Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 51 : Terungkap Sudah.


__ADS_3

Tantangan pun telah diberikan oleh Takeshi kepadaku. Aku pun menerima tantangan itu dan kami sekarang sedang pergi menuju ke gedung olahraga untuk bertanding di sana. Ketika kami sampai di sana, aku melihat ada beberapa orang yang sedang menggunakan lapangan untuk bermain basket.


Biasanya sekolah melarang seluruh muridnya untuk menggunakan gedung olahraga tanpa izin dari sekolah saat sedang jam sekolah. Gedung olahraga hanya boleh digunakan ketika ada jam pelajaran olahraga dan juga kegiatan ekskul. Mungkin karena sekarang adalah bulan ramadan dan ketika istirahat banyak murid yang tidak memiliki kegiatan lain, jadinya sekolah mengizinkan murid-murid untuk menggunakannya. Lagi pula tidak mungkin ada orang yang mau mengeluarkan energi lebihnya saat sedang puasa seperti ini.


OK... Aku baru saja melihat orang-orang itu.


“Yo Nakashima, sedang apa kau di sini?”


Orang-orang itu pun menyapa Takeshi, dan sepertinya Takeshi lebih sering disebut dengan Nakashima. Apa aku harus menyebutnya seperti itu juga ya?


“Aku ingin meminjam lapangan untuk bertanding dengan Amar. Apakah boleh?”


“Maksudmu murid baru yang kemampuan bermain basketnya hebat itu?”


Orang-orang itu pun mulai melihat ke arahku. Aku hanya tersenyum saja kepada mereka.


“Silahkan, kami juga ingin melihat kemampuan bermain basketnya. Waktu itu kami hanya mendengar cerita dari orang lain saja.”


“Kalahkan dia Nakashima, jangan permalukan ekskul basket.”


Mereka pun mengizinkan kami untuk menggunakan lapangannya. Sepertinya mereka semua berasal dari ekskul basket. Pantas saja mereka akrab dengan Takeshi.


Aku dan Takeshi pun sekarang sudah berada di dekat salah satu ring basket. Karena sekarang kami bermain satu lawan satu, jadi kami hanya menggunakan satu ring saja. Takeshi pun mulai mendrible bolanya.


“Ayo kita buat taruhan Mar?”


“Apa yang ingin kau pertaruhkan?”


“Kalau seandainya aku menang dalam pertandingan ini, jangan pernah mendekati Miyuki lagi hingga kapanpun... Lagi pula aku yakin kalau aku pasti menang darimu.”


Aku tidak pernah tahan dengan sikap sombong yang dia miliki itu.


“Aku tidak pernah mendekatinya, dia sendiri yang selalu mendekatiku malah.”


“Kalau begitu jangan pernah dekat-dekat dengannya lagi.”


Takeshi pun meralat taruhannya.


“Baiklah kalau begitu.”


“AKU TIDAK TERIMA AKAN HAL ITU MAR. AWAS SAJA SAMPAI KAMU KALAH!”


Miyuki yang berada di samping lapangan berteriak kepada kami.


“Lalu apa taruhan yang ingin kau berikan?”


“Kalau aku menang, kau harus melupakan semua yang terjadi saat LDKS itu dan jangan pernah mengungkit-ungkit


lagi.”


“Hanya itu saja?”


“Ya... Hanya itu.”


“Baik kalau begitu.”


Kami pun memulai pertandingannya dan aku dapat memenangkan pertandingan itu dengan mudahnya dari Takeshi. Walaupun aku terlihat seperti orang yang malas, tapi begini-gini aku pernah menjadi pemain basket juga asal kalian tau. Sebenarnya aku hobi dalam berolahraga, seperti basket, bulu tangkis, voli, dan renang. Tapi aku tidak pernah menekuni semua itu, karena aku melakukan semua itu semata-mata agar sering bergerak saja. Aku harus bisa mengimbangi rasa malasku dengan olahraga, agar semuanya seimbang.


“Aku tidak terima hal ini, aku ingin mengajakmu bertanding ulang.”


Merepotkan sekali orang seperti ini, kenapa aku harus bertemu dengannya.


“Aku tidak mau... Sekarang aku sedang berpuasa, aku tidak mau membuang banyak tenagaku sekarang, lagian waktu berbuka juga masih lama.”


“Heee... Apa kau takut menerima tantanganku?”


Sebuah percobaan yang bagus untuk membuatku menerima tantangan itu. Tapi aku benar-benar tidak mau melakukan hal melelahkan lainnya. Aku masih memerlukan sisa tenagaku untuk pulang sekolah nanti.


“Bagaimana kalau begini saja... Kalau kau bisa mengalahkanku dalam bertanding lemparan three point, aku akan mengikuti apa saja yang kau inginkan. Bagaimana?”


