
Setelah menjalani ujian akhir semester yang dilaksanakan selama seminggu, akhirnya UAS pun selesai dan menandakan berakhirnya semester satu ini. Waktu terasa sangat cepat sekali saat semester satu ini, banyak hal baru yang aku lakukan.
Saat ini aku sedang berada di halte bis bersama teman-temanku yang lainnya. Aku berniat untuk pergi ke kantor karena selama seminggu kemarin aku belum pergi ke kantor karena UAS. Pak Hari memberikan keringanan kepadaku untuk fokus kepada sekolahku terlebih dahulu selama seminggu kemarin.
“Apa kalian semua akan pergi ke kantor lagi?”
Miyuki bertanya kepadaku yang sedang menunggu bis jurusan Blok M.
“Tentu saja, sudah satu minggu kemarin aku tidak pergi ke kantor.”
“Aku juga sama.”
Begitu juga dengan Maul.
“Apa kalian tidak punya waktu sebentar?”
“Untuk apa?”
“Aku mau mengajak kalian pergi ke mal untuk bersenang-senang.”
Apa yang dikatakan Miyuki tidak buruk juga. Sebelum pergi ke kantor dan mungkin akan mendapatkan pekerjaan di sana, aku rasa tidak ada buruknya pergi ke mal untuk bersenang-senang.
“Itu ide yang bagus.”
Ucap Riki.
Hmmm... Kalau aku pergi ke mal yang berada di dekat sini, kemungkinan besar aku akan mengeluarkan uang yang cukup banyak karena kita sedang berada di kawasan Jakarta Pusat. Yah, tapi setidaknya tidak semahal jika aku harus pergi ke mal yang ada di dekat Hotel Indonesia.
“Itu bagus pergi bermain terlebih dahulu, mumpung sekarang masih siang dan juga kita tidak perlu mengkhawatirkan apapun.”
Hanya uang yang aku khawatirkan di sini.
Aku bingung kenapa teman-temanku tidak pernah mengkhawatirkan sedikitpun tentang uang. Apa hanya aku saja yang berlebihan tentang hal itu.
***
Kenapa aku harus pergi ke sini?
Aku memandang sebuah gedung yang sangat besar dengan beberapa papan nama tempat makan dan belanja yang terpasang di sana.
“Kenapa kau terdiam seperti itu Mar?”
Riki menegurku.
“Kenapa kita harus pergi ke sini? Bukannya di sekitar sekolah kita juga ada mal yang aku rasa harga barang belanjaan di dalamnya lebih murah dibandingkan yang berada di mal ini.”
“Miyuki yang mengajaknya ke sini.”
Maul menghampiriku.
Ternyata aku harus pergi ke mal yang ada di dekat Hotel Indonesia, ini adalah salah satu mal yang tidak pernah ingin aku datangi karena harganya yang terkenal mahal. Aku tidak tau apa yang membuat barang di dalamnya lebih mahal dibandingkan mal-mal lainnya, apa pajak dapat mempengaruhi suatu harga barang hingga sebesar itu.
Mungkin saat di dalam sana aku hanya akan melihat-lihat saja dan tidak membeli sesuatu.
“Apa yang kau khawatirkan? Bukankah kau saat ini sudah memiliki pekerjaan dan menjadi atasan di sebuah perusahaan. Seharusnya kau memiliki uang yang banyak dibandingkan kami semua yang berada di sini.”
Ucap Takeshi kepadaku.
Aku tidak tau apakah yang dia ucapkan barusan adalah pujian atau ejekan, tapi ketika aku melihat wajahnya, aku merasa seperti sedang diejek.
“Kau tidak salah, tapi aku merasa sangat sayang membelanjakan uangku di sini. Lebih baik aku pergi ke tempat yang lebih murah dari ini dengan kualitas yang tidak jauh berbeda.”
Aku lebih suka pergi ke toko retail yang berada di dekat rumahku karena di sana memiliki harga yang relatif murah dan kualitas yang bagus. Semua bajuku rata-rata aku membelinya di sana semua, bahkan toko itu sering sekali ada promo.
“Memangnya ada hal seperti itu?”
“Bisa saja, asalakan kau bisa memilihnya.”
Takeshi bertanya hal itu seakan dia tidak pernah melakukannya.
Wajar saja jika Takeshi tidak tau hal itu, aku memang pernah mengira-ngira uang jajan yang dimiliki oleh teman-temannya Miyuki. Teman-teman Miyuki yang aku maksud di sini adalah Takeshi, Yoshida, dan Kichida.
