
Hari ini adalah tanggal 23 Januari, dan seperti yang kalian tau. Hari ini adalah hari ulang tahun dari Miyuki.
Aku, bersama dengan Riki, Maul, dan Akbar sedang menuju ke rumahnya Miyuki bersama-sama karena kami harus pergi ke kantor terlebih dahulu karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan Pak Hari denganku dan juga Maul.
“Mar, tadi apa yang diberikan Pak Hari kepadamu?”
Maul bertanya kepadaku.
“Aku diberikan kertas cek olehnya, aku juga tidak tau untuk apa aku diberikan ini.”
Aku menunjukkan kertas cek itu kepada mereka yang aku simpan di dalam dompetku.
“Kertasnya kosong, aku kira ada uang di dalamnya.”
Maul melihat kertas cek itu dengan seksama.
“Aku juga tidak tau kenapa Pak Hari memberikan ini, dia bilang kertas ini akan berguna suatu hari nanti.”
Aku pun menyimpan kertas itu kembali ke dalam dompetku.
“Kira-kira ulang tahunnya Miyuki nanti seperti apa ya?”
Riki menatap langit dan mencoba membayangkan tentang suasana ulang tahun yang ada di sana.
“Sudah pasti ulang tahunnya akan meriah sekali.”
Karena bapaknya Miyuki adalah orang yang kaya dan sangat sayang kepada anak-anaknya. Sudah pasti kalau bapaknya akan memberikan pesta ulang tahun yang terbaik kepada anak-anaknya.
“Apa tidak masalah jika kita menggunakan baju seperti ini?”
Akbar merasa tidak percaya diri dengan baju yang dia kenakan.
Memang dari kami berempat, tidak ada satupun dari kami yang menggunakan pakaian rapih untuk pergi ke pesta ulang tahun Miyuki. Berbeda dengan Riki, Akbar, dan Maul yang menggunakan kemeja, sedangkan aku
hanya menggunakan kaus saja.
Aku memang tidak pernah menggunakan kaus formal ketika pergi ke kantor, apalagi hari libur seperti ini. Kalau hari kerja, aku datang ke kantor dengan menggunakan seragam sekolah, jadinya kami tidak perlu menggunakan baju formal lagi.
“Aku rasa tidak masalah, aku saja hanya menggunakan kaus dan jaket.”
“Pakaianmu setiap hari memang seperti itu Mar.”
Ucap Riki kepadaku.
“Siapa saja yang diundang nanti?”
Aku hanya menggelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaan dari Maul.
“Aku mendengar dari Kichida kalau semua teman SMP dan teman sekelasnya di SMA diundang semua.”
“Tidak mungkin semua yang diundang akan datang ke acara ulang tahunnya Miyuki Rik, pasti hanya beberapa orang yang dekat dengannya saja yang datang.”
“Kalau yang dibicarakan di sini adalah Miyuki, sepertinya yang datang akan banyak.”
Mendengar perkataan dari Maul, aku baru ingat kalau Miyuki cukup terkenal di SMPnya dulu. Walaupun dia pernah dimusuhi, tapi tetap saja dia tetaplah orang yang terkenal, khususnya dikalangan laki-laki.
“Oh iya, apa kalian bertiga akan ikut pemilihan anggota OSIS yang akan diadakan sebentar lagi?”
Tanya Akbar kepada kami bertiga.
“Aku tidak berminat untuk mengikuti itu.”
“Kalau Amar tidak ikut, aku juga tidak akan ikut.”
Begitulah yang diucapkan Riki.
“Kenapa kau selalau saja mengikuti apa yang aku lakukan Rik?”
“Kalau melakukan sesuatu tanpa kau akan terasa sangat membosankan.”
Apa yang menyenangkan melakukan sesuatu bersama denganku?
