
Ekstrakulikuler atau biasa disingkat dengan ekskul adalah kegiatan berada di luar kegiatan belajar mengajar. Di ekskul juga para murid mengembangkan potensi lain dalam dirinya. Biasanya para murid memilih ekskul sesuai dengan minat dan hobi mereka masing-masing. Selain kegiatan yang bersifat olahraga, kegiatan ekskul juga biasanya bersifat seni, agama, sosial, dan masih banyak lagi.
Melalui selebaran yang aku dapatkan dari Kak Fauzi saat di kelas tadi, SMK Sawah Besar memiliki banyak sekali ekskul yang dapat kita ikuti, seperti futsal, batminton, karate, pencak silat, basket voli, ICT club, English club, Rohis, Rokris, dan masih banyak yang lainnya.
Sekarang kami sedang menuju ke aula bersama dengan teman-teman yang lainnya untuk menyaksikan demo ekskul. Ketika sampai di sana, aku melihat semua murid sudah berkumpul di sana. Kami pun bertemu dengan Rina
dan Miyuki yang baru saja tiba di sana.
“Kalian mau menonton demo ekskul juga?”
Miyuki bertanya kepada kami.
“Memangnya buat apa lagi kita pergi ke sini.”
“Hehehehehe... Kamu benar juga Mar.”
“Ayo kita menyaksikan demonya bersama Ar?”
Rina mengusulkan sebuah ide kepada kita semua.
“Apa hal itu boleh?”
“Aku rasa boleh, lagi pula tidak ada tempat duduk dan penanda kelas untuk kita.”
Setelah mendengar perkataan dari Rina, aku pun melihat ke arah kelompok-kelompok yang ada di sana. Aku juga melihat di setiap kelompok memiliki warna kartu nama yang berbeda-beda, itu berarti kalau kita bebas untuk duduk di mana saja.
“Terserah kau saja.”
Aku pun mencari sebuah tempat kosong untuk duduk dan menyaksikan demo ekskulnya.
“Lain kali kenalkan kami dengan mereka Mar.”
Seseorang teman sekelasku yang masih berada di dekatku memukul pinggangku dengan cukup kuat.
“Aw!”
Bisakah kau menggunakan cara yang lebih lembut sedikit.
Ketika kami ingin duduk, Maul pun datang menghampiri kami.
“Hai kalian semua, sudah berkumpul saja.”
Maul pun langsung duduk bersama dengan kami.
“Aku kira kau akan menyaksikan demo ekskul ini bersama dengan teman-teman sekelasmu?”
“Tentu saja tidak Rik, ketika tiba di sini mereka semua langsung pergi ke kelompoknya masing-masing.”
Seperti itulah setiap murid ketika baru masuk sekolah. Karena mereka baru saja bertemu dengan teman baru dan hubungan mereka dengan temannya belum begitu dekat, makanya mereka akan merasa canggung dan kembali berkumpul dengan teman lamanya yang masuk di sekolah yang sama dengan mereka.
Kalau aku sendiri tidak pernah memperdulikan hal itu, aku juga tidak menjadi masalah jika menyaksikan demo ekskul seorang diri tanpa teman, menurutku itu lebih menyenangkan, karena aku tidak perlu diusik dengan pertanyaan-pertanyaan umum yang biasa keluar, seperti ‘Ekskul mana yang akan kau masuki?’ atau ‘Ayo masuk ke ekskul yang sama denganku?’. Menurutku pertanyaan seperti itu sangat merepotkan.
Akhirnya kami pun menonton demo ekskul itu bersama-sama.
“Kamu sudah menentukan ekskul mana yang kamu masuki Mar?”
Miyuki bertanya kepadaku tentang ekskul yang akan aku masuki.
Lihat! Apa yang barusan aku katakan, pasti pertanyaan seperti itu akan keluar di saat seperti ini.
“Entahlah, aku belum menentukan ekskul mana yang ingin aku masuki.”
“Kalau kamu sendiri bagaimana Miyuki?”
Maul bertanya balik kepada Miyuki tentang hal tersebut.
“Aku juga belum tau mau masuk ke mana.”
“Memangnya waktu SMP kau tidak mengikut salah satu ekskul di sekolahmu?”
“..Uh.. Karena ada beberapa masalah di sekolahku, aku jadi tidak mengikuti kegiatan apapun.”
Sepertinya aku tau apa masalah yang dia maksud di sini.