Selama menghabiskan waktu dengan mereka, aku tidak pernah mendengar keluhan-keluhan tentang uang mereka selama kita pergi ke mana atau kita ingin melakukan apa.
Aku tidak pernah mendengar Takeshi berkata ‘maaf, saat ini aku sedang tidak ada uang.’ Begitu juga dengan Kichida dan Yoshida.
Kami pun mulai masuk ke dalam mal dan melihat-lihat di sana. Saat itu aku hanya mengikuti Miyuki saja yang berjalan di depan menuntun kami ingin pergi ke mana. Kalau mendengar dari pembicaraannya, sepertinya kita akan pergi ke game center yang berada di mal ini.
“Bagaimana dengan UASmu Ar?”
Tanya Rina yang saat ini sedang berjalan tepat di sampingku.
“UAS? Aku rasa tidak ada masalah soal UASku kemarin, tidak ada soal yang menyulitkanku.”
“Memang soal di pelajaran multimedia tidak ada yang susah?”
“Tidak ada menurutku, semuanya dapat dikerjakan dengan mudah.”
“Kau sombong sekali Mar, aku saja menemukan beberapa masalah dalam mengerjakan UAS kemarin.”
Celetuk Riki.
“Aku bukan sombong, tapi memang seperti itu kenyataannya. Selama tidak ada soal matematika yang terlalu rumit, itu semua adalah hal yang mudah.”
Karena di pelajaran multimedia, aku memang mendapatkan mata pelajaran matematika dan fisika, tetapi materi yang dipelajari di sana adalah materi dasar dan tidak terlalu rumit.
“Sekarang kita mau kemana?”
Maul bertanya kepadaku.
“Aku rasa kita akan pergi ke game center.”
Ketika kami sampai di game center, aku pun melihat mereka yang sedang bermain di sana dari kejauhan, aku tidak berminat untuk bergabung dengan mereka saat ini.
Aku ingatkan kepada kalian, aku bukanlah orang introvert ataupun anti sosial. Hanya saja ada kalanya aku ingin sendiri terlebih dahulu dan juga ada masanya aku ingin bersosialisasi. Aku memang memiliki dua kecenderungan itu.
“Kenapa kau tidak bergabung dengan mereka?”
__ADS_1
Riki yang menyadari kalau aku tidak berada di sana langsung pergi menghampiriku.
“Aku sedang ingin menyendiri saja.”
“Apa ada yang sedang kau pikirkan?”
“Tidak ada.”
“Jangan berbohong, pasti kau sedang memikirkan sesuatu.”
Riki pun berdiri di sampingku dan meminum minuman yang dia beli sebelumnya.
“Tidak ada yang aku pikirkan saat ini, aku hanya ingin mengistirahatkan pikiranku setelah UAS tadi.”
“Padahal kau baru saja berkata sombong tadi.”
Riki pun mengejekku.
“Daripada membahas itu, bagaimana tentang pekerjaanmu?”
“Aku dapat melakukannya.”
“Apa kau mengalami kesulitan?”
“Hanya di awal saja berat dan aku sering terkena revisi tapi lama kelamaan setelah mengetahui polanya, aku dapat melakukannya dengan mudah.”
“Baguslah kalau begitu.”
Kalau Riki sudah tidak mengalami masalah dengan pekerjaannya berarti aku tidak perlu khawatir. Selain itu aku juga percaya dengan kemampuan Riki bersosialisasi dengan orang baru, pasti dia akan lebih banyak bertanya tentang pekerjaannya kepada senior-seniornya dibandingkan kepadaku. Setidaknya, itu mengurangi sedikit pekerjaanku.
“Apa saat liburan nanti kau masih datang ke kantor Mar?”
“Kalau memang ada rapat yang mengharuskan aku datang ke sana, atau mungkin Pak Hari ingin membicarakan sesuatu denganku, tentu saja aku akan datang.”
“Bagaimana dengan Class Meeting? Apa kau juga akan masuk?”
Class Meeting ya? Selama di SMP kemarin aku tidak pernah masuk sama sekali.
“Apa setiap murid diwajibkan untuk masuk?”
“Semua murid tidak diwajibbkan untuk masuk, tapi tentu saja mereka harus masuk untuk mengetahui apa ada nilai mereka yang kurang dan mengharuskan mereka untuk mengikuti remedial atau tidak.”
