
Seperti biasa aku dan Maul pergi ke kantor untuk mengambil pekerjaan di sana. Sebenarnya kita pergi ke kantor hanya untuk memeriksa keadaan di sana. Ya seperti yang kalian tau, aku sudah menjadi atasan di sini, jadinya aku harus sering-sering datang ke kantor untuk memeriksa keadaan di sana. Saat ini di kantor, semua karyawan yang kemarin melamar dan lolos seharusnya sudah masuk.
“Permisi!”
Aku dan Maul pun membuka pintu ruangan Pak Hari dan tidak menemukan Pak Hari di ruangannya.
“Permisi! Apa Pak Hari masuk hari ini?”
Aku bertanya kepada seorang laki-laki yang kebetulan lewat di dekat kami.
“Tadi siang Pak Hari pulang ke rumah karena tidak enak badan.”
“Apa dia sedang sakit?”
“Sepertinya begitu.”
“Ohh begitu... Terima kasih ya.”
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku malas sekali kalau langsung pulang ke rumah karena ini masih sore dan jam pulang kantor, pasti saat ini jalanan sangat macet sekali.
“Ngomong-ngomong adik-adik ini siapa ya?”
Orang itu bertanya kepadaku.
“Saya Amar Pak.”
“Saya Maul.”
Kami berdua memperkenalkan diri kepada orang itu.
“Oh jadi kalian berdua Pak Amar dan Pak Maul. Saya sudah diberitahu oleh Pak Hari tentang kalian berdua.”
Kecanggungan pun terjadi diantara kami berdua karena kami sama-sama memanggil Pak di sini.
“Aku rasa bapak tidak perlu memanggil kami bapak, itu masih terlalu dini untuk kami.”
“Sepertinya tidak sopan memanggil seorang atasan dengan nama langsung.”
Kemudian aku pun melihat Maul yang tersenyum mendengarkan panggilan itu. Aku sangat tau sekali kalau dia sangat senang panggilan itu keluar dari mulut seseorang.
“Tidak masalah menurutku, aku tidak mempedulikan hal-hal seperti itu. Benarkan Mul?”
Aku pun menyadarkan Maul dari khayalannya itu.
“Um.. Iya, aku juga merasa canggung jika ada orang yang lebih tua memanggilku dengan sebutan bapak.”
“Kalau begitu... Amar dan Maul. Saya belum memperkenalkan diri... Nama saya Malik, saya adalah asistennya Pak Hari saat ini. Kalian berdua juga tidak perlu memanggi saya bapak, kalau bisa panggil kakak saja jika kalian tidak keberatan, umur saya juga belum setua itu.”
“Aku rasa itu lebih baik.”
Hmmm... Jadi orang ini yang menjadi asistennya sekarang. Berarti kalau Pak Hari tidak ada di kantor, aku bisa menghubunginya untuk mengetahui kondisi yang ada di kantor.
“Ngomong-ngomong apa Kak Malik tau dimana alamatnya Pak Hari?”
Karena sejak awal aku bekerja dengan Pak Hari, aku sama sekali belum pernah pergi ke rumahnya. Kami selalu mengadakan pertemuan kalau tidak di kantor paling di kafe yang letaknya tidak jauh dari kantor juga.
“Sebentar ya.”
Dia pun langsung menuju ke sebuah meja yang tidak jauh dari ruangannya Pak Hari. Aku melihat seorang perempuan cantik yang berada di meja tersebut. Setelah Kak Malik berbicara dengannya, Kak Malik pun langsung memanggil kami untuk menghampirinya melalui isyarat dari tangannya.
“Hmmm... Tidak buruk juga.”
Maul pun melihat perempuan itu secara seksama. Matanya dia saat ini sama seperti mata seseorang yang sedang melihat sebuah barang mewah yang dipajang dihadapannya. Matanya terus bergulir dari bawah ke atas.
“Jaga matamu!”
Aku pun menyikutnya agar dia menghentikan hal itu, karena itu sangat mengganggu bagi orang yang diperhatikannya.
“Aw!”
“Siapa mereka Malik?”
