Janji Musim Dingin

Janji Musim Dingin
Chapter 140 : Misi Yang Merepotkan Bagian Kelima.


__ADS_3

“Itu Kichida Mar.”


Riki menarik-narik tanganku yang sedang berada di atas meja.


“Iya aku tau itu kau tenang saja.”


Kichida pun dikeluarkan dengan keadaan yang sama dengan perempuan lainnya, dan dia juga dengan keadaan tidak sadarkan diri.


Mereka pasti menggunakan obat tidur.


“Apa Maul sudah selesai dengan urusannya?”


“Aku sudah selesai, kau bisa menggunakan aplikasinya sepuas yang kau mau.”


Maul sudah mengatakan itu tanpa perlu aku mengatakannya kepadanya.


“Bagaimana dengan uangnya?”


“Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, kau cukup fokus dengan pelelangannya saja dan berusaha untuk memenangkan Kichida.”


Aku tidak tau apa yang telah dia lakukan dengan aplikasi itu, tapi setidaknya aku bisa menggunakan aplikasinya tanpa perlu takut kalau uangku akan habis.


Aku akan bertanya kepadanya tentang hal ini setelah semua ini selesai.


“Dia berkata kalau dia sudah selesai dengan urusannya.”


Ucapku kepada Riki.


“Bagus, saatnya kita balas dendam setelah diam begitu lamanya.”


Riki pun menjadi semangat dengan hal itu.


“Harga pelelangan akan dibuka dari harga dua miliar rupiah, karena ini adalah barang terbaik pada malam ini, maka harga yang dipasang juga akan tinggi.”


Tetap saja untuk pembukaan itu terlalu tinggi.


Tapi aku juga tidak begitu tau berapa harga manusia sebenarnya jika benar-benar di jual seperti ini.


“Pelelangan di mulai.”


Aku pun melihat ke layar besar, banyak sekali orang yang melakukan penawaran dan susunan peringkatnya berubah terus tidak pernah berhenti.


“Apa kita punya uang sebanyak itu Mar?”


Riki mulai khawatir kembali.


Tentu saja dia khawatir, dia juga tidak berpikir kalau aku punya uang sebanyak itu dan sekarang harga lelangnya sudah mencapai enam miliar rupiah.


“Kata Maul, aku bisa melakukan pelelangan tanpa dengan sesuka hati tanpa perlu mengkhawatirkan uang yang akan aku pakai.”


“Kalau begitu menangkan pelelangan itu Mar!”


“Tidak perlu kau katakan seperti itu, aku juga akan memenangkannya.”


Pelelangan yang terjadi saat itu sangat sengit, harga selalu menambah terus dan terus seakan-akan semua orang yang ada di ruangan ini memang memiliki uang yang sangat banyak.


Dari mana mereka mendapatkan uang sebanyak ini ya?


Aku menjadi penasaran, sebenarnya siapa orang-orang yang berada di ruangan ini.


“Apa kau masih bisa melakukan penawaran Mar?”


“Tentu saja aku masih bisa.”


Hmmm... Kalau aku mengikuti alur mereka, maka hal ini tidak ada habisnya dan juga aku rasa pelelangan ini akan berlangsung lama sekali.


Apa aku sudahi saja pelelangan ini ya?


Sepertinya lebih baik seperti itu.


Karena tidak mau berlama-lama, aku pun memasang harga sepuluh miliar dan seperti apa yang dikatakan Maul, nilai yang aku pasangkan masuk di dalam aplikasi dan di layar yang berada di atas panggung, aku melihat nomor dua belas yang memuncaki kelasemen saat ini.


“WOW! Angka sudah menyentuh sepuluh miliar rupiah, dan saat ini pelelangan dipegang oleh nomor dua belas.”


Kemudian pun satu lampu sorot yang berwarna biru menyorot ke arah kami yang membuat semua mata saat ini tertuju ke arah kami.


“Apa itu nomor kita Mar?”


“Iya.”


“Banyak sekali uang yang kau pasang.”


“Aku mau cepat-cepat ingin mengakhiri hal ini.”


Kemudian lampu sorot itu kembali menyorot ke arah panggung.


Sebenarnya saat sedang memasang harga tadi, aku hanya mencoba karena aku sedikit tidak percaya saat Maul mengatakan kalau aku bisa melakukan pelelangan itu sepuas yang aku mau. Ternyata yang dia katakan itu benar, aku jadi penasaran uang apa yang dia gunakan di aplikasi yang saat ini sedang aku mainkan.


