
Pemandangan yang indah, udara yang segar, dan angin yang berhembus, membuat suasana di Sunrise camp terasa sangat nyaman dan damai sekali. Andai saja aku ke sini seorang diri untuk menenangkan diri rasanya tidak buruk juga.
“Oi Mar, sedang apa kau di sana? Ayo kita cari tempat untuk mendirikan tenda!”
Riki memanggilku yang sedang menikmati kedamaian walaupun baru sebentar.
“Iya! Sebentar lagi.”
Aku pun melihat jam tanganku dan waktu sudah menunjukan pukul dua siang lewat lima belas menit. Sepertinya aku harus cepat-cepat mendirikan tenda dan melaksanakan shalat.
Kami pun mencari tempat untuk mendirikan tenda bersama-sama. Walaupun saat itu banyak sekali lahan kosong
untuk mendirikan tenda, namun kami memilih tempat yang memiliki pemandangan yang indah. Jadi kami tidak perlu pergi jauh-jauh untuk melihat pemandangan.
“Bagaimana kalau di sini?”
Riki menyarankan satu tempat kepada aku dan Maul.
“Boleh saja.”
Tanpa basa-basi Maul menyetujui tempat tersebut.
Aku masih berpikir sebentar dan mengamati sekitar untuk melihat apakah tempat ini sangat cocok untuk kami.
Pemandangan yang indah, permukaan tanah yang landai dan tidak terlalu keras, dan tidak jauh dari pohon. Tempat ini sangat pas untuk mendirikan tenda.
“Ok, aku setuju di sini.”
“Kalau begitu… para pria bantu aku mendirikan tenda, sedangkan para gadis silahkan memasak untuk makan siang.”
Riki langsung memberikan arahan kepada kami.
“Baik Pak!”
Kami semua pun mulai melakukan tugas kami masing-masing.
Aku pun membuka tasku untuk mengambil dua buah tenda yang berada di dalamnya, dan kemudian aku membagikan tenda satunya lagi kepada Riki supaya dia memasangnya.
“Woah! Banyak sekali sayuran yang kau bawa di tasmu!”
Aku terkejut ketika melihat isi tas yang dibawa Riki. Karena selain sleeping bag dan matras, dia juga membawa sayur-sayuran dengan jumlah yang lumayan banyak bagi orang yang ingin pergi mendaki.
“Kapan kau membeli sayuran itu? Aku rasa waktu di terminal, aku tidak melihat ada sayuran itu di tasmu.”
“Aku membelinya ketika kita berada di basecamp.”
“Lalu siapa yang mengolah itu semua? Kau tau, aku sangat malas untuk memasak sesuatu yang ribet saat di atas gunung.”
Karena itu sangat merepotkan.
“Tenang saja Mar, kita kali ini tidak mendaki sendiri. Kita serahkan ini kepada para gadis.”
Riki menyuruhku untuk melihat ke para gadis yang sedang memasak tidak jauh dari kami. Aku juga melihat Miyuki dan Rina yang sedang asik memotong sayuran itu sembil bercengkrama.
Hee… Ternyata Miyuki bisa memasak juga. Aku kira tuan putri seperti dia tidak bisa memasak karena terlalu
dimanja oleh kedua orang tuanya.
“Hei kalian berdua!... Tangan kalian berhenti.”
Maul menatap kami dengan sangat kesal karena kami asik berbicara sedangkan dia sedang bersusah payah dalam membangun tenda.
Kami pun melanjutkan pekerjaan kami.
5 menit kemudian…
“Fuuih… Akhirnya selesai.”
Aku mengelap keringat yang ada di jidatku dan melihat tenda yang baru saja aku dirikan dengan sangat bangga.
“Apa yang selanjutnya kita lakukan?”
Maul bertanya kepada Riki yang sedang memasukan tasnya ke dalam tenda.
“Sepertinya aku mau shalat dulu, sudah mau ashar soalnya.”
“Kau benar juga, kita melakukannya secara berjemaah saja. Biar cepat!”
Maul menyarankannya kepada Riki.
“Ok! Mar kau yang jadi imam ya!”
“Mengapa harus aku? Bukankah kau sendiri juga bisa.”