Remedial ya? Aku sih percaya dengan kemampuanku dan nilaiku selama satu semester ini. Kalau UAS, setidaknya aku bisa mendapatkan nilai di atas nilai minimal. Tapi tidak ada salahnya masuk, mungkin ada sesuatu menarik yang bisa aku dapatkan saat di sekolah.
“Apa kau mau ikut perlombaan saat Class Meet nanti?”
Tanya Riki kepadaku.
“Tidak tau, tapi sepertinya tidak.”
“Yakin kau tidak mau? Akan ada hadiah uang dan piala lagi saat Class Meet nanti, bahkan hadiahnya lebih banya dibandingkan saat MOS.”
Uang ya?
“Kalau aku masih sama seperti dulu, mungkin aku langsung bersemangat untuk mengikutinya. Tapi sekarang aku sudah memiliki banyak sekali uang dan bingung untuk digunakan, jadi mungkin aku tidak akan mengikutinya.”
Memang uang yang didapatkan dari Class Meet tidak seberapa, tapi rasanya malas saja menambah lagi uangku walaupun sedikit. Aku saja masih mendapatkan uang jajan bulanan dari orang tuaku karena mereka belum mengetahui kalau aku sudah memiliki pekerjaan dan uang yang cukup banyak. Kalau aku meminta mereka untuk tidak memberikanku uang jajan bulanan, nanti mereka bisa curiga denganku.
“Begituah, karena itu upah yang aku terima saat aku membuat aplikasi ditambah gaji bulanan yang dirapel selama tiga bulan. Jadi itulah kenapa aku bisa memiliki uang hingga sebanyak itu.”
“Kalau begitu kenapa kau bingung untuk membelanjakan uangmu di sini!”
Riki merasa sedikit kesal ketika mendengar hal itu.
“Sayang sekali jika membeli barang dengan harga mahal sedangkan kau tau kalau kau bisa mendapatkannya dengan harga yang lebih murah.”
“Pemikiranmu tentang uang sangat rumit sekali. Aku rasa semua hal jika kau yang memikirkannya akan terdengar sangat rumit.”
Benarkah seperti itu? Aku tidak begitu merasa kalau pemikiranku ini terlalu rumit untuk dipahami oleh orang lain.
“Walaupun aku memiliki banyak uang, tapi aku tidak mau menjadi boros dan memiliki sifat yang konsumtif.”
“Sepertinya aku juga tidak jadi untuk pergi ke gunung liburan semester ini.”
Ucap Riki.
“Kenapa?”
“Aku sedang mendapatkan banyak sekali pekerjaan dari kantor, sanagt sayang jika aku melewatkannya. Mungkin lain kali saja.”
Itu keputusan yang bijak.
“Aku setuju dengan hal itu.”
“Apa yang sedang kalian berdua lakukan di sini?”
Miyuki menghampiri kami berdua.
“Kami sedang membicarakan tentang Class Meet.”
“Apa itu Class Meet?”
Miyuki terlihat tidak tau tentang hal itu.
Kau tidak tau tentang hal ini Miyuki? Memangnya di sekolahmu dulu tidak pernah diadakan hal seperti ini.
“Memangnya di sekolah lamamu tidak ada hal seperti itu?’
Riki bertanya kepada Miyuki.
“Tidak ada.”
“Class Meeting itu biasa diadakan oleh sekolah setelah ujian akhir dimana setiap kelas akan bertanding antara satu dengan yang lainnya dalam pertandingan olahraga. Biasanya perlombaan yang diadakan adalah futsal, dan basket.”
Riki menjelaskan hal itu kepada Miyuki.
“Itu seperti fesifal olahraga kalau di sekolahku.”
__ADS_1
“Class Meet memang seperti festifal olahraga kalau di sekolah lamamu.”
Ucap Maul yang menghampiri kami juga.
“Dari mana kau tau?”
Tanyaku kepada Maul.
“Aku mengetahuinya dari kartun Jepang yang aku tonton.”
“Seberapa sukanya kau dengan hal itu.”
“Banyak sekali pelajaran yang aku dapatkan dari kartun seperti itu.”
“Tapi kan itu hanya kartun.”
“Kapan-kapan aku akan memperlihatkannya kepadamu nanti.”
Aku rasa tidak ada salahnya menonton hal itu beberapa. Lagi pula aku pernah mendengar dari Pak Hari kalau di Jepang banyak komik yang diangkat menjadi kartun oleh studio animasi yang berada di sana. Siapa tau hal itu akan berguna untuk pekerjaanku ke depannya.
