Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 30 : Hari Pertama Di SMK.


__ADS_3

Liburan yang panjang pun telah berakhir. Hari ini adalah hari pertama aku masuk ke SMK Sawah Besar. Banyak teman-temanku yang tidak sabar untuk masuk sekolah kembali, sedangkan aku hanya berharap kalau liburan tidak pernah berakhir. Hari ini rencananya di sekolahku akan mengadakan MOS atau masa orientasi siswa selama tiga hari ke depan.


Sebenarnya aku tidak begitu menyukai yang namanya masa orientasi. Karena kebanyakan di acara ini adalah ajang bagi kakak kelas yang bergabung dalam OSIS untuk mencari gebetan baru di antara adik kelas. Selain itu juga banyak siswa yang melakukan hal yang sama, entah itu ke murid seangkatan atau kakak kelas.


Karena sekarang sekolahku berada di Sawah Besar, aku pun harus bangun lebih pagi dan berangkat sekolah dengan menggunakan TransJakarta. Kalau dulu aku berangkat ke sekolah setelah orang tuaku berangkat ke kantor, sekarang aku harus berangkat lebih pagi dari mereka. Sebenarnya orang tuaku menawarkan untuk berangkat bersama mereka dengan menggunakan mobil, tapi aku tidak mau. Aku lebih suka berangkat ke sekolah


sendiri dan menikmati waktu yang aku punya selama di perjalanan, walaupun itu merepotkan.


Ketika aku sampai di halte Cibubur, aku bertemu dengan Riki yang sedang menunggu bis pertama juga. Dia sudah menggunakan seragam lengkap dengan almamater SMK Sawah Besar yang berwarna biru dongker dengan list jingga.


“Selamat pagi Mar! Kau terlihat masih mengantuk sekali.”


Riki menyapaku dengan penuh semangat. Aku bingung bisa dapat dari mana semangat sebanyak itu di hari yang begitu pagi seperti ini. Matahari saja belum muncul.


“Pagi... Kau datangnya cepat juga ya.”


“Tentu saja, aku tidak mau sampai tertinggal bis pertama.”


“Hmmm...”


Bis kami pun tiba dan kami langsung menaiki bis tersebut. Awalnya aku mengira kalau penumpang di bis pertama tidak terlalu ramai karena ini masih terlalu pagi untuk orang berangkat bekerja. Ternyata aku salah, ramai sekali orang yang berangkat di pagi hari seperti ini untuk bekerja, sampai-sampai aku tidak mendapatkan tempat duduk.


Jarak yang jauh dari rumahku dengan sekolah membuat kami harus gonta-ganti bis hingga tiga kali, dan kami harus berdiri di semua bis itu karena penumpang yang naik di bis kami sangatlah banyak. Itu wajar saja karena sekolah kami berada di Jakarta Pusat yang dimana di daerah tersebut banyak sekali perkantoran.


Sesampainya di halte Sawah Besar, kami pun langsung berjalan menuju ke sekolah kami. Di sana kami juga bertemu dengan murid-murid yang mengenakan almamater yang sama dengan kami.


Kami pun menyusuri jalan yang berada di samping sebuah sungai untuk menuju ke sekolah.


“Aku makin tidak sabar Mar ingin melihat seperti apa teman-temanku nanti.”


Padahal kami sudah berdiri untuk waktu yang cukup lama ketika di bis tadi, tapi aku tidak melihat rasa lelah sedikit di diri Riki. Dia memang monster.


Ketika kami berada di pertengahan jalan, aku melihat Maul yang sedang duduk di kuris yang ada di sana. Dia pun langsung berdiri ketika kami berada di dekatnya.


“Yo Mul, kau datangnya cepat juga.”


Riki langsung menyapa Maul.


“Tentu saja, aku tadi berangkat bersama dengan bapakku. Kebetulan jalan menuju kantornya searah dengan sekolahku.”


