Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 143 : Kasur! Aku Butuh Kasur!


__ADS_3

Alhamdulillah kenyang juga..


Aku pun memegang perutku yang sudah terisi penuh oleh nasi goreng yang diberikan oleh ibunya Miyuki kepadaku untuk makan malam. Sebenarnya bukan makan malam juga sih, karena sekarang waktunya sudah mau masuk subuh.


Saat itu, di ruang tamu hanya ada bapaknya Kichida dan Miyuki, aku bersama dengan Riki dan Maul, dan juga Miyuki, Rina, Takeshi, dan Yoshida.


Hanya Kichida dan ibunya saja yang sudah pergi ke kamar untuk mengistirahatkan diri di sana.


Setelah ini, aku bersama dengan Riki dan Maul akan di sidang oleh bapaknya Miyuki dan Kichida. Mereka penasaran dengan apa yang telah kami lakukan pada kemarin malam.


“Kalian semua beristirahat saja, kami hanya ingin berbicara dengan Amar, Maul, dan juga Riki.”


Ucap bapaknya Miyuki kepada kami semua.


“Tapi aku ingin mendengarkannya juga Om.”


Takeshi memaksa untuk berada di situ.


“Aku juga Pah!”


Begitu juga dengan Miyuki.


“Sekarang sudah mau masuk waktu pagi, dan kalian semua belum tidur dari semalam. Lebih baik anak perempuan tidur sekarang.”


“Tapi aku ingin mendengar pembicaraan kalian Pah!”


Miyuki tetap memaksa untuk ikut dalam pembicaraan itu.


“MIYUKI!”


Bapaknya Miyuki sedikit menaikan nadanya dan membuat Miyuki terdiam dan menyerah.


“Ayo Rina.. Yoshida... Kita pergi ke kamarku.”


Miyuki dan yang lainnya pun akhirnya pergi meninggalkan kami di ruang tamu.


“Aku minta maaf kepada kalian karena anakku yang keras kepala itu.”


“Tenang saja Om, kami sudah terbiasa dengan sikapnya yang seperti itu.”


Ternyata bapaknya juga kewalahan dengan sifat yang dimiliki oleh Miyuki.


Tapi aku rasa sifat keras kepalanya itu bisa jadi karena didikan bapaknya juga, atau memang dia sudah seperti itu dari awalnya.


“Kau pasti kerepotan ketika mengurusinya ya Mar.”


“Begitulah.”


Tentu saja aku kerepotan, apalagi ketika aku baru pertama kali bertemu dengannya. Aku baru bertemu seorang perempuan yang aku anggap sebagai masalah. Tapi untuk sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan hal itu.


Malahan kalau Miyuki tidak membuat masalah, aku sedikit curiga kepadanya.


“Apa kita bisa langsung masuk kepembahasannya agar tidak terlalu lama? Aku juga kasihan kepada kalian bertiga, pasti kalian ingin istirahat kan.”


Pengertian sekali bapaknya Kichida.


Aku sangat ingin tidur sekarang, aku rasa ketika aku menyentuhkan kepalaku dengan bantal, aku akan langsung tertidur dengan nyenyak.


Tapi dimana aku harus tidur ya? Masa aku harus pergi ke rumah Maul terlebih dahulu, mana jaraknya lumayan jauh kalau dari sini.


Aku tidak mungkin pergi ke rumah karena ibuku pasti mengira kalau aku berangkat ke sekolah hari ini.


Aku hanya berharap bapaknya Miyuki menyiapkanku satu kamar untuk kami beristirahat.


“Tenang saja Om, aku dan yang lainnya sudah terbiasa begadang untuk mengerjakan sebuah pekerjaan.”


Tidak mungkin aku mengatakan kepada mereka semua apa yang aku pikirkan tadi kan.


“Baiklah, kita-kita dari mana aku bertanya kepada kalian.”


Sekarang giliran bapaknya Miyuki yang bingung untuk berbicara kepada kami.


“Kalau begitu aku dulu... Dari mana kalian bertiga bisa tau tempat dari lokasi pelelangan itu? Bukannya mereka menyembunyikan lokasinya dan bahkan anggota kepolisian saja tidak mengetahuinya.”


Pertanyaan yang biasa, biar aku serahkan hal ini kepada Maul saja.


Aku memberikan isyarat kepada Maul untuk menjawab pertanyaan itu.


“Ketika hari pertama Kichida tidak masuk ke sekolah, Amar menyuruhku untuk melacak keberadaan Kichida dan aku mengetahui dimana posisi Kichida berada saat itu...”


