
Urusanku saat ini dengan Akbar sudah selesai, seperti itulah harapanku. Tapi entah kenapa aku memiliki suatu kemungkinan yang mengatakan kalau masalah ini tidak akan selesai sampai sini saja. Akan ada sesuatu yang besar yang menantiku. Aku sedikit penasaran apa yang akan terjadi dengan hal itu.
Aku mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan dilakukan bapaknya Akbar ketika Akbar dan pamannya tidak memberikan uangnya lagi, tapi yang aku pikirkan hanya bapaknya Akbar melakukan kekerasan kalau tidak ke Akbar, atau ke adiknya.
Aku tidak begitu khawatir dengan pamannya Akbar karena sepertinya dia dapat mengatasi bapaknya Akbar. Buktinya saja saat bapaknya Akbar datang ke rumah untuk meminta uang, dia berani untuk cekcok dengannya.
Tapi yang aku tau pasti kalau yang akan dilakukan bapaknya Akbar bukan hanya sekedar itu saja. Kalau hanya itu saja yang dia lakukan, pasti aku tidak akan sebegitu mempermasalahkannya atau memikirkannya terus.
“Oi Mar!”
Riki menegurku yang sedang menatap ke luar jendela bis.
“Ada apa?”
“Kau pasti sedang memikirkan sesuatu kan? Aku tau sekali saat kau menatap sesuatu dengan tatapan kosong, pasti sedang ada yang kau pikirkan.”
“Aku hanya sedang memikirkan apa yang baru saja aku katakan kepada Akbar benar atau tidak.”
“Ternyata kau masih memikirkan hal itu, aku rasa tidak ada salahnya apa yang kau katakan tadi.”
Benarkah itu? Aku masih kurang yakin dengan apa yang Riki katakan. Seharusnya Riki mengatakan sesuatu yang lain agar aku dapat yakin dengan sepenuhnya.
“Apa aku terlalu mencampuri urusan orang lain? Aku baru menyadari kalau aku tidak seperti aku yang biasanya.”
“Tapi aku lebih senang melihatmu yang peduli seperti itu. Aku pikir itu lebih baik dibandingkan kau yang diam saja tidak mau terlibat apapun.”
“Semoga saja apa yang aku katakan tidak salah.”
Karena saat itu sedang hari libur, keadaan jalan Jakarta sedang padat yang disebabkan banyak sekali orang yang ingin pergi ke luar rumah.
Aku pun memainkan ponselku untuk mengalihkan perhatianku, ternyata aku sudah mendapatkan pesan dari Misaki yang mengajakku bermain gim bersama. Padahal saat di sekolah tadi dia sudah bermain lama sekali denganku, apa dia tidak ada bosannya bermain bersamaku terus.
“Aku tidak menyangka kalau Akbar memiliki masalah seperti itu.”
Ucap Riki yang sepertinya juga memikirkan tentang masalah itu juga.
“Aku juga tidak menyangkanya, tapi aku tidak begitu terkejut karena aku sudah pernah mendengar hal serupa dari Natasha.”
Sepertinya waktu mendengar masa lalunya Natasha, aku tidak begitu terkejut juga.
“Bapaknya Akbar sangat buruk sekali sifatnya.”
Aku setuju denganmu.
“Apa yang akan kau lakukan jika memiliki bapak seperti itu Rik?”
“Aku mungkin akan berkelahi dengannya jika bapakku sudah menyakiti ibuku.”
Jawaban yang sangat menggambarkan Riki sekali, aku kira dia akan lebih lembut lagi dalam memperlakukan bapaknya seperti Akbar.
“Kalau kau sendiri Mar?”
“Kalau aku akan membuat bapakku malu hingga dia tidak pernah menunjukkan muka di hadapanku lagi.”
“Sadis sekali apa yang kau lakukan Mar.”
Benarkah? Aku kira itu tidak terlalu sadis dibandingkan berkelahi.
“Itu cara tercepat dan tidak terlalu melelahkan. Aku bukanlah orang yang cocok jika bertarung satu lawan satu dengan orang lain.”
“Benarkah seperti itu? Padahal dulu waktu SD kau sering berkelahi denganku.”
Riki melirik tidak percaya kepada ucapanku barusan.
“Itu masa lalu, kalau sekarang sepertinya aku sudah tiadk memiliki energi seperti itu lagi.”
“Apa kau memiliki rencana cadangan untuk hal ini Mar?”
Riki menyadari kalau masalah ini tidak akan selesai dengan cara kekeluargaan.
