Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 67 : Begadang Mengejar Deadline.


__ADS_3

Di langit malam yang sedikit mendung, aku pun menyusuri jalanan yang sepi dengan menggunakan sepeda motorku. Sejauh mata memandang, aku tidak melihat sama sekali orang yang lewat di jalan tersebut. Aku pun mempercepat laju motorku karena dihatiku sudah timbul rasa takut akan sesuatu, bukan karena hantu ataupun setan melainkan manusia yang memiliki hati seperti setan.


Hahaha... Bagaimana baitku malam ini? Mungkin di setiap kali chapter, aku akan mulai menulis hal serupa untuk kedepannya sebelum memulai cerita. Tunggu... Aku rasa tidak usah, itu terlalu merepotkan.


Saat ini aku sedang menuju ke rumah Maul untuk menginap karena tenggang waktu yang diberikan oleh Pak Hari sudah mau habis, sedangkan aplikasi dan webnya masih ada beberapa hal lagi yang perlu kami kerjakan.


“Maul! Maul!”


Aku memanggil Maul dari luar rumahnya. Tidak lama kemudian, keluarlah seorang laki-laki berkacama tengan wajah pucat dan lusuh sekali. Aku rasa ini sudah mencapai batasnya.


“Mukamu pucat sekali? apa terjadi sesuatu?”


“Aku baru saja menyelesaikan aplikasinya kemarin. Ternyata pas aku periksa kembali, masih banyak bug yang ada di dalamnya. Sudahlah ayo masuk...”


Maul berkata dengan sangat lesu sekali.


Maul pun mengantarkanku ke kamarnya. Ketika aku sampai di kamarnya, keadaan kamarnya sangat berantakan sekali, bahkan aku tidak tau dimana aku harus duduk.


“Duduklah dimana pun kau mau, anggap saja rumahmu sendiri.”


Maul pun memberikan meja kecil kepadaku.


“Kalau ini rumahku tidak akan seberantakan ini.”


“Maaf, aku lupa merapihkan barang-barangku karena terlalu fokus dengan pekerjaan ini.”


Maul pun kembali ke depan komputernya dan melanjutkan membetulkan bug-bug yang ada di aplikasinya.


Aku pun merapihkan kamarnya Maul terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaanku. Karena aku tidak begitu suka melihat sesuatu berantakan selagi aku sedang bekerja. Bisa-bisa konsentrasiku terganggu karena hal itu.


“Aku martabak telur untuk kita santap, kalau kau mau ambil saja.”


Aku pun mulai membuka laptopku dan mengerjakan pekerjaanku. Hari ini aku berniat untuk menyelesaikan web desain untuk aplikasinya nanti. Nama aplikasi membaca komik yang kami buat bernama Comic Universe. Seperti yang kalian tau, nama itu adalah nama Semesta Komik jika dijadikan bahasa inggris.


***


“Uah!! Istirahat dulu.”


Aku pun meregangkan tubuhku dan juga sebentar berbaring di kasur milik Maul yang ada di belakangku. Aku pun melihat ke arah jam dinding yang ada di sana kalau waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam.


“Apa kau sudah memberitahu orang tuamu kalau kau akan menginap di sini?”


Maul masih fokus mengerjakan aplikasinya.


“Tentu saja, bahkan aku sudah membawa baju seragam buat besok.”


“Sepertinya malam ini kita tidak akan bisa tidur.”


Aku rasa apa yang Maul katakan benar. Aku saja baru menyelesaikan desain webnya sekarang dan selanjutnya tinggal memasukan data-data ke dalamnya saja. Untung saja Maul sudah mengajarkanku tentang hal itu beberapa hari yang lalu, jadi aku tidak perlu mengganggu pekerjaannya.


“Kalau aku sih tenang, besok di kelasku ada pelajarannya Pak Febri. Aku bisa curi-curi kesempatan untuk tidur ketika di lab.”


“Kalau di kelasku semua guru yang mengajar besok tidak bisa diajak kompromi semua.”


“Izin saja ke UKS, niatnya juga kalau Pak Febri tidak mengijinkanku untuk tidur di kelas, aku akan pergi ke UKS untuk tidur.”


“Mungkin aku akan melakukan itu ketika mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.”


Kami berdua pun menghentikan pekerjaan kami sebentar dan memakan martabah yang sudah aku beli.


“Bagaimana pekerjaanmu? Apa desain dan aset-asetnya sudah jadi?”


“Sudah, aku juga sudah mengirim semua itu di drive-mu.”


“Kalau begitu aku ingin membuat script-nya sebentar.”