“Sebentar..! Jadi kalian sudah mengunjungi Kichida sebelum dia diculik itu?”


Tanya bapaknya Kichida kepada Amar.


“Iya, aku sudah mengunjunginya ketika dia berada di kontrakannya.”


“Kenapa kau tidak memberitahu ini kepadaku dan juga Kagaya.”


Kagaya?... Oh, itu nama bapaknya Miyuki.


“Saat aku ke sana, Kichida sudah memutuskan untuk pulang ke rumah tapi dia mau mengumpulkan keberaniannya terlebih dahulu sebelum itu. Jadi aku berpikir kalau lebih baik membiarkannya seperti itu.”


Walaupun keputusan yang aku ambil itu juga salah, dan akhirnya berujung dengan diculiknya Kichida.


“Lalu ketika hari kedua setelah Amar mengunjungi Kichida di kontrakannya, aku memberitahu Amar dan yang lainnya kalau Kichida diculik dan posisi dari Kichida saat itu berada di hotel yang kemarin Amar dan Riki kunjungi.”


Maul melanjutkan ceritanya.


“Bagaimana kau dapat melacak posisi Kichida? Apa kau menyuruh Amar untuk meletakan GPS kepadanya?”


“Aku menggunakan sinyal ponsel milik Kichida untuk mengetahui posisinya.”


Ayo terus Mul, jawab semua pertanyaan-pertanyaan dari mereka. Karena kau tidak pergi ke lokasi, pasti kau tidak terlalu lelah kan.

__ADS_1


“Kalau seandainya aku tau ada teman Miyuki yang dapat melakukan hal itu, aku pasti sudah mendatangi Maul.”


Begitu ucap bapaknya Kichida.


“Lalu, kenapa kau bisa memiliki tiket itu Mar?”


“Aku mendapatkan itu dari Maul.”


Aku tersenyum ke arah Maul. Dia sepertinya sudah menyadari kalau aku sengaja melakukan hal itu agar bapaknya Miyuki dan Kichida selalu menanya kepada Maul dan bukan ke Amar.


“Aku mendapatkan tiket itu melalui web yang ada di surat ini.”


Maul memberikan surat yang waktu itu didapatkan dari ibunya Akbar kepada mereka berdua.


“Di dalam alamat web itu terdapat tempat untuk membeli tiket agar dapat mengikuti acara pelelangan itu.”


“Dari mana kau mendapatkan tiket ini?”


“Aku mendapatkannya dari ibu temanku setelah kami menyelamatkan adiknya dari penculikan. Ya, walaupun yang melakukan hal itu adalah Amar dan Riki.”


Maul kembali tersenyum ke arahku.


Aku hanya tersenyum kecil melihat apa yang dia lakukan.


Memang temanku yang satu ini adalah orang yang hebat sekali.


“Jadi kalian sudah pernah melakukan hal seperti ini juga?”


Bapaknya Miyuki terlihat terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang telah dia dengarkan saat itu.


“Ini kali kedua aku melakukan hal ini.”


Dan ini mungkin jadi yang terakhir juga, karena melakukan hal ini sangat merepotkan sekali.


“Apa kalian tidak ada kesibukan lain yang wajar untuk dilakukan oleh anak seumuran kalian.”


Aku hanya tersenyum kecil mendengar perkataan dari bapaknya Miyuki.


Sebenarnya aku juga mau melakukan apa yang anak-anak biasa lakukan. Tapi entah kenapa aku tidak memiliki kesempatan untuk melakukannya.


Aku di sini tidak berbicara tentang cinta ya... Aku berbicara di sini secara keseluruhan.


“Lalu dari mana kalian bertiga bisa memiliki hubungan dengan anggota kepolisian yang menyergap tempat pelalangan itu?”


“Oh kalau itu, bapaknya Maul bekerja di sana dan dia yang memimpin operasi dalam penyergapan tadi.”


 “Iya, aku sudah mengetahui semua yang kalian berdua lakukan di sana melalui laptopnya Maul.”


Ucap bapaknya Miyuki.


Saat itu, aku hanya melihat ke arah Maul.


“Aku tidak memiliki pilihan lain.”


Kalau dia menutupi layarnya dan melakukan sesuatu hal lain dengan sangat lama. Pasti Miyuki dan Rina akan memaksannya untuk menampilkan tampilan dari kamera pengawas atau mendengarkan suaraku dan juga Riki dari ponselku yang berhasil dia sadap.


Kalau seandainya dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada orang tua Miyuki ketika mereka sudah tiba di rumah, pasti Maul dan yang lainnya juga akan disuruh pulang oleh mereka karena sudah terlalu malam untuk waktunya bermain.


