Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 80 : Aku Merasakan Kalau Kepalaku Sedikit Berasap!


__ADS_3

“Mari kita mulai memilih karyawan barunya.”


Pak Hari membagikan CV dari pelamar yang sudah dikirimkan melalui email.


Saat ini aku sudah berada di ruang rapat yang keadaannya sudah berbeda dibandingkan sebelumnya. Ruang rapat kali ini sudah ada meja dan kursi untuk kami duduk. Aku juga melihat Maul yang sangat senang bisa bersandar di kursi ketika rapat.


“Akhirnya aku bisa merasakan ruang rapat yang sesungguhnya.”


Maul pun meletakan kepalanya di atas meja dan sesekali memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


“Apa hanya ini yang selama ini kau inginkan?”


“Masalah buatmu? Aku belum pernah merasakan yang namanya ruang rapat.”


Maul memandang sinis ke arahku.


“Cita-citamu aneh sekali.”


Memang ruangan ini sangat berbeda sekali saat pertama kali kita datang ke sini untuk rapat. Pertama kali kita ke sini isi ruangan ini hanya ada tikar saja, itu pun dibawa oleh Pak Hari dari rumahnya. Untungnya waktu itu pendingin ruangannya masih bekerja, kalau tidak mungkin kami sudah rapat dengan menggunakan kipas angin juga.


Kami pun mulai melihat-lihat siapa saja orang yang ingin melamar di perusahaan Comic Universe.


“Apa yang harus aku lakukan? Ini pertama kalinya aku melakukan hal ini.”


“Aku juga.”


Aku dan Maul sama sekali tidak tau bagaimana caranya memilih karyawan baru yang baik dan benar. Itu tentu saja karena kita adalah seorang pelajar dan tidak pernah melakukan hal-hal yang dilakukan seorang pemilik perusahaan.


“Tentu saja untuk memilih orang-orang yang nantinya akan menjadi bawahan kalian.”


“Bawahan ya...”


Dari dulu aku tidak pernah mau menjadi seorang pemimpin karena menurutku itu terlalu merepotkan. Aku lebih suka menyuruh orang menjadi pemimpin dan membantunya jika dia memerlukan bantuan dariku, tapi aku hanya membantunya dari ide saja bukan tenaga.


“Aku sudah membagi CVnya sesuai dengan devisi yang kalian miliki. Aku sudah menyerahkan untuk orang-orang yang ingin menjadi editor kepada Amar dan yang menjadi programer kepada Maul.”


“Lalu apa yang harus aku lakukan untuk memilih orang-orang dari banyaknya pelamar ini? Aku sama sekali tidak berpengalaman dalam hal ini.”’


“Demikian juga denganku.”


“Pilihlah CV yang menurut perasaan kalian bagus.”


Hah! Memilih hal sepenting ini dengan menggunakan perasaan? Mungkin Miyuki dan Rina ahli dalam hal ini, tapi aku bukanlah orang yang pintar dalam menggunakan perasaan. Kalau menggunakan teori dan logika, itu adalah keahlianku.


“Apa tidak masalah memilih para pekerja dengan menggunakan perasaan?”


“Kau tenang saja Mar, ini hanyalah seleksi awal. Setelah ada beberapa CV yang sudah kalian pilih nanti akan ada seleksi lanjutan untuk memanggil orang yang terpilih itu ke kantor untuk wawancara. Kalau bagian wawancaranya biar aku dan Febri yang mengurusnya.”


Untungnya aku tidak juga melakukan hal merepotkan itu. Kalau hanya memilih seleksi awal sepertinya tidak masalah, aku masih bisa melakukannya.


“Kalau kalian masih bingung harus melihat apa. Pertama lihatlah pengalaman kerjanya saja, karena semakin lama dia bekerja di bidang yang dia kuasai kemungkinan besar dia sudah ahli dalam hal itu. Kalian tidak perlu terpaku dengan lulusan mereka, karena kita mencari pengalaman dan kemampuan. Selama kemampuan mereka bisa bersaing dengan yang lainnya, mau lulusan manapun itu tidak menjadi masalah.”


Jadi begitu, kemampuan dan pengalaman kah.


Aku pun mulai memilih CV yang berada di depanku, banyak sekali CV di sana untuk ku pilih. Aku pun memilih para pelamar sesuai dengan arahan dari Pak Hari. Ada berbagai macam orang yang melamar.


Tetap saja ini masih sulit untukku.


Aku pun melihat Maul yang terlihat sudah terbiasa memilih-milih CV bagiannya.


