
Saat ini waktu sudah malam, dan kasus penculikan saat ini masih belum mereda. Jadi aku harus mengantarkan Rina sampai rumahnya. Walaupun awalnya Rina menolak karena rumah kami berdekatan dan jalan di rumah kami terbilang cukup ramai. Tapi karena aku tidak mau terjadi apa-apa terhadap Rina ketika dalam perjalanan pulang, aku pun memaksa untuk mengantarkannya pulang.
Oh iya, aku melakukan ini hanya untuk menghindari sesuatu hal yang merepotkan jika nantinya terjadi apa-apa terhadap Rina.
“Terima kasih ya Ar telah mengantarkan ku pulang dan menemaniku memilih hadiah tadi.”
“Iya sama-sama... Kalau gitu aku pulang dulu ya.”
Kemudian dari dalam rumah keluarlah kakaknya Rina yang sepertinya mendengar kalau Rina sudah pulang
“Eh ada Amar.”
“Malam Kak Rania.”
“Apa kalian berdua habis berkencan?”
Kak Rania langsung meledek adiknya itu.
“Kakak! Sudahlah kakak masuk saja sana.”
Rina mendorong Kak Rania kembali masuk ke rumah sekuat tenaga.
“Kau tidak mau masuk terlebih dahulu Mar?”
“Tidak kak, aku mau langsung pulang karena ada sesuatu yang ingin aku kerjakan.”
“Oh begitu, kalau begitu hati-hati di jalan.”
Rina pun melambaikan tangannya kecil kepadaku.
“Oiya, apa kau tidak mau mengucapkan sepatah dua kata kepada Amar sebelum dia pulang.”
Kak Rania kembali meledek Rina dan Rina tersipu malu dengan ledekannya itu. Rina pun menarik kakaknya masuk ke dalam rumah.
Sekarang waktunya aku pulang ke rumah dan beristirahat, besok aku juga harus masuk sekolah dan besok adalah hari senin.
Ketika aku berada di dalam perjalanan pulang, ponselku yang berada di dalam saku celanaku terus bergetar tiada henti. Awalnya aku mengira kalau orang tuaku yang menghubungiku karena aku belum mengabarinya kalau pulang sampai selarut ini.
Saat aku melihat ponselku, ternyata yang menelponku itu adalah Miyuki. Aku pun mengabaikan panggilan itu dan terus melanjutkan langkahku untuk menuju ke rumah.
Tapi Miyuki tidak menyerah, dia terus menelponku hingga aku mengangkat panggilan darinya. Karena aku sedikit kesal dengan apa yang dia lakukan, aku pun mengangkat panggilannya dengan sedikit emosi.
“Ada apa?”
“Apa kamu ada waktu sebentar Mar? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu saat ini.”
“Aku tidak ada waktu, dah.”
“Tunggu!”
Tepat sebelum aku mengakhiri panggilannya, Miyuki menghentikanku. Sepertinya memang ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.
“Aku ingin meminta pendapat tentang sesuatu!”
Miyuki mengatakan hal itu dengan nada rendah yang membuatku berpikir kalau sesuatu yang ingin dia bicarakan ini cukup serius, atau dia hanya berpura-pura saja agar aku merasa iba dan datang ke tempatnya saat ini.
“Baiklah, aku akan datang ke rumahmu.”
“Benarkah!? Jangan datang ke rumahku Mar, saat ini aku sedang berada di sebuah kafe yang ada di dekat rumahku.”
“Oke, aku langsung menuju ke sana.”
Karena jarak rumah kami bertiga tidak begitu jauh, aku pun melangkahkan kaki ke kafe yang Miyuki maksud. Walaupun Miyuki tidak mengatakan nama kafe itu kepadaku, tapi aku tau kafe mana yang harus aku tuju karena hanya ada satu kafe saja yang berada di sekitar rumahku.
Ketika aku sampai di sana, aku sudah dapat melihat Miyuki yang sedang duduk menungguku bersama dengan Misaki yang sedang menikmati makanan yang berada di meja.
Aku pun langsung menghampiri mereka.
“Yo!”
Aku menyapa Miyuki dan juga Misaki. Aku menunjukkan raut wajah yang tidak mengenakan untuk memberikan tanda kepada Miyuki kalau aku sedang tidak ada banyak waktu saat ini.
Sebenarnya waktuku masih banyak, hanya saja aku mau cepat pulang ke rumah untuk bermain gim.
“Kenapa Bang Amar ada di sini Kak?”