Aku rasa setiap saat, aku selalu bermain di zona nyaman dan itu sangat membosankan sekali. Dan sesuatu yang membuat hal itu menjadi keluar dari zona nyaman, ketika Riki mengikuti kemauannya sendiri seperti saat menyelesaikan kasusnya AKbar.
“Bagaimana denganmu Mul?”
Sekarang Akbar bertanya kepada Maul
“Aku tidak akan ikut juga pemilihan itu, karena itu akan mengganggu pekerjaanku.”
Maul berpikir sangat realistis sekali.
“Aku juga tidak akan ikut pemilihan itu.”
Ucap Akbar.
“Apalagi saat ini pekerjaan kita sedang banyak-banyaknya.”
Tambah Riki.
“Tapi karena pekerjaan sedang banyak seperti sekarang, aku bisa mendapatkan uang yang cukup untuk membayar uang sewa kontrakan.”
“Bagaimana sistem pembayaran yang diberikan kantor kepadamu Bar?”
Aku bertanya kepada Akbar.
Kalau dulu waktu aku masih magang dengan Pak Hari, biasanya dia membayarku sesuai proyek yang aku kerjakan. Kemudian ketika aku sudah mulai menjadi karyawan tetap, aku dibayar per bulan.
“Aku dibayar per proyek yang aku kerjakan. Setelah pekerjaannya selesai, maka uang bayarannya baru turun.”
“Aku juga sama seperti itu.”
Ucap Riki.
Berarti tidak ada sistem yang berubah.
Walaupun aku dan Maul juga termasuk salah satu atasan di sana. Pak Hari tidak pernah mengajakku untuk membahas masalah administrasi seperti itu. Biasanya dia hanya membicarakan itu bersama dengan Kak Malik dan bagian-bagian administrasi lainnya.
Memang aku dan Maul ditugaskan untuk mengatur divisi kami masing-masing. Seperti aku yang mengatur di divisi editor dan sesekali mengadakan rapat dengan divisiku. Tapi kami biasanya mengadakan rapat jika terjadi sebuah masalah yang harus diselesaikan.
Akhirnya kami pun sampai di rumahnya Miyuki, dan dari depan gerbang, aku sudah tau kalau di dalam sana sudah ramai sekali dengan orang yang menghadiri acara ulang tahun Miyuki.
Ketika kami ingin masuk ke rumahnya, ternyata Kichida dan Yoshida yang menjaga pintu masuk. Sepertinya mereka bertugas sebagai penerima tamu.
Saat aku berhadapan dengan Kichida dan Yoshida, baru kali ini aku melihat mereka berdua menggunakan gaun dan berdandan. Karena saat di sekolah, mereka tidak pernah berdandan seperti itu, lagi pula dari pihak sekolahnya juga yang tidak mengizinkan siswinya berdandan terlalu berlebihan.
“Apa kalian baru saja pulang dari kantor?”
Yoshida langsung menyapa kami.
“Iya.”
Aku mencoba untuk mengintip ke dalam.
Karena acaranya diadakan di halaman depan Miyuki yang cukup luas, aku dapat melihat banyak sekali makanan yang terdapat di atas meja panjang yang ada di sana.
“Kalian bisa langsung masuk.”
“Apa yang kalian berdua lakukan di sini?”
Riki penasaran akan hal itu.
“Kami berada di sini untuk menyambut tamu yang datang dan juga untuk mendata siapa saja yang sudah datang sesuai dengan data yang diberikan oleh Miyuki.”
__ADS_1
Kichida menunjukkan sebuah buku yang berada di hadapannya.
Aku pun melihat nama-nama orang yang berada di sana, dan aku juga melihat namaku yang sudah diberikan tanda centang oleh Kichida. Mungkin itu untuk menunjukkan kalau aku sudah datang ke sini.
“Seperti pesta pejabat negara saja.”
Celetuk Maul setelah mendengar hal itu.
“Siapa saja yang sudah datang?”
“Rina dan Kirana sudah datang.”