Setidaknya kalau hanya melempar saja, aku tidak perlu mengeluarkan tenaga.


“Oke, aku menerimanya. Lagi pula aku yakin kalau lemparan three point-mu waktu itu hanyalah kebetulan saja.”


Kami pun bertanding kembali dan lagi-lagi aku dapat memenangkan pertandingan itu dengan mudahnya. Bahkan di pertandingan itu, Takeshi tidak dapat memasukan bolanya sekali pun.


“Aku tidak percaya dapat kalah dengan orang yang bahkan tidak bergabung dengan ekskul basket.”


Takeshi masih menyesali kekalahannya itu.


“Kau boleh saja mengajakku untuk bertanding lagi, tapi kalau mau setelah bulan ramadan.”


“Apa yang baru saja kau lakukan Mar?”


“Hah?!”


“Tidak mungkin kau tidak bergabung di ekskul basket manapun. Lemparan three point secara terus menerus seperti itu, hanya bisa digunakan oleh orang yang sering berlatih. Orang malas sepertimu tidak mungkin bisa melakukan hal seperti itu.”


Malas? Apa aku memang terlihat seperti orang yang malas? Lagi pula dia tidak tau kalau setiap sabtu aku sering bermain basket bersama teman-temanku.


“Begitulah, mungkin aku sedang hoki tadi.”


“Kau kira aku akan percaya dengan hal semacam itu.”


Keeeh... Orang ini memang menyebalkan.


Kemudian Miyuki dan yang lainnya pun datang untuk menghampiriku yang berada di tengah lapangan.


“Hebat sekali kau dapat memenangkan pertandingan itu Mar.”


Riki langsung memujiku ketika berada di dekatku.


“Apa kau dari ekskul basket juga Mar? Tapi aku tidak pernah melihatmu ketika sedang jam ekskul basket sedang berlangsung.”


Dan orang-orang dari ekskul basket mulai bertanya kepadaku.


“Aku tidak bergabung di ekskul basket. Aku anggota dari ekskul rohis.”


“Benarkah itu!? Tapi kenapa kemampuanmu hebat sekali, apakah kau mengikuti sebuah klub basket di luar sekolah?”


Orang-orang itu terkejut mengetahui kalau aku bukan berasal dari ekskul basket.

__ADS_1


“Dulu aku pernah mengikuti salah satu klub basket waktu kelas satu SMP, tapi itu sudah lama sekali. Sekarang aku sudah tidak mengikuti klub apapun.”


“Apa kau mau bergabung dengan ekskul basket?”


Orang-orang itu pun menawariku untuk masuk ekskul basket.


“Maaf, tapi aku sudah bergabung di salah satu ekskul. Aku tidak mau menambah ekskul lagi.”


“Sayang sekali bakat yang kau punya itu Mar, aku yakin kau pasti dapat menjadi shooting guard yang hebat.”


Aku tau itu... Banyak orang yang berkata hal seperti itu, ketika aku menolak tawaran dari mereka.


“Kenapa kau melakukan hal ini Takeshi?”


Miyuki pun langsung menghampiri Takeshi dan bertanya kepadanya tentang apa yang baru saja dia lakukan.


“Kalau kamu berada di dekat Amar, kamu akan selalu mendapatkan kesusahan Miyuki. Aku sudah mengamati itu akhir-akhir ini.”


Hei! Harusnya itu kalimatku... Akulah yang kesusahan sejak berada di dekat Miyuki.


“Apa kau masih marah dengan kejadian waktu itu?”


Takeshi pun tidak menjawab pertanyaan dari Miyuki. Dia hanya tertunduk dan terdiam saja.


“Ar, bukankah sekarang lebih baik kau yang meminta maaf.”


Rina berbisik kepadaku.


“Aku! Minta maaf!... Buat apa aku harus meminta maaf kepadanya, aku tidak melakukan sesuatu yang membuatku harus meminta maaf.”


“Karena kejadian masa lalu itu kan Takeshi jadi marah kepadamu Ar, jadi lebih baik kamu meminta maaf kepadanya, dari pada masalahnya menjadi panjang.”


Apa yang baru saja Rina katakan itu benar, tapi...


“Saat kejadian di masa lalu juga aku tidak merasa telah berbuat salah dengannya. Saat itu aku hanya membantu Miyuki saja, tiba-tiba saja dia marah dengan sendirinya.”


Yah... Walaupun ada beberapa hal yang aku lakukan membuatnya menjadi marah.


“Meminta maaf lebih dulu itu tidak ada salahnya Ar, menurutku itu akan membuatmu terlihat lebih keren.”