“Apa kau sukan menonton kartun juga?”
Riki bertanya kepada Miyuki.
“Aku hanya menontonnya ketika masih kecil.”
“Benarkah itu?”
Maul sedikit kecewa ketika mendengar itu.
“Iya, hanya Misaki yang masih menonton kartun. Aku hanya tau beberapa kartun darinya.”
“Oi kalian, cepatlah ke sini sedang apa kalian di sana.”
“Ayo Mar!”
Miyuki mengajakku untuk pergi ke sana.
“Aku masih ingin berada di sini sebentar lagi.”
“Baiklah.”
Riki dan Miyuki pun pergi bergabung dengan yang lainnya.
“Kau ternyata suka menyendiri juga ya?”
Tanya Maul kepadaku yang masih berada bersamaku.
“Bukan seperti itu, aku hanya tidak mau berada di dekat Miyuki ketika di tempat umum.”
“Kenapa?”
“Lihat saja.”
Aku menyuruh Maul untuk melihat ke sekitar, dan ternyata di sana banyak sekali laki-laki yang memberhatikan Miyuki dari yang sendiri bahkan sampai yang sudah memiliki pacar pada memperhatikannya.
Sebenarnya kalau saat ini aku mendekati Miyuki, itu tidak terlalu berpengaruh karena pandangannya akan terbagi kepada orang-orang yang berada di sekitar Miyuki. Tapi biasanya pandangan itu akan mengerucut saat Miyuki mulai berbicara kepadaku. Aku tidak suka ketika semua mata memandang ke arahku dengan rasa iri.
“Dari dulu Miyuki memang menarik perhatian orang ya.”
“Begitulah.”
“Tapi sekarang kan kita sedang beramai-ramai, jadi kau tidak mungkin mendapatkan sorotan mata dari mereka.”
Baiklah Mul, aku akan memberikan pertanyaan kepadamu yang akan membuka sedikit pikiranmu.
“Apa ketika aku berada di sana kau berani jamin kalau Miyuki tidak akan berbicara denganku?”
“Aku rasa tidak.”
“Apa yang akan terjadi ketika Miyuki sedang berbicara denganku?”
“Kesalahpahaman dari orang-orang yang melihatnya.”
“Kalau begitu aku tidak perlu menjelaskannya.”
Aku pernah sedikit mencari tau tentang hal ini sebelumnya. Aku sedikit penasaran, kenapa ketika Miyuki berbicara denganku dapat membuat banyak orang salah paham tentang hal itu.
Aku pun memperhatikan setiap kali Miyuki berbicara dengan teman-temannya entah itu kepada laki-laki atau perempuan. Tapi aku sama sekali tidak menemukan perbedaan dari hal itu, apa yang dia lakukan biasa seperti saat berbicara denganku.
Aku sempat bingung dengan hal itu, ini lebih sulit dibandingkan memecahkan misteri ketika LDKS kemarin.
“Kau selalu kerepotan dengan hal itu ya.”
Maul sedikit tertawa melihatku yang kesusahan karena hal itu.
“Hanya Miyuki saja yang tidak bisa aku atasi, karena ketika satu masalah telah teratasi akan muncul masalah lainnya jika hal itu menyangkut Miyuki.”
“Hahahaha... Aku ingin sekali melihat jika kau berpacaran dengan Miyuki.”
“Itu tidak mungkin.”
“Siapa tau, di dunia ini tidak ada yang tau ke depannya, bahkan satu detik ke depan.”
Memang benar kalau kita tidak tau apa yang akan terjadi ke depan, tapi tidak mungkin juga kalau aku berpacaran dengan Miyuki.
Dari segi penampilan saja Miyuki terlalu cantik. Selain itu hal apa yang bisa membuatku menyukai Miyuki.
Yah, mungkin kalau Miyuki sedikit lebih diam seperti Rina dan tidak begitu merepotkan aku akan menyukainya.
“Kau sepertinya harus menjadi motivator Mul.”
“Hahahaha... Lebih baik kita bergabung dengan yang lainnya yuk!”
“Baiklah.”
Akhirnya aku pun pergi bermain bersama mereka untuk bersenang-senang. Walaupun mulai banyak mata yang menyorotku ketika Miyuki berbicara denganku, tapi aku sudah tidak peduli lagi.
__ADS_1
Aku sudah mulai terbiasa dengan hal ini.
-End Chapter 100-