Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 53 : Pertemuan Yang Tak Terduga.


__ADS_3

“Besar sekali!”


Aku dan Riki sedang melihat ke sebuah rumah besar yang berada di hadapan kami.


Saat ini aku sudah berada di depan rumahnya Miyuki. Aku memang tau kalau Miyuki adalah anak dari orang kaya, tapi aku tidak menyangka kalau dia sekaya ini. Sebenarnya rumahnya tidak begitu besar, namun lapangan yang mengelilingi rumah tersebut sangatlah luas.


Dia memanglah seorang putri.


“Apa ini benar rumahnya Miyuki Mar?”


Riki mencoba memastikannya lagi kepadaku.


“Dari alamat yang dia kasih kepadaku... Memang ini rumahnya.”


Aku pun menunjukan layar ponselku kepada Riki.


Kemudian datanglah Rina dan Maul yang datang bersamaan. Kami pun berkumpul di depan gerbang rumah yang masih belum aku yakini kalau itu rumah Miyuki.


“Sedang apa kalian di sini? Kenapa kalian berdua belum masuk?”


Rina bertanya kepada kami.


“Memangnya ini beneran rumahnya Miyuki?”


Aku bertanya balik kepada Rina.


“Iya... Bukankah kemarin Miyuki sudah memberimu alamatnya?”


Rina malah heran melihatku.


Ternyata, Miyuki memanglah seorang putri.


Rina pun menekan tombol bel yang berada di pintu gerbangnya, dan kami menunggu seseorang membukakan pintunya untuk kami.


“Kenapa kalian berdua bisa datang bersamaan?”


Riki bertanya kepada Maul.


“Aku tidak sengaja bertemu dengannya ketika di depan gang tadi... Tapi rumahnya Miyuki ternyata besar juga ya.”


Ternyata bukan hanya aku dan Riki saja yang terpukau dengan rumah yang dimiliki oleh Miyuki, Maul pun sama. Sepertinya kita bertiga memiliki pemikiran yang sama.


“Bagaimana pekerjaanmu Mul?”


Aku bertanya kepadanya tentang pekerjaannya. Kalau dia berada di sini, berarti pekerjaan itu sudah selesai dia kerjakan.


“Sudah aku selesaikan... Untung saja tidak ada revisi dari orangnya. Kalau seandainya ada revisi, mungkin aku tidak dapat ikut acara ini.”


“Dari mana kau mendapatkan pekerjaan itu?”


“Aku mendapatkannya dari guru produktifku. Seperti apa yang kau katakan waktu itu, mereka tiba-tiba saja menawariku pekerjaan yang begitu banyak.”


Baguslah kalau begitu, setidaknya saranku dapat berguna untuknya.


“Berapa bayarannya?”


“Kalau itu rahasia.”


Maul tersenyum kearahku. Aku yakin kalau bayarannya pasti sangatlah besar, karena aku mendengar dari Pak Febri kalau kebanyakan proyek yang berkaitan dengan pemrograman memiliki bayaran yang lebih besar.


Tidak berapa lama setelah kami menunggu pun akhirnya seseorang pun membukakan gerbangnya untuk kami, orang itu adalah Miyuki sendiri.


“Maaf aku sedikit lama datangnya, tadi aku harus membantu Mamaku di dapur untuk mempersiapkan makanan untuk berbuka nanti.”


Miyuki langsung meminta maaf kepada kami.


“Tidak apa-apa Miyuki, kita juga baru saja datang.”


Ucap Rina kepadanya.


“Silahkan masuk yang lainnya sudah menunggu di dalam.”


Miyuki pun mempersilahkan kami masuk rumahnya.


“Apa nanti menu berbuka kita makanan Jepang semua Mar?”


Maul berbisik kepadaku, sepertinya dia sangat nantikan hal itu.


“Entahlah, tapi menurutku gorengan dan lontong adalah makanan yang paling nikmat saat berbuka.”


Tepat setelah memasuki gerbangnya, kami pun berjalan melewati halaman depan yang sangat luas.


“Aku baru tau ada rumah seperti ini di sini.”


“Dulunya ini adalah kebun yang dijual oleh seseorang dan Papa membelinya ketika baru saja datang ke Indonesia.”


Miyuki yang mendengar perkataanku langsung menjawabnya.


Ternyata, dia memang tuan putri.