“Terima kasih.”
Kami pun mulai berjalan masuk ke dalam pesta tersebut.
Saat memasuki lapangan itu, jumlah orang yang datang sangat banyak sekali. Padahal lapangan Miyuki sudah aku bilang cukup luas, namun lapangannya terpadati oleh orang-orang yang datang ke acara ulang tahunnya.
Aku mendengar lagu yang dimainkan di sana dan menengok ke arah sumber suara.
Di sana, aku melihat ada penyanyi bersama dengan seseorang yang bermain piano, menyanyikan lagu dengan bahasa Jepang. Aku sama sekali tidak tau lagu itu karena aku juga tidak pernah mendengar satupun lagu Jepang.
“Ramai sekali tempat ini.”
Riki melihat ke arah kerumunan itu dan sepertinya dia sedang mencari Kirana dan Rina yang sudah datang terlebih dahulu.
“Iya.”
“Ramainya pesta ulang tahun menandakan seberapa populernya mereka di sekolah.”
Mata Maul langsung tertuju ke makanan yang berada di sana.
Kemudian pandangan beberapa tamu mulai tertuju ke arah kami. Bukan kami, lebih tepatnya ke arahku karena di sana hanya aku saja yang menggunakan baju kaos. Setidaknya aku menggunakan celana jeans dan juga sepatu.
Kalau hari ini aku tidak pergi ke kantor, mungkin aku akan menggunakan sendal ke sini.
“Banyak sekali makanannya.”
Aku setuju dengan Akbar.
Aku melihat berbagai jenis makanan yang terdapat di atas meja. Tapi rata-rata yang terdapat di sana sepertinya makanan Jepang. Aku juga melihat beberapa kue dan buah-buahan yang terletak di sana juga.
Dan tepat tidak jauh dari meja makan itu, aku melihat dua buah koki yang sepertinya sengaja di pesan untuk memasakan makanan secara langsung di sana.
Aku tidak mengerti lagi apa yang dipikirkan oleh orang kaya.
“Ada koki yang memasak makanannya juga Mar!”
Riki menunjuk ke arah koki itu.
“Makanan yang di sini juga makanan Jepang semua.”
Maul lebih mengerti hal itu dibandingkan denganku.
Kami pun mulai menghampiri meja makan itu dan mulai mengambil beberapa makanan yang ada di sana.
“Enak!”
Ucap Akbar yang sudah mencoba salah satu makanan yang ada di sana.
“Hai kalian!”
Sapa seorang lelaki yang datang bersama teman-temannya.
Aku sama sekali tidak mengenal lelaki itu.
“Kalian datang juga?”
Riki ternyata mengenal lelaki itu.
“Apa kau kenal dengan mereka Mar?”
Bisik Maul kepadaku.
“Tidak.”
“Mereka itu sepertinya teman sekelasnya Miyuki.”
Akbar juga mengenal mereka.
Aku pun melihat ke para tamu yang datang ke sana, dan dengan mudah, aku dapat mengenali mana tamu yang berasal dari SMP Miyuki dulu dan tamu yang berasal dari SMK Sawah Besar.
Karena semua tamu yang berasal dari SMP Miyuki dulu pasti orang Jepang dan dari SMK Sawah Besar sebagian besar adalah orang Indonesia.
Kemudian mataku pun tertuju kepada seorang perempuan yang menggunakan gaun berwarna putih yang dikerumuni oleh orang-orang, kebanyakan yang mengerumuninya adalah laki-laki.
“Sepertinya Miyuki berada di sana.”
Maul ternyata memikirkan apa yang aku pikirkan.
Tentu saat ini matanya Maul juga tertuju ke arah yang sama denganku.
“Apa kalian mau mengucapkan selamat kepada Miyuki terlebih dahulu?”
Ajak Riki kepada kami.
“Nanti saja, sekaran masih ramai orang yang mengerumuninya.”
