
“Tanpa menyita waktu lebih lama lagi, kali ini rapat akan saya buka.”
Pak Hari membuka rapat yang dihadiri oleh setiap ketua dari masing-masing divisi. Aku dan Maul juga termasuk di sana. Sebenarnya alasan Pak Hari mengajakku dan Maul biasanya hanya untuk dimintai pendapat saja tentang pemahasan yang sedang di bahas. Karena masing-masing divisi yang kami pegang seperti Editor dan IT sudah ada ketuanya sendiri.
Aku pun mengeluarkan buku kecil di hadapanku dan juga sebuah pulpen, siapa tau aku butuh itu untuk mencatat sesuatu. Tapi sejauh rapat yang selalu aku lalui, kedua hal itu tidak pernah dibutuhkan.
Di hadapan kami juga sudah ada segelas kopi yang masih panas, bahkan aku dapat melihat asap putih tipis yang keluar dari dalam gelasnya. Hanya gelasku saja yang tidak berisi kopi melainkan teh.
“Hari ini saya ingin membahas tentang pembukaan akses Comic Universe di seluruh dunia.”
“Apa ini ada kaitannya dengan jumlah pengunduh yang sudah mencapai satu juta?”
Maul bertanya kepada Pak Hari.
“Bukan hanya itu saja... Malik, silahkan jelaskan!”
Kak Malik langsung menghubungkan laptopnya dengan layar proyektor yang ada di sana, dan lampu pun dipadamkan agar para peserta dapat melihat layar dengan jelas.
“Jadi akhir-akhir ini, khususnya di akun sosial media kita. Sudah banyak sekali orang dari berbagai negara yang menanyakan kapan aplikasi ini dapat di akses di negara mereka. Selain itu mereka juga mempertanyakan tentang kapan aplikasi ini memiliki bahasa lain selain Indonesia.”
Berarti bukan hanya temannya Kichida saja yang mengetahui tentang hal ini.
“Lalu apa yang ingin dibahas dipertemuan kali ini?”
“Hari ini kita akan membuat angket terlebih dahulu untuk melihat seberapa banyak antusias dari orang-orang yang berada di luar Indonesia dan juga angket itu akan menjadi bahan pertimbangan kita untuk membuka divisi penerjemah. Karena kalau kita ingin membuka Comic Universe untuk selain Indonesia, kita juga harus siap untuk mempekerjakan karyawan baru di bidang itu.”
Pak Hari menjelaskan hal itu kepadaku.
“Kapan angket itu selesai?”
“Sekitar bulan Agustus.”
Itu lama sekali, sekarang saja masih bulan Januari awal.
“Kenapa kita membuat durasi angket selama itu, karena hal ini harus melalui pemikiran yang matang dan juga kita harus menambah beberapa fitur baru di aplikasi. Selain itu kita harus membuka lowongan pekerjaan untuk para pekerja nantinya.”
Memang keputusan ini harus membutuhkan pemikiran yang lebih matang dibandingkan keputusan-keputusan sebelumnya. Kalau kita ingin memasarkan aplikasi ini ke seluruh dunia, berarti kita juga harus siap bersaing dengan aplikasi serupa dari negara-negara lain.
“Kalau memang seperti itu, berarti banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjakan oleh bagian editor.”
Kepala divisi editor menyatakan keberatan kepada Pak Hari.
Aku juga dapat mengetahui hal itu karena aku sering memeriksa laporan yang diberikan kepala divisi sebelum nantinya diserahkan ke Pak Hari. Saat aplikasi ini masih dipasarkan di Indonesia saja, bagian editor sudah banyak sekali pekerjaannya hingga akhirnya dibagi menjadi beberapa bagian.
“Kami juga harus menambahkan beberapa fitur lagi di aplikasinya agar menarik minat pembaca dari luar negeri dan itu mungkin sedikit memakan waktu.”
Maul juga menyatakan keluhannya.
“Itulah kenapa saya mendiskusikannya saat ini. Karena masih ada waktu yang cukup banyak hingga hasil akhir angket, bagian IT bisa membuat beta-nya terlebih dahulu. Dan untuk bagian editor, nanti bisa dibicarakan lagi jika bagian kalian memang membutuhkan pekerja tambahan.”
Semoga saja saat rapat itu aku tidak perlu datang. Aku rasa pembahasannya akan lebih merepotkan dibandingkan saat ini.
“Apa masih ada yang ingin ditanyakan?”
Kak Friska menyalakan lampu dan tidak ada satupun dari peserta rapat yang ingin bertanya tentang hal itu.