Tanya perempuan itu sambil memperhatikan kami berdua.
Kalau dilihat dari dekat, perempuan itu memang cantik sekali. Kacamata setengah frame, rok span selutut, dan stoking berwana hitam yang dia gunakan membuat kesan dewasa keluar dari perempuan itu.
“Perkenalkan, mereka adalah Amar dan Maul. Seharusnya kau juga sudah diperkenalkan oleh Pak Hari soal mereka berdua.”
“Memangnya apa yang Pak Hari bicarakan tentang kita kepada kalian?”
Aku sangat penasaran sekali dengan hal itu.
“Saat kami dinyatakan terima untuk bekerja di perusahaan ini, Pak Hari mengatakan kalau ada dua lagi atasan yang usianya jauh lebih muda dibandingkan kami, dan dia pun menyuruh kami untuk bersikap sopan juga kepada kalian berdua.”
Pak Hari terlalu berlebihan dalam hal itu, seharusnya dia tidak perlu memberitahu hal itu kepada mereka. Aku lebih suka ketika orang-orang menganggapku sepantaran dibandingkan diatas mereka, karena menurutku jauh lebih mudah berteman dengan mereka di posisi yang setara.
“Jadi kalian berdua Pak Amar dan Pak Maul...”
Lagi-lagi dia memanggilku dengan sebutan bapak.
“Saya Friska, saya sekertarisnya Pak Hari saat ini.”
Perempuan itu tersenyum saat memperkenalkan dirinya kepada kami.
Ah gawat! Sepertinya aku memang menyukai orang yang lebih tua.
“Bisakah Kak Friska tidak memanggilku bapak, panggil saja langsung namaku. Aku tidak terlalu suka dipanggil seperti itu.”
“Baiklah kalau begitu, Amar!”
Dia lebih mudah memahami hal ini ternyata.
“Aku juga.”
Ucap Maul dengan senyumannya dan dia mencoba untuk bersikap keren di hadapannya.
Ah! Dia sepertinya suka dengan Kak Friska. Itu dapat terlihat dari tatapannya saat ini.
“Kalian berdua mencari alamatnya Pak Hari?”
“Iya Kak, kalau memang Pak Hari sakit, kami mau menjenguknya.”
“Kalau begitu, ini alamatnya Pak Hari.”
Kak Friska pun memberikan secarik kertas kepada kami yang berisi alamat milik Pak Hari.
“Ayo Mul kita pergi!”
Aku pun menarik Maul yang masih mau berlama-lama di sana.
Sebelum pergi ke rumahnya Pak Hari, kami berencana untuk pergi ke toserba yang ada di dekat kantor untuk membeli beberapa buah di sana, karena tidak sopan jika menjenguk seseorang tanpa membawa sesuatu. Yaa.. Aku tidak tau dari mana hal itu berasal, tapi menurut orang tuaku, itu adalah tata krama dari menjenguk orang sakit.
“Kantor sekarang sudah berbeda sekali dibandingkan sebelumnya ya Mar?”
Ucap Maul sambil memilih-milih buah yang berada di hadapan kami.
“Iya, sekarang jauh lebih ramai dibandingkan sebelumnya.”
“Dan juga kenapa kau terburu-buru sekali, padahal aku masih mau menghabiskan waktu dengan Kak Friska tadi. Aku rasa kita bisa pergi ke rumahnya Pak Hari setelah salat magrib.”
“Kalau kau berbuat seperti itu kepadanya, bisa-bisa dia akan membencimu dalam waktu yang tidak lama.”
__ADS_1
“Sepertinya kau benar!”
Maul pun langsung murung dan meletakan beberapa buah di keranjang yang kami bawa.
“Tapi tidak ku sangka kalau Pak Hari bisa sepintar itu dalam memilih sekertaris. Sebelumnya aku juga melihat kalau foto pacarnya lumayan cantik, memang yang aku duga dari seorang pemimpin seleranya bukan main.”
Sekarang Maul memuji Pak Hari.
“Aku tahan ketika ada seseorang yang lebih tua memanggilku dengan sebutan bapak. Menurutku itu sangat mengganggu sekali.”