“Rencana cadangan seperti apa?”
“Jika bapaknya Akbar bertindak tidak sesuai dengan yang kau pikirkan. Karena aku juga berpikir kalau masalah ini pasti tidak akan selesai dengan mudah mengingat sifat bapaknya Akbar yang seperti itu.”
“Sampai saat ini aku belum memiliki rencana lain, karena aku lebih suka memikirkan rencana jika masalahnya sudah terlihat di depan mata agar aku tidak perlu menebak-nebak lagi.”
Menebak-nebak sesuatu yang krusial hanya akan menimbulkan sebuah masalah saja.
“Apa rencanamu saat liburan nanti?”
Riki langsung merubah topik pembicaraan, sepertinya dia juga tidak mau membicarakan hal ini lebih lama lagi.
“Aku akan berada di rumah saja untuk beristirahat.”
“Sebenarnya aku ingin sekali mendaki gunung, tapi karena kau tidak pergi, aku jadi malas melakukannya.”
“Kenapa kau tidak melakukannya dengan teman-temanmu?”
“Tidak seru jika aku tidak pergi bersama denganmu dan juga Maul.”
Oh iya, seharian ini aku sama sekali belum bertemu dengan Maul padahal letak kelas kita tidak begitu jauh.
“Kalau kau memang ingin mendaki gunung, jangan lupa untuk mengajak Rian. Waktu itu aku pernah berjanji untuk mengajaknya jika kita ingin mendaki gunung.”
“Rian juga membicarakan hal itu kepadaku ketika aku baru saja pulang dari Makassar.”
__ADS_1
“Apa yang dia katakan?”
“Katanya saat kelas dua nanti, dia ingin mengadakan banyak acara pergi untuk menikmati alam agar menarik minat murid baru untuk masuk rohis.”
Ternyata tujuannya masih sama seperti dulu.
“Dia juga mengatkaan hal itu kepadaku saat kau masih berada di Makassar.”
“Apa kau juga merencanakan hal serupa untuk menarik minat murid-murid baru nanti Mar?”
“Untuk mengembangkan rohis agar mendapatkan minat yang banyak, aku serahkan semuanya kepada Rian. Aku hanya akan membantunya sebisaku saja.”
Aku jugat tidak tau apa yang harus dilakukan dalam kondisi seperti itu, karena aku sama sekali tidak memiliki pengalaman berorganisasi. Aku memang mengikuti remaja masjid di rumahku tapi aku bukanlah anggota aktif di sana, aku hanya datang ketika Pak Ustadz meminta bantuanku untuk bantu-bantu acara yang sedang diadakan oleh masjid.
“Tapi yang penting kita sudah punya tempat untuk tahun baru nanti. Aku kira Miyuki akan pergi ke Jepang saat tahun baru, karena pasti senang sekali merayakan tahun baru di Jepang sana. Aku pernah melihat di internet kalau kembang api yang ada di sana sangat indah sekali.”
Apa yang indah dari kembang api? Itu hanya keindahan sesaat saja.
“Syukurlah kalau begitu.”
“Aku ingin merasakan bagaimana tahun baru di Jepang sana, apalagi jika aku pergi ke sana bersama dengan Kirana dan kita menyaksikan kembang api itu bersama. Pasti itu akan sangat romantis sekali.”
Dia mulai lagi.
“Apa kau ingin sekali pergi ke Jepang?”
“Aku tidak begitu ingin pergi ke sana, aku memiliki peringkat negara mana saja yang ingin aku datangi. Pertama adalah Arab Saudi, kedua adalah Swiss, dan ketiga mungkin baru Jepang.”
“Kenapa harus Swiss?”
“Memangnya kau tidak tau Mar?”
Riki terlihat terkejut mendengar itu.
Aku hanya menggelengkan kepalaku saja kepadanya.
“Keindahan alam di sana tidak kalah dengan di Indonesia, kau akan merasakan seperti masuk ke negeri dongeng ketika pergi ke sana.”
Benarkah? Mungkin aku akan mengeceknya di internet seindah apa Swiss. Apa yang Riki katakan itu memang benar atau dia hanya melebih-lebihkannya saja. Tapi aku juga pernah mendengar sesekali pembicaraan bapakku kalau Swiss memang negara yang cukup indah pemandangannya.
Kalau kalian bertanya negara mana yang ingin aku datangi, aku hanya ingin pergi ke Arab Saudi saja untuk menunaikan ibadah haji dan umroh. Selebihnya aku hanya ingin berada di Indonesia saja, karena aku masih belum menjelajahi seluruh Indonesia. Dan masih banyak keindahan-keindahan alam yang sama sekali belum pernah aku liat.
