Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 120 : Ending Yang Baik Ternyata Tidak Buruk.


__ADS_3

Hari minggu yang terik namun awan hujan sudah menyelimuti langit kala itu, mungkin hanya tinggal menunggu beberapa saat lagi hingga air hujan turun.


Saat ini aku, Riki, dan Maul sudah berada di dalam bisa yang menuju ke jurusan Tanah Abang.  Hari ini rencananya kita ingin pergi ke rumahnya Akbar karena bibi dan pamannya ingin berterima kasih dengan apa yang waktu itu kita lakukan terhadap adiknya Akbar.


Sebenarnya aku sudah menyuruh Akbar untuk berkata kepada mereka tidak perlu repot-repot melakukan hal itu. Tetapi menurut Akbar, mereka berdua tetap bersih keras untuk berterima kasih kepada kami.


“Kau kemana saja selama ini Mul?”


Riki langsung memberikan keluhan kepada Maul karena akhir-akhir ini dia sama sekali tidak pernah berkumpul bersama kami. Bahkan ketika di sekolah, dia tidak berkumpul dengan yang lainnya di tempat biasa.


“Aku masih ada urusan dengan kasus kemarin.”


“Apa kau menemukan sesuatu dari hal itu?”


Aku menjadi penasaran akan hal itu.


“Kemarin bapakku meminta bantuanku untuk melacak lokasi dan mencari tau tentang identitas dari bos si pembeli itu.”


“Lalu kau sudah menemukannya?”


“Aku belum menemukan siapa orang itu, petunjuk yang diberikan sangatlah sedikit untuk mengungkapkan orang itu.”


Hmmmm... Aku kira Maul dapat melakukan hal itu dengan mudah. Berarti orang ini sangat berhati-hati sekali dalam bertindak. Berapa banyak kurir yang dia pekerjakan dalam hal ini. Kalau sudah seperti ini berarti cara satu-satunya adalah langsung menuntaskan ke inti permasalahannya.


“Bagaimana orang sepertimu tidak dapat menemukannya Mul?”


Riki merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Maul.


“Mungkin saja orang itu menyewa jasa hacker yang sudah ahli untuk menyembunyikan lokasi dan identitasnya saat ini. Kalau memang itu yang terjadi, wajar saja jika aku tidak dapat menemukannya.”


Jika memang orang itu menggunakan jasa hacker juga, berarti seharusnya dia juga sedang mencari tau tentang kita-kita. Ini sangat mengkhawatirkan.


“Apa kau tidak cemas dengan keberadaan hacker ini Mul?”


Aku bertanya kepada Maul.


“Kalau untuk itu kalian berdua tenang saja, sehebat apapun hacker yang dia sewa, mereka tidak mungkin dapat mencari tau siapa orang yang berhasil menangkap salah satu kurirnya.”


Maul mengatakan hal itu dengan percaya diri sekali.


“Kenapa begitu?”


“Aku sudah memeriksa daerah sekitar gudang yang kemarin menjadi tempat transaksi dan juga gudang itu. Tidak ada satupun kamera pengawas yang terletak di sana, memang ada satu kamera pengawas milik kepolisian untuk mengawasi lalu lintas, tapi itu terletak sangat jauh sekali dari lokasi gudang dan sangat banyak orang yang melewati jalan itu...”


Mendengar itu membuatku bisa bernafas lega, karena aku tidak perlu khawatir akan diteror untuk ke depannya.


“Lagi pula bapakku sama sekali tidak mencantumkan nama kita di berkas kepolisian, jadi dia tidak akan bisa mencari tentang kita dimanapun itu.”


“Apa kau bisa menangani hal itu Mul?”


“Tenang saja, asalkan aku mengetahui pola yang digunakan oleh hacker itu, aku dapat dengan mudah mengetahui siapa dia.”


Untuk saat ini, lebih baik aku menyerahkannya kepada Maul.


“Aku tidak sabar kalau kau sudah mengetahui siapa orang itu.”


“Memangnya kenapa? Apa kau mau menangkapnya Rik?”