Dan saat itu, tidak ada satupun peserta yang memasang harga lebih tinggi dari yang aku pasang. Sepertinya mereka juga berpikir dua kali untuk mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk seorang teman tidur.


“Sepertinya kita akan menang Mar!”


Riki sangat senang ketika mengetahui itu.


Baru saja Riki mengatakan hal itu, ada seseorang yang memasang harga lebih tinggi dariku. Dia memasang harga dua belas miliar rupiah.


“Sial kita akan kalah Mar!”


Riki kembali cemas.


“Tenang saja.”


Aku memasang harga lima belas miliar rupiah.


Kemudian orang itu membalas lagi dengan memasang harga tujuh belas miliar rupiah yang membuat keadaan di sana semakin ramai karena hanya aku dan nomor satu.


“Sepertinya pertandingan untuk merebutkan barang istemewa kali ini sangat sengit sekali.”


Ucap Mr S.


Ketika kami sedang melakukan pelelangan dengan sangat sengit itu, Kichida terbangun. Dan sama seperti peserta lainnya, dia pun panik dan berusaha melepaskan dirinya dari tapi tidak bisa.


Aku tidak tau apakah memang orang-orang itu memberikan obat tidur dengan dosis yang terukur agar para wanita yang diculik terbagung ketika pelelangan.


“Kichida bangun Mar!”


“Iya, aku juga melihatnya.”


Aku masih sibuk dengan pelelangan yang saat ini sedang aku lakukan.


Ketika itu, Kichida melihat ke setiap peserta yang berada di sana hingga matanya tertuju ke meja kami berdua.

__ADS_1


Mataku pun bertemu dengan Kichida yang membuat Kichida tenang. Dia yang sebelumnya berontak dan ingin menangis, menjadi tenang dan diam.


“Kichida melihat ke arah kita Mar.”


“Sepertinya begitu.”


“Apa dia menyadari kalau kita berada di sini?”


“Mungkin iya, karena setelah dia melihat ke arah kita, dia terlihat lebih tenang dan tidak memberontak lagi.”


Bagaimana aku bisa memenangkan pertandingan ini secara instan ya?


Kalau seperti ini terus tidak ada habisnya sampai pagi juga. Aku tidak tau seberapa banyak uang yang dimiliki oleh si nomor satu ini.


“Sepertinya dia percaya kalau kita akan menyelamatkannya Mar.”


“Aku rasa juga begitu, kalau begitu kita tidak boleh mengecewakannya.”


Pertarungan sengit pun masih terjadi hingga harga mulai menyentuh angka dua puluh miliar rupiah.


“Baiklah, untuk mempersingkat pelelangan yang sepertinya akan berlangsung lama. Karena saat ini waktu sudah masuk ke jam tiga pagi, mari kita persingkat pelelangan ini.”


Persingkat?


“Siapa saja yang pertama memasang harga sebanyak tiga puluh miliar rupiah, dia yang akan menjadi pemenangnya.”


“Serahkan padaku!”


Aku tidak tau apa yang dimaksud oleh Maul, tapi dia pun tiba-tiba mengambil alih ponsel yang aku gunakan dan aku tidak bisa menggunakannya lagi.


“Cepat Mar! Kita harus melakukannya kalau tidak keburu Kichida diambil oleh yang nomor satu itu.”


Riki semakin cemas karena mendengar pengumuman dari Mr S.


Dan harga tiga puluh miliar pun sudah terpasang di sana, tapi kali ini tidak ditunjukan siapa yang memasang harga tersebut. Mungkin penyelenggara ingin membuat keadaannya menjadi tegang.


“Apa kau yang melakukannya itu Mar?”


“Tidak.”


Riki pun menjadi lemas dan juga murung ketika mengetahui kalau bukan aku yang memasang harga itu.


“Kita gagal menyelamatkan Kichida.”


Riki bersedih dan dia mulai menunduk tidak mau melihat ke arah panggung.


“Pemenangnya adalah... Peserta dengan nomor...”


Mr S pun mengatakan itu setengah-setengah dan membuat keadaan di sana menjadi tegang.


Kenapa kau sengaja menjeda hal itu Mr S?


Aku juga sebenarnya saat ini sangat takut sekali, takutnya angka yang terpasang di sana bukanlah nomor mejaku. Bisa saja kan? Aku juga belum mendapatkan kabar dari Maul sejak dia berkata seperti tadi.


