
Saat ini, aku berada di dalam ketegangan bersama Riki dan Maul. Karena sekarang, aku berada di dalam ruang OSIS dan sedang berhadapan dengan Kak Alvin, Kak Fauzi, dan juga beberapa anggota OSIS lainnya.
Berhadapan yang aku maksud di sini bukan maksudnya kami bertarung, kami hanya sedang beradu argumen tentang sesuatu saja.
Akan aku ceritakan terlebih dahulu kenapa aku bisa berada di dalam kondisi seperti ini.
***
Pagi hari seperti biasa, aku pergi ke sekolah bersama teman-teman yang lainnya dengan menggunakan bis. Saat aku sampai di sekolah, Kak Alvin sudah menungguku tepat di gerbang sekolah.
Hal ini pun membuatku terkejut kenapa dia perlu menungguku di sana. Dia pun menyuruhku untuk datang ke ruang OSIS ketika istirahat, bersama dengan Maul dan juga Riki.
Waktu istirahat pun tiba, kami langsung pergi ke ruang OSIS untuk memenuhi panggilan dari Kak Alvin itu.
“Apa yang ingin dia bicarakan Mar?”
Maul penasaran akan hal itu.
“Mungkin masalah pemilihan anggota OSIS yang akan diadakan sebentar lagi.”
“Bisa jadi.”
Ketika kami sampai di ruang OSIS, Kak Alvin sudah berada di sana bersama dengan Kak Fauzi dan Kak Ayu.
“Selamat datang kalian semua di ruang OSIS, silahkan duduk.”
Kak Alvin menyambut kami dengan senyum ramahnya.
Aku sudah tau kalau ada sesuatu yang dia inginkan.
Kami bertiga pun langsung duduk berhadapan dengan Kak Alvin, dan Kak Fauzi.
“Jadi, apa yang ingin kakak bicarakan?”
“Pasti kalian bertiga sudah tau jika hari ini adalah hari pemilihan anggota OSIS yang baru.”
Ternyata memang itu yang ingin dia bicarakan dengan kami bertiga.
“Apa Kak Alvin ingin menawarkan kepadaku untuk menjadi anggota OSIS? Kalau itu yang kakak inginkan, maaf saja tapi aku menolaknya.”
Aku langsung mengatakan itu agar bisa mempersingkat waktuku berada di sini.
“Kenapa alasannya jika aku boleh tau?”
“Alasanku dari dulu tidak pernah berubah, aku tidak mau masuk ke dalam OSIS karena itu merepotkan dan melelahkan.”
Aku harus pulang lebih lama dibandingkan murid yang lain, mengurusi segala keperluan yang ada di sekolah, masuk di saat kita libur. Itu sangat tidak mengenakan sekali.
“Tugas OSIS memang sedikit melelahkan tapi kau bisa dekat dengan guru-guru yang mengajar di sini dan masih banyak lagi keuntungan yang kau dapatkan jika bergabung menjadi anggota OSIS.”
Dekat dengan guru? Itu bukanlah keuntungan menurutku. Memang sih ada beberapa guru yang enak untuk didekati seperti Pak Febri contohnya. Lagi pula untuk dekat dengan guru, menjadi anggota OSIS bukanlah cara satu-satunya, itu hanya cara termudahnya saja.
“Aku tidak tertarik dengan keuntungan seperti itu.”
“Bagaimana dengan kalian berdua?”
Sekarang Kak Alvin bertanya kepada Maul dan Riki.
“Kalau Amar tidak ikut, aku juga tidak akan bergabung ke dalam OSIS.”
“Aku juga sama.”
Riki dan Maul seolah-olah melimpahkan masalah ini kepadaku. Pastinya setelah ini, Kak Alvin akan banyak bertanya kepadaku dibandingkan mereka.
Apa mereka berdua sudah merencanakan hal ini sebelumnya?
“Berarti kunci di sini adalah Amar agar mereka berdua juga mau masuk ke dalam OSIS.”
Kak Alvin pun melihat ke arahku.
Ini merepotkan sekali.
“Lagi pula buat apa kami masuk ke dalam OSIS, bukannya masih banyak kandidat OSIS yang sudah terdaftar di sini. Mereka juga sepertinya aku lihat memiliki potensi yang bagus.”
Aku melihat ke arah kertas yang berada di hadapan kami. Kertas itu sepertinya berisikan murid-murid yang mengajukan diri menjadi anggota OSIS. Karena kertasnya terbuka, aku dapat melihat siapa saja yang terdapat di dalamnya.