Misaki merasa heran dengan kedatanganku yang terkesan tiba-tiba.
“Kakakmu yang memanggilku untuk datang ke sini.”
Aku masih menunjukkan wajah tidak mengenakan kepadanya.
“Aku minta maaf telah mengganggu waktumu Mar!”
Miyuki merapatkan kedua tangannya dan merasa bersalah sekali kepadaku.
Aku pun memesan minuman terlebih dahulu dan kemudian duduk bersama dengan mereka.
“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?”
“Apa kamu tidak mau beristirahat terlebih dahulu Mar sebelum masuk ke pembicaraan, atau basa-basi terlebih dahulu gitu.”
Saat ini badanku sangat lelah sekali karena seharian berjalan-jalan di mal bersama Riki dan yang lainnya. Riki juga mengajakku ke game center yang membuatku mengeluarkan tenaga lebih di sana.
“Waktuku tidak banyak, ada hal lain yang ingin aku lakukan setelah ini.”
Yaitu bermain gim.
“Apa itu pekerjaan dari Comic Universe?”
“Ya sesuatu seperti itu.”
“Aku ingin membicarakan kepadamu tentang masalah yang dimiliki oleh Kichida.”
Pelayan kafe pun datang membawakan minumanku.
“Pesanannya Mas”
Pelayan itu meletakan jus yang aku pesan di hadapanku.
“Terima kasih.”
__ADS_1
“Tumben sekali kau memesan jus.”
“Aku sudah terlalu banyak meminum kopi ketika berada di kantor. Jadi masalah apa yang dimiliki oleh Kichida?”
Aku mengembalikan pembicaraan ke topik semula.
“Apa sebelumnya Kichida pernah mengatakan masalahnya kepadamu Mar?”
Masalah Kichida yang aku tau saat ini hanya masalahnya dengan orang tuanya yang tidak mengizinkannya untuk menjadi komikus.
“Apa masalah ini tentang orang tuanya yang tidak memperbolehkan dia menjadi seorang komikus?”
“Iya.”
Ternyata tentang masalah itu, aku kira masalah itu sudah beres ketika aku memberikan sebuah masukan kepada Kichida waktu itu. Karena semenjak itu, dia jarang sekali mengatakan masalahnya itu kepadaku.
“Kichida sudah membicarakan hal ini denganku ketika di kelas.”
“Lalu apa yang kamu lakukan saat itu Mar? Jujur, aku ingin sekali membantu Kichida keluar dari masalahnya.”
“Waktu itu, aku hanya memberikan nasihat kepada Kichida dan semenjak itu dia tidak pernah membicarakan perkembangannya kepadaku.”
Aku juga tidak pernah bertanya hal itu kepadanya sih, apa besok akan aku tanyakan saja kepadanya tentang perkembangannya ya.
“Semoga saja masukan darimu sudah cukup untuk membantunya keluar dari masalah.”
“Memang sekeras apa orang tuanya Kichida ketika melarangnya untuk menjadi seorang komikus?”
Rasa penasaranku pun akhirnya muncul karena hal itu.
“Orang tua Kichida memang sedikit keras dalam mengatur Kichida. Dari kecil Kichida selalu iri dengan cara ibuku dalam mengaturku, karena ibuku jauh lebih santai dalam mendidikku.”
Ketika Miyuki mengatakan hal itu, wajah ibunya Miyuki yang sedang memberikan tanda jempol muncul di dalam pikiranku.
Tante itu memang seseorang yang sesuatu sekali ketika sedang berbicara.
“Aku bisa melihatnya dari sikap Kichida sekarang.”
Mungkin karena didikan orang tuanya juga yang membuat Kichida sangat disiplin sekali dalam berbagai hal. Dia juga sangat detail dalam melakukan sesuatu dan tidak pernah melakukan sesuatu dengan ceroboh.
Kadang dia juga panik jika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan perkiraannya.
“Bapakku juga pernah menasihati bapaknya Kichida agar tidak terlalu keras kepada anaknya.”
“Apa bapakmu mengenal bapaknya Kichida?”
Sepertinya pertanyaanku kali ini terdengar bodoh sekali. Sudah pasti mereka mengenal satu dengan yang lainnya, untuk apa aku menanyakan hal itu lagi.
“Mereka teman waktu kuliah dulu.”
“Begitu.”
Untung saja Miyuki tidak meledeku dengan pertanyaanku itu.