Keadaan seperti itu memang serba sulit dan tidak ada pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya kepada mereka.


“Saat Om pulang dari kantor dan mengetahui kalau kau dan Riki sedang melakukan sesuatu yang berbeahaya, aku sangat marah terutama kepadamu Mar.”


Loh! Kenapa kenapa dia sangat marah kepadaku?


“Karena orang tuamu itu sangat dekat dengan keluarga kami, bagaimana terjadi sesuatu denganmu?”


Ya, itu memang benar. Pasti orang tuanya Miyuki akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu kepadaku saat operasi kemarin malam.


“Tenang saja Om, karena hal itu tidak akan terjadi.”


Riki berusaha untuk meyakinkan kepada bapaknya Miyuki.


“Percaya diri boleh, tapi kalian juga harus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di lapangan.”


“Kalau untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan seperti itu, hal itu adalah keahlian dari Amar. Ketika sedang menjalankan sebuah rencana, dia pasti sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan membuat rencana yang sangat matang untuk dijalani.”


Hee... Apa memang aku adalah orang seperti itu?


Tapi aku sama sekali tidak merasa kalau aku melakukan hal itu. Karena ketika aku sedang memikirkan sebuah rencana, tiba-tiba di dalam otakku masuk informasi-informasi yang sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan rencanaku pada saat itu.


Selain itu dari informasi yang masuk itu, dengan sendirinya tersusun menjadi berbagai macam rencana. Jadi aku tidak pernah merasa kalau aku benar-benar memikirkan rencana itu dengan matang.


Dan kenapa aku selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan dengan begitu banyak. Karena aku ingin menyelesaikan sebuah masalah dengan rencana yang paling mudah dan gampang. Itulah kenapa aku memikirkan banyak sekali kemungkinan-kemungkinan.


“Jadi semua rencana kemarin malam itu Amar yang menyusun?”


Tanya bapaknya Kichida kepada kami.


“Ya.. Begitulah Om!”


“Lalu bagaimana dengan hari ini? Apa kalian semua tidak akan masuk ke sekolah?”


“Hari ini kami akan izin.”


Ucapku kepada mereka berdua.


“Izin?”


“Iya, aku sudah membicarakan hal ini dengan wali kelasku dan kemungkinan wali kelasku akan memanipulasi kehadiran kami lagi.”


Aku berterima kasih kepada Pak Febri yang selalu melancarkan urusanku ketika berada di sekolah.


“Apa wali kelasmu mengetahui hal ini Mar?”

__ADS_1


“Tentu saja, karena orang tua Kichida sudah pernah datang ke sekolah dan menceritakan hal ini kepada Pak Febri. Tapi Pak Febri belum tau kalau Kichida itu diculik.”


Kalau seandainya dia tau kalau Kichida diculik dan mengetahui kalau aku dan Riki pergi untuk menyelamatkannya, pasti dia akan memarahi kami tiada habisnya lagi.


“Ya, sepertinya kita harus siap-siap untuk dimarahinya ketika masuk ke sekolah nanti Mar!”


Riki sudah pasrah kalau nanti kita akan dimarahi oleh Pak Febri.


Kita lihat saja nanti, siapa orang yang akan membocorkan hal ini kepada Pak Febri sampai-sampai dia mengetahui kalau Kichida itu diculik.


“Bagaimana dengan laporan untuk kepolisian? Apa kalian tidak perlu melakukannya.”


“Oh kalau untuk itu, kami akan melakukannya lusa di rumahku Om.”


Ucap Maul kepada bapaknya Kichida.


“Kenapa harus dirumahmu?”


“Karena bapakku yang menangani kasus ini secara langsung, jadi yang membuat laporan tentang hal ini adalah bapakku. Dan bapakku lebih nyaman bertanya tentang hal ini ketika di rumah, apalagi dia tau kalau yang ditanyai itu adalah teman-teman dari anaknya.”


Bapaknya Miyuki pun menghela nafas ketika mendengar hal itu.


“Apa kalian bertiga memang senang untuk terlibat dengan sesuatu yang berbahaya seperti itu?”


“Aku sebenarnya juga tidak mau melakukan hal ini atau terlibat karena ini terlalu berisiko untuk anak seumuranku Om.”


Begitu jawabanku kepadanya.


“Kalau begitu kenapa kalian masih melakukannya, bukannya lebih baik kalian menyerahkan hal ini kepada kepolisian.”


Memang banyak orang yang berkata seperti itu, dan menurutku mereka tidak salah ketika mengatakan hal itu.