“Masalah apa itu?”
Maul menjadi penasaran karena melihat sikap Miyuki yang sedang menyembunyikan sesuatu.
“Etto... Ah, kalau kamu bagaimana Rin? Apa kamu sudah memiliki ekskul yang mau kamu masuki?”
Miyuki pun mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bertanya kepada Rina. Seharusnya kalau kau memang tidak mau rahasiamu diketahui orang lain, cobalah untuk berbohong atau membuat alasan yang lebih masuk akal
agar orang lain tidak curiga.
“Sepertinya aku akan masuk PMR.”
Hanya mendengar kata PMR yang diucapkan oleh Rina saja sudah membuat bulu kudukku merinding.
“Oh iya, waktu di SMP kau juga pernah masuk PMR juga ya.”
“Sudah aku putuskan. Sepertinya aku akan masuk ke PMR juga. Bagaimana kamu juga ikut dengan kami masuk ekskul PMR Ar?”
Miyuki pun dengan gampangnya mengajak Amar untuk masuk ke dalam ekskul PMR.
“Tidak.. Tidak.. Tidak, aku tidak ada ketertarikan dengan sesuatu yang berbau dengan kesehatan.”
“Jawaban apa itu? Lagi pula kenapa wajahmu menjadi pucat?”
Miyuki pun menyadari kalau wajahku menjadi pucat karena memikirkan sesuatu yang menakutkan. Sebenarnya sesuatu yang menakutkan itu hanyalah jarum suntik saja.
Aku pun hanya mendiamkannya saja tanpa menjawab apapun dan memfokuskan perhatianku kepada ekskul yang sedang tampil.
“Apa kamu tau Rin kenapa wajah Amar menjadi pucat?”
“Aku juga tidak tau, aku jarang melihat wajahnya pucat seperti itu. Apa kamu tidak enak badan Ar?”
Sekarang malah Rina menaruh perhatiannya kepadaku, tapi aku hanya mendiamkannya saja.
“Kalau kau Kichida? Apa kau sudah memutuskan mau masuk ke club mana?”
Maul akhirnya bertanya kepada Kichida.
“Sepertinya aku mau masuk ekskul seni.”
“Itu cocok sekali untukmu. Gambarmu kan lumayan bagus.”
Miyuki memuji keahlian dari Kichida.
Pada saat itu aku baru mengetahui kalau Kichida ahli dalam hal menggambar. Sepertinya lain kali aku minta dia untuk mengajariku, karena aku memiliki firasat kalau menggambar akan sangat berguna sekali di jurusan multimedia.
__ADS_1
“Hei Rik, apa yang ada di kantung yang kau bawa?”
Maul pun terlihat penasaran dengan kantung yang Riki bawa.
“Di dalam sini ada baju pencak silatku.”
“Untuk apa?”
“Nanti aku akan mengikuti demo ekskul dari klub pencak silat.”
“Hebat sekali itu Riki... Aku tidak sabar melihat kau tampil.”
Miyuki pun memuji Riki dan Riki terlihat bahagia akan hal itu.
Dan kami pun kembali menyaksikan demo ekskul itu dengan seksama. Banyak sekali klub-klub ekskul yang menunjukan dan mempresentasikan kegiatan yang mereka lakukan.
Akhirnya klub pencak silat pun maju untuk mempresentasikan kegiatannya. Kami pun melihat Riki yang berada di atas panggung juga. Hal pertama yang mereka tampilkan adalah setiap anggota pencak silat memecahkan satu batako dengan pukulan, kemudian dilanjutkan dengan tendangan.
Setelah semua teknik dikeluarkan, kemudian kami pun menyaksikan pertandingan duel dengan tangan kosong antara Riki dan seseorang yang berasal dari klub pencak silat.
Sehabis itu, mereka pun melakukan duel dengan menggunakan golok yang sebelumnya mereka bawa di pinggang mereka. Semua siswa menjadi antusias melihat hal itu, bahkan Miyuki terlihat sangat menikmatinya.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!”
Seseorang dari anggota pencak silat yang menggunakan sabuk hitam berdiri paling depan dan memberikan salam kepada kami.
“Waalaikummussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.”
Semua murid yang ada di sana menjawab salamnya.
“Selamat pagi, saya ketua dari pencak silat ingin mengatakan selamat datang kepada kalian semua di SMK Sawah Besar...”
