aku tidak tau kalau akan menjadi rumor.”
Tentu saja, siapa yang tau kalau hal seperti itu akan menjadi rumor yang benar-benar menyebar. Sepertinya benar, aku akan mencari tau siapa orang yang menyebarkan rumor itu agar aku dapat menutup tersebarnya rumor itu langsung dari akarnya.
“Ngomong-ngomong apa Pak Febri juga akan ke kantor nanti?”
“Tentu saja, karena ini pesta dan aku juga mau melihat karyawan-karyawan yang bekerja di sana.”
“Apa Pak Febri sudah mengetahui tentang Kak Friska?”
“Apa yang kau maksud itu sekertarinya si Hari yang cantik itu?”
Bahkan Pak Febri sudah mengetahui kalau Kak Friska cantik, berarti dia sudah tau tentang hal itu.
“Iya.”
“Aku hanya bertemu dengannya saat wawancara saja, aku juga terkejut kalau ada orang secantik itu yang ikut mendaftar di perusahan yang baru berdiri. Aku yakin jika dia mendaftar di perusahaan lain dengan posisi sebagai sekertaris, dia akan diterima dengan mudah.”
“Apa menjadi sekertaris hanya membutuhkan kecantikan saja?”
“Tentu saja tidak, tapi rata-rata penilaian pertama dari seseorang yang menjadi sekertaris adalah penampilannya terlebih dahulu, baru yang lain.”
Heee... Aku baru mengetahui itu, berarti posisi sekertaris adalah posisi yang sangat deskriminasi sekali karena tidak semua orang dapat menjadi posisi itu.
“Jadi Pak Febri mengakui Kak Friska cantik?”
“Tentu saja, aku rasa semua orang yang melihatnya akan berkata hal yang sama denganku.”
Hmmm....
“Apa jangan-jangan kau menyukai Kak Friska makanya bertanya hal itu kepadaku?”
Melihat Pak Febri tersenyum saat ini membuatku teringat dengan Riki dan Maul ketika sedang meledekku tadi.
“Tentu saja tidak, aku bukanlah orang yang menilai seorang perempuan dari penampilan saja, dan aku tidak mungkin merubah prinsipku hanya karena bertemu dengan perempuan yang cantik. Kalau memang kecantikan perempuan dapat merubah prinsipku, seharusnya aku sudah berpacaran saat bertemu dengan Rina atau Miyuki, karena menurutku mereka berdua tidak kalah cantik dengan Kak Friska.”
“Aku jadi penasaran sekali dengan perempuan yang nantinya akan menjadi pacar kau Mar.”
Pak Febri pun tersenyum.
“Yah.. Bukan hanya Pak Febri saja, aku saja penasaran dengan perempuan itu.”
“Kalau begitu sampai ketemu di kantor.”
Pak Febri pun pergi meninggalkanku untuk mengajar di kelas lain.
Pacar ya? Aku tidak tau apakah aku akan memiliki hal itu atau tidak. Mungkin aku akan melihat dari seberapa menguntungkannya memiliki pacar untuk kehidupanku, kalau hal itu sama sekali tidak menguntungkan, mungkin aku tidak akan melakukannya.
- End Chapter 89 -
__ADS_1