Pernahkah kalian mengalami hal seperti itu? Kalau pernah bagaimana perasaan kalian saat dipanggil bapak oleh orang yang lebih tua?
Jujur saja kalau aku sendiri tidak tahan dengan hal itu. Aku tidak suka dipandang tinggi, tapi aku tidak keberatan jika ada seseorang memandangku rendah seperti kasus Takeshi. Karena menurutku dipandang rendah oleh seseorang tidak ada salahnya selama apa yang ada di dalam dirimu tidak sama dengan apa yang orang itu pikirkan, itu akan menjadi sebuah kejutan tersendiri bagi orang yang memandangmu rendah.
“Aku juga.”
“Apakah tidak ada panggilan yang pas untuk anak seusia kita?”
“Aku rasa dipanggil nama sudah paling pas untuk mereka kepada kita.”
“Sepertinya kau benar Mul.”
“Kak Friska... Apa dia sudah memiliki seorang pacar ya? Apa dia tertarik dengan orang yang lebih muda atau tidak ya?”
Maul mulai membayangkan sesuatu yang membuatnya dia sesekali tersenyum.
“Kali ini aku setuju denganmu, aku tidak membayangkan kalau kekuatan dari sekertaris itu bisa sehebat itu. Saat kau berkata canti ketika rapat, aku kira seperti saat kau berkata cantik kepada Miyuki dan Maul, tapi ternyata perbedaannya bisa sebesar itu.”
Apa jangan-jangan memang aku menyukai seseorang yang lebih dewasa dariku?
Tunggu! Sejak kapan aku menyukai seseorang seperti ini?
Tidak-tidak-tidak... Ini hanya rasa kagum saja, bukan rasa suka. Ya.. Aku rasa itu yang paling tepat.
“Lihat saja nanti, ketika sampai di rumahnya Pak Hari, aku akan membicarakan banyak hal tentang hal ini.”
“Jangan terlalu berlebihan Mul, begitu juga dia masih atasan kita.”
“Aku tau itu.”
“Apa kita harus membeli buah sebanyak ini?”
Aku bertanya kepada Maul yang selama ini selalu memasukan buah-buah yang dia temui ke dalam keranjang yang sedang aku pegang dan sekarang buah-buah itu hampir menuhi keranjang itu.
“Aku rasa kita membeli pisang saja.”
“Aku setuju.”
Setelah membayar pisang yang kami beli, kami pun pergi menuju ke rumah Pak Hari berdasarkan alamat yang diberikan oleh Kak Friska tadi. Ketika kami sampai di sana, kami dihadapkan oleh sebuah rumah yang tidak begitu
besar namun terlihat mewah. Aku juga melihat sebuah mobil terparkir di garasinya dan motor yang sering dipakai oleh Pak Hari ketika pergi ke kantor.
“Apa ini benar rumahnya?”
Maul pun mencoba melihat-lihat rumah itu melalui sela-sela gerbang.
“Sepertinya iya, lihat saja motor yang terparkir di sana. Itu motor yang biasanya dipakai Pak Hari untuk pergi ke kantor.”
“Memangnya hanya Pak Hari saja yang memiliki motor tersebut?”
“Kau lihat saja plat nomornya!”
Aku sangat mengingat sekali plat nomor yang dimiliki oleh Pak Hari karena aku sering melihatnya ketika pergi ke kantor.
“Tapi rumah ini tidak menunjukkan kalau orang yang tinggal di sini habis mengalami kebangkrutan.”
“Aku setuju denganmu.”
Maul pun langsung menekan tombol bel yang berada di gerbang tanpa basa-basi.
“Sebentar.”
Terdengar suara perempuan samar-samar dari pengeras suara yang terdapat tepat di atas tombol bel.
Woah! Ini benar rumah orang kaya, belnya saja bisa memiliki pengeras suara seperti ini.
“Itu suara perempuan Mar!”
Maul terlihat panik.
“Aku juga tau kalau itu suara perempuan.”
“Jangan-jangan memang kita salah rumah.”
