
“BANGUN! BANGUN! BANGUN!”
Terdengar suara teriakan para anggota OSIS dari luar tendaku.
“HUaah... Apakah sudah waktunya?”
Riki langsung terbangun ketika mendengar teriakan itu.
“Entahlah.”
Aku pun duduk terlebih dahulu sambil mengumpulkan kesadaranku.
Ahh... Perih sekali rasanya untuk membuka mataku, sekarang jam berapa memangnya?
Aku melihat ke arah ponselku dan ternyata sekarang sudah pukul dua pagi.
“Mar, ini minum dulu.”
Riki memberikan air minum kepadaku.
Setelah semua kesadaran telah terkumpul, kami pun langsung pergi ke lapangan untuk berbaris bersama kelompok yang lainnya. Ketika kami keluar dari tenda kami, sudah banyak kelompok yang berbaris di sana. Hebat sekali mereka dapat mengumpulkan kesadaran secepat itu.
“Selamat pagi semuanya... Sebentar lagi kalian akan mengikuti acara jurit malam. Setiap kelompok diharuskan pergi ke lima pos yang sudah tersebar di beberapa titik. Berbeda saat acara mencari jejak, kali ini kalian akan diberitahu letak dari masing-masing pos di pos yang kalian datangi sebelumnya... Baiklah tanpa berlama-lama lagi,
dimulai dari kelompok satu. Silahkan jalan ke pos satu yang ada di sana.”
Kak Alvin memberitahu kepada semua kelompok tentang acara jurit malam ini.
“Aku tidak sabar sekali ingin segera pergi.”
“Kau ini Rik! Baru saja bangun sudah bersemangat seperti ini.”
Aku melihat Riki yang sangat antusias dengan acara ini. Aku pun melihat ke arah semua orang yang ada di kelompokku dan ternyata bukan hanya aku saja yang masih mengantuk saat itu, tapi semuanya juga ternyata masih mengantuk, hanya Riki saja yang terlihat bersemangat. Mungkin karena kemarin malam kami baru tidur jam sebelas malam, karena hal itu yang membuat kami masih mengantuk hingga saat ini. Tidur tiga jam tidak bisa dikatakan cukup setelah seharian beraktifitas di luar ruangan.
“Kira-kira apa yang menunggu kita di depan nanti ya?”
“Aku tidak tau Mul... Lagi pula sebenarnya buat apa acara jurit malam ini?”
Aku bertanya balik kepada Maul.
“Tentu saja untuk membentuk sikap pemimpin dalam diri kita. Begitu saja kau tidak tau.”
“Apakah hal seperti itu harus dilakukan saat dini hari seperti ini?”
“Kalau untuk itu aku juga tidak tau.”
Maul tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan untukku.
“Apa nanti ada kakak OSIS yang menyamar jadi hantu ya?”
Akbar yang kelihatannya sudah tidak mengantuk lagi, sekarang menjadi antusias sama seperti Riki. Sudah kubilang sebelumnya, Akbar itu memiliki sifat yang hampir sama dengan Riki.
“Kau ini Bar, jangan berkata hal sembarangan seperti itu.”
Rian memperingati Akbar, sepertinya dia ketakutan dengan acara seperti ini.
Penerangan yang minim, banyaknya pohon besar yang harus kita lewati, dan beberapa cerita hantu yang meleganda di tempat ini. Aku rasa tidak masalah jika kau ketakutan.
“Karena kau aku jadi ingat sesuatu.”
“Apa itu Mul?”
Sekarang perhatian semua anak laki-laki di kelompokku terfokus kepada Maul.
“Dulu aku pernah mendengar cerita dari temanku saat LDKS di sini. Katanya dia pernah bertemu dengan hantu sungguhan di saat seperti ini.”
“Mul! Kau hanya memperkeruh keadaan saja. Seharusnya di saat seperti ini kita memikirkan sesuatu yang menyenangkan agar kita terhindar dari hal seperti itu.”
Karena takut mendengar cerita dari Maul, Rian pun memarahi Maul.
“Maaf.. Maaf..”
Maul sedikit tertawa kecil karena melihat Rian yang ketakutan. Aku yakin kalau cerita yang baru saja dia katakan adalah bohongan saja.
Aku pun melihat Miyuki yang diam tidak bersuara sama sekali. Aku melihatnya yang sedang memeluk lengannya Rina.
“Kenapa dia?”
Aku bertanya kepada Rina untuk menanyakan hal itu.
“Sepertinya dia sedikit takut dengan hal seperti ini.”
“Memangnya kau tidak pernah mengikuti acara seperti ini Miyuki?”