“Kalau untuk urusan seperti ini lebih baik kau saja yang jadi imamnya.”
“Baiklah.”
Dan juga kalau untuk urusan seperti ini aku tidak suka banyak berdebat.
Kami pun mengambil sajadah yang berada di tas kami dan kami langsung menghampiri para gadis untuk mengambil satu botol air mineral untuk kami gunakan berwudu.
“Kalian mau kemana?”
Miyuki bertanya kepada kami bertiga.
“Kami mau melaksanakan shalat.”
“Oh begitu.”
Dan kami pun pergi ke salah satu pohon besar yang ada di sana untuk berwudu. Kami berusaha untuk menggunakan air seminim mungkin untuk keperluan berwudu. Karena air yang kami bawa tidak banyak dan kami harus menghematnya hingga turun besok siang. Setidaknya selama bagian yang harus dibasuh sudah terkena air, itu sudah cukup.
Awalnya Riki menyarankan kepadaku untuk melakukan tayamum, tapi entah kenapa aku lebih yakin jika berwudu dengan menggunakan air.
Setelah melakukan shalat dzuhur yang dilanjutkan dengan menjamak shalat ashar, kami langsung bergabung dengan para gadis yang sedang memasak.
“Itu mereka sudah selesai.”
Miyuki terlihat sedang menunggu kami.
“Ada apa?”
“Bisakah kalian membantuku untuk memasak nasi? Aku tidak terbiasa memasak nasi dengan menggunakan kompor.”
“Tenang saja, kalau itu serahkan kepadaku.”
Riki terlihat percaya diri sekali, memang kalau urusan memasak nasi dengan menggunakan kompor adalah keahlian dari Riki, karena dia sudah terbiasa akan hal itu.
__ADS_1
“Kalau begitu, kami pergi sebentar untuk melaksanakan shalat ya… Ayo Rin!”
“Hum!”
Miyuki dan Rina pun pergi meninggalkan kami dan menuju ke arah tenda mereka.
“Kau tidak ikut shalat Kirana?”
Aku melihat Kirana yang masih duduk dan sibuk dengan pekerjaannya.
“Aku sedang tidak shalat.”
“Oke…”
Selama menunggu Riki memasak beras, aku pun mengumpulkan logistik yang kami bawa dan merapikannya menjadi satu.
Tunggu! Ada yang menarik perhatianku.
“Beras ini siapa yang bawa?”
Aku mengangkat salah satu kantung plastik berisikan beras yang berbeda dengan beras lainnya.
“Entahlah, apa kau tau Mul?”
“Aku tidak tau.”
Riki dan Maul tidak mengetahui beras siapa itu.
“Memangnya kenapa Kak Amar?”
Kirana bertanya heran kepadaku.
“Tidak apa-apa, hanya saja beras ini berbeda sekali dengan yang lainnya.”
“Iya, kau benar Mar!”
Maul yang penasaran menghampiriku dan melihat beras itu juga.
“Sepertinya beras ini lebih besar dan lebih pendek.”
Maul mengambil segenggam beras di tangan kanannya.
“Apa yang kalian berdua lakukan dengan berasku?”
Miyuki dan Rina yang sudah selesai melaksanakan shalat langsung bergabung bersama kami. Miyuki terlihat kebingungan melihat aku dan Maul yang sedang memegang berasnya.
“Jadi ini beras milikmu?”
“Iya, ini beras yang sering dipakai di rumahku.”
“Apa wajan aneh itu juga milikmu?”
Aku menunjuk sebuah wajan berbentuk kotak yang baru saja dipakai.
“Jangan menyebutnya aneh, wajan ini biasa digunakan untuk membuat tamagoyaki.”
Miyuki terlihat malu wajan yang dia bawa aku sebut aneh.
Tunggu, tamagoyaki? Makanan jenis apa itu.
“Apa kau membuat tamagoyaki untuk makan siang ini?”
“Apa itu? Makanan jenis baru?”
Aku bertanya kepada Maul yang sepertinya mengetahui makanan apa itu.
“Kau tidak tau itu Mar? Itu adalah telur dadar khas Jepang.”
Oh.. hanya telur dadar.
“Asik, akhirnya aku bisa mencicipi masakan Jepang di sini.”