“Kita lihat saja dahulu, nanti kalau salah rumah tinggal meminta maaf dan bertanya tentang alamatnya Pak Hari.”
“Kau benar juga.”
Atau aku berpura-pura menjadi seorang kurir saja ya? Tapi mana ada kurir yang menggunakan seragam sekolah seperti kami. Saat ini juga bukan hari pendidikan jadinya aku tidak dapat berkata kalau ini adalah seragam khusus hari ini untuk memperingati hari pendidikan.
Entah kenapa aku merasa kalau pernah mendengar suara seperti itu, tapi dimana?
Ketika kami sedang menunggu, kami pun dapat melihat seorang perempuan keluar dari rumah itu melalui sela-sela pagar dan mulai membukakan gerbang untuk kami berdua. Ketika gerbang itu mulai terbuka dan kami sudah melihat perempuan yang membukakan gerbang itu, seketika kami berdua terkejut sekaligus terdiam melihat perempuan itu.
“NATASHA!”
Ya... Ternyata perempuan itu adalah Natasha, teman sekelasku yang akhir-akhir ini dikhawatirkan oleh Kichida.
“Sedang apa kau disini?”
Tanyaku kepadanya.
“Jangan-jangan Pak Hari memang suka membawa anak sekolahan ke rumahnya, aku harus melaporkan ini kepada bapakku.”
Maul yang terkejut mulai mengeluarkan ponselnya.
“Tenanglah kalian berdua, ini memang rumahku. Lagipula apa yang kalian berdua lakukan di sini?”
Natasha menghela nafas melihat tingkah kami berdua.
“Aku mau menjenguk seseorang dan alamat rumahnya ada di sini.”
Aku memberikan secarik kertas yang diberikan oleh Kak Friska kepada Natasha.
“Ini benar alamat rumahku, apa kalian berdua mencari kakakku?”
“KAKAKMUUUUUUUUUUUU!”
Aku dan Maul kembali terkejut ketika mendengar hal itu.
“Apa kalian berdua harus terkejut seperti itu?”
“Aku tidak pernah diberitahu oleh Pak Hari kalau dia memiliki seorang adik, dan Pak Febri juga tidak pernah mengatakan apapun soal itu.”
Aku masih tidak percaya kalau Natasha adalah adik dari Pak Hari.
“Aku memang adiknya Kak Hari, apa aku perlu menunjukkan kartu keluargaku kepada kalian agar kalian percaya?”
“Lupakan itu, apa Pak Hari ada di dalam?”
“Tentu, dia sedang berada di kamarnya sekarang. Kalian berdua lebih baik masuk terlebih dahulu, tidak sopan berbicara dengan tamu di depan gerbang.”
__ADS_1
Natasha pun membiarkan kami masuk dan kami mulai memasuki rumahnya.
Woah! Ini keren sekali.
Aku terpesona melihat arsitektur dari rumahnya Pak Hari, terlihat mewah dan modern. Kalau melihat hal ini, aku sangat tidak percaya kalau dia baru saja mengalami kebangkrutan. Awalnya aku mengira kalau dia hanya tinggal di sebuah rumah yang kecil bahkan di kos-kosan.
Kami pun diajak oleh Natasha ke sebuah kamar yang sepertinya itu adalah kamarnya Pak Hari.
Saat Natasha membuka pintu kamarnya, Pak Hari terlihat sedang berada di meja kerjanya sambil melakukan sesuatu dengan laptopnya. Aku rasa dia sedang mengerjakan pekerjaannya, dasar orang yang gila akan bekerja.
“Apa yang kakak lakukan! Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk beristirahat dulu hari ini!”
Natasha masuk ke kamar Pak Hari sambil memarahinya.
“Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan sekarang, bolehkah aku minta waktu sedikit saja untuk mengerjakannya.”
Pak Hari memohon kepada Natasha.
“Tidak! Cepat kembali ke tempat tidurmu dan beristirahatlah. Kau juga kedatangan tamu hari ini.”
Aku dan Maul pun masuk ke kamarnya Pak Hari.
“Bagaimana keadaannya Pak?”
Tanyaku kepadanya.
“Aku baik-baik saja seperti yang kalian lihat.”