Kami pun kembali melanjutkan perjalanan kami menuju ke sekolah. Aku melihat Maul yang sedang melihat-lihat murid perempuan yang kita temui. Inilah dia, salah satu orang yang aku benci ketika sedang acara masa orientasi, tapi karena Maul adalah temanku, jadi dia ku maafkan.


“Aku tidak sabar melihat teman-temanku di kelas nanti.”


Maul mengatakan hal yang sama dengan Riki.


Apakah memang itu perkataan yang wajar di saat seperti ini?


“Aku juga Mul.”


“Aku hanya berharap semoga tidak ada teman sekelas yang merepotkan.”


Hanya itu harapanku satu-satunya saat ini. Aku mau memulai debut kehidupan yang damai di SMK.


“Tenanglah Mar, aku yakin kau akan mendapankan teman-teman yang menyenangkan.”


Riki mencoba menyemangatiku.


“Aku tidak membutuhkan teman-teman yang menyenangkan. Aku hanya butuh teman-teman yang tenang.”


“Tapi aku sedikit merasa sedih karena tidak bisa bertemu dengan Rina lagi...”


Maul terlihat sedang mengingat-ingat masa-masa menyenangkan ketika SMP.


“Iya kau benar, jarang sekali menemukan orang seperti dia. Sudah cantik, pintar, pengertian lagi. Sayang sekali ada seseorang yang mengabaikan perasaannya.”


Riki pun mengejekku karena aku mengabaikan perasaan Rina.


“Hentikan itu Rik... lagi pula apa kenapa kau ingin sekali bertemu dengannya setiap hari?”


“Karena aku merasa kalau hubungan kami sudah semakin dekat dibandingkan sebelumnya.”


“Itu pemikiran yang konyol Mul, kalau kau menganggap sikap baiknya Rina kepadamu sebagai acuan kalau kalian sudah semakin dekat. Kau hanya akan patah hati saja nantinya.”


Aku mencoba memberikan nasihat kepada Maul.


“Hahahaha... Kau benar, sebenarnya aku sedikit memiliki perasaan kepada Rina. Apa lagi ketika dia memberikanku hadiah earphone. Rasanya dia seperti tau kalau aku sedang butuh earphone kala itu.”


Nah kan... Inilah yang aku takutkan ketika menemani Rina membelikan hadiah untuk Maul. Pasti Maul akan salah paham dengan hadiah yang diberikannya, apa lagi hadiahnya itu sesuatu yang sangat dia butuhkan. Tapi sebenarnya ada salahku juga di situ, karena aku yang menyarankan kepadanya untuk membelikan Maul earphone.


“Woah... Itu bagus Mul, semangatlah Mul. Aku rasa kau bisa mendapatkan cintanya Rina.”


Riki pun memberi dukungan kepada Maul.


“Itu tidak mungkin Rik, kau tau sendiri siapa orang yang disukai Rina.”


Maul sudah menyerah sekaligus menyindirku.


“Kalian dari tadi menyindirku ya? Memangnya aku tidak tau.”


“Hahaha ternyata dia menyadarinya Mul.”


“Aku kira dia tidak sadar.”


Sepertinya lebih baik aku mengatakannya kepada mereka saja.


“Sebenarnya Rina sudah pernah menyatakannya perasaannya kepadaku.”


“HAH!? Kau bercanda Mar? Kapan?”


Riki dan Maul sangat terkejut sekali ketika mendengar hal itu.


“Tepat setelah ujian nasional, saat aku sedang mengambil surat rekomendasi. Dia mengajakku berkeliling sekolah setelah itu dia pun menyatakan perasaannya kepadaku.”

__ADS_1


“Sial, itu sudah lama sekali.”


Memangnya apa yang ingin kau lakukan jika masih baru Rik!


“Lalu apa jawabanmu?”


Maul penasaran sekali hingga aku sempat melihat bintang-bintang kecil yang keluar dari matanya.