Ketika sampai di rumahnya, aku sudah melihat Yoshida dan Kichida berada di ruang tamu. Selain itu ada seseorang yang membuat aku, Maul, dan Riki terkejut setelah melihatnya. Orang itu adalah Takeshi, ternyata dia diundang juga dalam acara ini.


“Sedang apa kau di sini Takeshi?... Maksudku Nakashima?”


Aku harus membiasakan memanggilnya seperti orang lain. Aku tidak mau ada orang yang mengira kalau hubungan kami sangat dekat.


“Aku diundang oleh Miyuki untuk datang ke sini, dan juga panggil saja aku Takeshi.”


Loh? Ada apa dengannya? Aku tidak melihat dia marah atau kesal sama sekali saat melihatku. Padahal selama ini jika melihatku dia selalu terlihat ingin mengajakku berkelahi, namun sekarang dia terlihat lebih tenang.


“Rik ini aneh... Dia terlihat seperti orang lain.”


Aku berbisik kepada Riki setelah melihat Takeshi yang berbeda dari biasanya.


“Kau benar Mar, dia terlihat seperti orang lain saja. Apa jangan-jangan dia merencanakan sesuatu kepadamu?”


“Tenanglah kalian berdua, aku tidak merencanakan apapun itu.”


Takeshi yang mendengar percakapan kami berdua pun langsung menjawabnya.


“Itu tidak mungkin! Kau pasti sedang merencanakan sesuatu.”


Aku dan Riki mengucapkan hal itu secara bersamaan.


“Kalian berdua ini memang menyebalkan ya. Sejak pertandingan basket yang terakhir kali itu aku baru menyadari sesuatu, kalau marah dan kesal kepadamu hanyalah tindakan bodoh yang selama ini pernah aku lakukan. Karena kau sendiri tidak pernah menganggap apapun yang aku lakukan itu dengan serius.”


Apa dengan ini sesuatu yang merepotkan lainnya sudah hilang? Keeeh... Akhirnya kehidupan sekolahku yang damai benar-benar tiba.


Welcome to paradise!!


Kami pun berkumpul di ruang tamu sambil menunggu waktu berbuka. Selama di ruang tamu, mataku selalu melihat ke arah pajangan-pajangan yang ada di sana. Walaupun rumahnya terlihat seperti rumah-rumah modern biasanya, tapi nuansa Jepangnya sangat terasa sekali di sini. Aku bahkan melihat sebuah katana yang terpajang di dinding ruang tamu. Aku tidak tau apakah itu katana asli atau tidak, tapi sepertinya itu adalah katana asli.


Katana adalah pedang yang biasa digunakan oleh samurai di Jepang, mungkin seperti itulah penjelasan sederhananya. Sebenarnya banyak perdebatan tentang hal ini dikalangan orang Indonesia, karena masih banyak orang Indonesia yang menyebut pedang tersebut dengan sebutan samurai. Tapi menurutku hal seperti itu bukanlah


sebuah masalah, lagi pula orang Indonesia sudah terlanjur mengenalnya dengan sebutan itu.


Sebenarnya masih banyak jenis-jenis katana, tapi aku tidak bisa menjelaskannya di sini karena aku sendiri tidak begitu tau tentang hal tersebut. Aku hanya sedikit mengetahuinya dari film kartun Jepang yang sering ada di tv setiap hari minggu.


Riki pun beranjak ingin pergi setelah melihat ponselnya.


“Kau mau kemana Rik?”


Tanya Maul kepada Riki yang sudah menggunakan jaketnya lagi.


“Aku mau menjemput Kirana untuk ke sini. Katanya dia juga diundang oleh Miyuki.”


Ohh... Jadi Kirana diundang juga, sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Mungkin terakhir kali saat kami pergi ke Gunung Prau.


“Tadi saat kalian masuk, aku mendengar suara motor. Memangnya siapa yang tadi datang dengan menggunakan motor?”


Takeshi langsung mencoba berbaur kepada kami.


“Aku, memangnya kenapa?”

__ADS_1


Riki langsung menjawab hal itu.


“Memangnya kau sudah memiliki SIM, bukannya umurmu masih belum cukup untuk membuat SIM?”


“Belum.”


Jawab singkat Riki.


“Bukankah itu melanggar hukum?”


Takeshi sedikit terkejut mendengar hal itu.


“Oi Yoshida, bahasa Jepangnya selamat datang apa?”


“Yōkoso... Memangnya kenapa?”


Yoshida menjadi heran sekaligus penasaran dengan pertanyaan Riki.


“Yōkoso in Indonesia.”