“Bagaimana? Kau tidak merasa keberatan dengan hal ini.”


Aku berbisik kepada Maul yang sedang serius memilih-milih CV.


“Bukannya Pak Hari sudah memberitahunya tadi, itu mudah sekali Mar.”


“Yah.. Sepertinya kau benar.”


“Bagian apa yang sedang bapak pilih?”


Aku bertanya kepada Pak Febri yang sedang memilih-milih CV juga.


“Aku sedang memilih untuk bagian sekertaris, keuangan, dan hal-hal administrasi lainnya.”


“Sekertaris!?”


Maul langsung bersemangat ketika mendengar hal itu.


“Ada apa dengan sekertaris?”


Aku hanya tau kalau sekertaris itu adalah orang yang pekerjaannya selalu menulis. Ya.. Karena aku hanya tau sekertaris yang ada di kelas.


“Biasanya bagian sekertaris diisi oleh perempuan cantik yang akan menemani para atasan. Apakah aku akan mendapatkan seorang sekertaris juga?”


Maul langsung melihat ke arah Pak Hari.


“Hahahaha... Tentu saja tidak, sekertaris hanya untukku dan juga Febri saja. Masih terlalu dini bagi kalian mendapatkan seorang sekertaris.”


“Sayang sekali.”


Maul yang kecewa langsung kembali memilih CV lagi.


“Sepertinya aku tidak memerlukan seorang sekertaris.”


“Kanapa Bri?”


“Setelah karyawannya sudah banyak yang mengisi bagian-bagian penting, aku mau fokus terlebih dahulu untuk mengajar di sekolah. Jadi sepertinya setelah ini aku ingin berhenti untuk sementara.”

__ADS_1


“Berhenti!? Memangnya kau tidak mau mengerjakan dua pekerjaan sekaligus? Pekerjaanmu di sini kan tidak terlalu memberatkanmu.”


“Iya, aku mau memfokuskan diriku untuk mengajar terlebih dahulu. Tapi aku hanya sementara saja berhenti di sini, nanti aku akan kembali bekerja di sini setelah berhenti mengajar di sekolah.”


Pak Febri mau berhenti mengajar? Kenapa?


“Kenapa bapak mau berhenti mengajar? Apa ada sesuatu yang mengganggu bapak di sekolah?”


“Tidak, sebenarnya aku sudah merencanakan hal ini dari tahun lalu. Tapi karena tahun ini aku ditunjuk untuk menjadi wali kelas dan wali kelas itu harus menemani kelas yang mereka bimbing sampai kelas mereka lulus, jadi aku harus menunggu sampai anak didikku lulu semua baru aku keluar.”


Oh jadi karena itu, aku kira dia mendapatkan perlakukan yang tidak layak oleh seseorang di sekolah. Tapi siapa yang berani melakukan itu kepada Pak Febri mengingat dia orang yang ramah dan dekat dengan murid-murid. Dia juga tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi di sekolah.


“Baiklah kalau begitu, aku akan mengosongkan posisimu sampai kau kembali.”


“Aku menitipkan Amar dan Maul kepadamu Ri. Aku rasa mereka berdua sudah cukup untuk menutupi kekurangan setelah aku keluar.”


“Apakah kalian siap? Mar?... Mul?”


“Siap!”


Jawab kami dengan kompak.


Berarti tanggung jawabku akan semakin bertambah lagi. Yah kalau setidaknya aku mendapatkan bonus dari hal itu, aku rasa tidak masalah.


Aku pun mulai menyeleksi CV itu sesuai dengan pengalaman dan kemampuan mereka. Memang ini terasa berat sekali karena penghasilan seseorang sedang ada di tanganku sekarang. Bagaimana jika aku menolak seseorang yang sekarang sedang membutuhkan pekerjaan dan ini adalah satu-satunya kesempatan dia untuk bekerja, bagaimana jika ada seseorang yang butuh penghasilan untuk membiayai keluarganya yang sekarang sedang sakit.


Tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan. Aku harus tenang dalam hal ini... Kalau hal seperti ini saja tidak bisa aku lalui bagaimana nanti jika ada masalah lagi ke depannya.


Kalau memang menjadi tidak peduli adalah satu-satunya cara agar bisa menjalankan hal ini, maka akan aku lakukan itu.


...


Tiga puluh menit kemudian.


“Terima kasih atas kerja keras kalian.”