Pak Hari memang terlihat baik-baik saja dimataku.
“Kau masih perlu banyak istirahat Kak, jangan memaksakan diri!”
“Tapi Natasha-“
“Tidak ada tapi-tapi.”
Aku baru kali ini melihat Natasha seperti ini, biasanya di sekolah dia jauh lebih tenang dan diam.
“Apa sifatnya Natasha memang seperti itu? Aku rasa ketika LDKS, dia terlihat pendiam.”
Maul berbisik kepadaku.
“Aku juga baru melihatnya sekarang... Oh iya, kami juga membawa buah-buahan untuk Pak Hari. Walaupun tidak banyak tolong diterima.”
Aku pun memberikan buah pisang itu kepada Natasha.
“Kalau begitu aku mau mengambilkan piring dulu.”
Natasha pun pergi meninggalkan kami.
“Kenapa kalian berdua jauh-jauh pergi ke sini?”
Pak Hari pun duduk di atas kasurnya.
“Tentu saja kami mau menjenguk bapak, memangnya apalagi.”
Kami pun juga duduk di karpet yang ada di sana.
“Apa kalian sudah pergi ke kantor?”
“Sudah.”
“Bagaimana pendapat kalian tentang kantor saat ini?”
“Sekarang sudah terlihat seperti kantor sungguhan.”
“Memangnya sebelumnya kau anggap apa tempat itu Mar.”
“Dulu itu seperti tongkrongan.”
Pak Hari pun tertawa mendengar hal itu.
“Pak Hari! Ketika di kantor tadi aku bertemu dengan Kak Friskan.”
Maul langsung membahas tentang masalah itu.
“Bagaimana pendapatmu Mul?”
“Mantap!”
Maul pun memberikan tanda jempol kepada Pak Hari.
“Pilihanku memang tidak pernah salah.”
Pak Hari pun langsung menyilangkan tangannya dan membanggakan diri.
Yah walaupun dia tidak pernah salah memilih penampilan seseorang, namun dia pernah salah ketika melihat hati dari seorang perempuan. Saat itu aku pun mengingat mantannya Pak Hari yang pernah ditunjukan kepada kami.
“Ngomong-ngomong Natasha itu adiknya bapak?”
“Kau mengenal adikku Mar! Heee... Apa hubungan kalian.”
Pak Hari menyipitkan matanya dan tersenyum bodoh melihatku.
“Jangan berpikir yang macam-macam, Natasha hanya teman sekelasku saja.”
“Hmmm... Begitu, pantas saja Natasha seperti mengenalmu saat aku menceritakan tentang kalian berdua.”
“Mar!”
Maul pun mengisyaratkanku untuk pulang, karena kita mau membiarkan Pak Hari untuk beristirahat hari ini.
“Kalau begitu bapak jaga kesehatannya dulu, tidak perlu memaksakan diri untuk bekerja. Bapak bisa melakukan hal itu besok ketika di kantor.”
Aku pun berdiri bersama dengan Maul.
“Kalian sudah mau pulang? Buru-buru sekali!”
“Kami mau pulang lebih awal hari ini, mumpung tidak ada kerjaan juga. Bapak juga harus banyak-banyak istirahat, kalau kita di sini nanti bapak tidak bisa istirahat.”
“Kalau begitu hati-hati di jalan ya, terima kasih juga sudah menjenguk saya.”
Kami pun mulai beranjak keluar dari kamarnya Pak Hari.
“Kalian mau kemana?”
Kami pun berpapasan dengan Natasha yang baru saja kembali mengambil sebuah piring di dapurnya.
“Kami sudah mau pulang.”
“Sebenar, biar aku mengantarkan kalian.”
Setelah Natasha menaruh buah yang kami bawa di kamarnya Pak Hari, dia pun mengantarkan kami sampai pintu gerbang.
“Kami pulang dulu Natasha, sampai jumpa besok di sekolah.”
Aku pun melambaikan tangan kepadanya dan beranjak pergi.
“Kalian berdua! Apa kalian ada waktu sebentar?”
-End Chapter 82-
__ADS_1