Ucap Riki kepada Takeshi sambil membuka lebar tangannya. Riki pun kemudian pergi untuk menjemput Kirana.


“Aku tidak percaya orang seperti itu pernah menjuarai kejuaraan pencak silat nasional.”


Takeshi masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


“Lebih baik kau jangan meremehkannya Takeshi.”


Maul memberikan nasihat kepada Takeshi.


“Aku benci mengakuinya, tapi apa yang baru saja kau katakan itu benar... Aku sudah tau kalau kalian semua itu tidak bisa aku remehkan begitu saja. Bahkan fakta kalau kemampuan basketnya Amar sejajar dengan Kak Irfan saja sudah membuatku sangat terkejut sekali... Orang yang terlihat malas sepertinya dapat bermain basket sehebat itu. Aku yakin dia juga masih banyak menyimpan sesuatu yang belum diketahui banyak orang.”


“Kami semua setuju dengan hal itu Nakashima. Kami saja berencana untuk menggeledah kamarnya Amar untuk mengetahui hal itu.”


Ungkap Yoshida kepada Takeshi.


Apakah mereka benar-benar akan menggeledah kamarku? Aku kira mereka hanya bercanda kemarin.


Kemudia muncul seorang anak laki-laki dengan membeawa beberapa piring dan diikuti oleh Miyuki yang ada di belakangnya.


“Misaki!”


Yoshida menyapa anak laki-laki itu.


“Siapa dia Yoshida?”


Aku bertanya kepada Yoshida tentang anak itu.


“Dia adiknya Miyuki Mar.”


Hmmm... Jadi Miyuki memiliki seorang adik juga.


Adiknya Miyuki berbeda sekali dengan Miyuki. Kalau Miyuki itu terlihat seperti orang Jepang, adiknya lebih terlihat seperti orang Indonesia. Yah.. Walaupun dia termasuk orang Indonesia yang memiliki paras yang tampan. Aku yakin saat dewasa nanti dia akan menjadi rebutan para wanita.


“Miyuki, apakah masih ada yang bisa aku bantu?”


Rina menawarkan bantuannya kepada Miyuki


“Kalian semua tidak usah repot-repot.”


Miyuki pun menata semua piring yang baru saja dia bawa di meja yang berada di hadapan kami.


“Miyuki! Dimana letak kamar mandi?”


“Kamu mau menggunakannya? Nanti biar aku antarkan.”


Setelah menata piring-piring yang dia bawa, Miyuki beserta dengan adiknya pun mengantarkanku ke kamar mandi yang ternyata berada di dekat dapur. Saat ini dihadapanku dua buah pintu dengan motif dan bentuk yang sama.


“Kalau kau ingin menggunakan toilet pakai pintu yang sebelah kanan.”


Ucap Miyuki kepadaku.


“Sebelah kiri itu ruangan apa?”


Memangnya apa yang berbeda dari kedua hal itu?


...


Ah lega juga! Sekarang tinggal kembali ke ruang tamu dan berbincang dengan yang lainnya.


Ketika aku sedang melintasi dapur, aku melihat wanita dewasa yang sepertinya itu adalah ibunya Miyuki sedang menyiapkan makanan untuk berbuka. Tatap-tatapan pun terjadi antara aku dengannya. Hal itu dikarenakan ibunya Miyuki adalah orang yang selama ini aku kenal. Dia adalah ibu-ibu yang waktu itu pernah menyapaku di tukang sayur ketika baru pulang dari sekolah saat masa orientasi dan juga salah satu pelanggan tukang sayur langgananku.


“Kamu yang sering datang ke tukang sayur Mang Ujang kan?”


Ibunya Miyuki langsung mengenaliku.


“Iya tante.”


“Jadi kamu temannya Miyuki? Tante sudah curiga waktu kamu belanja saat malam hari waktu itu. Tante punya firasat kalau kamu itu pasti kenal dengan Miyuki.”


Entah kenapa, sepertinya ibunya Miyuki adalah orang yang periang, sama seperti anaknya.


“Begitulah tante.”


Aku hanya tersenyum saja menjawab pertanyaan dari ibunya Miyuki.


“Ngomong-ngomong siapa namamu?”


“Saya Amar tante.”


Aku langsung memperkenalkan diriku kepada ibunya Miyuki.


“Sejak kapan kamu kenal sama Miyuki?”


“Sejak kelas tiga SMP.”


“Jangan-jangan kamu yang waktu itu mengajak Miyuki pergi untuk mendaki gunung ya?”