“Aku setuju denganmu Mar.”
Aku pun melihat Akbar yang sedang kebingungan sebelum menyantap makanannya.
“Ada apa Bar?”
“Apa aku boleh membawa beberapa makanan ini ke rumah?”
“Seperrtinya boleh-boleh saja, nanti minta kantung plastik saja sama Miyuki atau kokinya.”
“Memang mereka menyediakannya?”
Maul bertanya kepadaku.
“Siapa tau, kalau memang tidak ada, kau bisa menggunakan tisu untuk membungkus makanannya.”
Sepertinya aku terlihat ahli sekali untuk masalah seperti ini.
“Aku akan melakukannya nanti.”
“Ayo Bar! Kita cicipi makanannya satu per satu.”
“Ayo!”
Akbar dan Riki pun pergi untuk menyantap semua makanan yang ada di sana.
“Mau kemana kita sekarang Mar?”
Maul bertanya kepadaku.
“Sepertinya aku mau menikmati minumannya terlebih dahulu, aku ingin sekali sesuatu yang segar.”
“Baiklah kalau begitu.”
Kami pun pergi ke sebuah meja bundar besar yang diatasnya terdapat berbagai macam minuman. Mulai dari minuman bersoda, teh, susu, dan juga buah-buahan.
__ADS_1
Ketika kami berada di sana, Rina dan Kirana pun datang menghampiri kami.
“Apa kalian berdua baru saja sampai?”
Rina dan Kirana langsung bergabung dengan kami.
“Iya, kami baru saja sampai.”
“Dimana Kak Riki?”
Tanya Kirana.
“Dia sedang mencicipi makanan bersama dengan Akbar di sana.”
Aku menunjuk ke arah Riki dan Akbar yang sedang berada di dekat koki yang sedang memasak sesuatu.
“Aku ingin menghampirinya dulu.”
Kirana pun pergi untuk menghampiri Riki.
“Apa kamu tidak mau mengucapkan selamat terlebih dahulu kepada Miyuki Ar?”
“Aku akan melakukannya nanti.”
Pada saat itu, aku mengambil sebuah minuman yang sepertinya itu sirop rasa melon dengan buah melon yang terdapat di dalamnya.
Segar sekali.
Tidak lama kemudian, muncullah seorang anak kecil yang tiba-tiba bersembunyi dibelakang tubuhku. Aku merasakan genggaman tangannya yang memegang pinggangku dengan cukup kuat. Aku pun melihat siapa dia, walaupun sebenarnya aku sudah tau kalau anak kecil itu pasti Misaki.
Aku pun melihat Misaki yang bersembunyi dibelakangku dengan beberapa lelaki yang mengikutinya.
“Ada apa Misaki?”
“Tolonglah aku Bang Amar!”
Aku pernah mengalami hal ini dengan Misaki saat dia merasa risih ketika ditanya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi ketika berada di kelasku saat pengambilan rapot.
Para lelaki yang mengikuti Misaki pun langsung mundur ketika melihat Misaki bersembunyi di balik tubuhku.
“Sepertinya mereka takut denganmu.”
Maul tersenyum dan sedikit meledekku.
“Memangnya mukaku semenakutkan itu?”
“Kalau untuk orang yang baru kenal, tatapanmu memang terlihat seram sekali.”
“Heee... Begitu.”
Teman-teman sekelasku juga pernah berkata hal yang sama seperti Maul, apalagi yang perempuan. Dia berkata kalau banyak orang yang enggan berbicara denganku ketika awal masuk sekolah, karena aku terlihat
seperti orang yang tidak bersahabat dan mataku seperti mata orang yang sedang mengancam seseorang.
Tapi ketika mereka melihatku berbicara dengan Riki, Kichida, dan Natasha. Pandangan mereka tentangku pun juga ikut berubah.
Dan inilah acara utamanya.
