Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 75 : Waktunya Perilisan.


__ADS_3

Setelah pulang sekolah, Aku bersama dengan Maul dan Pak Febri pergi ke kantor untuk melakukan perilisan aplikasi yang sudah kami buat selama kurang lebih dua bulan terakhir ini. Sudah banyak sekali waktu dan tenaga kami kerahkan untuk membuat aplikasi itu.


“Baiklah, kita mulai hitung mundurnya.”


“Sepuluh... Sembilan... Delapan... Tujuh... Enam... “


Kami semua menghitung mundur bersama-sama.


“Lima... Empat... Tiga... Dua... Satu.”


Dor... Dor... Dor...


Aku dan Pak Febri menarik confetti yang sudah kami beli tadi.


“Karena aplikasinya sudah dirilis, ayo kita rayakan dengan makan-makan di teman makan yang ada di dekat sini.”


Pak Hari mengajak kami semua.


“Apa kita memang harus merayakan ini?”


“Tentu saja kita harus merayakan ini sebelum nantinya kita akan bekerja lagi untuk ke depannya.”


“Baiklah.”


Huh! Tubuhku terasa ringan sekali rasanya.


“Aku sudah lelah sekali.”


Pak Febri pun bersandar di tembok yang ada di belakangnya.


***


“Sekali lagi, terima kasih atas kerja kerasnya!”


Pak Hari mengangkat sebuah minuman yang sudah dia pesan tadi.


“Mulai besok sudah ada beberapa orang magang yang akan bekerja untuk bagian editor dan IT, jadinya Amar dan yang lainnya bisa bersantai terlebih dahulu.”


Akhirnya aku bisa bermain gim lagi! Sudah lama sekali aku tidak bermain gim, sepertinya nanti malam aku mau menghabiskan malamku untuk bersenang-senang dan bersantai.


“Akhirnya aku bisa tidur nyenyak, sudah beberapa hari ini jam tidurku sangat tidak teratur.”


“Memangnya sebelum mendapat pekerjaan ini, jam tidurmu teratur Mar?”


Ucap Maul kepadaku.


“Tidak juga sih.”


“Aku akan bekerja di rumah untuk mengoptimalkan iklannya agar banyak orang yang mengunduh aplikasinya.”


“Boleh saja, tapi jangan memakasakan diri Mul.”


Pak Hari mengkhawatirkan kondisi Maul.


“Tenang saja, mumpung aku belum mendapatkan pekerjaan baru. Melakukan hal seperti ini bukanlah hal yang besar bagiku.”


Orang ini memang tidak pernah mengerti kapan harus beristirahat.


“Aku juga akan membayar kalian ketika aplikasinya sudah ada pemasukan.”


Woah! Uang segar selama berbulan-bulan yang aku inginkan. Aku rasa setelah uangnya aku dapatkan, aku akan membeli beberapa peralatan komputer seperti mouse dan headphone.


“Baiklah, kalau atasan sudah berkata seperti itu. Kita harus mengembangkan aplikasi ini agar menjadi aplikasi yang terkenal hingga ke seluruh penjuru dunia.”


Pak Febri jika sudah mendengar uang dia langsung bersemangat sekali.


“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya agar kita bisa meningkatkan performa aplikasi dan mempertahankannya?”


Aku kira hari ini tidak akan ada pembahasan untuk aplikasi.


“Tadi siang aku sempat mendengar ini dari temanku, menurut temanku untuk melakukan pengembangan di dalam aplikasi agar tidak membuat pembaca kerepotan ketika sedang membaca komiknya. Kita harus membuat para pembaca nyaman dengan aplikasi kita ketika membaca komik dalam waktu yang lama. Selain itu kita juga harus membuat kontrak yang sama-sama menguntungkan kedua belah pikak antara komikus dan perusahaan. Aku rasa menambahkan-“


“Sudah-sudah Mar! Aku rasa kau bisa mengatakan semua itu saat di rapat berikutnya.”


Sepertinya aku terlalu banyak berbicara tadi.


“Dari mana kau mendapatkan semua itu?”


Pak Hari bertanya kepadaku setelah menghentikanku tadi.


“Aku mengetahuinya dari teman sekolahku.”


“Apa temanmu itu pernah bergabung di salah satu aplikasi komik seperti ini?”