“Kenapa uangmu tidak kau gunakan untuk pergi ke luar negeri saja Mar?”
“Memang uangku cukup untuk melakukan itu, tapi aku tidak tau ingin pergi kemana.”
Tidak mungkin aku pergi Arab Saudi tanpa melakukan umroh. Selain itu tidak mungkin juga aku umroh seorang diri, setidaknya aku harus mengajak kedua orang tuaku atau Nadira ikut bersamaku.
“Apa orang tuamu masih tidak tau uang yang kau miliki Mar?”
“Tidak, buku tabunganku selalu aku pegang dan orang tuaku sama sekali tidak pernah memeriksanya. Mereka hanya memberikan uang bulanan kepadaku saat awal bulan saja.”
“Orang tuamu ternyata tidak terlalu ketat dalam memeriksa apa yang dimiliki anaknya ya.”
“Aku lebih enak seperti itu.”
Mau bagaimana lagi, dari dulu aku tidak pernah berbuat aneh-aneh yang memerlukan mereka memeriksa apa yang sedang aku lakukan.
“Kapan Nadira pulang ke Jakarta?”
“Dia sudah pulang dari beberapa hari yang lalu, sekarang dia sudah ada di rumah.”
"Apa Nadira sudah ada tujuan untuk sekolah selanjutnya?”
“Dia waktu itu bilang kalau dia ingin masuk ke SMK Sawah Besar.”
Aku tidak tau apakah dia akan berubah pikiran atau tidak, karena dia waktu itu mengatakan itu saat libur hari raya.
“Benarkah?! Kirana juga mengincar rekomendasi untuk masuk ke SMK Sawah Besar.”
Riki terlihat senang mendengar itu.
“Kenapa mereka berdua sangat terobsesi untuk masuk ke SMK Sawah Besar.”
“Aku juga tidak tau, waktu itu aku bertanya bagaimana jika dia tidak mendapat rekomendasi. Dan dia berkata kalau dia akan mencoba untuk mengikuti ujian masuk. Nah, aku berniat untuk mengajakmu juga saat itu menemaniku.”
“Sepertinya aku juga akan datang ke sana karena Nadira pastinya mengikuti ujian masuk, sangat tidak mungkin Nadira mendapatkan rekomendasi hingga ke SMK Sawah Besar.”
Karena saat ini dia bersekolah di luar Jakarta, palingan jika dia mendapatkan rekomendasi. Sekolah yang didapatkan adalah sekolah yang berada di satu kota dengan sekolahnya saat ini.
“Kalau begitu kita berangkat bersama saja, jangan lupa untuk menghubungiku jika kau ingin berangkat.”
“Baiklah.”
“Oh iya Rik, apa seharian ini kau melihat Maul?”
“Aku sempat bertemu dengan Maul dan ibunya saat pengambilan rapot tadi.”
“Tumben sekali dia langsung pulang.”
Biasanya dia akan menungguku dan Riki untuk pulang bersama.
“Katanya dia ada pekerjaan yang harus dia kerjakan.”
“Dia memang orang yang bekerja keras, padahal uang yang dia terima tidak jauh berbeda dengan yang aku terima.”
__ADS_1
“Memang sebanyak apa uang yang kau miliki Mar? Dari kemarin kau selalu mengeluh kalau uangmu sudah banyak terus.”
Riki terlihat penasaran.
“Kalau kau melihatnya, mungkin kau akan pusing sendiri dengan jumlahnya. Aku saja waktu dikirimkan uangnya oleh Pak Hari, aku sempat tidak percaya kalau jumlahnya segitu banyak.”
“Hehehehe... Kapan-kapan aku akan memintamu mentraktirku makan enak.”
Senyuman licik saat ini menghiasi wajahnya.
“Tenang saja, kau bisa meminta itu sesekali kepadaku.”
“Oh iya, aku kemarin menemukan angkringan baru di dekat rumahku dan makanan di sana enak-enak. Tempat itu bisa kita gunakan untuk tempat berkumpul, harga makanan di sana tidak begitu mahal juga.”
Sudah lama aku tidak pergi ke angkringan, aku rasa itu ide yang bagus.
“Baiklah, nanti setelah keadaannya sudah sedikit aman. Aku akan coba untuk datang ke sana, aku juga tidak begitu suka berkumpul di kafe.”
“Kenapa?”
“Selain harganya yang terbilang cukup mahal, aku tidak begitu suka mengkonsumsi kopi secara terus menerus.”