Tentu saja, karena kita cuman membahas angket jadi untuk apa ditanyakan lebih lama lagi.
“Baiklah, karena tidak ada yang ditanyakan lagi. Rapat kali ini saya tutup sampai di sini.”
“Cepat sekali rapatnya!”
Aku sedikit terkejut rapatnya sudah selesai. Rapat ini berlangsung tidak lebih dari setengah jam. Biasanya rapat berlangsung selama satu hingga dua jam setiap rapatnya karena banyak sekali pembahasan yang dibahas dan juga pertanyaan yang dilontarkan.
“Karena hanya itu saja yang ingin aku bicarakan.”
Para peserta rapat, satu per satu mulai keluar ruangan rapat dan kembali ke tempat kerjanya masing-masing.
“Mar, Mul... Nanti setelah ini kalian berdua datang ke ruanganku ya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian.”
Apa lagi yang ingin dia bicarakan?
“Memangnya ada apa Pak?”
Maul bertanya kepada Pak Hari.
“Ada sedikit hal.”
Aku menjadi pensaran dengan pembicaraan yang ingin dibicarakan oleh Pak Hari.
Kami pun langsung mengikuti Pak Hari pergi ke ruangannya. Saat itu yang ada di ruangannya Pak Hari hanya kami bertiga saja, tidak ada yang lain di sana.
Aku rasa yang ingin dibicarakan oleh Pak Hari adalah sesuatu yang cukup penting dan sedikit rahasia, makanya dia hanya memanggil kami berdua saja. Apa hal ini masih ada kaitannya dengan rapat tadi?
“Jadi apa yang ingin bapak bicarakan?”
Aku langsung menagihnya ketika aku baru saja duduk di sofa yang berada di sana.
“Aku ingin membuat semacam kejuatan di hari pernikahannya Febri.”
Ternyata bukan sesuatu yang penting dan rahasia. Yah.. Mungkin sedikit rahasia untuk Pak Febri.
“Kejuatan apa yang ingin kau buat?”
“Itulah kenapa aku memanggil kalian berdua.”
Sepertinya Pak Hari salah memanggil kami berdua untuk membicarakan hal-hal seperti ini. Jujur aku sendiri tidak pernah merencanakan hal-hal yang berbau kejuatan, dan mungkin Maul juga sama sepertiku.
Seharusnya Pak Hari mengajak Riki juga untuk membicarakan hal ini, karena aku rasa dia lebih ahli dibandingkan kami berdua.
Weh.. Baru kali ini aku membutuhkan Riki untuk membantuku berpikir.
“Aku tidak pernah memikirkan untuk hal-hal seperti itu, seharusnya kau sudah mengetahui hal itu Pak.”
Aku memperjelas hal itu kepada Pak Hari.
“Memang kapan tanggal pasti pernikahannya Pak Febri?”
__ADS_1
Tanya Maul.
“Febri akan menikah pada tanggal 3 Juni, minggu pertama pada bulan Juni.”
Juni ya... Memang masih lama sih, tapi aku sama sekali tidak memiliki ide apa- apa.
Apa hal yang biasa dilakukan orang untuk membuat kejutan?
Diberikan hadiah yang spesial?
Kepalanya dilempari telor dan disiram dengan air got? Tapi sepertinya itu tidak cocok untuk acara pernikahan.
Apa ya?
“Aku tidak dapat memikirkan apapun.”
Aku menyerah akan hal ini.
“Kalau aku sudah memiliki rencana untuk memberikan mereka berdua tiket liburan ke luar negeri.”
“Lalu dimana kejutannya?”
Maul menanyakan hal itu kepada Pak Hari.
“Aku rasa Pak Febri tidak memikirkan tentang kejutan seperti itu.”
Kalau seandainya apa yang dikatakan Pak Hari itu benar dan Pak Febri memiliki pemikiran yang sama sepertiku. Walaupun tidak sama setidaknya mirip sedikit saja, aku rasa dia tidak akan peduli apakah dia mendapatkan kejutan atau tidak.
“Aku setuju dengan Amar.”
Pak Hari pun setuju dengan apa yang aku katakan.
“Ya kalau begitu kita tidak usah membuat kejutan.”
Suatu kesimpulan yang sangat hebat keluar dari mulut Maul.
“Tapi aku ingin membuat acara pernikahannya itu berkesan.”
Setiap ada orang yang memiliki kesimpulan yang bagus, pasti ada saja orang yang tidak puas akan hal itu.
“Dimana acara itu diadakan?”