“Benar kata Rina Mar, kau sepertinya harus meminta maaf kepadanya.”


Sekarang Maul malah ikut-ikutan menasihatiku.


“Tidak mau! Ada harga diri yang harus dijaga. Kalau aku meminta maaf sekarang, rasanya seolah-olah memang aku melakukan kesalahan, aku tidak suka cara seperti itu.”


Aku pun menyilangkan kedua tanganku.


“Moh! Kamu ini keras kepala sekali Ar.”


Rina pun menjadi kesal dengan sikap keras kepalaku.


“Memang seperti itulah sikapku.”


“Mar! Permainan basketku selalu membuatku kagum sekali.”


Rian pun menghampiriku dengan mata yang berbinar-binar.


Silau... Itu sangat menyilaukan.


“Apa kau bisa mengajariku hal semacam itu Mar? Aku juga ingin bisa menembak dari jarak jauh seperti itu.”


“Mungkin kalau ada kesempatan, akan aku ajarkan kepadamu.”


“Benarkah! Terima kasih Mar.”


Rian pun senang sekali mendengar hal itu.


Saat itu, aku melihat Kichida yang sedang menyemangati Takeshi agar semangat kembali. Kemudian tiba-tiba aku pun teringat dengan ceritanya Miyuki ketika ada orang yang disukai oleh sahabatnya ternyata menyukai Miyuki. Dari sini kita tau kalau sahabat yang dimaksud Miyuki adalah Kichida, dan berarti orang yang disukai Kichida itu adalah Takeshi.


Hohoho... Aku menemukan sesuatu yang menarik lagi di sini.


“Sepertinya aku melewatkan sesuatu yang menarik di sini.”


Tunggu! Suara ini...


Muncullah seorang laki-laki dari belakang menghampiri kami. Aku pun terkejut ketika melihat siapa orang yang datang itu, dia adalah Irfan Harshad.


Irfan Harshad adalah temanku ketika berada di klub basket. Dia satu tahun lebih tua dibandingkan denganku, dan dia termasuk orang yang hebat dalam bermain basket. Posisi dia dalam bermain basket adalah point guard. Aku juga belum pernah mengalahkan dia dari pertandingan satu lawan satu.


“Hai Mar, lama tidak bertemu denganmu.”


Irfan menyapaku dengan senyumannya. Karena dia satu tahun lebih tua dibandingkanku, apakah aku perlu memanggilnya kakak? Sepertinya tidak, aku sudah terbiasa memanggilnya tanpa tambahan apapun.


“Kenapa kau bisa mengenal Amar ketua?”


Takeshi terkejut melihat Irfan mengenalku.


Ketua?


“Jadi kamu mengenal kapten dari ekskul basket di sini Mar?”


“HAh!? KAPTEN TIM BASKET?”


Aku terkejut mendengar perkataan dari Yoshida. Aku saja masih mencoba untuk memahami kalau dia yang berada di sekolah ini dan sekarang aku baru tau kalau dia adalah kapten dari tim basket di sekolah ini.


“Kak Irfan itu idolanya para perempuan di sekolah ini. karena prestasinya di ekskul basket sangat banyak, bahkan dia adalah salah satu calon timnas muda Indonesia.”


Maul memberitahukanku tentang hal itu, tapi aku tidak begitu terkejut dengan prestasi yang dia miliki. Karena aku sudah mengetahui hal itu, kalau dia memang hebat.


“Sedang apa kau disini Mar?”


Irfan pun menyapaku seperti tidak ada yang terjadi apapun.


“Harusnya aku yang bertanya itu. Mengapa kau bisa ada di sini?”


“Kau tidak sopan sekali memanggil kakak kelas seperti itu Mar.”


Ucap Riki kepadaku.


“Apa kau mengenalnya Fan?”

__ADS_1


Orang-orang dari ekskul basket bertanya kepadanya.


“Tentu saja aku mengenalnya dengan baik, hubungan kita sangat akrab sekali. Kita dulu berada di satu klub basket yang sama, dan Amar adalah shooting guard yang paling ditakuti oleh banyak tim. Selain itu... Dia juga pernah menjadi kandidat timnas muda Indonesia sama sepertiku, tapi dia menolaknya.”


Irfan pun memberitahu semuanya kepada orang-orang yang ada di sana. Padahal aku sudah bersusah payah untuk menyembunyikannya dari orang-orang, bahkan ke teman terdekatku.


Dan seperti yang kalian tau, mereka semua pun terkejut mendengar itu.


“Kenapa kau memberitahu semuanya Fan?”


Aku pun merasa kesal kepadanya karena telah membocorkan rahasiaku.


“Buat apa menutup-nutupi prestasi yang baik. Ahahahahaha...”


Irfan pun hanya tertawa saja.