Itulah kenapa akhir-akhir ini aku selalu memesan minuman selain kopi ketika mengunjungi kafe. Ketika di kantor, aku juga memesan kepada barista untuk membuatkanku teh atau susu.
“Walaupun uangmu sudah banyak kau masih saja mengatakan kalau itu mahal. Katanya kau ingin menghabiskan uangmu.”
Riki merasa heran kepadaku.
“Walaupun aku sudah memiliki banyak uang, aku tidak mau menghaburkannya. Aku memang ingin menghabiskannya, tapi tidak menggunakan secara boros seperti itu.”
“Kalau aku menjadi kau, mungkin sekarang uang yang aku miliki sudah habis untuk aku gunakan pergi dengan Kirana.”
“Itu tidak baik Rik, kau harus mencoba untuk mengatur keuanganmu sendiri. Kau tidak boleh terus-terusan boros seperti itu.”
“Aku bersyukur karena Kirana sering mengomeliku jika aku terlalu banyak menghaburkan uang.”
Dia bersyukur saat dimarahi? Apa dia seorang masokis?
“Ngomong-ngomong bagaimana keadaan SMP CIbubur sekarang?”
Aku merubah pembicaraan ke topik lain.
“Kemarin Kirana bilang kalau di sana sedang ramai membicarakan tentang kasus penculikan yang sedang ramai saat ini.”
“Padahal Jakarta Timur tidak termasuk kawasan yang rawan penculikan, kenapa di sana ramai juga?”
“Tetap saja Mar walaupun Jakarta Timur tidak termasuk, pasti semua orang akan was-was ketika mendengar kasus penculikan di berita.”
Berarti rencana kepolisian untuk membuat masyarakat menjadi was-was sudah berhasil.
“Rik, aku ingin bertanya kepadamu.”
“Apa itu Mar?”
Rasa penasaran Riki langsung meningkat dan dia memperhatikanku dengan sangat serius.
“Bagaimana jika sebentar lagi kita terlibat dengan kasus penculikan itu?”
“Kenapa kau menanyakan hal seperti itu Mar?”
“Tidak ada alasan yang berarti, firasatku hanya mengatakan hal seperti tadi.”
“Kalau firasatmu berkata seperti itu, berarti sebentar lagi kita memang akan melakukannya.”
Mendengarnya membuat Riki menjadi bersemangat. Riki memang selalu bersemangat jika sudah menyangkut hal-hal seperti ini. Mungkin menurutnya melakukan sesuatu yang merepotkan itu adalah hal yang menyenangkan.
Padahal aku sendiri berharap kalau firasatku ini hanya sebatas firasat saja, aku tidak mengharapkan hal ini terjadi.
“Aku berharap agar itu tidak terjadi.”
“Lebih baik agar itu terjadi Mar, agar kasus penculikan ini cepat selesai dan kita bisa keluar malam dengan aman lagi.”
Walaupun terdengar aneh, tapi apa yang baru saja Riki katakan tidak ada salahnya.
“Aku setuju denganmu, karena aku juga sudah rindu untuk pergi berkeliling melihat lampu kota saat malam hari.
“Benarkan.”
Kalau seandainya aku memang bisa menyelesaikan kasus penculikan saat liburan ini. Berarti, liburanku kali ini tidak akan menjadi liburan yang tenang dan menyenangkan. Bahkan bisa saja ketika tahun baru nanti aku tidak bisa mengikuti acara bakar-bakar di rumah Miyuki karena ada sesuatu yang harus aku lakukan.
Tapi sebisa mungkin aku akan mengutamakan keselamatan diatas segalanya. Ketika aku sudah bertemu dengan bahaya dan tidak ada jalan lain untuk pergi, aku akan langsung mundur dan menunggu kesempatan lainnya.
***
Seminggu kemudian...
Saat ini aku sedang bersantai di ruang tamu sambil bermain gim dengan ponselku. Tiba-tiba saja ponselku mendapatkan panggilan masuk yang berasal dari Akbar.
Aku sedikit khawatir untuk mengangkatnya tapi semoga saja kabar baik yang aku dapatkan.
“Halo Assalamualaikum?”
Aku mengangkat panggilan dari Akbar.
“Waalaikumsalam.. Mar, tolong aku!”
__ADS_1
Keadaan menjadi hening dan firasatku semakin memburuk setelah mendengar suara panik dari Akbar. Aku tau kalau ada sesuatu yang tidak beres sedang menimpanya.
-End Chapter 108-