Maul sangat senang sekali.
“Aku juga membawa nori. Kalau kalian berkenan, besok pagi untuk sarapan aku akan membuatkan kalian onigini. Asalkan ada orang yang memasakan nasi untukku.”
Nori? Onigiri? Makanan apa lagi itu? Apa selama ini dia memakan makanan yang tidak pernah aku makan.
“Tenang saja, aku akan memasakan nasi untukmu.”
Riki menyanggupi permintaan dari Miyuki.
“Terima kasih.”
Aku tidak tau lagi dengan pendakian kali ini. Terlalu banyak hal tidak normal yang terjadi saat ini. Membawa banyak sayuran, tamagoyaki, nori, dan onigiri. Aku tidak menemukan kesan mendaki sama sekali dari semua itu.
“Ada apa Ar? Kau terlihat lelah sekali.”
Rina bertanya kepadaku yang sedang berusaha untuk menerima semua ini.
“Aku tidak bisa menemukan hal normal di sini.”
“Normal? Memang kau tidak bisa memasak ketika sedang mendaki?”
“Bukan hal itu yang aku permasalahkan. Biasanya ketika kita sedang mendaki, kita biasa memasak makanan yang instan. Seperti mi instan, nugget, atau hal instan lainnya.”
“Aku turut berduka mendengar itu.”
Rina sedikit terkejut mendengar perkataanku. Lagi pula buat apa dia berduka. Apa dia mencoba mengkasihaniku karena tidak memakan makanan yang enak.
Memang benar, di atas gunung seperti ini kita harus memakan apa pun yang kita bawa dari bawah supaya tubuh kita tetap hangat dan bertenaga. Bahkan rasa mi instan saja tidak seenak rasa biasanya ketika kalian memasaknya di atas gunung. Aku tidak tau apa yang terjadi, apa karena hawa dingin yang mempengaruhi masakan atau memang kami yang tidak bisa membuat masakan itu menjadi enak, tapi menurutku seperti itulah esensi naik gunung yang sebenarnya.
“Soalnya kemarin aku mendengar dari Miyuki waktu pergi ke toserba, dia sama sekali belum pernah makan mi instan.”
“Benarkah itu? Aku baru tau ada orang di zaman ini yang belum pernah memakan mi instan.”
Aku terkejut setelah mendengar perkataan Rina tentang hal itu. Kalian tau sendiri, tidak mungkin ada orang
yang belum pernah memakan mi instan di zaman sekarang ini. Rasanya yang enak, harganya yang murah, dan proses pembuatannya yang tidak terlalu ribet membuat makanan ini adalah makanan kesukaan semua orang dari segala golongan.
“Kalian berdua, cepatlah kemari. Makanannya sudah siap.”
Miyuki memanggil kami yang sedang berbincang.
“Mari kita makan dulu.”
“Yup!”
__ADS_1
Kami pun bergabung bersama mereka dan bersiap untuk makan siang. Walau pun saat itu waktu sudah menunjukan pukul setengah tiga sore, tapi kami tetap menyebutnya makan siang.
Aku melihat menu yang disajikan di sana. Hanya ada nasi dan telur dadar yang Maul katakan tadi.
Hmmm… Jadi ini yang namanya tamagoyaki, terlihat seperti telur dadar yang di gulung. Sebentar, bukankah
tadi mereka memotong sayuran? Lalu kemana semua sayuran yang telah di potong tadi.
Aku tidak melihat menu sayuran sedikit pun ada di sana, bahkan telur dadar yang ada di hadapanku saja tidak
ada sayurannya sedikit pun.
“Baiklah semuanya, silahkan makan tidak usah malu.”
Miyuki mempersilahkan kepada kami untuk menyantap makanannya.
“Kalau begitu, mari kita makan.”
Kami pun mulai memakan makanan yang disajikan. Aku juga baru menyadari kalau nasi yang ada di piringku lumayan banyak. Setidaknya dengan ukuran nesting yang dia punya, seharusnya butuh tiga kali memasak untuk mendapatkan nasi sebanyak ini.
Sudahlah, buat apa aku memikirkannya. Lebih baik sekarang aku merasakan masakan dari Miyuki. Mari kita lihat, apakah masakan ini seenak kelihatannya.