“Aku bisa saja melakukan hal itu, tapi tidak ketika teman kami yang terlibat dalam hal itu. Kalau kami tidak ada di sana, mungkin Kichida sudah dibawa pergi oleh seseorang yang memenangkan pelelangan itu.”


Karena kalau dilihat dari apa yang terjadi di lapangan, hanya ada satu orang saja yang bersih keras untuk memenangkan Kichida.


“Mungkin kau benar Mar... Kalau begitu, kalian semua istirahat saja terlebih dahulu. Tante sudah menyiapkan kalian kamar tamu untuk kalian beristirahat.”


Akhirnya sesi tanya jawab ini selesai dan waktunya aku tidur.


Aku pun melihat ke arah jam tanganku dan ternyata sebentar lagi waktu subuh.


Lebih baik aku salat subuh terlebih dahulu abis itu aku baru tidur.


“Oh iya Mul, apa yang kau lakukan dengan aplikasi pelelangan itu? Kenapa aku bisa memasang harga tanpa peduli dengan nominalnya?”


Aku mengingat sesuatu yang terus-terusan menghantuiku dengan rasa penasaran itu. Karena aku sama sekali tidak mengetahui apa yang dia lakukan waktu itu dan dia tidak menjelaskannya kepadaku secara detail.


“Aku melakukan carding.”


“Bukankah itu tindakan kriminal.”


“Kalau yang aku lakukan di aplikasi itu tidak termasuk kriminal.”


“Hah!?”


Aku menjadi bingung dengan apa yang dikatakan oleh Maul. Tentu saja kalau sudah berkaitan dengan yang namanya carding sudah pasti kriminal karena kita mencuri uang orang lain secara ilegal.


“Aku melakukan carding ke semua kartu debit dari peserta yang mengikuti pelelangan itu. Karena semua ponsel peserta terhubung ke satu jaringan yang sama, hal itu yang membuat aku dapat melihat semua nomor rekening mereka. Dengan begitu, aku dapat melakukan carding dengan mudah.”


Ternyata dia bisa melakukan hal itu...


Aku bahkan tidak tau kalau dari jaringan saja bisa dapat melihat informasi dari kartu debit yang tercantum di dalam aplikasi itu.


“Untung saja kau bertindak cepat Mul. Kalau tidak, mungkin aku sudah menggunakan kartu debitku sendiri.”


“Memangnya kartu debitmu memiliki uang yang cukup? Untuk perempuan pertama saja dibuka dari harga lima ratus juta.”


Memang benar aku tidak memiliki uang sebanyak itu, tapi mau bagaimana lagi. Namanya juga usaha.


“Bagaimana dengan keadaan korban penculikan yang lain dan juga yang sebelum-sebelumnya?”


Riki bertanya hal itu kepada Maul.


“Kalau untuk itu kau tenang saja Rik, aku sudah mendapatkan semua data dari orang yang pernah mengikuti acara itu dan sudah memberikannya kepada bapakku. Mungkin selama seminggu ke depan bapakku akan sibuk membebaskan korban lainnya.”


“Bagaimana jika data diri mereka palsu seperti yang kau lakukan dengan data diriku?”


“Itu tidak mungkin, karena data diri mereka harus sama dengan data diri di rekening mereka masing-masing untuk mengikuti acara pelalangan itu. Jadi aku melakukan sedikit trik agar bisa memalsukan data diri kau Mar.”


Pantas saja Pak Galuh tidak ada henti-hentinya memujinya, memang kerjanya dia sangat cepat dan selalu mengagumkan. Aku bersyukur Maul adalah teman baikku, kalau menjadi musuh dia akan sangat menakutkan sekali.


“Aku suka sekali punya teman hebat sepertimu Mul.”


“Bagaimana denganku Mar?”


Riki sepertinya juga mau dipuji seperti Maul.


“Kau juga Rik... Kalau kau tidak ada di sana, Aku mungkin tidak akan merasa aman sama sekali.”


Riki tersenyum mendengar hal itu.


“Kalian semua memang anak-anak yang aneh.”


Ucap bapaknya Miyuki kepada kami.


Azan subuh pun berkumandang dan kami langsung pergi ke mushala yang ada di dekat sana untuk menunaikan salat subuh. Lalu setelah salat subuh, kami langsung pergi ke kamar tamu untuk tidur di sana.


Tubuhku yang sebelumnya kaku dan lelah akhirnya terbayarkan dengan tidur di sebuah kasur yang sangat empuk.


Seperti yang aku harapkan dari kasurnya orang kaya.


-End Chapter 143-

__ADS_1


__ADS_2