__ADS_1


“Sepertinya tidak.”


“Tadi yang kamu bicarakan adalah masukan yang sangat bagus sekali. Maaf menghentikanmu tadi, tapi masukannya tadi sangat bagus sekali.”


“Aku juga setuju dengan yang Amar katakan tadi. Pak Hari harus memikirkan berapa bayaran yang akan diberikan kepada para komikus, karena ramai atau tidaknya aplikasinya kita nanti adalah partisipasi dari para komikus. Selain membuat komik di sini, mereka juga akan memasarkan komiknya sendiri tanpa kita suruh.”


Maul setuju denganku dan mengutarakan pendapatnya.


“Aku akan memikirkan hal itu.”


“Apakah kalian berdua sering bekerja bersama?”


Pak Febri dari tadi memperhatikanku dan juga Maul.


“Tidak, ini baru pertama kalinya aku dan Maul bekerja bersama. Memangnya kenapa?”


Balasku kepadanya.


“Kalian berdua sangat kompak sekali seperti orang yang sudah bekerja selama bertahun-tahun.”


“Kalau ada Riki di sini kita akan lebih kompak lagi. Aku, Amar, dan Riki sudah seperti satu tim yang solid.”


Maul tersenyum ketika mengatakan hal itu.


“Siapa itu Riki?”


Pak Hari bertanya kepada Pak Febri yang sedang menikmati minumannya.


“Dia adalah salah satu murid yang ada di kelasku, dia termasuk anak yang aktif dalam ekskul pencak silat.”


“Kenapa dia tidak kau ajak juga Mar? Bukankah dia bisa membantumu saat bekerja kemarin.”


“Saat ini di sedang fokus untuk O2SN, jadi aku tidak mau untuk merepotkannya.”


“Kalau dia sudah selesai O2SN, ajak saja untuk bekerja di sini juga. Aku ingin melihat bagaimana jika kalian berada di satu tim.”


“Memang seperti itu niatku dari awal.”


“Bagus, semakin banyak orang maka akan semakin ringan juga pekerjaan yang kita kerjakan.”


Akhirnya makanan yang kita pesan pun datang dan kami makan-makan bersama. Semua biaya kita makan-makan ini ditanggung oleh Pak Hari, dia berkata kalau ini adalah bayaran awal dari kerja  keras kita kemarin.


“Ngomong-ngomong bagaimana bayaran untuk orang-orang magang nanti? Apa kita sudah mempunyai data untuk hal semacam itu.?”


Hmmm... Jadi Pak Hari sudah pensiun, aku kira dia akan terus bekerja sampai aplikasi ini benar-benar memiliki penghasilan yang cukup dan stabil.


“Apa kau tidak ingin menggunakan uang itu untuk kebutuhan pribadi Ri?”


“Bagaimana ya? Aku tidak memiliki sesuatu yang ingin aku beli, jadinya aku bingung mau menggunakan uang itu untuk apa.”


“Lalu bagaimana dengan keluarganya Pak Hari sendiri?”


“Itu tidak sopan membicarakan hal pribadi orang lain Mar.”


Tegur Pak Febri kepadaku.


“Aku minta maaf.”


“Tenang saja Mar, itu bukanlah masalah. Febri saja yang terlalu berlebihan, hahahahaha...”


Kami pun menghabiskan makanan yang kami pesan untuk merayakan pesta itu. Setelah itu kami langsung pulang karena Pak Hari mau memberikan hari libur kepada kita, menurutnya tidak bagus terlalu memaksakan diri untuk bekerja. Padahal Pak Hari sendiri orang yang selalu memaksakan diri untuk bekerja.


“Oh iya sebentar lagi ulang tahunmu ya? Apa kau akan merayakannya?”


Ulang tahun? Aku melupakan hal itu karena terlalu sibuk bekerja.


“Memangnya aku pernah merayakan ulang tahunku? Buat apa merayakan ulang tahun, itu seperti anak kecil saja. Paling aku akan mengundang kau dan juga Riki untuk makan-makan di rumahnya saja.”


“Bagaimana dengan Rina, Miyuki dan yang lainnya?”


“Aku tidak tau akan mengundangnya atau tidak.”