“Tentu saja aku menolaknya, hal seperti itu saja kalian tidak tau.”


“Cih...!”


“Dasar lelaki bodoh!”


Maul dan Riki merasa tidak puas dengan jawabanku waktu itu.


Apa masalahnya mereka dengan hal ini, bukankah menerima atau menolak Rina seratus persen ada di tanganku.


“Tentu saja aku masih memegang pendirianku dengan kuat.”


“Tapi aku menjadi bingung. Mengapa sikapnya Rina terhadapmu masih biasa saja dan bahkan dia terlihat masih suka denganmu.”


Riki meletakkan tangan kanannya di dagunya dan berpikir layaknya detektif sungguhan.


“Apa yang harus dibingungkan dari hal itu?”


Aku malah tidak mengerti dengan maksud dari Riki.


“Seharusnya jika seseorang sudah ditolak, perasaan yang dia punya ke orang itu sudah menghilang atau berubah. Tapi kenapa Rina masih sama saja ya?”


“Kalau itu aku sendiri juga tidak tau.”


“Kau benar, hal yang bodoh bertanya kepada Amar tentang cinta.”


Lagi-lagi Riki meledekku.


“Sudahlah semuanya, kita harus bergegas ke sekolah sekarang. Aku tidak mau kita terlambat di hari pertama.”


Maul mencoba memperingati kami.


“Tenang saja Mul, sekolahnya sudah terlihat di depan mata.”


“Amar benar, tidak perlu khawatir.”


Kami pun mulai melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolah, karena ini adalah hari pertama kami berada di sekolah ini. kami pun pergi ke mading untuk melihat daftar kelas mana kami di tempatkan.


“Kalau begitu aku ke sana dulu ya.”


Maul pun berpisah dengan kami karena setiap jurusan berada di mading yang berbeda.


SMK Sawah Besar adalah sekolah kejuruan yang berada di Jakarta Pusat yang memiliki lima jurusan. Di antaranya adalah Akuntansi, Administrasi Perkantoran, Farmasi, Rekayasa Perangkat Lunak, dan yang terakhir adalah Multimedia. Dari informasi yang aku temukan dari internet bahwa SMK Sawah Besar ini terkenal dengan jurusan Akuntansinya memiliki banyak sekali lulusan yang diterima di perguruan tinggi negeri, terutama di Politeknik Negeri Keuangan Negara STAN.


Bukan hanya jurusan Akuntansinya saja bagus di sekolah ini. Namun jurusan Administrasi Perkantoran dan Farmasinya juga jurusan yang menonjol di sekolah ini. Sedankan itu, untuk jurusan Rekayasa Perangkat Luna dan Multimedia belum memiliki akreditasi sebagus jurusan lainnya karena jurusan ini baru saja dibuat dan aku termasuk ke dalam angkatan ke empat di jurusan Multimedia.


“Ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaanku waktu itu. Sebenarnya kau berada di jurusan mana Rik?”


“Multimedia.”


“Hah!?”


“Aku masuk di jurusan multimedia.”


“Kenapa harus multimedia?”


“Mau bagaimana lagi, surat rekomendasiku memilihkanku jurusan itu.”


Tenang... Tenang... Kami hanya di satu jurusan yang sama, kemungkinan untuk bisa sekelas sangatlah minim. Aku melihat kalau tahun ini jurusan multimedia terbagi menjadi empat kelas. Berarti kemungkinanku untuk sekelas dengannya hanya dua puluh lima persen saja.


Kami pun langsung melihat seluruh daftar kelas yang ada di mading.


Namanku... Namaku... Namaku... Ah! Itu dia.


“Kau sudah menemukan nama kelasmu Mar?”


“Sudah, kau sendiri di tempatkan di kelas mana?”


“Multimedia D, kalau kau?”


Ah sial! Ternyata dua puluh lima persen masih terlalu besar untuk kemungkinan.


“Multimedia D juga.”


“Ternyata kita sekelas ya, hahahahaha...”