Oh, jadi dia ketua dari ekskul pencak silat.
Dan ketua pencak silat itu memberitahu kegiatan dari klub pencak silat dan waktu kapan saja klub pencak silat latihan.
“...Dan tahun ini, kita akan berusaha untuk mendapatkan piala tingkat nasional, karena di tahun ini... Di klub pencak silat kedatangan anggota yang sangat berpengaruh untuk kejuaraan kali ini... Dia adalah saudara Riki Ryandi, peraih emas dalam perlombaan tingkat nasional untuk SMP tahun 2014, silahkan beri tepuk tangannya.”
Riki pun maju dan berdiri di samping ketua, kemudian semua murid yang ada di sana pun bertepuk tangan untuknya.
Pada saat itu aku ingin sekali melihat wajahnya Takeshi, karena aku sangat yakin kalau dia pasti terkejut sekali setelah mendengar kalau Riki adalah juara tingkat nasional.
“Ternyata Riki memang hebat ya Mar, aku jadi ragu kalau kamu dapat mengalahkannya.”
Miyuki yang duduk di sampingku berbisik kepadaku.
“Bukankah waktu itu aku sudah bilang kepadamu. Riki hanya melebihkan saja, tidak mungkin aku dapat mengalahkan orang seperti dia.”
“Kamu mungkin benar.”
Dan kami pun menyaksikan acara demo itu hingga selesai.
Setelah acara demo selesai, semua murid diarahkan oleh anggota OSIS untuk pergi ke lapangan utama, karena di sana sudah terdapat stan-stan dari semua klub yang ada di SMK Sawah besar.
Aku, Maul, Rina, Miyuki, dan Kichida langsung pergi ke lapangan utama untuk memilih ekskul yang akan aku ikuti.
“Kau mau masuk ke ekskul mana Mul?”
Aku bertanya kepada Maul yang sedang melihat-lihat stan yang ada di sana.
“Aku sepertinya mau masuk ke ekskul robotik, ada beberapa hal yang ingin aku pelajari dari sana.”
Ketika masih sampai di stan pencak silat, kami melihat Riki sedang ada di sana. Tanpa pikir panjang, kami pun langsung menghampirinya.
“Riki! Tadi pertunjukanmu keren sekali.”
Miyuki langsung memuji Riki yang sedang ada di sana. Semua perhatian murid yang sedang ada di stan tiba-tiba teralihkan karena kedatangan kami. Sebenarnya perhatian mereka semua hanya tertuju kepada Miyuki dan Rina saja. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang mencoba menyapa Miyuki dan Rina.
“Sepertinya kau sudah menjadi orang terkenal di sini... Aku menang!”
Aku berkata seperti itu dengan niat untuk meledek Riki.
“Ah sial, aku kalah lagi darimu.”
Riki terlihat kesal sekali.
“Apa yang sedang kalian berdua bicarakan?”
Rina yang tidak tau sama sekali apa yang kami bicarakan terlihat penasaran.
“Sebenarnya saat di SMP, Amar dan Riki pernah bertaruh tentang seberapa lama Riki akan menjadi terkenal di sekolah barunya. Amar berkata kalau Riki akan terkenal ketika masa orientasi, sedangkan Riki berkata kalau Amar yang akan terkenal lebih dahulu dibandingkannya.”
Maul pun menjelaskannya kepada Rina.
“Bukankah itu sudah jelas, mana mungkin Amar akan terkenal lebih cepat dibandingkan Riki.”
“Kalau kau berpikir seperti itu, itu adalah kesalah besar Miyuki. Walaupun terlihat tidak menonjol dan berusaha keras untuk menyembunyikan keberadaannya, tapi apapun yang dia lakukan pasti akan menimbulkan sesuatu yang menarik perhatian.”
Lagi-lagi Maul menjelaskannya kepada Miyuki.
“Oh aku tau, seperti saat kejadian dengan Kak Deni itu?”
“Kau benar.”
Jangankan melakukan yang merepotkan seperti berurusan dengan kakak kelas, keadaanku ketika bersama dengan Miyuki dan Rina saja sudah termasuk ke dalam hal yang dapat menarik perhatian.
“Kalau begitu aku mau pergi ke stan robotik dulu untuk mendaftar, aku dengar mereka akan melakukan demonstrasi tambahan di stan mereka.”
Maul pun pergi meninggalkan kami menuju ke stan robotik.