“Kalau secara akademin mungkin iya, tapi aku ingin membuat OSIS di sekolah ini menjadi lebih berwarna.”
“Apa yang kau harapkan dari orang sepertiku, membuat sesuatu yang berwarna bukanlah keahlianku.”
Apa yang bisa aku lakukan untuk membuat OSIS ini berwarna. Aku bukanlah seseorang yang memiliki ide-ide yang berbau masa muda yang dapat membuat apapun berwarna. Riki lebih cocok untuk hal seperti ini dibandingkan denganku.
“Hahahahahaha... Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi.”
Heh? Kenapa dia tertawa dan juga kenapa dia sudah menyerah begitu saja? Aku kira dia akan memaksaku lebih untuk masuk ke sini.
“Lagi pula kenapa kalian semua berada di sini? Bukankah seharusnya semua anak kelas dua sedang menjalankan PKL?”
Riki bertanya kepada mereka semua.
Mendengar itu membuatku teringat akan hal itu. Sebelumnya, aku juga bingung dengan keberadaan Kak Alvin dan yang lainnya di sekolah. Awalnya aku kira karena hari ini mereka sedang libur saja, tapi tidak mungkin jatah libur mereka dapat dalam waktu yang bersamaan di hari kerja seperti ini.
“Hari ini kami semua memang sedang libur.”
Hee... Kebetulan yang sangat hebat juga.
“Kenapa acara penerimaan anggota OSIS diadaan saat semester dua?”
“Sudah dari dulu memang acara penerimaan digeser ke semester dua sekaligus untuk mengganti anggota OSIS yang berada di kelas tiga.”
“Bukankah itu bertabrakan dengan kegiatan PKL untuk anak kelas dua?”
“Biasanya pengurus OSIS itu kebanyakan anak kelas tiga, jadi hal seperti itu tidak mengganggu mereka. Karena tahun ini kebanyakan pengurusnya anak kelas dua, jadi terlihat ribet saja.”
“Jadi begitu.”
Tentu saja, itulah kenapa aku tidak mau menjadi anggota OSIS.
Kalau aku menjadi anggota OSIS, mungkin aku lebih jarang lagi pergi ke kantor karena harus menghabiskan waktu lebih di sekolah. Dan jam pulangku ke rumah jauh lebih lama dibandingkan jika aku pulang dari kantor.
Jarak dari rumahku ke sekolah dibandingkan jarak rumahku ke kantor, lebih dekat jarak rumahku ke kantor.
“Aku minta maaf kepada kalian karena tidak bisa menyajikan minuman karena saat ini sedang tidak ada orang yang menyajikannya.”
Aku pun tidak melihat keberadaan Kak Ayu di sana, tapi membuat teh saja seharusnya semua orang juga bisa melakukan itu. Bisa saja dia membuat alasan seperti itu.
__ADS_1
“Tidak masalah Kak, kami juga tidak memikirkan hal itu.”
Kemudian Kak Alvin pun memberikan aba-aba kepada anggota OSIS lainnya yang membuat mereka pergi meninggalkan ruangan yang membuat di ruangan itu tersisa kami bertiga bersama Kak Alvin dan juga Kak Fauzi.
Aku tidak tau aba-aba yang dia berikan itu untuk apa. Apa itu untuk membubarkan diri dari ruangan karena urusannya sudah selesai, atau memang ada sesuatu yang ingin dia bicarakan kepada kami bertiga dan tidak mau ada orang lain yang mendengarnnya.
Tapi aku rasa aba-aba itu hanya untuk memberitahu kepada mereka kalau urusan di sini sudah selesai.
“Karena kalian bertiga tidak mau masuk ke dalam OSIS, aku mau meminta saran kepada kalian untuk anggota barunya.”
“Aku tidak ada wewenang untuk melakukan hal itu, seharusnya hal itu dilakukan oleh anggota OSIS lainnya.”
Aku merasa keberatan akan hal itu.
Karena kalau memang itu yang terjadi dan ada salah satu anggota OSIS yang mengetahui hal ini. Pasti ada di antara mereka yang cemburu karena Kak Alvin malah merembukan hal ini kepada seseorang yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan OSIS.
“Aku hanya meminta saran saja kepada kalian tidak yang lain.”
“Apa Kak Alvin sudah memiliki calon anggotanya?”
Kak Fauzi pun membagikan beberapa kertas kepada kami bertiga yang berisikan tentang calin anggota OSIS selanjutnya.