Maul pun melanjutkan pekerjaannya sambil memakan martabak.


“Kau tidak mau istirahat dulu?”


“Kalau aku istirahat, aku tidak bisa menyelesaikan aplikasinya tepat waktu.”


Dia benar-benar pekerja keras rupanya.


“Menurutmu seberapa besar keberhasilan aplikasi ini setelah rilis nanti?”


Tanyaku kepadanya.


“Aku yakin sukses besar karena sekarang belum banyak pesaing di pasar Indonesia. Kalau dua aplikasi yang berasal dari Korea dan Jepang sudah masuk ke Indonesia, mungkin beda lagi ceritanya.”


“Aku baru kali ini mengerjakan proyek sebesar ini. biasanya proyek yang aku kerjakan hanyalah proyek sekala kecil.”


“Aku sudah sering sekali mengerjakan besar seperti ini, tapi biasanya aku dibantu oleh beberapa orang untuk membuat programnya. Itulah mengapa pekerjaanku yang sebelumnya masih terlihat mudah.”


Kemudian kami pun mendengar suara mobil yang datang mendekati rumah Maul.


“Sepertinya bapakku sudah pulang.”


“Kenapa bapakmu baru pulang selarut ini? Biasanya magrib sudah ada di rumah.”


“Kalau tidak salah aku sudah mengatakannya padamu kalau dia sedang melakukan penyelidikan diam-diam tentang kasus yang sedang ramai akhir-akhir ini.”


Diam-diam? Terdengar keren.


“Jadi begitu.”


“Apa kau mau berbicara dengan bapakku?”


“Aku tidak enak jika berbicara dengannya selarut ini, pasti dia juga mau beristirahat setelah seharian bekerja.”


“Sudah tenang saja.”

__ADS_1


Maul pun mengajakku untuk bertemu dengan bapaknya yang saat itu sedang berada di ruang tamu.


“Ternyata ada Amar di sini! Sedang menginap Mar?”


Bapaknya Maul langsung menyambutku ketika aku bertemu dengannya.


“Iya Om.”


Sebenarnya aku sedikit takut dengan bapaknya Maul karena wajahnya yang sangar serta tubuhnya yang besar membuat kesan sangat menakutkan sekali.


“Duduk-duduk.”


Aku dan Maul pun langsung duduk berhadapan dengan bapaknya. Ibunya Maul memberikanku dan juga Maul teh hangat serta bapaknya Maul diberikan secangkir kopi hitam.


“Apa yang sedang kalian berdua kerjakan memangnya?”


Caranya dia bertanya seperti sedang menginterogasi penjahat.


“Aku sedang mengerjakan tugas bersama dengan Maul Om. Ada beberapa tugas yang tidak aku mengerti dan meminta Maul mengajarkannya.”


“Oh begitu.”


Bapaknya Maul pun menyeruput kopi hitam yang masih panas itu.


“Apa bapak masih menyelidiki kasus itu lagi?”


Maul langsung bertanya kepadanya tanpa basa-basi terlebih dahulu.


“Begitulah.”


Heee... Ternyata bapaknya Maul cukup santai menanggapi itu.


“Apa kasus ini sesulit itu?”


“Pasti Maul sudah menceritakan hal ini kepadamu ya. Tidak masalah, Om juga mau mendengar pendapat dari anak muda berbakat seperti kalian.”


Aku kira tadinya Maul akan dihukum oleh bapaknya, ternyata tidak.


“Sebenarnya menyelesaikan kasus ini cukup mudah, namun mencari orang-orang yang bisa menyelesaikan kasus ini tanpa dibayar itu yang susah. Dari sekian banyak kenalanku yang aku percaya, hanya beberapa orang saja


yang mau melakukannya.”


“Kenapa hal ini tidak dibayar? Bukankah kalau Om dapat menyelesaikan kasus ini seharusnya Om bisa mendapatkan hadiah dari sana.”


“Karena kasus ini dikerjakan secara rahasia tanpa sepengetahuan dari kantor dan tidak tercatat di kantor, jadi Om tidak mengikuti prosedur yang seharusnya dilakukan untuk menyelesaikan sebuah kasus.”


Aku baru tau kalau untuk menyelesaikan sebuah kasus harus ada prosedurnya. Padahal menurutku selama kasus itu selesai dan masyarakat menjadi senang atas pencapaian itu,  seharusnya itu sudah cukup.


“Apa tidak dapat sepeserpun Pak?”


“kalau itu untung-tuntungan tergantung atasan.”


“Itulah kenapa aku malas sekali menjadi polisi.”