Riki tertawa dengan senangnya. Awal memasuki kehidupan sekolah yang damai sudah hancur.


“Permisi... Permisi...”


Aku melihat seorang perempuan berusaha menuju ke arah mading untuk melihat daftar kelas juga.


“Hai Kichida!”


Ternyata perempuan itu adalah Kichida. Maul yang melihatnya langsung menyapanya.


“Hai kalian berdua!”


Kichida pun menyapa balik kami, sepertinya dia sudah tidak salah paham tentangku.


Sebentar... Kichida berada di sini. Itu berarti kemungkinan Miyuki berada di sini juga begitu besar.


Aku pun melihat ke seluruh anak-anak yang berada di sekitar mading itu dan tidak menemukan Miyuki di sana. Syukurlah dia tidak berada di sini. Oh iya, kalau tidak salah Rina mengatakan kalau Miyuki masuk ke sekolah yang sama dengannya. Jadi aku aman!


“Kelas mana yang kau dapatkan Kichida?”

__ADS_1


Riki bertanya kepada Kichida tentang kelas yang dia dapatkan.


“Aku mendapatkan kelas Multimedia D.”


Lagi-lagi, sepertinya aku mulai benci dengan angka dua puluh lima persen.


“Kalau begitu kau berada di kelas yang sama dengan kami.”


“Benarkah itu? Kalau begitu mohon bantuannya untuk tiga tahun ke depan.”


Ketika berkata hal itu Kichida pun sedikit menunduk kepada kami berdua.


“Serahkan padaku.”


Riki pun mengatakan itu dengan semangat sekali.


“Sudahlah kalian semua, lebih baik kita pergi ke aula untuk upacara penyambutannya.”


“Ayo!”


Kami pun langsung pergi ke aula yang berada di sekolah itu.


Sekolahku terdiri dari tiga gedung besar yang mengelilingi sebuah lapangan yang ukurannya lumayan besar juga. Dari ketiga gedung tersebut, salah satunya adalah gedung olahraga. Dan aku baru tau hal ini tadi. Kalau ternyata gedung olahraganya itu terdiri dari dua lantai, lantai pertama adalah tempat bagi para siswa melakukan olahraga indoor sedangkan lantai duanya adalah aula yang sangat besar.


Ketika memasuki aula tersebut, aku dapat mencium bau harum yang tersebar ke seluruh penjuru ruangan. Para siswa juga sudah menempati tempat duduk yang disediakan sesuai dengan kelas dan juga jurusannya.


Kami pun langsung menuju ke kursi yang disediakan untuk kami. Ketika di sana, aku sering sekali mendengar para siswa yang saling berkenalan, itu wajar saja karena kami baru saja masuk ke sekolah ini, mendapatkan teman baru di sekolah adalah salah satu tujuan bersekolah juga.


Kalau kalian bertanya apakah aku akan melakukan hal itu juga atau tidak, jawabanku adalah tidak. Aku tidak begitu suka berkenalan secara langsung seperti itu. Aku lebih suka perkenalan yang terkesan mengalir, karena aku tidak suka keadaan canggung ketika sedang berkenalan dengan orang baru. Karena itu sangat mengganggu dan merepotkan.


Saat aku sudah duduk di kursi, aku pun melihat sepasang murid yang naik ke atas panggung. Aku yakin kalau mereka adalah anggota dari OSIS.


“Oi Mar, bukankah itu Kak Fauzi?”


Riki menegurku. Berkat teguran dariku aku pun menyadari kalau itu memang Kak Fauzi.


“Iya, itu memang dia.”


“Hebat sekali dia bisa menjadi pembawa acara dalam acara seperti ini.”


“Namanya juga anggota OSIS, pasti hal itu sudah biasa.”


“Apa kalian mengenalnya?”


Kichida ternyata mendengar pembicaraan kami berdua.