“Sepertinya kami juga harus pergi ke stan PMR... Ayo Miyuki.”
“Ayo!”
Begitu juga dengan Rina dan Miyuki.
“Aku juga mau pergi ke ekskul seni dulu, sampai bertemu di kelas nanti.”
Dan Kichida pun pergi meninggalkan ku seorang diri.
“Jadi bagaimana Mar? Apa kau mau aku temani untuk berkeliling stan?”
Riki menawarkan bantuan kepadaku.
“Tidak usah, akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk berkeliling sendiri. Malahan hal ini yang aku inginkan dari tadi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku berkeliling stan dengan membawa dua orang perempuan yang sangat menarik perhatian, itu sangat merepotkan.”
“Kalau begitu akan aku tunggu kau di sini.”
“Ok.”
__ADS_1
Aku pun mulai berjalan melihat-lihat stan itu seorang diri. Walaupun terdengarnya menyedihkan tapi inilah yang aku suka. Aku dapat berpergian kemana pun tanpa ada orang lain yang menggangguku.
Tapi ekskul apa yang harus aku pilih sekarang. Apakah di sini ada ekskul yang tidak terlalu banyak membuang tenaga, jamnya bebas, dan tidak merepotkan?
Sebenarnya aku sempat berpikir untuk bergabung dengan klub perpustakaan karena kegiatan mereka hanya menjaga perpustakaan setelah pulang sekolah dan membaca buku di sana, itu terdengar sangat damai sekali. Tapi aku tidak begitu suka membaca buku, dan aku yakin yang bergabung di sana adalah orang yang sangat serius sekali akan segala hal, jadi aku mengurungkan niatku.
Saat aku sedang melihat-lihat stan, tiba-tiba aku bertemu dengan Yoshida yang sepertinya dia telah selesai mendaftar di ekskul badminton.
“Amar! Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu mau masuk ekskul badminton juga?”
Yoshida langsung menyapaku ketika dia melihatku.
“Tidak, aku hanya sedang melihat-lihat saja.”
“Kalau begitu karena aku sudah selesai mendaftar juga, aku akan menemanimu berkeliling.”
“Tidak usah repot-repot, aku bisa melakukannya sendiri.”
“Sudahlah, aku memang mau berkeliling saja.”
Yoshida bersikeras untuk ikut berkeliling denganku.
Akhirnya Yoshida pun pergi bersama denganku untuk berkeliling melihat stan-stan ekskul. Banyak sekali ekskul yang menarik perhatianku, tapi ketika aku memikirkan kalau ekskul itu merepotkan, rasa ketertarikanku itu tiba-tiba saja langsung menghilang.
Kemudian perhatianku pun tertuju kepada sebuah stan. Stan itu tidak terlalu ramai seperti stan lainnya dan stan itu tidak lain dan tidak bukan adalah stan dari ekskul Rohis. Aku pun memutuskan untuk mengunjungi stan tersebut. Di sana ternyata terdapat Kak Ayu yang menjaga stan tersebut.
“Eh ada Amar? Apa kamu mau bergabung di ekskul Rohis?”
Kak Ayu langsung menawarkannya kepadaku.
“Apa saja yang dilakukan di sini?”
“Kegiatan kami ada tadarus alquran, kajian tematik, dan mentoring.”
Sepertinya kalau hanya itu saja tidak terlalu melelahkan, lagi pula mushala sangat nyaman untuk beristirahat.
“Bagaimana dengan waktu dari kegiatannya?”
“Kalau ekskul Rohis diadakan setiap senin, rabu, dan kamis setelah pulang sekolah.”
“Lamanya ekskul berlangsung?”
“Kamu ini ternyata kritis sekali ya.”
Aku tidak tau apakah yang baru saja diucapkan oleh Kak Ayu itu pujian untukku atau tidak, tapi akan aku anggap itu sebagai pujian.
“Aku hanya ingin menyusun jadwalnya saja Kak, seperti yang kakak tau jarak rumahku dari sekolah ini sangat jauh dan aku memiliki pekerjaan rumah yang harus aku kerjakan. Jadi setidaknya aku mau mempertimbankannya dulu sebelum bergabung.”
“Biasanya kegiatannya berlangsung selama satu jam, tapi kalau seandainya kamu mau pulang lebih cepat itu tidak masalah.”
Inilah yang aku cari, waktu yang bebas dan tidak terikat.