“Kamu jangan sampai ikut-ikutan menyelesaikan kasus ini Maul, ini terlalu bahaya untuk anak seusia kamu. Kamu juga Amar, jangan membantu dia jika dia membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan hal ini. Om tau kalau Maul sering meminta bantuan Amar jika sedang dapat kasus dari kantor Om.”


Gara-gara Maul, aku jadi ikutan dimarahi juga.


“Aku tidak akan membantunya Om, waktu itu aku juga sudah mengatakan kepadanya kalau hal ini terlalu berbahaya. Lagipula menurutku, hal ini bukanlah dunia untuk remaja seusia kita masuki.”


“Dengar perkataan Amar Maul!”


“Iya... Iya... Bapak tenang saja, lagi pula saat ini sedang ada yang aku kerjakan. Ayo Mar kita kembali ke kamarku, kalau kita terus-terusan di sini nanti bisa tidak selesai tepat waktu.”


Aku dan Maul pun kembali ke kamarnya untuk mengerjakan kembali pekerjaan kami dengan membawa teh manis yang dibuatkan oleh ibunya Maul tadi.


Kami pun mulai mengerjakan pekerjaan kami masing-masing. Keadaan saat itu sangat hening karena kami sangat terfokus kepada pekerjaan yang kami miliki. Aku dan Maul pun sama-sama menggunakan earphone dan mendengarkan lagu agar bisa menghilangkan kantuk.


Waktu pun terus berlalu dan konsentrasi semakin lama semakin berkurang dengan rasa kantuk yang menghantui setiap saat. Mataku pun sudah mulai terasa berat, mungkin jika aku lengah sedikit aku bisa langsung tertidur.


Ah gawat, mana ada data yang tidak bisa dimasukan.


“Mul, bagaimana caranya memasukan data ini?”


Aku tidak mendapatkan sama sekali jawaban darinya.


“Mul?”


Aku pun melihat ke arah meja komputernya dan ternyata dia sudah terlelap di sana dengan posisi duduk bersandar di kursinya.


Sekarang jam berapa?


Aku pun melihat jam yang ada di layar laptopku dan di sana menunjukan jam tiga pagi. Sepertinya aku bisa tidur sebentar, tidak bagus juga mengerjakan pekerjaan ini dengan kondisi mengantuk seperti ini. Bisa-bisa aku salah memasukan data nantinya.


Aku pun menutup laptopku, mengambil bantal yang sudah disediakan oleh Maul di kasurnya, dan berbaring di lantai tepat di samping laptopku.


***


Tok... Tok... Tok...


“Maul!... Amar!... Bangun! Salat subuh dulu.”


Aku dan Maul pun sontak terbangun mendengar suara ibunya Maul membangunkan kami. Kami berdua langsung melihat jam untuk memastikan jam berapa sekarang.


“Alhamdulillah ibumu membangunkan kita ketika azan subuh, jadi kita tidak perlu terlambat dan masih ada waktu untuk mengerjakan pekerjaan kita.”


Aku pun langsung melakukan pemanasan kecil untuk meregangkan badanku yang kaku.


“Kenapa kau ikut-ikutan tidur juga?”


Maul masih mengumpulkan kesadarannya.

__ADS_1


“Di sini yang mengantuk bukan kau saja Mul, aku juga sama mengantuknya tadi.”


“Sudah seberapa banyak perkembangan webnya?”


“Ada satu data yang masih bermasalah pas dimasukin, selebihnya semuanya sudah Ok.”


“Aplikasi yang aku buat juga hampir selesai, tinggal menghubungkan saja dengan web yang sedang kau buat itu. Sepertinya sebelum berangkat ke sekolah, aku bisa menyelesaikannya.”


Huh... Syukurlah kita tepat waktu.


“Itu bagus! Kalau ini selesai sekarang, besok malam aku bisa tidur dengan nyenyak. Sudah berapa hari ini aku tidak bisa tidur dengan tenang karena selalu memikirkan tenggang waktu.”


“Aku juga sama sepertimu.”


“Hari ini Pak Hari meminta kita untuk datang ke kantor untuk rapat masalah publikasi.”


“Baiklah kalau begitu, waktu kita tidak banyak.”


Setelah pulang salat subuh, kami pun melanjutkan pekerjaan kami dengan semangat yang membara-bara karena garis finisnya sudah terlihat.


***


“Oi Amar! Bangun, ini bukan tempat untuk tidur.”


Aku pun terbangun karena dibangunkan oleh Pak Febri.


Semua murid melihat ke arahku yang masih setengah sadar, ada di antara mereka yang tertawa melihat wajah bodohku saat ini.