Tapi aku memiliki firasat walaupun aku tidak mengundang mereka, nanti juga mereka akan datang sendiri atas inisiatif dari Miyuki.


“Setidaknya kau mengundang atau memberitahu mereka kalau kau ingin mengadakan pesta di rumah karena mereka sudah seperti teman akrab kita, kita sudah lama menghabiskan waktu bersama dengan mereka.”


Kalau dipikir-pikir Maul benar juga, aku sudah lama menghabiskan waktu bersama dengan Miyuki sejak bertemu dengannya di kereta jurusan Jakarta Kota. Apalagi bersama dengan Rina, sudah hampir empat tahun aku bersama dengannya, walaupun Rina berkata kalau dia sudah mengenalku dari SD.


“Sepertinya aku akan mengundang mereka kalau aku mengadakan pesta.”


Oh iya, ada yang ingin aku tanyakan kepada Maul.


“Bagaimana perkembangan dari kasus yang ditangani oleh bapakmu?”

__ADS_1


“Bapakku sedang melakukan langkah pencegahan untuk mencegah dua kasus sekaligus agar tidak semakin banyak lagi yang terjadi.”


“Pencegahan?”


“Kalau seandainya penculikkan ini memang benar ada kaitannya dengan perdagangan manusia, jadi bapakku dan segenap polisi yang sudah dia kumpulkan mencegah terjadinya kasus penculikkan dengan memperketat keamanan di berbagai titik yang rawan penculikkan.”


Jadi itu alasannya kenapa kasus ini sudah tidak menjadi bahan perbincangan di media internet lagi. Aku juga sudah tidak melihat ini di berita yang ada di televisi. Syukurlah kalau misalnya apa yang dilakukan bapaknya Maul membuahkan hasil. Dengan begitu kekhawatirkan dulu tidak akan terjadi.


“Aku mengerti, dengan tidak adanya penculikkan makan tidak akan ada orang yang di jual di pasar tersebut.”


“Tepat sekali.”


Aku rasa bapaknya Maul tidak dapat menemukan dimana lokasi yang tepat dari pasar penjualan manusia itu. Apa yang membuat lokasi itu susah untuk dicari ya? Apa karena lokasinya yang selalu berubah-ubah, atau informasi yang didapatkan oleh kepolisian yang tidak benar.


“Tapi hebat sekali bapakmu dapat melakukan hal seperti itu dengan lancar. Seharusnya ada beberapa kendala mengingat kalau ada beberapa polisi yang disogok di sana.”


“Kemarin bapakku bilang kalau dia mendapatkan dukungan dari beberapa atasan untuk melakukan hal itu, jadi bapakku dapat melakukan hal itu dengan lancar tanpa kendala sedikitpun.”


“Yah walaupun begitu, ini masih sangat sulit untuk memberatasnya hingga ke akar.”


“Kau benar, kalau mereka ingin melakukan itu. mereka harus mencari siapa orang yang membocorkan informasi kepolisian kepada orang-orang itu.”


Walaupun saat ini kita sedang berada di dalam bis, tapi keadaan bis saat itu sangat sepi karena jam pulang kerja sudah lewat. Jadi kami tidak perlu khawatir ketika membicarakan hal seperti ini.


“Apakah aneh remaja seperti kita membicarakan hal seperti ini?”


“Itu adalah hal yang aneh.”


“Aku setuju denganmu.”


“Kenapa kau bertanya seperti itu Mar? Tidak seperti biasanya saja.”


“Aku merasa kalau aku berbeda dengan anak yang lainnya.”


“Itulah yang membuatmu terlihat spesial dimata orang-orang seperti Riki, Rina, dan mungkin juga Miyuki. Sudut pandangmu dalam menilai sesuatu, berpikir tentang sesuatu, dan membuat keputusan sangat berbeda dari kebanyakan orang.”


Berbeda ya? Apakah tidak salah jika berbeda seperti itu? Sebenarnya aku sendiri juga tidak tau kalau pemikiranku selama inilah yang membuatku berbeda dengan anak-anak yang lain, karena aku selalu berbicara dengan orang-orang dan mereka memahami apa yang aku bicarakan, saat itu aku berpikir kalau pola pikirku hampir sama dengan yang lainnya.


“Apakah salah jika aku merasakan yang namanya masa muda?”