Aku pun mencoba tamagoyaki yang dia buat, dan bersiap untuk gigitan pertama.
Uhmm… Ini enak! Walaupun rasanya seperti telur dadar, tapi ada sedikit campuran lain di dalamnya. Rasanya tidak hanya asin saja, namun ada rasa manis dan gurih ketika kau menggigit telur dadarnya. Apa dia mencampurkannya dengan susu dan gula? Mungkin ketika aku sampai di rumah, aku akan mencoba untuk membuatnya.
“Ini enak.”
“Iya! Aku baru merasakan telur dadar yang seperti ini.”
Riki dan Kirana memuji masakan Miyuki.
“Aku bersyukur bisa makan ini di sini.”
Maul terlalu berlebihan dalam memuji masakan Miyuki.
“Ini enak!”
“Terima kasih Rin.”
Miyuki terlihat senang masakannya dipuji oleh teman-temannya.
“Bagaimana rasanya Mar?”
Miyuki bertanya tentang rasa masakannya kepadaku.
“..Yah… Lumayan lah.”
“Kamu ini, kalau seandainnya enak tidak usah malu-malu.”
Aku sedikit malu ketika mendengar hal itu dari Miyuki. Tidak kusangka kalau dia tau apa yang sebenarnya aku rasakan. Sepertinya dia begitu percaya dengan kemampuan memasaknya.
Aku pun sedikit melihat ke pemandangan gunung-gunung yang ada di hadapanku. Walaupun liburan kali ini ada beberapa orang yang aku pikir merepotkan dan satu orang sumber masalah. Tapi aku rasa liburan kali ini tidak akan semerepotkan sebelumnya. Sepertinya malam ini aku bisa menikmati bintang-bintang dengan sangat tenang.
“Ngomong-ngomong apa yang akan kita lakukan setelah ini?”
Rina bertanya kepada RIki yang sedang asik menyantap makanannya.
“Bebas, terserah kalian mau melakukan apa pun. Lagi pula kita ke sini untuk berlibur, jadi nikmati saja waktu kalian.”
Bagus Rik, memang seperti itu yang aku mau.
“Aku mau berjalan-jalan di sekitar sini.”
Miyuki terlihat sangat bersemangat dan tidak sabar untuk menjelajahi tempat ini.
“Aku juga.”
“Ya, aku juga sama.”
Kirana dan Rina sepertinya merasakan hal yang sama juga.
“Itu tidak masalah, tapi jangan pergi terlalu jauh.”
“Siap Bos.”
Miyuki mengiyakan peringatan yang diberikan oleh Riki.
“Mar, kau berjaga dulu untuk mengawasi mereka.”
“Kenapa aku yang harus berjaga memangnya kau mau kemana?”
“Aku mau tidur dulu.”
Aku melihat mata Riki dengan kantung mata yang cukup besar.
“Kenapa tidak Maul saja yang menjaga? Aku juga mau tidur.”
“Maaf, aku juga mengantuk.”
Maul juga terlihat mengantuk sekali, dari tadi dia selalu menguap terus.
“Kalian ini…”
“Tenang saja Mar, kami bisa menjaga diri kami sendiri kok.”
Miyuki berusaha meyakinkanku agar aku bisa tidur juga dengan mereka.
“Iya Ar, kita bukanlah anak kecil lagi.”
“Benar apa yang dikatakan Kak Rina, kau terlalu khawatir Kak Riki.”
Sepertinya kali ini aku yang harus mengalah dari mereka berdua. Aku rasa mereka belum tidur dari semalam.
“Baiklah, aku akan mengawasi mereka.”
“Sudahlah Mar, kamu bisa tidur bersama dengan mereka.”
Miyuki masih mencoba untuk membuatku tidak khawatir.
“Tidak, setidaknya aku akan berjaga di sini untuk memperhatikan kalian. Akan berbahaya jika membiarkan kalian
berkeliling tempat ini sendirian. Aku tidak mau hal merepotkan terjadi saat aku sedang tertidur.”
“Baiklah kalau begitu, mohon bantuannya.”
Yang benar saja… Padahal aku sendiri butuh tidur untuk beristirahat.
__ADS_1
-End Chapter 24-