Saat ini aku sudah berada di sekolah dan sedang pelajarannya Pak Febri. Seperti yang aku katakan sebelumnya, kalau aku akan tertidur ketika jam pelajarannya Pak Febri. Awalnya aku berniat untuk mencicil waktu tidurku selama perjalanan menuju ke sekolah. Tapi seperti yang kalian tau dari bis ketika di pagi hari. Kami tidak mendapatkan sama sekali tempat duduk untuk kami tidur, tidak mungkin kami tidur sambil berdiri karena guncangan yang terdapat di dalam bis terlalu besar, itu hanya membuat kepala kami pusing saja.


 “Aku tau kalau kau sedang dikejar waktu, tapi jangan sampai sekolahmu terbengkalai juga.”


Pak Febri menggelengkan kepalanya melihatku saat ini.


“Seharusnya bapak membiarkanku tertidur sebentar tadi.”


“Kalau kau ingin tidur, lebih baik pergi saja ke UKS saja.”


“Baiklah kalau begitu.”


Aku pun pergi ke UKS sesuai dengan saran dari Pak Febri. Ketika aku sampai di depan pintu UKS, ternyata Maul juga sudah tiba di sana.


“Apa kau disuruh Pak Febri untuk pindah ke UKS?”


Tanya Maul dengan wajah yang masih mengantuk.


“Beitulah.”


Kami pun membuka pintu UKS dan masuk bersama-sama. Saat kami masuk, ternyata di sana ada Miyuki dan juga Rina.


“Sedang apa kalian di sini? Bukankah sekarang masih jam pelajaran? Apa kalian sedang bolos pelajaran?”


Sepertinya tidak cocok untuk murid yang sengaja bolos dari kelas berkata seperti itu.


“Kami sedang menggantikan guru yang bertugas di UKS untuk sementara karena ada orang tua murid yang ingin bertemu dengannya.”


Miyuki menjelaskannya kepada kami berdua.


“Kalian berdua juga, mengapa kalian berdua ada di sini?”


Rina pun menatap kami berdua dengan sangat serius sekali.


“Palingan mereka berdua mau tidur di sini, lihat saja mata dan wajah mereka berdua Rin. Mereka seperti mayat hidup yang baru saja dibangkitkan.”


Bukankah itu terlalu berlebihan dengan menganggap kita sebagai mayat hidup Miyuki.


“Benar sekali.”


Aku dan Maul pun langsung tidur di kasur yang ada di sana. Kebetulan tidak ada murid lain yang sedang ada di UKS, dan UKS hanya memiliki dua buah kasur saja. Ini adalah sebuah kebetulan yang sangat menguntungkan untuk kami.


Uahh! Nyamannya, sudah lama sekali aku tidak merasakan kenikmatan di pundakku ketika menyentuh kasur.


“Apa kamu sedang mengerjakan sesuatu sekarang?”


“Yup.”


“Jangan memaksakan dirimu Ar.”


“Tenang saja, pekerjaanku sudah selesai dan aku tidak akan bergadang seperti ini lagi.”


“Memangnya apa pekerjaan yang kalian kerjakan?”


Miyuki bertanya kepada kami berdua.


“Itu rahasia.”


Ucapku kepadanya.


“Dari kemarin kalian berdua selalu saja merahasiakan hal ini kepadaku. Memangnya siapa orang yang memberikan pekerjaan ini kepada kalian? Instasi pemerintaha? Atau agen rahasia yang membuat kami tidak boleh mengetahuinya.”


Miyuki kesal tidak mendapatkan jawaban yang dia mau.


Sebenarnya tidak ada salahnya jika kita memberitahukannya kepada dia karena dihitung-hitung sebagai promosi juga agar banyak orang yang mengunduhnya. Tapi aku lebih nyaman mengatakan ini ketika aplikasinya sudah dirilis dan ada bentuk nyatanya yang dapat orang lihat.


“Kau tunggu saja Miyuki, ketika pekerjaan yang kita kerjakan itu sudah dirilis, hal itu akan menjadi berita besar.”


Ucap Maul kepadanya.


“Mooo! Kalian berdua ini terlalu berbelit-belit. Lihat saja, aku akan mencaritahunya sendiri nanti.”


Aku pun sudah mengabaikan ucapannya Miyuki dan mencoba untuk tertidur. Karena waktu kami di sini tidaklah banyak, hanya sampai jam istirahat saja.

__ADS_1


Nikmatnya!! Mungkin kalau aku tidak begadang seperti ini, aku tidak pernah merasakan yang namanya nikmat tidur di kasur.


-End Chapter 67-


__ADS_2