Aku melihat para kandidat itu dengan seksama dan aku melihat beberapa temanku yang masuk di sana.
Rina, Miyuki, Rian, Takeshi, Yoshida, dan Kichida termasuk ke dalam kandidat itu. Sebenarnya namaku, Riki, dan Maul juga ada di sana, tapi bukan termasuk ke dalam kandidat yang di prioritaskan.
“Bagaimana cara agar masuk menjadi kandidat seperti ini?”
Aku bertanya hal itu kepada Kak Alvin.
“Selain dari prestasi yang mereka miliki di sekolah, kalian juga bisa mengajukan diri dan juga beberapa rekomendasi dari guru.”
Rekomendasi ya?
Berarti Pak Febri tidak merekomendasikanku untuk menjadi OSIS. Syukurlah, sepertinya dia lebih suka jika aku bekerja di Comic Universe daripada menghabiskan waktu menjadi anggota OSIS.
“Aku melihat nama Rina dan Takeshi.”
Riki menunjukkannya kepadaku.
“Rian juga masuk... Miyuki juga.”
Begitu juga dengan Maul.
“Aku sudah mengetahui itu, bahkan Kichida dan Yoshida juga ada di sana.”
Ucapku kepada mereka.
“Kau benar Mar! Nama kita juga ada di sini.”
Ucap Riki setelah memeriksanya lebih jelas lagi.
“Apa mereka semua adalah teman-teman kalian.”
“Ya, kami sering berkumpul bersama.”
“Bagaimana tanggapanmu tentang mereka semua Mar?”
Pasti tanggapanku ini akan dipertimbangkan agar mereka menjadi anggota OSIS. Aku rasa tidak masalah bagi mereka jika menjadi anggota OSIS, tapi sepertinya aku harus menyelamatkan Kichida di sini.
Aku tidak mau kegiatan OSIS menghambatnya dalam membuat komik. Ya, walaupun pada saat dia menjadi OSIS orang tuanya mungkin senang.
“Sebelum menjawabnya boleh aku bertanya sesuatu?”
“Silahkan?”
“Apa orang yang sudah terpilih menjadi anggota OSIS boleh menolaknya?”
“Tentu saja, tidak ada paksaan dalam menjadi anggota OSIS.”
Kalau begitu, akan aku biarkan Kichida yang memilih keputusan itu.
“Mereka semua baik, aku rasa tidak masalah jika mereka menjadi anggota OSIS.”
Kak Alvin hanya mengangguk kecil setelah mendengar dari jawabanku itu.
“Apa urusanku di sini sudah selesai?”
“Kenapa kau buru-buru sekali Mar?”
“Aku mau menghabiskan bekalku, kalau tidak cepat waktu istirahat keburu habis.”
“Kau benar Mar.”
Riki pun melihat jam tangan yang dia gunakan.
“Kami mohon maaf karena sudah menyita waktu kalian, dan kami berterima kasih kepada kalian tentang masukan-masukannya tadi.”
Sepertinya kami tidak memberikan banyak masukan kepada mereka.
Kami pun akhirnya pergi dari ruang OSIS itu dan menuju ke tempat biasa kami berkumpul.
“Apa kau yakin tidak mau menerima tawaran tadi Mar?”
Riki mencoba untuk meyakinkanku lagi.
“Apa kau mau masuk ke dalam OSIS? Aku tidak akan melarangmu jika kau mau masuk ke sana.”
“Aku masih memegang perkataanku barusan, selama kau tidak masuk ke dalam OSIS, aku juga tidak akan masuk ke sana.”
Riki mengatakan itu dengan sangat meyakinkan.
“Aku pun juga sama.”
Begitu juga dengan Maul.
Aku tidak tau apa yang mereka berdua pikirkan, tapi aku rasa seperti inilah memiliki teman dekat.
Ketika kami sampai di tempat biasa, ternyata teman-teman kami yang lainnya masih berada di sana untuk menghabiskan bekal mereka. Ada beberapa dari mereka yang sudah menghabiskan bekalnya dan sedang berbincang-bincang.
“Apa yang kamu lakukan di ruang OSIS Mar?”
Baru saja aku duduk dan membuka bekalku, Miyuki langsung bertanya kepadaku.
“Kami hanya berbincang dengan Kak Alvin saja.”
__ADS_1
“Apa yang kalian bincangkan?”
“Apa ini ada kaitannya dengan pemilihan anggota OSIS yang baru Ar?”
“Begitulah.”
Aku menjawab pertanyaan dari Rina sambil memakan bekalku.