Pak Hari merapihkan dan memisahkan antara CV yang akan lanjut ke seleksi selanjutnya dan juga CV yang tidak lolos seleksi.


“Akhirnya selesai juga!”


Aku pun bersandar di bangku yang aku duduki dan melihat ke langit-langit. Aku pun mencoba untuk memejamkan mataku untuk beristirahat sejenak.


Aku melihat sebuah proyektor yang menggantung di langit-langit ruang rapat itu.


“Baiklah sekarang kita mulai membahas tentang perkembangan aplikasi dari Comic Universe!”


Hah! Sudah mulai lagi? Baru saja kita selesai dan sudah memulai yang lain.


“Maul! Berapa jumlah pengunduh Comic Universe saat ini.”


“Sampai dengan kemarin malam, jumlah pengunduh dari aplikasi Comic Universe sudah mencapai seratus lima puluh ribu, aku membulatkan jumlahnya agar mudah ketika menyebutkan. Dan inilah grafik dari jumlah pengunduh Comic Univers dari perilisan aplikasi sampai kemarin malam.”


Pak Hari mematikan lampu di ruangan itu dan menyalakan proyektornya. Maul pun menampilkan grafik dari jumlah pengunduh dari Comic Universe.


“Kalau bisa dilihat, belum ada penurunan dari jumlah pengunduh sejak perilisan aplikasi.”


Maul pun menjelaskan setiap data yang sedang dia tampilkan.


Kalau aku lihat dari grafik itu, memang grafik itu terus naik dan tidak ada penurunan sama sekali.


“Apakah jumlah seratus lima puluh ribu itu termasuk banyak?”


Tanyaku kepada Maul.


“Untuk ukuran aplikasi yang baru saja keluar, itu sudah termasuk banyak.”


“Lalu bagaimana tanggapan orang-orang tentang aplikasi ini?”


“Rata-rata semua orang memandang baik aplikasi ini, cuman ada beberapa keluhan dari para pembaca kalau ada beberapa komik yang tidak bisa mereka lihat dan mereka unduh, selain itu server yang kita punya terlalu kecil untuk menampung pembaca yang semakin hari semakin bertambah.”


Maul pun menampilkan data lainnya untuk menjawab pertanyaan dari Pak Hari.


“Berapa lama kau bisa memperbaiki hal itu Mul?”


“Dengan bantuan dari pekerja magang saat ini, mungkin aku bisa menyelesaikannya dalam waktu dua hari.”


“Bagus, kalau begitu. Lalu bagaimana perkembangan komik dari para komikus dan pembaca Mar?”


Pak Hari pun menyalakan lampunya kembali dan mematikan proyektor.


“Para pembaca meminta kita untuk menambahkan beberapa aliran agar alur cerita yang ada di Comic Universe tidak terlalu monoton dan bervariasi, selain itu adanya quality control dari resolusi di dalam komik juga diperlukan agar memuaskan para pembaca.”


“Kalau begitu sekalian kau lakukan apa yang tadi Amar katakan saat melakukan pembaharuan aplikasi Mul.”


“Siap.”


“Selanjutnya kita akan membahas tentang pembukuan komik yang sudah banyak babnya di aplikasi.”


Pak Hari mulai melanjutkan pembahasannya ke topik selanjutnya.


“Pertanyaanku sekarang apakah hal itu akan laku? Soalnya orang pasti lebih cenderung membaca di aplikasi karena gratis dibandingkan membeli komik dalam versi buku.”


Pak Febri menanyakan hal itu.


“Memang kebanyakan orang Indonesia lebih memilih gratis dibandingkan berbayar, tapi aku yakin kalau masih banyak orang yang diluar sana yang menyukai jika membacanya dalam versi buku.”


“Aku setuju dengan Pak Hari, ada beberapa dari temanku juga yang menyukai membaca dalam bentuk buku dibandingkan versi digitalnya.”

__ADS_1


Sebenarnya teman yang aku maksud itu hanya Miyuki.


“Kalau begitu untuk percobaan pertama lebih baik kita akan membuat komik yang saat itu sedang menjadi rekomendasi para pembaca untuk dicetak, namun sebelum dicetak kita beritakan hal ini di media sosial terlebih dahulu untuk melihat tanggapan dari para pembaca.”


Pak Febri mengusulkan hal itu.


“Oh iya, kita juga memerlukan tim untuk di media sosial.”


“Memangnya siapa yang sebelumnya memegang akun media sosial?”


Tanyaku kepada Pak Hari.


“Febri yang memegangnya.”