Maul langsung bertanya kepada Miyuki
“Aku tidak pernah mau berurusan atau ikut-ikutan hal semacam ini. Saat diajak untuk mengikuti acara uji nyali atau masuk ke rumah hantu. Aku selalu menolaknya.”
“Payah sekali!”
“Kamu sendiri memangnya tidak takut Mar?”
“Tidak.”
“Aku yakin kamu hanya berpura-pura kuat saja padahal sendirinya ketakutan.”
Miyuki berusaha untuk menemukan titik lemahku.
“Itu tidak mungkin Miyuki... Orang yang sering main melewati kuburan tidak mungkin takut dengan hal seperti ini.”
“Yang benar!?”
“Apa itu benar Mar!?”
__ADS_1
Berkat perkataan dari Maul membuat Yoshida dan Rina menjadi terkejut.
“Rumahku memang dekat dengan kuburan dan kalau aku ingin pergi main ke warnet ketika malam hari, aku harus melewati kuburan itu.”
“Apa kamu tidak takut Mar ketika lewat situ?”
Yoshida bertanya kepadaku.
“Pertama-tama aku sedikit takut karena minimnya penerangan dan jarang sekali ada orang yang lewat sana. Tapi karena sudah sering lewat situ, jadi aku sudah terbiasa.”
“Mar... Beritahu mereka cerita yang waktu itu pernah kamu ceritakan kepadaku dan juga Riki.”
Aku tau apa maksud Maul menyuruhku seperti itu. Dia memang usil kalau sedang ada kesempatan seperti ini.
“Ohh yang itu.”
“Cerita apa Ar?”
Rina terlihat penasaran dengan cerita yang dimaksud Maul. Aku pun sedikit tersenyum jahat. Sepertinya tidak apa melakukan ini sekali-kali.
“Jadi dulu aku pernah mengalami suatu kejadian ketika pulang setelah main dari warnet. Saat itu waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam ketika aku sedang melewati kuburan itu. Ketika aku sedang melewatinya, aku mendengar ada suara perempuan memanggil namaku dari belakang. Aku pun memberanikan diri untuk menengoknya tapi tidak ada apa-apa di sana. Aku pun melanjutkan untuk berjalan dan terdengar lagi suara itu. Namun kali ini ketika aku menengok, ada sesosok bayangan putih tepat dibelakangku. Sontak aku pun langsung berlari sekencang-kencangnya menuju ke rumah. Untung saja dia tidak mengikutiku.”
Ketika aku menyelesaikan cerita itu, semua anak perempuan yang berada di sana terlihat ketakutan mendengar
cerita dariku kecuali Iriana.
“Itu beneran Ar?”
“Tentu saja, buat apa aku berbohong.”
“Kamu bodoh Mar, buat apa bercerita hal seperti itu di saat seperti ini.”
Miyuki memarahiku dan sekarang dia semakin ketakutan berkat ceritaku. Aku hanya tertawa melihat sikap Miyuki yang seperti itu. Aku baru melihat sikapnya yang seperti ini. Ketika di Gunung Prau dia terlihat biasa saja, padahal keadaanya tidak jauh berbeda dengan sekarang. Tapi memang kalau boleh diakui, suasana di Jambore terkesan
lebih menyeramkan dibandingkan sunrise camp dari Gunung Prau.
“Buat apa kau takut di saat seperti ini, sekarang kan banyak sekali orang yang berada di lapangan.”
“Aku hanya sedang memikirkan apa saja yang sedang menanti kita saat berjalan menuju ke masing-masing pos. Dasar bodoh!”
“Tenang saja Miyuki, aku akan menyuruh para perempuan untuk berada di tengah sedangkan laki-laki berada di depan dan belakang. Dengan begitu kau tidak usah takut lagi.”
Riki berusaha untuk menenangkan Miyuki.
“Siapa yang akan berada di belakang?”
“Tentu saja kau dengan Akbar.”
“Tidak.. Tidak..Tidak, kenapa harus aku yang berada di belakang.”
Maul tidak mau kalau berada di belakang, sepertinya dia juga takut dengan hal seperti ini. Kalau begitu buat apa kau mengusili mereka kalau kau sendiri juga takut Mul.
“Apa kau takut?”
Usaha Riki dalam memanas-manasi Maul berhasil dan dia pun menerima hal itu begitu saja.
Akhirnya tiba pun kelompok kami untuk pergi ke pos pertama. Kami pun pergi ke sana dengan posisi yang dikatakan Riki barusan. Masing-masing dari kami membawa satu senter untuk kami gunakan sebagai penerangan kami.
“Ternyata Jambore kalau malam hari seram juga ya?”