“Kichida memang ingin sekali menjadi seorang komikus, dia sudah memiliki cita-cita itu sejak kecil. Ada salah satu komikus terkenal di Jepang yang menginspirasinya.”
Hebat sekali Kichida dapat memegang teguh cita-citanya itu dan tidak berubah sama sekali.
Ketika kecil tepatnya saat TK, aku ingin sekali menjadi seorang arsitektur karena aku mendengar dari ibuku kalau gaji arsitektur itu besar sekali dia bekerja, semenjak saat itu aku ingin sekali menjadi arsitektur.
Saat SD, keinginanku menjadi arsitektur pun berubah menjadi seorang atlet basket yang bermain di NBA, tapi karena sesuatu aku urungkan niat itu.
Lanjut lagi ketika SMP, aku sudah tidak memiliki cita-cita dan sampai saat ini aku juga tidak memiliki cita-cita apapun.
Selama aku bisa mendapatkan uang dari situ dan caranya juga halal, itu sudah cukup buatku.
“Pantas saja Kichida ingin sekali menjadi seorang komikus.”
“Memang pekerjaan seorang komikus seberat itu?”
Tanya Miyuki kepadaku.
“Aku sendiri tidak tau karena aku bukan seorang komikus, tapi dari apa yang aku lihat selama aku menghubungi komikus-komikus yang bekerja di Comic Universe. Memang terlihat berat sekali.”
Harus menyetorkan komik kepada kami beberapa hari sebelum waktu penerbitan agar kami dapat memeriksa isi kontennya terlebih dahulu.
Selain itu setiap saat para editor pasti akan menelponnya untuk melihat perkembangan dari komiknya.
Kalau aku yang menjadi seorang komikus itu, pasti aku akan tertekan karena setiap saat editor akan menelponku.
“Itulah salah satu alasan orang tuanya tidak mau memberikan Kichida izin menjadi komikus.”
“Sulit juga jika seperti itu.”
Aku memutar sedotan yang ada di dalam gelas minumanku dan berpikir akan sesuatu.
“Bagaimana jika hal ini terjadi kepadamu Mar?”
Miyuki menanyakan hal itu kepadaku.
“Kalau aku yang mengalami hal itu, aku akan menjadi seorang komikus dan membuktikan kepada mereka kalau pekerjaan seorang komikus tidak seburuk yang mereka pikirkan.”
“Apa hal itu juga yang kau katakan kepada Kichida?”
“Iya.”
Sebenarnya masalah Kichida ini hanya satu, orang tuanya percaya kalau pekerjaan komikus itu sangat tertekan dan melelahkan.
Tapi kalau dilihat dari kondisinya Kichida saat ini yang seorang pelajar, tentu saja mereka akan melarangnya karena menjadi komikus dan juga menyeimbangkannya dengan sekolah sangat sulit sekali.
Kichida adalah orang yang meraih peringkat pertama di kelasku, dan jika dia ingin mempertahankan nilainya itu tentu dia harus belajar.
Aku bisa sekolah sambil bekerja karena aku tidak begitu mementingkan nilai di dalam sekolahku, itu sangat berbeda sekali dengan Kichida yang harus mempertahankan nilainya itu.
“Andai saja ada yang bisa aku lakukan.”
Miyuki terlihat lesu sekali.
“Ada satu hal yang bisa kau lakukan untuk saat ini.”
Ucapku.
__ADS_1
“Apa itu?”
Miyuki menjadi bersemangat ketika mendengarkan hal itu.
“Memberikan dukungan kepada Kichida.”
“Aku pasti akan selalu memberikan dukungan kepadanya Mar.”
Hebat sekali dia, walaupun dulu pernah bermusuhan dan bisa aku bilang gara-gara Kichida ini Miyuki dimusuhi oleh teman satu sekolahnya tapi dia tetap bisa memaafkannya.
“Setidaknya kau bisa menghentikannya jika dia melakukan sesuatu yang bodoh.”
“Apa yang kamu maksud?”
Miyuki tidak mengerti hal itu.
“Hal bodoh seperti kabur dari rumah atau semacamnya.”
“Apa kamu mengira kalau Kichida akan melakukan hal semacam itu?”
“Mungkin saja, mengingat orang tuanya sangat ketat dalam mengaturnya. Pasti ada di dalam pikirannya untuk keluar dari rumah itu dan pergi ke suatu tempat agar dia bisa melakukan sesuai yang dia inginkan.”
Sebenarnya itu yang akan terjadi kepadaku jika aku mendapatkan tekanan yang sama seperti Kichida.