“Kalau begitu biar aku saja yang mengurus hal itu, untuk saat ini kita fokus dengan perkembangan aplikasinya dulu.”


“Baiklah, selanjutnya kita akan membahas tentang konten berbayar di dalam aplikasinya. Bagaimana pendapat kalian?”


Pak Hari mulai melanjutkannya ke topik lainnya. Sepertinya rapat kali ini jauh lebih panjang dibandingkan rapat-rapat sebelumnya.


“Memangnya untuk apa konten berbayar?”


“Kalau di aplikasi Korea, mereka menggunakannya agar para pembaca bisa membaca komik sebelum tanggal rilisnya.”


“Hebat sekali mereka bisa menggunakan rasa penasaran dari para pembaca sebagai sumber uang.”


Karena aku tau rasanya ketika kalian sedang membaca buku atau menonton film dan ternyata cerita dari buku yang kalian baca atau adegan dari film yang kalian tonton berhenti di saat-saat yang menegangkan dan membuat kalian penasaran bagaimana kelanjutan dari cerita tersebut. Dan di aplikasi itu muncullah konten berbayar untuk melihat komik lebih cepat dari orang lain.


“Kita harus memiliki ide yang berbeda.”


Pak Hari pun mencoba berpikir dan mencari ide yang berbeda menurutnya.


“Bagaimana keuntungan dari konten berbayar itu?”


Tanya Pak Febri dengan wajah serius karena memikirkan sesuatu.


“Sepertinya sebagian besar akan diberikan kepada para komikus dan kita hanya dapat sedikitnya saja. Aku pernah mencoba menghitungnya dulu, paling kita hanya mendapat tiga puluh persen saja.”


Berarti dia memang niat untuk membuat konten berbayar.


“Itu cara yang bagus untuk membuat para komikus betah di aplikasi kita.”


“Bagaimana dengan sistem tip?”


Aku pun mencoba mengusulkan sebuah ide.


“Sistem tip?”


“Seperti memberikan apresiasi kepada para komikus.”


“Apa itu berhasil?”


“Di gim yang aku mainkan ada fitur seperti itu dan banyak yang menggunakannya.”


“Ah aku ada ide!”


Aku seperti melihat sebuah lampu menyala di atas kepada Pak Febri.


“Apa itu?”


Kami semua pun memperhatikan untuk menyimak ide dari Pak Febri.


“Bagaimana jika fitur berbayar itu akan kita gunakan untuk para komikus yang ingin membuat episode atau chapter spesial yang tidak ada hubungannya dengan alur utama. Jadi fitur berbayar itu akan bersifat opsional dan kita serahkan kepada para komikus, apa mereka mau menggunakannya atau tidak.”


“Aku rasa itu ide yang bagus.”


“Bagaimana kalau dicoba saja terlebih dahulu nanti tinggal kita lihat tanggapan dari para pembaca.”


Usul Maul.


“Berarti kita sudah mendapatkan beberapa poin penting dari rapat kali ini. Pertama adalah karyawan yang sepertinya minggu depan baru bekerja, lalu perbaikan aplikasi dengan menambahkan beberapa aliran dan resolusi di dalam aplikasinya, pembentukan tim media sosial, pembukuan dari serial yang terkenal, dan terakhir adalah fitur berbayar. Mungkin kita akan menerapkannya satu per satu terlebih dahulu selagi melihat tanggapan dari para


pembaca.”


Pak Hari merangkum semua pembahasan dari rapat kali ini menjadi satu.


“Kalau begitu rapat hari ini saya tutup! Terima kasih atas kerja kerasnya.”


Huh selesai juga.


Aku pun bersandar di kursiku dan memejamkan mataku untuk sedikit mengistirahatkan kepalaku, karena aku merasa kalau kepalaku sedikit pusing.


“Apakah kau kelelahan setelah rapat ini Mar?”


Pak Febri bertanya kepadaku yang sedang memejamkan mataku.


“Tentu saja, aku tidak tau kalau dipekerjaan seperti ini banyak sekali rapatnya.”


“Asal kau tau, rapat di sekolah lebih melelahkan dibandingkan ini.”


“Aku tidak mau mendengar hal itu.”


Karena aku sudah merasa kalau ini sangat melelahkan, bagaimana jika aku memikirkan hal yang lebih melelahkan dibandingkan yang ini.


Sudahlah.. Lebih baik aku mengistirahatkan kepalaku terlebih dahulu.


-End Chapter 80-

__ADS_1


__ADS_2