Maul bertanya kepada Riki yang sedang bersemangat saat ini.


“Aku hanya penasaran saja dengan orang yang memiliki uang yang sangat banyak seperti dia.”


Bukan hanya Riki, aku saja penasaran akan hal itu.


“Sudah jelas orang itu adalah pengusaha Rik. Entah itu pengusaha atau orang yang memiliki kekuasaan.”


Ucapku kepadanya.


“Kenapa mereka menggunakan uang mereka untuk sesuatu seperti itu? Seharusnya mereka memberikannya ke orang yang tidak mampu. Masih banyak orang yang tidak mampu di Indonesia dan mereka lebih membutuhkannya dibandingkan mereka menghabiskannya untuk sesuatu seperti pelelangan.”


Kau tidak salah Rik, memang jumlah orang tidak mampu di Indonesia tidak terbilang sedikit. Tapi aku juga ragu juga mereka bisa berpikiran seperti itu.


Kalau seandainya mereka memang memiliki pemikiran sepertimu, tidak mungkin mereka akan melakukan pelalangan itu.


“Mul, apa kau bisa mencari tau cara untuk masuk ke pelelangan itu?”


Aku bertanya kepada Maul.


“Memangnya kenapa?”


“Karena jika kita ingin menyelesaikan kasus ini dengan cara tercepat hanya itu saja, tidak ada yang lain.”


Aku rasa untuk saat ini hanya itu saja yang bisa aku pikirkan.


“Apa kau memiliki petunjuk Mar?”


“Aku tidak memiliki banyak petunjuk tapi yang aku tau. Jika kau ingin masuk ke acara itu, kau harus memiliki sebuah tiket.”


“Tiket apa yang barusan kau maksud itu Mar?”


Maul menjadi tertarik setelah mendengar hal itu.


“Aku tidak tau tiket apa itu dan bagaimana cara mendapatkannya. Aku hanya mengetahui itu ketika mengintrogasi si pembeli itu.”


“Apa kau yakin dia tidak berbohong?”


“Seseorang yang sedang berada dekat dengan kematian tidak mungkin berbohong.”


Waktu itu aku juga tidak merasa kalau dia berbohong kepadaku.


“Memangnya apa yang kau lakukan kepada orang itu saat sedang mengintrogasinya?”


“Ya sesuatu semacam itu.”


Seharusnya Maul sudah mengetahunya dari Riki tentang apa yang kita lakukan saat itu. Apa mungkin Riki belum menceritakan hal itu kepada Maul?


Kalau memang belum aku malas sekali untuk menceritakan kepadanya.


“Tapi bagaimana caranya agar kita dapat mendapatkan tiket itu? Kita saja tidak tau tempat mana saja yang digunakan dalam acara pelelangan itu.”


Ucap Riki kepada kami.


“Kalau seandainya kita memang tidak mendapatkan tiket itu, mau tidak mau kita harus menggunakan sebuah umpan.”


“Umpan?”


“Kita akan menyuruh seseorang yang bersedia untuk menjadi umpan dan membiarkannya diculik oleh mereka.”


Aku berani jamin tidak akan ada orang yang mau melakukan hal bodoh dan nekat seperti itu. Kalau ada orang yang seperti itu, pasti kita harus bisa memberikan dia imbalan yang sangat besar karena hal yang dia lakukan sangat berisiko sekali.

__ADS_1


“Lalu bagaimana cara kita menemukannya dari umpan tersebut?”


“Itu gampang, kita hanya perlu meletakan sebuah pelacak pada tubuh orang yang akan menjadi umpan ini.”


Woah! Aku pernah melihat hal itu di film-film detektif. Apa kita bisa melakukan hal seperti itu?


“Dan masalahnya saat ini...”


Maul menatap ke arah kami berdua dengan sangat dalam.


“Siapa orang bodoh yang ingin menjadi umpan untuk diculik?”


“Aku bersedia saja untuk menjadi umpan jika kalian berdua memang yakin jika hal ini dapat menyelesaikan kasus itu.”