Sepertinya aku akan interogasi habis-habisan oleh ibunya Miyuki.


“...Iya tante.”


Aku sedikit takut saat menjawab itu. Apa ibunya tau kalau aku telah menyuruh anaknya untuk mengeluarkan uang selama perjalanan itu?


“Jadi begitu, Miyuki sangat senang sekali ketika diajak temannya pergi ke gunung. Bahkan saya sendiri belum pernah melihat Miyuki sesenang itu, bahkan ketika pulang dia berkata kalau banyak hal baru yang dia dapatkan di sana.”


Ibunya Miyuki begitu senang ketika menceritakan hal itu.


Loh? Aku kira, aku akan mendapatkan omelan di sini.


Kemudian ibunya Miyuki terus-terusan mengajukan berbagai macam pertanyaan. Mulai dari letak rumahku, riwayat pendidikanku, dan lain-lain. Saat aku sedang dihujani pertanyaan yang begitu banyak, Miyuki pun datang menghampiri kami.


“Kalian berdua terlihat akrab sekali.”


Ucap Miyuki kepada kami.


“Kamu tau tidak Miyuki, Nak Amar ini sering bertemu dengan Mama ketika sedang belanja di tukang sayur.”


“Mama jadi kenal dengan Amar?!”


Miyuki sedikit terkejut ketika mendengar itu.


“Nak Amar ini hebat sekali loh, karena jarang sekali melihat anak laki-laki yang setiap hari mau membantu ibunya untuk belanja ke tukang sayur.”


Aku hanya tersenyum saja mendengar itu, karena aku tidak tau harus melakukan apa lagi.


“Memangnya ibumu kemana Mar?”


Tanya mamanya Miyuki kepadaku.


“Kedua orang tuaku sangat sibuk bekerja, jadi aku yang menggantikan mereka untuk mengerjakan pekerjaan rumah.”


“Wah! Kamu ternyata anak yang berbakti sekali, jarang sekali ada anak sepertimu.”

__ADS_1


Ibunya Miyuki memujiku karena hal itu.


Setelah berbincang-bincang yang cukup lama, aku pun kembali ke ruang tamu untuk bergabung dengan yang lainnya. Ketika sampai di sana, aku sudah melihat Riki dan Kirana yang berada di sana.


“Yo Kirana! Lama tidak bertemu.”


Aku langsung menyapa Kirana.


“Hai Kak Amar, baru juga satu bulan. Itu bukanlah waktu yang lama.”


Benarkah!? Aku rasa itu sudah lama.


“Kau lama sekali Mar, Apa kau ketiduran di kamar mandinya?”


Maul penasaran dengan apa saja yang aku lakukan di belakang sana.


“Aku habis berbicara dengan ibunya Miyuki.”


“Untuk apa?”


“Ternyata aku sering bertemu dengannya ketika sedang berbelanja di tukang sayur langgananku.”


“Kebetulan macam apa itu!”


Ucap Riki setelah mendengar hal itu.


Kemudian, saat aku melewati Misaki yang sedang duduk dan bermain dengan ponselnya, aku melihat kalau dia bermain sebuah gim yang aku mainkan juga. Perhatianku pun tertuju kepada gim yang dia mainkan itu.


“Kau terlalu menghamburkan uangmu!”


Celetukku ketika melihat perlengkapan karakter milik Misaki.


“Memangnya masalah buatmu?!”


Bocah ini, dia songong sekali. Aku ingin sekali menjitak kepalanya.


“Aku juga bermain gim itu dan aku tau semua perlengkapan yang digunakan oleh karaktermu itu, semuanya adalah peralatan yang harus dibeli dengan uang dan harganya juga tidaklah murah.”


“Kalau sudah menyangkut gim, kau sangat bersemangat sekali Mar.”


Ucap Riki kepadaku.


“Berisik sekali kau! Sudah sok kenal sok dekat kepadaku, sekarang mencoba untuk menceramahiku.”


Sama seperti kakaknya, ternyata dia sangatlah menyebalkan.


“Kau terlalu mengambur-hamburkan uang untuk itu. Belum tentu cara bermainmu sehebat perlengkapanmu itu.”


Aku berusaha memanas-manasi Misaki.


“Kau yakin hal itu Mar? Meladeni anak kecil seperti dia?”


Maul merasa heran dengan sikapku.


“Tentu saja, aku sangat senang melihat seseorang yang kesal. Lagi pula aku benci dengan sifatnya yang suka menghamburkan uang itu.”