“Waktu itu aku diberitahu oleh Febri, katanya acaranya diadakan di balai warga dekat rumahnya.”
Rumahnya Pak Febri? Aku tidak pernah tau dimana rumahnya dia, aku hanya tau kalau rumahnya sangat jauh dari sekolah.
“Dimana rumah Pak Febri?”
“Rumah Febri berada di kawasan Kemayoran.”
Kemayoran? Berarti rumahnya tidak jauh dari rumah Pak Hari.
“Bagaimana jika ucapan selamat dari teman-temannya saat sekolah dulu?”
“Itu ide yang sangat bagus sekali Mul.”
Terima kasih Mul, kau menyelamatkanku dari hal ini! Aku tidak menyangka kalau kau bisa memikirkan hal itu juga. Aku kira pemikiran kita sedikit sama.
Tanyaku kepadanya.
“Aku akan menghubungi teman-temanku dan meminta mereka untuk membuat videonya sendiri. Pasti mereka juga akan setuju dengan hal ini.”
Pak Hari menjadi semangat ketika mendengarkan usulan dari Maul.
“Mar..”
Ini dia, pasti sebuah tugas yang tidak terduga.
“Nanti aku minta kau untuk mengedit videonya ya? Tidak usah bagus-bagus mengeditnya yang penting jadi saja.”
“Kalau hanya menyambung semua videonya menjadi satu dan memberikan sedikit sentuhan agar terlihat bagus. Sepertinya tidak masalah.”
“Aku akan menghubungimu jika videonya sudah terkumpul.”
“Baiklah.”
Setelah pembicaraan kami dengan Pak Hari selesai, kami langsung pergi ke atap untuk beristirahat di sana sekaligus menunggu Riki jika dia sudah selesai dengan pekerjaannya.
Ketika aku sampai di sana, aku sudah melihat Riki yang sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi di hadapannya. Kami berdua pun langsung menghampirinya untuk bergabung dengannya.
“Kau sudah lama berada di sini Rik?”
Tanyaku kepadanya.
“Tidak, aku baru saja tiba di sini.”
“Kenapa kau tidak pergi ke ruangan Pak Hari dulu?”
“Tadi aku bertanya kepada Kak Friska dan katanya ada sesuatu yang sedang kalian bicarakan, aku kira itu adalah pembicaraan yang penting jadi aku tidak ingin mengganggu kalian.”
Sebenarnya pembicaraannya tidak penting-penting banget sih, tapi kalau Riki ada mungkin akan sedikit membantu.
“Kami hanya membicarakan tentang kejutan untuk pernikahan Pak Febri.”
“Kalau tau seperti itu, aku mau bergabung untuk membicarakannya juga.”
Kau telat Rik kalau mengatakan hal itu sekarang.
“Jadi apa yang akan kalian buat?”
Tanya Riki kepada kami.
“Kita hanya akan membuat video yang berisikan ucapan selamat dari teman-temannya Pak Febri ketika masih bersekolah dulu.”
“Oh begitu.”
Riki pun memikirkan sesuatu, sepertinya dia mau membantu soal kejutan ini. Kalau begitu, aku akan menyerahkan hal ini sepenuhnya kepada Riki. Pasti dia tidak akan keberatan akan hal itu. Paling nantinya aku akan mentraktirnya ketika berada di angkringan.
__ADS_1
“Oh iya Mul, itu hadiah yang diberikan dari kasus kemarin benar segitu jumlahnya?”
“Kenapa memangnya?”
“Aku tidak menyangka kalau hadiah yang aku dapatkan dari kasus itu sebegitu banyaknya.”
“Aku juga, bahkan ibuku saja kaget ketika rekening bapakku kemasukan uang sebegitu banyaknya.”
Jadi selama ini Riki masih menggunakan rekening bapaknya?
Aku akan memberitahu sedikit tentang jumlah hadiah yang aku terima dari kasus itu kepada kalian.
Jumlah hadiah yang aku terima itu dua kali besarnya dari bayaran yang aku terima dari Pak Hari kemarin.
Aku juga tidak tau kenapa jumlahnya sebanyak itu padahal aku rasa kasus yang kami lakukan bukanlah kasus besar. Apa karena dari kasus itu dapat menyelesaikan persoalan yang besar makanya aku mendapatkan uang sebesar itu. Kalau seperti ini, aku bisa membeli kamera baru untuk darmawisata saat kelas dua nanti.
“Memang segitu uang yang kalian dapatkan.”
Maul terlihat santai sekali seakan sudah tau jumlahnya. Tentu saja dia pasti sudah mengetahui hal itu terlebih dahulu dari bapaknya.