“Apakah itu benar Kak Irfan?”


Riki pun bertanya kepadanya.


“Tentu saja.”


“Mengapa kau tidak pernah mengatakannya kepadaku Mar?”


Riki sekarang menatap ke arahku dengan sangat serius sekali. Ini gawat... Aku harus bisa terbebas dari situasi seperti ini.


“Itu sudah terjadi lama sekali.”


“Sayang sekali Ar menolak tawaran itu, padahal bisa saja kamu menjadi atlet profesional.”


“Benar sekali apa yang dikatakan oleh gadis itu Mar. Bahkan saat itu pelatih kami sempat marah kepada Amar karena menolaknya.”


Irfan pun terus memberitahu rahasia demi rahasia yang Amar miliki.


“Sepertinya masih banyak hal yang disembunyikan oleh Amar.”


Miyuki pun menjadi curiga kepadaku.


“Bagaimana Mar, Apa kau mau bermain basket bersamaku? Aku sudah lama sekali tidak bermain denganmu.”


Irfan pun mengambil bola basket yang berada di dekatnya.


“Tidak, aku sudah bermain dua kali pertandingan dengan Takeshi tadi. Kau ingat kan sekarang sedang puasa, aku tidak mau membuang energiku secara berlebihan.”


“Kalau begitu sayang sekali... Apa kau masih suka bermain bersama yang lainnya?”


“Iya.”


“Sampaikan salamku kepada mereka.”


Irfan pun mendribel bolanya dan berjalan menuju ring basket.


“Baiklah, akan aku sampaikan. Kau juga kalau ada waktu sekali-kali datang untuk bermain bersama.”


Irfan pun melakukan hunjaman ke arah ring basket yang membuat kami terpukau melihatnya.


“Aku akan datang jika ada waktu kosong. Jadwal latihanku sangat padat akhir-akhir ini, jadi aku tidak bisa pergi kemanapun secara leluasa.”


Itulah salah satu alasanku tidak mau bergabung dengan timnas.


“Apa kau mau masih ke ekskul basket juga Mar?”


Irfan pun melempar bola basket itu ke arahku.


“Tidak.”


Aku pun menerimanya dengan sangat mudah.


“Bagaimana kalau kita bertanding? Kalau aku menang, kau harus masuk ke ekskul basket.”


“Aku menolaknya, tidak mungkin aku menang darimu.”


Aku pun melakukan tembakan ke arah ring dari tempatku berdiri dan bolanya masuk ke dalam ring.


“Hahahahah... Ternyata sampai saat ini sikapmu masih saja tidak berubah ya. Sayang sekali aku tidak dapat melihat pertandinganmu ketika masa orientasi. Banyak sekali orang yang berkata kalau ada seseorang yang berbakat bermain di sana. Setelah mendengar namanya aku hanya tertawa saja.”


“Kalau ada waktu, mungkin aku akan sesekali bermain basket bersama denganmu.”


“Aku akan menunggu itu.”


Kemudian aku beserta dengan yang lainnya keluar dari gedung olahraga untuk menuju ke kelas karena jam pelajaran akan segera di mulai. Saat itu, Riki pun masih menatap kearahku dengan sangat serius sekali.


“Ada apa?”


“Kau sepertinya harus menjelaskan tentang semua ini Mar.”


“Huh!... Dulu memang aku pernah diundang untuk menjadi timnas muda dan menjalani pelatihan tapi itu dulu.”


“Itu kesempatan yang sangat jarang sekali Mar. Banyak orang yang menginginkan hal itu, tap kau malah membuangnya begitu saja.”


“Aku tidak cocok dengan sesuatu yang dapat membuatku menjadi mencolok.”


“Aku memang tidak pernah mengerti dengan jalan pikiranmu Mar.”


Yah.. Banyak orang yang berkata demikian kepadaku.


“Apa kamu ada sesuatu yang disembunyikan lagi Mar?”


Miyuki pun bertanya kepadaku.


“Aku tidak pernah menyembunyikan apapun.”


“Itu tidak mungkin, pasti ada hal lain yang masih kau sembunyikan. Sekali-kali aku ingin mengeledah kamarmu.”


Apa kau gila?


“Untuk apa kau melakukan itu kepada kamarku?”


“Siapa tau kau mempunyai sesuatu yang tidak pernah diberitahu oleh orang-orang.”


“Benar, aku juga setuju itu.”

__ADS_1


Semua orang pun setuju dengan usulan dari Miyuki dan aku hanya bisa menghela nafas saja ketika mendengar hal itu. Sepertinya aku harus menyembunyikan beberapa barangku di tempat yang tidak mungkin ditemukan oleh mereka.


-End Chapter 51-


__ADS_2