Aku lupa kalau dia antara kita ada orang bodoh yang nekat.


“Kita tidak bisa menggunakan umpan laki-laki, terlalu berbahaya.”


“Kenapa?”


Riki sedikit kecewa dengan jawaban dari Maul.


“Jika perkiraan Amar waktu itu benar. Jika mereka menangkap laki-laki, pasti mereka akan membunuhnya setelah mereka menculiknya, karena mereka hanya membutuhkan organnya saja.”


“Kalau memang seperti itu, aku mengundurkan diri untuk menjadi umpan.”


Riki menjadi takut ketika mendengar hal itu.


“Tumben sekali kau takut dengan hal seperti itu.”


“Tentu saja Mar! Siapa yang tidak takut mendengar hal itu, selain itu aku juga masih muda dan masih banyak yang ingin aku lakukan.”


“Umur tidak ada yang tau Rik.”


Ucapku kepadanya.


“Dan masalah lainnya adalah kita tidak mungkin menggunakan perempuan, itu terlalu berbahaya buat mereka.”


“Bagaimana kalau kita memikirkan masalah tiket itu terlebih dahulu, kalau itu sudah dapat kita baru bisa memikirkan rencana selanjutnya.”


Riki memberikan usulan yang sangat bagus sekali.


“Kau benar Rik, lebih baik kita serahkan hal ini ke kepolisian. Karena semakin ke sini semakin berbahaya untuk ukuran anak sekolahan seperti kita.”


Lagi pula mana ada anak sekolahan yang membicarakan hal ini seperti kita. Kalau saja keadaan di bis saat ini tidak kosong, aku juga sedikit enggan untuk membicarakannya sekarang.


Akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang, kami pun sampai di rumahnya Akbar. Aku dapat melihat Akbar yang sudah menunggu kami tepat di depan rumahnya.


“Apa tadi di jalan macet?”


Akbar langsung menghampiri kami.


“Tidak telalu macet juga.”


“Mari masuk! Bibi dan paman sudah menunggu kalian semua di dalam.”


Kami pun masuk ke rumahnya Akbar dan di ruang tamu sudah ada bibi dan pamannya yang sedang duduk sambil menonton televisi bersama dengan Putri.


“Paman! Bibi! Mereka sudah sampai.”


Melihat kami masuk ke dalam rumah, bibi dan paman langsung berdiri dan menyambut kami.


“Ayo kalian silahkan duduk!”


Kembali, paman dan bibi berterima kasih kepadaku dan juga yang lainnya.


“Kami berdua sangat berterima kasih kepada kalian karena telah mempertaruhkan nyawa kalian untuk keponakan kami. Kami tidak tau apa yang harus kami lakukan untuk membalas kebaikan kalian.”


Mereka terlalu melebih-lebihkan.


Kami memang mempertaruhkan nyawa kami saat itu, tapi kami tidak begitu menganggap kalau hal itu adalah sesuatu yang sangat besar. Lagi pula yang membuat kami harus mempertaruhkan nyawa kami karena Riki yang saat itu bertindak seorang diri.


“Tidak masalah paman, kita juga senang jika bisa membantu.”


Aku berusaha tersenyum dihadapan mereka.


“Kalau begitu, saya permisi ke belakang dulu.”


Bibi pergi ke dapur untuk melakukan sesuatu di sana.


“Tidak, saya rasa terima kasih saja tidak cukup untuk membalas kebaikan kalian.”


Merepotkan sekali jika harus seperti ini, aku lebih nyaman jika mereka menganggap ini biasa-biasa saja.


“Tenang saja paman, kami semua tidak begitu memperdulikan hal itu.”


“Amar benar paman, asalkan semuanya selamat kita sudah senang.”


Riki membantuku untuk keluar dari masalah ini.


Seharusnya dari awal aku menyerahkan hal ini kepada Riki saja, karena aku tidak terlalu biasa dalam percakapan seperti ini.