“Uangku yang sebelumnya sudah banyak, sekarang semakin banyak lagi dan aku bingung mau menggunakannya untuk apa?”
Apa yang biasa anak seumuranku lakukan untuk menghabiskan uang?
Jalan-jalan? Aku terlalu senang rebahan di rumah.
Belanja? Aku tidak begitu suka hal-hal seperti itu.
Membeli barang berbayar di gim yang aku mainkan? Aku juga tidak terbiasa melakukan hal itu.
Tapi mungkin sesekali aku boleh mencobanya. Aku akan bertanya kepada Misaki untuk barang-barang yang bagus dibeli. Pasti dia lebih paham tentang hal itu dibandingkan denganku.
“Sepertinya aku akan merakit komputer baru.”
Ucap Riki.
“Bukannya kau sudah memiliki Laptop?”
“Iya, tapi laptopku sering digunakan Ishak untuk bermain gim. Makanya aku butuh komputer agar tidak ada yang menggangguku bekerja.”
Sama sepertiku saja, jika saja Nadira berada di rumah dan tidak di pesantren, laptopku juga sering dipinjam olehnya untuk menonton film atau untuk mendengarkan lagu.
“Jangan lupa bertanya kepadaku sebelum merakit komputer Rik.”
Saran Maul kepada Riki.
“Aku pasti akan melakukannya Mul, lagi pula aku tidak begitu mengerti tentang komputer.”
“Kau juga Mar, kenapa kau tidak pergi ke luar negeri saja untuk menghabiskan uangnya?”
Maul juga memberikan saran kepadaku.
Bukan saran yang buruk, tapi entah kenapa aku masih belum begitu mau untuk pergi ke luar negeri.
“Lalu negara mana yang harus aku datangi?”
“Jepang!”
Ucap Maul dan Riki dengan kompak.
“Kenapa harus Jepang?”
“Banyak sekali teman kita yang berasal dari sana Mar, mungkin saja kau bisa ikut dengan mereka ketika mereka pulang kampung.”
“Benar itu, kau juga bisa ikut Miyuki jika dia pergi ke Jepang.”
Aku tidak akan melakukan hal itu. Memang hubunganku dan Misaki dan Miyuki itu bisa dibilang cukup dekat, tapi tidak dengan ibu dan bapaknya. Kami hanya pernah bertemu beberapa kali saja dan aku juga masih canggung jika berbicara dengan mereka.
“Tapi bagaimana jika ada rapat ketika aku sedang pergi ke luar negeri?”
“Kan ada jatah cuti.”
Saat itu aku baru tau kalau selama ini aku tidak pernah mengambil cuti sama sekali atau bertanya berapa banyak jatah cuti yang aku dapat. Tapi cuti tidak cuti, aku juga tidak setiap hari datang ke kantor.
Kemudian saat kami sedang membicarakan tentang angan-angan untuk berkeliling Indonesia untuk menghabiskan uang yang kami punya, Natasha pun datang dan bergabung dengan kami.
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Kami hanya sedang membicarakan untuk berpergian ke suatu tempat saja.”
“Apa ini termasuk pendakian yang waktu itu pernah dibicarakan oleh Rian?”
Natasha menjadi sedikit pensaran akan hal itu.
“Itu salah satunya.”
“Aku sama sekali belum pernah mendaki gunung. Tapi kalau mendengar dari cerita-cerita Miyuki, apa naik gunung seindah itu?”
Natasha makin pensaran lagi tentang hal itu.
“Memang ketika naik gunung kemarin, Miyuki mendapatkan pengalaman yang enak dan indah. Tapi ada juga pengalaman yang tidak enak ketika naik gunung.”
Aku menjelaskannya kepada Natasha.
“Seperti?”
“Seperti pemandangan yang tertutup kabut, dihadang oleh binatang liar, hujan yang lebat, dan pendakian yang ditutup karena cuaca ekstrim yang ada di puncak gunung.”
Dan diperjelas oleh Riki.
“Seram sekali kalau begitu.”
Natasha sedikit takut setelah mendengar hal itu.
“Ya, semua itu hanya terjadi beberapa kali saja, mungkin dapat dihitung oleh jari. Tapi dibalik semua itu, ada keindahan yang tidak dapat terlupakan."
Memang benar, keindahan yang tidak dapat terlupakan sama sekali.
__ADS_1
Bahkan pendakianku yang terakhir bersama Miyuki, ada satu hal yang tidak akan pernah aku lupakan pada saat itu.
-End Chapter 123-