Aku berkata kepada Riki yang berjalan tepat di sampingku. Aku dan Riki berjalan paling depan untuk menunjukkan jalan kepada semuanya.
“Memangnya kau tidak pernah pergi ke Jambore saat malam hari seperti ini?”
“Tidak pernah, waktu SD dan SMP ketika sedang ada acara persami, aku selalu bolos dan tidak pernah mengikuti kegiatan itu.”
“Pantas saja, kalau di gunung kita tidak mungkin bercerita horor seperti tadi.”
“Tentu saja... Aku berani bercerita seperti itu karena mengetahui kalau di sini MUNGKIN tidak seseram di gunung.”
Mungkin saja kan, walaupun banyak sekali pohon dan terlihat layaknya hutan tapi masih banyak perumahan warga yang ada di dalamnya dan akses ke jalan besar juga tidak terlalu jauh dari sini.
Kami pun sampai di pos pertama. Di sana kami hanya diberitahu masing-masing nama dari pos tersebut, dan seperti informasi yang diberikan oleh Kak Alvin, pos keempat bernama pos solidaritas.
“Informasi yang diberikan Kak Alvin ternyata benar.”
Aku berbisik kepada Riki.
“Kalau begitu kita akan melakukan rencana seperti yang kau susun itu.”
“Ok.”
Setelah menunggu lima menit lamanya, kami pun berjalan menuju ke pos selanjutnya. Saat sedang di perjalanan, Rian tiba-tiba mendekat ke arahku dan berbisik kepadaku dan juga Riki.
“Sebentar lagi bukannya kita mau melewati kamar mandi yang terkenal itu?”
“Memangnya di sana ada apa?”
“Kau memangnya tidak tau kisah dari kamar mandi itu Mar? Itu kisah sangat terkenal untuk orang yang tinggal di sini.”
Riki terkejut melihatku yang tidak tau apa-apa tentang cerita itu.
“Aku tidak tau dan juga tidak mau tau.”
“Kamar mandi yang akan kita lewati itu terkenal akan keangkerannya. Bahkan banyak sekali orang yang melihat hantu ketika melewati kamar mandi itu.”
Riki berbisik memberitahuku agar yang lain tidak juga mendengarnya. Karena Riki yakin kalau ada beberapa di antara perempuan yang tidak mengetahui kisah ini juga.
“Kau tidak bercanda kan Rik?”
“Tidak, aku sering mendengar hal ini dari teman-temanku.”
“Ini tidaklah lucu.”
__ADS_1
“Apa kau takut?”
Riki sekarang mencoba untuk meledekku.
“Tidak mungkin aku takut dengan sesuatu yang tidak logis seperti ini. Walaupun aku pernah bertemu dengan hal seperti itu, aku hanya mengira kalau itu hanya pikiranku yang sedang kacau karena kelelahan saja.”
“Kau benar juga.”
Hingga kami pun melintasi kamar mandi yang dikatakan itu. Suasana di sana tiba-tiba menjadi tegang dan hening, tidak ada satu pun suara yang terdengar di sana. Suara jangkrik yang sebelumnya menemani perjalanan kami tiba-tiba menghilang. Kemudian angin pun berhembus yang membuat dahan-dahan pohon yang berada di sekitar kami bergesekkan dan menghasilkan suara yang begitu menyeramkan.
“Ada apa Yan?”
Aku melihat Rian yang memegang belakang lehernya.
“Entah kenapa bulu kudukku berdiri.”
“Tenanglah, aku rasa itu karena dari tadi kau mendengar cerita seram. Kalau pikiranmu sudah tenang, aku rasa itu akan kembali seperti biasanya.”
“Amar...”
Tiba-tiba terdengar suara perempuan memanggil namaku. Tapi aku merasa kalau suara ini sangatlah tidak asing untukku. Suaranya sangat berbeda dengan suara yang aku dengar ketika dekat kuburan. Kalau waktu itu suaranya seperti perempuan dewasa, kalau kali ini suaranya seperti anak kecil. Mungkin umurnya kisaran delapan sampai sepuluh tahun.
Setelah mendengar suara itu membuat bulu kudukku pun juga berdiri. Aku pun berusaha untuk menenangkan pikiranku dengan mengira kalau suara itu berasal dari kakak OSIS yang berjaga di sini untuk menakut-nakuti murid yang melintas.
Itu bisa saja... Semoga saja.
Kemudian bulu kudukku pun menjadi berdiri lagi setelah mengingat perkataan Kak Alvin yang mengatakan kalau tidak ada anggota OSIS yang tersebar untuk menakut-nakuti kelompok yang lewat.