“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu Mar?”
“Itulah yang aku lakukan jika aku menjadi Kichida.”
“Kichida tidak mungkin melakukan hal seperti itu.”
Miyuki masih bersih keras akan hal itu.
“Siapa tau, aku hanya memberikan pendapatku saja. Kemungkinan-kemungkinan masih bisa terjadi dan kita tidak tau kemungkinan mana yang terjadi.”
“Setelah kau berbicara itu, aku menjadi cemas dengan keadaan Kichida.”
“Kenapa kau perlu cemas? Memangnya kau ibunya Kichida.”
“Akhir-akhir ini aku melihat Kichida tidak senang sama sekali.”
Benarkah itu? Sepertinya ketika di kelas dia terlihat biasa-biasa saja. Bahkan ketika Riki sedang melawak dengan lawakan yang sebenarnya tidak lucu-lucu banget, dia tetap ketawa bersama dengan teman-teman sekelasku yang lainnya. Apa itu hanya gimik saja?
“Aku rasa dia biasa-biasa saja ketika di kelas.”
“Mungkin kau tidak mengetahuinya, tapi aku sangat mengetahui dengan jelas kalau dia tidak seperti biasanya.”
Sebenarnya sejauh apa hubungan antara Kichida dan juga Miyuki.
“Apa kalian berdua sudah selesai berbicaranya?”
Misaki yang dari tadi menunggu kami berbicara akhirnya berbicara juga.
“Memangnya kenapa Misaki?”
“Aku mau mengajakmu untuk bermain gim bersama.”
Misaki menunjukan ponselnya kepadaku yang di sana sudah terbuka gim yang sering kami mainkan.
“Sepertinya kita sudah selesai kan ya?”
Aku melihat ke arah Miyuki.
“Iya kita sudah selesai berbicaranya.”
“Kalau begitu ayo kita bermain gim.”
Aku pun mulai mengeluarkan ponselku dan bermain gim bersama Misaki.
“Kenapa kau selalu mengajak Amar bermain gim terus Misaki?”
Miyuki sedikit mengomeli Misaki akan hal itu.
“Kalau bermain dengan Bang Amar, aku tidak pernah kalah dan itu sangat menyenangkan. Aku bisa memamerkan itu kepada teman-temanku saat di sekolah.”
Ya, karena gim yang kita mainkan bukanlah gim yang sulit untuk dimainkan. Jadi wajar saja jika aku sering sekali menang dalam bermain gim itu.
Selain itu karena level dari karakternya Misaki jauh dibawah denganku dan peringkatnya berada jauh juga, itulah yang membuat kami selalu mendapatkan musuh yang lumayan mudah.
“Tidak baik memamerkan sesuatu seperti itu.”
Miyuki mulai menceramahi Misaki, tetapi Misaki terlihat seperti tidak mendengarkan dan mengabaikan perkataan dari Miyuki.
“Aku ingin terlihat hebat di hadapan teman-temanku agar aku bisa menjadi pemimpin di kelas.”
Woah! Sikapnya itu hampir mirip sekali dengan Takeshi. Kenapa mereka berdua tidak bisa akrab walaupun memiliki sifat yang sama ya?
“Seharusnya kau juga mencontoh sifat dari Amar.”
“Memang ada apa dengan sifat Bang Amar?”
Misaki menjadi penasaran akan hal itu.
“Amar itu sama sekali tidak pernah memamerkan apapun yang dia punya, bahkan dia sangat merahasiakan prestasi yang dia miliki.”
“Lalu bagaimana orang lain bisa mengetahui kalau Amar itu hebat?”
“Dia melakukan itu dengan tindakan yang dia lakukan.”
Untuk pertama kalinya, aku merasa senang sekali ketika ada orang yang menyanjungku.
“Baiklah, aku akan mencontoh Bang Amar!”
“Jangan menggunakan diriku sebagai contoh Misaki, itu hanya akan membuatmu kecewa saja.”
Miyuki hanya tertawa kecil saja mendengarkan keluhan dariku.
Dan saat malam itu, hujan pun turun yang membuat kami harus menunggu terlebih dahulu hingga hujannya kembali reda.
Saat hujannya sudah berhenti, kami langsung pergi ke rumah masing-masing. Karena rumahnya Miyuki dekat dengan kafe itu, aku jadi tidak perlu pergi untuk mengantarkannya pulang.
Lagi pula jalan untuk kami pulang harus melewati rumahnya terlebih dahulu.
__ADS_1
-End Chapter 126-