“Saya senang sekali karena Akbar dapat menemukan teman-teman yang hebat dan juga baik.”


Sekarang paman Akbar memuji kami.


Riki sangat senang sekali mendapatkan pujian seperti itu.


“Ngomong-ngomong bagaimana keadaan Putri sekarang?”


Riki melihat ke arah Putri yang masih sibuk menonton kartun di televisi.


“Dia baik-baik saja, kondisi kejiwaannya juga stabil karena dia sendiri masih belum mengerti tentang apa yang sudah terjadi kemarin. Dia hanya merasa kalau dia sedang pergi jalan-jalan dengan bapaknya dan tertidur saat diperjalanan.”


Tentu saja dia tidak mengetahui apapun karena kita berhasil menyelamatkannya. Kalau seandainya kemarin kita tidak berhasil menyelamatkannya, pasti kondisi kejiwaannya akan bermasalah.


Obat tidur itu ternyata menyelamatkan semuanya.


“Apa paman tau tentang kelanjutan dari bapaknya Akbar?”


Riki bertanya kepada paman.


“Kemarin aku mengikuti persidangannya, dia divonis lima belas tahun penjara dan juga denda.”


Lima belas tahun di dalam penjara cukup lama sekali, aku tidak tau apakah dia akan mendapatkan potongan masa tahanan atau tidak.


“Itu lama sekali.”


“Semoga saja dengan hukuman yang dia jalani dapat merubah sikapnya dan tidak mengulangi kesalahannya lagi.”

__ADS_1


Aku tidak tau apakah semua keluarganya Akbar memang memiliki sifat pemaaf seperti ini. Karena jika aku yang mengalami hal ini, pasti aku masih saja menyimpan rasa benci terhadap bapakku.


Kemudian bibi membawakan makanan satu per satu dari dapur yang sepertinya sudah dia siapkan sebelum kami sampai ke sini.


“Waduh paman, tidak usah repot-repot.”


Riki merasa tidak enak akan hal yang dilakukan oleh bibi dan paman.


“Sudah tidak usah sungkan, hari ini kami memang berniat untuk menjamu kalian. Dulu kalian pernah datang tapi tidak kami jamu kan? Anggap saja ini sebagai pengganti dari kunjungan kalian yang kemarin.”


Memangnya bisa seperti itu.


Saat itu bibinya Akbar menyajikan banyak sekali makanan, ada sayur asem, ikan asin, tahu tempe, sambal, dan juga lalapan.


Memang terlihat sederhana, tapi ini sudah sangat mengunggah selera sekali.


Ketika kami sedang menikmati makanan itu dengan lahap, tiba-tiba terdengar suara permisi dari depan rumah.


Namun, reaksi yang tidak biasa diperlihatkan oleh Akbar dan juga adiknya. Ketika mendengar suara itu, mereka berdua langsung berlari menuju ke pintu depan untuk menyambut orang tersebut.


Sepertinya orang yang datang ini adalah orang yang spesial untuk mereka, dan aku sudah tau siapa orang itu, seharusnya kalian juga sudah dapat menebaknya.


Bibi dan Paman juga menyusul Akbar ke pintu depan, hal itu membuat Aku, Riki, dan Maul menjadi bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Kami bertiga pun mengintip dari ruang tamu untuk melihat siapa orang yang datang itu.


Tepat di depan pintu, terdapat seorang wanita yang sedang berdiri di sana dengan membawa sebuah koper besar yang dia letakan di sampingnya.


“Maafkan aku!”


Itulah kata pertama yang keluar dari mulut wanita itu kepada Akbar dan Putri. Dia menangis dihadapan Akbar dan Putri dan terus-terusan meminta maaf kepada mereka berdua.


“Ibu!”


Putri pun kemudian memeluk wanita itu yang tidak lain adalah ibunya, dan ibunya Akbar memeluk Putri dengan sangat erat sekali.


Riki dan Maul terkejut ketika mengetahui kalau wanita itu adalah ibunya Akbar.