“Apa itu! apa kau sudah mulai merasakan yang namanya cinta hingga berkata seperti itu?”


“Ini semua tidak ada kaitannya tentang cinta.”


“Lalu?”


“Setelah melihat Pak Hari dan Pak Febri, aku melihat mana orang yang menghabiskan hidupnya untuk mengejar karirnya dan ada juga yang menghabiskan hidupnya dengan masa mudanya, tapi mereka sama-sama sukses.”


“Hidup itu memang penuh dengan misteri, kita tidak tau apa yang menunggu kita di depan sana. Kita hanya perlu menjalani dan mencoba untuk melakukan yang terbaik dalam hidup ini saja.”


Woah! Kata-kata keren apa itu. Sejak aku sering pergi berdua dengan Maul, aku sering sekali mendengar kata-kata keren yang keluar dari mulutnya. Apa memang dia memiliki bakat untuk menjadi seorang motivator? Mungkin saja.


“Sejak kapan kau bisa berkata bijak seperti itu.”


“Siapa saja juga bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu, jadi tidak usah heran dengan hal itu.”


“Kau benar.”


Kami pun memandang ke luar jendela bis dan melihat lampu kota yang menerangi kota malam itu. Mobil-mobil yang melintas di samping kami dan beberapa orang yang berjalan di trotoar jalan membuat pemandangan kota malam itu terasa sangat tenang sekali.


“Rasanya ada yang kurang ya jika tidak ada Riki saat ini.”


“Ini hanya berlangsung sementara saja sampai Riki selesai O2SNnya.”


“Apakah Riki dapat memenangkan pertandingan itu atau tidak ya?”


“Aku sendiri juga tidak tau, bahkan Riki saja yang biasanya yakin waktu kutanya berkata tidak tau juga. Tapi setidaknya dia berusaha untuk memenangkan hasil yang terbaik dari pertandingan itu.”


“Kita juga tidak boleh kalah darinya.”


“Iya, mari kita sukseskan aplikasi ini dan mengembangkan usaha bersama Pak Hari.”


Selama di perjalanan aku selalu terpikir tentang dua hal dari percakapan yang aku lakukan dengan Maul. Pertama adalah tentang kasus penculikkan itu, dan kedua adalah hari ulang tahunku sendiri.


Walaupun aku merasa senang kalau bapaknya Maul bisa mengatasi hal itu dengan mudah, tapi aku merasa kalau apa yang dia lakukan masih belum cukup kuat untuk menyelesaikan hal ini. Aku sendiri juga tidak tau bagaimana cara yang efektif untuk menyelesaikan masalah itu karena aku tidak tau bagaimana fakta yang terjadi di lapangan, karena aku hanya tau berita-berita itu dari media internet atau televisi.


Kemudian tenang ulang tahunku, aku sama sekali tidak pernah merayakannya sejak memasuki sekolah dasar. Aku meminta ibuku untuk tidak merayakan hal itu karena menurutku itu terlihat seperti anak kecil, padahal di waktu itu memang aku masih menjadi anak kecil. Selain itu aku tidak terlalu suka menjadi perhatian dari orang-orang yang datang ke acara ulang tahunku itu.


Tentang saran dari Maul untuk mengundang Rina, Miyuki, dan yang lainnya ke pesta ulang tahunku, sepertinya itu bukan ide buruk juga. Walaupun aku malas mengakui hal ini, tapi sejak adanya Miyuki menjadi temanku. Keseharianku tidak terasa membosankan, karena banyak hal yang terjadi dengan ke datanganya. Antara sesuatu hal yang menyenangkan atau merepotkan, aku rasa itu hampir sama jika datangnya bersama dengan Miyuki.


Semua tindakan yang dia lakukan selalu berada di luar jangkauanku. Aku tidak pernah bisa menebak apa yang sedang dia lakukan dan apa yang nantinya akan dia lakukan. Dia sama seperti udara, tidak dapat terlihat namun dapat kurasakan kehadirannya. Mungkin saat ini aku harus merubah sudut pandangku kepada Miyuki. Tidak enak juga jika menganggapnya merepotkan terus menerus.


Yaa itu juga kalau dia tidak melakukan hal-hal yang tidak membuat pandanganku berubah lagi terhadapnya.

__ADS_1


-End Chapter 75-


__ADS_2