“Iya, dia adalah kakak kelas kami ketika berada di SMP. Waktu itu juga dia pernah menjabat sebagai ketua OSIS di SMP kami.”


Riki menjelaskannya kepada Kichida.


“Sepertinya dia orang yang hebat.”


Kichida pun memuji Kak Fauzi setelah mendengar penjelasan dari Riki.


“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...”


Pembawa acara membuka acaranya dengan salam dan dijawab oleh semua murid yang ada di sana.


“Upacara pembukaan dan pelaksanaan masa orientasi siswa SMK Sawah Besar, tahun ajaran 2015/2016 resmi dibuka. Semua siswa diharapkan berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.”


Para siswa pun berdiri dari kursinya dan bersiap untuk bernyanyi lagu kebangsaan.


Sfx = Lagu Indonesia Raya.


“Para siswa diharap duduk kembali...”


Kami pun duduk kembali.


Dan upacara pembukaan yang sangat membosankan pun dimulai. Kalau seandainya bisa melewati acara ini lebih baik aku melewatinya saja, karena isinya hanya sambutan-sambutan yang diberikan oleh pengurus sekolah. Sebenarnya aku bisa saja melewatinya dengan tidur saat acara itu, tapi aku melihat guru yang memperhatikan kami dari samping membuatku sangat tidak nyaman. Sepertinya dia akan membangunkanku juga jika aku tertidur.


Setelah acara sambutan-sambutan yang membosankan itu selesai, akhirnya kami pun sampai di acara penutup. Tepat sebelum doa, ada sesi pemberian penghargaan bagi siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian masuk.


“Bagi nama lima siswa yang akan disebutkan, harap segera naik ke panggung.”


Hmmm... Kita lihat siapa calon orang-orang pintar di sekolah ini. Kalau aku beruntung, aku bisa berkenalan dengannya untuk membantuku nanti.


“Nakashima Takeshi, dari kelas sepuluh Farmasi A...”


Tunggu! Nakashima? Takeshi? Apa dia itu Nakashima yang waktu itu dimaksud oleh Kichida. Nanti akan aku tanyakan kepadanya, tapi hebat juga dia bisa dapat peringkat satu di ujian masuk itu.


“...Kotobuki Miyuki, dari kelas sepuluh Farmasi A...”


Sebentar... Apakah ini MIyuki yang ku kenal? Bukankah waktu itu Rina berkata kalau Miyuki masuk ke sekolah yang sama dengannya? Kenapa dia bisa berada di sini.”


Aku pun melihat ke atas panggung dan orang itu memanglah Miyuki. Dengan ini, impianku untuk mendapatkan kehidupan sekolah yang tenang sudahlah sirna


“...Rina Purnama Putri, dari kelas sepuluh Farmasi A...”


Hah!? Nama itu... Tidak.. Tidak... Itu pasti hanya namanya saja yang sama, orangnya pasti berbeda.


Dan dua orang yang lainnya berasal dari jurusan Akuntasi.


Kemudian aku pun memfokuskan pandanganku kepada setiap orang yang naik ke atas panggung, dan ternyata orang itu adalah Rina.


“Heee... Sepertinya dia memang benar-benar menyukaimu Mar.”


Riki pun meledekku lagi. Sepertinya hari ini dia sering sekali meledekku.


“Hentikan itu, aku sedang berusaha menerima kenyataan di sini.”


Aku pun kembali memfokuskan pandanganku ke atas panggung dan melihat ke arah Rina yang berdiri tepat di samping Miyuki.


Kemudian mata kami pun bertemu dan Rina tersenyum ketika menyadari kalau aku melihatnya. Saat itu entah kenapa hatiku merasa sangat senang sekali, hatiku sedikit berdegub dengan kencang. Miyuki juga melihat ke arahku dan dia melambai kecil kepadaku.

__ADS_1


Huh... Ternyata kehidupan sekolah yang damai itu memang tidak ada.


-End Chapter 30-


__ADS_2