Walaupun aku sudah mengetahui kalau itu adalah ibunya Akbar, tapi aku juga sedikit terkejut karena tidak menyangka kalau dia akan datang di saat seperti ini.


Aku juga dapat melihat Akbar yang berusaha menahan air matanya agar dia tidak menangis.


“Sudahlah, lebih baik kamu masuk dulu. Tidak enak dilihat oleh tetangga, kebetulan kita juga sedang makan-makan.”


Bibi menyuruh ibunya Akbar untuk bergabung dengan kami di ruang tamu.


Ibunya Akbar pun bergabung dengan kami di ruang tamu. Putri yang sebelumnya menonton televisi, sekarang dia sedang duduk dipangkuan ibunya. Dia terlihat sangat senang sekali bisa bertemu kembali dengan ibunya.


Begitu juga dengan Akbar, walaupun dia mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja tapi aku dapat mengetahui kalau dia sangat senang sekali.


“Pasti kalian teman-temannya Akbar yang sudah menyelamatkan Putri ya? Saya ibunya Akbar, saya sangat berterima kasih kepada kalian karena telah menyelamatkan Putri.”


“Darimana tante tau kalau kami yag melakukannya?”


“Mba sudah menceritakan tentang masalah ini kepada saya.”


Mba? Oh, mungkin yang dia maksud adalah bibinya Akbar.


“Ibu minta maaf ya Putri karena telah meninggalkanmu.”


Ucap Ibunya Akbar sambil mengelus kepala Putri.


“Aku suka akhir yang bahagia.”


Riki tersenyum sangat lebar sekali sambil melihat ke arahku.


Yeah! Aku rasa akhir seperti ini tidak buruk juga.


Kemudian ibunya Akbar pun menyerahkan sebuah surat kepada kami bertiga.


“Apa ini?”


Ucapku sambil mengambil surat tersebut.


“Saya sendiri juga tidak tau surat apa itu, tapi saya mendapatkan surat itu ketika berada di rumah kakakku.”


Aku pun membuka surat yang masih tersegel itu dan melihat isinya.


“Ini!”


Aku terkejut setelah melihat isi dari surat itu.


“Ada apa Mar?”


Riki dan Maul penasaran akan reaksiku itu.


“Kapan tante mendapatkan surat ini?”


“Aku mendapatkannya beberapa hari setelah di rumah kakakku, ketika itu petugas pos yang mengantarkannya kepadaku.”


“Coba aku lihat.”


Maul pun mengambil surat itu dari tanganku.


Maul dan Riki melihat isi dari surat itu bersama-sama.


Jadi di dalam surat itu berisi tentang tawaran untuk menjual diri ibunya Akbar di sebuah acara pelelangan untuk mendapatkan uang, di sana juga terdapat alamat web yang sepertinya dapat diakses dan akan menunjukkan dimana pelelangan itu dilaksanakan.


Jalan kita sudah semakin dekat dalam memecahkannya.


“Aku tidak bisa mengaksesnya.”


Maul kecewa karena tidak dapat mengakses halaman web itu di ponselnya.


“Apa ada sesuatu yang ingin kau lakukan Mul?”


“Boleh aku meminta surat ini? aku membutuhkannya untuk menyelidiki sesuatu.”


Aku pun melihat ke arah ibunya Akbar karena surat ini masih menjadi miliknya.


“Silahkan saja, saya memang berniat untuk memberikannya kepada kalian.”


“Untuk sekarang lupakan hal itu, kita lebih baik merayakan kebagiaan ini terlebih dahulu.”


“Aku sangat setuju dengan paman.”


Dan kami pun melanjutkan acara makan-makan itu dengan penuh rasa kekeluargaan yang sangat kerasa sekali.


Akbar dan Putri terlihat senang begitu juga dengan bibi dan paman.

__ADS_1


Surat yang diberikan oleh Ibunya Akbar juga sebuah secercah cahaya untuk menyelesaikan kasus ini. Aku merasa kalau sebentar lagi, kita dapat menyelesaikannya dengan segera.


-End Chapter 120-


__ADS_2