Kalau sampai kita melewatkan hal ini, berarti aku hanya bisa berharap kepada kepolisian yang akan bergerak setelah ini.


“Peserta yang memenangkan pertandingan kali ini adalah peserta dengan nomor dua belas.”


Lampu pun menyorot ke arah kami.


“Selamat kepada dua belas yang telah memenangkan pelelangan malam ini, barang bisa kalian ambil dibelakang setelah acara ini selesai.”


Dan Riki terkejut saat nomor kami yang memenangkan pertandingan itu, aku pun juga lega setelah mendengar hal itu.


“Apa kau berbohong kepadaku Mar?”


“Aku tidak berbohong, aku memang tidak memasang harga itu tadi.”


“Lalu bagaimana kita bisa menang?”


“Maul yang melakukannya.”


Riki menjadi lemas dan menyandarkan tubuhnya ke kursinya.


“Jangan berkata sesuatu yang membuatku terkejut seperti tadi Mar, hal itu tidak baik untuk jantungku.”


Aku hanya tertawa kecil mendengarkan ucapan dari Riki barusan.


“Dengan begitu, acara pelelangan pada malam ini kami nyatakan selesai!”


Semua peserta bertepuk tangan akan hal itu.


“Selamat bagi para pemenang barang-barang malam ini dan juga selamat untuk nomor dua belas yang telah memenangkan barang istimewa pada malam ini.”


Semua orang pun bertepuk tangan kepada kami juga.


Aku bingung apakah hal ini adalah hal yang pantas untuk diberikan tepuk tangan.


“Terima kasih atas partisipasi kalian semua dalam mengikuti acara ini, sampai ketemu di acara selanjutnya di tempat yang berbeda.”


Tidak, ini adalah acara terakhirmu Mr S.


“Untuk tau info lebih lanjut, silahkan kunjungi web yang akan dikirimkan alamatnya ke email masing-masing.”


Acara pun ditutup dengan penampilan dari seorang penyanyi wanita yang menggunakan topeng juga, dan Mr S pergi ke belakang panggung.


Setelah penyanyi wanita itu selesai menampilkan beberapa lagu, lampu aula pun kembali menyala, dan semua orang mulai meninggalkan mejanya.


“Ayo kita jemput Kichida Mar!”


“Ayo!”


Aku dan Riki langsung pergi ke belakang panggung untuk menjemput Kichida karena kami berhasil memenangkan pelelangan itu.


Ketika sampai di sana, aku melihat peserta lain yang juga memenangkan pelelangan itu. Mereka menyerahkan barcode yang mereka terima saat memenangkan wanita yang dilelang melalui pesan.


Mereka menyerahkan barcode itu kepada petugas untuk dipindai supaya mereka dapat mengambil hadiahnya.


Aku pun melihat para perempuan yang sudah sadar dengan pasrah dibawa oleh mereka keluar dari aula.


Aku dan Riki memalingkan wajah kami dari tatapan melas para wanita. Karena kalau kami berdua melihat itu, emosi kami pasti akan memuncak, apalagi Riki.


Sekarang aku mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pembeli saat kasusnya Akbar waktu itu. Kenapa mereka tidak berniat untuk kabur, mungkin karena mereka tidak bisa melakukannya.


Apa pengaruh obat tidur yang mereka berikan itu juga membuat orang menjadi lemas? Mungkin bisa saja.


Sekarang pun giliran kami untuk mengambil hadiahnya.


“Bisa aku minta barcode kalian?”


Aku pun menyerahkan barcode itu kepadanya.

__ADS_1


Saat barcodeku sedang dipindai oleh petugas, Mr S pun datang dan menghampiri kami berdua.


“Jadi ini nomor dua belas yang memenangkan pelelangan kali ini.”


Dia masih menggunakan pakaian seperti sebelumnya dan juga dengan topengnya, tapi kali ini aku dapat melihat wajahnya dengan lebih jelas.


“Iya.”


Walaupun saat ini aku sedang marah kepadanya, aku tetap menyembunyikan hal itu dengan senyuman yang aku tunjukkan kepadanya.


“Apa ini pertama kalianya kau mengikuti acara ini?”


Mr S berusaha untuk mengakrabkan diri kepadaku.


“Iya, aku baru pertama kali mengikuti acara ini. Acara ini sangat menarik, aku tidak tau kalau acara seperti ini ada di Jakarta.”


Cih! Aku tidak sudi mengatakan hal itu. Kalau bukan karena untuk menyembunyikan identitasku yang sebenarnya.