“AAAAh! Kalau begitu bagaimana kita bertarung? Aku akan membuktikan kepadamu kalau kemampuanku itu sehebat peralatan yang aku punya.”


Misaki terpancing dengan tantangan Amar.


“Apa kau yakin akan hal itu?”


Amar mulai mencoba untuk meledeknya.


“Cepat keluarkan ponselmu dan kita bertanding! Aku yakin karaktermu hanya karakter yang mengandalkan barang-barang murah dari dungeon.”


Dia tidak salah, memang aku tidak pernah mengeluarkan sedikitpun uangku untuk aku gunakan di gim ini. Karena menurutku, itu hanya menghambur-hamburkan uang saja. Suatu saat aku pasti tidak akan bermain gim ini dan juga uang yang telah aku habiskan untuk gim ini tidak akan kembali, jadi buat apa aku membuangnya begitu saja. Aku


tidak begitu suka dengan yang dinamakan kepuasan sesaat.


Aku pun mengambil ponselku yang berada di saku celanaku dan membuka gimnya.


“Apa kau serius?”


“Cepatlah! Apa nickname-mu?”


“Nickname-ku Amrih.”


“Tidak mungkin kalau itu nickname-mu, kau pasti hanya mengada-ngada saja.”


Misaki tidak percaya dengan apa yang Amar katakan.


“Memangnya kenapa dengan nickname itu Misaki?”


Kichida yang penasaran, bertanya kepada Misaki.


“Itu adalah nickname dari pemain yang menduduki peringkat lima besar. Aku belum mendengar ada orang yang pernah mengalahkan mereka dalam merebutkan peringkat lima besar, dan salah satunya yang menduduk peringkat ke dua adalah akun dengan nickname Amrih. Aku sangat mengidolakannya, makanya peran dari karakterku sengaja aku samakan dengannya.”


Misaki memberitahukan hal itu kepada Kichida.


“Itu memang akunku. Ini kalau kau tidak percaya.”


Aku pun menunjukkan ponselku kepada Misaki. Ketika melihat ponselku, sikap Misaki pun langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Kalau sebelumnya dia sangat songong kepadaku, sekarang dia menjadi kagum kepadaku. Aku tidak tau kalau ada orang yang kagum hanya karena aku bermain gim saja.


“Apa kita jadi bertanding?”


Aku memastikannya lagi kepada Misaki.


“Tidak mungkin aku bisa menang darimu.”


“Keputusan yang bijak.”


“Apa itu gim yang sering kamu mainkan hingga kamu sering begadang Ar?”


Rina menanyakan hal itu dengan nada serius sekali. Dia sepertinya sangat marah ketika mendengar dari ibuku kalau aku sering bergadang karena bermain gim.


“Yaa... Aku malu mengakuinya, tapi begitulah.”


Kemudian setelah itu, Rina pun menceramahiku tidak ada habisnya tentang pentingnya menjaga kesehatan dan mengatur pola tidur yang baik.


“Bang! Maukah abang bermain bersamaku?”


Misaki mengajak Amar untuk bermain bersama.


“Boleh saja.”


“Asik!”


Misaki pun mengirim permintaan pertemanan kepadaku dan aku langsung menerimanya.


“Cih! Lagi-lagi dia mendahuluiku.”


Takeshi terlihat kesal dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Amar.


“Baru saja dia akrab dengan ibunya, sekarang adiknya pun sudah akrab dengannya. Kau ini memang sesuatu sekali Kak Amar.”


Apakah itu sesuatu yang hebat? Dari dulu aku tidak pernah memiliki masalah dalam berintraksi dengan seseorang.


“Kakak! Lihat ini!”


Misaki langsung memamerkan hal itu kepada Miyuki yang baru saja datang dengan membawa makanan.


“Loh! Kamu sudah berteman dengan Amrih? Hebat sekali Misaki.”


Miyuki langsung memuji Misaki atas pencapaiannya itu.


“Iya, ternyata yang punya akunnya itu abang yang ada di sana.”


Misaki langsung menunjuk ke arahku.


“Sepertinya kamu memang banyak rahasia yang perlu kita ungkap Mar.”


Aku pun hanya menghela nafas setelah mendengar perkataan Miyuki. Aku bahkan tidak tau kalau bermain gim termasuk ke dalam sebuah prestasi yang harus dipamerkan ke orang-orang.

__ADS_1


-End Chapter 53-


__ADS_2