Saat itu aku sadar kalau Riki diam saja tidak mengatakan apapun. Karena suasana saat ini sedang menakutkan. Aku pun memutuskan untuk diam terlebih dahulu sampai melewati tempat ini.
Setelah melewati kamar mandi itu, suasana yang menegangkan pun menghilang dan berubah menjadi suasana yang biasanya.
“Hei Mar... Apa tadi kau mendengar ada seseorang yang memanggil namaku?”
Riki berbisik kepadaku dan membuatku sedikit terkejut mendengarnya.
“Aku tidak mendengarnya sama sekali, malahan yang aku dengar adalah seseorang yang memanggil namaku.”
“Seperti apa suaranya.”
“Seperti seorang anak kecil perempuan.”
Riki pun menjadi tegang setelah mendengar perkataan dariku.
“Mungkin saja suara yang baru saja kau dengan itu sama dengan suara yang baru saja aku dengar.”
Kami berdua pun saling melihat satu dengan yang lainnya. Kami sama sekali tidak tau kalau hal seperti ini akan terjadi. Apa ini karena aku menceritakan cerita horor tadi? Ahh.. Itu bisa saja.
“Kalian berdua kenapa dari tadi diam saja?”
Rian yang menyadari hal itu pun menegur kami berdua.
“Tidak ada apa-apa kok, aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja. Iya kan Mar?”
Riki berusaha untuk menyembunyikannya dari Rian.
“Iya, tidak ada apa-apa.”
Aku pun melihat ke arah Miyuki yang berada di belakang Rian. Dia masih terlihat sangat ketakutan sekali, bahkan dia memegang lengan Rina dengan sangat kuat. Kemudian perhatianku pun teralihkan dengan seorang perempuan yang berjalan tepat di samping Maul yang berada paling belakang.
Tunggu? Siapa yang berada di samping Maul? Bukannya para perempuan seharusnya berada di tengah.
Aku pun memutuskan menghitung jumlah perempuan yang berada di kelompokku saat ini dalam hati, dan aku menemukan kalau jumlah perempuannya ada tujuh orang. Aku pun langsung mengingat-ingat siapa saja yang berada di kelompokku dan saat itu aku menyadari... Kalau kelompokku hanya ada enam perempuan saja.
Jangan-jangan dia....
Ketika aku memfokuskan pandanganku ke perempuan itu, dengan samar-samar aku melihat wajahnya yang tersenyum kepadaku. Aku dapat melihat hal itu karena cahaya senter milik Maul yang sedikit mengenai wajah dari perempuan itu.
Wahhh.... Kacau sekali!
Aku pun langsung berbalik badan dan memutuskan untuk diam. Aku melihat sesosok perempuan dengan wajah pucat dan bola matanya tidak ada sama sekali.
“Kau kenapa Mar? Kamar mandinya sudah lewat loh, masa masih takut.”
Riki menyadari sikapku yang tidak seperti biasanya langsung bertanya.
“Rik, berapa jumlah perempuan dalam kelompok kita?”
“Enam, memangnya kenapa?”
“Lalu yang disamping Maul itu siapa?”
“Haaa... Kau pasti mencoba untuk menakut-nakutiku ya?”
Riki mengira kalau aku berusaha untuk membuatnya takut.
“Coba saja kau lihat sendiri sana.”
Kemudian Riki pun menegok ke belakang untuk memastikannya dan dia langsung berbalik badan serta terdiam sama seperti yang aku lakukan barusan.
“Bagaimana?”
“...I-iya, di sana ada satu orang perempuan lagi.”
Riki terlihat panik sekali, aku baru pertama kali melihatnya seperti ini. Dan kami pun terus melanjutkan perjalanan kami dengan penuh ketegangan hingga sampai di pos ke dua.
Perjalanan dari pos dua menuju ke pos berikutnya tidaklah semenyeramkan ketika sedang melewati kamar mandi tadi. Tapi karena aku dan Riki sudah terlanjur ketakutan karena melihat sesosok makhluk tadi, kami pun tidak dapat berbicara banyak saat itu. Akhirnya setelah perjalanan yang panjang, kami pun sampai di pos empat.
“Selamat datang di pos empat.”
Kak Deni pun menyambut kedatangan kami semua. Dan aku tidak melihat siapapun bersama dengan Kak Deni di pos ini. Saat itu aku sama sekali tidak memikirkan tentang rencana terakhirku yang terpikirkan olehku saat itu adalah Kak Deni yang berani sekali berada di sini seorang diri.
Dan sebentar lagi, waktunya menyelesaikan semuanya.
__ADS_1
-End Chapter 47-