“Bagaimana dengan perayaan di hari raya, apakah ketika hari libur kita harus masuk juga?”
“Tidak ada, selama hari libur kita tidak ada kegiatan. Kalau iduladha, biasanya OSIS yang mengurusi acara itu, tapi kalau kamu mau bantu-bantu juga tidak masalah.”
“Sudah aku putuskan, aku akan bergabung di ekskul ini.”
“Apa kau yakin? Jarang sekali ada murid yang mau bergabung dengan ekskul ini.”
Kak Ayu seperti tidak percaya kalau aku ingin bergabung dengan ekskulnya.
“Ya... Karena kita wajib memilih satu ekskul, mau tidak mau aku harus bergabung dengan salah satu ekskul yang ada di sini. Tapi dari semua ekskul yang ada di sini, sepertinya hanya ekskul ini yang menarik perhatianku.”
Karena semua kriteriaku terdapat di ekskul ini.
“Baiklah kalau begitu, silahkan isi formulir ini.”
Kak Ayu pun memberikan formulir itu kepadaku dan aku mengisinya secepat yang aku bisa. Setelah mengisi formulir itu, aku pun diberikan oleh Kak Ayu dan teman-temannya sebuah puding dan stiker kepadaku. Bahkan Yoshida yang hanya menemaniku saat itu mendapatkannya juga.
Dengan perasaan senang karena telah memilih ekskul yang sesuai denganku, aku pun berencana kembali ke stan pencak silat untuk bertemu dengan Riki.
“Selamat ya Mar, akhirnya kamu menemukan juga ekskul yang kamu cari.”
Yoshida memberikan selamat kepadaku.
“Terima kasih... Oh iya, kenapa kau bergabung ke dalam ekskul badminton?
“Soalnya saat di SMP, aku juga bergabung ke dalam ekskul badminton dan aku sedikit menyukainya juga.”
“Kalau begitu lain kali mari kita main badminton bersama, kebetulan aku juga suka bermain badminton. Akan aku ajak juga yang lainnya.”
Aku mengajak Yoshida untuk bermain badminton.
“Hum! Aku sangat menantikannya.”
Yoshida terlihat senang sekali aku ajak untuk bermain badminton.
“Kalau begitu kenapa kamu tidak masuk ke ekskul badminton saja Mar?”
“Aku hanya bermain badminton untuk bersenang-senang saja, dan juga untuk menggerakan tubuhku. Aku tidak begitu suka sesuatu yang bersifat kompetitif, karena itu merepotkan.”
“Kamu benar, aku juga kadang tidak begitu menyukai suasana seperti itu.”
Yoshida pun membenarkan perkataanku.
Sepertinya ini waktu yang tepat untuk bertanya kepadanya tentang surat yang dia berikan waktu itu.
“Anu... Sebenarnya aku ingin bertanya tentang surat yang waktu itu pernah kau berikan kepadaku. Aku masih menyimpannya saat ini, ja-.“
“Kamu tidak perlu menjawabnya Mar, aku sudah tau jawaban yang akan kamu berikan. Sebelum aku memberikan surat itu kepadamu, aku bercerita kepada Miyuki dan dia menceritakan tentang pemikiranmu itu. Aku tidak mau mendengar jawabannya langsung dari orangnya, karena itu akan terasa sakit sekali.”
Mendengar itu dari Yoshida pun membuatku menuruti kemauannya. Aku tidak mau menghancurkan suasana yang seharusnya senang-senang ini menjadi sedih.
“Oi Yoshida, ayo kita segera kembali ke kelas.”
Dari kejauhan ada beberapa anak perempuan yang melambaikan tangan kepada Yoshida, sepertinya mereka itu teman sekelasnya.
“Kalau begitu, aku pergi dulu ya Mar.”
Dan Yoshida pun pergi meninggalkanku.
Saat itu aku sedikit mengerti alasan Yoshida langsung berlari setelah memberiku surat itu, ternyata dia hanya tidak mau melihat sebuah kenyataan yang begitu pahit secara langsung.
Kemudian aku pun mengingat kejadian saat Rina menyatakan perasaannya kepadaku. Dari situ pun aku tau kalau Rina itu adalah orang yang memiliki tekad yang cukup kuat juga.
Sepertinya aku harus memberikan sesuatu kepadanya juga lain kali.
-End Chapter 34-
__ADS_1