“Pertama kali? Kau cukup hebat juga dalam melakukan pelelangan.”


Mr S bertepuk tangan setelah mendengarkan hal itu.


“Aku sudah sering mengikuti acara seperti ini di dalam gim yang sering aku mainkan.”


“Ini ponselnya Tuan.”


Petugas itu mengembalikan ponselku dan mengeluarkan Kichida dan menyerahkannya kepadaku.


“Kalau begitu, selamat menikmati hadiahmu.”


Mr S pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan.


“Apa kami perlu membantumu untuk membawakannya sampai mobil?”


Tawar petugas itu kepada kami.


“Tidak usah, aku datang bersama dengan kakakku. Biar dia saja yang membawanya.”


“Baiklah kalau begitu.”


Petugas itu pun menyerahkan troli kepada Riki dan kami mulai membawa Kichida keluar dari ruangan itu.


Saat kami sudah berada di dekat pintu keluar, kami dicegat oleh beberapa orang yang sebelumnya mengikuti pelelangan itu.


“Ada apa?”


Ucapku sinis kepada mereka.


“Aku tidak sudi jika menyerahkan barang kualitas bagus ini kepada orang baru sepertimu.”


Orang yang berada di paling tengah berbicara hal itu kepadaku


Ada saja orang seperti ini, pasti dia orang yang sangat manja di kehidupan aslinya. Apapun keinginannya harus tercapai dan jika tidak tercapai dia akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkannya.


“Apa masalahmu? Aku sudah memenangkan pelelangannya, kau harus terima dengan hasil itu.”


“Aku sudah mengikuti pelelangan ini sejak lama dan aku selalu mendapatkan barang kualitas bagus dari pelelangan ini dan belum ada satu orang pun yang berhasil mengalahkanku.”


Oh begitu, ini adalah informasi yang sangat berharga.


“Apa kau mendengar hal itu Mul?”


“Tentu saja aku mendengarnya, aku akan mencatat hal ini dan melaporkannya kepada bapakku.”


“Aku tidak terima jika dikalahkan oleh orang baru sepertimu.”


Orang itu masih mengoceh kepadaku.


Aku yakin dia pasti orang yang berada di meja nomor satu.


Tapi kenapa banyak sekali orang yang berada di belakangnya, bukan seharusnya kita hanya dibolehkan membawa satu penjaga saja.


Aku merasakan sesuatu yang tidak beres terjadi di sini.


Ya, memang acara pelelangan ini sendiri sudah termasuk tidak beres sih.


“Lalu apa yang ingin kalian lakukan?”


“Aku akan merebutnya secara paksa.”


Orang itu pun menyuruh orang-orang yang ada di belakangnya untuk mengepung kami berdua.


“Sepertinya keadaan kita tidak baik Mar.”


“Aku juga tau hal itu.”


“Sebenarnya sih aku bisa saja mengalahkan mereka semua jika kau mau.”


Ucap Riki dengan penuh percaya dirinya.


Aku juga yakin kalau kau bisa mengalahkan mereka semua.


“Tidak, kau fokus saja untuk menjaga Kichida. Aku akan meminta Maul untuk melakukan sesuatu.”


“Baiklah kalau seperti itu maumu.”


Riki pun mulai berdiri di depan Kichida dan bersiap untuk melakukan perlawanan jika mereka melakukan sesuatu.


“Oi Mul, apa kau bisa membantuku?”


“Aku bisa melihatmu dari kamera pengawas yang berada di hadapanmu.”


Aku pun melihat ke depanku dan memang di sana terdapat kamera pengawas yang sedang menyorot ke arah kami.


“Aku sudah mengirimkan kalian bantuan ke sana.”


Setelah Maul mengatakan hal itu, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari luar ruangan. Semua orang berlari ke sana kemari dan berteriak seperti ada sesuatu terjadi di sana.


“Apa yang terjadi?”


Orang itu pun menjadi panik melihat orang-orang yang mulai berlari memasuki aula kembali.


“Apa ini bantuan dari Maul?”


Riki bertanya kepadaku.


“Sepertinya begitu.”


Aku masih ragu untuk mengatakan hal itu.


Tidak lama kemudian, aku melihat sekelompok orang yang memasuki aula dengan memegang sebuah pistol di tangannya.

__ADS_1


 Aku bisa menganggap kalau mereka adalah polisi.


-End Chapter 140-


__ADS_2