Miyuki yang sudah melihatku dan juga yang lain, langsung berjalan menghampiriku.
Aku pun melihat Miyuki yang menggunakan gaun putih dan dia terlihat sangat cantik sekali. Aku memang tau kalau Miyuki itu memang cantik, tapi baru kali ini aku mengakuinya di dalam hatiku kalau dia memang cantik.
Aku pun sempat terdiam dan tidak bisa berkata-kata dengan kecantikannya itu. Mungkin ini yang para lelaki rasakan ketika melihat Miyuki.
“Apakah aku baru saja melihat seorang bidadari turun dari surga?”
“Kau terlalu berlebihan Mul.”
Ya, dia memang terlihat seperti bidadari yang turun dari surga. Pantas saja banyak lelaki yang pergi mengikutinya.
Kalau saja pikiranku tentang cinta tidak seperti ini, mungkin aku sudah berada diantara rombongan lelaki yang mengikutinya itu.
“Selamat ulang tahun Miyuki!”
Aku mengucapkan hal itu bersamaan dengan Maul, agar aku tidak terlihat seperti orang yang memulai duluan.
“Aku berterima kasih kepada kalian telah menyempatkan diri untuk datang ke sini padahal kalian ada pekerjaan di kantor.”
“Tidak masalah, lagi pula rumahku juga berada di dekat sini.”
Lumayan juga datang ke sini, aku mendapatkan makan gratis. Aku sengaja tidak membeli makan siang di kantor karena aku yakin kalau di sini pasti banyak makanan yang enak-enak.
“Dimana Riki?”
Aku hanya menunjuk ke arah Riki yang sedang menikmati makanan bersama Akbar dan Kirana.
“Aku minta maaf karena tidak bisa menemani kalian lama-lama, karena aku harus menyapa tamu yang lain.”
Sibuk sekali dia...
Miyuki pun pergi meninggalkan kami bersama dengan rombongan yang mengikutinya itu.
Kemudian aku melihat ibunya Miyuki yang melambaikan tangannya untuk memanggilku dari teras rumah.
Karena aku merasa kalau aku yang dipanggil olehnya, aku pun menghampirinya.
“Ada apa tante?”
“Tante sudah menyiapkan bingkisan untuk kamu dan keluarga. Nanti sebelum pulang, kamu jangan lupa untuk mengambilnya ya.”
“Iya tante, terima kasih atas bingkisannya.”
Sepertinya aku harus memberikan pesan kepada ibuku untuk tidak perlu memasak makan malam karena aku akan membawa makanan.
“Bagaimana penampilan Miyuki hari ini?”
Pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab akhirnya keluar juga.
“Dia sangat cantik tante.”
Aku pun terpaksa tersenyum dan mengatakan itu kepada ibunya. Karena tidak mungkin aku berkata kalau baju yang dipakai anaknya biasa saja.
Lagi pula memang dia cantik, aku tidak bisa memungkiri fakta itu untuk hari ini.
“Tante senang mendengarnya... Sebenarnya dia tidak mau menggunakan baju itu karena malu jika dilihat olehmu.”
Kenapa dia harus malu dilihat olehku?
“Tapi setelah dibujuk, akhirnya dia mau menggunakannya juga.”
“Oh begitu ya tante, padahal baju yang digunakan itu bagus.”
“Iya, tante sudah memilihkan gaun itu bersama dengan Papanya dari jauh-jauh hari.”
Pasti bapaknya yang merencanakan semua ini.
“Kalau begitu tante mau kembali masuk dulu, kamu silahkan menikmati pestanya.”
“Iya tante.”
Kemudian ibunya Miyuki kembali masuk ke dalam rumah dan aku pun memutuskan untuk pergi menghampiri Maul dan yang lainnya di dekat meja minuman.
Saatnya aku mencoba semua makanan yang ada di sini.
__ADS_1
AHhhhh! Perutku sudah lapar sekali.
-End Chaper 127-