“Apa kamu ditawari untuk masuk OSIS lagi?”
“Lagi!?”
Yoshida terkejut mendengar perkataan dari Rina.
“Iya, waktu SMP Amar juga pernah ditawari untuk masuk ke dalam OSIS tapi dia tidak pernah mau.”
Rina menceritakan hal itu kepada kami semua yang ada di sana.
“Kenapa kau tidak mau Mar? Bukannya OSIS itu termasuk posisi yang bagus dan banyak murid yang ingin masuk ke dalam sana.”
Banyak murid? Sepertinya teman-temanku di kelas juga tidak ada yang begitu tertarik untuk masuk ke dalam OSIS. Tapi aku tidak tau jika di kelasnya Yoshida.
“Aku tidak suka saja.”
“Aku menjadi penasaran dengan siapa saja yang akan masuk ke dalam OSIS diantara kita.”
Miyuki berandai-andai.
“Apa kau ingin sekali masuk ke dalam OSIS?”
Aku bertanya balik kepada Miyuki yang sedang berandai-andai itu.
“Aku tidak begitu ingin, tapi jika seandainya memang aku mendapatkan kesempatan untuk masuk, aku tidak akan menolaknya.”
Aku anggap itu sebagai jawaban iya.
Tapi aku rasa Miyuki pasti dapat masuk ke dalam OSIS dengan mudah.
Aku dapat membayangkan ketika sedang voting anggota baru yang diadakan oleh OSIS. Ketika nama Miyuki keluar, pasti banyak diantara mereka yang setuju untuk memasukannya ke dalam OSIS, terutama yang laki-laki.
“Oh iya Mar, banyak sekali temanku di SMP yang bertanya tentangmu sejak ulang tahun Miyuki.”
Mendengar perkataan dari Kichida membuatku mendapatkan firasat yang tidak mengenakan. Aku juga hampir tersedak karena mendengar hal itu.
“Sepertinya kau sedang diincar orang banyak Mar.”
Maul mengatakan itu dengan wajah gembira sekali. Aku tidak tau apakah dia teman atau lawan dalam hal ini.
“Kenapa harus seperti itu?”
“Aku sendiri juga tidak tau, tapi ada banyak dari mereka yang bertanya tentangmu.”
Aku pun melihat ke arah Miyuki.
Memang kalau dekat dengannya akan menimbulkan sesuatu yang sangat buruk.
Kemudian pandanganku terhadap Miyuki berubah menjadi Miyuki saat sedang menggunakan gaun putih kemarin.
Aw! Tidak, bayangan saat Miyuki versi sempurna masih menghantuiku.
Aku pun mengalihkan pandanganku darinya.
“Ada apa Mar?”
Miyuki kebingungan melihat sikapku barusan.
“Tidak ada, ngomong-ngomong dimana Takeshi?”
Aku berusaha merubah topik pembicaraan.
“Setelah kau berkata seperti itu, aku baru menyadarinya kalau dia tidak berada di sini.”
Maul berusaha mencari Takeshi di sekitar kami.
“Dia pergi makan bersama teman-temannya di kantin.”
Ucap Rina kepada kami.
“Tumben sekali dia tidak makan di sini bersama kita.”
Maul terlihat heran akan hal itu.
“Aku sendiri juga tidak tau.”
“Mar, apa kau hari ini pergi ke kantor?”
Natasha bertanya kepadaku.
“Sepertinya akhir-akhir ini aku tidak akan pergi ke kantor terlebih dahulu.”
“Kenapa?”
“Aku mungkin akan sering pergi ke sana jika angketnya sudah turun. Dan juga semenjak kita menunggu angket itu, rapat juga jarang diadakan.”
Dan hal itu membuatku jadi jarang pergi ke kantor.
“Apa itu angket untuk membuka Comic Universe agar bisa diunduh oleh semua orang yang ada di luar negeri?”
Tanya Miyuki.
“Yup.”
“Selamat Ar, karena aplikasinya sudah semakin berkembang.”
“Terima kasih.”
Teng.. Teng.. Teng... Teng...
“Gawat! Bel sudah berbunyi.”
Aku pun mempercepat makanku karena bekalku masih belum habis. Begitu juga dengan Riki dan juga Maul.
“Makannya pelan-pelan saja Ar.”
Rina memperingatkanku.
__ADS_1
Tapi aku tidak memperdulikannya karena jika aku makan pelan-pelan, aku bisa telat masuk ke dalam kelas karena bekalku masih tersisa banyak.
-End Chapter 129-